Rabu, 23 Desember 2009

GURU SEKOLAH MINGGU

Handbook Sekolah Minggu
Dikumpulkan: Utomo@kristenonline.com
www.KristenOnline.com

Berisi berbagai tulisan yang membahas semua hal tentang pelayanan Sekolah Minggu baik yang menyangkut sejarah, visi dan misi Sekolah Minggu maupun hal-hal umum misalnya tentang kelas Sekolah Minggu, atau hubungan Sekolah Minggu dan gereja, dan lain sebagainya.

I. Sekolah Minggu
1.1 Sejarah Sekolah Minggu
1.2 Sekolah Minggu yang Memiliki Panggilan
1.3 Kedudukan Sekolah Minggu dalam Gereja
1.4 Organisasi Sekolah Minggu
1.5 Hubungan Sekolah Minggu dengan Gereja
1.6 Kedudukan Sekolah Minggu
1.7 Peran Sekolah Minggu dalam Membentuk Karakter Anak
1.8 Mengenal Lembaga Pelayanan Anak
1.9 Sekolah Minggu (Tidak) Penting?

II. Guru
2.1 Mengapa Melayani dan Membina Anak-Anak?
2.2 Syarat-syarat bagi Pelayan Anak
2.3 Tugas Guru Sekolah Minggu dalam Mengajar
2.4 Gembala bagi Anak-anak
2.5 Bertahan Lama dalam Pelayanan Anak
2.6 Menjadi Guru Sekolah Minggu
2.7 Pengkaderan Guru Sekolah Minggu
2.8 Peranan Guru Dalam Perkembangan Anak
2.9 Meningkatkan Mutu Pelayanan Guru-Guru Sekolah Minggu Dengan Mengenal Psikologi Anak Dan Memahami Peranan Kunjungan Bagi Anak
2.10 Guru SM Sebagai Penentu Pertumbuhan Gereja
2.11 Guru Sebagai Jembatan Antara Gereja dan ASM
2.12 Orangtua Sebagai Jembatan Antara Gereja dan ASM: Aktivitas untuk Belajar tentang Gereja
2.13 Tanggung Jawab Guru SM Terhadap Gereja
2.14 Kehidupan Doa Pelayan Anak (Guru Sekolah Minggu)
2.15 Guru Anak Balita/Indria (Umur 4-5 Tahun)
2.16 Kewajiban-kewajiban Guru SM
2.17 Memahami Gaya Belajar Guru Sekolah Minggu
2.18 Guru Sekolah Minggu yang Baik
2.19 Peraturan untuk Guru yang Baik
2.20 Merekrut Guru Sekolah Minggu
2.21 Deskripsi Tugas Guru Sekolah Minggu
2.22 Kriteria Guru Sekolah Minggu untuk Kelas Indria
2.23 Kriteria Guru Sekolah Minggu untuk Kelas Madya dan Pratama
2.24 Komitmen Kesetiaan Guru Melayani Anak-anak
2.25 Pemimpin Sekolah Minggu
2.26 Sikap Mental Seorang Guru Sekolah Minggu
2.27 Petunjuk Mengadakan Kursus Pendidikan Guru SM
2.28 Buah-buah dalam Pelayanan Guru SM
2.29 Tanggung Jawab Pengurus SM
2.30 Sifat Pelayan Anak
2.31 Penampilan Guru di Kelas
2.32 Kehidupan Doa Pelayan Anak (Guru Sekolah Minggu)
2.33 Sungguhkah Saya Mengasihi Anak-anak?
2.34 Buku Pedoman Guru
2.35 Guru Kristen
2.36 Tanggung Jawab Guru

III. Persiapan
3.1 Membuat Buku Data Anak Sekolah Minggu
3.2 Mendidik Anak Sekolah Minggu Secara Terencana
3.3 Tukar Ide Program Sekolah Minggu
3.4 Memulai Pengajaran Baru di Sekolah Minggu
3.5 Pembagian Kelas
3.6 Persiapan Pelajaran untuk Sekolah Minggu
3.7 Persiapan Sebelum Waktu Mengajar
3.8 Kurikulum di Sekolah Minggu
3.9 Kekuatan Sebuah Kurikulum
3.10 Tahun Ajaran Baru di Sekolah Minggu
3.11 Mengumpulkan Bahan Pelajaran
3.12 Merencanakan Satu Jam Pelajaran
3.13 Inti Kurikulum untuk Anak pada Berbagai Tingkat Usia

IV. Bermain & Aktivitas
4.1 Menggambar Bantu Anak Mempelajari Alkitab
4.2 Melaksanakan Kegiatan Menggambar
4.3 Video Games dan Pendidikan
4.4 Bermain Sambil Belajar
4.5 10 Prinsip Kegiatan Bermain
4.6 Aktivitas yang Cocok untuk Anak Batita (Umur 2-3 Tahun)
4.7 Aktivitas yang Cocok untuk Anak Pratama (Umur 6-8 Tahun)
4.8 Aktivitas Menarik untuk Anak Madya (Umur 9-11 Tahun)
4.9 Aktivitas yang Cocok untuk Pra-Remaja (Umur 12-14 Tahun)
4.10 Aktivitas yang Biasa Dilakukan
4.11 Kreasi Cerdas Tangkas Alkitab
4.12 Pentingnya Permainan

V. Cerita
5.1 Cara Bercerita yang Hidup dan Menarik
5.2 Teknik Bercerita
5.3 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Bercerita
5.4 Membuka Cerita yang Kreatif
5.5 Prinsip untuk Bercerita secara Efektif
5.6 Trik Membuat Anak-Anak Tenang Selama Cerita

VI. Musik & Lagu
6.1 Tips Memimpin Pujian
6.2 Bagaimana Menggunakan Musik dan Pujian Menjadi Alat Bantu Mengajar?
6.3 Anak Dapat Memuji dan Menyembah Tuhan
6.4 Membuat Acara Pujian Menjadi Menarik
6.5 Musik dan Pujian di Sekolah Minggu
6.6 Tips Memimpin Pujian
6.7 Musik dalam Sekolah Minggu

VII. Mengajar
7.1 Metode Mengajar Yesus
7.2 Siap Mengajar
7.3 Bagaimana Mengajar Anak Berdoa?
7.4 Mulailah dengan Mendengar Pendapat Anak
7.5 Mengajar Sekolah Minggu adalah Menyenangkan
7.6 Bagaimana Mengajar Anak Berdoa?
7.7 Cara Menyampaikan Pelajaran
7.8 Mengajar Anak Belajar
7.9 Meningkatkan Motivasi Anak untuk Belajar
7.10 Bagaimana Memiliki Prinsip Mengajar yang Alkitabiah
7.11 Dasar-dasar Mengajar Anak Mengenal Yesus Kristus
7.12 Membimbing Para Pelajar dalam Beribadah di Sekolah Minggu
7.13 Mengelola Kelas Batita (Umur 2-3 Tahun)
7.14 Guru Anak Balita/Indria (Umur 4-5 Tahun)
7.15 Bagaimana Mengajar Anak Pratama (Umur 6-8 Tahun)?
7.16 Bagaimana Menghadapi Anak Tunas Remaja?
7.17 Penggunaan Metode Mengajar yang Berbeda
7.18 Tujuan Mengajar
7.19 Mengajar dengan Kata
7.20 Tugas Guru Sekolah Minggu dalam Mengajar
7.21 Bagaimana Cara Anak Belajar
7.22 Mengenalkan Yesus Kepada Anak
7.23 Mengajar Cerita Alkitab
7.24 Bagaimana Mengajar Alkitab untuk pemula


VIII. Menghadapi
8.1 Menghadapi Anak yang Pemalu
8.2 Menghadapi Anak Hiperaktif dalam Kelas
8.3 Mengatasi Anak yang Menganggu di Kelas
8.4 Bagaimana Menolong Anak yang Berkata "Saya Tidak Bisa"?
8.5 Mengatasi Anak Kecil yang Berbohong
8.6 Menegur murid

IX. Tips
9.1 Membuat Anak Betah di Sekolah Minggu
9.2 Agar Anak Tidak Mudah Bosan di Kelas
9.3 Bagaimana Menghidupkan Sekolah Minggu?
9.4 Ketika Anak Berkata: Aku Tidak Mau Pergi ke Sekolah Minggu
9.5 Bagaimanakah Menciptakan Keakraban Guru dan Anak?
9.6 Bagaimana Mengajarkan Kebenaran Alkitab kepada Anak?
9.7 Membuat Suasana Kreatif di dalam Kelas
9.8 Menghafalkan Ayat: Menanamkan Firman Tuhan dalam Hati Anak-anak
9.9 Membantu Anak Menghafalkan Ayat Alkitab
9.10 Kreasi dalam Menghafalkan Ayat Hafalan
9.11 Hal Penting dalam Menghafal Ayat Alkitab
9.12 Bagaimana Mengundang Anak Menerima Kristus?
9.13 Mendidik Anak agar Mandiri
9.14 Mendisiplin Anak dengan Cinta
9.15 Mendidik Anak-anak Agar Bertekun
9.16 Mendisiplin Murid dengan Kasih

X. Fasilitas
10.1 Mengusahakan Perpustakaan
10.2 Pentingnya Literatur Kristen (dalam Pelayanan Anak)
10.3 Pentingnya Literatur Kristen bagi Anak
10.4 Ruang Kelas sebagai Fasilitas Belajar dan Bermain di Sekolah Minggu
10.5 Alat Peraga sebagai Fasilitas dalam Sekolah Minggu
10.6 Suasana Kelas dan Pekabaran Injil
10.7 Konsep Dasar Administrasi yang Baik
10.8 Buku Catatan di Sekolah Minggu

XI. Lain-lain
11.1 Mengadakan Kunjungan yang Berhasil
11.2 Summary Pembesukan Anak (Perkunjungan)
11.3 Melakukan Kegiatan Perkunjungan
11.4 Kelompok Sel Anak
11.5 Apakah yang Harus Dilakukan dengan Kamar Berantakan?
11.6 Disiplin Sebagai Kebutuhan Anak
11.7 Bohong Putih: Boleh atau Tidak?
11.8 Mendoakan Murid-murid Kita
11.9 Membentuk Karakter Kristen Pada Anak
11.10 Menyambut dan Mempertahankan Anak Baru
11.11 Pertanyaan yang Diajukan Anak Umur 4-5 Tahun
11.12 Komunikasi yang Efektif
11.13 Komunikasi dalam Mengajar
11.14 Prinsip Hukuman
11.15 Sekitar Pemberian Hukuman
11.16 Hadiah untuk Anak

XII. Evaluasi
12.1 Hal yang Perlu Dievaluasi
12.2 Mengevaluasi Guru dan Bahan Pelajaran
12.3 Kuisioner untuk Guru SM
12.4 Kuisioner untuk Murid SM
12.5 Evaluasi bagi Para Pekerja
12.6 Menemukan Alasan Mengapa Sekolah Minggu Tidak Melakukan Evaluasi
12.7 Bagaimana Mengevaluasi Kurikulum?
12.8 Beberapa Teknik Evaluasi Belajar






I Sekolah Minggu

1.1 Sejarah Sekolah Minggu
(dari Ulangan 6:4-7 sampai Kisah Robert Raikes)
Banyak sekali guru Sekolah Minggu dan para pembina anak yang belum tahu cerita tentang bagaimana pelayanan Sekolah Minggu pertama kali diselenggarakan. Oleh karena itu dalam edisi perdana, kami akan menyajikan terlebih dahulu sebuah artikel tentang sejarah Sekolah Minggu.
Kalau kita menelusuri kembali ke jaman Perjanjian Lama, maka sebenarnya Alkitab telah memberikan perhatian yang serius terhadap pembinaan rohani anak. Pada masa itu pembinaan rohani anak dilakukan sepenuhnya dalam keluarga (Ulangan 6:4-7). Sejak sebelum usia 5 tahun anak telah dididik oleh orang tuanya untuk mengenal Allah Yahweh. Pada masa pembuangan di Babilonia (500 SM), ketika Tuhan menggerakkan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan bangsa Israel kepada Taurat Tuhan, maka dibukalah tempat ibadah sinagoge dimana mereka dapat belajar Firman Tuhan kembali, termasuk diantara mereka adalah anak-anak kecil. Orangtua wajib mengirimkan anak-anaknya yang berusia di bawah 5 tahun ke sekolah di sinagoge. Di sana mereka dididik oleh guru-guru sukarelawan yang mahir dalam kitab Taurat. Anak-anak dikelompokkan dengan jumlah maksimum 25 orang dan dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru adalah fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
Ketika orang-orang Yahudi yang dibuang di Babilonia diijinkan pulang ke Palestina, maka mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah sinagoge ini di Palestina sampai masa Perjanjian Baru. Tuhan Yesus ketika masih kecil, juga sama seperti anak-anak Yahudi yang lain, menerima pengajaran Taurat di sinagoge. Dan pada usia 12 tahun Yesus sanggup bertanya jawab dengan para ahli Taurat di Bait Allah. Tradisi mendidik anak-anak secara ketat terus berlangsung sampai pada masa rasul-rasul (1 Tim 3:15) dan gereja mula-mula. Namun, tempat untuk mendidik mereka perlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di sinagoge tetapi di gereja, tempat jemaat Tuhan berkumpul.
Tetapi sayang sekali pada Abad Pertengahan gereja tidak lagi memelihara kebiasaan mendidik anak seperti abad-abad sebelumnya. Bahkan orang dewasapun tidak lagi mendapatkan pengajaran Firman Tuhan dengan baik. Barulah pada masa Reformasi, gerakan pengembalian kepada pengajaran Alkitab dibangkitkan lagi, dan pendidikan terhadap anak-anak mulai digalakkan kembali, khususnya melalui kelas Katekismus. Untuk itu hanya para pekerja gereja sajalah yang diijinkan untuk terlibat dalam pembinaan. Namun sedikitnya orang yang terlatih untuk mengajarkan kelas Katekismus ini menyebabkan pelayanan anak ini menjadi mundur bahkan perlahan-lahan tidak lagi menjadi perhatian utama gereja dan diadakan hanya sebagai prasyarat bagi anak-anak yang akan menerima konfirmasi (baptis sidi).
Barulah pada abad 18, seorang wartawan Inggris bernama Robert Raikes, digerakkan oleh rasa cinta kepada anak-anak, membuat suatu gerakan yang akhirnya mendorong lahirnya pelayanan Sekolah Minggu! Pada masa akhir abad 18, Inggris sedang dilanda suatu krisis ekonomi yang sangat parah. Setiap orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan anak-anak dipaksa bekerja untuk bisa mendapatkan penghidupan yang layak. Pada saat itu wartawan Robert Raikes, mendapat tugas untuk meliput berita tentang anak-anak gelandangan di Gloucester bagi sebuah harian (koran) milik ayahnya. Apa yang dilihat Robert sangat memprihatinkan sebab anak-anak gelandangan itu harus bekerja dari hari Senin sampai Sabtu. Apa yang dilakukan anak-anak pada hari Minggu itu? Hari Minggu adalah satu-satunya hari libur mereka sehingga mereka habiskan untuk bersenang-senang, tapi karena mereka tidak pernah mendapat pendidikan (karena tidak bersekolah), anak-anak itu menjadi sangat liar, mereka minum-minum dan melakukan berbagai macam kenakalan dan kejahatan.
Melihat keadaan itu Robert Raikes bertekad untuk mengubah keadaan. Ia dengan beberapa teman mencoba melakukan pendekatan kepada anak-anak tersebut dengan mengundang mereka berkumpul di sebuah dapur milik Ibu Meredith di kota Scooty Alley. Di sana selain anak-anak mendapat makanan, mereka juga diajarkan sopan santun, membaca dan menulis. Tapi hal paling indah yang diterima anak-anak di situ adalah mereka mendapat kesempatan mendengar cerita-cerita Alkitab. Pada mulanya pelayanan ini sangat tidak mudah. Banyak anak-anak itu datang dengan keadaan yang sangat bau dan kotor. Namun dengan cara pendidikan yang disiplin, kadang dengan pukulan rotan, tapi dilakukan dengan penuh cinta kasih, anak-anak itu akhirnya belajar untuk mau dididik dengan baik, sehingga semakin lama semakin banyak anak datang ke dapur Ibu Meredith. Semakin banyak juga guru disewa untuk mengajar mereka, bukan hanya untuk belajar membaca dan menulis tapi juga Firman Tuhan. Perjuangan yang sangat sulit tapi melegakan. Dan dalam waktu 4 tahun sekolah minggu itu semakin berkembang bahkan ke kota-kota lain di Inggris, dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh Inggris.
Mula-mula, gereja tidak mengakui kehadiran gerakan Sekolah Minggu yang dimulai oleh Robert Raikes ini. Tetapi karena kegigihannya menulis ke berbagai publikasi dan membagikan visi pelayanan anak ke masyarakat Kristen di Inggris, dan juga atas bantuan John Wesley (pendiri gereja Methodis), akhirnya kehadiran Sekolah Minggu diterima oleh gereja. Mula-mula oleh gereja Methodis, akhirnya gereja-gereja protestan lain. Ketika Robert Raikes meninggal dunia thn. 1811, jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh Inggris mencapai lebih dari 400.000 anak. Dari pelayanan anak ini, Inggris tidak hanya diselamatkan dari revolusi sosial, tapi juga diselamatkan dari generasi yang tidak mengenal Tuhan.
Gerakan Sekolah Minggu yang dimulai di Inggris ini akhirnya menjalar ke berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya dan ke Amerika. Dan dari para misionaris yang pergi melayani ke negara-negara Asia, akhirnya pelayanan anak melalui Sekolah Minggu juga hadir di Indonesia.
Sumber:
• Ruth Lautfer, Pedoman Pelayan Anak, halaman 191 - 194, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.
• Mavis L. Anderson, Pola Mengajar Sekolah Minggu, halaman 5 - 9, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.

1.2 Sekolah Minggu yang Memiliki Panggilan
Memulai sebuah Sekolah Minggu yang asal-asalan tidaklah sulit, karena secara praktis yang dibutuhkan adalah seorang guru yang bisa bercerita, beberapa anak untuk menjadi murid, lalu sebuah ruangan dengan fasilitas minimum, mis. papan tulis dan kursi untuk anak-anak duduk. Tetapi untuk memiliki sebuah Sekolah Minggu yang memiliki panggilan, visi dan misi tidaklah mudah. Berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus dimiliki agar Sekolah Minggu anda menjadi Sekolah Minggu yang berhasil dan memiliki panggilan.
1. Visi Sekolah Minggu
"Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat" (Amsal 29:18). Pertanyaan: apakah maksud yang mendasari didirikannya Sekolah Minggu di tempat anda melayani? Sekolah Minggu tidak didirikan karena keinginan manusia saja. Allahlah yang menggerakkan manusia yang dikasihiNya untuk memiliki kerinduan menjangkau jiwa-jiwa "kecil" bagi kerajaanNya. Visi Sekolah Minggu adalah melihat jauh ke depan kepada kerinduan Allah untuk bersekutu dengan manusia, di antara mereka adalah anak-anak yang masih muda belia, supaya melalui mereka kasih dan kuasa Tuhan dinyatakan.
2. Misi Sekolah Minggu
"Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu." (Mat 19:14). Pertanyaan: apa yang ingin dilakukan dan dikerjakan Sekolah Minggu di tempat anda melayani? Melalui kegiatan Sekolah Minggu kita ingin agar anak-anak dapat dengan bebas datang kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia menjadi Juruselamat pribadi mereka.
3. Tujuan Sekolah Minggu
"Gembalakanlah domba-domba (kecil) KU." (Yoh 21:18). Sekolah Minggu bertujuan untuk:
a. menjadi sarana yang dapat dipakai Allah untuk mengumpulkan anak-anak dan memberitakan Firman Tuhan kepada mereka.
b. menjadi sarana agar anak-anak mendapat siraman kasih Allah melalui persekutuan yang diadakan.
c. menjadi sarana agar anak-anak dimuridkan dan menjadi alat bagi pelebaran kerajaanNya.
(Pokok-pokok di atas diaplikasikan tidak hanya untuk Sekolah Minggu, tetapi juga untuk semua bentuk pelayanan anak, meskipun masing-masing mungkin memiliki penekanan dan metode yang berbeda.)
Jika anda telah lama terlibat dalam pelayanan Sekolah Minggu atau pelayanan anak secara umum, periksalah kembali apakah pelayanan anda memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas? Dan apakah sampai saat ini tetap setia melaksanakannya? Apakah hasilnya adalah seperti yang diharapkan. Jika pelayanan anak yang anda lakukan mulai mengalami kejenuhan, periksalah lagi ketiga hal itu, adakah yang kurang? Perlukah pelayanan anda disegarkan agar kembali ke visi, misi dan tujuan yang benar? Pakailah pertanyaan-pertanyaan ini untuk menjadi bahan diskusi di antara para guru yang terlibat dalam pelayanan anak di mana anda berada. Kiranya bahan ini bisa menjadi bahan pergumulan agar pelayanan sekolah minggu anda dibangunkan kembali.

1.3 Kedudukan Sekolah Minggu dalam Gereja
Pengantar
Ide Sekolah Minggu pertama kali dicetuskan dan direalisasikan oleh Robert Raikes (1736-1811). Kelas Sekolah Minggu yang pertama dibuka bukan berada di dalam gereja, melainkan di sebuah dapur di kota Gloucester, Inggris. Baru setelah bertahun-tahun kemudian, ide Sekolah Minggu Robert Raikes dapat diterima oleh gereja.
Bagaimana perkembangan kedudukan Sekolah Minggu dalam gereja pada masa kini? Tulisan berikut ini akan menolong kita melihat dengan lebih jelas.
1. Mengapa Melayani Anak?
".... Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk." (Markus 16:15) ".... jadikanlah semua bangsa muridKu .... dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu ...." (Matius 28:19-20)
Perintah Tuhan Yesus di atas ditujukan pada segenap orang percaya (Gereja yang kudus dan am) untuk meraih dan membimbing orang mengenal kebenaran, termasuk di dalamnya adalah untuk menjangkau dan membimbing anak-anak.
Semasa hidup di dunia, Tuhan Yesus dalam beberapa kesempatan menunjukkan perhatian-Nya pada anak-anak. Di kala orang-orang dewasa "menganggap sepele" kehadiran anak kecil, Tuhan Yesus justru meluangkan waktu bersama dengan anak-anak (Markus 10:13-16).
Bahkan, Tuhan Yesus sempat memberikan peringatan yang cukup keras pada orang dewasa untuk memperhatikan pengajarannya pada anak kecil. "Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut." (Markus 9:42)
Sekali-kali gereja tidak boleh memandang rendah atau menyepelekan anak kecil. Sebaliknya sudah sewajarnya bila gereja memberi perhatian pada pelaksanaan dan pertumbuhan Sekolah Minggu. Melalui Sekolah Minggu, gereja memiliki tanggung jawab yang besar, yaitu membimbing dan mempersiapkan angkatan muda, generasi penerus di masa yang akan datang. Sungguh suatu hal yang indah bila gereja dapat mengatakan kepada anak-anak, "Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!" (Mazmur 34:12)
2. Pentingnya Sekolah Minggu
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6)
Pada umumnya gereja-gereja memiliki Sekolah Minggu lengkap dengan berbagai program maupun fasilitas yang disediakan. Tapi, apakah para pemimpin gereja dan guru Sekolah Minggu benar-benar menyadari akan NILAI pendidikan bagi para generasi penerus Gereja ini? Apakah Sekolah Minggu benar-benar telah dikelola secara serius dan profesional?
Ditinjau dari banyak aspek, Sekolah Minggu memiliki keunikan tersendiri, dan boleh dikatakan merupakan dasar pertumbuhan gereja, bila dikelola secara benar dan bertanggung jawab.
Pertama, bila ditinjau dari segi kejiwaan
Banyak ahli telah membuktikan bahwa kepribadian seseorang akan lebih mudah dibentuk pada usia yang dini. Sebab itu, penting sekali gereja memberi perhatian, selain pada pembinaan keluarga (yang merupakan lingkungan inti anak) juga pada Sekolah Minggu. Apabila keluarga dan gereja dapat mendidik anak-anak di dalam terang Firman Tuhan, kelak mereka pasti akan bertumbuh dan menjadi seorang Kristen yang memuliakan nama Tuhan. Selain itu, gereja, melalui Sekolah Minggu, juga mempunyai kesempatan menjangkau anak-anak dari keluarga yang belum percaya untuk dibina dalam lingkungan Kristen yang baik.
Kedua, bila ditinjau dari segi kerohanian
Pada umumnya, seorang anak kecil "mudah menerima dan percaya", mereka tidak perlu perdebatan dan adu argumentasi mengenai keberadaan Allah. Selain itu, menerima Tuhan pada masa kanak-kanak berarti seluruh sisa hidupnya yang masih panjang bisa dipakai untuk melayani Tuhan.
Ketiga, bila dilihat dari sisi pertumbuhan gereja
Sebenarnya ada tiga macam pertumbuhan gereja: (1) pertumbuhan karena ada mutasi anggota, (2) pertumbuhan melalui penginjilan (Sekolah Mingu jelas dapat melakukan peran ini), dan (3) pertumbuhan secara alamiah, yaitu anak-anak jemaat gereja yang dididik sejak kecil kemudian mengaku percaya, setelah beranjak dewasa juga mendidik anak-anaknya takut akan Tuhan, dst. Di sini Sekolah Minggu sangat berperan untuk ikut ambil bagian dalam pendidikan anak-anak. Dengan memenangkan anak, berarti terbuka pula peluang untuk memenangkan orangtuanya. Tidak sedikit kejadian dimana kesaksian seorang anak akhirnya membawa pada pertobatan orangtuanya.
3. Gereja dan Sekolah Minggu
Jikalau Sekolah Minggu berhasil, berarti gereja telah melatih dan mempersiapkan para pemimpin gereja untuk masa yang akan datang. Memang "anak-anak kecil" yang terlihat hadir di Sekolah Minggu, tapi "anak-anak kecil" itulah yang beberapa tahun ke depan akan menjadi para pemimpin gereja. Kualitas para pemimpin gereja di masa yang akan datang, sedikit banyak dapat dilihat dari bagaimana kualitas Sekolah Minggu yang ada saat ini.
Oleh karena itu, penting dipikirkan bersama, bagaimana membuat Sekolah Minggu menjadi program yang terintegrasi dengan gereja secara utuh. Bagaimana merangkai program pembinaan anak secara berkesinambungan hingga kelak mereka remaja dan dewasa.
Melayani anak-anak di Sekolah Minggu memang merupakan suatu tugas dan tanggung jawab yang berat. Tapi sesuai dengan janji-Nya, Tuhan Yesus akan senantiasa menyertai dan memberikan kekuatan bagi setiap kita yang terpanggil melayani di Sekolah Minggu. ".... ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20)
Sumber:
• J. Reginald Hill, Penuntun Sekolah Minggu, halaman 7 - 9, Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, halaman 13 - 16, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.



1.4 Organisasi Sekolah Minggu
Meskipun Sekolah Minggu tidak dikelola seperti layaknya sebuah perusahaan besar, dasar-dasar organisasi tetap diperlukan guna membuat pelaksanaan Sekolah Minggu menjadi lebih tertib dan terarah. Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi masukan/referensi untuk mengelola organisasi Sekolah Minggu.
1. Prinsip Dalam Pembagian Kelas
Biasanya para murid dibagi dalam kelompok sesuai dengan usianya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan guru menyampaikan pengajaran sesuai dengan kemampuan, perkembangan intelektual - mental - kebutuhan rohani, serta perilaku sosial anak (yang berbeda sesuai dengan tingkatan usianya).
Selain itu, yang seringkali kurang diperhatikan, adalah rasio guru dan murid. Berikut ini adalah contoh "ideal" perbandingan jumlah guru dan murid dalam tiap kelompok usia anak:
• Kelas Bayi/Batita (1:4 atau 1:5)
• Kelas TK (1:6 atau 1:7)
• Kelas 1-2 SD (1:8)
• Kelas 3-4 SD (1:8 hingga 1:10)
• Kelas 5-6 SD (1:10 hingga 1:12)
• Kelas Remaja SLTP/SMU (1:15)
2. Struktur Organisasi
Sebaiknya perbandingan antara pimpinan dan anggota tidak melebihi 1:8. Bila hal tersebut terjadi, ada baiknya mengangkat supervisor.
Misalnya: dalam sebuah Sekolah Minggu ada 25 orang guru. Struktur organisasinya adalah sebagai berikut:

Kepala Sekolah Minggu
|
Sekretaris<--|-->Bendahara
|
________________________|_________________________
| | | |
I. Pengawas II. Pengawas III. Pengawas IV. Pengawas
kelas batita kelas 1-2 kelas 3-4 kelas 5-6
& kelas TK | | |
| | | |
guru-guru guru-guru guru-guru guru-guru

3. Pembagian Tugas
• KEPALA SEKOLAH MINGGU: bertanggung jawab atas semua program, berfungsi sebagai pemimpin. Ia harus bekerja sama dengan semua pihak dalam merencanakan program kerja tahunan, mengadakan rapat, berkomunikasi secara baik dengan masing-masing guru, serta dapat memajukan pelayanan Sekolah Minggu dengan aktif.
• SEKRETARIS: membantu Kepala Sekolah Minggu dalam hal dokumentasi (notulen rapat, surat masuk dan keluar, file data, dsb.) serta persiapan rapat.
• BENDAHARA: membantu Kepala Sekolah Minggu dalam hal keuangan (merencanakan anggaran, mengatur uang masuk dan keluar, menyelesaikan laporan keuangan).
• PENGAWAS KELAS: bertanggung jawab untuk mengkoordinasi guru-guru dalam aktivitas/pelaksaanaan kelas yang ditunjuk. Ia mengadakan hubungan ke atas, yaitu dengan Kepala Sekolah Minggu, dan hubungan ke bawah, yaitu dengan guru-guru. Ia haruslah seorang mediator yang baik dan dapat bekerjasama.
• GURU: bertanggung jawab untuk mempersiapkan pengajaran Firman Tuhan kepada anak di kelas asuhannya. Guru juga harus dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan mampu menjalin hubungan yang akrab dengan murid.
Tiap Sekolah Minggu mempunyai kebutuhan yang berbeda, bisa saja dibentuk berbagai sie. atau pembidangan sesuai dengan tuntutan kondisi, seperti: sie. literatur, sie. perkunjungan, sie. acara, dan sebagainya. Tapi yang perlu diperhatikan adalah organisasi dibuat untuk membantu dan memperlancar jalannya aktivitas pelayanan. Bila aturan organisasi ternyata malah menghambat kemajuan pelayanan, sudah saatnya dilakukan pembenahan dan penataan ulang.
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, halaman 131 - 135, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.


1.5 Hubungan Sekolah Minggu dengan Gereja
Dapat dikatakan bahwa ada dua macam Sekolah Minggu (SM), yaitu integral dan cabang. "SM Integral" diadakan dalam sebuah gedung gereja, sebelum atau setelah kebaktian umum dan melayani anggota- anggota gereja itu serta anak-anak mereka. "SM Cabang" sebagaimana ditunjukkan oleh namanya, sebenarnya adalah cabang dari suatu SM yang lebih besar dari suatu gereja. Biasanya SM itu diselenggarakan sebagai satu usaha Pekabaran Injil dengan tujuan mencapai anak atau orang dewasa yang tidak akan atau tak dapat datang ke SM induk.
Gembala gereja dan pekerja-pekerja SM yang telah membuka dan menyelenggarakan SM Cabang, hendaknya jangan heran dan kecewa, jika SM cabang yang kecil itu kemudian mempunyai cita-cita untuk mengadakan kebaktian-kebaktian umumnya sendiri (dewasa). Hal ini normal dan seharusnya demikian.
Hingga sekarang sebagian besar dari semua SM bersifat integral. Hubungan SM demikian dengan gereja yang telah melahirkan dan memberi hidup kepadanya, dapatlah dengan singkat dilukiskan dengan kata-kata "bersesuaian", "terjalin", dan "saling bergantung". Marilah kita menelaah arti kata-kata itu dalam hubungan ini.
1. Penyesuaian SM dengan Departemen Lainnya dalam Gereja
Pada umumnya departemen-departemen lahir dalam sebuah gereja sama seperti anak-anak dilahirkan dalam sebuah rumah tangga, satu demi satu dengan jangka waktu yang cukup lama. Untuk sementara waktu kelompok-kelompok ini dengan kegiatan dan kepentingannya yang berbeda-beda mengabaikan satu sama lain, tentu saja tidak dengan maksud untuk tidak menghormati, tetapi demikianlah keadaannya. Karena kurangnya hubungan antara satu dengan yang lain, maka tiap departemen itu mengikuti jalannya sendiri serta merencanakan pertemuan dan pekerjaannya selama setahun tanpa mengiraukan sama sekali apa yang direncanakan atau dibuat oleh kelompok-kelompok yang lain.
Gembala gereja serta pimpinan kegiatan itu hendaknya mengatur agar kegiatan dan acara perbagai kelompok itu saling bersesuaian sehingga tidak terjadi pertentangan, tumpang tindih atau mengalami kelalaian dalam hal melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan, ibadah, dan pengungkapan yang seharusnya dilakukan.
2. Penyesuaian SM dengan Seluruh Program Gereja
Pengurus SM hendaknya jangan lupa bahwa hampir semua anggota SM itu menjadi anggota gereja juga. Mereka mempunyai kewajiban, bukan saja terhadap SM, tetapi juga terhadap gereja. SM hendaknya jangan merencanakan hal-hal seperti kunjungan dari rumah ke rumah, kursus pendidikan guru-guru atau kebaktian istimewa di cabang pada waktu yang bersamaan, di mana gembala dan majelis gereja merencanakan suatu kebaktian kebangunan rohani untuk seluruh gereja. Tenggangrasa serta kerjasama harus menjadi semboyan bagi gembala dan pimpinan SM dalam merencanakan kegiatan-kegiatan jemaat maupun SM.
3. Hubungan Gembala dengan SM
Satu-satunya pengurus gereja yang akhirnya bertanggung jawab atas hubungan yang harmonis serta sehat antara gereja dan SM, ialah gembala. Gembala hendaknya melakukan pengawasan umum atas SM dan mengetahui seluk beluk cara bekerjanya. Jika pada saat memulai tugasnya sebagai gembala, ia dapati bahwa SM-nya lemah, maka wajiblah ia dengan hati-hati mencari apa yang menyebabkan keadaan itu, kemudian dengan bijaksana mereorganisir seluruh SM itu, dengan memberikan dasar yang sehat untuk berkembang sendiri. Gembala jangan tak hadir pada kebaktian dan rapat-rapat SM atau rapat pengurusnya. Kepentingan dan tanggung jawabnya menuntut kehadirannya serta sumbangan kebijaksanaan dan pikirannya. Tanggung jawabnya yang terutama ialah memelihara asas pengajaran SM agar tetap murni, penuh hidup dan kuasa. Hal ini dilakukannya dengan mengangkat guru-guru yang terdidik dalam pengetahuan Alkitab.
Satu-satunya cara yang baik agar gembala dapat menambah keberhasilan SM-nya ialah membantu dengan segenap hati dan bersemangat pada segala waktu. Ia dapat mengabaikan Sekolah Minggu dan dengan demikian secara tidak sadar menyebabkan banyak anggotanya berbuat seperti itu pula, atau ia dapat senantiasa menekankan pentingnya SM dan perlunya tiap orang menghadiri serta menyokongnya. Gembala yang bijaksana akan senantiasa merencanakan pertumbuhan dan meningkatkan efisiensi SM-nya. Janganlah ia menunggu saran-saran dan rencana-rencana ini datang dari pemimpin SM atau pembantunya. Juga ia tak boleh mencoba melaksanakan rencana-rencana dan saran-saran tanpa berunding lebih dulu dengan pekerja-pekerja SM yang sudah ditetapkan.
4. Hubungan Timbal Balik antara SM dengan Gereja
Perlengkapan sebuah SM yang terorganisir dan terselenggara dengan baik serta benar-benar rohani, memberikan kesempatan yang begitu indah untuk pendidikan dan pelayanan Kristen, sehingga akan menjadi kerugian besar bagi seseorang anak/anggota gereja apabila ia tidak mengikuti SM-nya pula. Clarence H. Benson menulis bahwa:
"Dalam jemaat yang biasa, tidak lebih dari 10% dari tenaga, usaha dan keuangannya dipakai untuk SM, namun SM itu menghasilkan 90% dari anggota baru, pekerja dan hubungan dengan rumah tangga baru."
Selain reaksi yang wajar, yang dapat kita harapkan, Roh Kristus dalam diri para pengurus, guru dan murid, senantiasa akan menyebabkan mereka sungguh-sungguh setia kepada jemaat dan aliran gereja mereka. Kesetiaan ini bukan sekedar perasaan saja sebab akan terlihat dalam semangat yang tetap dari seluruh SM itu untuk menghadiri kebaktian-kebaktian gereja dan juga dalam kerjasama yang setia dari SM itu dengan segala kegiatan lainnya dalam jemaat.
Sumber:
• Ralph M. Riggs, Sekolah Minggu yang Berhasil, halaman 10 - 14, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1978.



1.6 Kedudukan Sekolah Minggu
PROGRAM ALLAH UNTUK GEREJA
"Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang aku mengutus kamu." (Yohanes 20:21)
Hakekat kekristenan, hakekat gereja, hakekat SM, ialah Kristus. Pengabaran Injil dalam arti yang sebenarnya bukanlah satu pertemuan yang diadakan kadang-kadang saja, tetapi adalah satu tugas yang agresif, yang berlangsung terus dan meluas, yang timbul dari kasih kepada dunia yang terhilang. Allah sangat mengasihi dunia sehingga Ia mengirimkan anak-Nya supaya kita memiliki hidup dengan berkelimpahan.
Yesus tahu bahwa pelayanan-Nya, kasih-Nya, program-Nya bagi penebusan dunia yang terhilang harus diserahkan kepada pengikut- pengikut-Nya. "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yohanes 20:21). Perkataan terakhir dari Yesus yang mengiang-ngiang di telinga murid-murid-Nya ialah, "Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8).
Program yang telah diserahkan Kristus kepada gereja-Nya ialah supaya setiap orang Kristen mau berusaha dengan segenap kesanggupannya untuk membawa anak-anak, para pemuda, dan orang-orang dewasa kepada suatu hubungan yang vital dan yang bersifat pribadi dengan Allah melalui Kristus, dan kemudian pergi dan menjadikan orang-orang lain murid-murid Tuhan. Gereja hanya dapat memenuhi program bagi dunia yang terhilang ini bila gereja telah digerakkan oleh panggilan Allah dan digiatkan oleh kuasa Roh Kudus.
KEDUDUKAN SM DALAM PROGRAM KERJA
Untuk memahami dengan jelas tentang kedudukan SM di dalam program gereja, pertama-tama perlu ada satu pengertian yang jelas tentang apa yang dimaksudkan dengan gereja. Dalam percakapan sehari-hari kita berbicara tentang pergi ke gereja dan Sekolah Minggu. Kita mendorong setiap orang untuk pergi ke gereja setiap Minggu. Kita berbicara tentang kebaktian di gereja. Berapa jumlah ketepatan pemakaian istilah tentang gereja?
Menurut Perjanjian Baru, gereja setempat adalah tubuh yang kelihatan dari orang-orang percaya yang telah mendengar panggilan Allah dan dipersatukan kepada-Nya oleh iman di dalam Yesus Kristus. Kelompok setempat seperti itu merupakan bagian dari gereja yang am (umum), yang menjadi tubuh rohani yang dibentuk oleh orang-orang percaya sepanjang masa dan waktu.
Gereja adalah alat vital dari Tuhan yang digerakkan oleh Roh Kudus untuk maksud dan melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus untuk "jadikanlah semua bangsa murid-Ku".
Tetapi Anda berkata: "Dimana kedudukan SM itu di dalam program gereja?"
Gerakan SM didirikan di tengah-tengah penghinaan dan perlawanan. Gereja-gereja pada mulanya berpendapat bahwa pekerjaan Robert Raikes yang mendirikan SM di antara anak-anak miskin tidak akan berhasil. Tetapi sebelum Robert Raikes meninggal dunia pada tahun 1811, ia berkesempatan melihat SM-nya bertumbuh dengan pesat sehingga memiliki seperampat juta murid dan perkembangannya meluas sampai ke Amerika Serikat. George R. Merill berkata:
"Robert Raikes telah mempersembahkan kepada abad kesembilanbelas dan kepada dunia, satu alat yang paling berhasil untuk kemajuan moral dan agama yang akan disebarkan kedalam abad dua puluh untuk satu perkembangan yang jauh melebihi impian-impian yang penuh harapan."
Perkembangan SM pada Abad Keduapuluh.
Kita berada di tengah-tengah perkembangan yang mengherankan dari abad keduapuluh, namun akhirnya belum tiba. Berbagai aliran gereja yang menghargai nilai SM telah membuktikan bahwa memang SM adalah suatu alat yang potensial untuk menguatkan gereja. Marilah kita perhatikan perkembangan yang menonjol yang merupakan ciri dari SM pada abad yang keduapuluh.
a. SM bukan lagi seperti anak yatim piatu, satu ban cadangan, sebuah ruang tambahan, ataupun merupakan suatu bagian yang terlepas dari pekerjaan gereja. SM tidak mempunyai tujuan lain, selain tujuan dari gereja. SM hampir serupa dengan gereja. Gereja dan SM tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena mereka merupakan satu kesatuan. SM ada untuk memajukan pekerjaan gereja yaitu untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan. SM bukanlah bagian dari gereja; SM merupakan gereja yang berfungsi di dalam suatu pelayanan pengajaran yang khusus. Demikianlah SM pada abad keduapuluh menempatkan kedudukannya dalam program Allah dan telah membawa satu perkembangan baru untuk gereja, sebab kini SM telah diakui sebagai satu lapangan pelayanan gerejani yang berbeda.
b. Perkembangan kedua yang merupakan ciri masa kini ialah bahwa SM tidak lagi terdiri dari "sekelompok anak-anak miskin". Walaupun kekuatan SM terletak pada daya tariknya terhadap para pemuda, tetapi mereka yang masih memakainya sebagai usaha untuk perkembangan gereja telah lama berhenti untuk menganggap SM sebagai "SM khusus bagi anak-anak".


Pada mulanya SM dikhususkan untuk anak-anak, tetapi perkembangannya telah membuktikan bahwa bagi pemuda dan orang dewasa pun SM itu perlu. Karena pelayanan mengajar SM merupakan suatu pelayanan yang berlangsung terus, karena mempelajari Firman Tuhan merupakan makanan bagi jiwa, sama seperti kita hidup dan bernafas, penting sekali bagi gereja untuk memberikan satu pelayanan mengajar untuk semua usia. Hal ini dapat dikerjakan oleh SM! SM merupakan pelayanan pengajaran kepada seluruh keluarga.
Metode-Metode yang Dipakai pada Abad Pertama.
Jikalau gereja hendak memakai SM "sebagai satu alat yang paling potensial bagi kemajuan moral dan agama", gereja haruslah mengikuti pola pengajaran abad pertama. Gereja yang mula-mula telah memulai pola bersaksi secara perseorangan untuk melaksanakan perintah Kristus. Pola ini merupakan perintah kepada setiap anggota gereja, setiap pengikut Kristus menganggapnya tanggung jawab pribadi-nya untuk bersaksi bagi Kristus. SM adalah suatu "alat yang potensial" sebab badan ini merupakan satu pelayanan perseorangan.
a. Gereja melalui SM-nya mendapat kesempatan yang tidak terbatas untuk melayani setiap anggota. Banyak orang Kristen ingin menjadi seorang saksi, tetapi takut dan ragu-ragu di mana mereka akan mulai. SM yang akan mengajar mereka "melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" juga menyediakan kesempatan bagi mereka untuk menaati perintah itu. Dalam SM yang hidup harus ada satu tempat pelayanan bagi setiap anggota yang telah siap untuk melayani!

Misi "The Christian and Missionary Alliance" dilahirkan dari suatu kerinduan untuk memenangkan dunia yang terhilang, dan untuk menyegarkan gereja yang suam untuk melakukan tugas ini.
"'Saya berjalan mondar-mandir di pesisir Pantai Old Orchard, Maine, pada musim panas tahun 1881,' kata A.B. Simpson, 'dan meminta kepada Allah melalui suatu cara untuk membangkitkan satu gerakan pengabaran Injil yang besar yang akan mencapai daerah-daerah di dunia yang telah dilalaikan itu. Sekolah Minggu mempersembahkan satu saluran untuk melayani kepada setiap anggota gereja.'"
b. Gereja melalui SM-nya mencapai masyarakat. Perintah untuk setiap anggota sederhana saja: "Pergilah!" Sesungguhnya tidaklah mungkin untuk memenuhi pelayanan mengajar dari gereja tanpa "pergi". Di sini SM menduduki satu kehidupan yang unik dalam program gereja yang mengikuti metode-metode abad pertama. SM mempunyai suatu pelayanan pribadi kepada setiap rumah tangga dalam masyarakat. SM telah melewati pelbagai rintangan, prasangka, sifat acuh tak acuh dan telah menumpangkan tangan di atas kepala anak-anak. Dengan kasih Kristus dan kasih sayang para orang tua melalui anak-anak dan membuka pintu-pintu yang dengan cara lain tertutup terhadap gereja.
c. Gereja melalui SM-nya merupakan suatu gereja yang banyak memenangkan jiwa karena pelayanan pribadinya kepada setiap orang. Kristus mengajar murid-murid-Nya untuk bekerja secara perseorangan. Mereka heran karena Yesus menggunakan begitu banyak waktu untuk kepentingan satu orang, tetapi Yesus mengetahui nilai dari jiwa itu. Ia berkata kepada kepada murid-murid-Nya bahwa mereka harus mengabarkan Injil kepada setiap orang. Gereja mempunyai kesempatan melalui SM untuk mengajar dengan setia kepada setiap orang tanpa mengenal usia.

Hal-hal ini merupakan ciri-ciri dari Gereja abad kesembilan belas dan membuktikan "bahwa SM kepada dunia memberikan satu alat yang berpengaruh untuk kemajuan moral dan agama". Gerajalah yang menemukan bahwa para guru SM menarik anggota baru dan membawa mereka kepada pengenalan secara pribadi akan Kristus. Bilamana Anda juga ikut memperjuangkan SM, hal itu akan memperkuat gereja Anda menjadi jauh lebih besar daripada yang Anda harapkan.
Hasil-Hasil yang Dicapai pada Jaman Para Rasul.
Pertumbuhan yang tetap adalah sebagian daripada program Allah untuk gereja. SM mempunyai tempat dalam program ini, sebab SM itu dikenal sebagai suatu satu faktor pengembangan yang terbesar bagi pertumbuhan gereja.
Kadang-kadang kita mendengar pernyataan seperti berikut ini, "Saya lebih suka mempunyai satu SM yang baik daripada satu yang besar" atau "Allah tidak pernah memanggil kita supaya menjadi besar." Satu analisa yang teliti mungkin melahirkan satu sikap hati yang tulus tetapi sering juga pernyataan-pernyataan seperti itu datang dari tipu muslihat iblis, dari satu hati yang acuh tak acuh, atau karena gereja mencoba menutupi kegagalannya dengan pernyataan yang kudus.
Tiap saran yang menentang jumlah yang banyak bukan datang dari sorga, karena bunyi undangan dari pintu gerbang kemuliaan ialah "Barangsiapa mau, hendaklah ia datang!" Neraka tentu saja menentang orang banyak yang mendapatkan Kristus. Iblis takut kepada Firman Allah. Iblis akan melawan jiwa-jiwa itu di bawah naungan suara hati dari Firman yang Hidup itu.
Pertumbuhan yang tetap adalah satu hasil dari program gereja rasuli. "Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan" (Kisah Para Rasul 5:14).
"Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar iman menyerahkan diri dan percaya" (Kisah Para Rasul 6:7). "Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan (Kisah Para Rasul 11:21). "Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa" (Kisah Para Rasul 4:32). Menarik jiwa datang kepada Tuhan bukanlah soal senang atau tidak senang, melainkan suatu perintah Ilahi.
SM yang bertumbuh menyuburkan pertumbuhan itu ke dalam setiap tingkatan pekerjaan gereja. Bilamana SM Anda gagal dalam hal ini, maka SM itu telah gagal dalam mengambil kedudukan yang benar dalam program Allah. Sebuah SM yang bertumbuh harus berarti suatu pertambahan pengunjung pada kebaktian-kebaktian, pertemuan doa dan kelompok-kelompok latihan. Bilamana SM berhasil mencapainya, perpuluhan-perpuluhan dan persembahan-persembahan akan terus meningkat secara tetap. Sumbangan pengajaran Injil akan berarti kehidupan dan pertumbuhan baru kepada program penginjilan kita, calon-calon pekerja baru akan didaftarkan dan dilatih untuk bekerja di daerah mereka sendiri. Pertumbuhan berarti penambahan lebih banyak calon untuk pelayanan penginjilan. Pertumbuhan gereja adalah hal yang sehat. Pertumbuhan menandakan bahwa gereja itu hidup.
Pada tahap ini Anda mungkin akan melihat SM melalui sudut pandang yang lain, dengan suatu tekad baru untuk ikut serta dalam program pembangunan gereja yang ajaib. Kiranya Tuhan mengabulkan maksud Anda. Pada saat yang sama, semoga tak pernah diketahui orang lain, bahwa Anda berada di antara orang-orang yang mengesampingkan pekerjaan Allah atau yang membesar-besarkan pekerjaan dari seorang pribadi di atas kekurangan orang lain. Tidak dapat disangkal bahwa mungkin Anda berada di tengah-tengah orang yang menghina pekerjaan Allah dalam lapangan pelayanan perseorangan ini. Bilamana Anda mengambil bagian dalam pelayanan SM, Anda telah menggabungkan diri dalam satu pasukan inti yang dipersatukan untuk melakukan satu tugas yang sama, yaitu menambah anggota-anggota kepada gereja Yesus Kristus.
Sumber:
• Mavis L. Anderson, Pola Mengajar Sekolah Minggu, halaman 11 - 16, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.


1.7 Peran Sekolah Minggu dalam Membentuk Karakter Anak
Dalam sebuah acara tanyajawab dengan Dr. Stephen Tong (yang ditulis dalam bukunya Seni Membentuk Karakter Kristen), salah seorang peserta bertanya: "Apakah peranan Sekolah Minggu dalam membentuk karakter anak?" Jawaban pertanyaan tsb. kami kutipkan di bawah ini:
"Dalam soal waktu, Sekolah Minggu mempunyai bagian yang paling kecil dalam hidup seorang anak. Seorang anak mempunyai paling tidak tiga puluh lima sampai empat puluh sembilan jam per minggu di sekolah, dan mempunyai lebih dari seratus jam per minggu di rumah, namun hanya mempunyai waktu dua jam di Sekolah Minggu. Dalam soal keseimbangan, Sekolah Minggu mempunyai tugas yang terbesar, karena pembentukan karakter yang gagal di rumah atau tidak didapat di sekolah akan didapat di Sekolah Minggu.

Guru-guru Sekolah Minggu mempunyai hak yang besar dalam pembentukan iman, pengharapan, kasih, firman, pengertian, doktrin, dan pimpinan Roh Kudus dalam diri anak-anak itu. Oleh sebab itu guru Sekolah Minggu tidak boleh menghina kedudukannya sebagai guru Sekolah Minggu.

Seringkali sepatah kata mampu mengubah hidup seseorang. Demikian pula dengan Sekolah Minggu, yang walaupun hanya dua jam per minggu juga mampu memberikan pengaruh seumur hidup. Oleh karena itu waktu yang singkat tetap bernilai penting bila dipergunakan sebaik mungkin. Bila Tuhan bekerja didalamnya. maka sedetik perkataan akan mengubah masa depan anak didik kita."
Pendapat beliau di atas menolong kita untuk mengerti bahwa jika Sekolah Minggu memiliki guru-guru yang mengajar anak-anak didiknya dengan benar maka peranan SM dapat memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu untuk menyambung pembahasan ini, kami akan kutipkan pendapat Dr. Stephen Tong tentang faktor-faktor apa yang berperan dalam pembentukan karakter yang dituliskan dalam bukunya yang berjudul Arsitek Jiwa.
Menurut beliau ada 4 faktor yang sangat beperan dalam pembentukan karakter yaitu: Kebenaran, Agama, Kesulitan (kesengsaraan dan penganiayaan) dan Pembentukan Roh Kudus. Kami akan memberikan ringkasan dari masing-masing faktor tsb. sbb.:
1. Kebenaran
"Kebenaran bagi orang Kristen adalah dasar dan prinsip, rencana dan perintah-perintah Alkitab, yang terwujud di dalam diri Kristus dan pengajaran-Nya. Ini akan membentuk diri kita. Itu sebabnya, di dalam pendidikan dan pembentukan karakter, jangan lupa bahwa Firma Tuhan itu penting sekali. Pengajaran tentang Kristus menjadi sedemikian penting."
Dr. Stephen Tong juga mengatakan bahwa dia kurang setuju dengan pemikiran John Locke mengenai "tabula rasa". Jika kita setuju dengan prinsip seperti ini, itu berarti kita tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, karena Alkitab mengatakan bahwa kita tidak dilahirkan dalam keadaan "kertas puith". tetapi kita sudah dilahirkan dengan dosa turunan. Dalam hal ini sebagai guru SM kita harus mengerti pokok pikiran teologi, supaya kita mengerti pokok-pokok yang diajarkan dalam Firman Tuhan. Oleh karena itu kita percaya bahwa hidup seorang anak tidak lagi betul-betul putih lagi. Disini kita mengerti bahwa "sebagai guru, selain kita menulis sesuatu kepada diri anak, kita terlebih dahulu juga harus mencuci dan membersihkan dia dengan darah Kristus. sehingga kertas itu bisa benar-benar putih dan bersih. Penting kita melihat pendidikan bekerja sama dengan penginjilan dan keselamatan."
2. Agama
Faktor kedua adalah agama. "Kalau pendidikan mengisi hidup, dan makna hidup dan mengarahkan jalan yang benar di dalam karakter manusia, maka agama mengontrol dan menguasai kepribadian. Karena pengotrolan ini, orang selalu mempunyai perasaan takut di bawah ikatan agama. Di mana agama berkuasa besar, di situ masyarkat atau manusia dihantui oleh suatu kekuatan supra-alami dan tidak berani sembarangan hidup. Hal ini baik untuk menjaga dan menghentikan berkembang dan merajalelanya kejahatan secara berlebihan itu. Itu berarti dengan semakin banyaknya agama di dalam dunia ini, lebih banyak orang tidak berani berbuat dosa."
Namun, sebaik apa pun ajaran sebuah agama, tidaklah cukup untuk mampu mengubahkan kepribadian seseorang menjadi sosok pribadi baru yang mencerminkan kemuliaan Tuhan. Itu sebabnya Yesus berkata kepada seorang pemimpin agama terkemuka pada masa itu yang bernama Nikodemus, "Engkau harus dilahirkan kembali" (Yohanes 3:3).
Oleh karena itu, Sekolah Minggu bukan mengajarkan agama kristen, melainkan memperkenalkan dan membawa anak-anak kepada Yesus Kristus yang sanggup mengubah diri mereka menjadi pribadi yang baru, suatu ciptaan baru, melalui peristiwa "dilahirkan kembali" /"kelahiran baru". Penting bagi guru Sekolah Minggu untuk terus menerus menyampaikan berita keselamatan serta membimbing anak- anak yang telah siap untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka pribadi.
3. Kesulitan, Kesengsaraan dan Penganiayaan
Mengenai faktor ini Dr. Sthepen Tong mengatakan bahwa kesengsaraan-kesengsaraan atau kepahitan-kepahitan, mengukir, melatih, meneguhkan, tetapi sekaligus membahayakan satu kepribadian. Kesengsaraan dan kepahitan membentuk pribadi seseorang dan memberikan akibat kepada keputusan-keputusan yang akan pribadi ambil bagi pribadi itu sendiri.
Peran Sekolah Minggu dalam hal ini adalah menolong anak-anak untuk belajar menerima bahwa hidup tidak senantiasa manis, kadang- kadang juga pahit. Namun guru perlu menolong anak untuk mengerti bahwa kepahiran tidak selalu mendatangkan malapetaka, adakalanya justru mendatangkan kebaikan kita. Kalau Tuhan ijinkan kesulitan dan kesengsaraan datang datang dalam hidup kita, maka kita harus bisa menggunakannya untuk membentuk karakter kita.
4. Roh Kudus
Roh Kudus memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian dan karakter seorang anak, karena Roh Kuduslah yang akan memimpin, menolong, dan menyertai anak melalui kehidupan sehari-hari mereka. Roh Kudus dikirimkan Allah untuk menjadi Penolong bagi anak-anak-Nya.
Mengenai hal ini Sthepen Tong menyarankan pada guru Sekolah Minggu untuk:
1. Belajar dengan sungguh-sungghu tentang doktrin Roh Kudus.
2. Sungguh-sungguh mau taat kepada Roh Kudus.
3. Dengan penyerahan total menyadarka seluruh pelayanan guru Sekolah Minggu kepada pimpinan Roh Kudus, agar guru menikmati sukacita karena Roh Kudus memberikan minyak pengurapan kepada guru.
4. Menyerahkan setiap pribadi yang diajar dan dididik kepada Roh Kudus dan mengajar mereka untuk taat kepada Roh Kudus.
Oleh karena itu, Sekolah Minggu perlu mengajarkan kepada anak- anak bahwa Roh Kudus senantiasa memimpin dan menyertai mereka dimana pun dan dalam situasi apa pun. Guru Sekolah Minggu juga perlu mengajarkan pada anak untuk senantiasa taat pada pimpinan Roh, supaya mereka akhirnya boleh menjalani hidup ini di dalam kebenaran yang sejati, yaitu hidup di dalam terang Firman Tuhan.
Melalui apa yang sudah kita bahas di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Sekolah Minggu adalah peluang emas bagi anak untuk mengenal Kristus. Apabila anda mempunyai kesempatan untuk mengajar di Sekolah Minggu, maka sebenarnya ini suatu pintu kesempatan indah yang terbuka di hadapan anda. Usia muda, atau usia anak-anak, adalah masa yang paling tepat untuk membentuk karakter Kristen anak-anak.
Siapkah anda dipakai Tuhan untuk menolong anak-anak itu memiliki karakter Kristen?
Tuhan memberkati pelayanan anda!
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani & Pdt. Dr. Stephen Tong, Seni Membentuk Karakter Kristen, halaman 133, Lembaga Reformed Injili Indonesia.
• Pdt. Dr. Stephen Tong, Arsitek Jiwa II, halaman 75 - 77, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1993.


1.8 Mengenal Lembaga Pelayanan Anak
Melihat pentingnya mengenalkan berita keselamatan dalam Kristus kepada anak-anak dan rasa tanggung jawab yang tinggi agar anak bertumbuh dengan benar di dalam Tuhan, ada banyak program pelayanan anak dikembangkan di berbagai tempat.
Berikut ini adalah ide program Pelayanan Anak selain Sekolah Minggu yang berhasil Redaksi himpun dari berbagai sumber.
A. Pelayanan Literatur
Ada beberapa lembaga yang salah satu bentuk pelayanannya adalah mengembangkan literatur anak, misalnya menerbitkan buku cerita anak, komik anak, renungan harian anak, majalah anak, bacaan rohani anak serta buku-buku yang berguna bagi guru Sekolah Minggu. Lembaga-lembaga tersebut antara lain:
1. Yayasan Sumber Sejahtera (YASUMA) - Jakarta.
Yayasan ini bersifat interdenominasi dan bertujuan untuk memberitakan Injil pada siapa saja dari berbagai tingkatan usia. YASUMA memiliki sebuah program khusus yang ditujukan untuk melayani anak-anak, yaitu yang disebut program Filipus Yunior. Salah satu bentuknya adalah menerbitkan renungan harian untuk anak: SYEDA (Singa dari Yehuda, merupakan kerjasama dengan KIDS 33. Bersama dengan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), mereka meluncurkan "Alkitab untuk Anak-Anak".
2. Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) - Jakarta.
Lembaga ini menerbitkan majalah KITA (Kristus Idola dan Tuhan Anak-anak), Saat Teduh untuk Anak: PELITAKU dan buku-buku yang berguna bagi para guru Sekolah Minggu.
3. PT. Atmo Ami Talentakasih - Jakarta
Menerbitkan Majalah AMI (Anak Manis Indonesia).
4. Yayasan Efata - Jogjakarta
Yayasan ini mengkhususkan diri untuk mengembangkan bacaan rohani yang mendidik bagi anak-anak. Yayasan ini membuat buku cerita anak misalnya "TOLA: Membangun Masa Depan", "Kisah Petualangan Kyai Sadrakh", komik rohani misalnya: "(KHA) Efata", dsb. Yayasan Efata ini bekerjasama dengan Penerbit Andi Yogyakarta.
5. PT. BPK Gunung Mulia - Jakarta
BPK Gunung Mulia menerbitkan cerita bergambar mengenai kisah tokoh-tokoh Alkitab, seperti "Gideon dan Samsom", "Abraham", "Ester", "Raja Daud", dsb.
6. PPA (Persekutuan Pembaca Alkitab) - Jakarta
PPA menerbitkan renungan harian untuk anak-anak dan remaja yaitu: SHA dan SHR (Santapan Harian Anak dan Remaja).
7. Pengadaan Buku Panduan bagi guru Sekolah Minggu banyak diterbitkan oleh berbagai pihak, misalnya: Suluh Sekolah Minggu (Sinode GKI Jabar), Suara Sekolah Minggu (YPPII Batu - Malang), dan Bible Way (SAAT - Malang). Ada pula pribadi (Ibu Lisa Veronika - GKI Manyar Surabaya) yang menerbitkan buku panduan untuk Mengajar Sekolah Minggu. Buku ini dibagikan gratis bagi siapa saja Guru Sekolah Minggu yang membutuhkan.
B. Pelayanan Multimedia dan Audio Visual
Yayasan yang bergerak dalam pelayanan Multimedia dan Audio visual antara lain:
1. Yayasan Anak Terang Indonesia - Ungaran
Yayasan ini mengkhususkan dalam pelayanan Multimedia anak dan remaja, dengan membuat kaset audio mengenai cerita rohani untuk anak. Contoh kaset audio yang telah dibuat yayasan ini adalah: "Kisah Petualangan Trio Penjelajah Dunia".
2. Sanggar Pratikara (Sisca Production)
Memproduksi kaset audio untuk disiarkan melalui radio Kristen dan dijual bebas di toko buku Kristen. Kaset audionya antara lain seri cerita "Kabar Gembira Untuk Anak", yang terdiri dari kisah "Yohanes Pemandi", "Bangkit dari Mati", "Anak Yang Hilang", "Meja Penukar Uang", "Saulus", dsb.
3. Yayasan Christophorus - Semarang
Yayasan ini membuat film rohani untuk anak-anak Indonesia, tiga film yang telah diproduksi yaitu: "Doni dan Paman Don", "Pita Merah", dan "Air Mata Doa".
4. Jesus Film Project - USA
Sebuah pelayanan yang mengerjakan proyek "FILM YESUS VERSI ANAK". Film ini aslinya diluncurkan dalam bahasa Inggris, namun direncanakan akan diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain juga. Proyek ini memiliki tujuan menjangkau anak-anak di "Jendela 4/14" yaitu anak-anak yang berusia di antara 4-14 tahun kepada Kristus. Apabila anda menginginkan video film tersebut, silakan kontak:
"The Story of Jesus for Children"
P.O. Box 72007, San Clemente, CA 92674, USA. Telp. 800-432-1997
e-mail : jfc@ccci.org
Situs Web : http://www.jesusforchildren.org
C. Pelatihan Guru-Guru Sekolah Minggu
Agar guru-guru Sekolah Minggu menjadi guru yang benar-benar kompeten dan berkualitas, ada beberapa lembaga yang menyediakan diri mengadakan seminar, pelatihan, hingga penyediaan alat-alat peraga dan mengajar bagi Guru Sekolah Minggu. Lembaga-lembaga tsb antara lain:
1. Yayasan MEBIG - Sapporo, Jepang
Yayasan ini telah membuka perwakilannya di Jakarta. Selain mengadakan pelatihan dan seminar, yayasan ini juga menyediakan berbagai ide permainan yang menarik.
2. Yayasan Domba Kecil - Jakarta.
Yayasan ini secara rutin mengadakan pelatihan atau seminar bagi guru-guru Sekolah Minggu.
3. SAAT (Sekolah Alkitab Asia Tenggara) - Malang.
Secara berkala mengadakan Camp Nasional bagi Guru Sekolah Minggu maupun Anak Sekolah Minggu.
D. Pembinaan Bagi Anak
1. Kelompok Pelayanan LIDIA - Malang
LIDIA (Layanan Injil dan Ilmu bagi Anak Indonesia) memberikan bimbingan belajar secara gratis kepada anak yang lemah ekonomi atau yang lemah secara intelektual. Dalam proses bimbingan tsb. anak juga mendapat pembinaan rohani. Guru yang memberikan bimbingan sebelumnya (dan secara rutin) memperoleh pembekalan rohani guna memperlengkapi dirinya dalam pelayanan tsb.
2. Pusat Belajar Bukit Hermon dari GKI Emaus - Surabaya
Program ini hadir sebagai pendamping Sekolah Minggu dalam menyiapkan anak untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Semangat "belajar itu menyenangkan" menjadi sasaran utama pembelajaran. Tema yang diangkat sangat bervariasi, mulai dari kesadaran akan lingkungan, kesehatan, ilmu pengetahuan, hingga apresiasi seni. Para fasilitatornya pun beragam, dan semuanya diperoleh dari peran aktif para jemaat (sesuai dengan latar belakang pendidikan dan profesinya).
3. Pelangi Kristus (Pelayanan Anak bagi Kristus)
Program ini hadir sebagai mitra Gereja, sekolah, dan keluarga Kristen dalam hal pelayanan dan pendidikan anak. Pelangi Kristus menyediakan wadah bagi anak (mulai usia 2,6 tahun) untuk dididik secara khusus dalam hal rohani melalui pertemuan dan berbagai aktivitas yang dirancang khusus. Meski bukan sekolah formal, Pelangi Kristus memiliki kurikulum pengajaran yang rapi dan terinci untuk berbagai tingkatan usia anak.
4. SAA (Sekolah Alkitab Anak) dari GKI Beringin - Semarang
Program SAA ini semacam sekolah Alkitab bagi orang awam yang ditujukan untuk anak-anak. Dalam program ini, anak belajar Alkitab secara lebih mendalam dibanding dengan program Sekolah Minggu, mereka juga melakukan berbagai aktivitas serta pelayanan bersama.
E. Pelayanan Sosial
Ada banyak Panti Asuhan Anak yang dikelola oleh berbagai lembaga Kristen maupun gereja. Lokasinya pun tersebar di berbagai kota di Indonesia. Saat ini para anggota Milis e-BinaGuru sedang berusaha menghimpun berbagai informasi mengenai lokasi dan keberadaan Panti Asuhan Anak tsb. Bila ada di antara Pembaca yang ingin memberikan masukan data dan informasi mengenai hal di atas dapat mengirimkannya ke moderator milis e-BinaGuru: meilania@in-christ.net
Selain Panti Asuhan Anak, sebenarnya ada juga Tempat Pembinaan Anak Cacat Fisik maupun Mental, Tempat Penampunan Anak Pengungsi, dan Tempat Rehabilitasi Pecandu Narkoba. Namun karena keterbatasan sumber informasi, kami belum dapat menyajikannya dalam terbitan kali ini.
F. Pelayanan Elektronik
Lembaga yang mengembangkan pelayanannya melalui jalur virtual bagi guru-guru Sekolah Minggu antara lain Yayasan Lembaga SABDA, dengan menerbitkan buletin e-BinaAnak dan Milis Diskusi e-BinaGuru secara virtual. Pelayanan anak ini merupakan salah satu bagian dari pelayanan YLSA lainnya.
Kiranya berbagai sajian informasi di atas dapat memberikan inspirasi bagi anda untuk mengembangkan pelayanan anak dengan berbagai cara yang berbeda di tempat anda masing-masing.


1.9 Sekolah Minggu (Tidak) Penting?
Jika pertanyaan berikut ini disampaikan kepada orang dewasa yang kristen, apa kira-kira jawaban mereka. Pertanyaannya adalah "Apakah sekolah minggu perlu atau penting?", lalu apa jawabannya? Mungkin jawabannya semacam ini: "Oh sangat perlu", "Ya, anak-anak harus diajar sejak kecil untuk mengenal Tuhan." "Sekolah minggu harus diadakan." Jadi pada dasarnya mereka menganggap sekolah minggu adalah perlu dan bahkan penting.
Tetapi, apakah sikap yang memandang penting pelayanan anak itu terwujud dalam kenyataannya? Dari pengamatan terhadap beberapa gereja diketahui bahwa pada tataran praktik ternyata keadaannya tidak seperti yang diungkapkan dengan kata-kata. Berikut ini adalah beberapa hal yang masih dapat - kalau tidak sangat sering - dijumpai di gereja-gereja berkaitan dengan pelayanan sekolah minggu  SM .
1. SM diadakan agar anak-anak tidak mengganggu kebaktian orang dewasa
Sikap seperti ini mungkin muncul dari praanggapan bahwa anak-anak tidak atau belum bisa berbakti. Sikap semacam ini mempunyai implikasi de facto bahwa kebaktian SM tidak penting. Dalam kata lain, kebaktian orang dewasa begitu teramat sangat penting, sehingga gangguan dari pihak anak-anak sedikit pun tidak diizinkan. Mereka dipisahkan dari kebaktian orang dewasa bukan dengan maksud agar anak-anak dapat berbakti dengan lebih baik kepada Tuhan, tetapi agar kebaktian orang dewasa tidak terganggu sama sekali. Apabila tempat kebaktian SM dekat dengan tempat kebaktian orang dewasa, anak-anak tidak diizinkan untuk memuji Tuhan dengan suara keras  yang menunjukkan rasa bebas memuji Tuhan di SM, karena akan mengganggu kebaktian orang dewasa. Apakah pernah terpikir bahwa puji-pujian dari kebaktian orang dewasa yang begitu keras bisa mengganggu anak-anak belajar Firman Tuhan?
2. Fasilitas untuk SM tidak memadai
Sering terlihat ruangan untuk SM sempit dan tidak memadai. Ada gereja yang mengadakan kebaktian SM di bawah pohon. Ada pula kebaktian SM diadakan di tempat parkir di basement sebuah hotel, sedangkan kebaktiaan untuk orang dewasa diadakan di salah satu ruangan hotel.
Jarang ada alat musik untuk anak-anak SM, sedangkan pada kebaktian orang dewasa alat musik serta sistem suaranya sangat baik dan lengkap. Bukankah ini salah satu bentuk diskriminasi? Dalam ucapan dikatakan bahwa kebaktian untuk anak SM penting, tetapi pada kenyataannya yang menjadi pusat adalah orang dewasa dan pelayanan SM dinomorduakan.
3. Pengajar SM kurang kompeten
Banyak orang tidak mau mengajar di SM dan karena itu gereja sering menghadapi kurangnya guru SM, padahal anggota jemaat banyak sekali. Dari antara mereka yang memiliki beban besar untuk pelayanan anak, banyak pula yang pengetahuan dan keterampilannya kurang memadai.
Sering ditemui banyak guru SM yang mengajar tanpa persiapan dan banyak pula yang mengajarkan hal yang tidak tepat -- jika tidak dikatakan sangat salah. Pernah ada guru SM yang menyampaikan kisah berikut di kelas kecil. Guru itu berkata: "Suatu hari Budi diminta ibu untuk membeli sesuatu. Budi ternyata memakai uang itu untuk jajan, dan ketika ditanya oleh ibunya ia menjawab bahwa uangnya hilang. Pada malam hari, Budi bermimpi dikejar-kejar oleh setan. Pada pagi harinya ketika bangun ia ketakutan lalu ia meminta maaf kepada ibunya." Apa yang ingin dicapai melalui cerita ini, apakah guru itu akan mengajarkan bahwa setan bisa juga membuat orang bertobat? Sejak kapan setan bisa membuat orang bertobat?
Ada juga guru SM yang mengajarkan bahwa persembahan Kain tidak diterima oleh Allah karena sayur dan buah-buahan di dalam persembahan Kain busuk semua. Di bagian yang mana dari Alkitab yang mengajarkan hal ini, lagi pula konsep apa yang ingin disampaikan oleh guru ini? Persembahan Kain tidak diterima karena ia tidak melakukan persembahan dari binatang. Persembahan dengan pencurahan darah binatang ini menyatakan konsep bahwa "Tidak ada penebusan tanpa curahan darah." Persembahan dari binatang ini merupakan simbol dari persembahan agung Yesus Kristus kelak.
Senada dengan kesalahan ini adalah cerita guru lain lagi yang menyatakan bahwa Daniel tidak dimakan oleh singa di gua karena singanya ompong. Pengajaran yang salah ini mengaburkan dan mengecilkan arti perintah Tuhan dan juga penyertaan Tuhan.
Memang adalah suatu hal yang sangat baik apabila seseorang memiliki beban yang besar untuk pelayanan, apalagi pelayanan anak-anak. Akan tetapi para guru harus diperlengkapi atau memperlengkapi diri dengan keterampilan atau pengetahuan agar dapat lebih baik lagi menyampaikan berita sukacita kepada anak-anak. Gereja seharusnya membina para calon guru SM untuk menghindarkan pengajaran yang salah yang dapat menyesatkan anak-anak.
Masih banyak hal yang sebetulnya menunjukkan bahwa anak-anak memang tidak begitu diperhatikan. Pelayanan SM biasanya diberi prioritas yang paling akhir dari antara pelayanan-pelayanan yang lain Inti permasalahannya sebetulnya terletak pada cara memandang anak-anak yang kurang tepat. Banyak orang dewasa -- dalam hal ini para pengajar SM, gembala sidang, majelis gereja, dll -- yang memandang anak-anak belum bisa apa-apa: belum bisa mengerti FT, belum bisa memuji Tuhan. Cara pandang seperti ini memanifestasi pada sikap atau kondisi guru SM yang mengajar tanpa persiapan, tidak dipikirkannya fasilitas untuk pelayanan SM, tidak pernah dipikirkan camp/retret khusus untuk anak-anak, penyampaian cerita yang tidak membawa kepada pengenalan akan Tuhan atau kepada kesadaran akan perlunya juru selamat, dsb.
Cara pandang seperti ini perlu diubah, karena masa anak-anak merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apa yang diberikan atau dialami oleh anak-anak dalam masa kanak-kanak bisa mempunyai efek yang sangat serius untuk anak itu sebagai individu kelak. Amsal 22:6 menyatakan: "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
Banyak orangtua yang mengusahakan pendidikan formal sebaik mungkin untuk anak-anak: mereka dimasukkan ke dalam sekolah yang baik atau favorit, dibelikan buku pelajaran yang lengkap, dll., akan tetapi apakah sikap yang memandang penting pendidikan seperti ini juga diterapkan dalam hal rohani? Perlu diingat, sebagaimana anak-anak itu kelak memimpin bangsa, mereka juga adalah masa depan gereja. Di tangan merekalah kepemimpinan gereja di masa yang akan datang.
Pendeta Gonbei menyatakan bahwa menomorsekiankan pelayanan anak SM mungkin timbul karena gereja memegang konsep praktis yang umum dipegang oleh kalangan di luar gereja yaitu tidak membiarkan adanya pemborosan dan kerugian.
1. Tidak membiarkan adanya pemborosan
Secara sadar atau tidak, banyak gereja beranggapan bahwa mengeluarkan uang untuk pelayanan SM adalah merupakan pemborosan. Mengeluarkan uang banyak untuk menyediakan alat musik, ruang kelas yang cukup baik, dan juga yang lain untuk SM adalah pemborosan. Mengeluarkan uang banyak untuk menyelenggarakan retret untuk anak-anak adalah pemborosan. Sikap yang tidak mengizinkan adanya "pemborosan" ini pun kita temukan pada Markus 14:4, yaitu ketika seorang perempuan mencurahkan minyak narwastu ke kepala Yesus. Waktu itu ada orang yang gusar dan berkata: "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?" Jelaslah di sini terlihat segi ekonomi bisa mengalahkan urusan yang mempunyai dampak kekekalan, karena kita tidak menyadari bahwa "pemborosan" yang semacam ini dikehendaki oleh Allah. "Pemborosan" yang ini perlu dilakukan untuk membawa anak-anak itu mengenal dan menerima Kristus sebagai juru selamatnya yang pribadi.
2. Terlalu perhitungan
Sikap terlalu perhitungan juga sering menghinggapi gereja. Segala sesuatu terlalu didasarkan pada prinsip untung dan rugi. Berdasarkan prinsip ini jelas pelayanan SM adalah pelayanan yang merugi dilihat dari segi ekonomi. Berapa banyak uang persembahan anak-anak SM? Sudah pasti jumlahnya tidak cukup untuk dapat menyewa ruangan yang baik atau untuk membeli gitar atau untuk membiayai hamba Tuhan. Karena persembahan anak-anak ini kontribusinya sangat kecil untuk gereja, maka apakah dapat disalahkan jika gereja menyediakan fasilitas sesuai dengan kontribusinya? Tentu tidak salah jika acuannya adalah berapa banyak keuntungan yang dapat diberikan oleh anak-anak melalui pelayanan SM. Tetapi memang beginikah seharusnya kita mengelola pelayanan ini?
Sikap seperti ini memang sering mewarnai gereja yang ditebus oleh Tuhan Yesus. Jika tidak memberikan kontribusi yang layak, maka tidak perlulah terlalu diperhatikan. Semua tindakan harus dilakukan berdasarkan perhitungan untung-rugi. Bagaimana seandainya Yesus juga melakukan analisis untung-rugi  cost-benefit analysis sebelum Ia mau disalibkan, apakah kita akan diselamatkan?
Dalam kehidupan sehari-hari yaitu urusan sekolah biasa, orangtua mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku, membayar guru privat, membeli komputer, dll. Apakah dalam hal ini orangtua menggunakan perhitungan untung-rugi secara murni? Tentu tidak. Mereka melihat masa depan yang akan dijalani oleh anak-anak itu. Mereka harus diberi bekal agar dapat menghidupi dirinya dan keluarganya kelak. Bukankah pelayanan untuk anak-anak juga harus dipandang begitu juga. Anak-anak harus dipersiapkan untuk menerima Yesus Kristus yang sangat mempengaruhi masa-masa setelah kehidupannya di dunia ini berakhir. Berapa lamanya kehidupan setelah kematian itu bila dibandingkan dengan kehidupan di dunia ini? Untuk kehidupan di dunia yang rentang waktunya tidak panjang seseorang mau berkorban banyak, bukankah seharusnya pula kita mau berkorban untuk kehidupan yang kekal?
Cara pandang yang meremehkan anak-anak atau pelayanan anak-anak ini perlu diubah. Jika tidak, gereja akan kehilangan berkat Tuhan. Sikap semacam kemunafikan yaitu lain di mulut lain di hati atau lain di tindakan harus segera dihentikan. Tuhan tidak menyukai sikap seperti ini ada dalam gereja-Nya.
Pelayanan SM memiliki nilai yang strategis dan karena itu perlu dilakukan. Lebih lanjut Pdt.Gonbei menyatakan beberapa hal penting yang tercakup di dalam pelayanan SM adalah program penginjilan, pertumbuhan dan penyerahan diri.
1. Program untuk Penginjilan
Kegiatan SM jelas berkaitan dengan program penginjilan. Sebagaimana halnya orang dewasa, anak-anak juga membutuhkan juru selamat. Oleh karena itu pelayanan SM perlu dilakukan dengan serius karena berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia -- ingat, anak-anak juga seorang manusia yang utuh walaupun belum dewasa. Berkaitan dengan itu maka cara pelaksanaan SM harus diusahakan agar anak-anak ini bisa mendengar FT dengan baik yang mengarahkan mereka kepada keyakinan bahwa mereka adalah orang berdosa yang membutuhkan juru selamat, dan juru selamat itu adalah Yesus Kristus. Pengajaran di SM yang hanya berkisar kepada masalah moral saja tidak akan membawa anak-anak menyadari perlunya juruselamat.
Selain itu, anak-anak bisa menjadi pemberita Injil kepada orang-orang yang ada di dalam keluarganya. Apa yang didengar oleh anak-anak di sekolah minggu bisa diceritakannya kembali kepada orangtua, nenek-kakek, saudara-saudaranya di rumah. Dengan cara seperti ini, orangtua yang tidak pernah ke gereja atau yang tidak pernah mendengar berita tentang Yesus dapat mendengarnya dari mulut anak-anak ini.
Acara-acara lain yang dilakukan oleh gereja berkaitan dengan program sekolah minggu dapat pula menjadi arena penyampaian berita sukacita. Gereja Baptis Airin di Sapporo mempunyai program operet tiap tahun. Setiap kali waktu pementasan tiba, acara ini bisa dihadiri oleh ribuan orang dewasa yang kebanyakan adalah orangtua atau keluarga anak-anak sekolah minggu. Sebagian besar dari yang hadir adalah orang-orang yang bukan Kristen.
2. Program untuk Pertumbuhan
Program ini adalah untuk membantu anak-anak bertumbuh secara rohani. Seperti pada segi fisik/jasmani, pertumbuhan rohani anak-anak biasanya juga lebih cepat daripada orang dewasa. Mereka bisa dilatih untuk memiliki kebiasaan membaca FT, berdoa dan memuji Tuhan. Anak-anak yang sudah besar bisa diminta untuk membaca Alkitab sendiri di SM, dan mereka juga bisa diminta membantu melakukan sesuatu untuk anak-anak yang lebih kecil atau tugas lain -- dengan kata lain, menjadikan mereka mitra pelayanan guru-guru SM.
3. Program Penyerahan Diri
Banyak orang yang tidak percaya bahwa anak-anak bisa juga menyerahkan diri untuk melayani Tuhan. Di Gereja Airin, Sapporo, Jepang yang memperkenalkan metode pelayanan MEBIG -- singkatan dari MEMORY, BIBLE, GAME -- anak-anak bisa menjadi pemimpin puji-pujian atau MC di dalam kebaktian. Mereka bisa melakukan pelayanan membagi traktat dan juga membersihkan gereja. Di gereja ini selalu diadakan retreat untuk anak-anak dan dari acara ini lahir jiwa-jiwa yang mempunyai keyakinan untuk menjadi pendeta atau penginjil setelah mereka menjadi besar.

Pelayanan sekolah minggu adalah suatu pelayanan yang sangat penting untuk dilaksanakan, karena pelayanan ini akan menjadi dasar bagi perkembangan hidup kerohanian seorang anak yang kelak menjadi dewasa. Pelayanan yang dilaksanakan dengan baik akan menghasilkan sumberdaya bagi gereja. Pelayanan yang dilaksanakan dengan baik akan menyediakan calon-calon pemimpin untuk pertumbuhan dan penyelenggaraan gereja.
Sumber : Sudi Ariyanto MEBIG INDONESIA
1.10 APLIKASI TEORI MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SEKOLAH MINGGU
Abstrak
Teori “kecerdasan puspadimensi” (multiple intelligences) telah meyakinkan setiap pendidik bahwa setiap nara didik adalah anak yang cerdas, menurut jenis kecerdasan yang dimiliki sebagai bawaan lahir atau pun yang berkembang sebagai hasil pendidikan dalam budaya. Teori ini penting diaplikasikan dalam pendidikan di Sekolah Minggu, supaya anak-anak Kristen yang dididik di Sekolah Minggu bukan saja mengalami pertumbuhan iman (“kecerdasan spiritual”), tetapi juga cerdas dalam dimensi-dimensi lain sebagai pemberian-pemberian Allah yang sama. Teori ini memberi sumbangan penting dalam penyusunan kurikulum Sekolah Minggu mutakhir, seperti halnya ilmu psikologi perkembangan dan teori penyusunan kurikulum.
Kata-kata Kunci
Multiple intelligences, Howard Gardner, kecerdasan logika matematik, personal (interpersonal dan intrapersonal), linguistik, spasial, musikal, gerak tubuh, psikologi perkembangan, kurikulum, Sekolah Minggu, aplikasi, iman, kecerdasan spiritual, unik, otentik.
1. Pendahuluan
Bagi banyak orang Kristen, Sekolah Minggu merupakan bagian penting yang tidak bisa dilewatkan dalam proses pendidikan iman Kristen. Bahkan sepertinya banyak yang setuju bila Sekolah Minggu dianggap sebagai basis pendidikan iman Kristen yang paling konsisten dan populer sampai saat ini. Masalahnya tidak sesederhana itu ketika Sekolah Minggu dianggap sebagai proses pembelajaran iman Kristen yang dasariah, dan mampu membahas masalah-masalah iman Kristen sedini mungkin, ternyata bingkai pemikirannya sudah mulai usang.
Dari dulu sampai sekarang masih saja proses pembelajarannya cenderung menempatkan pengajar atau nara sumber atau guru Sekolah Minggu sebagai “tokoh tunggal”. Peran ini sekaligus mengecilkan kemampuan nara didik untuk menemukan dan mengajukan ide-idenya sendiri. Fenomena seperti ini semakin menguatkan anggapan bahwa memang pengajaran di Sekolah Minggu berseberangan dengan nilai-nilai pendidikan. Konsep dan teori tentang pertumbuhan anak memang sudah banyak dipahami dan diterapkan, namun bagaimana dengan peran nara didik? Adakah pengajar atau guru lebih memaksakan apa yang menurut dia baik? Lalu di mana tempat bagi pemikiran nara didik yang sebetulnya bisa sangat kreatif dan unik? Apakah nara didik memang seperti kertas kosong yang tidak punya arti apa-apa, dan baru berarti ketika guru atau pengajar memberi warna atau tulisan pada kertas kosong itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin sudah banyak dijawab, bahkan sudah menjadi agenda seminar-seminar guru Sekolah Minggu yang akhir-akhir ini nyatanya sangat diminati oleh para guru atau pemerhati Sekolah Minggu. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini juga seyogianya mendorong gereja untuk lebih sungguh-sungguh lagi memikul tanggungjawabnya di dunia pendidikan. Gereja adalah suatu lembaga pedagogis, yang bertanggungjawab untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan. “The Church must teach…or it will not be the Church,” kata James Smart. (Note 1)
Mengapa gereja wajib mengajar dan mendidik? Pertama, karena kehidupan Yesus Kristus sendiri sarat dengan kehidupan yang penuh pengajaran (Christ expects it); kedua, karena Injil atau berita kesukaan merupakan bahan pengajaran yang perlu diajarkan kepada semua orang melalui proses pendidikan (the Gospels demands it); karena, ketiga, gereja ada karena sejarah membuktikan bahwa persekutuan umat merupakan kunci pertumbuhan dan perkembangan gereja (history proves it); dan keempat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa manusia membutuhkan proses pendidikan untuk menjadi seseorang yang beriman (people need it).(Note 2) Dengan demikian, adalah tugas yang makin mendesak untuk gereja-gereja melahirkan sebuah kurikulum pendidikan.
Tulisan ini bermaksud untuk memberikan masukan-masukan kreatif kepada gereja-gereja dalam usaha membenahi Sekolah Minggu di tempat masing-masing. Teori multiple intelligences (MI) yang digagas oleh Howard Gardner akan menjadi kerangka teoretis untuk merancangbangun suatu paradigma atau model pembelajaran di Sekolah Minggu sebagai tempat belajar yang lebih menghargai kemampuan dan kreativitas nara didik sebagai anak-anak yang sudah dianugerahkan kecerdasan-kecerdasan oleh Tuhan. Yang akan diajukan dalam tulisan ini bukanlah suatu blueprint kurikulum lengkap Sekolah Minggu, melainkan implikasi dan aplikasi teori MI bagi kegiatan belajar-mengajar nara didik di Sekolah Minggu.
2. Sekolah Minggu, Dulu dan Sekarang: Catatan-catatan Ringkas
Bila dipetakan secara luas, maka Sekolah Minggu memang merupakan fase penting dalam sejarah pendidikan Kristen. Anggapan ini perlu mendapatkan perhatian khusus sebab Sekolah Minggu memang merupakan wadah belajar yang akarnya sudah tumbuh sejak abad 18, sehingga sangat mustahil membicarakan pendidikan iman Kristen dengan mengabaikan Sekolah Minggu.
Adalah Robert Raikes (1735-1811) pelopor gerakan belajar bagi anak-anak terlantar yang awalnya dibina untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung.(Note 3) Era revolusi industri yang begitu mengagung-agungkan mesin sebagai sarana produksi yang paling unggul ketimbang manusia, menjadi salah satu latar belakang penting bagi begitu banyak pengangguran dan anak-anak terlantar. Tenaga hewan dan manusia tidak lagi memiliki peran penting dalam sistem perekonomian waktu itu. Di mana-mana tumbuh pabrik yang mengandalkan mesin dalam proses produksinya. Kenyataan ini semakin memperburuk situasi sosial masyarakat. Interaksi antar manusia dalam jaringan produksi diganti oleh mesin. Manusia hanya dibutuhkan oleh mesin sebagai pelengkap supaya mesin bisa berjalan dengan baik, sehingga banyak warga masyarakat yang berbondong-bondong menjadi buruh pabrik di kota-kota. Revolusi industri adalah suatu akibat dari “proyek besar” zaman Pencerahan yang di satu sisi sangat membantu manusia untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lainnya membuat kesenjangan sosial antara kaum berpunya dan kaum tidak berpunya semakin tajam. Hampir di setiap aspek kehidupan, mereka yang memiliki modal mendapatkan rasa nyaman dan aman. Sebaliknya, kaum buruh hanya menjadi bagian dari mesin produksi; ini memunculkan generasi muda yang terlantar, putus sekolah dan kehilangan masa kanak-kanak yang menyenangkan. Sekolah pun bagian dari modal besar yang menguntungkan secara ekonomis, sehingga tidak ada lagi peluang bagi orang-orang miskin untuk belajar di sekolah.(Note 4)
Sebagai penerbit Gloucester Journal, Raikes tidak sedang membuat proyek besar untuk bersaing dengan pabrik-pabrik. Ia hanya mendirikan semacam “sekolah sederhana” di sebuah ruangan yang disewa sendiri. Raikes memberi insentif pada para sukarelawan yang mau bekerja membantu Raikes sebagai guru. (Note 5) Gagasan Raikes sebenarnya sangat sederhana, yaitu bagaimana anak-anak yang terlantar, pengangguran yang nakal dan liar, bisa mengisi waktu mereka dengan belajar. Di sini sebenarnya usaha Raikes tidak terlalu istimewa, namun komitmen penuh untuk mendirikan lembaga pendidikan bagi kaum miskin menjadikan Raikes sebagai seorang tokoh penting dalam sejarah pendidikan Kristen. Usaha Raikes sempat dianggap sebagai usaha radikal yang dipandang para borjuis sebagai usaha yang menyimpan bahaya laten, yakni bahaya revolusioner.(Note 6) Namun tudingan seperti itu tidak mampu membendung pertumbuhan sekolah yang memang diadakan setiap hari Minggu dan tetap mempertahankan pelajaran membaca, menulis, agama dan berhitung.(Note 7) Usaha Raikes membawa dampak yang luar biasa bagi pertumbuhan dan perkembangan Sekolah Minggu. Bahkan penting untuk dicatat, bahwa Sekolah Minggu pada awalnya memiliki keprihatinan sosial yang tinggi, sebab Sekolah Minggu sebagai sekolah sederhana didirikan oleh Raikes untuk menjawab masalah sosial yang menyebabkan dehumanisasi besar-besaran sebagai akibat dari proyek Revolusi Industri.
Lalu bagaimana dengan Sekolah Minggu di Indonesia? Awalnya, Sekolah Minggu yang dibawa oleh para pekabar Injil dari Belanda berada di luar struktur gereja, dan bahan-bahan pengajarannya hanya diambil dari Alkitab. (Note 8) Perkembangannya sempat terhambat akibat politik Jepang yang menutup semua kegiatan atau usaha-usaha apa pun yang berkaitan dengan agama Kristen.(Note 9) Politik Jepang bisa dipahami karena waktu itu kekristenan dianggap sebagai bagian dari kekuatan pengaruh Belanda di Indonesia. Pengaruh politik Jepang sekalipun membawa dampak bagi perkembangan Sekolah Minggu, tidak berlangsung lama. Memasuki periode penting dalam sejarah nasional bangsa, yaitu kemerdekaan, perkembangan kekristenan belum bisa dikatakan berjalan dengan baik. Kebutuhan tenaga pendeta dan guru yang tadinya mengajar Sekolah Minggu menjadi sangat penting bagi gereja. Akibatnya, Sekolah Minggu kekurangan tenaga pendidik; dan hal ini mendorong usaha untuk mengundang siapa saja yang bisa mengajar Sekolah Minggu untuk mengajar, meskipun mereka tidak memiliki pengalaman sebagai pendeta atau pengajar.(Note 10) Keadaan seperti ini mendorong usaha-usaha pencarian model Sekolah Minggu yang baik dengan kurikulum yang relevan serta didukung tenaga pengajar yang memadai secara kualitatif dan kuantitatif. Usaha pencarian ini memperoleh titik terang dengan terselenggaranya Konferensi Studi Pendidikan Agama di Sukabumi, 20 Mei-10 Juni 1955. Ada beberapa agenda penting tentang Sekolah Minggu yang dibahas pada konferensi tersebut, seperti: upaya-upaya menyelenggarakan kursus kader pemimpin Sekolah Minggu serta konferensi-konferensi guru Sekolah Minggu, mendatangkan ahli atau mengirimkan seorang teolog untuk belajar ke luar negeri guna mendidik dan melatih kader-kader, menjadikan jabatan guru Sekolah Minggu sebagai jabatan yang dihargai dan diperhatikan jemaat dan menekankan kepentingan upacara pelantikan guru Sekolah Minggu.(Note 11) Tampak telah terjadi perubahan mendasar. Sekolah Minggu yang tadinya hanya merupakan kegiatan di luar institusi gereja, mulai konferensi di Sukabumi itu, dijadikan bagian integral gereja yang memiliki jati diri sebagai persekutuan belajar-mengajar.(Note 12)
Usaha-usaha sistematis untuk menyelenggarakan Sekolah Minggu sebagai bagian dari pendidikan Kristen mulai kelihatan dengan adanya kurikulum yang dihasilkan melalui diskusi di Wisma Oikumene, Sukabumi, 12 Juni-4 Juli 1963, yang diadakan oleh Komisi Pendidikan Agama Kristen Dewan Gereja-gereja Indonesia (KOMPAK DGI). Ada empat tema besar yang dihasilkan dalam diskusi yang dihadiri oleh utusan gereja-gereja di Indonesia tersebut, yaitu: Yesus Kristus, Gereja, Alkitab, dan Allah.(Note 13) Memang tidak ada penjelasan mengapa tema-tema itu dipilih sebagai dasar pembentukan kurikulum; namun paling tidak dari ke empat tema itu bisa dilihat arah teologi gereja-gereja di Indonesia yang berusaha memperkuat dasar-dasar iman Kristen sedini mungkin. Penekanan pada empat tema besar itu bisa juga dilihat sebagai upaya awal untuk memperkokoh eksistensi gereja-gereja di Indonesia dalam konteks bermasyarakat dan bernegara. Tema-tema itu diolah sedemikian rupa untuk kemudian diajarkan bagi lima golongan usia, yaitu Taman Kanak-kanak (4-5 tahun); Anak Kecil (6-9 tahun); Anak Tanggung (9-12 tahun); Remaja Muda (13-15 tahun); dan Remaja Tua (16-18 tahun).
Selanjutnya tidak ada perkembangan penting yang perlu dicatat dalam perkembangan Sekolah Minggu di Indonesia. Perubahan hanya di sekitar penyesuaian kurikulum dan usaha-usaha struktural untuk menempatkan Sekolah Minggu sebagai bagian integral dari gereja. Mutu pengorganisasian Sekolah Minggu pada tingkat sinode sampai jemaat mendapat perhatian khusus pada Konsultasi Nasional Pemimpin Sekolah Minggu Gereja-gereja Anggota PGI di Cipayung yang diselenggarakan oleh Departemen Pembinaan dan Pendidikan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (BINDIK PGI), 19-24 Nopember 1990. Pokok yang dibahas hanyalah masalah pengorganisasian Sekolah Minggu; namun perihal perubahan mendasar kurikulum yang relevan bagi Indonesia tidak dibahas secara khusus. Jadi bisa dikatakan bahwa walaupun Sekolah Minggu secara eksistensial sudah menjadi bagian integral dari gereja-gereja di Indonesia dengan pengorganisasian yang semakin baik, namun masih ada kekurangan yang harus dicatat. Tuntutan serius untuk meningkatkan kurikulum yang menempatkan para nara didik sebagai subyek-subyek yang mampu berkreativitas dan menyatakan ide-ide kritis mereka sendiri, tidak terlalu mendapatkan perhatian. Hemat penulis, di sinilah letak signifikansi teori MI yang bisa memberikan cakrawala baru bagi penyusunan kurikulum mutakhir Sekolah Minggu yang lebih relevan bagi kebutuhan pendidikan Kristen saat ini.
3. Manusia Makhluk Unik, Utuh dan Mandiri
Penerimaan pada keunikan, otentisitas dan kemandirian setiap individu manusia melandasi teori MI. Setiap manusia, dalam keunikan, otentisitas dan kemandirian masing-masing, oleh teori ini dipandang sebagai makhluk cerdas. Dengan teori ini, Gardner sebenarnya sedang memberikan ruang bagi setiap orang untuk dengan bangga memahami dirinya sendiri dan orang lain sebagai entitas-entitas yang unik, otentik dan mandiri, yang memiliki kecerdasan sendiri-sendiri. Gardner mengajak para pendidik untuk memberanikan diri masuk ke dalam ruang-ruang individu masing-masing nara didiknya dan menemukan dan membantu menumbuhkembangkan kecerdasan mereka masing-masing.
Memahami keunikan dan otentisitas manusia dengan segala kompleksitasnya sebenarnya merupakan bagian dari bagaimana manusia memahami Allah. Dalam tradisi alkitabiah Yahudi-Kristen, Allah adalah Allah yang esa, unik dan utuh, tidak terbagi dan terpecah, pada diri-Nya sendiri. Allah ini dipandang dan dipercaya berbeda dari ilah-ilah bangsa-bangsa lain; Allah Israel adalah unik, tersendiri, satu-satunya, dan tidak ada yang lain yang setara dengan Allah Israel. Allah ini otentik pada diri-Nya sendiri, sebab Allah ini bukan tiruan yang dibuat manusia berdasarkan gambar ilah-ilah lainnya, tetapi Allah yang hidup, yang dikenal melalui penyataan diri-Nya sendiri di dalam sejarah umat Israel dan di dalam kehidupan Yesus dan sejarah gereja.
Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia juga adalah makhluk yang unik, tersendiri, tidak ada yang sama dengannya dari antara seluruh ciptaan lainnya. Tindakan manusia “memberi nama” pada makhluk-makhluk menunjukkan bahwa dalam karya ilahi setiap makhluk itu unik dan karenanya perlu memiliki nama sendiri-sendiri. Manusia unik karena setiap manusia memiliki kepribadian yang khas, yang berbeda dari manusia lainnya, dan bukan jiplakan dari manusia lainnya. Pasangan manusia kembar pun memiliki keunikan masing-masing. Manusia juga diciptakan utuh pada dirinya sendiri. Segala kapasitas dalam dirinya, bawaan lahir maupun hasil bentukan budaya, membentuk satu kesatuan utuh yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Ke dalam diri Adam/manusia, Allah menghembuskan nafas hidup, sehingga nafas hidup Allah sendiri berada di dalam manusia, yang memungkinkan dirinya membangun relasi spiritual dengan Allah. Manusia juga diberi daya cipta kreatif dan tenaga supaya dapat melakukan tindakan-tindakan kultural memelihara dan mengusahakan lahan kehidupannya; untuk dapat membangun jalinan kasih interrelasional yang mempersatukan diriya dengan mitranya yang sepadan, Hawa, ibu yang hidup dari segenap manusia. Semua kemampuan ini terpadu dalam diri manusia sebagai ciptaan Allah yang diberi tugas-tugas untuk dipikulnya.
Dilihat dari perspektif filosofis dan psikologis, manusia juga unik. Keunikannya tampak dalam kemampuannya untuk memahami dan menelusuri eksistensinya sendiri; untuk mampu mengambil jarak, bertransenden, terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, sesuatu yang tidak terdapat dalam diri hewan. Kemampuan ini memungkinkan manusia berpandangan obyektif terhadap apa yang ada di luar dirinya. Di dalam dirinya, jiwa, roh dan badan menyatu; manusia adalah makhluk yang utuh dan mempunyai struktur mental dan fisik yang mandiri, yang berbeda dari makhluk-makhluk lainnya. Manusia juga otentik, memiliki keaslian, yang tidak dipunyai makhluk lain. Sekalipun struktur DNA manusia mirip dengan struktur DNA gorilla, namun manusia bukan gorilla; manusia memiliki otentisitas yang khas, yang tampak misalnya dalam akal budi yang dipunyai dan dalam keinginan sadarnya untuk meneliti dan mendalami, untuk makin mengetahui dan menjangkau realitas-realitas tanpa batas. Otentisitas dan keunikan manusia juga terlihat dalam kenyataan bahwa seorang manusia itu bukanlah salinan dari manusia lain; seorang manusia bukanlah fotokopi individu lain. Manusia adalah manusia pada keadaannya yang apa adanya, yang unik, otentik dan mandiri.
Perspektif-perspektif di atas menimbulkan implikasi pada penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Minggu. Setiap nara didik di dalam Sekolah Minggu harus diperlakukan sebagai manusia-manusia yang, kendati pun masih muda usia, memiliki keunikan dan otentisitas masing-masing yang harus dihargai dan dikembangkan. Setiap anak didik dianugerahi Tuhan jenis-jenis kecerdasan tertentu. Adalah tugas guru Sekolah Minggu untuk dapat menemukan jenis kecerdasan setiap muridnya; dan membantu nara didik untuk dapat mengembangkan kecerdasan yang mereka miliki. Dengan demikian, fokus kepada nara didik haruslah ditonjolkan dalam setiap kegiatan pendidikan; yang lain-lainnya, bahan pembelajaran misalnya, harus melayani fokus ini.
4. Teori Multiple Intelligences dan Aplikasinya bagi Pendidikan Sekolah Minggu
Nama Howard Gardner tidak terlalu sulit ditemukan dalam jajaran penulis-penulis kontemporer. Apalagi bagi orang yang sangat berminat memahami manusia sebagai makhluk yang cerdas, manusia sebagai struktur utuh yang bisa menampilkan keunikan dirinya. Sebagai seorang profesor pendidikan di Universitas Harvard, Gardner tentunya memiliki sejumlah alasan, mengapa kecerdasan itu penting. Mengapa eksistensi manusia sebagai makhluk berpikir yang tentunya memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, selalu menarik untuk dibicarakan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentunya tidak saja ditemukan dalam teori Gardner; para filsuf pendidikan serta pakar di bidang psikologi pasti sudah lebih dulu membedah manusia sebagai makhluk cerdas yang unik.
Namun paling tidak Gardner telah membuat semacam skema MI yang dapat memberikan landasan kuat untuk mengidentifikasi dan mengembangkan spektrum kemampuan yang luas dalam diri setiap anak.(Note 14) Kemampuan setiap orang yang unik ini merupakan kecerdasan itu sendiri; artinya: kecerdasan itu tidak hanya sekadar kemampuan mengingat dan menyerap informasi sebanyak-banyaknya, atau kemampuan mengoperasikan dengan baik hitungan matematis. Bagi Gardner, kecerdasan tidak sesempit anggapan umum seperti itu; melainkan banyak ragamnya (multiple). Kecerdasan juga tampak di dalam kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam kehidupan manusia, di dalam kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan, serta di dalam kemampuan untuk menciptakan suatu produk yang berguna.(Note 15) Berbagai kecerdasan itu menurut Gardner adalah:
1) Kecerdasan linguistik
2) Kecerdasan musikal
3) Kecerdasan logika matematika
4) Kecerdasan spasial
5) Kecerdasan gerak tubuh
6) Kecerdasan personal
4.1 Kecerdasan linguistik(Note 16)
Kecerdasan linguistik dipahami sebagai kemampuan menggunakan sistem bahasa manusia untuk berkomunikasi, atau kemampuan berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks. Kecerdasan semacam ini biasanya dimiliki oleh pengarang, penyair, jurnalis, orator, pelawak, penyiar berita, atau pun politisi. Kecerdasan linguistik biasanya tampak di masyarakat dalam beberapa aspek, seperti retorika, yaitu kemampuan menggunakan bahasa untuk meyakinkan orang lain; mnemonik, yaitu kemampuan untuk membantu orang lain mengingat berbagai macam informasi; penjelasan, yaitu kemampuan untuk menjelaskan/mengajar; dan metalinguistik, yaitu kemampuan menggunakan bahasa untuk membuat refleksi atas bahasa itu sendiri. Bagi Gardner, kecerdasan linguistik sudah bisa dikembangkan mulai masa kanak-kanak dengan latihan-latihan. Misalnya dengan mendengar dan merespon setiap suara, ritme, warna, serta berbagai ungkapan kata. Atau bisa juga dengan menunjukkan minat jurnalisme, puisi, bercerita, debat, menulis, atau menyunting. Kemampuan seperti ini bisa dilatih mulai dengan hal-hal yang sederhana seperti membaca, meniru tulisan, menafsirkan, meniru kata-kata, dan sebagainya.(Note 17)
Karena setiap nara didik potensial memiliki kecerdasan linguistik, maka kegiatan pembelajaran di dalam kegiatan pendidikan di Sekolah Minggu seyogianya mencakup aktivitas-aktivitas dan latihan-latihan yang dapat membantu setiap nara didik mengembangkan kecerdasan jenis ini. Misalnya, murid-murid diatur untuk secara bergilir dan berkala mempersiapkan puisi-puisi, atau karangan-karangan pendek buatan mereka sendiri, yang mereka harus presentasikan di depan kelas pada giliran mereka masing-masing. Sebuah ayat hafalan diberikan pada akhir setiap proses pendidikan, dengan murid-murid diberi kewajiban untuk menghafal dan melafalkannya di depan kelas pada hari Minggu berikutnya. Ayat hafalan diberikan bukan hanya supaya nara didik bisa memegang inti bahan pembelajaran yang sudah atau akan diberikan atau supaya mereka mengenal isi Alkitab secara perlahan-lahan dan bertahap, tetapi juga supaya kecerdasan linguistik mereka dikembangkan. Pemeragaan sebuah cerita Alkitab juga dapat dilakukan dengan mempertalikan cerita dengan sebuah nyanyian Sekolah Minggu. Murid-murid bersama guru-guru mereka membawakan nyanyian itu dengan sambil menari, mengikuti nada, irama dan ritme nyanyian.
4.2 Kecerdasan musikal
Kecerdasan musikal mudah ditemui dalam diri manusia.(Note 18) Ritme denyut jantung, suara pencernaan makanan dalam rahim ibu, merupakan tanda bahwa manusia sebenarnya sudah dilatih untuk memiliki kecerdasan musikal sejak dari dalam kandungan ibunya. Orang-orang seperti komposer, konduktor, musisi, penyanyi, tukang stem piano, discjockey, kritikus musik, dan sebagainya, memang memiliki kecerdasan musikal karena mereka jelas kelihatan memiliki kepekaan pada pola titinada, melodi, ritme, dan nada. Kecerdasan musikal ini juga mencakup kemampuan meniru suara atau bunyi-bunyian dengan baik atau bahkan sekadar sebagai penikmat musik. Kecerdasan musikal bisa ditingkatkan dengan latihan, misalnya dengan mendengarkan dan merespon bunyi, menikmati bunyi-bunyian dari suara alam dan mempelajarinya, mengembangkan kemampuan memainkan instrumen musik, dan juga dengan mengembangkan minat untuk berkarir di bidang musik.(Note 19)
Karena setiap peserta didik di Sekolah Minggu potensial memiliki kecerdasan musikal, maka seyogianya di dalam kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Minggu aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan seni musik digiatkan dengan terarah dan programatik, dengan tujuan untuk mengembangkan kecerdasan ini di dalam diri nara didik. Mereka bernyanyi untuk memuji Tuhan, tetapi juga untuk membuat kecerdasan musikal mereka dirangsang berkembang. Penciptaan nyanyian-nyanyian dan pemilihan lagu-lagu untuk proses belajar-mengajar di Sekolah Minggu harus dengan lebih serius lagi dilaksanakan. Doa-doa yang dinyanyikan perlu sering dilakukan. Anak-anak Sekolah Minggu secara berkala dilatih bernyanyi bersama, membentuk kelompok vokal atau koor anak-anak Sekolah Minggu. Untuk meningkatkan motivasi mereka melatih kecerdasan musikal, dapat diadakan pertandingan-pertandingan kesenian antar kelas sejenis atau dengan kelas dari lain jenjang. Pimpinan Sekolah Minggu dapat merekomendasikan kepada orangtua nara didik yang berbakat di bidang musik dan kesenian untuk sang anak diberi kursus musik. Atau, bila memungkinkan Sekolah Minggu dilengkapi dengan alat-alat atau instrumen-instrumen musik, dan anak-anak yang berminat lebih dalam, dilatih setiap Minggu oleh guru yang mampu mengajar musik. Dalam kesempatan berwisata ke daerah pegunungan, anak-anak Sekolah Minggu diberi kesempatan untuk dapat mendengarkan pelbagai suara alam yang dapat didengar; lalu mereka diminta untuk masing-masing membuat tiruan bunyi dari bunyi-bunyi yang mereka sudah dengar
4.3 Kecerdasan logika matematik
Bila kecerdasan lingustik dan musikal bisa didapati dari pengalaman sehari-hari, maka kecerdasan logika matematika (Note 20) biasanya hanya tampak dalam diri orang-orang tertentu. Walaupun demikian, pola-pola matematika sudah kelihatan sejak dini melalui kemampuan manusia untuk memahami pola-pola pemikiran logis dan abstrak. Kecerdasan logika matematika mencakup kemampuan menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Keterampilam mengolah angka dan kemahiran menggunakan akal sehat merupakan bagian dari kecerdasan ini. Latihan untuk mengembangkan kecerdasan ini akan melahirkan seorang pembelajar analitis dan rasionalistis (analytic and common sense learner) yang mampu menggunakan rasio untuk menganalisis apa yang dilihat, diraba, dan dirasakan; serta mencoba menyelesaikan masalah.(Note 21)
Anak kecil mulai bisa memiliki kecerdasan logika matematika ketika anak itu mulai memisahkan dirinya dari obyek-obyek yang diamati dan ketika mulai muncul kesadaran dalam dirinya sendiri untuk mengevaluasi obyek-obyek tersebut. Bahkan seorang anak yang mengalami gangguan perkembangan hampir di semua bidang pembelajaran (idiots savants) bisa juga menunjukkan kecerdasan logika matematika dengan kemampuannya menghitung obyek-obyek di sekitarnya. Kecerdasan logika matematika bisa dirangsang dengan pengenalan terhadap konsep waktu, hubungan sebab akibat, simbol-simbol abstrak, serta berpikir secara matematis, mengumpulkan bukti dan membuat hipotesis; menciptakan rumusan-rumusan baru yang lebih sederhana.(Note 22)
Karena kecerdasan logika matematik potensial tertanam dalam diri para peserta didik, maka ke dalam bahan-bahan pembelajaran Sekolah Minggu aktivitas-aktivitas yang merangsang perkembangan kecerdasan ini seyogianya diintegrasikan, bahkan sudah seharusnya dengan terencana disusun dan dimasukkan ke dalam materi-materi pelajaran. Beberapa contoh pengintegrasian ini dapat diberikan. Misalnya, sehabis guru bercerita tentang Allah sebagai Sang Pencipta langit dan bumi, anak-anak peserta didik ditugaskan untuk menggambarkan Allah yang semacam ini, dengan keharusan memberi warna-warni pada gambar yang mereka sedang buat. Ini adalah suatu upaya untuk mereka dapat mengkongkretisasi suatu obyek yang abstrak, Allah Sang Pencipta. Latihan-latihan mengasah dan menggunakan akal sehat juga dapat dilakukan dengan memberi kepada mereka deskripsi kasus-kasus nyata yang dialami banyak anak. Misalnya, ketika seorang anak sakit, ia, dalam cerita sang guru, tidak mau memakan obat tetapi hanya mau berdoa kepada Tuhan. Guru dapat bertanya, apakah sikap sang anak ini benar? Kalau memakai akal sehat, bagaimana seharusnya sikap anak itu? Biarkan anak-anak mendiskusikan hal ini, antar sesama nara didik, maupun dengan guru mereka.
Anak-anak juga dapat dilibatkan langsung dalam aktivitas pengoperasian logika matematik dalam kegiatan pembelajaran rohani di Sekolah Minggu. Misalnya, dalam cerita penciptaan langit dan bumi menurut pasal-pasal permulaan kitab Kejadian, tanyakanlah pada peserta didik ada berapa obyek atau benda yang Allah sudah ciptakan? Biarkan anak-anak membaca kembali bagian Kitab Suci yang dipakai dan menghitung sendiri jumlah semua obyek ciptaan Allah; hasil hitungan bisa berbeda-beda antara anak yang satu dan anak yang lainnya. Guru mengajak anak-anak mendiskusikan mengapa ada hasil hitungan yang berbeda. Biarkan anak-anak mengajukan alasan-alasan mereka masing-masing. Dengan melakukan ini semua, dalam pembelajaran rohani anak-anak terlibat dalam aplikasi logika matematik, sekaligus dalam adu argumen untuk mempertahankan atau menolak sebuah tesis atau proposisi. Bahan yang sama juga dapat digunakan untuk memperkenalkan kepada anak-anak konsep tentang waktu yang bergerak linier, dari hari pertama penciptaan sampai hari ketujuh, hari perhentian Tuhan. Anak-anak bisa dituntun pada sebuah penemuan bahwa kegiatan Allah mencipta ternyata berjalan dalam ketentuan logika matematik tentang pergerakan penghitungan dari hari pertama, hari kedua dan seterusnya sampai hari ketujuh. Allah tidak bertindak mencipta dengan melompat-lompat, dari hari pertama langsung ke hari keenam, misalnya; tetapi Ia bekerja menurut logika aritmatik linier. Terlihat di sini bahwa kecerdasan logika matematik bisa dikembangkan di Sekolah Minggu, bersamaan dengan pengembangan kecerdasan spiritual (yang tidak eksplisit disebut dalam unsur-unsur teori MI Gardner) yang mengambil bentuk tumbuhnya iman anak-anak kepada Allah yang tidak kelihatan, sang Pencipta langit dan bumi.
4.4 Kecerdasan spasial
Manusia secara eksistensial hidup dalam ruang dan waktu. Kemampuan untuk memahami dirinya dalam ruang dan waktu itu merupakan bagian dari kecerdasan spasial.(Note 23) Kecerdasan spasial sangat menekankan kemampuan manusia untuk berpikir dalam tiga dimensi. Kecerdasan spasial memungkinkan manusia untuk menerjemahkan apa yang dibayangkannya bahkan memodifikasi imajinasinya itu dalam suatu dimensi. Di sini manusia mampu menggambarkan keberadaan dirinya sebagai bagian dari ruang dengan obyek-obyek yang mengitarinya. Daya imajinasi dan visualisasi merupakan bagian penting dari kecerdasan spasial. Dalam mengembangkan kecerdasan ini, anak didik diarahkan untuk menjadi pembelajar imajinatif (imaginative learner) yang menekankan bagaimana nara didik mengungkapkan daya imajinatif seluas-luasnya.(Note 24) Usaha pengenalan dan penggambaran obyek, serta kemampuan berpikir tentang relasi-relasi ruang dan kemampuan membayangkan suatu gerakan dalam konfigurasi tertentu, merupakan aspek-aspek kecerdasan spasial, yang biasanya dimiliki oleh seorang arsitektur, pelaut, pilot, pelatih sepakbola, dan sebagainya. Kemampuan meningkatkan kecerdasan spasial bisa dilakukan sedini mungkin dengan belajar mengamati benda-benda dalam berbagai bentuk, menemukan cara-cara untuk keluar dari suatu ruangan hanya dengan membayangkannya, menggambarkan apa yang dibayangkan, menikmati gambar-gambar abstrak, belajar dengan menggunakan diagram, menyusun atau menggabungkan bentuk-bentuk bangun tertentu dan menghasilkan bentuk bangun yang baru.(Note 25)
Dengan asumsi bahwa kecerdasan spasial potensial dimiliki setiap peserta didik, maka sudah pada tempatnya jika dalam proses pendidikan di Sekolah Minggu bahan-bahan pembelajaran dan kegiatan-kegiatan di dalamnya diarahkan untuk menumbuhkembangkan kecerdasan ini dalam diri nara didik. Peserta didik dapat diminta oleh guru untuk membayangkan ruang kelas mereka, dengan semua benda yang ada, entah di dinding atau pun di ruangan mereka sendiri, termasuk diri mereka sendiri, atau juga benda-benda yang dalam bayangan mereka ada di luar ruangan kelas. Lalu, sesudah mereka diberi kesempatan membayangkan, mintalah mereka untuk menggambarkan segala hal yang telah muncul dalam bayangan mereka tadi. Tekankan, supaya mereka memberi tanda di mana mereka masing-masing berada dalam gambar yang mereka telah buat. Lalu, ajak anak-anak untuk mendiskusikan persamaan dan perbedaan bayangan dan gambar yang mereka masing-masing telah buat. Mengapa ada perbedaan? Biarkan anak-anak mengajukan argumentasi mereka sendiri-sendiri.
Atau, kepada mereka dapat disodorkan gambar sebuah bangunan gereja yang berdiri berdampingan dengan gambar bangunan-bangunan sebuah masjid, kelenteng atau wihara dan pura. Tanya kepada mereka, gambar bangunan apa saja yang mereka telah lihat; apakah di tempat mereka tinggal juga ditemukan hal yang sama; mengapa bangunan-bangunan suci itu dapat berdiri berdampingan; apakah antar penganut agama yang berbeda, orang bisa hidup damai satu sama lain; ataukah, bisa terjadi sengketa dan percekcokan antar umat beragama yang berbeda-beda. Pertanyaan-pertanyaan ini akan membawa peserta didik pada dimensi-dimensi ruang dan waktu; sekaligus juga menuntun mereka kepada hal-hal rohani, seperti hidup beribadah kepada Tuhan yang mengharuskan orang untuk hidup berdamai dengan sesamanya yang berlainan agama. Kecerdasan spasial dikembangkan bersama dengan kecerdasan religius spiritual.
4.5 Kecerdasan gerak tubuh
Kemampuan manusia untuk menggerakkan alat-alat tubuhnya sesuai dengan fungsinya, bahkan mampu mengolah gerakan tubuh yang menarik, merupakan kemampuan yang dihasilkan oleh kecerdasan gerak tubuh.(Note 26) Kecerdasan gerak tubuh ini dibutuhkan manusia dalam kegiatan sehari-hari baik untuk berolahraga, bekerja, santai, dan melakukan kegiatan apa saja. Secara khusus mereka yang berprofesi sebagai atlet, penari, pemain akrobat, ahli bedah, dan sebagainya, adalah orang-orang yang mampu mengembangkan gerak tubuh secara optimal menjadi suatu gerakan yang dinamis dan bisa dinikmati. Kecerdasan gerak tubuh ini menuntut koordinasi antara otak dan tubuh. Ada beberapa cara untuk melatih kecerdasan gerak tubuh sedini mungkin, yaitu: mengenal lingkungan dan menjelajahinya dengan sentuhan, bermain ketangkasan peran yang memungkinkan menggunakan gerak tubuh sebagai simbol, mendemonstrasikan kemampuan mengolah gerak tubuh dalam bentuk tarian, senam, olahraga, dan lainnya, mengerti dan mengetahui standar hidup yang sehat, serta menciptakan bentuk-bentuk baru bagi suatu gerakan.(Note 27)
Dengan anggapan bahwa semua manusia yang sehat jasmaninya potensial memiliki kecerdasan gerak tubuh, maka tepatlah jika dalam kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Minggu aktivitas-aktivitas terarah untuk meningkatkan kecerdasan ini diberi tempat. Guru-guru Sekolah Minggu dapat melatih anak-anak menari secara berkala. Atau, membawa mereka dalam posisi berbaris, keluar dari ruang Sekolah Minggu untuk meninjau dan melihat-lihat lingkungan sekitar lokasi Sekolah Minggu mereka. Atau, anak-anak diminta untuk memerankan Daud yang sedang bertempur melawan Goliat, untuk menunjukkan kepada anak-anak bahwa kalau Tuhan menyertai mereka, mereka akan sanggup untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang sulit dan berat sekalipun, karena itu mereka tidak boleh mengeluh jika guru atau orangtua di rumah meminta bantuan mereka untuk mengerjakan sesuatu. Atau, para peserta didik dibawa beranjangsana ke sebuah pabrik mainan anak-anak; dan di sana mereka diminta untuk melihat-lihat dan mencatat benda-benda apa saja yang menarik perhatian mereka masing-masing.
4.6 Kecerdasan personal
Manusia sebagai individu memiliki kecerdasan personal.(Note 28) Kecerdasan ini terkait dengan bagaimana manusia memahami perasaan, suasana hati, keinginan, serta temperamen orang lain. Kecerdasan semacam ini dikategorikan sebagai kecerdasan interpersonal. Manusia sebagai individu, dalam kategori kecerdasan interpersonal, membangun relasi dengan apa yang ada di luar dirinya, yaitu individu-individu lainnya, sehingga kecerdasan semacam ini memungkinkan dirinya untuk memiliki ikatan dan interaksi dengan manusia lain, bahkan mampu menjaga hubungan-hubungan sosial. Kecerdasan seperti ini berguna untuk memotivasi orang lain, serta mengenal dan menghargai orang lain sebagai bagian dari dirinya, mempengaruhi orang lain, berempati terhadap orang lain, serta mampu bekerja sama dengan orang lain dalam suatu kelompok. Para guru, pemimpin politik, ulama, konselor, psikolog, pastor dan pendeta adalah orang-orang yang secara khusus memiliki kecerdasan interpersonal. Kecerdasan interpersonal secara lahiriah sudah tampak dalam hubungan khusus orangtua-anak yang kemudian dikembangkan dalam relasi dengan orang lain. Mengenal dan memahami diri dalam relasi dengan orang lain perlu ditanamkan kepada anak-anak untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal. Di samping itu, perlu juga diajarkan keterampilan berkelompok, bagaimana menghargai perbedaan-perbedaan dalam kelompok, menyesuaikan diri dengan orang yang berbeda dari dirinya, serta perlu juga ditingkatkan upaya-upaya kreatif untuk membentuk proses sosial yang selalu baru.(Note 29)
Kategori lain dari kecerdasan personal adalah kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan semacam ini merupakan kemampuan melihat pemikiran dan perasaan sendiri yang terus dibangun untuk menemukan jati diri manusia sebagai individu. Pertanyaan “Siapakah Aku?” akan mudah dijawab dengan kemampuan manusia menyelami dirinya sendiri, mengobservasi bahkan secara sadar bergaul dengan batinnya sendiri sampai manusia itu menemukan siapa dirinya sesungguhnya. Biasanya orang yang memiliki kecerdasan intrapersonal adalah orang yang menyadari keadaan emosionalnya, mampu menemukan jalan keluar untuk mengekspresikan perasaan dan pemikirannya, bisa mengembangkan model diri yang akurat, termotivasi untuk mengidentifikasi dan memperjuangkan tujuannya, sanggup membangun dan hidup dengan satu nilai etik (agama), bekerja mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang kuat tentang makna kehidupan, relevansi, dan tujuannya, berusaha mengaktualisasikan diri dengan kemampuan untuk memberdayakan orang lain, mengatur tujuan personalnya, mencari dan memahami pengalaman individualnya, serta mendapatkan wawasan tentang kompleksitas diri dan eksistensi manusia.(Note 30) Cara-cara seperti itu bisa diperkenalkan kepada anak-anak dengan mencoba mengajak anak-anak memahami dan mengenal diri sendiri.
Meyakini bahwa setiap orang oleh Tuhan diberi potensi untuk cerdas dalam membangun hubungan personal, interpersonal dan intrapersonal, maka dalam kegiatan pengajaran dan pendidikan di Sekolah Minggu sudah pada tempatnya jika guru-guru bekerja keras untuk ikut membantu menumbuhkan kecerdasan jenis ini dalam diri anak-anak asuhan mereka. Banyak hal yang bisa dengan programatis dilakukan di Sekolah Minggu. Misalnya, dalam suatu kegiatan belajar-mengajar yang mengambil tema “Kenalilah Dirimu”, guru dapat bertanya, apa cita-cita mereka; mereka mau menjadi apa kalau sudah dewasa. Bandingkanlah jawaban anak yang satu dengan anak yang lain, lalu diskusikan bersama mereka kemungkinan-kemungkinan yang bisa mereka lakukan sejak sekarang untuk dapat mencapai cita-cita mereka. Dalam rangkaian pembelajaran tema “Kenalilah Sesamamu”, pengurus Sekolah Minggu juga dapat membuat program perkunjungan ke panti-panti asuhan, agar anak-anak Sekolah Minggu mengenal juga dunia anak-anak yang dibesarkan di panti-panti asuhan. Atau, kalau ada seorang teman mereka yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, aturlah kegiatan insidental perkunjungan yang memungkinkan mereka untuk menjenguknya dan berdoa bersama-sama di sana.
5. Faktor-faktor Lain Yang Penting Diperhatikan
Uraian di atas tentang unsur-unsur teori MI dan sedikit contoh aplikasinya dalam kegiatan pendidikan di Sekolah Minggu telah memperlihatkan bagaimana teori MI bisa memberi sumbangan penting bagi penyusunan suatu kurikulum pendidikan yang berbasis pada pengembangan kecerdasan-kecerdasan segenap nara didik, supaya anak-anak didik tumbuh cerdas bertahap dalam puspa dimensi, sekaligus cerdas secara spiritual, maksudnya, beriman kepada Tuhan. Penting ditekankan, kurikulum Sekolah Minggu seyogianya disusun bukan hanya menurut atau berdasarkan tema-tema besar alkitabiah dan gerejawi, tetapi juga hendaknya dirancang dengan memasukkan secara terintegratif aplikasi-aplikasi keenam perspektif tentang kecerdasan manusia sebagaimana telah dipaparkan secara inspiratif oleh Howard Gardner.
Tentu saja, teori MI tidak memberi sumbangan dalam menentukan struktur kurikulum dan metode mengajar. Teori MI membantu pendidik untuk menyusun satuan-satuan bahan pelajaran yang multidimensional. Untuk efektivitas kegiatan pendidikan di Sekolah Minggu, masih ada sekian faktor lain yang harus diperhatikan dan diterapkan dalam penyusunan kurikulum, yang akan menghasilkan suasana belajar yang menyenangkan, tidak membosankan, tetapi mendorong setiap nara didik untuk tumbuh menjadi pelajar yang dinamis (dynamic learner).(Note 31)
Kurikulum Sekolah Minggu biasanya mencakup empat unsur pembentuk struktur kurikulum: materi kurikulum, yaitu panduan kurikulum (curriculum guide), cakupan kurikulum (areas guide), bahan kurikulum (resource units), dan satuan belajar mengajar (teaching learning units).(Note 32) Ada empat faktor dasariah lainnya yang perlu dimasukkan ke dalam pertimbangan-pertimbangan sebelum kurikulum disusun.
Pertama, konteks. Semua yang berkaitan dengan nara didik menjadi penting untuk diperhatikan, yaitu golongan usia, perkembangan fisik, mental, sosial, dan spiritual; faktor-faktor kultural juga sangat penting dipertimbangkan. Kedua, ruang lingkup, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan fokus dan perhatian kurikulum. Hal ini biasanya dipetakan dalam tiga hal, yaitu: relasi manusia dengan Tuhan, relasi manusia dengan sesamanya, dan relasi manusia dengan alam semesta.(Note 33)
Ketiga, tujuan, yaitu arah dan sasaran yang hendak dicapai oleh kurikulum. Tujuan ini meliputi kemampuan mendengarkan firman Allah dan melakukannya dalam iman dan kasih, kemampuan mencari dan menemukan pengalaman-pengalaman baru dalam konteks firman Allah, serta kemampuan untuk memiliki tanggung jawab personal dan sosial di hadapan Tuhan.(Note 34) Ke dalam tujuan kurikulum inilah aspek-aspek teori MI, seperti sudah dikatakan di atas, harus diintegrasikan dalam setiap bahan atau unit pembelajaran.
Keempat, proses. Model pendekatan pembelajaran yang menekankan “proses” penting untuk dilakukan; anak tidak langsung mendadak “jadi” seperti yang diharapkan tujuan kurikulum. Perlu proses yang lama dan sinambung. Metode partisipatif menjadi bagian penting pada bagian ini tanpa harus mengabaikan kondisi nyata bahwa setiap anak berbeda dan memiliki kecerdasan masing-masing yang menonjol, sehingga memerlukan cara-cara khusus untuk menanganinya. Tepatlah apa yang dikemukakan Irish Cully: People learn when they feel themselves to be participants in the events.(Note 35)
Kelima, pengorganisasian, yakni adanya koordinasi yang baik antar unit kurikulum, seperti tujuan umum kurikulum, bahan atau materi pembelajaran dan tujuan-tujuannya, pendidik dan nara didik, metode pembelajaran, dan sebagainya. Semua unsur ini harus dikoordinasikan dengan baik supaya tahap-tahap pendidikan di Sekolah Minggu mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi dan lainnya, bisa dipersiapkan dan diatur sedemikian rupa sehingga tujuan pendidikan tercapai.
Faktor golongan usia dan perkembangan mental psikologis anak harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh supaya bahan ajar dapat klop dengan kondisi perkembangan anak. Penerapan teori MI juga harus memperhatikan faktor ini dengan sungguh-sungguh. Umumnya dibedakan empat kategori atau golongan usia dan perkembangan mental. Kategori pertama adalah Kelas Indria (4-6 tahun). Pada Kategori Indria, aktivitas fisik anak sangat agresif dan ia berusaha mengeksplorasi kondisi sekitarnya dengan panca indra yang memang sedang berkembang. Perkembangan mentalnya sudah mencapai tahap “ingin tahu” (curious) yang sangat besar, dengan imajinasi yang kuat serta kesukaan mengutak-atik sesuatu yang dilihatnya menarik dan baru. Secara sosial, dunia bagi Kelas Indria adalah “aku”, sekalipun mereka tetap bermain dengan orang lain. Dan pada tahap perkembangan spiritual, doktrin kekristenan masih sulit dipahami, namun pengajaran sikap dan sifat yang baik bisa dilakukan, karena pada kelas ini nara didik mudah sekali meniru apa yang didengar dan dilihat.
Kategori kedua, adalah Kelas Pratama (7-9 tahun). Aktivitas fisik masih memerlukan kegiatan yang aktif, seperti berlari, bermain, melompat, memanjat, dan sebagainya. Biasanya perkembangan mental ditandai dengan sikap spontan, bertindak tanpa dipikirkan lebih dulu dan kegiatan belajar seperti membaca, menulis, berhitung mulai diminati. Sekalipun tidak berbeda jauh dengan Kelas Indria dalam hal egosentrisme, kategori ini lebih maju karena anak mulai menghargai kepentingan orang lain. Secara spiritual, pengenalan terhadap sikap dan sifat yang kristiani bisa dilakukan dengan mengajarkan konsep-konsep yang dekat dengan mereka, seperti penekanan bahwa “Yesus adalah teman yang baik”. Pada tahap ini, nara didik sudah melihat pentingnya berdoa sebagai bagian dari apa yang dilakukan oleh orang Kristen. Membaca Alkitab pun bukan sesuatu yang sulit bagi kelompok ini.
Kategori ketiga, terakhir, adalah Kelas Madya (10-12 tahun). Pada tahap ini secara fisik pertumbuhan mulai melambat, dan bisa terlihat anak perempuan lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan anak laki-laki. Kecenderungan bermain dengan sesama teman sejenis mulai kelihatan, dan anak mulai tertarik dengan kegiatan tertentu yang bisa dianggap sebagai hobi. Persepsi terhadap dunia menjadi lebih nyata, tidak lagi terlalu suka dengan dunia fantasi. Kecenderungan anak suka pada semua yang berada di luar dirinya, seperti alam semesta, ilmu pengetahuan, mesin-mesin, dan permainan yang lebih menggunakan kecerdasan dan ketangkasan; anak lebih tertarik pada permainan yang mengandung unsur rivalitas. Mulai mengidolakan seseorang berdasarkan minat dan apa yang disukainya. Secara sosial lebih memilih berteman dengan teman sejenis, dengan perhatian pada kegiatan atau aktivitas yang sama berdasarkan persamaan hobi. Rasa setia kawan mulai tumbuh, bahkan anak cenderung mengabaikan orang tua dan guru. Pengertian konsep benar dan konsep salah sudah dipahami pada kategori ini sehingga perkembangan spiritual bisa diukur dari bagaimana mereka mengerti dan memahami kebenaran firman Tuhan dan mulai menempatkan diri dalam kepercayaan kepada Tuhan.(Note 36)
6. Penutup
Teori MI telah memberikan suatu perspektif yang lebih memberi pengharapan dan menantang dalam kegiatan pendidikan anak di Sekolah Minggu. Dengan teori ini, setiap anak dengan segala keunikan dan tingkat serta jenis kecerdasan masing-masing menjadi fokus utama kegiatan belajar dan mengajar. Dengan mengaplikasikan teori MI dalam penyusunan kurikulum Sekolah Minggu, dan dengan memperhatikan sungguh-sungguh pokok-pokok lain yang diberikan ilmu psikologi perkembangan dan teori penyusunan sebuah kurikulum, diharapkan kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Minggu dapat lebih mengangkat kemampuan anak didik untuk mengembangkan sendiri kecerdasan masing-masing, di mana para guru berperan sebagai pendamping, fasilitator dan stimulator semua nara didik. Anak-anak akan menjadi cerdas sesuai dengan jenis-jenis kecerdasan yang dimiliki, dan pada waktu yang bersamaan mereka dapat hidup beriman kepada Allah dalam Yesus Kristus. Diharapkan, di dalam berkembangnya kecerdasan-kecerdasan yang anak miliki, anak akan juga menemukan peran Allah yang telah datang dalam diri Yesus Kristus.
Sumber: Mulyanto, STT Jakarta



II GURU

2.1 Mengapa Melayani dan Membina Anak-Anak?
Masa Kanak-kanak yang Istimewa
Ada beberapa alasan mengapa masa anak-anak adalah masa yang istimewa dan penting untuk kita perhatikan:
1. Masa anak-anak adalah masa yang paling banyak diingat. Orang sering berkata, masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah. Dunia anak-anak banyak kali dipenuhi dengan memori-memori manis, karena mereka masih hidup dekat dengan orang-orang yang mengasihi mereka. Kalau kita bertanya kepada orang dewasa tentang masa kanak-kanak mereka, maka biasanya mereka ingat. Masa anak-anak diingat paling banyak dan membekas paling lama dibandingkan dengan masa-masa umur yang lain.
2. Masa anak-anak adalah masa paling banyak belajar. Dunia anak-anak adalah dunia baru yang penuh dengan pengalaman-pengalaman baru yang menggairahkan untuk dijelajahi. Pengetahuan dan pengalaman apa saja yang disajikan dihadapan mereka akan mereka lahap. Masa anak-anak adalah masa yang haus untuk belajar.
3. Masa anak-anak adalah masa yang paling mudah dibentuk. Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh kepolosan karena hati mereka masih jujur dan bersih, belum banyak dicemari oleh dosa yang jahat. Kebiasaan-kebiasaan buruk belum terbentuk. Oleh karena itu anak bisa berubah kapan saja tergantung dari lingkungan yang membentuknya.
Melihat fakta di atas, alangkah berbahagianya orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk melayani anak-anak. Siapakah mereka?? Mereka adalah ANDA, para pelayan anak dan guru-guru sekolah Minggu! Tuhan memberikan kepada anda hati-hati yang baru yang belum digarap dan dibentuk oleh dunia dan lingkungan yang jahat. Oleh karena itu bersyukurlah dan gunakan waktu anda untuk membentuk mereka sebaik mungkin. Sekali mereka dibentuk dengan benar maka ketika menjadi dewasa mereka akan selalu mengingat dan mereka tidak akan melenceng jauh dari kebenaran (Amsal 22:6).
Sungguh suatu hal yang memprihatinkan jika Gereja lebih banyak menyerahkan pendidikan rohani anak-anak jemaat kepada orang-orang yang seringkali belum berpengalaman dan tidak dipersiapkan dengan bekal yang cukup. Semakin kecil anak-anak seringkali semakin tidak berpengalaman gurunya, karena dianggap sepele. Padahal seharusnya terbalik, semakin kecil anak-anak, guru-gurunya harus semakin berpengalaman, karena anak-anak kecil sangat rawan, menelan apa saja yang diberikan dan mereka tidak bisa membela diri/berdebat. Sekali dibentuk salah maka akan lebih banyak waktu digunakan untuk memperbaikinya.
Tantangan Melayani Anak
Bagi anda, para pelayan anak yang ada di kota besar, anda dihadapkan pada situasi yang lebih rumit. Tidak semua anak-anak anda adalah anak-anak yang ceria, yang polos dan yang haus untuk belajar. Tidak jarang mereka datang dari lingkungan yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang. Banyak diantara mereka adalah korban kejahatan orang dewasa dan lingkungan sekitarnya.
Ambil contoh anak-anak yang menjadi objek kemarahan orang tua. Bahkan di lingkungan yang kurang beruntung anak-anak dijadikan pengemis, anak jalanan, pelacur, pekerja di bawah umur dll. Kejahatan terhadap anak- anak pada masa Alkitab pun ada. Dalam Kel 1:16, Firaun memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki bangsa Israel yang lahir. Kejahatan terhadap anak-anak dialami hampir oleh tiap bangsa, sebagai contoh bangsa Samaria. Bangsa ini membakar anaknya hidup-hidup untuk dipersembahkan kepada berhala-berhala mereka (2 Raja-raja 17:31). Kejahatan terhadap anak-anak ini sangat bertentangan dengan rencana Tuhan.
Melihat demikian, apakah rencana Tuhan terhadap anak-anak? Bagaimana kita, sebagai pembina anak menanggapi panggilan Tuhan atas rencanaNya?
Rencana Tuhan Bagi Anak-anak
Rencana Tuhan terhadap manusia meliputi rencana Tuhan terhadap anak-anak juga. Dalam Kej 1:28, Tuhan memerintahkan manusia untuk berkembang dan bertambah banyak. Tuhan pula yang telah membentuk manusia sejak dia menjadi bakal anak di dalam kandungan ibunya dan Tuhan telah merancang kehidupan yang akan dilaluinya (Mazmur 139). Tuhan juga ingin memulihkan bangsa Israel dengan membentuk generasi baru yang bisa masuk ke tanah Kanaan (Bil 21:4-9). Tuhan juga merencanakan membangun Yerusalam baru dimana penuh anak-anak laki-laki dan perempuan bermain di jalanan (Zakaria 8:3).
Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, anak-anak yang lahir telah mewarisi dosa (Mazmur 51:7), dan anak-anak juga akan menghadap tahta pengadilan Allah (Wahyu 20:15-16). Oleh karena itu anak-anak juga membutuhkan keselamatan dari Tuhan (Matius 18:14). Melalui kuasa kelahiran baru Roh Kudus, Tuhan memberikan rencana baru bagi manusia, termasuk anak-anak. Mereka akan bertumbuh menjadi milik kepunyaan-Nya dan berkarya bagi kemuliaan-Nya (Rom 11:36).
Anak-anak yang memiliki hati yang lemah lembut, merupakan tanah yang baik dan ladang yang paling cocok untuk ditanami kebenaran Alkitab. Alkitab pun mencatat bahwa anak-anak dapat percaya kepada Tuhan, dapat menyesali dosanya dan dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan, bahkan orang dewasa patut meneladani sikap anak-anak ini (Markus 10:15).
Panggilan Pembina Anak Dalam Melayani Anak
Sebagai pelayan Tuhan, anda telah dipanggil Tuhan untuk ikut ambil bagian dalam membentuk anak-anak yang anda layani. Ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Melalui anda, Tuhan ingin agar anak-anak ini mengenal Pencipta mereka; bertemu dengan Dia dan diubahkan menjadi ciptaan baru. Pelayanan anak atau Sekolah Minggu tidak semata-mata dibentuk untuk mendidik anak-anak menjadi anak- anak yang manis yang mempunyai sikap baik budi. Itu bukan tujuan utama Tuhan bagi anak-anak. Tapi, pertama, mereka harus berjumpa secara pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Dan apa yang telah dimulai olehNya, maka Ia juga yang akan menyempurnakannya.
Pendidikan rohani melalui pelayanan anak dan Sekolah Minggu akan menjadi dasar pertumbuhan rohani seorang anak untuk dapat mengenal kebenaran Alkitab, menyembah Tuhan dan memuji Tuhan dan mengasihi pekerjaanNya. Apabila mereka telah dimenangkan maka berarti generasi selanjutnya juga telah dimenangkan, karena mereka adalah penerus dan pemimpin generasi yang akan datang. Dan tidak bisa disangkal bahwa 50% anggota jemaat gereja pada umumnya adalah berasal dari anggota Sekolah Minggu. Oleh karena itu mengapa kita melayani anak- anak dan memberi perhatian besar kepada mereka? Karena jika kita memenangkan anak-anak maka kita tahu gereja memiliki masa depan.
2.2 Syarat-syarat bagi Pelayan Anak
Apakah untuk menjadi guru Sekolah Minggu dituntut persyaratan tertentu? Jawabannya dari pertanyaan ini adalah, tergantung dari hasil bagaimana yang diharapkan? Jika puas dengan hasil yang asal-asalan maka guru Sekolah Minggu tidak perlu memenuhi persyaratan tertentu. Tetapi jika menginginkan hasil yang baik dan berkenan kepada Allah, maka guru Sekolah Minggu perlu dituntut untuk memenuhi persyaratan tertentu agar memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.
Ada satu anggapan keliru yang beredar di kalangan masyarakat Kristen, bahwa siapa saja bisa menjadi pekerja/pelayan Tuhan, karena Tuhan maha kasih maka Ia mau menerima siapa saja untuk melayani Dia. Ini biasanya diartikan bahwa Tuhan tidak hanya memilih orang yang pandai, yang cakap, yang kaya dan yang mampu saja, karena Tuhan juga menerima orang yang bodoh, yang tidak cakap dan miskin. Di satu sisi anggapan itu bisa betul, tapi bisa salah jika kita tempatkan pada sisi yang lain hal ini menjadi sangat salah, karena bisa diartikan juga bahwa Tuhan menerima orang yang malas, tidak setia, yang suka mencuri dan yang tidak takut akan Tuhan. Apakah betul demikian? Pernahkah anda membaca dan merenungkan ayat-ayat berikut ini?
"janganlah banyak orang diantara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat." (Yakobus 3:1)

"Mereka (diaken/pelayan Tuhan) juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat." (1 Timotius 3:10)

"sebagai pangatur rumah Allah seorang penilik jemaat (pelayan Tuhan) harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah ..." (Titus 1:7)

"Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan," (2 Timotius 2:24)
Masih ada ayat-ayat lain yang senada, yang memberikan peringatan akan syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi pelayan/hamba Tuhan. Bukankah guru-guru Sekolah Minggu adalah hamba-hamba Tuhan? Maka berarti syarat-syarat di atas juga berlaku bagi guru Sekolah Minggu. Seperti kita ketahui Allah memberi penghargaan yang besar, tapi sekaligus juga tanggungjawab yang berat kepada pelayan Tuhan dan guru Sekolah Minggu. Di atas bahu guru Sekolah Minggu inilah tergantung masa depan generasi penerus gereja Tuhan. Yang menjadi syarat bukan masalah pandai atau bodoh, kaya atau miskin, tapi masalah hati. Jika seseorang telah menyerahkan hatinya kepada Tuhan maka Tuhan akan membentuk dan memperlengkapi mereka dengan kemampuan yang sesuai dengan panggilan yang Tuhan berikan. Hati yang bagaimanakan yang diinginkan oleh Tuhan?
1. Hati yang Baru
Guru Sekolah Minggu haruslah seorang yang sudah lahir baru, yang rohnya telah dibaruhi oleh Roh Kudus. Guru memiliki kewajiban untuk memperkenalkan Kristus pada anak-anak. Hal ini hanya akan mungkin terjadi bila guru telah mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Hanya guru yang telah mengenal Allah dengan sungguh-sungguh dan mengalami kasihNya yang luar biasa, yang dapat memberikan gambaran yang benar tentang Allah (Yohanes 3:3; 1 Korintus 2:14; 2 Korintus 5:17).
2. Hati yang Lapar
Pelayan anak dan guru Sekolah Minggu haruslah seorang yang memiliki hati yang selalu lapar dan haus akan Firman Tuhan. Dari persekutuan dengan Firman Tuhan, guru akan bertumbuh dan selalu siap memberi berkat karena dengan berakar di dalam Firman Tuhan maka hidupnya akan menjadi seperti aliran air hidup yang tidak akan menjadi kering (1 Petrus 2:2; Yohanes 6:35).
3. Hati yang Taat
Panggilan menjadi guru untuk mengajar Firman Allah bukanlah tugas yang optional, karena mengajar adalah ketaatan menjalankan Amanat Agung Yesus Kristus. Hidup seorang pelayan Tuhan adalah hidup dalam ketaatan, ia rela menjalankan kehendak Tuhan karena hidupnya adalah milik Kristus (Filipi 1:21-22; Galatia 2:20-21).
4. Hati yang Disiplin
Guru Sekolah Minggu harus mempunyai hati yang disiplin dan tidak mudah putus asa karena kesulitan. Guru juga harus bisa memaksa diri untuk tidak hanyut dalam kejenuhan karena rutinitas mengajar dan belajar. Hati yang disiplin menolong kita untuk senantiasa melayani secara konsisten, berapi-api dan tanpa pamrih (Roma 12:11; 2 Korintus 4:8).
5. Hati yang Mengasihi
Pelayan anak dan guru Sekolah Minggu yang telah mengalami kasih Tuhan akan sanggup mengasihi anak-anak didiknya, sekalipun kadang mereka nakal, bandel dan sulit dikasihi. Setiap anak adalah berharga di mata Tuhan. Oleh karena itu Tuhan ingin supaya kita mengasihi mereka sebagaimana Tuhan mengasihi kita. Kasih Tuhan memungkinkan kita mau berkorban memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan anak didik kita (Yohanes 3:16; Efesus 4:1-2).
6. Hati yang Beriman
Pelayan anak dan guru Sekolah Minggu harus senantiasa bersandar pada Tuhan dan bukan kepada kekuatan sendiri, karena Dialah yang memimpin dan menolong kita (Amsal 3:5; 2 Timotius 1:12).
7. Hati yang Mau Diajar
Sebelum pelayan anak dan guru Sekolah Minggu melayani dan mengajar anak-anak, mereka harus terlebih dahulu mau belajar dan dilatih dengan pokok- pokok kebenaran Firman Tuhan dan juga ketrampilan mengajar. Guru yang baik biasanya adalah juga murid yang baik dalam kebenaran. Oleh karena itu guru harus rendah hati, termasuk mau dikritik dan ditegur supaya ia bisa terus belajar (Yesaya 50:4; 1 Timotius 4:6).
8. Hati yang Suci
Hidup suci adalah modal utama bagi seorang pelayan Tuhan yang ingin memberikan teladan hidup yang benar dan berkenan kepada Tuhan. Ia tidak akan membiarkan hidupnya dikotori oleh kebiasan buruk dan perbuatan-perbuatan dosa yang akan memalukan nama Tuhan (1 Petrus 1:15; 1 Timotius 4:12).
Sedemikian tingginyakah syarat-syarat yang diberikan oleh Tuhan bagi pelayan-pelayanNya? Ya, namun Tuhan tidak menuntut kita memiliki semua itu dalam waktu seketika. Kita semua ada dalam proses. Roh Kudus akan terus menerus memimpin hidup kita supaya hidup kita semakin hari menjadi semakin sempurna seperti Kristus.

2.3 Tugas Guru Sekolah Minggu dalam Mengajar
Meskipun sebagian besar guru Sekolah Minggu tahu bahwa mengajar adalah bagian tugas yang paling utama dari seorang guru, namun banyak guru yang tidak memberikan perhatian dan waktu yang cukup, serta pemikiran yang serius dalam mengajar. Mengapa? Hal ini disebabkan karena sebagian guru masih belum tahu jelas apa artinya mengajar, juga karena sebagian guru mempunyai anggapan yang keliru tentang mengajar. Contoh: ada guru-guru Sekolah Minggu yang merasa bahwa ia telah mengajar dengan baik karena ia dapat membuat anak-anak di kelasnya senang dan tidak bosan diajar olehnya. Ada juga guru Sekolah Minggu yang mengira bahwa dengan memberikan banyak pengetahuan Alkitab kepada anak ia telah mengajar dengan baik. Oleh karena itu pembahasan berikut ini akan menolong guru Sekolah Minggu untuk mengerti dengan lebih baik apa artinya MENGAJAR.
A. Apa Arti "Mengajar"?
Seluruh konsep mengajar dalam Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) melibatkan tiga aspek paling penting bagi anak didiknya:
1. Mendengar ajaran-ajaran/nasehat-nasehat yang diberikan oleh orang tua/orang yang lebih bijaksana. Dalam konteks bangsa Yahudi ajaran-ajaran itu berasal dari Firman Allah yang mereka dengar turun menurun dari nenek moyang mereka. Sedangkan fokus ajaran/nasehat itu adalah untuk pembentukan karakter yang saleh (godly life) dan takut akan Allah (Ulangan 31:12-13).
2. Merenungkan supaya apa yang didengar di atas, diproses di dalam hati anak untuk menjadi pengalaman hidup yang transformasional, yang membawa kepada perubahan hidup (Roma 12:2).
3. Hidup dalam komunitas orang percaya (Efesus 3:15-18), sehingga pengajaran berlangsung dalam konteks hubungan pribadi antara:
=> Tuhan dan guru - guru dan anak - anak dan Tuhan <=

Gereja adalah komunitas orang percaya dimana orang dewasa dan anak-anak, sebagai saudara-saudara seiman, bersama-sama hidup dan bertumbuh. Oleh karena itu gereja yang sehat akan menjadi tempat yang kondusif bagi keberhasilan guru Sekolah Minggu dalam mengajar.
Pengajaran yang diberikan oleh guru untuk diterima oleh anak didik, dan tujuan yang ingin dicapai dalam mengajar menjadi faktor yang sangat membedakan antara guru Sekolah Minggu dan guru umum biasa. Oleh karena itu tugas guru Sekolah Minggu lebih dari sekedar mengajarkan pengetahuan Alkitab atau mengajarkan bagaimana hidup yang bermoral. Guru Sekolah Minggu mengajarkan suatu kehidupan yang guru sendiri telah teladani dari Tuhan Yesus Kristus, karena proses pengajaran terjadi dalam konteks hubungan pribadi dengan Allah, dan dari sana mengalir kuasa yang mentransformasi kehidupan anak didik untuk menjadi hidup yang terus menerus diperbarui menjadi semakin seperti Kristus.
B. Apa yang Perlu Diajarkan?
Melihat bahwa apa yang diajarkan dapat memberi dampak kepada transformasi hidup anak-anak Sekolah Minggu, maka sangat penting kita membahas apa yang guru harus ajarkan kepada anak-anak Sekolah Minggu?
Mengajar anak sangat berbeda dengan mengajar orang dewasa. Pada orang dewasa, pada umumnya telah terbentuk cara berpikir dan pandangan/prinsip-prinsip hidup yang sudah mapan (permanen) dan hal itu sering kali sulit untuk diubah. Tetapi mengajar anak adalah seperti mengisi botol yang masih kosong, masih banyak hal yang dapat diisi dalam pikiran anak, dan belum terbentuk pola pikir dan pandangan-pandangan tertentu secara permanen. Oleh karena itu guru Sekolah Minggu mempunyai banyak kesempatan emas untuk membangun suatu dasar yang kuat dan benar bagi kehidupan rohani anak-anak Sekolah Minggu melalui apa yang diajarkannya.
1. Alkitab adalah sumber utama dalam mengajar.

Memberikan pengajaran yang sesuai dengan Alkitab sangat penting supaya anak belajar mengenal Allah dengan benar. Guru harus belajar untuk senantiasa setia pada Alkitab, biasakan untuk menjadikan Alkitab sebagai buku sumber yang paling utama dalam mengajar. Pokok-pokok kebenaran yang diajarkan guru Sekolah Minggu harus didukung oleh kebenaran dari ayat-ayat Firman Tuhan.
2. Pokok-pokok Penting yang harus diajarkan.

Berikut ini adalah beberapa materi dasar yang guru perlu pelajari sehingga dapat menjadi pedoman penting dalam mengatur pokok-pokok materi yang perlu diajarkan kepada anak-anak Sekolah Minggu:
a. Mengajarkan anak tentang gambaran yang benar mengenai Allah. Pokok-pokok penting yang tercakup di dalamnya:
 Sifat-sifat Allah
 Karya Allah
 Firman Allah/Alkitab
 Hukum-hukum Allah
 Rencana/Kehendak Allah
b. Mengajarkan anak tentang gambaran yang benar mengenai Manusia. Pokok-pokok penting yang tercakup di dalamnya:
 Penciptaan Manusia
 Kejatuhan Manusia dalam Dosa
 Hukuman Allah atas Manusia Berdosa
 Rencana Keselamatan Allah untuk Manusia
 Manusia sebagai Ciptaan Baru yang lahir dari Allah
c. Mengajarkan anak tentang gambaran yang benar mengenai Alam.
 Penciptaan Alam Semesta
 Pemeliharaan Allah atas Alam
 Kutukan Allah atas Alam setelah Kejatuhan Manusia dalam dosa
Inilah beberapa pokok penting yang perlu diingat oleh guru Sekolah Minggu dalam melaksanakan tugas mengajar. Sebagai kesimpulan marilah kita simak ayat Firman Tuhan berikut ini:
"Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak, dan orang asing yang diam di dalam tempatmu, supaya mereka mendengarnya dan belajar takut akan Tuhan, Allahmu, dan mereka melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini, dan supaya anak-anak mereka, yang tidak mengetahuinya, dapat mendengarnya dan belajar takut akan Tuhan, Allahmu." (Ulangan 31:12-13)

2.4 Gembala bagi Anak-anak
"Yesus berkata: Akulah Gembala yang baik". Seorang pembimbing guru Sekolah Minggu mengajukan pertanyaan, yang masih melekat dalam ingatan saya, kepada guru-guru Sekolah Minggu, Pertanyaannya: "Apakah tugas utama kita sebagai guru Sekolah Minggu?" Berbagai jawaban diberikan, tetapi tidak ada yg memuaskan. Akhirnya dikatakan bahwa panggilan yang tertinggi bagi guru Sekolah Minggu adalah sebagai gembala bagi anak-anak yang Tuhan percayakan di Sekolah Minggu.
Setelah sekian tahun berlalu ..., saatnya kita renungkan panggilan apa yang Tuhan berikan secara khusus kepada kita sebagai orangtua Kristen? Di tengah segala krisis dan ketidak-pastian dunia ini, pertanyaan di atas mau tidak mau harus kita gumuli dengan serius - bukan lagi sebagai guru Sekolah Minggu terhadap muridnya, namun sebagai orangtua kepada anak-anaknya.
Mungkinkah kita dapat menjadi gembala bagi anak-anak kita? Siapakah kita? Kuasa apakah yang kita miliki? Bahkan seringkali karena hal-hal yang sederhana telah mengganggu, kita dapat melukai hati anak-anak kita. Sebaliknya, bagaimana anak-anak kita mengerti dan mengenal Gembala Agung kita jikalau orangtua tidak menghadirkan dan mewakili Gembala Agung itu sendiri?
Tetapi puji Tuhan! Ada iman yang memberi pengharapan di dalam Kristus. Kepada seorang Petrus yang pernah menyangkal Yesus tiga kali, Dia memberikan tugas dan panggilan yang mulia, "Gembalakan domba-dombaKu." (Yohanes 21:15-19) Sebagaimana kita mengenal Dia sebagai Gembala yang baik, ada tugas dan panggilan yang mulia untuk menjadi Gembala bagi anak-anak kita. Melalui iman kita sambut panggilan itu. Dengan meneladani Gembala Agung kita, kita akan mengerjakannya. Anak-anak kita, membutuhkan kita sebagai wakil Gembala Agung untuk melewati tahun-tahun kehidupan mereka. Anak-anak kita, membutuhkan kita sebagai gembala yang baik seperti Kristus, bukan orang upahan. Anak-anak kita, membutuhkan kita sebagai gembala yang belajar dan berjalan, bersama Allah yang menggembalakan umatNya ... "Aku sendiri akan menggembalakan domba-dombaKu, dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikian Firman Tuhan Allah. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya." (Yehezkiel 34:15-16). Orangtua yang dikasihi Kristus, belum terlambat bukan?
Kita naikkan doa: Ya Bapa di surga, ajarlah kami menjadi gembala yang baik bagi anak-anak yang Engkau berikan, tambahkanlah iman, pengharapan dan kasih kami kepadaMu. Amin.
Sumber:
• Eunike , http://www.geocities.com/~eunike-net/


2.5 Bertahan Lama dalam Pelayanan Anak
Rentang waktu diskusi : 28 September 2000 - 5 Oktober 2000
Seringkali dijumpai kasus turn-over (pergantian) yang cukup tinggi dikalangan Guru Sekolah Minggu. Sehingga timbul pertanyaan: Mengapa seseorang tidak dapat bertahan lama dalam Pelayanan Anak?
Dalam diskusi ini, beberapa alasan yang sempat dikemukakan adalah :
• Pasangan hidup kurang mendukung
• Pelayanan anak tidak segera menghasilkan buah
• Seseorang merasa sudah terlalu tua untuk melayani anak-anak
• Mencari suasana yang menyenangkan saja
• Menganggap pelayanan di Sekolah Minggu sekedar mengisi waktu luang
• Karena tidak mendapat penghargaan
• Seringkali pelayanan anak kurang mendapat perhatian dari Gereja (seadanya saja).
Beberapa rekan memberikan penekanan atas terjadinya fakta sebagai berikut:
• Kurangnya partisipasi dari kalangan pria dalam pelayanan anak
• Bila telah menikah, seseorang cenderung mengundurkan diri dengan alasan mengasuh anak
Beberapa usulan untuk mengatasi berbagai masalah di atas adalah:
• Melibatkan pasangan, baik waktu masa pacaran maupun setelah menikah
• Mengadakan acara kebersamaan dimana setiap GSM dalam melakukan curhat (bila perlu, pasangan juga boleh diajak)
• Refreshing bersama (dimana pasangan juga diajak)
• Sarasehan
• Membentuk Kelompok Kecil / Kelompok Tumbuh Bersama / Kelompok Pembinaan (atau apa pun namanya), intinya adalah ada wadah dimana GSM dapat saling berinteraksi selain bertemu untuk mempersiapkan materi pengajaran
Dari usulan di atas, rupanya mengikutsertakan pasangan dianggap sebagai salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Meski demikian perlu juga bagi GSM bersangkutan untuk memberi waktu yang cukup bagi keluarga, terutama pada hari Minggu.
Melihat bahwa pelayanan anak memiliki banyak tantangan, marilah kita bergandeng tangan dan saling menguatkan sesama GSM melalui Milis e-BinaGuru ini. Kiranya Tuhan menguatkan dan menyertai pelayanan rekan-rekan!
2.6 Menjadi Guru Sekolah Minggu
Apakah anda menyadari bahwa semua orang di seluruh muka bumi ini, pada setiap zaman, dari lahir sampai matinya, terlibat dalam proses belajar mengajar? Proses belajar mengajar adalah proses seumur hidup, berawal dari kehidupan seorang bayi mungil yang belajar melalui orangtua dan lingkungannya, sampai menjadi seorang dewasa yang terus menerus menjalani proses pembentukan, baik melalui pendidikan formal (sekolah atau institusi pendidikan lainnya) maupun non formal (keluarga, masyarakat, lingkungan, dsb.).
Proses belajar mengajar ini juga dialami oleh Tuhan Yesus, meskipun Dia adalah Sang Guru Agung.
1. Tuhan Yesus: Guru Agung
Yesus lahir dalam sebuah keluarga Yahudi yang saleh, dimana dalam setiap keluarga Yahudi seorang anak diajar oleh orangtuanya mengenal Firman Tuhan (Ul 6:7-9).
Dalam masyarakat Yahudi, dimana ada 10 keluarga Yahudi, maka harus didirikan sebuah sinagoge, rumah untuk mengajar dan berbakti. Jika ada 25 orang anak, maka di situ harus ada 1 sekolah. Sebagai seorang anak laki-laki Yahudi, Yesus juga bersekolah di sinagoge di Nazaret. Bersama dengan anak-anak lain Dia belajar Kitab Suci. Pada usia 12 tahun Yesus sudah mampu bersoal-jawab dengan para Ahli Taurat di Bait Allah.
Pada usia 30 tahun, Yesus memulai pelayanan-Nya dengan mengajarkan Firman Tuhan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tuhan Yesus lebih dikenal sebagai GURU daripada pengkotbah. Murid-murid-Nya dan orang- orang yang mendengar pengajaran-Nya memanggil-Nya GURU. Secara pribadi, Yesus pun mengakui diriNya sebagai GURU dan TUHAN (Yohanes 13:13).
Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya di dunia dengan memilih para murid untuk diajar, dan mengakhiri pelayanan-Nya dengan sebuah Amanat Agung: "Pergilah ... jadikanlah semua bangsa MURIDKU ... dan AJARlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu." (Matius 28:20).
Dengan kata lain, Yesus yang adalah Guru Agung meminta kita, murid-murid-Nya untuk juga menjadi guru, meneruskan Firman Tuhan yang sudah kita terima dari-Nya dan membagikannya pada orang lain (termasuk pada anak-anak).
2. Kenalilah keduanya: "Alkitab dan Anak"!
Meski adalah kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya, kita sebagai Guru Sekolah Minggu memiliki panggilan yang khusus dan serius untuk membawa anak-anak mengenal Kebenaran.
Tugas Guru Sekolah Minggu bukan sekedar melontarkan / memberikan Firman Tuhan kepada anak-anak, melainkan kita sendirilah yang harus "membawa" Firman Tuhan itu kepada mereka. Tidaklah cukup hanya memberi pelajaran, sebagai Guru Sekolah Minggu kita harus mau memberi DIRI kita sendiri.
Syarat yang paling penting untuk menjadi seorang Guru Sekolah Minggu BUKANLAH dengan memiliki pengetahuan yang luas, mempunyai ketrampilan mengajar yang menakjubkan, atau mempunyai kharisma memenangkan perhatian anak, MELAINKAN mengasihi Tuhan dengan segenap hati, DAN mengasihi anak-anak seperti diri kita sendiri (Ulangan 6:5). Mengasihi Tuhan berarti juga mengenal Firman-Nya, dan Firman inilah yang harus kita nyatakan pada anak-anak dari dalam hati kita, bukan hanya dari otak kita.
Mengasihi anak berarti kita terpanggil untuk menyampaikan Firman Tuhan pada anak-anak, meski dengan konsekuensi yang tidak gampang. Sebagai Guru Sekolah Minggu kita harus banyak memperlengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan untuk dapat menyelami dan memahami alam pikiran dan jiwa anak-anak.
Keyakinan bahwa Berita yang ingin kita sampaikan adalah Berita yang Sangat Penting, tentunya kita sebagai Guru Sekolah Minggu akan menyambut setiap langkah persiapan, latihan/training, seminar, dsb. sebagai kesempatan untuk memperlengkapi diri dalam panggilan kita sebagai Guru Sekolah Minggu.
3. Memutuskan untuk Menjadi Guru Sekolah Minggu
Sebenarnya ada banyak "daftar" bagaimana menjadi Guru Sekolah Minggu yang ideal. Dr. Mary Go Setiawani, dalam bukunya yang berjudul Pembaruan Mengajar menyebutkan sedikitnya ada 8 syarat untuk menjadi Guru Sekolah Minggu, yaitu:
1. Seorang yang telah lahir baru / diselamatkan.
2. Seorang Kristen yang bertumbuh.
3. Seorang Kristen yang setia terhadap gereja.
4. Seorang yang memahami bahwa pelayanan pendidikan adalah panggilan Allah.
5. Seorang yang suka pada objek yang dididiknya.
6. Seorang yang baik dalam kesaksian hidupnya.
7. Seorang yang telah menerima latihan dasar sebagai guru.
8. Seorang yang melayani dengan bersandar pada kuasa Roh Kudus.
Sementara dalam buku Penuntun Sekolah Minggu disebutkan ada 5 sifat yang diperlukan oleh seorang Guru Sekolah Minggu, yaitu:
1. Keyakinan dan Ketegasan
2. Kesabaran
3. Fantasi
4. Cinta Kasih
5. Mengenal dan mengajarkan Alkitab
Dan daftar di atas bisa saja bertambah panjang bila kita mau mengutip berbagai buku yang ditulis untuk para Guru Sekolah Minggu. Meski semua hal di atas penting untuk dimiliki seorang guru, janganlah hal tersebut justru akan "mengecilkan hati" atau malah "mematahkan semangat" para calon Guru Sekolah Minggu. Namun yang dibutuhkan sebenarnya adalah kerinduan seseorang untuk membagikan Kasih Yesus yang dimilikinya pada anak-anak. Sama seperti Petrus berkata kepada orang timpang di pintu gerbang: "Apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu." (Kisah Rasul 3:6), demikian pula seharusnya seorang calon Guru Sekolah Minggu memulai pelayanannya.
Dengan memberikan apa yang ada pada diri kita, apa yang kita miliki SEKARANG, itu sudah cukup untuk mengawali langkah menjadi seorang Guru Sekolah Minggu. Dengan berlalunya waktu, kita akan melihat bagaimana Tuhan Yesus, Sang Guru Agung akan memperlengkapi pelayanan kita dengan berbagai hal yang kita perlukan.
Memiliki banyak pengetahuan dan kemampuan memang baik, asal semuanya itu disertai kerendahan hati. Yang sungguh-sungguh dituntut dari seorang pengajar/guru Kristen adalah kekudusan dalam hidupnya sebagai orang Kristen.
Jika kita benar-benar berhasrat untuk membawa anak kepada Kristus, baiklah kita mulai dengan memberikan apa yang kita miliki saat ini. Tuhan memberkati dan menyertai Saudara!
Sumber:
• J. Reginald Hill, Penuntun Sekolah Minggu, halaman 10 - 17, Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, halaman 7 - 9, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.
• Ruth Lautfer & Anni Dyck, Pedoman Pelayanan Anak 2, halaman 115 - 117, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.


2.7 Pengkaderan Guru Sekolah Minggu
Tiap tahun selalu terjadi regenerasi di Sekolah Minggu, paling tidak, inilah yang dialami oleh anak Sekolah Minggu. Tiap tahun pasti ada anak yang naik ke kelas yang lebih tinggi, ada anak yang baru masuk, bahkan anak yang telah "lulus" dari Sekolah Minggu dan melanjutkan pembinaan rohani di gereja pada Kelas Remaja.
Di kalangan Guru Sekolah Minggu dapat pula terjadi regenerasi atau "turn-over", dimana guru baru datang, guru lama pergi, atau guru tiba-tiba berhenti mengajar karena alasan tertentu. Ada banyak faktor yang menjadi pemicu terjadinya perubahan di atas. Ada faktor yang bisa dikendalikan pihak Pembina Sekolah Minggu, ada pula yang tidak. Beberapa contoh faktor yang berada di luar kendali misalnya: karena guru yang bersangkutan akan melanjutkan studi atau pindah kerja di luar kota.
Pembina Sekolah Minggu perlu memikirkan dan mempersiapkan para Guru maupun Calon Guru demi kelangsungan serta kelancaran pelayanan di Sekolah Minggu dengan bertanggung jawab. Di sinilah perlunya perencanaan yang baik dalam Program Pengkaderan Guru.
1. Bagaimana mencari dan menemukan Calon Guru?
Sebelum mencari calon guru, langkah awal yang perlu dilakukan adalah melakukan pendataan jumlah Anak Sekolah Minggu, jumlah Guru, dan deskripsi singkat mengenai pengalaman mengajar masing-masing Guru. Misalnya: berapa jumlah guru yang dapat mengajar di kelas kecil, kelas besar, dst, berapa jumlah guru "senior" (dalam kuantitas maupun kualitasnya) dan berapa jumlah guru yang masih tergolong "pemula".
Selanjutnya perlu dipertimbangkan, berapa banyak anak dapat diajar secara efektif dan efisien oleh seorang guru. Pada umumnya, untuk 10-15 anak perlu ada 1 orang guru, tapi untuk anak kelas kecil 7-10 anak dibutuhkan 1 orang guru, sementara untuk anak kelas balita setiap 4-5 anak perlu didampingi 1 orang guru.
Setelah kebutuhan guru diketahui dengan jelas, barulah Pembina Sekolah Minggu mulai mencari calon guru di antara anggota jemaat gereja. Setidaknya ada 4 golongan yang dapat dipertimbangkan:
1. Kaum muda (16-25 tahun)
2. Kaum dewasa muda (25-33 tahun) atau telah berumah tangga
3. Kaum dewasa madya (33-55 tahun) (biasanya anak keluarga ini telah memasuki usia remaja/pemuda)
4. Kaum lansia (55 ke atas) (biasanya anak telah mandiri dan tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tua)
Tentunya setiap golongan tersebut memiliki keunikan sendiri.
Kaum muda lebih mudah dan lebih cepat digerakkan untuk suatu tugas baru, dan umumnya memiliki semangat dan mobilitas yang tinggi. Tetapi, ada sedikit kendala bila mereka akan melanjutkan studi, kerja, atau menikah, apalagi bila hal tsb akan membawa mereka pindah ke kota lain.
Kaum dewasa muda biasanya termasuk golongan yang paling sulit diajak pelayanan. Umumnya waktu dan perhatian mereka banyak tersita untuk urusan pekerjaan (biasanya kaum pria) dan mengasuh anak (biasanya kaum wanita). Tetapi, jika mereka mau menerima pelayanan sebagai guru Sekolah Minggu, kualitas mereka sebagai seorang pengajar dan pendidik pada umumnya baik sekali.
Kaum dewasa dan lansia sebenarnya adalah calon guru yang baik, asal mereka masih mau mengerti dunia anak yang sangat berbeda dengan dunia mereka sendiri, demikian juga dengan masa kanak-kanak mereka puluhan tahun silam. Keuntungan mendapatkan guru dari kelompok umur ini adalah: biasanya mereka memiliki pribadi yang lebih matang dan mantap, dan biasanya pula mereka sudah tidak lagi akan berpeluang berpindah gereja atau kota lain. Umumnya mereka juga sudah "dikenal" dan "punya pengaruh" di kalangan jemaat, dan hal ini dapat memberi keuntungan bagi Sekolah Minggu dalam menjalankan program-programnya. Hanya saja, mungkin ada sedikit masalah bila orang-orang dari kelompok ini cenderung untuk "menggurui" mereka yang lebih muda.
Pendekatan yang dilakukan bisa dilakukan dalam berbagai cara, baik melalui pendekatan PRIBADI, dimana Pembina Sekolah Minggu mengajak calon guru tsb berbicara dari hati ke hati mengenai beban pelayanan anak, atau pendekatan KELOMPOK, misalnya melalui ceramah atau presentasi program pada masing-masing kelompok persekutuan (kaum muda, kaum wanita/bapak, kaum lansia, dsb).
2. Bagaimana merencanakan Program Pengakaderan Guru Baru?
Sebenarnya tidak ada pendekatan yang seragam mengenai hal ini. Tiap Sekolah Minggu biasanya memiliki kebijakannya sendiri mengenai bagaimana mempersiapkan calon guru/guru baru untuk mulai memasuki ladang pelayanannya.
Beberapa hal yang biasa dipratekkan adalah:
1. Memberikan Kursus Dasar
Dimana para calon guru akan dibekali oleh visi dan misi mengenai pelayanan anak, berbagai pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk mengajar anak (misalnya: diperkenalkan dengan berbagai metode / teknik mengajar, psikologi perkembangan, dsb).
2. Memberikan kesempatan untuk observasi
Para calon guru diminta untuk mengikuti berbagai kelas Sekolah Minggu (sebagai peserta atau pengamat saja) dimana mereka belajar dari guru-guru lain bagaimana cara memimpin sebuah kelas. Pada akhirnya para calon guru tsb dengan dibimbing oleh Pembina Sekolah Minggu akan menentukan kelas mana yang tepat bagi dirinya.
3. Dilibatkan bersama dengan guru senior
Di sini para calon guru langsung praktek mengajar bersama (atau lebih tepat disebut: sebagai asisten) guru senior. Mereka belajar dari rekan yang lebih senior dan mengajar anak pada saat yang bersamaan.
4. Dilatih dalam Kelas Laboratori
Dalam hal ini calon guru dilatih dengan menggunakan Kelas Laboratori, dimana mereka berlatih/praktek mengajar di hadapan rekan-rekan guru dan bukan langsung dengan anak. Melalui kelas latihan ini, mereka dipersiapkan untuk nantinya dapat terjun mengajar anak dengan lebih siap diri. Pembahasan lebih lanjut mengenai Kelas Laboratori akan dibahas dalam kolom Serba Serbi.
Program Pengkaderan Guru mutlak diterapkan oleh Sekolah Minggu yang mau bertumbuh dan berkembang. Program ini juga harus berdampingan dengan program pembinaan guru, sehingga tidak hanya para calon guru yang perlu mendapat pelatihan dan persiapan, para guru senior pun harus disegarkan kembali, harus terus dibina dan dikembangkan potensi serta keahliannya dalam melayani anak-anak.
Sumber:
• Ruth Lautfer & Anni Dyck, Pedoman Pelayanan Anak 2, halaman 126 - 131, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.


2.8 Peranan Guru Dalam Perkembangan Anak
I. PERANAN GURU DALAM PERKEMBANGAN ANAK
Sudah dijelaskan pada ceramah I bahwa guru sangat mempengaruhi perkembangan anak dalam proses identifikasi. Pada ceramah II ini akan dijelaskan peranan guru dalam mengenal dan menolong anak.
A. Pengenalan guru terhadap anak
Guru yang berhasil adalah guru yang mengenal anak melalui pribadi anak itu sendiri, lingkungan dan keluarga.
Sumber data tentang anak:
• orangtua
• anak sendiri
• lingkungan
• guru, waktu menyampaikan pengajaran
1. Guru wajib memahami pribadi anak
a. Penampilan fisik, apakah ada cacat tubuh.
b. Motorik lemah/kuat.
c. Emosionalitas: mudah tersinggung, menangis, marah, tertutup, agresif, terbuka.
d. Cara berbicara.
Melalui bergaul dengan anak, guru akan dapat mengetahui pribadi, sifat-sifat, ciri-ciri, kemampuan dan kesusahan, semakin banyak bergaul, semakin mengerti tentang pribadi anak. Yesus dapat menempatkan dirinya sebagai guru yang baik sehingga Dia dapat menegur murid-murid-Nya kalau tidak menjadi seperti anak-anak yang tidak layak masuk dalam Kerajaan Surga, Matius 18:2
2. Guru wajib mengenal lingkungan keluarga anak
Guru perlu mengetahui latar belakang kehidupan keluarga anak. Rumah dan keluarga adalah lingkungan hidup pertama, anak memperoleh pengalaman-pengalaman pertama yang mempengaruhi jalan hidupnya. Lingkungan hidup pertama yaitu keluarga yang memberi tantangan pada anak supaya dapat menyesuaikan terhadap lingkungan hidupnya. Anak dibentuk oleh pendidikan dan situasi di rumah tangga ada yang menguntungkan perkembangan anak ada yang tidak.
a. Lingkungan liberal: lingkungan ini memberikan kebebasan penuh kepada tiap anggota keluarga.
b. Lingkungan demokratis: segala sesuatu diputuskan secara bersama.
c. Lingkungan otoriter: segala sesuatu ditentukan oleh orangtua, anak tidak ikut ambil bagian.
Untuk dapat mengerti latar belakang kehidupan keluarga anak, diperlukan kunjungan. Dengan memahami keterangan-keterangan mengenai latar belakang dimana anak dibesarkan, kita dapat memahami pengaruh-pengaruh yang turut membentuk kepribadiannya. Sikap orangtua banyak mempengaruhi perkembangan anak:
a. Orangtua yang terlalu cemas, terlalu memperhatikan anak secara berlebih-lebihan mengakibatkan anak penakut.
b. Orangtua terlalu memanjakan anak menimbulkan anak suka menuntut.
c. Orangtua yang tidak mempedulikan anak menimbulkan anak selalu pendendam.
d. Orangtua yang menyerahkan tanggung jawab terhadap pembantu/ pengasuh, mengakibatkan anak kurang menghormati orangtua.
3. Guru wajib mengenal dunia di sekitar anak/lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada diluar kita.
Pengaruh lingkungan terhadap anak dapat dibagi menjadi dua:
a. Pengaruh lingkungan yang disengaja: pendidikan/pengajaran
b. Pengaruh lingkungan yang tidak disengaja: ini diterima oleh setiap orang dari lingkungan yang hidup iklim, dan kebiasaan- kebiasaan.
Guru harus mengerti bahwa salah satu dari faktor yang mempengaruhi perkembangan anak adalah faktor lingkungan.

Hubungan manusia terhadap lingkungan:
a. Memanfaatkan lingkungan
b. Menantang lingkungan
c. Menyesuaikan diri terhadap lingkungan
Penilaian guru terhadap lingkungan yang jahat (berlawanan dengan Firman Allah) dapat dengan mudah mengarahkan anak untuk menentang lingkungan.
4. Tingkah laku anak pada waktu mengikuti pelajaran
a. Apakah anak disiplin
b. Apakah anak tidak mampu menerima disebabkan gangguan penglihatan, pendengaran, tingkat intelegensia anak yang tidak dapat menyerap materi pelajaran. Ketidak serasian antara guru dan murid.
c. Tidak disiplin karena guru terlalu panjang bercerita.
Tiap anak mengalami tempo, pertumbuhan-pertumbuhan yang berbeda. Dengan mengenal dunia anak dan dunia disekitar anak, guru sekolah minggu dapat melayani dan mengerti kebutuhan anak dengan tepat.
B. Hubungan antara Guru dan Anak
Hubungan antara guru dan murid bukan sekedar hubungan fungsional yaitu hubungan yang didasarkan atas tugas atau fungsi yang dijalankan seorang petugas. Bila guru hanya sampai hubungan fungsional akan banyak mengalami kegagalan dan tidak akan mencapai sasaran yang diinginkan seorang pendidik.
1. Pengenalan Paulus kepada jemaat di Tesalonika membuat hubungan yang cukup pribadi antara Paulus dan jemaat Tesalonika, "Aku (Paulus) seperti seorang ibu dan bapak terhadap engkau", 1 Tesalonika 7:11. Paulus menjadi pengganti orangtua bagi orang Tesalonika.
2. Pengenalan Yesus dan kasih-Nya untuk murid-murid sehingga Yesus menjadi seorang sahabat bagi murid-muridnya. Yesus sebagai teman dekat kita semua, karena Dia telah memberikan semuanya untuk kita. Yohanes 15: 13-15.
Dari kedua ayat ini dapat membawa guru-guru bukan hanya sekedar mengajar, selesai tugas habis perkara, tetapi dapat menempatkan diri sebagai orangtua dan teman dekat bagi anak-anak.
1. Guru sebagai Teman Dekat Anak
Ketrampilan dan kemampuan guru membawa diri kepada anak-anak akan menyempurnakan hubungan antara guru dan murid dalam lingkup guru sebagai teman dekat anak.
Beberapa cara yang dapat dipakai guru untuk menjadi teman dekat anak:
a. Pengenalan dan pendekatan batiniah
o mengenali pribadi dan latarbelakang anak
o membuka diri
o suasana persahabatan/kekeluargaan/kasih memenuhi kebutuhan anak untuk dikasihi.
o terbinanya kepercayaan antara guru dan murid dapat dipercaya (Memegang rahasia anak) menunjukkan perhatian dan kesediaan untuk menolong.
b. Kepekaan terhadap kebutuhan anak Kepekaan berarti mengerti perasaan dan kebutuhan anak menunjukkan sikap yang saling mempengaruhi.
c. Memecahkan persoalan bersama, dengan cara:
o Menerima keluhan anak
o Merasakan keluhan anak
o tidak mengadili
o Kesanggupan mencari jalan keluar melalui doa dan firman Allah.
2. Guru sebagai Orangtua
Hubungan guru dengan murid dinyatakn seperti orangtua dan anak. Orangtua menjadi pembimbing anaknya supaya, perkembangan anak dapat berlangsung sebaik-baiknya tanpa ada hambatan atau gangguan. Guru berada dalam lingkungan yang dekat dengan anak, dengan demikian cukup besar pengaruhnya dan pembentukan pribadi dan cita-cita anak. Anak cenderung untuk meniru tingkah laku guru, dan peka terhadap sifat-sifat, tingkah laku yang diperlihatkan oleh seorang guru didepan anak-anak. Peranan guru sebagai orangtua kedua dapat dilihat sebagai berikut.
a. Memperlihatkan kepribadian yang penuh kasih dan perhatian.
b. Orangtua berusaha mendidik untuk mencapai sesuatu yang menjadi harapan orangtua.
o Mendidik hal yang rohani/memupuk iman
o Mendoakan anak
o Memelihara kehidupan rohani yang tetap stabil
o Melindungi anak dari pengaruh-pengaruh negatif film prono, gambar porno, merokok, kebiasaan-kebiasaan jelek, pembicaraan kotor.
Amsal 22:6, II Timotius 3: 15-17, Ulangan 4: 9-10, 6:7, Ulangan 11:18-20, Mazmur 78:5-6.
c. Memberikan pujian dan mendisiplin
d. Membantu anak untuk tercapainya cita-cita dan keinginannya.
e. Memberikan bimbingan secara rutin baik di dalam kelas maupun di luar kelas (kunjungan ke rumah).
f. Membantu anak untuk dapat bersahabat satu dengan yang lainnya.
C. Tanggung Jawab guru Terhadap Perkembangan Anak
Nilai kehidupan anak-anak di mata Allah sangat tinggi sehingga Yesus pernah berbicara: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah, Markus 10:14. Barangsiapa menyambut seorang anak dalam namaKu, ia menyambut Aku, Matius 18:5.
Guru Sekolah Minggu hendaknya dapat menghargai tanggung jawab yang dipikulnya untuk memperkembangkan sifat-sifat ilahi melalui Firman Allah di dalam diri Anak.
Tanggung jawab guru dapat dibagi:
1. Tanggung jawab kepada Tuhan
Yesus berbicara cukup keras kepada setiap orang yang mengajar anak-anak, tetapi diselewengkan dalam kesesatan, Matius 18:6. Mengajar firman Allah kepada anak-anak merupakan perintah Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan. Pengajaran harus sesuai dengan ketentuan Allah. Mengajar Anak supaya melakukan Firman Allah dan memberi kesaksian-kesaksian tentang kuasa Firman Allah dalam pengalaman hidupnya.
2. Tanggung jawab kepada gereja:
Sekolah Minggu yang bertumbuh akan membawa perkembangan bagi gereja lokal dan universal. Gereja dan Sekolah Minggu adalah satu kesatuan. Kegagalan Sekolah Minggu adalah juga kegagalan bagi gereja. Melalui lembaga Sekolah Minggu akan menambah anggota jemaat dalam gereja. Sebagian besar dari tumbuhnya jemaat baru datangnya dari Sekolah Minggu. Gereja melalui Sekolah Minggunya dapat memenangkan banyak orang.
3. Tanggung Jawab kepada Negara
Sekolah Minggu yang bertumbuh dengan baik akan memberi pengaruh bagi kemajuan moral yang baik untuk negara itu.
4. Tanggung Jawab kepada Orangtua anak
Orangtua anak akan menyerahkan kehidupan rohani anak hanya melalui lembaga Sekolah Minggu. Sekolah Minggu akan menajdi sasaran orangtua untuk menanyakan anaknya bila dalam keadaan nakal dll.
II. PENDEKATAN SEORANG GURU DALAM MENOLONG
Dalam kehidupan manusia dipengaruhi adanya: Pengaruh perkembangan tubuh, Pengaruh Kejiwaan, Pengaruh Lingkungan. Pendekatan untuk menolong harus melihat ketiga latar belakang ini yang banyak mempengaruhi hidup manusia.
Misalnya anak nakal dapat dipengaruhi karena faktor badaniah, faktor psikologis, faktor lingkungan sosial.
• gangguan badaniah: karena penyakit otak
• gangguan jiwa : tidak mampu, tidak senang, rendah diri.
• gangguan lingkungan: lingkungan yang tidak baik, rumah tangga yang berantakan.
Ketiga hal ini seringkali mengakibatkan anak menjadi nakal. Guru harus dapat mengerti latar belakang masalah dan pendekatan- pendekatan yang tepat untuk memecahkan masalah anak.
A. Tugas Guru dalam membimbing dan menolong
Tugas guru harus dapat melihat perubahan tingkah laku anak, baik mereka di dalam kelas untuk mendengar pengajaran Firman Allah maupun di luar kelas, perubahan tingkah laku anak diamati oleh guru dan mencari tahu sebab-sebabnya.
1. Guru dalam membimbing dan menolong
• Guru harus tahu kebutuhan dasar anak.
Seperti Yesus mengetahui kebutuhan Nikodemus dan perempuan Samaria dalam Yohanes 3 dan 4.
• Pola Kehidupan Anak
• Sikap dan aktifitas anak dalam bermain, belajar dan bergaul.
• Cita-cita anak didik
• Latar belakang tingkah laku anak, dan perubahan-perubahannya serta mengobservasi.
• Guru harus mengetahui murid yang memerlukan perhatian dan bantuan khusus.
• Trampil mengadakan hubungan antara guru dan orangtua anak untuk dapat mengerti segi mana kelemahan dan kekurangan anak.
2. Tujuan Bimbingan dalam Menolong
Bimbingan merupakan bantuan oleh seorang guru kepada anak didiknya. Penyelesaian masalah bukan saja pada saat itu, tetapi memperhatikan agar akibat pertolongan dapat berdampak positif pada perkembangan pribadi anak.
• Memahami dan merasakan kesulitan anak
Tanpa memahami dan merasakan kesulitan anak, guru tidak akan dapat menyelesaikan.
• Membantu anak menghadapi, memahami dan memecahkan masalah dan menemukan cara-cara mengatasi persoalan, baik itu persoalan dalam diri anak maupun di luar tubuh anak.
• Menyembuhkan atau memperbaiki
Bila terjadi kesulitan yang sudah berakar, guru harus dapat mencari kara dari kesulitan anak, gangguan badaniah, gangguan kejiwaan, dan gangguan lingkungan.
• Mengarahkan anak kepada kehidupan yang positif.
B. Proses Menolong dan Memecahkan Masalah
Untuk Menolong dan Memecahkan Masalah anak, guru harus mengerti sumber masalah dari anak.
1. Sumber Masalah Anak
• Diri pribadi
Masalah yang hubungannya dengan diri pribadi
Ketidak mampuan anak untuk mengadakan penyesuaian diri pada aspek-aspek perkembangan, belajar dan cita-cita.
• Lingkungan
Masalah yang timbul dalam lingkungan
Apakah masalah timbul dalam lingkungan dimana hadir orang lain.
Apakah masalah timbul bila dalam lingkungan yang tidak ada orang lain/anak tidak bisa sendiri.
Apakah masalah timbul bila ia berada dalam lingkungan sekolah.
• Keluarga
Masalah yang timbul berhubungan dengan keluarga, keluarga berantakan, keluarga miskin.
2. Menolong dan Memecahkan Masalah Anak
2.1. Menciptakan kontak melalui wawancara
dengan wawancara akan memudahkan guru untuk mengumpulkan data tentang anak dan penciptaan hubungan
• tanya jawab: membuat pertanyaan yang memancing, tidak mengadili atau menyalahkan.
• Pengamatan langsung
• Mendengarkan
• Menjaga kelangsungan hubungan dalam lingkup wawancara
• Menganalisa dan mendiagnosa
Sambil bertanya guru menganalisa dan mendiagnosa/ menyimpulkan, pikiran guru berjalan terus dan menghubungkan data satu ke data yang lain untuk mencari kesimpulan yang tepat.
2.2 Menentukan masalah
• Gangguan badaniah
• Gangguan jiwa
• Gangguan lingkungan
2.3 Melaksanakan jalan keluar untuk menolong
• Menolong sesuai dengan kebutuhan anak
• Mengembalikan kepada Allah melalui doa (1 Yohanes 5: 14-15)
• Menggunakan Firman Allah (2 Timotius 3 : 16-17)
• Menaruh Perhatian kepada Kuasa Allah (Roma 8:26)
• Memberikan pengharapan
Berharap kepada Allah yang sanggup menolong Ibrani 6:19-20
• Nasehat
2.4. Mengevaluasi dan tindak lanjut dalam menolong
• Doa
• Perhatian
• Kunjungan
III. KESIMPULAN
Guru dapat menjadi teman dekat dan orangtua bagi murid-muridnya, serta memecahkan masalah, bila mengenal anak dan mengerti, ikut merasakan masalah-masalah anak.

2.9 Meningkatkan Mutu Pelayanan Guru-Guru Sekolah Minggu Dengan Mengenal Psikologi Anak Dan Memahami Peranan Kunjungan Bagi Anak
Oleh Dra. Ira Dwi Putranto
MENGENAL PSIKOLOGI ANAK
Pelayanan sekolah minggu bukanlah sekedar pelayanan untuk memberikan cerita-cerita Alkitab yang indah, membawakan nyanyian-nyanyian yang gembira ataupun memberikan permainan-permainan yang mengasyikkan supaya anak senang dan mau rajin datang ke sekolah minggu itu saja sesungguhnya ada tujuan yang jauh lebih dalam lagi. Dalam Alkitab dituliskan bahwa tugas pengajar anak-anak sekolah minggu adalah untuk melengkapi mereka bagi pelayanan dan pembangunan Tubuh Kristus sampai mencapai iman, pengetahuan dan tingkat pertumbuhan dan kedewasaan penuh dalam Kristus, sehingga dalam kedewasaan penuh itu anak mampu menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks dengan mengandalkan kebenaran Firman Tuhan (Ef 4:11-16).
Dari rangkaian ayat tersebut harus disadari bahwa penyajian pelayanan anak-anak sekolah minggu haruslah merupakan proses yang dapat menampakkan adanya suatu pertumbuhan/perkembangan sejalan dengan proses perkembangan yang sedang berlangsung dalam diri anak sebagai suatu individu manusia yang unik.
Untuk itu pengajar-pengajar sekolah minggu perlu persiapan yang matang dalam pelayanannya, dan hal yang penting adalah pengenalan anak secara lebih dalam sebagai dasar persiapan pelayanan.
Berikut ini ada beberapa hal yang penting tentang psikologi anak yang perlu dipelajari dan dipahami sebagai dasar pelayanan.
I. Kebutuhan dasar anak:
1. Anak membutuhkan kasih sayang
2. Anak membutuhkan rasa aman
3. Anak membutuhkan penerimaan
4. Anak membutuhkan disiplin (untuk menahan diri)
5. Anak membutuhkan kebebasan yang wajar
6. Anak membutuhkan penghargaan
II. Prinsip penerimaan pengalaman pendidikan bagi anak:
1. Semua pengalaman anak dapat mempengaruhi dan membentuk watak dan arah hidupnya; sebagaimana diungkapkan oleh Dorothy Law Nolte:
Jika anak hidup dengan kritikan,
ia belajar untuk menghakimi.
Jika seorang anak hidup dengan kebencian,
ia belajar kejahatan.
Jika seorang anak hidup dengan ejekan,
ia belajar untuk menjadi malu.
Jika seorang anak hidup dengan dipermalukan,
ia belajar untuk merasa bersalah.
Jika seorang anak hidup dengan dorongan,
ia belajar keyakinan diri.
Jika seorang anak hidup dengan pujian,
ia belajar untuk menghargai.
Jika seorang anak hidup dengan keadilan,
ia belajar keadilan.
Jika seorang anak hidup dengan aman,
ia belajar aman.
Jika seorang anak hidup dengan pengesahan,
ia belajar untuk menyenangi dirinya.
Jika seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,
ia belajar untuk mengasihi dunia.
2. Kepribadian anak mudah dibentuk pada usia dini
3. Setiap tahap perkembangan anak membutuhkan pembinaan khusus
4. Seorang anak sedang menunggu untuk diisi oleh orang dewasa apapun juga bentuknya.
III. Tugas perkembangan secara umum dalam tiap-tiap tahap perkembangan
1. Perkembangan masa kanak-kanak ciri-ciri umum yang nampak dari tugas perkembangannya:
a. Jasmani : Pertumbuhan jasmani berjalan dengan cepat, aktif bergerak, berusaha memperoleh ketrampilan otot.
b. Jiwani : Belajar melalui meniru, ingin tahu besar, fantasi kuat, emosional - mudah marah, ada rasa takut, suasana hati gembira, dan ingin mengasihi, sejak usia tiga tahun mempunyai konsep pribadi sifatnya, konsep berkembang dari yang khusus ke umum, konsep pemikirannya banyak dipengaruhi perasaan.
c. Sosial : Ada sikap negativistis, suka menirukan, muncul persaingan, suka bertengkar, egoistis
d. Rohani : Tuhan dikenal melalui bahasa dan konsep tentang Tuhan diperoleh dari keluarga khususnya orangtua Tuhan itu baik atau jahat tergantung penghayatan anak terhadap orangtuanya khususnya ayah.
2. Perkembangan masa sekolah ciri-ciri umumnya:
a. Jasmani : Periode ini disebut periode memanjang secara fisik fungsi organ otak mulai terbentuk mantap sehingga perkembangan kecerdasannya cukup pesat.
b. Jiwani : Anak mulai banyak melihat dan bertanya, fantasinya berkurang karena melihat kenyataan, ingatan kuat daya kritis mulai tumbuh, ingin berinisiatif dan bertanggung jawab.
c. Rohani : Anak mulai memasukkan dalam pikirannya tentang Tuhan mulai memisahkan konsep pikiran tentang Tuhan dengan orangtuanya, melihat Tuhan dalam bentuk yang kongkret (manusia Yesus) dan Tuhan adalah yang suci, maha baik, lembut dan kudus, Tuhan makin lama dipandang sebagai Kristus dan dikagumi sebagai pahlawan.
d. Sosial : Kegiatan anak mulai berkelompok dan mengarah pada tujuan tetapi masih egosentris, kegiatannya hanya satu jenis dan mulai membuat "Gang" dengan kompetisi tinggi.
3. Perkembangan masa remaja ciri-ciri umumnya:
a. Jasmani : Adanya perubahan jasmani yang mendadak dan cepat iramanya sehingga menimbulkan kebingungan dalam diri anak. Secara biologis remaja telah matang dan siap untuk berperan sebagai pria atau wanita.
b. Jiwani : Perkembangan kecerdasan berkembang secara pesat, berpikirnya makin logis dan kritis, fantasi makin kuat sehingga seringkali terjadi konflik sendiri, penuh dengan cita-cita, mencari realita, kebenaran dan tujuan hidup.
c. Rohani : Kehidupan agamanya berada dalam persimpangan jalan, ada perasaan tidak aman karena terjadi perubahan fisik, emosi dan juga berpengaruh pada imannya kadang-kadang kekuasaan tradisi kepercayaan dianggap mempersempit kebebasan dirinya yang banyak menuruti keinginan diri sendiri (suara hatinya), Dapat terjadi sikap berontak kepada Tuhan bila Tuhan dihubungkan dengan kekuasaan yang menghambatnya, atau remaja justru ingin mendekat kepada Tuhan, karena dalam Tuhan remaja menemukan teman atau sahabat yang dibutuhkan.
d. Sosial : Pada masa ini pengaruh yang besar datang dari kelompoknya (teman sebaya), perubahan perilaku berhubungan dengan kehidupan bersama, suka berkelompok ada usaha untuk diterima dalam kelompok dan masyarakat, ingin maju, suka membantu, sopan dan memperhatikan orang lain dsb.
PERANAN KUNJUNGAN
Kunjungan ke rumah tangga adalah merupakan salah satu usaha untuk mengenal lebih dalam lagi tentang/yang berhubungan dengan kehidupan anak. Manfaat yang dapat diperoleh dari kunjungan:
1. Membina hubungan yang lebih erat antara guru dan murid secara pribadi.
2. Guru dapat mengenal keluarga dan kehidupan/suasana kehidupan keluarga murid.
3. Guru dapat mengetahui sekaligus menolong menyelesaikan persoalan- persoalan yang dihadapi murid.
4. Guru dapat mengevaluasi hasil pelayanannya yang telah diterima murid dalam kehidupannya sehari-hari.
5. Kunjungan ke rumah tangga dapat menjadi pelengkap dan penguat pelayanan guru pada murid.
6. Untuk menanamkan keyakinan pada keluarga/orangtua murid bahwa guru sekolah minggu turut bertanggung jawab terhadap perkembangan kehidupan murid secara keseluruhan.
7. Guru dapat membina kerjasama yang baik dengan keluarga/orangtua murid dalam proses pembinaan kerohanian murid.
Mengingat ada tujuan yang penting yang harus dicapai dalam acara kunjungan tersebut maka perlu diperhatikan bahwa kunjungan pun harus dipersiapkan dengan baik, yang penting untuk dipersiapkan:
1. Mencari tahu lebih dulu sehubungan dengan karakter keluarga murid yang akan dikunjungi.
2. Membuat persiapan/perencanaan kunjungan sesuai dengan karakter keluarga murid yang berhubungan dengan:
a. penetapan waktu kunjungan yang tepat.
b. penetapan petugas kunjungan yang dapat diterima (sesuai dengan karakter keluarga).
c. menjaga penampilan yang sopan dan berkenan bagi keluarga yang dikunjungi.
d. mempersiapkan penggunaan bahasa komunikasi yang baik dsb.
Dra. Ira Dwi Putranto
2.10 Guru SM Sebagai Penentu Pertumbuhan Gereja
Guru SM yang betul-betul terpanggil dalam pelayanan SM biasanya merasa sangat puas jika bisa melayani dengan sepenuh hati dan semaksimal mungkin mengerahkan tenaga juga pikiran demi kemajuan SM. Kesibukan guru SM dalam pelayanan mereka membuat mereka tidak sadar bahwa dengan mendidik anak-anak SM yang adalah generasi penerus gereja mereka sudah ikut berperan dalam pertumbuhan gereja. Berikut ini akan kita lihat peranan apa saja yang dapat diberikan guru SM dalam meningkatkan pertumbuhan gereja.
1. Mendidik anak-anak SM.
Mendidik anak-anak SM yang adalah generasi penerus merupakan cara pertumbuhan gereja yang terbaik. Ada tiga macam pertumbuhan gereja:
a. Pertumbuhan gereja secara transmigrasi, yaitu anggota gereja yang mutasi.
b. Pertumbuhan melalui penginjilan, yaitu pertambahan anggota gereja yang baru percaya dan bertobat.
c. Pertumbuhan secara alamiah, yaitu anak-anak anggota gereja yang sudah dididik sejak kecil dan kemudian menjadi umat percaya.
Dengan mendidik anak-anak SM yang adalah generasi penerus akan dapat menjamin pertumbuhan gereja secara alamiah, dan ini adalah salah satu tugas dari guru SM. Tetapi jangan lupa orangtua pun hendaknya memberikan kesempatan bagi generasi penerus untuk dapat bertumbuh dalam keluarga Kristen yang baik.
2. Menginjili dan memenangkan anak SM.
Dengan menginjili dan memanangkan anak SM, berarti ada juga kesempatan besar untuk memenangkan orangtuanya. Banyak kesaksian membuktikan bagaimana anak-anak mempengaruhi orangtuanya untuk percaya kepada Tuhan.
Ron Boldman adalah seorang pendeta dari "Calvary Chapel", salah satu gereja yang berkembang pesat di Amerika. Setelah menyelesaikan pendidikan teologi, Ron pergi memberitakan Injil dan mendirikan gereja; dari tahun ke tahun jumlah orang yang menghadiri kebaktian meningkat dengan pesat. Menurut catatan statistik, pada tahun 1973 jumlah orang yang menghadiri kebaktian rata-rata adalah 135 orang, sampai pada tahun 1977 jumlahnya telah meningkat mencapai rata-rata 1.325 orang. Pendeta yang dipakai secara besar-besaran oleh Tuhan itu, adalah hasil usaha dari Erick Boldman, yaitu anaknya yang berusia empat tahun, yang telah mengajak dan membawa Ron mengikuti "Sekolah Minggu untuk orang dewasa". Selain itu, masih banyak contoh serupa.
Berawal dari penginjilan guru SM mereka, banyak anak yang berhasil mempengaruhi orangtua mereka yang mundur dan tawar hati untuk kembali mengasihi Tuhan dan masuk ke gereja.
3. Membina dan membimbing anak SM.
Membina dan membimbing anak-anak SM berarti juga membina pemimpin-pemimpin gereja di masa yang akan datang. Jikalau guru SM berhasil membina kerohanian para generasi penerus itu dengan baik, berarti para guru telah melatih dan mempersiapkan mereka untuk gereja di masa yang akan datang; jadi hal itu merupakan suatu pekerjaan yang amat besar dan bernilai! Kualitas pemimpin gereja di masa mendatang tergantung bagaimana para guru SM membina dan membimbing mereka sekarang.
4. Pendidikan terhadap anak-anak SM.
Pertumbuhan gereja dalam kualitas dan kuantitas tergantung pada pendidikan terhadap generasi penerus gereja, yaitu anak-anak SM. Bila pendidikan terhadap generasi penerus diutamakan, gereja dapat mendirikan dasar yang baik bagi hakekat kerohanian jemaat. Mereka tidak mudah terbawa arus, selain itu juga dapat mempengaruhi pertumbuhan dalam kuantitas. Bukankah kita harus menanggung pekerjaan yang sedemikian berharga dengan segala kerelaan hati? Ya! Kita harus mencurahkan seluruh tenaga dan kemampuan, berani berkorban dan membayar harga demi mendidik generasi penerus yang setia.
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, Artikel Nilai Pendidikan Bagi Generasi Penerus, halaman 15 - 16, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.




2.11 Guru Sebagai Jembatan Antara Gereja dan ASM
Sebagai seorang guru SM salah satu tugas yang diberikan gereja kepada Anda adalah menjadi jembatan antara anak-anak SM dan gereja. Tugas ini merupakan tugas yang mutlak. Setiap anak yang ada dalam SM Anda tentunya tidak akan terus menerus berada dalam kelas SM. Sejak menjadi anggota SM, seorang anak otomatis adalah anggota gereja. Pada usia yang sudah cukup, mereka harus keluar dari SM dan mengikuti ibadah dalam gereja. Agar mereka tidak merasa asing dengan kebaktian dalam gereja, dan agar mereka merasa menjadi bagian dari gereja kenalkanlah mereka pada liturgi/kebaktian di gereja (kebaktian orang dewasa).
Tidak sulit untuk mengenalkan anak-anak kepada gereja. Anak-anak biasanya tertarik pada apa saja yang menarik minat orang dewasa. Karena itu, ajaklah ia untuk sekali-sekali hadir dalam kebaktian orang dewasa. Ini akan menolong memperluas pemahaman anak. Lebih baik lagi jika guru terlebih dulu mempersiapkan anak dengan penjelasan mengenai apa yang akan dilihat dan didengar. Guru perlu berkonsultasi dengan pendeta mengenai saat yang cocok bagi anak-anak untuk berkunjung -- seperti pada awal kebaktian, atau saat tak ada kebaktian. Mungkin pendeta dapat berbincang-bincang secara singkat dengan anak-anak sebelum atau sesudah kunjungan berlangsung.
Sebelum anak menghadiri kebaktian orang dewasa, sangatlah menolong untuk mengunjungi ruangan yang akan dipakai terlebih dahulu, melihat-lihat dari dekat benda-benda khusus yang cenderung menarik perhatian anak (mimbar, Alkitab besar, organ atau alat musik lainnya, jendela warna-warni, pembatas mimbar, kantong persembahan, dan sebagainya).
Ketika saat kebaktian tiba, pastikan bahwa anak dilibatkan dalam percakapan dengan penerima tamu dan orang lain yang ikut dalam kebaktian. Jika ada liturgi kebaktian yang tertulis, tunjukkan beberapa bagian kebaktian yang mungkin paling menarik bagi anak itu.
Duduklah di tempat anak dapat melihat dengan jelas ke arah mimbar. Pada banyak kasus, semakin dekat ke depan, semakin baik, karena anak yang duduk di belakang cenderung kurang mendengarkan apa yang dikatakan di mimbar. Saat orang-orang tertentu berperan serta dalam berbagai macam bagian kebaktian, bisikkan kepada anak siapa orang itu, dan hal-hal yang menarik dari orang itu. ("Penerima tamu yang jangkung dengan jas biru itu adalah Pak Mendez. Ia adalah manajer toko yang sering kita kunjungi.") Jika anak itu mulai tidak betah, bersiaplah untuk ke luar diam-diam dan bicarakan apa yang terjadi selama kebaktian.
Jika Anda mengadakan kunjungan pada saat tak ada kebaktian, arahkan perhatian anak pada ciri-ciri unik yang menarik perhatiannya. Duduklah berdiam diri dengan anak itu selama beberapa saat untuk merasakan keindahan dan ketenangan gereja. Ajaklah anak itu melihat- lihat lembar atau buku puji-pujian, Alkitab atau bacaan yang dipakai selama kebaktian. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana untuk menolong anak memperhatikan warna atau rancangan apa pun di jendela atau spanduk.
Bimbinglah anak untuk mengeja huruf-huruf yang tertera di papan nama gereja. Mintalah ia membantu Anda "membacanya." Anda dapat memotret si anak atau sekelompok anak di luar gedung gereja. Juga, arahkan perhatian pada ciri-ciri khusus seperti salib atau menara, yang menandai gedung gereja Anda. Jelaskan, "Salib ini menolong orang tahu bahwa gedung ini adalah gereja -- sebuah tempat khusus untuk orang datang dan belajar tentang Allah dan Tuhan Yesus."
Anda mungkin ingin merencanakan lebih dari satu kali kunjungan: satu kali untuk melihat-lihat bagian dalam gedung dan sekali lagi untuk melihat-lihat di luar gedung gereja. Juga, guru-guru dapat membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok kecil. Tiap kelompok masuk secara bergiliran. Bila anak-anak sudah kembali ke kelas masing- masing, ajukan beberapa pertanyaan sederhana untuk membantu anak- anak mengingat kembali pengalaman mereka. Kunjungan-kunjungan semacam ini akan sangat baik bila dilakukan secara singkat dan dijadikan sebagai peristiwa khusus.
Kunjungan ke gereja paling tepat dilakukan jika kelas itu sedang membahas tentang gereja. Namun, bagian yang terpenting dari sebuah gereja bagi anak kecil adalah kelasnya sendiri dan guru-guru yang ada di sana.
Sumber:
• Wes Haystead, Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God), Artikel Mengunjungi Kebaktian Orang Dewasa, halaman 84 - 86, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1996.



2.12 Orangtua Sebagai Jembatan Antara Gereja dan ASM: Aktivitas untuk Belajar tentang Gereja
KEHADIRAN
Cara paling efektif yang dapat dilakukan orangtua untuk merangsang minat anak menghadiri kebaktian di gereja adalah mereka sendiri harus secara teratur menghadiri kebaktian. Teladan orangtua merupakan kunci dalam memperkuat perasaan-perasaan anak tentang perlunya menghadiri kebaktian di gereja. Orangtua yang teratur hadir di gereja menunjukkan pentingnya gereja dalam hidup mereka.
PERCAKAPAN
Percakapan dengan anak mengenai pengalamannya di gereja menolong memperkuat apa yang dialami anak, yang di dalamnya terkandung makna bahwa bagi orangtua, gereja itu penting. Daripada hanya bertanya, "Apa yang kamu pelajari di gereja hari ini?" Orangtua dapat memperkaya saat-saat anak di gereja dengan komentar-komentar dan pertanyaan-pertanyaan seperti:
• "Coba nyanyikan satu lagu yang tadi dinyanyikan di Sekolah Minggu."
• "Coba ceritakan satu hal yang kamu senangi di gereja hari ini."
• Tadi ibu guru bercerita tentang apa? Ayo ceritakan ya?"
• "Gumamkan bagian salah satu lagu yang kamu nyanyikan tadi. Mama akan tebak, lagu apa itu!"
• "Beritahu Mama nama pertama (atau huruf depan) tiga orang yang bercakap-cakap denganmu selama di gereja. Mama akan menebak siapa mereka."
• "Siapakah tokoh yang paling kamu ingat dari pelajaran yang kamu dapat hari ini, baik tokoh yang dulunya kamu belum tahu maupun yang sudah tahu tetapi lupa (dan kini sudah diingatkan kembali).
Pusatkan pada satu pengalaman khusus anak, daripada banyak tetapi bersifat umum. Ini akan menolong anak mengingat peristiwa-peristiwa khusus. Jika anak membawa pulang sebuah gambar atau lukisan dari Sekolah Minggu tanyakanlah, "Ceritakan pada Mama tentang gambar ini." Percakapan-percakapan yang tampak sepintas ini akan mendorong anak untuk menceritakan pengalaman-pengalamannya, dan bahkan seringkali memberikan kesempatan bagi orang dewasa untuk membetulkan suatu kesalahan konsep -- jika ada.
Gunakan kurikulum Sekolah Minggu yang disediakan gereja Anda untuk mengadakan kegiatan di rumah yang dapat memperluas pemahaman anak akan apa yang dipelajarinya di gereja. Sangatlah diperlukan adanya pertemuan antara orangtua dan guru untuk membahas kegiatan-kegiatan seperti nyanyian, permainan yang menggunakan tangan (berpuisi dengan gerakan jari/tangan) dan permainan kreatif lainnya. Karena kebanyakan anak tidak menyadari perlunya belajar, sebab ia menganggap sudah tahu segala sesuatu, percakapan wajar tentang apa yang terjadi amatlah bermanfaat untuk merangsang pikiran dan minat.
Sumber:
• Wes Haystead, Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God), halaman 83 - 84, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1996.

2.13 Tanggung Jawab Guru SM Terhadap Gereja
Sekolah Minggu hanya dapat bertahan kalau pengajar-pengajarnya adalah orang-orang yang berkepribadian kuat. Kalau guru-guru suka mementingkan diri sendiri atau kurang memiliki penglihatan (vision), maka ada kecenderungan bahwa ia hanya mau memajukan kelasnya sendiri dan lupa akan sumbangsih kelas itu dalam membantu gereja. Setiap guru wajib memajukan gereja secara keseluruhan. Gereja dan Sekolah Minggu milik kita bersama. Kesetiaan kepada kelas memang baik, tetapi lakukanlah hal itu dengan maksud untuk memajukan Sekolah Minggu dan gereja secara keseluruhan.
"Jadilah teladan bagi orang-orang percaya," (1Timotius 4:12) adalah nasihat yang paling tepat untuk para guru. Hal ini berarti bahwa guru memiliki tanggung jawab untuk menghadiri semua kebaktian lain yang diadakan di gereja. Hal itu bukan saja menjadi satu contoh bagi para murid, tetapi juga menjadi satu bagian yang penting dari makanan rohani guru itu sendiri. Dengan berpikir bahwa ia telah memenuhi kewajibannya hanya dengan mengajar Sekolah Minggu dan kemudian mengabaikan kebaktian-kebaktian lain, ia telah merusak pelayanan para guru yang lain. "Guru lebih diingat dari perbuatannya daripada perkataannya", merupakan suatu pernyataan yang benar. Suatu kesetiaan untuk mengunjungi kebaktian-kebaktian gereja membuktikan nilai yang sejati dari seorang guru. Jangan mengabaikan rumah Allah!
Bila guru setia mengunjungi gereja, para murid juga akan mengikuti jejaknya dan menghadiri kebaktian. Para murid yang tidak dapat dimenangkan kepada Tuhan melalui Sekolah Minggu, mungkin dapat dimenangkan melalui kebaktian dalam gereja.
Seorang guru yang cakap akan mengetahui hubungan yang erat antara Sekolah Minggu dan program keseluruhan dari gereja dan ia dapat melihat sumbangan yang diberikan oleh setiap kebaktian bagi kesejahteraan rohani setiap orang. Dengan teladan Anda, doronglah setiap murid yang sudah diselamatkan untuk menjadi anggota gereja. Tidak ada persaingan antara bagian-bagian yang ada di dalam gereja. Anda tidak dapat memajukan Sekolah Minggu, mengesampingkan gereja, tanpa menghambat seluruh pelayanan.
Sumber:
• Mavis L. Anderson, Pola Mengajar Sekolah Minggu, halaman 82 - 86, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.


2.14 Kehidupan Doa Pelayan Anak (Guru Sekolah Minggu)

Mengapa kita harus berdoa? Apakah para pelayan anak (guru Sekolah Minggu) harus memiliki kehidupan doa? Secara sepintas pertanyaan ini kedengarannya aneh, karena kita semua tahu bahwa orang Kristen (apalagi guru Sekolah Minggu) harus berdoa. Tetapi dalam kenyataan, kalau mau jujur, pertanyaan di atas dijawab ya hanya sebatas teori, karena dalam praktek banyak guru Sekolah Minggu yang tidak sungguh-sungguh berdoa.
Dalam bukunya "Why Pray?", B.J. Willhite berkata bahwa kalau kita tidak berdoa maka kita berdosa, karena Alkitab berkata kita harus berdoa. Sebaliknya kalau kita berdoa, tetapi sebenarnya kita tidak percaya bahwa doa mempunyai kuasa maka sebenarnya kita adalah orang munafik. Sekarang pertanyaannya, mengapa banyak orang Kristen (termasuk guru Sekolah Minggu) tidak sungguh-sungguh berdoa, apalagi mempunyai kehidupan doa pribadi?
Apakah doa itu? Doa merupakan cara yang dipilih Allah untuk manusia berhubungan dengan Tuhan Allah. Ada banyak contoh di dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Allah berkenan mendengarkan doa umatNya dan mereka mengalami hubungan yang indah dengan Tuhan di dalam doa-doanya. Tuhan Yesus sendiri tidak hanya tekun berdoa tetapi juga mengajarkan kepada murid-muridNya untuk berdoa. Di dalam Doa BAPA KAMI, yang diajarkan Tuhan Yesus, kita melihat secara jelas suatu pengakuan iman yang teguh, karena memang doa harus tumbuh dari dasar hati seorang yang percaya / beriman kepada Tuhan. Banyak orang tidak mengalami kuasa doa karena mereka sendiri tidak mengalami kuasa Tuhan dalam hidup mereka. Di sinilah sebenarnya masalah yang dialami orang Kristen. Jika Allah sendiri tidak hadir di dalam hidup kita, bagaimana kita mempunyai kerinduan untuk bersekutu dengan Dia dalam doa?
Sebagai pelayan Tuhan dan guru/pelayan sekolah minggu, sangatlah penting bagi kita untuk mempunyai kehidupan doa. Mengapa? Pertama, karena selama pelayananNya di dunia, dengan jelas Yesus memberikan teladan kehidupan yang penuh dengan doa (Markus 1:35; Luk 22:39-41, dll.), bahkan setelah di surga pun Yesus masih berdoa bagi kita (Ibr 7:25). Suatu kehidupan doa yang membawa pada pelayanan yang berhasil.
Kedua, di dalam Alkitab tidak dicatat tentang bagaimana Yesus mengajar murid-muridNya berkotbah atau mengajar, tetapi tentang bagaimana Tuhan Yesus mengajar mereka berdoa (Mat 6:5-15). Kalau Tuhan Yesus tidak mengganggap doa penting maka tidak perlu Ia mengajarkannya. Oleh karena itu, kalau Yesus mengajarkannya kepada kita maka kita tahu pasti bahwa itu sesuatu yang berguna dan berkenan kepada Allah.
Ketiga, tidak ada kebangunan rohani tanpa doa. Banyak kesaksian dari hamba-hamba Tuhan yang dipakai secara luar biasa menyatakan bahwa pelayanan mereka didukung oleh doa-doa dari banyak orang. Apakah anda ingin agar pelayanan yang Tuhan berikan kepada anda menghasilkan jiwa-jiwa baru yang diselamatkan? Belajarlah berdoa! Karena dengan berdoa, anda sebenarnya sedang mengakui bahwa kehendak Tuhanlah yang akan jadi. Dan kehendak Tuhan adalah agar anak-anak yang terhilang kembali ke dalam kuasaNya. Di sinilah KerajaanNya menjadi nyata di dunia ini.
Kehidupan doa tidak terjadi begitu saja. Mungkin ada dari anda yang berkata: "Saya rindu bisa berdoa secara rutin, tapi selalu gagal" atau "Saya sudah berdoa tetapi tidak ada pengaruhnya." Untuk dapat berdoa dengan benar perlu latihan dan perlu disiplin yang kuat. Dan itu harus anda dapatkan perlahan-lahan, tapi kalau anda tekun anda pasti akan melihat hasilnya. Kalau anda ingin belajar dengan benar mulailah dengan belajar doa BAPA KAMI seperti yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 6:5-15. Cobalah mengerti isi Doa yang indah itu; selidiki maknanya yang sangat kaya dan mintalah agar Roh Kudus sendiri yang menolong anda mengaminkan kebenarannya.
Bagaimana anda bisa menularkan ini kepada teman-teman guru Sekolah Minggu yang lain? Berikut ini adalah saran-saran praktis:
1. Mulailah dengan diri anda sendiri. Jika anda mengalami kesukaan dalam berdoa, pasti semangat anda akan menular.
2. Sediakan waktu yang cukup untuk bersama-sama belajar merenungkan Doa BAPA KAMI (Mat 6:5-15) dan belajar berdoa bersama.
3. Undanglah orang-orang yang selama ini mempunyai beban dan kerinduan untuk suatu kebangunan rohani. Yang penting bukan kuantitas / jumlah orang yang ikut tapi kesehatian dan kerinduan mereka.
4. Mulailah kehidupan yang selalu mengutamakan Tuhan (Mat 6:33). Ajaklah teman-teman doa anda untuk melakukan hal yang sama.
5. Jika mencapai jumlah yang besar, mulailah bekali mereka untuk menggerakkan dan memimpin anak-anak untuk juga belajar berdoa. Jangan dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil, tapi ubahlah mereka menjadi pemimpin-pemimpin untuk menjangkau anak-anak Sekolah Minggu.
6. Lengkapi mereka dengan pengalaman merenungkan Firman Tuhan bersama dan terus-menerus hidup dalam kesungguhan melayani Tuhan.
7. Materi doa akan muncul dari kehidupan doa yang hidup. Kita berdoa bukan untuk mengajukan sejumlah daftar permintaan dari yang kita inginkan, tapi doa adalah memohon supaya Tuhan yang membukakan hati dan pikiran kita untuk melihat apa yang Tuhan kehendaki.



2.15 Guru Anak Balita/Indria (Umur 4-5 Tahun)

Bagaimanakah anak menilai anda sebagai seorang guru Sekolah Minggu? Anda dilihat sebagai seorang guru yang galak, selalu menyuruh anak-anak duduk diam dan mendengarkan? Atau sebagai seorang yang selalu melarang mereka melakukan hal-hal yang mereka senangi? Atau sebaliknya, anak-anak menilai anda sebagai seorang guru yang gembira, bersahabat dan pandai bercanda?
Mungkin anak Balita tidak peduli berapa rajin anda ke gereja. Mereka juga tidak mampu menilai kesetiaan serta komitmen anda sebagaimana orang dewasa menilai. Tetapi, bukan berarti mereka tidak pernah menilai anda? Apakah anda ingin tahu bagaimana anak menilai anda?
1. Sikap anda terhadap Allah.
Mereka menilai anda dari cara anda berbicara tentang Allah. Mereka juga memperhatikan wajah anda dan menangkap perasaan anda ketika anda bercerita tentang Allah. Walaupun mereka tidak selalu mengerti semua perkataan anda, namun mereka melihatnya dari sikap anda. Jika mereka melihat hal ini sebagai hal yang positif, maka anda akan menjadi teladan baginya dalam hal mengasihi Tuhan.
2. Sikap anda terhadap anak.
Hal ini dilihat mereka sebagai hal yang penting. Cara guru berkata-kata dan bersikap terhadap mereka sangat mereka perhatikan. Guru yang menaruh perhatian kepada mereka sebagai individu dan mau memperlakukan mereka sebagai pribadi yang berharga akan dilihat sebagai sikap kasih yang tulus. Dan mereka akan cepat merasa dekat dengan guru-guru yang demikian.
3. Sikap anda terhadap orang dewasa lain.
Anak-anak diam-diam memperhatikan cara anda berhubungan dengan guru-guru Sekolah Minggu lainnya. Secara khusus mereka juga melihat bagaimana anda berbicara dengan orang tua mereka. Jika anda bersikap baik dan orang tuanya menerima anda dengan baik, maka telah anda dinilai positif dan anak akan menghormati anda.
4. Sikap anda terhadap hidup.
Seorang guru yang murah senyum dan selalu tampak gembira paling disukai anak balita, karena anak menilainya sebagai seorang yang bersahabat dan mudah diajak berteman. Hal ini mungkin sejalan dengan dunia dan hidup mereka yang masih sederhana, penuh harapan, permainan dan kegembiraan.
Sumber:
• Doris Blattner, Bagaimana Mengajar Anak Indria, halaman 9 - 11, Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 1986.



2.16 Kewajiban-kewajiban Guru SM
Seorang guru SM baru dapat dikatakan guru yang bertanggung jawab apabila dia sudah dengan sepenuh hati melaksanakan kewajiban- kewajibannya. Adapun tujuh kewajiban yang dituntut dari seorang guru SM adalah sebagai berikut:
1. Mengajar (Teaching) 1Timotius 2:7
Yang disebut "mengajar" adalah suatu proses belajar mengajar (Teaching-Learning Proccess). Di dalam proses mengajar dan belajar, guru harus dapat mewujudkan suatu perubahan dalam diri murid, misalnya perubahan dalam pengetahuan, sikap maupun tingkah laku. Bila tidak terjadi proses perubahan, berarti telah terjadi ketidakberesan/kesalahan dalam proses mengajarnya. Melalui Alkitab Paulus menyebutkan, dalam kehidupannya sebagai pengajar, ia sanggup mewujudkan perubahan atas diri orang lain: yang tadinya tidak percaya menjadi percaya; juga perubahan pada pengetahuan: yang tadinya tidak memahami kebenaran berubah menjadi memahami kebenaran.
2. Menggembalakan (Shepherding)
Yehezkiel 34:2-6; Yohanes 10:11-18
Nabi Yehezkiel menegur gembala pada zaman itu yang tidak menunaikan kewajiban mereka. Hal itu merupakan suatu perbedaan yang nyata, bila dibandingkan dengan Tuhan Yesus, gembala yang baik itu. Guru SM harus meneladani Yesus dalam menggembalakan domba-domba kecil dengan sepenuh hati. Seorang gembala yang baik harus mempunyai hati yang rela berkorban, meskipun menghadapi kesulitan juga tidak akan meninggalkan dan membiarkan domba- dombanya; ia harus mengenal setiap dombanya, juga bersedia membawa domba yang berada di luar untuk masuk ke kandangnya; ia pun wajib untuk menyediakan dan mencukupi segala kebutuhan dombanya, termasuk kebutuhan intelektual, emosi, mental, dan rohani.
3. Kebapaan (Fathering) 1Korintus 4:15
Paulus berkata, "Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus Yesus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu." Banyak kali seorang guru dapat mendidik dan menegur orang, namun sedikit di antara mereka yang dapat memeluk, membesarkan, dan memperhatikan murid didiknya dalam Injil, seperti yang layaknya dilakukan oleh seorang bapa terhadap anak kandungnya. Seorang guru bukan hanya dapat menggurui, tapi juga harus memiliki hati seorang bapa.
4. Memberikan Teladan (Modeling) 1Korintus 11:1; Filipi 3:17; 1Tesalonika 1:5-6; 2Tesalonika 3:7; 1Timotius 4:11-13
Paulus, selaku guru, sering kali dengan berani menuntut orang Kristen untuk meneladaninya sebagaimana ia telah meneladani Kristus. Paulus menasihati Timotius, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." Seorang guru akan mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap muridnya karena murid mudah sekali meniru tutur kata dan tingkah laku gurunya. Oleh karena itu, seorang guru perlu selalu memperhatikan dirinya sendiri apakah ia sudah menjadi teladan yang baik bagi muridnya.
5. Menginjil (Evangelizing) 1Timotius 2:7
Selaku guru, Paulus mengajar orang untuk percaya Kristus; demikian juga sasaran yang terutama dari seorang guru Sekolah Minggu adalah mengajar muridnya untuk menerima Injil. Mengajar bukan hanya mengisi murid dengan kebenaran, tetapi yang lebih penting adalah memberitakan Injil, supaya jiwa mereka diselamatkan.
6. Mendoakan (Praying) 2Tesalonika 1:11-12
Kewajiban lain dari seorang guru adalah mendoakan muridnya, mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama dan sesuai kebutuhan mereka masing-masing. Karena setiap murid mempunyai latar belakang keluarga yang berbeda, demikian juga sekolah dan masyarakat yang menjadi tempat pergaulan mereka mempunyai segi- segi keruwetan yang berlainan. Sebab itu mereka membutuhkan pertolongan Allah; apalagi soal pembinaan hidup bukanlah hal yang dapat dicapai hanya oleh kemampuan dan hikmat manusia saja. Itulah juga sebabnya guru harus mengajar melalui kuasa doa, agar Roh Kudus dapat bekerja dalam hati murid dengan leluasa.
7. Meraih Kesempatan (Catching) 2Timotius 4:2
Satu kewajiban lagi yang harus dipenuhi oleh guru adalah meraih kesempatan. Setiap manusia hidup dalam kekekalan, dan kesempatan yang hanya sekejap dalam kekekalan itu telah dipaparkan Allah di hadapan guru. Bila guru SM sanggup memanfaatkannya, mungkin hanya melalui sepatah kata atau satu sikap, mungkin juga melalui doa syafaat, akan memberikan pengaruh yang berharga bagi muridnya. Oleh sebab itu, guru SM harus dapat meraih setiap kesempatan yang ada, sebagaimana perkataan Paulus yang berbunyi: "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran".
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, halaman 10 - 12, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.



2.17 Memahami Gaya Belajar Guru Sekolah Minggu
Sama seperti tidak ada anak yang murni memiliki Gaya Belajar tertentu, demikian juga tidak ada guru yang murni memiliki gaya GLOBAL saja atau ANALITIK saja. Namun, mengenali Gaya Belajar dominan kita sebagai seorang guru akan sangat membantu dalam mengevaluasi tugas pelayanan kita sebagai guru SM.
Seorang guru dapat menolong murid untuk mengenali kelebihan atau kekurangan Gaya Belajarnya sehingga mereka tidak mengalami frustasi di kelas, demikian juga seorang guru dapat menolong dirinya sendiri dengan mengenali Gaya Belajar + mengajar dominan yang dimilikinya. Dengan demikian, guru dapat lebih mawas diri pada apa yang harus ditingkatkannya, sementara guru juga dapat lebih mengoptimalkan kelebihannya supaya makin efektif dalam mengajar.
A. Apakah Sebaiknya Murid dan Guru Memiliki Gaya Belajar Dominan yang Sama?
Para orangtua, guru, dan murid mungkin berpikir bahwa sebaiknya guru dan murid memiliki Gaya Belajar dominan yang sama. Namun kadang situasi terbaik adalah kebalikannya. Bagi murid yang lebih GLOBAL berada di dalam kelas guru ANALITIK dapat membantu memberikan struktur yang lebih jelas. Demikian pula seorang murid ANALITIK dapat melakukan yang terbaik di kelas guru GLOBAL karena di sana ia dapat memperoleh gambaran yang menyeluruh dan tidak hanya terfokus pada suatu rincian saja.
B. Lima Ciri Gaya Mengajar
Bila anda ingin mengetahui Gaya Belajar/mengajar dominan anda, cobalah melakukan evaluasi terhadap hal-hal di bawah ini:
1. Lingkungan Ruang Kelas
Dari ruang kelasnya, seorang guru dapat terlihat apakah dia cenderung GLOBAL atau ANALITIK. Seorang guru GLOBAL mungkin memiliki ruang kelas yang dirancang seperti rumah. Ada poster-poster, tanaman-tanaman, karpet dan sofa. Bagi orang ANALITIK itu kelihatan seperti tumpukan barang rongsokan. Tetapi bagi orang GLOBAL, mereka mendapatkan "suasana" nyaman. Sebaliknya, dari dalam ruang kelas seorang guru ANALITIK anda mungkin menemukan instruksi latihan menghadapi kebakaran, pengumuman harian, bagan dan denah yang berhubungan dengan pelajaran hari itu. Para guru ANALITIK sering menjaga ruang kelas mereka sebersih dan serapi mungkin sehingga murid dapat berkonsentrasi dalam belajar dan bukan pada lingkungan.
2. Hal Mengatur Ruang Kelas
Guru-guru dengan gaya ANALITIK yang kuat hampir selalu memiliki serangkaian peraturan di kelas yang dicetak dan dibagikan kepada para murid di awal tahun pelajaran. Peraturan-peraturan itu, dinyatakan secara spesifik termasuk konsekuensinya, sehingga tidak akan ada anak yang kebingungan. Guru yang lebih GLOBAL hanya memiliki satu atau dua peraturan umum di kelas. Sebagai contoh, "Baik hati dan lembutlah kepada setiap orang" atau Hormatilah yang lain." Setelah itu, bila situasi lain muncul yang membutuhkan penerapan peraturan khusus, seorang guru GLOBAL menangani masalah hanya berdasarkan kasus demi kasus.
3. Sikap Terhadap Para Murid
Guru GLOBAL menempatkan prioritas yang tinggi pada penghargaan diri dan bahkan akan memberikan pelajaran tentang hal ini sebelum mereka mengajarkan mata pelajaran mereka. Guru GLOBAL yakin bahwa para murid tidak bisa berhasil kecuali jika mereka memiliki keyakinan terlebih dahulu. Guru ANALITIK juga percaya bahwa penghargaan diri itu penting, tetapi mereka percaya bahwa anak mencapai penghargaan diri dengan mengalami kesuksesan. Jadi guru ANALITIK dominan mungkin menentukan standar yang tinggi dan mungkin kelihatan keras kepada murid-murid mereka, karena mereka ingin para murid berhasil memperoleh penghargaan diri.
4. Mengajarkan Isi Pelajaran
Bila saatnya mengajarkan isi pelajaran tertentu, guru yang lebih ANALITIK menggunakan banyak kuliah, kegiatan-kegiatan pribadi, dan tugas-tugas membaca. Mereka mendorong para murid untuk bekerja dengan tidak tergantung dan mungkin kadang-kadang kelihatannya hampir tidak bersahabat bagi murid GLOBAL Guru yang lebih GLOBAL cenderung menggunakan diskusi, kegiatan kelompok, dan belajar bersama. Karena guru GLOBAL mencoba membuat mata pelajaran itu penting secara pribadi bagi setiap murid, mereka sering berbagi pengalaman secara pribadi dan berharap murid mereka melakukan yang sama. Hal ini bisa membuat seorang ANALITIK menjadi tidak nyaman dan tidak sabar.
5. Pemberian Nilai
Guru ANALITIK hampir selalu menentukan skala pemberian nilai. Jika angka 92-100 berarti A dan seorang murid mendapat angka 91,8, seorang guru ANALITIK akan memberikan nilai B. Guru ANALITIK dominan sering memiliki kriteria pemberian nilai yang sangat spesifik, dan murid dapat percaya bahwa guru itu konsisten. Guru ANALITIK kelihatannya tidak banyak memberikan pujian, tetapi bila guru itu berkata bagus, ini mungkin pujian tertinggi yang akan diterima seorang. Guru GLOBAL tidak begitu spesifik dalam memberikan nilai. Jika 92 berarti A dan seorang murid mendapat 91,8, guru GLOBAL mungkin berkata cukup dekat, tergantung kepada kepercayaan guru seberapa kerasnya murid itu belajar. Guru GLOBAL dominan menekankan partisipasi kelas dan mungkin bahkan memberikan nilai untuk seberapa sering sumbangan-sumbangan dilakukan dalam diskusi kelas atau pekerjaan kelompok.
Sumber:
• Cythia Ulrich Tobias, Cara Mereka Belajar, halaman 141 - 145, Harvest Publication House, Jakarta, 1996.


2.18 Guru Sekolah Minggu yang Baik
Pengajaran Kristen (Sekolah Minggu) yang berhasil dimulai dari diri guru sendiri. Hal ini meliputi bakat, pribadi, persiapan dan hubungannya yang benar dengan Allah.
Teknik dan peralatan juga penting. Seorang guru yang baik mengetahui cara menggunakannya. Tetapi guru sendirilah yang menjadi kunci bagi keefektifannya dalam menyampaikan kebenaran rohani.
Guru akan banyak memberi kesempatan untuk menolong dan mempengaruhi kehidupan orang lain. Bagi guru, nilai-nilai kekal tercakup dalam pelayanannya dan gaya hidupnya yang akan terjalin dalam proses pengajaran yang diberikannya. Oleh karena itu tidak dapat disangkal bahwa untuk menjadi guru yang berhasil, guru harus memiliki panggilan dan kehidupan yang menunjang bagi tugas-tugasnya.
PANGGILAN GURU
Panggilan dan sasaran guru terdapat dalam kata-kata Kristus, "Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu ... dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu ...." (Matius 28:19-20). Tugas mengajar itu diberikan secara terus terang dan sederhana -- pergi dan ajarlah. Dalam panggilan itu termasuk menjadikan orang-orang murid Yesus dan juga berpusat pada ajaran-ajaran Kristus.
Sasaran pendidikan ialah agar mereka diajar dapat "melakukan segala sesuatu" atau mempraktekkan apa yang diajarkan. Hal itu lebih dari pada mendengarkan saja dan meminta lebih banyak daripada menghafal beberapa kebenaran tertentu saja. Guru mengajar agar tercipta akibat-akibat tertentu dalam kehidupan para murid. Kristus sendiri tidak sekedar menanamkan pengetahuan saja dalam diri para pendengar-Nya. Pengajaran-Nya mengubah aktivitas-aktivitas mereka yang diajar-Nya. Maka di sinilah terdapat surat penetapan seorang guru yang diperoleh dari Tuhannya. Pelayanan mengajar ialah panggilan yang suci.
Kristus adalah teladan guru yang berhasil. Ada sesuatu yang telah diajarkan-Nya. Dia mengajar dengan penuh semangat dan wibawa. Dia memiliki keinginan dan sasaran seorang guru dan Dia telah mengilhami orang-orang Kristen dalam setiap generasi untuk mengajar orang lain.
KEHIDUPAN GURU
Setiap guru Kristen yang ingin dipakai oleh Allah menghadapi tiga pertanyaan penting:
• Apakah cara hidup saya ini memuliakan Allah?
• Apakah berita saya berpusatkan Kristus?
• Apakah ajaran saya dipenuhi kuasa Roh Kudus?
Jika guru dapat mengiakan setiap pertanyaan di atas, maka ia akan banyak mendukung pelayanan pengajaran Gereja. Seperti Paulus, guru dapat mengatakan, "Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu." (1 Tes 1:5)
Dalam pengajaran yang berhasil ada empat faktor penting yang secara langsung berkaitan dengan guru. Faktor-faktor tersebut meliputi pengalamannya sebagai orang Kristen, pengabdian kepribadiannya kepada Kristus, teladan gaya hidupnya, dan hubungannya dengan mereka yang diajar.
A. Pengalaman sebagai orang Kristen
Dalam arti yang paling sederhana dapat dikatakan bahwa mengajar ialah membagikan dengan orang-orang lain apa yang telah dialaminya. Untuk menyampaikan Kristus dan berita-Nya, guru harus mengenal Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhannya.
Ketika seorang pedagang terkenal diminta untuk menunjukkan beberapa tokoh pedagang, dia menyebutkan nama Paulus, Luther, Wesley, Whitefield, Spurgeon, dan Moody. "Orang-orang ini berhasil sekali sebagai pedagang," katanya, "karena mereka menaruh kepercayaan penuh pada perusahaan yang diwakilinya dan yakin sungguh bahwa barang-barangnya dibutuhkan. Hal ini menimbulkan keberanian dan semangat di dalam diri mereka, sehingga meminta dan memikat perhatian. Akibatnya mereka sibuk terus melayani pesanan."
Guru Kristen dewasa ini mewakili Kristus yang sama. Manusia masih membutuhkan Firman Allah. Demikian pula, keberhasilannya bergantung pada semangat guru untuk melaksanakan tugasnya, dan semangatnya itu akan sepadan dengan imannya.
1. Iman Pada Allah
Iman seorang guru Kristen harus lebih daripada sekedar percaya kepada Allah. Imannya kepada Tuhan Yesus Kristus harus aktif dan hidup -- iman yang agresif dan berkemenangan. Iman seorang guru Kristen yang efektif haruslah iman yang aktif.
2. Iman Pada Alkitab
Berkali-kali Yesus mengatakan, "Ada tertulis." Ia tahu bahwa "oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah" (2 Petrus 1:21). Pengkhotbah, penginjil dan guru-guru di gereja yang efektif memperoleh pendiriannya melalui iman yang tak tergoyahkan akan Firman Allah yang tertulis. Mereka tidak mempunyai kepastian yang bersemangat itu kalau mereka tidak percaya bahwa Alkitab itu Firman Allah. Allah telah menulis kepada manusia. "Segenap Alkitab itu sudah jadi dengan ilham Allah," dan keindahan serta keajaiban berita itu seharusnya menggetarkan hati setiap guru.
3. Iman Pada Panggilan Allah
Seorang guru harus menyadari bahwa ia telah dipanggil Allah untuk mengajar. Pelayanan yang telah ditetapkan ini teramat penting, karena inilah cara Allah untuk melaksanakan tujuan-Nya di atas bumi. Mengetahui bahwa Allah telah mengkhususkan seseorang untuk tugas ini memberikan motivasi yang dinamis dan menjamin keberhasilan.
B. Kepribadian
Seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah menguatkan kepribadiannya sendiri. Bakat dan kemampuannya diperkaya oleh Tuhan dan Pencipta kehidupan. Kehidupan Paulus menjadi berguna dan efektif karena penyerahannya kepada Yesus. Karena ia sendiri telah mengalami kenyataan Injil itu, ia menjadi lebih terbuka tentang kebutuhan-kebutuhan hidupnya sendiri (1 Timotius 1:15) dan lebih memperhatikan orang lain. Setiap orang yang berhubungan dengan dia terpengaruh oleh kehidupannya karena kuasa Roh Kudus sangat nyata di dalam dirinya. Setiap guru Kristen perlu bertumbuh menuju kepribadian yang matang seperti Kristus.
C. Teladan
Teladan yang diberikan oleh seorang guru bisa bertentangan, atau menegaskan apa yang diajarkannya. Sikap guru dan hal-hal yang dikatakan dan dibuatnya -- meskipun tidak direncanakan -- sangat berkesan pada hati murid-muridnya. Inilah yang kadang-kadang dinamakan mengajar secara kebetulan, namun itu sangat penting.
Guru mungkin menekankan pentingnya Firman Allah, tetapi jika dia senantiasa mengajar dari buku pelajaran saja dan tidak membuka Firman Allah, maka dia menentang apa yang dikatakannya. Ia boleh mengajarkan bahwa memberi persembahan termasuk tindakan ibadah, tetapi jika ia dengan tergesa-gesa mengakhiri acara memberi persembahan, maka ia membatalkan ajarannya. Guru bisa berbicara mengenai cinta, tetapi jika ia bersikap tidak ramah terhadap rekan guru atau keluarganya sendiri ia tidak bisa mengharapkan hasil-hasil yang positif dari pengajarannya. Teladan guru merupakan bagian penting dari proses mengajar.
D. Hubungan
Faktor yang juga menentukan keberhasilan seorang guru ialah hubungan seorang guru dengan anak didiknya. Mengajar meliputi hubungan pribadi dan persahabatan yang akrab antara pengajar dan muridnya. Kasih seorang guru masih dikenang setelah fakta-fakta yang diajarkannya lama berlalu. Seorang guru tidak bisa berpura-pura menaruh perhatian terhadap kesejahteraan para muridnya, demikian juga kurangnya perhatian dari guru pasti akan ketahuan. Pemimpin muda yang kaya, yang menolak ajaran Kristus, masih membawa sertanya kepastian tentang kasih Kristus.
PENGETAHUAN GURU
Seorang guru yang baik menyadari pentingnya jabatan guru dan ia akan berusaha memenuhi persyaratan untuk jabatannya itu. Mereka yang menghargai kedudukan guru juga mengerti perlunya persiapan.
Orang-orang yang ahli dalam bidang tertentu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari bidangnya serta menerapkannya. Seorang dokter tidak mungkin punya waktu untuk "membaca bukunya" dulu sementara nadi pasien terpotong dan darahnya, yaitu sumber hidupnya, mengalir keluar. Dokter itu harus mengetahui apa yang harus dilakukannya, kalau tidak akan melayanglah nyawa pasiennya. Satu kesalahan saja bisa mengakibatkan kematian. Demikianlah halnya, apabila seorang guru memberi bimbingan tentang kebenaran rohaniah.
Masa pengajarannya terlalu singkat. Setiap menit harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Hanya guru yang terlatih dapat memanfaatkan saat-saat yang indah itu dengan sebaik-baiknya. Karena alasan inilah, setiap guru perlu mempunyai persiapan yang cukup dalam tiap-tiap bidang berikut ini.
A. Alkitab
Untuk bisa mengajarkan Alkitab secara efektif seorang guru harus memiliki pengetahuan yang praktis akan ke-66 kitab di Alkitab. Ia harus mengetahui semuanya, terutama apabila kitab-kitab itu berkaitan dengan Kristus. Dalam pengajarannya, Paulus seringkali menunjukkan Kristus sebagai teladan yang patut dicontoh. Dia tidak puas dengan mengemukakan prinsip-prinsip saja. Dia memberi contoh-contoh yang sederhana dari kehidupan Kristus untuk mendorong kehidupan Kristen.
Dewasa ini guru harus mengajarkan berita Firman Allah dengan setia dan, sebagaimana halnya Paulus, harus mengajar dalam kuasa Roh. Dia tidak terpanggil untuk mengajarkan sebagian dari berita Alkitab, tetapi seluruh berita Alkitab. Hanya dengan cara beginilah ia bisa mengubah hidup orang lain (2 Timotius 4:2).
B. Pokok-pokok yang bertalian
Di samping pengetahuan Alkitab, seorang guru harus mengetahui pokok-pokok lain yang bertalian seperti ilmu bumi, sejarah, dan kebudayaan kuno Alkitab.
1. Ilmu Bumi
Murid-murid SM harus mengetahui ilmu bumi negara-negara yang disebut dalam Alkitab. Apabila mereka dapat mengenal dan melihat gunung-gunung, sungai-sungai, dan kota-kota, maka hal itu akan menambah minat baru. Tetapi guru harus mengerti fakta-fakta itu terlebih dahulu, sebelum ia dapat mengajarkannya pada muridnya.
2. Sejarah
Murid-murid SM mendapat bantuan yang besar sekali bila guru SM mengetahui banyak tentang peristiwa-peristiwa dalam sejarah dunia yang sejajar dengan cerita-cerita Alkitab. Seorang guru yang baik dapat membuka wawasan dan minat murid-muridnya. Guru dapat menunjukkan bagaimana sejarah sekuler dan ilmu bumi Alkitab tidak saling bertentangan. Yang terutama guru harus mengetahui dengan baik latar belakang sejarah tempat-tempat di Palestina yang telah dijelajahi oleh Tuhan Yesus Kristus.
3. Kebudayaan Kuno
Kebiasaan dan kehidupan zaman kuno berbeda sekali dengan kebiasaan dan kehidupan kita masa kini. Pengetahuan aktif tentang kebiasaan, tata cara, upacara-upacara, dan sikap-sikap pada zaman Alkitab menolong guru memperkaya dalam menghidupkan pelajarannya.
C. Sifat Khas Anak Didiknya
Guru harus mengenal sifat manusia pada umumnya dan khususnya sifat anak didiknya sendiri. Hanya dengan demikianlah ia dapat menemukan jalan masuk kepada kehidupan murid-muridnya. Seorang pendidik mengatakan, "Pikiran anak bagaikan sebuah benteng yang tak dapat direbut baik secara sembunyi-sembunyi maupun dengan kekerasan; tetapi selalu akan ada jalan pendekatan yang wajar dan sebuah gerbang masuk yang mudah, yang selalu terbuka bagi orang yang tahu cara menemukannya."
Dalam usaha untuk bisa mengerti anak didiknya, seorang guru harus peka terhadap kebutuhan kelasnya. Dia harus siap untuk menangani masalah-masalah disiplin yang diakibatkan oleh pimpinannya dan juga suasana rumah tangga yang tidak beres. Guru memerlukan kecakapan untuk berurusan dengan orang lain dan mengerti dengan betul masalah sosial yang luas yang dihadapi anggota kelasnya.
Guru harus mengambil manfaat dari setiap kesempatan untuk mengerti latar belakang dan keperluan murid-murid yang dididiknya. Buku-buku mengenai ilmu jiwa Kristen dapat memberikan pengetahuan dasar yang baik tentang ciri-ciri khas berbagai kelompok usia. Kemudian guru membangun atas pengertiannya yang luas ini dengan mengenal masing-masing muridnya melalui buku-buku catatan yang dimiliki atau melalui kunjungan ke rumah-rumah murid.
Penyelidikan yang luas membuktikan bahwa guru bisa lebih efektif dan mempunyai hubungan yang lebih baik dengan murid-murid, jika para guru tersebut mempunyai pengetahuan mengenai muridnya dalam lima bidang berikut ini: kesehatan, ketrampilan, ambisi, masalah-masalah khusus, dan lingkungan keluarga.
D. Teknik Mengajar
Buku pelajaran dan buku pedoman merupakan pertolongan yang sangat berharga, tetapi semuanya itu tidak bisa menggantikan seorang guru yang terlatih. Alat-alat peraga sangat efektif untuk memberikan keterangan, tetapi alat-alat peraga tidak akan berarti dibanding kecakapan seorang guru. Setiap pendeta akan bergembira menerima bantuan guru-guru Alkitab yang penuh pengabdian. Tetapi pengabdian dan pengetahuan Alkitab (walaupun sangat diperlukan) masih diperlukan hal ketiga, yaitu ketrampilan mengajar untuk membangkitkan dan memikat minat murid-muridnya.
E. Kondisi Dewasa Ini
Mengajar dilakukan dalam lingkup dunia tempat kita hidup; sosial, politik, ekonomi, agama, dan perorangan. Semua hubungan ini harus dimengerti oleh guru SM. Berita Alkitab harus dikaitkan dengan lingkungan di mana kita hidup sekarang ini. Soal-soal yang sedang terjadi sangat penting dan tak bisa dihindari atau diabaikan.
TANGGUNG JAWAB GURU
Tanggung jawab seorang guru dapat merupakan pekerjaan yang menyenangkan atau membosankan. Prosedur persiapan yang sistematis akan memperkaya seluruh pengalaman mengajar. Bila ketiga langkah berikut ini dilaksanakan, maka keefektifan persiapan dan pengajaran guru SM akan meningkat.
A. Sikap yang benar
Sikap guru dan tanggungjawabnya akan menentukan keberhasilannya. Ia menerima tugas mengajar bukan karena ada kebutuhan saja, tetapi karena Allah telah memanggilnya. Dalam mempraktekkan bakat mengajarnya dia melihat kemungkinan terjadinya perubahan dalam kehidupan orang-orang lain. Allah akan bekerja melaluinya untuk menyelesaikan misi gereja.
B. Persiapan Diri Sendiri
Jika fisik seorang guru baik, mentalnya sehat, kerohaniannya hidup, dan pandai bergaul, maka dia akan menemukan bahwa tugas itu menyenangkan dan memuaskan.
1. Baik Fisiknya
Mengajar dapat sangat ditingkatkan dengan perantaraan tubuh yang sehat dan giat yang menunjukkan semangat dan kegembiraan. Kristus datang "supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan" (Yohanes 10:10). Agar tetap sehat secara jasmani, maka tubuh kita harus diserahkan kepada Kristus (Roma 12:1-2) dan senantiasa didisiplin.
2. Mental Sehat
Pikiran yang sehat sangat diperlukan untuk pengajaran yang berhasil. Dewasa ini para pelajar belajar untuk berpikir dengan logis. Mereka sering dikecewakan karena pemikiran yang dangkal yang diberikan oleh gereja. Guru harus berpikir secara cerdas dan menganalisa dengan teliti. Ia tidak boleh ketinggalan jaman. Sebaiknya ia juga membaca majalah-majalah Kristen, berita-berita hangat surat kabar, bacaan rohani, dan novel-novel Kristen.
3. Kerohanian yang Hidup
Tidaklah cukup bila mempelajari Alkitab tanpa menerapkannya pada diri pribadi. Apabila guru dengan setia mengadakan ibadah pribadi dengan Allah setiap hari, maka ia akan menyampaikan pelajarannya dengan efektif. Agar bisa bersikap tenang dan bisa mengatasi setiap keadaan, seorang guru harus "tetap berdoa." Persekutuan terus-menerus dengan Allah akan menjamin sikap tenang yang diperlukan untuk mempengaruhi kehidupan orang lain.
4. Pandai Bergaul
Sangatlah penting bagi guru untuk mengembangkan kesanggupannya membina hubungan yang berarti dengan orang-orang lain. Murid-muridnya akan melihat bahwa di dalam dirinya terdapat keikhlasan, kejujuran dan toleransi. Guru tidak bermaksud mengatur kehidupan orang lain, tetapi secara terbuka ia membagi apa yang ada di dalam dirinya dan apa yang diberikan Allah kepadanya.
C. Persiapan Pelajaran
1. Waktu-waktu Tertentu Untuk Belajar
Setiap guru harus meluangkan waktu tertentu untuk mempersiapkan pelajaran. Mengajar itu begitu penting sehingga persiapan hendaknya jangan dilakukan kalau ada waktu luang saja.
2. Program Khusus Untuk Belajar
Seorang guru akan menghemat waktu dan bisa menyelesaikan lebih banyak hal apabila dia menetapkan pola belajar yang teratur dan jelas. Penelaahan Alkitab membuka banyak kesempatan yang menarik. Guru harus meneliti hal-hal penting yang berhubungan secara langsung dengan bahan pelajaran. Rencana prosedur yang teratur akan memungkinkan guru merampungkan lebih banyak hal dalam waktu yang telah ditentukan.
Sumber:
• Clarence H. Benson, Teaching Techniques, halaman 5 - 13, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.


2.19 Peraturan untuk Guru yang Baik
John Milton Gregory, penulis buku yang terkenal Tujuh Hukum Mengajar memberikan beberapa pentunjuk/peraturan mempersiapkan pelajaran yang penting untuk seorang guru yang baik:
1. Persiapkan bahan pelajaran dengan mempelajarinya berulang-ulang. Jangan mengandalkan bahwa dulu kita sudah pernah mempelajarinya, karena apa yang kita ketahui dulu pasti sebagian sudah terhapus dari ingatan kita. Untuk mencapai hasil yang terbaik diperlukan penyegaran kembali terhadap bahan-bahan tsb.
2. Carilah urutan yang logis dari tiap bagian dalam pelajaran yang dipersiapkan tsb. Setiap pelajaran selalu berangkat dari pengertian-pengertian dasar yang sederhana untuk kemudian mencapai tingkatan pengertian yang setinggi-tingginya.
3. Pelajarilah urut-urutan logis dari pelajaran yang dipersiapkan tsb. sampai terwujud suatu pengertian yang dapat saudara uraikan dengan kata-kata sendiri. Pemikiran dan pemikiran yang jelas menghasilkan penguraian/pembicaraan yang jelas.
4. Carilah analogi atau ilustrasi untuk mempermudah menjelaskan fakta-fakta serta prinsip-prinsip yang sulit dimengerti oleh anak, khususnya prinsip-prinsip yang bersifat abstrak.
5. Carilah hubungan antara apa yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari murid. Hubungan-hubungan inilah yang akan menentukan nilai praktis penerapan dari pelajaran itu.
6. Pergunakan sebanyak mungkin bahan baik lainnya yang cocok, tetapi jangan puas sebelum saudara sendiri benar-benar memahami pelajaran itu.
7. Harap diingat bahwa lebih baik mengerti sedikit tetapi benar- benar mantap, daripada mengetahui banyak tetapi kurang mendalam.
8. Sediakan waktu khusus untuk mempersiapkan tiap pelajaran sebelum berdiri di depan kelas. Jangan segan-segan mempersiapkan pelajaran melebihi dari yang diharuskan. Dengan persiapan yang matang, kita akan semakin menguasai pengetahuan dan gambaran apa yang diajarkan akan semakin jelas.
9. Pakailah buku-buku dan bahan yang baik tentang pokok pelajaran saudara. Belilah, kalau perlu pinjam buku-buku karangan para ahli pemikir terbaik yang dapat membantu merangsang pikiran anda. Jika mungkin, coba diskusikan bahan pelajaran dengan seorang teman yang cukup intelektual. Perbedaan pendapat sering menambah jelasnya suatu persoalan. Jika semua ini tidak mungkin, cobalah tuliskan apa yang ada dalam pikiran saudara di atas secarik kertas. Dengan menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan, sering bagian-bagian yang masih kabur akan menjadi jelas.
Sumber:
• John Milton Gregory, Tujuh Hukum Mengajar, halaman 29 - 31, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang.



2.20 Merekrut Guru Sekolah Minggu
1. Umumkan tentang Kebutuhan GSM
Jika kebutuhan akan GSM telah ditentukan dan disetujui gereja, maka kebutuhan-kebutuhan tersebut harus diumumkan. Pakailah warta / buletin gereja, papan pengumuman, atau majalah dinding yang dapat digunakan untuk mengumumkan kebutuhan mencari sukarelawan. Namun dari pengalaman, metode berita "dari mulut ke mulut" seringkali lebih ampuh. Mintalah pengurus-pengurus departemen di gereja untuk menyampaikannya kepada anggota-anggotanya tentang kebutuhan tsb.
Untuk memudahkan pengumpulan informasi, siapkan Formulir yang dapat digunakan untuk mempermudah pendaftaran calon GSM. Di dalamnya cantumkan informasi kebutuhan dan data-data yang perlu diisi oleh pendaftar. Misalnya, nama, alamat, umur, tgl. baptis, pengalaman dan keterlibatan pelayanan dan kesaksian pertobatan / menerima Kristus, dll. Cantumkan informasi tentang kemana Formulir tsb. harus dikembalikan dan juga cantumkan nama, alamat dan no. telepon yang dapat dihubungi oleh pendaftar jika diperlukan.
2. Siapkan Deskripsi Tugas untuk GSM
Banyak GSM baru yang terlanjur terjun melayani merasa jengkel karena sejak semula mereka menerima informasi yang salah atau tidak jelas sehingga mereka bingung dengan tanggung jawab yang diembannya. Hal ini tidak jarang menyebabkan kesalahpahaman dan akhirnya menyebabkan GSM baru ini tidak dapat bertahan.
Untuk mencegah hal ini terjadi, maka pada waktu merekrut GSM, pengurus SM sebaiknya membuat lebih dahulu deskripsi tugas dan tanggung jawab GSM secara tertulis untuk masing-masing posisi yang ditawarkan. Hal ini akan menolong calon GSM memahami tugas-tugas yang akan diembannya sehingga tidak terkejut ketika terjun ke lapangan. Sekaligus dari deskripsi tsb. calon GSM dapat mengukur apakah dia mampu melaksanakannya sebelum terlanjur menyanggupinya. Prosedur seperti ini biasa diterapkan dalam dunia bisnis, namun tidak ada salahnya dimanfaatkan di SM, atau organisasi-organisasi yang keanggotaannya bersifat sukarela.
3. Penyeleksian Pertama
Setelah semua Formulir Pendafaran terkumpul, mulailah adakan penyeleksian pertama. Jika jumlah pendaftar sangat banyak dan jauh melebihi dari jumlah yang dibutuhkan, maka penyeleksian bisa dimulai dari melihat data-data yang ditulis dalam Formulir. Jika jumlah pendaftar kurang dari yang diharapkan pun penyeleksian tetap dibutuhkan. Untuk itu sebaiknya ditentukan lebih dahulu kriteria-kriteria apa yang diharapkan dan siapa yang berhak menyeleksi.
Kriteria umum yang perlu diperhatikan:
• Usia GSM jangan terlalu muda (paling tidak harus seorang yang sudah memiliki kematangan dalam pribadi dan tanggung jawab).
• GSM sebaiknya bukan orang Kristen baru (pastikan bahwa ia telah memiliki kemantapan iman dan memiliki pengetahuan dasar-dasar iman Kristen yang sesuai dengan pemahaman gerejanya).
• ukan seorang yang "super sibuk" (batasi keterlibatannya hanya dengan dua kegiatan pelayanan lain).
4. Wawancara dengan Calon GSM
Wawancara bisa dilakukan dengan semua pendaftar (tanpa terkecuali) atau hanya dengan mereka yang telah lulus pada seleksi pertama (poin 3). Pada waktu wawancara, lakukan pendekatan untuk mengenal calon dengan lebih baik. Tapi berikan juga kesempatan kepada calon GSM untuk bertanya dan mengetahui dengan jelas deskripsi tugas yang akan menjadi tanggungjawabnya dan komitmen yang diharapkan. Setelah wawancara jangan minta calon untuk membuat keputusan saat itu juga, tapi berilah waktu untuk berdoa dan berpikir di rumah (satu minggu).
Di antara semua calon yang diwawancara siapa yang akan dipilih? Berikut ini beberapa petunjuk yang bisa dipakai:
• Siapa di antara mereka yang suka dan sabar bergaul dengan anak-anak?
• Siapa di antara mereka yang suka menolong anak untuk belajar, baik belajar Alkitab atau ketrampilan lain?
• Siapa di antara mereka yang dapat menerima tugas pelayanan dan dapat melakukannya tanpa terlalu banyak membutuhkan dorongan?
• Siapa di antara mereka yang mempunyai kerinduan untuk membawa anak-anak kepada Yesus?
• Siapa di antara mereka yang dapat bekerja sama dengan orang lain?
• Siapa di antara mereka yang tidak takut berdiri di depan kelas sekalipun ditertawakan anak-anak?
• Siapa di antara mereka yang dapat menerapkan disiplin tanpa harus diawasi?
• Siapa di antara mereka yang memiliki talenta mengajar dan menyanyi?
5. Orientasi
Jika Spengurus SM telah membuat keputusan siapa di antara pendaftar yang cocok dengan yang dibutuhkan, hubungi calon dan beritahukan keputusan pengurus tsb. Terima dengan lapang dada jika ternyata calon yang diterima memberikan keputusan/jawaban tidak.
Jika yang dipilih ternyata juga menjawab ya, pengurus SM dalam melakukan follow-up selanjutnya, yaitu melakukan orientasi. Berikut ini beberapa hal yang GSM perlu ketahui:
a. Jelaskan tentang kurikulum yang digunakan.
• Berikan dan jelaskan bahan/materi yang biasa dipakai oleh GSM.
• Tunjukkan langkah-langkah untuk membuat perencanaan pengajaran mingguan.
• Jelaskan buku-buku apa yang dipakai untuk mendukung kurikulum.
b. Jelaskan tentang karakteristik anak di masing-masing kelas.
• Jelaskan karakteristik anak-anak yang nantinya akan mereka ajar.
• Berikan contoh mengajar di tingkat usia anak-anak yang berbeda dan tunjukkan dengan instruksi tentang bagaimana mengajarkan Alkitab untuk masing-masing tingkatan usia.
c. Jelaskan alat-alat mengajar dan aktivitas anak yang tersedia.
• Jelaskan letak inventarisasi alat mengajar dan peraturan untuk meminjam.
• Kenalkan dengan orang yang bertanggung jawab atas penyediaan alat/materi mengajar tersebut.
• Tunjukkan dimana guru dapat menemukan Alkitab ekstra, kamus Alkitab, sumber-sumber buku lainnya, gunting, kertas, dsb.
d. Lakukan observasi cara mengajar.
• Demonstrasikan cara mengajar dengan mengundang mereka untuk mengunjungi kelas-kelas yang ada secara bergantian selama beberapa minggu.
• Tunjukkan cara guru-guru senior mengajarkan kebenaran Alkitab dan berikan contoh sekaligus dorongan agar mereka menemukan gaya mengajar mereka sendiri yang unik.
e. Jelaskan tentang buku/kartu Catatan Sekolah Minggu.
• Perlihatkan copy dari masing-masing formulir/kartu yang biasa dipakai di Sekolah Minggu; seperti misalnya kartu kehadiran, daftar kelas, dan data ulang tahun anak.
• Jelaskan bagaimana kartu-kartu tersebut digunakan dan mintalah masukan bagaimana mengembangkan pelayanan agar lebih kreatif.
6. Training
Pengaturan Sekolah Minggu yang baik harus menyediakan kesempatan bagi GSM baru untuk mendapatkan training yang diperlukan, karena GSM yang baru saja terjun ke pelayanan biasanya belum memiliki pengalaman dan ketrampilan yang cukup. Pengurus SM harus berani memberikan invesment agar GSM dapat diperlengkapi dengan baik Beberapa training yang bisa diberikan misalnya:
a. Tentang gereja dan pengajaran:
• dasar-dasar Iman Kristen yang yang sesuai dengan dogma gereja yang bersangkutan,
• pengenalan akan Alkitab yang lebih dalam,
• pengenalan akan organisasi dan kepengurusan gereja,
• visi dan misi Sekolah Minggu,
• prinsip-prinsip mengajar,
• bagaimana menjadi GSM yang baik, dll.
b. Tentang ketrampilan-ketrampilan praktis:
• bagaimana bercerita,
• bagaimana memimpin pujian,
• bagaimana mempersiapkan pelajaran,
• bagaimana menguasai kelas, dll.
Tujuan training ini selain untuk memberikan bekal yang cukup agar dapat menjadi GSM yang baik, juga untuk mengembangkan potensi yang ada agar dapat memberi sumbangsih bagi kemajuan SM.
Apabila langkah-langkah perekrutan GSM ini diikuti, kami percaya Sekolah Minggu tidak akan lagi mengalami kesulitan dalam mengembangkan Sekolah Minggu, karena guru-guru yang ada telah cukup diperlengkapi untuk menjadi guru yang baik. Sekolah Minggu yang memiliki guru-guru yang demikian pasti akan dengan mudah meningkatkan kualitasnya.
Sumber:
• Dr. Robert J. Choun & Dr. Michael S. Lawson, The Complete Handbook for Children Ministry: How to Reach and Teach Next Generation, BabRecruitment: Six Steps to Securing Servants, halaman 274 - 277, Thomas Nelson Publishers, Nashville, 1993.
• Super Sunday School Source Book, Artikel Orienting New Teachers oleh Karen Dockrey, halaman 15 - 16, David C. Cook Publishing Co., Westin, Illinois.



2.21 Deskripsi Tugas Guru Sekolah Minggu
Guru Sekolah Minggu memerlukan deskripsi tugas yang jelas untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman antara hal-hal yang ingin dicapai dengan tanggung jawab yang dimilikinya. Deskripsi tugas tersebut juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengevaluasi diri, sekaligus dapat menolong guru senior untuk menetapkan dengan jelas hal-hal yang ingin dicapai oleh Sekolah Minggu kepada mereka yang rindu untuk mengajarkan Firman Allah kepada orang lain (menjadi relawan).
Beberapa elemen penting dalam pembuatan deskripsi tugas yang perlu diketahui oleh setiap guru Sekolah Minggu:
1. Mengapa Kita Mengajar Sekolah Minggu
GSM memahami bahwa mengajar adalah hal yang ditugaskan Allah (Ulangan 6:6-7; Matius 28:19-20). Mengajarkan Firman Allah adalah hal yang paling dibutuhkan anak-anak-Nya agar imannya dapat bertumbuh.
2. Mengenal Allah secara Pribadi
Setiap GSM harus mengenal Allah secara pribadi dan terus bertumbuh dalam kedewasaan iman sehingga dia dapat mengajarkan Firman Allah kepada orang lain. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: apakah GSM mengikuti persekutuan dan memiliki waktu doa yang teratur? apakah GSM menjalin hubungan yang baik dengan Allah dan sesamanya di gereja? apakah GSM mengetahui caranya untuk menuntun seorang murid kepada Allah?
3. Mengetahui Apa yang Kita Ajarkan
GSM harus memiliki pemahaman tentang doktrin-doktrin Alkitab dan gereja.
4. Memahami Apa yang Dibutuhkan Anak-anak
GSM harus belajar tentang bagaimana cara mengajar yang baik, termasuk memahami tentang karakteristik anak dalam berbagai tingkatan usia dan kebutuhan-kebutuhan mereka.
5. Tanggung Jawab Guru dalam Mengajar
GSM harus sepenuh hati menyisihkan waktunya untuk mempersiapkan pelajaran, termasuk setia mengajar di kelasnya, menciptakan ide-ide kreatif dalam mengajar, dan bersedia mengevaluasi hal-hal yang telah dilakukannya.
6. Mengikuti Pelatihan
GSM perlu mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan gerejanya. Bahkan, banyak Sekolah Minggu yang mengadakan pelatihan tentang cara mengajar yang efektif untuk semua tingkatan usia.
7. Pelayanan di Luar Kelas
Tentunya GSM tidak dapat mengunjungi semua anak di kelasnya. Namun GSM wajib mengetahui kondisi masing-masing anak didiknya -- siapa yang sakit, siapa yang jarang masuk? apa yang mereka butuhkan? dsb.
8. Bergaul dengan Anak-anak di Luar Kelas
Penting bagi GSM untuk menyadari perlunya menjalin kontak dengan anak-anak di luar kelas. GSM dapat meluangkan waktu untuk mengadakan acara-acara informal seperti mengadakan pesta kelas, atau pesta pujian atau makan siang di rumah anak-anak tersebut.
Sumber:
• Super Sunday School Source Book, Artikel Job Descriptions for Teachers oleh Dr. Dennis E. Williams, halaman 13 - 14, David C. Cook Publishing Co., Westin, Illinois.


2.22 Kriteria Guru Sekolah Minggu untuk Kelas Indria
Beberapa kriteria untuk menjadi GSM yang mengajar kelas anak-anak Batita dan TK:
• Seleksi calon guru dengan hati-hati, karena perilaku anak-anak dibentuk melalui kualitas pribadi yang dimiliki guru-gurunya.
• Cari pria ataupun wanita yang memiliki hubungan pribadi dengan Yesus, mengasihi anak-anak, sehat, energik, dan dapat bekerja sama dalam satu tim.
• Usahakan juga untuk mencari guru pria. Kebanyakan anak-anak jarang bertemu dengan ayahnya pada saat di rumah, dan kehadiran guru pria akan dapat memenuhi beberapa kebutuhan akan figur seorang ayah.
• Jangan merekrut anak-anak SMU, meskipun mereka bersedia menjadi GSM. Mereka belum cukup dewasa untuk menangani anak-anak balita.
• Berikan penjelasan kepada mereka tentang tanggung jawab yang harus mereka lakukan.
Sumber:
• Introduction to Christian Education, Artikel Helping Preschoolers Learn oleh Eleanor Daniel, halaman 106, Standard Publishing Co., Ohio, 1980.



2.23 Kriteria Guru Sekolah Minggu untuk Kelas Madya dan Pratama
Beberapa kriteria untuk menjadi GSM yang mengajar kelas anak-anak Sekolah Dasar:
• Memiliki kehidupan Kristen yang bertumbuh sehingga dapat menjadi teladan bagi anak-anak.
• Memahami dunia anak-anak dan dapat menjalin hubungan dengan anak- anak itu, serta dapat bekerja sama dalam satu tim.
• Rekrut guru pria maupun wanita. Pasangan suami istri yang bekerja sama dalam satu kelas akan memberikan contoh yang baik tentang keluarga Kristen dan sekaligus memberikan figur ayah dan ibu bagi anak-anak yang jarang mendapatkannya di rumah.
• Perlu disadari bahwa pelayanan Sekolah Minggu tidak cukup hanya dengan melakukan persiapan dan pemahaman Alkitab, GSM juga perlu berpartisipasi dalam kehidupan anak-anak Sekolah Minggu melalui kunjungan yang dia lakukan, menjadi pendengar mereka, dan melalui kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan.
Seorang guru yang efektif dapat mengajar dengan baik karena dia tidak hanya melayani anak-anak saat di dalam kelas, tetapi dia juga melayani anak-anak saat di luar kelas.
Sumber:
• Introduction to Christian Education, Artikel Helping Elementary Children Learn oleh Eleanor Daniel, halaman 118, Standard Publishing Co., Ohio, 1980.


2.24 Komitmen Kesetiaan Guru Melayani Anak-anak
Dalam suatu kebaktian sore, seorang pemimpin Sekolah Minggu memberi kesaksian. Ia mengucap syukur kepada Allah bahwa seorang anak laki-laki telah percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya pagi itu dalam Sekolah Minggu. Pemimpin itu mengakhiri kesaksiannya dengan mengatakan, "Saya mencintai anak-anak di Sekolah Minggu kami dan saya suka sekali bekerja dengan mereka."
Pemimpin itu telah bekerja di kalangan anak-anak selama berpuluh-puluh tahun, dan orang bisa tahu bahwa ia sungguh-sungguh mencintai anak-anak. Dan cinta inilah yang dapat kita sodorkan dalam Sekolah Minggu tanpa malu-malu. Pemimpin kami itu telah berulang-ulang mengatakan bahwa ia lebih senang terhadap guru yang sungguh-sungguh mencintai anak-anak daripada seorang guru yang mempunyai pendidikan sebagai guru tetapi tidak dapat menyatakan cintanya kepada anak-anak.
Jika Saudara mengajar anak-anak, ujilah kesetiaan anda dalam mengasihi anak-anak didik anda dengan patokan-patokan berikut ini:
1. Saya ingin memenangkan anak-anak kepada Kristus.
Anak-anak yang dimenangkan kepada Kristus dapat mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani dan mencintai Yesus. Orang dewasa sering berpikir seperti para murid Yesus yang merasa bahwa pelayanan Yesus itu harus ditujukan kepada orang dewasa -- bahwa mereka itu lebih penting daripada anak-anak. Tetapi Yesus mengarahkan perhatian-Nya kepada anak-anak yang datang bersama ibu mereka untuk bertemu dengan Dia.
2. Saya mengindahkan hak dan perasaan anak.
Apabila saya berjalan di jalanan, di taman, di dalam sebuah toko, saya tidak berjalan bergegas-gegas melewati anak-anak. Saya tersenyum kepada mereka dan memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang mempunyai hak dan perasaan.
3. Saya memperhatikan anak-anak ketika mengunjungi rumah mereka.
Jika saya mengunjungi rumah teman-teman, saya tidak bersikap acuh tak acuh terhadap anak-anak dalam keterburuan saya untuk bergaul dan bercakap-cakap dengan orangtua mereka. Saya memberi salam kepada anak-anak itu dengan kata-kata yang akrab -- dan dengan demikian saya memperoleh banyak teman kecil yang baru.
4. Saya lebih sabar dengan anak-anak.
Saya tidak mengharapkan supaya anak-anak itu duduk diam seperti orang dewasa atau menulis atau menggambar sebaik orang dewasa. Anak-anak masih dalam taraf bertumbuh dan belajar. Jika saya kurang sabar dengan anak-anak, mungkin disebabkan karena saya mengharap terlalu banyak dari mereka.
5. Saya berusaha hidup sedemikian rupa supaya anak-anak yang mengamati saya itu tak akan tersandung.
Yesus menasihati orang dewasa tentang akibat-akibat yang hebat, yang menimpa orang-orang yang karena teladannya yang buruk, menyebabkan anak-anak jatuh atau tersesat. Seorang anak meniru kehidupan orang-orang dewasa yang dalam lingkungannya.
6. Saya tidak mempermalukan atau menggoda anak-anak.
Seorang dewasa yang sungguh-sungguh mencintai anak-anak tak akan "membangkitkan amarah" mereka. Ada orang-orang dewasa yang tidak mengindahkan perasaan yang lembut dari anak-anak. Mereka mengatai anak-anak itu "malas" atau "nakal" di hadapan anak-anak lain atau di depan orang dewasa.
< untuk berdoa Saya>
Anak-anak cukup penting untuk dicantumkan dalam daftar doa saya. Nama mereka dicantumkan bersama pendeta, para pendeta perintis, dan anggota-anggota gereja yang sakit.
8. Saya mendengarkan anak-anak.
Saya tidak akan menyuruh mereka pergi dengan mengatakan "Ya, ya," tanpa mendengarkan betul-betul apa yang mereka katakan. Kalau kita mencintai mereka, maka kita akan meluangkan waktu untuk mendengarkan pembicaraan anak-anak itu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka serta menunjukkan rasa senang atas hasil yang mereka capai.
9. Saya senang bergaul dengan anak-anak.
Baru-baru ini saya mendengar seorang guru pratama berkata, "Saya sungguh senang bergaul dengan murid-murid saya." Apabila saya mencintai anak-anak, waktu yang saya luangkan untuk mereka serasa lari cepat. Saya masuk dalam kesenangan mereka, ke dalam cara berpikir mereka dan cara melakukan ini itu, dan menikmati persahabatan dengan mereka.
Apakah cinta Saudara kepada anak-anak sudah memenuhi patokan-patokan di atas? Jika belum, mohonlah kiranya Yesus memberi cinta yang Saudara butuhkan untuk mengajar anak-anak.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, BabSungguhkah Saya Mencintai Anak - anak?, halaman 179 - 180, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.


2.25 Pemimpin Sekolah Minggu
Uraian berikut ini dapat memberi masukan kepada Anda, para pemimpin SM atau pun pelayan anak lainnya untuk lebih mengembangkan talenta kepemimpinan dalam diri Anda.
PEMIMPIN SEKOLAH MINGGU
Apabila seorang guru Sekolah Minggu dipilih untuk melayani sebagai pemimpin Sekolah Minggu, gereja menyatakan kepercayaannya di dalam dia sebagai seorang pengurus. Juga ia diharapkan menjadi teladan seorang pemimpin Kristen yang sejati dalam "kata dan perbuatan". Namun, yang lebih penting adalah bahwa Allahlah yang memberikan tugas tersebut, sehingga pelayanan sebagai seorang pemimpin ini harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Jika suatu saat Anda menerima tugas ini, inilah saatnya Anda mengembangkan talenta kepemimpinan Anda dan mempersembahkannya bagi kemuliaan nama Tuhan.
Badan pengurus Sekolah Minggu boleh merencanakan suatu program yang sangat baik. Para anggotanya harus sadar akan perlunya pengarahan, pendidikan dan perlengkapan bagi para pengerja, dan mengatur rencana dan bahan pengajaran, jadwal waktu dan pembagian ruangan. Namun Sekolah Minggu tetap masih memerlukan seseorang untuk mempersatukan garis kebijaksanaan, untuk menjaga agar semuanya diselenggarakan, dan untuk menilai keefektifannya. Oleh karena itulah seorang yang memiliki talenta memimpin sangat dibutuhkan dalam Sekolah Minggu.
SIKAP
Sikap secara langsung mempengaruhi kemampuan seorang pemimpin untuk menyelenggarakan tugas-tugasnya. Oleh karena itu dia harus meneliti sikap-sikapnya dari waktu ke waktu dan barangkali membuat penyesuaian. Sikap manakah yang harus selalu diperhatikan oleh seorang pemimpin Sekolah Minggu?
1. Kerohanian
Kerohanian adalah lebih dari sikap, tetapi kerohanian berlandaskan sikap. Kerohanian mencakup hasrat untuk maju dan cita-cita, kelakuan pribadi setiap hari, bahkan dalam hal-hal yang kecil. Di sini termasuk penyerahan waktu, talenta, dan harta kepada Kristus. Doa dan mempelajari Firman Allah setiap hari seluruhnya akan ditentukan oleh sikapnya.
2. Semangat
Manusia cenderung mengikut seorang yang bersemangat. Semangat memimpin berasal dari pengertian mengenai kemungkinan serta kepentingannya Sekolah Minggu. Dia dapat melihat bahwa Sekolah Minggu merupakan sarana untuk mengabarkan Injil, yakni memenangkan orang-orang kepada Kristus. Dia juga dapat melihat kuasa Sekolah Minggu untuk menolong orang-orang berkembang menjadi orang Kristen yang dewasa, untuk mendidik mereka bagi pelayanan, dan untuk membangkitkan kekuatan-kekuatan yang terpendam di dalam gereja. Pendek kata, dia melihat Sekolah Minggu sebagai satu bagian dalam gereja yang tak ada penggantinya.
3. Sifat Agresif
Menurut Roma 12:8, siapa yang memberi pimpinan harus "melakukannya dengan rajin." Mereka harus agresif! Sebuah sekolah Minggu tidaklah bersaingan dengan lain-lain Sekolah Minggu, tetapi bersaingan dengan dirinya sendiri. Dalam persaingan dengan kemajuannya pada masa lalu, hanya usaha yang agresif akan mencapai sasarannya atau mencapai tujuannya. Rencana-rencana, garis-garis kebijaksanaan dan program-program akan diperkenalkan setelah berunding dengan yang lain. Tetapi jika gagasan-gagasan ini menjadi kenyataan, maka itu disebabkan oleh pandangan pemimpin dan semangatnya dalam melaksanakan gagasan-gagasan itu.
4. Kerendahan Hati
Kerendahan hati bukanlah satu sikap yang populer, namun merupakan sikap yang harus dipupuk oleh pemimpin. Dia harus lebih menonjolkan sifat-sifat baik dan prestasi teman-teman sekerjanya daripada sifat baik dan prestasinya sendiri dan harus memberikan penghargaan kepada yang patut menerima penghargaan itu.
5. Keyakinan dan Kebenaran
Suatu sikap yang penuh keyakinan adalah penting. Sikap itu menunjukkan bahwa dia tahu ke mana tujuannya dan dengan demikian menguatkan hubungan kerjanya dengan stafnya. Seorang pemimpin yang baik menunjukkan kepercayaan dalam Tuhannya. Walaupun ia menyadari adanya persoalan-persoalan, ia memimpin rapat dengan penuh keyakinan. Dia dapat menghadapi ketawaran hati dan kekalahan yang mungkin terjadi dengan keyakinan bahwa pada akhirnya kemenangan akan tercapai. Dengan berani ia memihak kepada kebenaran karena dia bekerja bagi sang Raja. Dia mengetahui bahwa Tuhan ada dan mendapati bahwa hikmat dan kuasa Tuhan cukup bagi pemecahan setiap masalah.
6. Persahabatan
Seorang pemimpin yang baik akan mengambil inisiatif dalam menyatakan persahabatan. Pernyataan itu harus tulus dan berasal dari rasa persahabatan yang sejati di dalam hatinya, agar berhasil. Persahabatan sejati akan ditunjukkan sama rata kepada semua tanpa memandang kedudukan. Dan persahabatan yang benar akan membuat seseorang menjadi pendengar yang baik.
7. Kerja sama
Sikap seorang pemimpin yang baik akan menunjukkan bahwa ia bersedia bekerja dengan dan melalui orang-orang lain. Dia akan meminta pertolongan orang-orang lain serta membantu mereka mengembangkan minat, tanggung jawab dan kesetiaan. Dia akan berusaha sedapat-dapatnya untuk mendorong mereka.
8. Kesetiaan
Kesetiaan mulai sebagai satu sikap dan kemudian menjadi satu sifat yang kuat dari pemimpin yang baik. Dasar kesetiaan adalah iman, iman dalam Tuhan, iman di dalam gembala sidang, iman di dalam staf pengerja, iman di dalam Sekolah Minggu, dan iman di dalam diri sendiri.
9. Rasa Humor
Seorang pemimpin yang baik hendaknya jangan bersikap terlalu serius. Walaupun kepemimpinan merupakan perkara yang serius, seorang pemimpin harus berani melihat segi yang lucu dari satu keadaan. Dengan berbuat demikian ia dapat meringankan ketegangan.
HUBUNGAN
1. Dengan gembala sidang.
Gembala sidang dan pemimpin Sekolah Minggu harus bekerja dalam keselarasan yang sangat erat. Pemimpin itu hendaknya berunding dengan gembala sidang mengenai tiap-tiap rencana dan program sebelum itu diperkenalkan kepada pengurus dan guru Sekolah Minggu. Bantuan yang aktif dari gembala sidang dapat sangat menguatkan program Sekolah Minggu.
2. Dengan stafnya (guru dan pekerja).
Pemimpin menaruh perhatian terhadap beban serta kebutuhan setiap guru dan pengerja. Dia harus selalu bersedia memberi pujian dan lambat mengeritik. Dia memberikan dorongan dan memohon kepada Allah untuk menolong dia menggerakkan setiap anggota staf untuk melihat kepentingan Sekolah Minggu secara menyeluruh. Stafnya harus tahu bahwa dia bersedia menerima usul-usul. Dia berusaha menjelaskan semua tanggung jawab dan tugas. Dia selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa kerja sama yang baik hanya dapat dicapai demi kesabaran dan pengertian pada pihak pemimpin.
3. Dengan murid-murid.
Keberhasilan Sekolah Minggu akhirnya bergantung pada apa yang dialami oleh setiap murid. Karena itu pemimpin harus mengenal banyak murid secara pribadi. Hubungan ini akan menolong dia ketika dia harus membuat keputusan-keputusan yang berkenan dengan organisasi dan program Sekolah Minggu.
TANGGUNG JAWAB
Pemimpin akan melayani sebagai ketua badan pengurus Sekolah Minggu. Dia harus memperhatikan beberapa aspek kepemimpinan yang baik.
1. Perkembangan pribadi.
Dia akan memelihara kehidupan yang rohani dan saleh. Dia akan menghadiri kebaktian-kebaktian tetap di gereja dan kursus-kursus pendidikan pengerja. Melalui pembacaan yang sistematis dan menghadiri pertemuan-pertemuan, lokakarya, dan seminar Sekolah Minggu, dia akan selalu mengetahui gagasan-gagasan serta informasi yang terbaru mengenai pekerjaan Sekolah Minggu.
2. Mengurus fasilitas dan perlengkapan.
Dia akan mengusahakan peralatan, bahan pelajaran, dll. yang diperlukan dalam kegiatan mengajar. Dia akan berusaha untuk menyediakan ruang-ruang kelas yang selayaknya. Dia akan memeriksa kebersihan dan kerapian departemen maupun kelas dan dia akan menertibkan masuk keluar murid dari kelas.
3. Hal mengurus stafnya.
Dia akan mengerahkan pejabat-pejabat serta guru-guru dan akan mengisi staf menurut kebijaksanaan Sekolah Minggu. Dia juga akan menyiapkan tenaga pengganti bila perlu. Bersama gembala sidang, dia akan menyusun suatu kebaktian peneguhan pejabat dan guru SM yang diadakan tiap tahun.
4. Merencanakan dan mempromosi program.
Dengan menetapkan sebuah kalender induk mengenai kegiatan- kegiatan sepanjang tahun, termasuk acara-acara penting dari kalender nasional dan kalender daerah, dia akan memanfaatkan hari-hari istimewa, mengadakan program promosi yang tetap, menentukan sasaran-sasaran pendaftaran dan kehadiran, menekankan kursus-kursus pendidikan dan mengatur untuk mengadakan rapat pengerja bulanan. Sebagai tambahan, dia akan memajukan hubungan yang baik di antara keluarga pelajar dan Sekolah Minggu.
5. Pengawasan kerja.
Secara tetap dia akan memberikan kepada gembala sidang laporan tentang keadaan (maju mundurnya) Sekolah Minggu. Dia akan memahami pedoman Sekolah Minggu di gerejanya dan akan memimpin Sekolah Minggu dalam menjalankan tujuan pedoman itu -- yakni maju dalam kerohanian, penginjilan dan pertumbuhan. Dia akan mengambil tanggung jawab dalam mengisi dan mengirim laporan tahunan dengan cepat. Dia akan berusaha memperluas fasilitas dan staf sekolah Minggu sesuai dengan pertumbuhan yang diharapkan. Dia akan menunjukkan perhatian terhadap usaha-usaha pendidikan dan kesejahteraan rohani Sekolah Minggu. Sebagai tambahan kepada penyelidikan pribadi yang dilakukannya atas semua kelas/departemen, dia akan tetap mengawasi kemajuan dan kebutuhan Sekolah Minggu dengan menuntut pemeliharaan catatan yang cukup mengenai kehadiran, tindak lanjut, dan pencapaian ke luar. Dia akan mengatur supaya jadwal waktu ditentukan dan diikuti. Dia akan menjalankan tata tertib dan disiplin. Dia akan mendorong program penginjilan yang agresif.
Mungkin tampaknya sukar untuk memenuhi semua syarat ini, tetapi pemimpin itu tidak boleh berkecil hati. Semua syarat diatas harus dipenuhi jika kita memang sungguh-sungguh ingin mengembangkan talenta kepemimpinan kita untuk kemajuan pelayanan SM.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, halaman 220 - 222, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.


2.26 Sikap Mental Seorang Guru Sekolah Minggu

Untuk menjadi teladan bagi anak-anak SM Anda, milikilah sikap mental yang baik. Sikap mental yang bagaimana yang harus dimiliki oleh seorang guru SM? Silakan simak tips berikut ini:

SIKAP MENTAL SEORANG GURU SEKOLAH MINGGU

1. Menjadi Teladan

Anda tidak dapat memimpin orang yang menilai perilaku Anda "kurang baik". Jadi "seseorang yang dikenal berperilaku buruk" tidak dapat menjadi guru. Kendatipun ia sangat berbakat. Bertobatlah dan tunjukkan perubahan hidup Saudara, jadilah teladan yang baik.

2. Friendly Formula

Maksudnya adalah tiga hal:
"feel friendly, sound friendly, and look friendly."
(Yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya:
feel friendly -- :) bersikap ramah/akrab/tersenyum
sound friendly -- :) berbicara dengan ramah/bersukacita
look friendly -- :) tampak/berpenampilan bersahabat.
Bersikaplah sebagai seorang sahabat/saudara bagi anak didik kita. Jangan menggurui,
angkuh, dan lain sebagainya. Bersikaplah wajar dan rendah hati!

3. Anda Pemimpin Rohani

Pemimpin rohani harus sadar, ia bukan aktor/aktris atau guru biasa, melainkan ia adalah "alat". Alat yang dipilih dan dipakai Tuhan untuk membimbing anak-anak Allah yang masih kecil.

Sumber:
• Lawrence O. Richards, Mengajarkan Alkitab Secara Kreatif, halaman 108 - 109, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.



2.27 Petunjuk Mengadakan Kursus Pendidikan Guru SM
1. Menentukan lamanya kursus.
Kursus diadakan sekurang-kurangnya setiap satu tahun satu kali atau lebih baik lagi dua kali dalam satu tahun. Ada berbagai macam bentuk kursus yang dapat dilakukan. Yang paling lazim adalah rencana untuk menyiapkan satu minggu kursus yang intensif. Untuk itu perlu disediakan waktu 2 jam pelajaran selama 5 malam dalam minggu itu, sehingga dapat diadakan 10 jam pelajaran dalam satu minggu. Selain itu ada juga kursus yang satu kali selama satu minggu dengan lama kursus 13 minggu (13 kali pertemuan).
Menurut buku pedoman SM, kursus pendidikan untuk guru SM harus berlangsung sekurang-kurangnya 10 jam. Akan tetapi ini hanya merupakan waktu minimum saja. Pengurus gereja atau pengurus SM dapat merencanakan sendiri waktu yang diperlukan sesuai dengan banyaknya materi yang akan diberikan.
2. Memilih pokok pelajaran dalam kursus.
Pemilihan pokok pelajaran -- buku yang akan dipelajari -- harus dilakukan oleh gembala bersama-sama dengan badan pengurus SM setempat. Tentu saja harus dipilih materi-materi yang akan memberi banyak sekali manfaat kepada para guru SM dan dapat memenuhi kebutuhan terbesar dalam SM. Sebaiknya setiap tahun dipilih buku atau materi yang berbeda, agar tiap guru SM dan peserta kursus mendapat pendidikan yang lebih menyeluruh. Kita dapat memulai pokok pelajaran dengan suatu kursus orientasi seperti melihat sejarah/cerita dalam Alkitab atau penyelidikan anak-anak. Bagi gereja yang kesulitan membuat sendiri materi yang akan dikursuskan, saat ini sudah sangat banyak buku mengenai materi pendidikan guru SM yang dijual di toko-toko buku Kristen.
3. Menyiapkan bahan-bahan atau keperluan kursus.
Setelah memilih materi pelajaran, dapat segera diatur pembelian buku-buku yang menunjang materi tersebut. Siapkan juga soal-soal ujian yang akan diujikan supaya segala sesuatunya siap sejak awal. Jika memungkinkan siapkan pula alat-alat peraga yang dapat membantu materi-materi pelajaran tertentu. Jangan lupa untuk menyediakan pula kertas, buku tulis, alat tulis, dll. Siapkan pula ruangan yang sudah ditentukan sebagai tempat pelaksanaan kursus. Cek ulang apakah kursi-kursi sudah cukup untuk semua peserta kursus.
4. Memilih pengajar/pembicara dalam kursus.
Menurut ketetapan pedoman SM, yang dapat dipilih sebagai pengajar kursus adalah seorang pendeta, gembala dari gereja setempat, atau orang yang dipilih oleh gembala gereja atau pengurus SM. Bisa juga pengajar kursus didatangkan dari luar. Mendatangkan pengajar dari luar merupakan cara yang baik untuk menumbuhkan minat. Apabila beberapa gereja bergabung dalam penyelenggaraan kursus pendidikan guru SM, maka gembala dari masing-masing gereja itu dapat bertugas sebagai pengajar.
Satu hal yang harus diperhatikan, sepiawai apapun pengajar yang dipilih, dia harus tetap mempelajari materi kursus dengan seksama dan harus betul-betul menguasai bahan yang akan diajarkannya. Selain itu pengajar juga harus menguasai soal ujian yang akan diujikan dalam kursus pendidikan tersebut.
5. Menyiapkan tatacara dalam penyelenggaraan kursus.
Berminggu-minggu sebelum kursus dimulai, umumkanlah hal tersebut kepada para guru SM atau jemaat. Biasanya pendeta yang mengumumkannya dari mimbar gereja atau ditempelkan di dinding pengumumuan gereja. Umumkanlah pula materi-materi yang akan dipelajari dalam kursus tersebut. Sebaiknya peserta jangan terbatas pada guru SM saja, tapi terbuka juga bagi mereka yang terbeban terjun dalam pelayanan anak. Bagikanlah buku-buku materi kursus kepada para peserta, kalau bisa dibagikan pada saat mereka mendaftar. Tujuannya agar para peserta dapat segera mengetahui materi apa saja yang akan disampaikan, supaya mereka siap untuk pelajaran pertama. Para pengikut kursus yang sudah mendaftar diwajibkan untuk membaca buku-buku tersebut dan menempuh ujian dengan mencapai nilai 70%, untuk dapat menerima sertifikat.
Pembicaraan yang bebas dan adanya kebebasan untuk bertanya adalah suasana kursus yang sangat membangkitkan minat. Usahakan agar perhatian peserta tetap terfokus dengan mengadakan pembahasan yang bersemangat, aktivitas yang beraneka ragam, dan uraian yang tidak menyimpang dari materi. Sediakan sedikit waktu untuk membahas masalah/kasus dalam sebuah SM dan berikan "pekerjaan rumah" kepada para peserta untuk menemukan jalan keluar bagi permasalahan tersebut. Hal ini dapat menguji sejauh mana pengetahuan mereka dapat diaplikasikan selama menerima materi yang diajarkan. Bisa juga diberikan tes kecil setiap akhir pertemuan kursus.
Sertifikat diberikan kepada setiap peserta yang sudah menyelesaikan satu buku dengan syarat-syarat sebagai berikut: hadir tiap jam pelajaran, sudah membaca seluruh buku/materi, lulus ujian, dan berusia lebih dari 13 tahun. Siapkanlah satu acara khusus ketika tiba saat penyerahan sertifikat. Acara seperti itu selalu memberikan perasaan puas dan meninggalkan kesan yang baik. Setelah selesai menyelenggarakan suatu kursus, pengurus SM wajib melaporkan pelaksanaannya kepada majelis gereja. Dalam laporan tersebut wajib tercantum keterangan mengenai kursus yang diadakan, jumlah pengikut yang terdaftar, nama pengajar, dan materi yang diajarkan.
Sumber:
• Ralph M. Riggs, Sekolah Minggu yang Berhasil, halaman 43 - 48, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1978.



2.28 Buah-buah dalam Pelayanan Guru SM
Tujuan kita dalam pelayanan SM tentunya untuk menghasilkan sesuatu. Pelaksanaan berbagai tujuan dalam pelayanan SM diarahkan kepada pencapaian tujuan tersebut. Pelayanan yang berbuah adalah pelayanan yang sudah dapat mencapai tujuan dalam pelayanan SM. Berikut ini diuraikan hal-hal apa saja yang dapat dihasilkan dalam pelayanan SM dimana hal-hal tersebut merupakan tujuan-tujuan utama pelayanan SM.
1. Keselamatan
Keselamatan merupakan tujuan terutama yang harus dihasilkan dari segala sesuatu yang kita lakukan serta kita ajarkan melalui bahan pelajaran dan pelayanan kita di SM. Kita ingin membawa masing- masing anak SM ke dalam pengalaman kelahiran baru. Kita ingin agar mereka mengerti bahwa mereka itu orang berdosa dan hukuman menantikan mereka. Mereka juga harus tahu bahwa mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri, tetapi Kristus yang sudah matilah yang dapat menyelamatkan. Sebagai guru kita pasti ingin agar pelayanan kita dapat membuat mereka sadar dan datang kepada Allah untuk memohon pengampunan, berbalik dari dosa- dosanya, dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi.
2. Pengetahuan Alkitab
Melalui pelayanan yang guru SM lakukan hasil terbesar lainnya yang ingin dicapai adalah bertambahnya pengetahuan Alkitab anak- anak SM kita, dimana hal itu akan menghasilkan orang-orang Kristen yang matang rohaninya. Melalui pelayanan dalam SM, kita ingin anak-anak itu mengerti, percaya, dan mematuhi Alkitab sebagai Firman Allah yang diilhami yang tidak dapat salah dan berkuasa. Kita ingin agar mereka mengetahui prinsip-prinsip dan perintah-perintah Alkitab yang memberi petunjuk dalam masalah- masalah tingkah laku. Buah lain dalam hal pengetahuan Alkitab ini adalah melihat anak-anak didik kita mencintai Alkitab, mau membaca dan mempelajarinya dengan cara teratur, sistematis, disertai doa, serta menjadikan Alkitab itu sebagai pedoman hidup.
3. Pertumbuhan Kristen
Pertumbuhan Kristen merupakan salah satu buah yang besar dalam pelayanan kita sebagai guru. Kita ingin menolong semua orang percaya termasuk anak-anak SM kita bertumbuh menuju kematangan Kristen. Kita ingin agar mereka tahu bahwa tidak saja mereka harus dilahirkan kembali, tetapi mereka juga harus bertumbuh secara rohani, dan hal menjadi seperti Kristus itulah sasaran utama kehidupan Kristen. Kita ingin agar anak-anak didik kita mengetahui dan memanfaatkan cara-cara yang digunakan Roh Kudus untuk memimpin orang-orang Kristen kepada kematangan: Alkitab, doa, ibadah, disiplin diri, pelayanan Pribadi, dan persekutuan dengan orang-orang percaya lainnya.
4. Penyerahan Pribadi
Penyerahan pribadi merupakan satu hasil penting dalam pelayanan seorang guru SM. Penyerahan pribadi akan menolong anak-anak didik kita menjadi orang-orang Kristen yang sesuai dengan kehendak Allah. Kita ingin memimpin mereka untuk senantiasa menyerahkan hidupnya kepada kehendak Allah. Kita ingin agar mereka mengerti tanggung jawabnya sebagai anak-anak Allah dan mengakui-Nya sebagai Tuhan atas hidup mereka. Sebagai guru kita pasti ingin agar melalui pelayanan kita anak-anak dengan sukarela memilih kehendak Allah dan membuatnya sebagai faktor yang menentukan semua keputusan; menggunakan semua yang Allah telah percayakan kepada mereka dengan bijaksana; dan menemukan serta memenuhi rencana Allah.
5. Pelayanan Kristen
Hasil berikutnya yang harus dicapai dalam pelayanan kita adalah pelayanan Kristen. Dalam setiap pelayanan kita, tekankanlah bahwa pelayanan Kristen secara luas mencakup setiap perbuatan dan aktivitas yang membantu pertambahan, perkembangan, dan kesejahteraan tubuh Kristus. Anak-anak akan memiliki semangat yang menyala-nyala dalam pelayanan Kristen apabila mereka memiliki guru yang juga punya semangat yang sama, dan itu berarti Anda harus siap menjadi teladan bagi mereka.
6. Kehidupan Kristen
Dengan memperhatikan kehidupan anak-anak SM kita, dapat dilihat apakah pelayanan kita selama ini sudah menjadi berkat bagi kehidupan mereka. Tujuan kita mengajar mereka tentunya karena kita ingin menolong mereka menerapkan prinsip-prinsip Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Kita ingin agar mereka memuliakan Kristus dalam kehidupan mereka melalui sikap dan sifat mereka, seperti sikap tengggang rasa, kejujuran, kasih, dapat dipercaya, dll. Pendek kata, kita ingin agar melalui apa yang kita ajarkan mereka dapat mengenal untuk kemudian mematuhi prinsip-prinsip Kristen untuk dilakukan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Dari 6 hal di atas, Anda sebagai seorang pelayan dalam sebuah SM dapat menilai apakah selama ini pelayanan Anda sudah mencapai tujuan yang diharapkan, dan apakah pelayanan Anda sudah menghasilkan buah- buah rohani dalam kehidupan anak-anak didik Anda.
Sumber:
• Ralph M. Riggs, Sekolah Minggu yang Berhasil, halaman 6 - 9, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1978.



2.29 Tanggung Jawab Pengurus SM
Dalam sebuah SM ada guru-guru yang juga merangkap sebagai pengurus SM. Selain harus bertanggung jawab terhadap tugas keguruannya, mereka juga harus bertanggung jawab terhadap tugasnya sebagai seorang pengurus SM. Jika mereka hanya memenuhi tanggung jawab mereka sebagai seorang guru SM dan melalaikan tanggung jawabnya sebagai pengurus, maka SM tersebut akan terhambat perkembangannya. Apa sajakah tanggung jawab para pengurus SM itu? Berikut ini kami paparkan tanggung jawab dari seorang Pemimpin dan Sekretaris SM.
TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN SM
Pemimpin inilah yang memimpin SM. Dia akan bekerja sama dengan gembala gereja, sekretaris, dan para guru sebagai suatu "team", agar mendapatkan sebuah SM yang mendatangkan kehormatan bagi Kristus. Dia akan mengatur agar para guru MENJANGKAU jiwa-jiwa yang terhilang dan mengajarkan kepada mereka bagaimana cara hidup bagi Allah. Tanggung jawab pemimpin dibagi dalam tiga bagian:
1. Selama Jam SM
a. Harus tiba 15 menit sebelum SM dimulai.
b. Siap sedia untuk memulai SM tepat pada waktunya! Acara Pembukaan harus menarik. Bahan seperti "Kegiatan Sekolah Minggu" dapat memberi ide-ide dan petunjuk-petunjuk untuk acara pembukaan ini. Pakailah alat peraga yang disarankan.
c. Mengunjungi berbagai kelas selama jam pelajaran, tetapi duduk pada tempat yang memudahkan dia untuk meninggalkan kelas tersebut tanpa menarik perhatian anak-anak.
d. Dalam sebuah kelas, secara bergantian, tutuplah acara ibadah dengan memberikan sambutan singkat untuk anak-anak (khususnya yang baru) dan undang mereka untuk datang kembali minggu berikutnya.
2. Mempromosikan SM
a. Untuk menolong pertumbuhan SM, selenggarakan acara-acara istimewa pada Hari Paskah, Hari Kemerdekaan, Hari Natal, kenaikan kelas, dan sebagainya. Tentu saja saudara harus memakai bahan yang disediakan untuk usaha memenangkan jiwa baru dan evangelisasi anak-anak. Sarana tersebut berguna untuk menolong SM saudara. Undang anak-anak lain selain murid-murid Anda untuk menghadiri acara tersebut.
b. Dalam setiap kebaktian gereja hendaknya diberikan pengumuman tentang SM. Ke mana pun saudara pergi berbicaralah tentang SM, dan undanglah orang untuk menghadirinya. Tunjukkan sikap yang gembira dan bersemangat tentang SM Anda!
3. Program Pendidikan

Program pendidikan secara keseluruhan bagi pekerja SM adalah tanggung jawab gembala, tetapi pemimpin SM itu yang harus menyelenggarakan sebagian besar dari kelas persiapan dan rapat panitia. Adakan kerja sama yang erat dengan gembala dalam "Kursus Pendidikan Guru SM", "Kelas Calon Guru", maupun program lain.
SEKRETARIS SM
Sekretaris yang menyelenggarakan semua catatan sekolah. Tanggung jawabnya meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Sebelum Jam SM
a. Datang 15 menit sebelum SM dimulai dan mempersiapkan kantong- kantong persembahan, buku-buku catatan kelas, gambar-gambar, alat peraga, dll., untuk diberikan kepada guru.
b. Berada di tempat pada Acara Pembukaan -- saudara bukan teladan yang baik kalau jalan kian ke mari.
2. Selama Jam SM
a. Menghadiri jam pelajaran di suatu kelas, namun demikian duduklah dekat pintu. Jika SM sudah berjalan setengahnya, keluarlah dengan diam-diam. Apabila jumlah anggota SM itu banyak, sekretaris akan segera mulai dengan pekerjaannya setelah guru selesai mengabsen. Dengan demikian ia mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan pencatatan dalam "Buku Catatan Sekretaris" sebelum acara penutup.
b. Mengumpulkan semua buku catatan kelas dan persembahan. Guru harus mengisi Buku Catatan Kelas dan memungut persembahan sebelum memulai pelajaran, kemudian meletakkannya pada tempat yang baik agar dapat dikumpulkan oleh sekretaris tanpa mengganggu kelas. Jangan bercakap-cakap dengan guru atau murid.
c. Pergi ke suatu tempat yang agak terpisah; hitunglah uang persembahan; pindahkan semua jumlah dari buku catatan kelas ke buku catatan sekretaris. Catatlah jumlah yang hadir; tamu- tamu; persembahan; dan jumlah yang absen untuk setiap kelas. Hitunglah jumlah seluruhnya dan tuliskan pada papan pengumuman.
d. Menandai kehadiran para pekerja pada kolom yang tersedia. Sisipkan selembar di dalam buku catatan sekretaris untuk mencatat kehadiran gembala dan anggota-anggota pengurus sepanjang tahun.
e. Bersiap-siap untuk membacakan laporan jika diminta. Bacalah dengan jelas dan singkat.
3. Sepanjang Minggu
a. Menyerahkan persembahan SM kepada bendahara SM. Bila SM tidak mempunyai bendahara, persembahan itu harus diberikan kepada bendahara gereja. Uang SM harus dialokasikan untuk pembelian bahan dan peralatan SM saja.
b. Membantu dalam pemesanan bahan pelajaran. Ketika bahan pelajaran yang baru itu tiba, simpanlah dengan baik agar tetap bersih dan siap untuk dipakai pada waktunya. Jagalah supaya gambar Sahabat Anak-anak dan Pratama yang dipakai itu tepat setiap Minggu.
c. Mengambil rata-rata anak yang hadir setiap bulan, menjumlahkan persembahan setiap akhir bulan, dan tuliskan dalam buku catatan. Catatlah semua keterangan lainnya yang diperlukan.
d. Menghadiri rapat pengurus.
e. Menyediakan nota perkunjungan dan membantu dalam perkunjungan anak-anak yang absen dan para pengunjung.
f. Pada akhir tahun, bekerja sama dengan gembala dan pemimpin untuk mengisi laporan tahunan. Jika buku catatan sekretaris telah diisi dengan tepat sepanjang tahun, maka di dalamnya terdapat keterangan yang diperlukan untuk laporan tahunan.
Sungguh, pengurus SM itu penting! Jemaat memerlukan kepemimpinan saudara. Allah akan dipuji jika saudara memikul tanggung jawab untuk pelayanan ini!
Sumber:
• AGLC-Teaching Ministries Accra, Ghana, Pola Dasar Perkembangan Sekolah Minggu, halaman 10 - 12, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang


2.30 Sifat Pelayan Anak
Menjadi seorang hamba Tuhan dalam bidang pelayanan anak merupakan tugas istimewa yang Tuhan berikan pada kita. Mengapa? Karena anak- anak memiliki keistimewaan sendiri di mata Tuhan, oleh karena itu menjadi pelayan anak merupakan tugas yang istimewa pula.
Tugas istimewa ini hanya dapat diemban oleh seorang hamba Tuhan yang memiliki sifat istimewa pula. Sifat-sifat seperti takut akan Tuhan, mau mengampuni, rela bekorban, setia memegang janji, tanggung jawab, sabar, dan kreatif perlu dimiliki oleh para pelayan anak. Sifat- sifat ini dapat diperoleh apabila para pelayan anak mau menjadi pendidik seperti berikut ini:
1. Pendidik yang mencintai Tuhan.
Seorang pelayan anak, pertama-tama haruslah seorang pribadi yang mengasihi Tuhan. Dengan sifat ini, ia akan dapat mencapai keberhasilan seperti yang diharapkan Tuhan. Dengan sifat ini pula, ia dapat memiliki motivasi yang benar untuk melayani Tuhan. Orang semacam ini tidak akan mudah putus asa, tidak mudah merasa kecewa, sehingga tidak akan mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sebagai guru. Jadi, karena pelayanan ini adalah mandat Allah, maka si pelaksana mandat (guru) haruslah orang yang takut kepada Sang Pemberi mandat (Tuhan). Dengan demikian, mandat tersebut dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.
2. Pendidik yang mencintai kebenaran.
Pelayanan yang dilakukan seorang guru adalah usaha untuk menceritakan atau menyampaikan kebenaran Tuhan. Karena itu, sebagai pembawa kebenaran, seorang guru juga harus mencintai kebenaran. Seperti sebuah pipa yang menghubungkan tandon air dengan wadah penerima, jika pipanya kotor, maka air yang melewatinya juga akan menjadi kotor. Seseorang yang mencintai kebenaran akan dapat menyampaikan atau menularkan berita kebenaran, cara hidup yang benar, dan hidup yang benar pula kepada murid-murid-Nya.
3. Pendidik yang mencintai murid.
Cinta akan menimbulkan perbedaan dalam tindakan seseorang. Dari luar orang akan dapat melihat apakah seorang pelayan anak melayani karena mencintai anak-anak yang dilayaninya, atau karena ikut-ikutan, mengisi waktu, dan sebagainya. Dengan cinta, seorang guru akan melayani anak-anak secara lebih sungguh-sungguh. Dengan cinta, ia rela mengorbankan waktu, uang, dan tenaga atau dengan kata lain mau membayar harga. Ia juga mau memaafkan kesalahan anak-anak yang dicintainya. Selain itu, karena cinta pula, ia akan mengajarkan yang benar, bukan yang salah atau menyesatkan. Dengan cinta, ia dapat memperhatikan dengan lebih baik, tahu jika ada anak yang mengalami masalah, dan mampu melihat kebutuhan anak-anak yang dilayaninya.
Sumber:
• Sudi Ariyanto dan Helena Erika, Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan, Artikel Peran Guru, halaman 72 - 74, Gloria Graffa, Yogyakarta, 2003.


2.31 Penampilan Guru di Kelas
Memberi teladan kepada anak-anak SM tidak hanya melalui sikap, tetapi harus pula dibarengi dengan penampilannya ketika berada di depan kelas. Guru yang bersikap baik tetapi memiliki penampilan yang tidak sesuai dengan situasi maupun kondisi tidak akan dapat memberi teladan yang baik kepada para anak SM-nya.

PENAMPILAN GURU DI KELAS

Penampilan guru sebagai seorang guru rohani yang adalah panutan bagi para muridnya sebaiknya memperhatikan:
1. Pakaian yang dikenakan, pilih yang sederhana, sopan, namun berkesan baik dan rapi.
2. Bagi guru wanita, pilih make up yang wajar dan menarik, tetapi tidak "menor" (jangan berlebihan). Sebaiknya Anda juga tidak memakai perhiasan yang berlebihan.
3. Sesaat sebelum acara dimulai, jangan "sibuk" atau "mencari kesibukan", baik dengan bersenda-gurau dengan guru SM lain, atau dengan berjalan hilir mudik. Hal ini akan membuat Anda kelelahan dan kehilangan konsentrasi. Lebih baik Anda duduk tenang, sambil berdoa dan membaca kembali persiapan Anda. Juga gunakan waktumu untuk memastikan bahwa semua perlengkapan sudah siap di tempat. Gunakan waktumu juga untuk berbincang-bincang dengan anak-anak yang sudah datang.
4. Jangan lupa Anda harus istirahat secukupnya (tidur secukupnya) dan makan secukupnya sebelum acara tersebut. Pastikan Anda pada kondisi "puncak" pada saat Anda memimpin acara Sekolah Minggu tersebut sehingga Anda tampak segar, bersemangat, dan dengan penampilan Anda dapat membangkitkan semangat anak-anak dalam berbakti.
Sumber:
• Paulus Lie, Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif, halaman 113 - 114, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997.


2.32 Kehidupan Doa Pelayan Anak (Guru Sekolah Minggu)
Mengapa kita harus berdoa? Apakah para pelayan anak (guru Sekolah Minggu) harus memiliki kehidupan doa? Secara sepintas pertanyaan ini kedengarannya aneh, karena kita semua tahu bahwa orang Kristen (apalagi guru Sekolah Minggu) harus berdoa. Tetapi dalam kenyataan, kalau mau jujur, pertanyaan di atas dijawab ya hanya sebatas teori, karena dalam praktek banyak guru Sekolah Minggu yang tidak sungguh-sungguh berdoa.
Dalam bukunya "Why Pray?", B.J. Willhite berkata bahwa kalau kita tidak berdoa maka kita berdosa, karena Alkitab berkata kita harus berdoa. Sebaliknya kalau kita berdoa, tetapi sebenarnya kita tidak percaya bahwa doa mempunyai kuasa maka sebenarnya kita adalah orang munafik. Sekarang pertanyaannya, mengapa banyak orang Kristen (termasuk guru Sekolah Minggu) tidak sungguh-sungguh berdoa, apalagi mempunyai kehidupan doa pribadi?
Apakah doa itu? Doa merupakan cara yang dipilih Allah untuk manusia berhubungan dengan Tuhan Allah. Ada banyak contoh di dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Allah berkenan mendengarkan doa umatNya dan mereka mengalami hubungan yang indah dengan Tuhan di dalam doa-doanya. Tuhan Yesus sendiri tidak hanya tekun berdoa tetapi juga mengajarkan kepada murid-muridNya untuk berdoa. Di dalam Doa BAPA KAMI, yang diajarkan Tuhan Yesus, kita melihat secara jelas suatu pengakuan iman yang teguh, karena memang doa harus tumbuh dari dasar hati seorang yang percaya / beriman kepada Tuhan. Banyak orang tidak mengalami kuasa doa karena mereka sendiri tidak mengalami kuasa Tuhan dalam hidup mereka. Di sinilah sebenarnya masalah yang dialami orang Kristen. Jika Allah sendiri tidak hadir di dalam hidup kita, bagaimana kita mempunyai kerinduan untuk bersekutu dengan Dia dalam doa?
Sebagai pelayan Tuhan dan guru/pelayan sekolah minggu, sangatlah penting bagi kita untuk mempunyai kehidupan doa. Mengapa? Pertama, karena selama pelayananNya di dunia, dengan jelas Yesus memberikan teladan kehidupan yang penuh dengan doa (Markus 1:35; Luk 22:39-41, dll.), bahkan setelah di surga pun Yesus masih berdoa bagi kita (Ibr 7:25). Suatu kehidupan doa yang membawa pada pelayanan yang berhasil.
Kedua, di dalam Alkitab tidak dicatat tentang bagaimana Yesus mengajar murid-muridNya berkotbah atau mengajar, tetapi tentang bagaimana Tuhan Yesus mengajar mereka berdoa (Mat 6:5-15). Kalau Tuhan Yesus tidak mengganggap doa penting maka tidak perlu Ia mengajarkannya. Oleh karena itu, kalau Yesus mengajarkannya kepada kita maka kita tahu pasti bahwa itu sesuatu yang berguna dan berkenan kepada Allah.
Ketiga, tidak ada kebangunan rohani tanpa doa. Banyak kesaksian dari hamba-hamba Tuhan yang dipakai secara luar biasa menyatakan bahwa pelayanan mereka didukung oleh doa-doa dari banyak orang. Apakah anda ingin agar pelayanan yang Tuhan berikan kepada anda menghasilkan jiwa-jiwa baru yang diselamatkan? Belajarlah berdoa! Karena dengan berdoa, anda sebenarnya sedang mengakui bahwa kehendak Tuhanlah yang akan jadi. Dan kehendak Tuhan adalah agar anak-anak yang terhilang kembali ke dalam kuasaNya. Di sinilah KerajaanNya menjadi nyata di dunia ini.
Kehidupan doa tidak terjadi begitu saja. Mungkin ada dari anda yang berkata: "Saya rindu bisa berdoa secara rutin, tapi selalu gagal" atau "Saya sudah berdoa tetapi tidak ada pengaruhnya." Untuk dapat berdoa dengan benar perlu latihan dan perlu disiplin yang kuat. Dan itu harus anda dapatkan perlahan-lahan, tapi kalau anda tekun anda pasti akan melihat hasilnya. Kalau anda ingin belajar dengan benar mulailah dengan belajar doa BAPA KAMI seperti yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 6:5-15. Cobalah mengerti isi Doa yang indah itu; selidiki maknanya yang sangat kaya dan mintalah agar Roh Kudus sendiri yang menolong anda mengaminkan kebenarannya.
Bagaimana anda bisa menularkan ini kepada teman-teman guru Sekolah Minggu yang lain? Berikut ini adalah saran-saran praktis:
1. Mulailah dengan diri anda sendiri. Jika anda mengalami kesukaan dalam berdoa, pasti semangat anda akan menular.
2. Sediakan waktu yang cukup untuk bersama-sama belajar merenungkan Doa BAPA KAMI (Mat 6:5-15) dan belajar berdoa bersama.
3. Undanglah orang-orang yang selama ini mempunyai beban dan kerinduan untuk suatu kebangunan rohani. Yang penting bukan kuantitas / jumlah orang yang ikut tapi kesehatian dan kerinduan mereka.
4. Mulailah kehidupan yang selalu mengutamakan Tuhan (Mat 6:33). Ajaklah teman-teman doa anda untuk melakukan hal yang sama.
5. Jika mencapai jumlah yang besar, mulailah bekali mereka untuk menggerakkan dan memimpin anak-anak untuk juga belajar berdoa. Jangan dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil, tapi ubahlah mereka menjadi pemimpin-pemimpin untuk menjangkau anak-anak Sekolah Minggu.
6. Lengkapi mereka dengan pengalaman merenungkan Firman Tuhan bersama dan terus-menerus hidup dalam kesungguhan melayani Tuhan.
7. Materi doa akan muncul dari kehidupan doa yang hidup. Kita berdoa bukan untuk mengajukan sejumlah daftar permintaan dari yang kita inginkan, tapi doa adalah memohon supaya Tuhan yang membukakan hati dan pikiran kita untuk melihat apa yang Tuhan kehendaki.


2.33 Sungguhkah Saya Mengasihi Anak-anak?
Salah satu kasih yang dimiliki Kristus adalah kasih terhadap anak- anak. Contohnya dapat kita lihat dari Markus 10:16, dimana Yesus memeluk anak-anak yang datang kepada-Nya dan meletakkan tangan-Nya atas mereka untuk memberkati mereka. Sudahkah Anda yakin, Anda memiliki kasih yang sama seperti yang Ia miliki untuk anak-anak?
SUNGGUHKAH SAYA MENGASIHI ANAK-ANAK?
Dalam suatu kebaktian sore, seorang pemimpin Sekolah Minggu memberi kesaksian. Ia mengucap syukur kepada Allah bahwa seorang anak laki- laki telah percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya pada Sekolah Minggu pagi itu. Pemimpin itu mengakhiri kesaksiannya dengan mengatakan, "Saya mencintai anak-anak di Sekolah Minggu kami dan saya suka sekali bekerja dengan mereka."
Pemimpin itu telah bekerja di kalangan anak-anak selama berpuluh- puluh tahun, dan orang bisa tahu bahwa ia sungguh-sungguh mencintai anak-anak. Dan cinta inilah yang dapat kita sodorkan dalam Sekolah Minggu tanpa malu-malu. Pemimpin kami itu telah berulang-ulang mengatakan bahwa ia lebih senang terhadap guru yang sungguh-sungguh mengasihi anak-anak daripada seorang guru yang mempunyai pendidikan sebagai guru, tetapi tidak dapat menyatakan cintanya kepada anak- anak.
Jika Saudara mengajar anak-anak, ujilah cinta kasih Saudara kepada mereka dengan patokan-patokan berikut ini:
1. Saya ingin memenangkan anak-anak kepada Kristus.
Anak-anak yang dimenangkan kepada Kristus dapat mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani dan mencintai Yesus. Orang dewasa sering berpikir seperti para murid Yesus yang merasa bahwa pelayanan Yesus itu harus ditujukan kepada orang dewasa -- bahwa mereka itu lebih penting daripada anak-anak. Tetapi Yesus mengarahkan perhatian-Nya kepada anak-anak yang datang bersama dengan ibu mereka untuk bertemu dengan Dia.
2. Saya mengindahkan hak dan perasaan anak.
Apabila saya berjalan di jalanan, di taman, di dalam sebuah toko, saya tidak berjalan bergegas-gegas melewati anak-anak. Saya tersenyum kepada mereka dan memperlakukan mereka sebagai orang- orang yang mempunyai hak dan perasaan.
3. Saya memperhatikan anak-anak ketika saya mengunjungi rumah mereka.
Jika saya mengunjungi rumah teman-teman, saya tidak bersikap acuh tak acuh terhadap anak-anak dalam keterburuan saya untuk bergaul dan bercakap-cakap dengan orangtua mereka. Saya memberi salam kepada anak-anak itu dengan kata-kata yang akrab -- dan dengan demikian, saya memperoleh banyak teman kecil yang baru.
4. Saya lebih sabar dengan anak-anak.
Saya tidak mengharapkan supaya anak-anak itu duduk diam seperti orang besar, menulis atau menggambar sebaik orang besar. Anak- anak masih dalam taraf bertumbuh dan belajar. Jika saya kurang sabar terhadap anak-anak, mungkin disebabkan karena saya mengharap terlalu banyak dari mereka.
5. Saya berusaha hidup sedemikian rupa supaya anak-anak yang mengamati saya itu tak akan tersandung.
Yesus menasihati orang dewasa tentang akibat-akibat yang hebat, yang menimpa orang-orang yang karena teladannya yang buruk, menyebabkan anak-anak jatuh atau tersesat. Seorang anak meniru kehidupan orang-orang dewasa yang dalam lingkungannya.
6. Saya tidak mempermalukan atau menggoda anak-anak.
Seorang dewasa yang sungguh-sungguh mencintai anak-anak tak akan "membangkitkan amarah" mereka. Ada orang-orang dewasa yang tidak mengindahkan perasaan yang lembut dari anak-anak. Mereka mengatai anak-anak itu "malas" atau "nakal" di hadapan anak-anak lain atau di depan orang dewasa.
7. Saya berdoa untuk anak-anak.
Anak-anak adalah cukup penting untuk dicantumkan dalam daftar doa saya. Nama mereka dicantumkan bersama pendeta, para pendeta perintis, dan anggota-anggota gereja yang sakit.
8. Saya mendengarkan anak-anak.
Saya tidak akan menyuruh mereka pergi dengan mengatakan "ya, ya", tanpa mendengarkan betul-betul apa yang mereka katakan. Kalau kita mencintai mereka, maka kita akan meluangkan waktu untuk mendengarkan perkataan anak-anak itu dan menjawab pertanyaan- pertanyaan mereka serta menunjukkan rasa senang atas hasil yang mereka capai.
9. Saya senang bergaul dengan anak-anak.
Baru-baru ini, saya mendengar seorang guru Kelas Pratama berkata, "Saya sungguh senang bergaul dengan murid-murid saya." Apabila saya mencintai anak-anak, waktu yang saya luangkan untuk mereka serasa lari cepat. Saya masuk dalam kesenangan mereka, ke dalam cara berpikir mereka dan cara melakukan ini dan itu, serta menikmati persahabatan mereka.
Apakah rasa cinta Saudara itu memenuhi patokan-patokan di atas ini?
Jika tidak, mohonlah kiranya Yesus memberi cinta kasih yang Saudara butuhkan untuk mengajar anak-anak.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, halaman 179 - 180, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.


2.34 Buku Pedoman Guru
BUKU PEDOMAN GURU
Gereja Dewasa ini memerlukan guru-guru yang terlatih, yang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada persiapan, seluruh hatinya kepada penyajiannya, serta seluruh hidupnya pada pelajaran. Guru harus memiliki satu pedoman yang dapat digunakan untuk mempersiapkan seluruh pelajaran. Dengan adanya buku pedoman, guru dapat mengadakan persiapan yang matang sehingga dapat bersikap tenang di depan kelas, menguasai bahan pelajaran dan memiliki pengetahuan tambahan tentang kebenaran Alkitab.
Dalam mempelajari pelajarannya, seorang guru akan membaca Alkitab. Mula-mula untuk mengetahui ceritanya, kemudian untuk mengetahui kejadian-kejadiannya, berikutnya untuk orang-orang yang disebutkan di dalam cerita itu, lalu memahami doktrin dan ajarannya yang praktis; dan akhirnya untuk mengetahui inti cerita itu. Setelah penyelidikan yang dilakukan sendiri, guru harus mencari keterangan tambahan dari buku pedoman guru dan lain sumber. Dengan mengikuti urutan ini, dia secara pribadi menemukan banyak fakta yang disebutkan di dalam sumber-sumber lain itu dan merasa puas telah meletakkan dasar bagi pengajarannya.
Buku pedoman guru harus melengkapi pengetahuan untuk guru sendiri. Buku itu harus dipakai bersamaan dengan Alkitab, jangan sebagai penggantinya. Setiap guru yang memakai buku pedoman guru tanpa menelaah ayat-ayat Alkitab itu terlebih dahulu tidak mungkin akan menyajikan pikiran-pikiran atau pengajaran yang ditemukannya sendiri.
Buku-buku pelengkap (supplement) lain adalah misalnya buku-buku yang menjelaskan ayat-ayat yang sukar, memberikan contoh dan lukisan yang cocok, dan memberikan keterangan yang diperlukan tentang tata cara dan kebiasaan kuno. Guru hendaknya memakai buku-buku yang berpusat pada Alkitab serta menghormati Kristus sehingga dia bisa memperoleh pengertian, penafsiran, dan penerapan yang benar dari nats Alkitab.
Buku pedoman guru adalah modal yang berharga karena menyediakan bahan pelajaran Alkitab dan keterangan untuk bisa mengerti hubungan bahan ini dengan kelompok usia yang akan diajar.
1. Bahan Pelajaran Alkitab
Buku pedoman guru dapat merupakan sumber penelaahan Alkitab yang bermanfaat, yang berkaitan secara langsung dengan pelajaran. Meskipun pedoman guru itu harus dipelajari, tidaklah perlu membatasi pengajaran dengan isinya. Bacaan Injili bagi program pendidikan di gereja biasanya berisi bahan keterangan alkitabiah yang baik untuk memberikan kepada guru suatu dasar yang luas untuk mengerti isi pelajaran.
2. Memperhatikan Kelompok Usia
Melayani murid-murid berarti memenuhi kebutuhan mereka yang mendalam. Buku pedoman guru dapat menolong guru mengerti murid- muridnya dan kelompok usianya serta melihat bagaimana pengetahuan Alkitab dapat memenuhi masalah kehidupan masa kini. Seringkali dalam buku pedoman diketengahkan masalah-masalah yang sama dengan masalah yang terdapat dalam suatu kelas tertentu, karenaya pelajaran dapat disesuaikan dengan suatu kebutuhan yang telah diketahui.
Seorang guru yang sudah siap tidak perlu melihat buku pedoman selama jam pelajaran. Dengan mengajar dari Alkitab, dia mengingatkan murid-muridnya bahwa pengajaran Kristen berasal dari Firman Allah yang diilhami. Sikapnya terhadap Alkitab menyatakan dengan jelas betapa tinggi mutunya.
BUKU PEDOMAN MURID
Selain buku pedoman guru, dalam pelayanan Sekolah Minggu ada pula buku pedoman untuk murid. Buku Pedoman Murid adalah alat pengungkapan yang penting. Buku itu menggambarkan dan menetapkan tanggapan murid terhadap pengajaran. Buku pedoman itu hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan dan bukannya tujuannya sendiri Guru yang sangat mementingkan kebersihan dan kerapian buku-buku pedoman murid-muridnya itu akan menggagalkan tujuan utamanya.
Dengan anak-anak yang lebih tua, sebaiknya buku pedoman murid itu dipelajari dan dikerjakan di rumah. Atas dasar pekerjaan mereka ini, guru dapat membangun struktur pendidikan yang unggul. Seorang guru yang baik akan meminta kerjasama keluarga si pelajar, karena tanpa kerjasama itu, pelajar hanya membuat sedikit persiapan saja atau tidak sama sekali.
Dalam keadaan-keadaan tertentu, sebagian dari jam pelajaran dapat dipergunakan untuk pelajaran yang diawasi. Pekerjaan tertulis yang ada dalam buku pedoman dapat dikerjakan pada saat ini. Banyak guru yang telah memakai metode ini dengan hasil yang baik. Mereka mematuhi prinsip pendidikan, yaitu mengajar adalah mendapatkan tanggapan.
Untuk anak-anak di atas usia taman kanak-kanak, setiap buku pedoman murid harus meliputi:
1. Pekerjaan Menulis
Mungkin ada tempat kosong yang harus diisi, kalimat yang harus disempurnakan. Tambahan tugas penulisan yang kreatif akan menolong murid untuk menuliskan pengetahuannya dan menyediakan tanggapan pribadi terhadap pengajaran.
2. Pekerjaan Mencari
Murid yang diminta untuk mencari suatu jawaban di dalam Alkitab mungkin sekali akan mengingat keterangan itu. Aktivitasnya akan memberi kesan pada pribadinya dan memperkembangkan inisiatifnya untuk menemukan kebenaran.
3. Pekerjaan Menggambar
Pelajaran itu akan lebih tertanam apabila murid menggambar sebuah peta, tabel, grafik atau gambar. Gambaran ini tidak perlu betul atau sempurna sekali. Peta Palestina mungkin menunjukkan perbatasan, yaitu Laut Tengah, Danau Galilea, Sungai Yordan, dan Laut Mati. Pelajar itu dapat menunjukkan serta menuliskan nama beberapa kota penting. Inilah faktor-faktor ilmu bumi yang pokok bagi pelajaran tentang kehidupan Kristus. Lain-lain hal dapat ditambahkan sementara cerita itu berlangsung.
4. Pekerjaan Menerapkan
Pencarian akan pengetahuan dan pengertian telah mencapai sasarannya ketika murid sanggup mengalihkan ide-ide baru menjadi pengalaman dalam kehidupannya sendiri.
Sumber:
• Clarence H. Benson, Teaching Techniques, halaman 49 - 57, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.


2.35 Guru Kristen
Berbicara tentang "guru Kristen", selalu ada dua hal penting yang patut menjadi perhatian utama kita dalam pembicaraan berikut ini. Pertama, mengenai kedudukan guru sebagai pribadi Kristen. Bagaimana sepatutnya ia memahami dan mengembangkan statusnya sebagai orang Kristen? Kedua, mengenai tugasnya sebagai pendidik dan pengajar. Apakah peranannya sebagai guru dalam melaksanakan tugas keguruan? Bagaimana ia sepatutnya mengemban tugasnya sebagai guru berdasarkan iman Kristiani yang dianutnya?
Bertumbuh di dalam Kristus
Perkara yang sangat penting dikembangkan oleh seorang guru Kristen adalah pengenalan mengenai jati dirinya sendiri sebagai orang Kristen. Kita memahami bahwa orang Kristen adalah "orang yang memberikan dirinya secara penuh kepada Yesus Kristus" (lihat Kis 11:26). Orang Kristen ialah orang yang percaya dan menyambut sepenuhnya kedudukan dan peran Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat dan Raja atas kehidupannya. Pembukaan diri ini sebenarnya dimungkinkan oleh kuasa Allah sendiri, sebagai pekerjaan Allah Roh Kudus yang membuat seseorang memberi respons positif terhadap berita Injil (lihat Roma 1:16-17; 1 Kor 15:3-5). Dengan membuka diri, Roh Kudus berkenan hadir ke dalam hidup dan mendiami diri orang percaya. Dengan demikian, nyatalah permulaan orientasi hidup baru, perubahan hidup, pengertian rohani baru, kuasa dan dinamika hidup baru (Yoh 3:3,5; Roma 8:9-11; 2 Korintus 3:17-18; 5:17).
Kemudian sebagai orang Kristen, guru terpanggil untuk bertumbuh ke arah pengenalan yang semakin mendalam dan lengkap tentang pribadi Yesus Kristus (bandingkan dengan Kolose 2:6-7; Galatia 2:19-20). Pengenalan tentang pribadi Yesus ini akan memungkinkan dia untuk semakin memahami kehendak Allah. Karena Yesus sendiri adalah jalan, kebenaran, dan hidup, membawa orang kepada pengenalan yang sejati akan karya Allah (Yoh 1:18; 14:6). Sebab, Yesus menyatakan dengan tegas bahwa di luar Dia, orang tidak dapat melakukan hal yang benar bagi kemuliaan Allah (Yoh 15:4,5,16). Di samping itu, hanya melalui persekutuan dengan Dialah, seorang guru Kristen semakin menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Dan kebenaran yang dinyatakan Allah kepada setiap orang percaya menyangkut segi kognitif (intelek-pemikiran), segi moral, etis, serta spiritual. Selanjutnya kebenaran yang harus dikejar oleh guru Kristen adalah kebenaran realitis, yaitu yang nyata dalam kehidupan. Kebenaran yang demikian akan berupaya membebaskan manusia seutuhnya (bandingkan dengan Yohanes 8:31-32; 17:17).
Masalah mengikut Yesus tidak saja terbatas kepada bagaimana kita dapat lebih memahami dan mengerti apa yang dilakukan Yesus bagi pengampunan dosa, dan jaminan kehidupan yang akan datang harus diteladaninya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pelaksanaan tugas keguruan. Howard G. Hendriks (Gangel and Hendriks, 1988), mengemukakan bahwa sedikitnya ada enam segi kehidupan Yesus yang senantiasa mengagumkan, yang perlu diteladani oleh seorang guru Kristen.
1. Dalam segi kepribadian, Yesus memperlihatkan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan. Ia pun menuntut kesesuaian itu terjadi dalam diri murid-muridNya.
2. PengajaranNya sederhana, realistis, tidak mengambang. AjaranNya selalu sederhana dalam arti menyinggung perkara-perkara hidup sehari-hari.
3. Ia sangat relasional, dalam arti mementingkan hubungan antar pribadi yang harmonis.
4. Isi beritaNya bersumber dari Dia yang mengutusNya (Mat 11:27; Yoh 5:19). Selain tetap relevan bagi pendengarNya, ajaran Yesus bersifat otoratif dan efektif (Mat 7:28,29).
5. Motivasi kerjaNya adalah kasih (Yoh 1:14; Flp 2:5-11). Ia menerima orang sebagaimana adanya, serta mendorong mereka untuk berserah kepada Allah.
6. MetodeNya bervariasi, namun sangat kreatif. Ia bertanya dan bercerita. Ia melibatkan orang untuk memikirkan masalah yang diajukan. Selain itu, Ia mengenal orang yang dilayaniNya, tingkat perkembangan serta rohani mereka. (The Christian Educator's Handbook on Teaching (halaman 13-29), Victor Books, 1988)
Seorang guru Kristen juga perlu menyadari bahwa peranan Roh Kudus bukan hanya berlangsung dalam rangka pendewasaan iman dan peningkatan kualitas atau kesadaran akan kesucian hidup, tetapi juga di dalam rangka mengemban profesi sehari-hari. Roh Kudus ingin menyatakan kuasa dan kehadiranNya di dalam diri dan melalui orang. Karena itulah guru bidang studi apapun tetap memerlukan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup dan pekerjaannya. Bukan karena mengajar agama Kristen atau memimpin kelompok pemahaman Alkitab, seorang guru membutuhkan kehadiran dan bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus juga menyatakan sifatNya melalui gerak-gerik dan gaya mengajar dari guru. Selanjutnya sifat-sifat yang dipancarkanNya dapat menjadi dinamika hidup dalam hubungan antar pribadi yang menyegarkan dan membangun. Sifat-sifat itu pulalah yang diharapkan mewarnai dan membentuk etos kerja seorang guru sebagai pengajar dan pendidik.
Seorang guru, sebagai pengajar iman Kristen, sudah tentu sangat memerlukan ketergantungan terhadap kuasa, urapan dan kehadiran Roh Kudus. Sebab Dialah yang sanggup membuka mata hati orang untuk memahami kebenaran (bandingkan dengan Efesus 3:16,17,18). Ia pula akan memberikan ide-ide baru dalam masa persiapan, dan bahkan sementara guru melakukan tugas mengajarnya (interaksi belajar-mengajar). Ia memberikan semangat atau entusiasme (Yun: en theos). Ia mampu meyakinkan dan menyadarkan para pendengarnya. Ia membuat interaksi di antara sesama anggota dalam kelompok belajar dinamis sehingga terasa hangat dan bermakna (Yoh 16:11-13; 1 Yoh 2:20,27; 3:24; 1 Kor 2:14). Karena itulah seperti dikemukakan oleh Paulus, orang percaya harus selalu mau dipimpin dan dipenuhi Roh Kudus (Ef 5:18; Gal 5:16,18,25). Melalui kegiatannya, guru dapat mendorong terjadinya suasana ibadah, yang menimbulkan kekaguman dan kemuliaan Allah. Roh itulah yang membawa guru dan peserta didiknya beribadah dalam roh dan kebenaran (bandingkan dengan Yohanes 4:24).
Sumber:
• B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D., Menjadi Guru Profesional Sebuah Perspektif Kristiani, halaman 35 - 38, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.
2.36 Tanggung Jawab Guru
Apa saja yang merupakan tanggung jawab seorang guru Kristen?
1. Menjadi penafsir iman Kristen.
Dialah yang menguraikan dan menerangkan kepercayaan Kristen itu, karena ia harus menyampaikan harta-harta dari masa lampau kepada para pemuda yang akan menempuh masa depan. Gurulah yang dapat mengambil harta benda "Kabar Kesukaan" itu dari perbendaharaan gereja, lalu membagikannya kepada murid-muridnya. Perkara-perkara yang lama itu dibuatnya menjadi baru. Ia membentangkan di hadapan angkatan muda jemaat segala kekayaan pernyataan Allah dalam Yesus Kristus sebagaimana tersimpan dalam Alkitab dan diamanatkan kepada Gereja.
2. Menjadi seorang gembala bagi murid-muridnya.
Ia bertanggung jawab atas hidup rohani mereka; ia wajib membina dan memajukan hidup rohani itu. Tuhan Yesus sudah menyuruh dia: "Peliharakanlah segala anak dombaKu, gembalakanlah segala dombaKu!" Sebab itu seharusnyalah seorang guru mengenal tiap-tiap muridnya; bukan hanya namanya saja, melainkan latar belakangnya dan pribadinya juga. Ia harus mencintai mereka dan mendoakan mereka masing-masing di depan takhta Tuhan.
3. Menjadi seorang pedoman dan pemimpin.
Ia tak boleh menuntun muridnya masuk ke dalam kepercayaan Kristen dengan paksaan, melainkan ia harus membimbing mereka dengan halus dan lemah lembut kepada Juruselamat dunia. Sebab itu ia hendaknya menjadi teladan yang menarik orang kepada Kristus; hendaknya ia mencerminkan Roh Kristus dalam seluruh pribadinya.
4. Menjadi seorang penginjil, yang bertanggung jawab atas penyerahan diri setiap orang pelajarnya kepada Yesus Kristus.
Belum cukup jikalau ia menyampaikan kepada mereka segala pengetahuan tentang Kristus. Tujuan pengajaran itu ialah supaya mereka sungguh-sungguh menjadi murid-murid Tuhan Yesus, yang rajin dan setia. Guru tak boleh merasa puas sebelum anak didikannya menjadi orang Kristen yang sejati.
Seorang guru harus memiliki satu perasaan tanggung jawab di dalam sistem dan tugas pendidikan. Guru SM yang merasa sudah melayani Tuhan padahal kehadirannya tidak tetap dan tidak rajin, adalah guru yang sangat tidak bertanggung jawab. Jika seorang guru sudah menerima tanggung jawab dan rela menerima tugas sebagai guru, maka ia harus rela memikul tanggung jawab itu. Setiap kali Saudara menyebutkan status sebagai guru, harus Saudara sebutkan dengan sangat berat dan penuh beban tanggung jawab.
Menjadi seorang guru harusnya memberikan suatu beban yang berat di dalam hati. Seorang guru bukanlah pekerjaan main-mainan, menjadi guru bukanlah hal permainan atau hal yang boleh dikerjakan secara sembarangan. Sebaliknya seorang guru haruslah masuk ke dalam seluruh kedalaman kebenaran dengan penuh tanggung jawab. Ini suatu hal yang sedemikian serius, karena membawa murid kepada kebenaran menuntut mereka untuk bertanggung jawab dan memberikan respon yang benar menurut kebenaran itu sendiri. Oleh karena itu, seorang guru mempunyai tanggung jawab yang berat kepada murid-muridnya. Setiap tindak-tanduk Saudara, tawa Saudara, bergurau atau bersedih, harus mengandung tanggung jawab. Jangan sembarangan mengatakan hal-hal yang tidak berguna, dan jangan bergurau sedemikian rupa hingga kehilangan jarak dan hormat antara guru dan murid-murid. Jangan sembarangan memberikan janji-janji kosong, yang akhirnya Saudara sendiri tidak dapat memenuhinya, dan jangan melakukan gertakan- gertakan dan ancaman-ancaman yang tidak akan dilakukan. Itu semua akan mengakibatkan mereka tidak lagi hormat kepada Saudara dan tidak lagi memelihara jarak antara murid dan guru, yang akibatnya mereka akan menghina semua perkataan, tindakan dan semua ajaran yang Saudara lakukan.
Kesimpulan kita ialah tugas guru dalam pendidikan agama sangat penting, dan tanggung jawabnya berat. Guru itu dipanggil untuk membagikan harta abadi. Dalam tangannya ia memegang kebenaran ilahi. Dan dalam pekerjaannya ia menghadapi jiwa manusia yang besar nilainya di hadapan Allah. Oleh karena itu jangan sekalipun kita menganggap pekerjaan guru agama itu rendah atau gampang; pada hakekatnya pekerjaan itu tak kurang pentingnya dari pada tugas pendeta. Guru itu juga menjadi seorang pelayan dalam Gereja Kristus yang harus dijunjung tinggi.
Sumber:
• Dr. E. G. Homrighausen dan Dr. I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, halaman 180 - 181, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1993.
• Pdt. Dr. Stephen Tong, Arsitek Jiwa II, halaman 23 - 24, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1993.

III Persiapan
3.1 Membuat Buku Data Anak Sekolah Minggu
Cara terbaik guru mengenal anak adalah dengan membuat buku catatan tentang data-data dari anak-anak didiknya. Dengan data-data yang dikumpulkan itu guru akan lebih mudah mengikuti perkembangan anak, dan betul-betul mengenalnya secara pribadi. Bagaimana caranya mendapatkan data-data anak tsb.?
1. Lakukan kunjungan (visitasi) ke rumah anak dan bertemu dengan orang tuanya.
2. Lakukan wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anak.
3. Lakukan wawancara dengan teman dekat anak untuk melengkapi data yang kurang.
Data-data apa yang perlu dicatat?
1. Nama anak dan Tanggal lahir.
2. Nama orang tua Anak (berikan kesan yang anda dapatkan dari mereka).
3. Jumlah saudara.
4. Alamat rumah (berikan catatan tentang kondisi rumah).
5. Nama sahabat atau teman dekatnya (catat juga kesan dari mereka).
6. Permainan apa yang paling ia sukai.
7. Warna apa yang paling ia sukai.
8. Siapa orang yang paling ia kagumi.
9. Penyakit apa yang sering mengganggunya.
10. Apakah binatang kesayanannya.
11. Nilai-nilainya di sekolah.
12. Ketrampilan apa yang dikuasai (menggambar/menyanyi/dll.).
13. Nyanyian apa yang paling disukai, dan mengapa?
14. Aktivitas apa yang paling ia sukai.


3.2 Mendidik Anak Sekolah Minggu Secara Terencana
Ini berarti: suatu tindakan terencana (yang dipersiapkan sebelumnya) untuk mentransformasikan suatu pengetahuan (atau hal yang hendak diajarkan) kepada anak, sehingga anak terbentuk menjadi pribadi tertentu seperti yang diharapkan (yang tampak dalam kehidupannya sehari-hari). Perhatikan:
• Ulangan 6:1-9, guru diminta mengajarkan secara berulang-ulang, agar anak-anak mencintai Allah setiap saat dimanapun mereka berada.
• Matius 28:19-20, guru diharapkan mengajarkan segala sesuatu yang diajarkan Tuhan Yesus, sehingga mereka menjadi murid Tuhan Yesus.
Seluruh usaha keras guru dalam mendidik atau mengajarkan ajaran-ajaran itu adalah agar seluruh ajaran itu tertransformasi dalam kehidupan sehari-hari anak-anak didiknya.
Artinya anak menjadi subjek yang diharapkan menjadi pribadi mandiri yang mengasihi Allah dengan seluruh totalitas dirinya, dengan cara hidup seperti yang Yesus ajarkan dan teladankan. Itu sebabnya Calvin (reformator) menekankan pentingnya pengajaran jemaat, juga untuk jemaat dewasa dalam kebaktian hari Minggu. Itu sebabnya nama "SEKOLAH MINGGU", sangat tepat untuk kegiatan pendidikan Kristen bagi anak-anak! Karena fungsi "sekolah" memang harus ada dalam sistem pembinaan anak-anak!
Jadi pola hubungan guru-anak seharusnya adalah sebagai berikut:
Guru ===> - Mendidik/mengajar (sesuatu) ===> Anak SM
- Melatih anak (melakukan sesuatu)
- Mendiskusikan (sesuatu hal)
- Melakukan bersama anak (sesuatu hal)
- Memberi kesaksian (pergumulannya)
atau model hubungan guru-anak menjadi:
Subjek ===> (yang saling berbagi) ===> Subjek
Aktif Aktif
Fasilitator Adik seiman
Hayati Firman Hayati Firman
Guru dan anak saling berbagi perasaan, pergumulan, pikiran dan pendapat masing-masing, sedemikian sehingga guru dapat memahami "dunia" anak dan pergumulan mereka. Kemudian guru menyampaikan berita Injil dalam "bahasa anak" dan sesuai dengan "dunia" dan pergumulan anak-anak tersebut. Jadi dalam hal ini anak dibimbing oleh guru (sebagai fasilitator) agar makin mengenal dan mencintai Tuhan Yesus.
Semua upaya pendidikan/pengajaran tersebut, haruslah mempertimbangkan juga berbagai dimensi dalam perkembangan anak, seperti dimensi: kognitif (pengetahuan), afektif ( penghayatan-perasaan), psikomotorik (ketrampilan fisik), umumnya ketiga hal itu saling berkaitan (dan harus diperhatikan) jika dikehendaki hasil pendidikan yang efektif dan memuaskan!
Biasanya guru (banyak Sekolah Minggu) hanya menekankan aspek kognitif (atau aspek pengetahuan) saja dalam Sekolah Minggu, hal itu tampak dari isi dan tujuan cerita guru dan tampak dari aktivitas kelas sesudah cerita, perhatikan contoh berikut:
• Tujuan dan isi cerita guru pada umumnya hanya memberikan pengetahuan atau informasi atau data-data kepada anak-anak Sekolah Minggu.
• Aktivitas kelas biasanya berupa tugas "mengingat" kembali informasi yang sudah diberikan, misalnya:
o Siapakah tokoh-tokoh utama cerita hari ini? Dan hubungan kekerabatan antar tokoh, misalnya: tokoh A "Siapa nama ayahnya?" Berapa saudara? Berapa usianya? Apa kegemarannya?
o Dimanakah tempat terjadinya? Nama kota "X" artinya apa?
o Apa yang terjadi? Bagaimana urutan ceritanya?
Sedangkan aktivitas anak kecil sering berupa keterampilan (psikomotoris) dalam mewarnai, menggambar, dan sebagainya. Untuk anak 7-9 tahun aktivitas sering berupa ketrampilan membuat hasta karya (semacam slip atau pembatas Alkitab, hiasan dinding dan sebagainya). Sedangkan anak kelas besar lebih sering ditekankan kemampuan daya ingatnya, dengan berbagai aktivitas yang menekankan kecerdasan pikiran.
Akibatnya anak-anak pun dinilai dari prestasi daya ingatnya, yang paling pandai mengingat nilai paling tinggi dan sering disebut "anak Tuhan yang baik." Apa benar kebaikan anak dapat diukur sesuai "daya ingat" (kognitif)nya saja? Tetapi kenyataannya anak yang nilai daya ingatnya bernilai baik, belum tentu moralnya baik, belum tentu sopan-santunnya baik, belum tentu jujur dan sebagainya.
Demikian juga anak yang terampil berhasta karya, dan mendapat nilai baik, belum tentu anak yang moral baik, beretika baik! Celakanya, aktivitas hasta karya ini lebih diminati anak putri daripada anak laki-laki, akibatnya anak laki-laki akan memiliki bobot nilai kurang daripada yang putri, apakah ini berarti yang laki-laki kurang pandai? Belum tentu! Karena bidang minat mereka bukan itu! Memang anak laki-laki lebih suka berlari-lari, menyusun balok-balok, dsb. Lalu untuk apa penilaian aktivitas anak di kelas (selama ini) jika aktivitas itu tidak mencerminkan apa-apa? Bahkan terkesan diskriminatif (cenderung bersifat feminim). Penulis khawatir ini juga penyebab mengapa Sekolah Minggu dan gereja secara kuantitas statistik lebih banyak wanita daripada pria. Mungkinkah ada yang salah dalam aktivitas gereja?
Jelaslah ada yang kurang beres dengan sistem penilaian selama ini dalam Sekolah Minggu kita. Bukankah anak seharusnya diharapkan lebih berprestasi dalam soal moral, etika dan hal-hal yang berkaitan dengan perwujudan ajaran Kristen dalam kehidupan. Seberapapun bodohnya anak itu, seberapapun tidak terampilnya anak itu (secara psikomotoris), asalkan ia mencintai Tuhan, anak yang jujur, sopan, bermoral, mengasihi orangtua dan teman-temannya, ia adalah anak yang baik di hadapan Tuhan.
Karena itu, sebenarnya tugas guru lebih pada pengajaran iman dan pengajaran moral daripada pengajaran berbagai pengetahuan atau ketrampilan. Jadi seharusnya lebih bersangkutan dengan dimensi afektif (penghayatan) anak. Tentu saja iman dan moral yang baik juga perlu ditunjang dengan pengetahuan (kognitif) dan dimensi psikomotorik juga. Namun penghayatan merupakan pokok tekanan pengajaran di Sekolah Minggu. Pokok ajaran Kristen (dalam Ulangan 6:4-5), yaitu agar anak mengasihi Allah dengan totalitas hidupnya.
Jadi, tidak cukup anak mengerti/tahu (secara kognitif) tentang Allah dan cerita-cerita Alkitab, tidak cukup anak terampil melipat tangan dan tutup mata (saat berdoa). Lebih dari itu, anak harus sampai pada penghayatan dan kesadarannya sendiri untuk mengasihi Allah dan berdoa pada-Nya, dan memiliki cara hidup yang sesuai dengan ajaran-Nya (dengan moral yang Yesus telah ajarkan). Dengan semangat mengasihi Allah (secara total) semacam ini jugalah, kita menjadi GSekolah Minggu yang melayani dan mengajar anak-anak. Namun sekarang muncul pertanyaan, Sekolah Minggu model apa yang dapat memenuhi tujuan-tujuan pendidikan tersebut di atas?
Kita memerlukan sebuah model Sekolah Minggu, yang menekankan aspek iman dan moral (wujud dari penghayatan iman kepada sesama) daripada aspek pengetahuan saja. Sehingga produk hasil akhirnya adalah anak terbentuk menjadi seorang anak Tuhan yang menghayati cintanya kepada Allah yang sudah mengasihinya, dan seorang anak yang hidup dengan moralitas Yesus, yaitu cara hidup/moral yang sesuai dengan ajaran Yesus. Sekolah Minggu semacam ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak, yang hidup di tengah lingkungan masyarakat yang sering memberikan teladan moral yang buruk dalam hal: keadilan, kejujuran, kebenaran, dan kasih.
Sekolah Minggu dengan tujuan "pembentukan" pribadi anak ini, sangat sulit dibentuk oleh model Sekolah Minggu seperti yang sekarang (bentuk tradisional), yang menjadikan anak hanya objek pasif saja. Jadi perlu adanya model Sekolah Minggu yang membuat anak sebagai "subjek" yang aktif, yang di-"pupuk" agar bertumbuh dalam segala hal ke arah Yesus (Efesus 4:15). Model Sekolah Minggu semacam inilah yang diharapkan menjadi sumbangan buku ini bagi dunia Sekolah Minggu.
Dan masih ada satu masalah lagi, yaitu bagaimana anak-anak dapat bertumbuh, jika ia kurang tertarik dengan suasana kelasnya, kurang tertarik dengan acaranya, atau bahkan tidak tertarik untuk datang ke Sekolah Minggu? Karena itulah perlu dibentuk suatu model Sekolah Minggu yang menarik bagi anak-anak dalam membimbing mereka menjadi anak yang mencintai Tuhannya. Sekaligus membentuk mereka menjadi manusia yang bermoral dan penuh kasih dalam praktik hidupnya.
Sumber:
• Paulus Lie, Teknik Kreatif dan Terpadu dalam Mengajar Sekolah Minggu, halaman 64 - 67, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1999.



3.3 Tukar Ide Program Sekolah Minggu
Rentang waktu diskusi : 21 September 2000 - 30 September 2000
Diskusi dengan topik Tukar Ide Program Sekolah Minggu berjalan cukup hangat dan banyak mendapat respons dari para Anggota Milis e-BinaGuru. Umumnya mail masuk berupa share program dan pertanyaan mengenai ide program dari rekan lain yang dianggap unik dan menarik. Ada juga rekan yang share bagaimana menangani Kelas Remaja dan Batita (khusus untuk Batita telah terkumpul beberapa rekan yang tertarik untuk saling berbagi materi dan pengalaman - tapi tidak menggunakan jalur umum Milis e-BinaGuru).
Berikut saya daftarkan berbagai program yang telah dibagikan oleh rekan-rekan sekalian.
PROGRAM ANAK
Ide Acara / Aktivitas :
• Merayakan Hari Ulang Tahun Anak (setiap bulan)
• Panggung Boneka
• Macam-macam PARTY (chicken, ice cream, T-shirt, biscuit, dsb)
• SIL / SAL dan Bible Camp
• KKR
• Kebaktian Padang / Persekutuan Udara Terbuka
• Rekreasi Anak (di dalam kelas, gereja, kota, dan di luar kota)
• Lomba-lomba, misal: menyanyi
• Latihan tamborine, paduan suara, dsb
• Pembagian rapor
• Persembahan bulanan
• Talent Show
• Graduation Day
• Makan bersama, nonton bersama, dst
• Kebaktian Gabungan Khusus
• Perjamuan kasih.
Ide Pelayanan di luar kelas SM :
• Warta jemaat khusus anak
• Siaran RRI
• Ke Panti Asuhan
• HAPPY: mengisi hari libur Anak dengan berbagai aktivitas yang membangun (masak, science, musik, dsb).
PROGRAM GURU
• Persiapan dan Pembinaan Guru, meliputi hal-hal sbb: teknik bercerita, praktek bercerita, psikologi, memotivasi guru
• Rekreasi Guru
• Lokakarya Guru
• Surat cinta untuk GSM yang mulai undur dari pelayanan SM
• Presensi (kehadiran) Guru
• Perkumpulan Orang Tua Anak Sekolah Minggu.

3.4 Memulai Pengajaran Baru di Sekolah Minggu
Acara kenaikan kelas dapat direncanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Sekolah Minggu masing-masing. Acara kenaikan kelas bisa diadakan secara bersama atau bahkan digabung dengan acara Penetapan Pekerja/guru Sekolah Minggu.
Untuk mengawali acara tahun ajaran baru ini, Sekolah Minggu dapat mengadakan KKR atau ibadah umum yang diikuti oleh semua anak Sekolah Minggu, guru Sekolah Minggu dan pemimpin Sekolah Minggu, yang dilanjutkan dengan acara kenaikan kelas dan acara Penetapan Pekerja.
Pada acara kenaikan kelas, anak-anak dalam kelompok-kelompok kelas yang baru ini didoakan secara bergiliran misalnya: pertama anak Balita dulu, berikutnya anak Kelas Pratama, Madya, dan Tunas Remaja.
Untuk menambah kesan istimewa pada acara kenaikan kelas ini, anak- anak dapat diberi sertifikat kenaikan kelas (sebagian Sekolah Minggu sudah mulai memberikan rapor pada anak-anak Sekolah Minggu), bisa juga diberikan hadiah kecil untuk kenang-kenangan, misalnya hadiah Alkitab atau renungan harian anak untuk anak-anak kelas Pratama karena pada umur itu mereka sudah lancar membaca.
Pada acara Penetapan Pekerja, mula-mula para guru dan pemimpin Sekolah Minggu diperkenalkan pada anak-anak. Selanjutnya pembimbing atau pendeta yang bertugas memimpin jalannya ibadah bersama dapat memberikan sedikit pengantar mengenai pentingnya Pelayanan Anak dan betapa mulianya panggilan mereka untuk melayani. Setelah itu para guru dan pemimpin Sekolah Minggu dipanggil supaya berdiri di depan altar untuk mengucapkan janji, lalu pembimbing atau pendeta mendoakan mereka.
Sebuah contoh janji guru Sekolah Minggu, misalnya:
(Janji diucapkan secara bersama-sama.)
"Dengan pertolongan Allah, saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk mengajarkan Firman Allah, menjelaskan jalan keselamatan, memimpin murid-murid saya kepada Kristus dan mengarahkan mereka di dalam Firman, kehendak dan jalan-Nya. Saya akan setia menghadiri Sekolah Minggu. Saya akan mengunjungi murid-murid saya yang absen, pengunjung-pengunjung, calon-calon murid dan anggota-anggota tetap. Saya akan menghadiri rapat-rapat pekerja dan kursus-kursus pendidikan. Saya juga akan berdoa bagi murid-murid saya, rekan- rekan saya dan pelayanan saya. Saya akan terus belajar untuk meningkatkan pelayanan saya."
Setelah seluruh acara selesai, para guru Sekolah Minggu dapat membawa anak-anak ke kelasnya masing-masing.
Hal yang perlu dilakukan guru Sekolah Minggu untuk memulai pengajaran baru di kelasnya adalah:
1. Persiapan Pribadi
Sebelum memulai kelasnya yang baru ini, guru sebaiknya memiliki persiapan pribadi yang cukup matang, sehingga pertemuan pertama dapat berjalan dengan lancar.
2. Berusaha Mengenal Mereka
Hal yang perlu dilakukan untuk mengenal anak-anak adalah menciptakan suasana keterbukaan dan persahabatan di dalam kelas sehingga anak-anak akan melihat guru sebagai pribadi yang menyenangkan dan yang mau memperhatikan kebutuhan mereka. Hal ini dapat mengurangi kecanggungan yang dirasakan anak-anak saat pertama kali masuk kelas baru.
Selanjutnya guru juga dapat mengadakan acara ramah-tamah atau permainan. Tujuannya untuk menghilangkan kebekuan dan menolong anak maupun guru saling mengenal satu sama lain dengan sebaik-baiknya. Selain itu, guru juga akan memperoleh pengertian yang lebih baik mengenai keadaan masing-masing anak.
3. Bersandar pada Roh Kudus
Hal terpenting dalam memulai kelas baru adalah tetap memohon pertolongan Roh Kudus agar guru Sekolah Minggu peka terhadap tanda-tanda, baik dalam percakapan maupun tingkah laku anak, yang dapat menunjukkan kebutuhan-kebutuhan khusus dalam diri dan kehidupan anak-anak tersebut. Dengan demikian guru dapat benar-benar mengenal anak-anak itu dan mengetahui kebutuhan pribadi tiap-tiap anak sehingga dapat melayani mereka dengan efektif.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, halaman 58 - 59; 199 - 200, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.

3.5 Pembagian Kelas
"Yesus membawa kedua belas orang pengikut-Nya menyendiri, lalu berkata kepada mereka, "Perhatikanlah baik-baik!" (Lukas 18:31)
Meskipun Tuhan Yesus sering berkotbah di hadapan banyak orang, namun sebagian besar pelayanan-Nya ditujukan kepada perseorangan atau kelompok kecil saja. Dalam kitab-kitab Injil sering kita temukan kata-kata seperti, "Yesus memanggil kedua belas orang pengikut-Nya menyendiri...", "Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu....". Dan dengan "kelas"-Nya yang terdiri dari dua belas murid atau pelajar itu, mulailah Yesus mengajar. Dia ingin agar mereka mengetahui misi-Nya untuk datang ke bumi ini, dan mengajarkan kepada mereka tanggung jawab untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia.
Murid-murid Yesus selalu ada bersama-sama dengan Dia di antara orang banyak, tetapi apabila Dia ingin mengajarkan sesuatu kebenaran khusus kepada mereka, Dia membawa mereka menyendiri. Kristus tahu bahwa hal mengajar yang sesungguhnya bukan sekedar berbicara kepada orang banyak saja. Mengajar berarti bahwa murid-Nya belajar, dan belajar meminta perubahan untuk terjadi dalam pikiran dan tindakan murid-murid-Nya.
Kristus tahu keuntungan-keuntungan mengajar di kelompok kecil. Perhatikan beberapa cara mengajar yang dapat kita pelajari dari teladan-Nya:
1. Yesus kenal murid-murid-Nya dan mengetahui kebutuhan mereka -- Dia berkunjung ke rumah mereka, Markus 1:29.
2. Dia mengadakan hubungan pribadi yang sangat penting bagi pengajaran yang baik -- Dia memanggil mereka dengan nama mereka, Yohanes 21:15.
3. Dia mengerti dan memecahkan keperluan dan masalah pribadi mereka -- Dia menjawab pertanyaan mereka, Yohanes 14:5-6.
4. Yesus mengajarkan kebenaran-kebenaran yang baru dan sukar dalam hubungannya dengan apa yang telah mereka ketahui -- Dia berbicara mengenai tanah dan benih untuk menolong mereka memahami hal "menaburkan Firman Allah", Markus 4:2-3,10,14.
Dewasa ini ada guru-guru yang belum mengetahui rahasia ini. Mereka berusaha keras untuk mengajar di kelompok-kelompok yang besar, padahal Yesus, Guru Agung itu, tidak melakukan hal seperti itu! Dua belas orang dalam sebuah kelas pasti merupakan jumlah yang baik -- jumlah itulah yang ada dalam kelas Yesus. Ikutilah teladan Kristus dengan mengadakan kelas-kelas yang kecil dalam Sekolah Minggu.
1. MENGGOLONGKAN MURID-MURID
Ada tiga golongan atau kelompok yang umum dalam masyarakat, yaitu orang dewasa, kaum remaja, dan anak-anak. Umur-umur yang biasa ditetapkan bagi ketiga kelompok ini adalah:
• Dewasa = usia 26 tahun ke atas;
• Remaja/Pemuda = usia 13-25 tahun; dan
• Anak-anak = usia 12 tahun ke bawah
• (bayi = usia 0-3 tahun, termasuk dalam kelompok anak-anak).
Masing-masing kelompok umur mempunyai kemampuan belajar dan kebutuhan yang berbeda-beda, antara kelompok yang satu dengan kelompok umur yang lain. Karenanya, masing-masing kelompok harus diajar dengan cara-cara yang berbeda pula. Jelas sekali bahwa seorang laki-laki lulusan perguruan tinggi, yang mengepalai satu perusahaan, sudah berkeluarga dan mempunyai empat orang anak, akan mempunyai kebutuhan dan kemampuan belajar yang berbeda dengan seorang anak laki-laki usia 10 tahun yang masih bersekolah di Sekolah Dasar. Mengajar harus dilakukan dengan cara yang sedemikian rupa yang sesuai dengan kemampuan yang ada serta memenuhi kebutuhan pribadi mereka.
Pada masing-masing kelompok umur yang disebutkan di atas, masih terdapat juga banyak perbedaan. Karenanya, harus ada sejumlah kelas dalam tiap-tiap kelompok umur yang umum.
Pembagian Kelas untuk Anak-anak:
Harus diadakan banyak kelas untuk anak-anak. Bahkan dalam Sekolah Minggu terkecilpun harus ada Kelas Kanak-kanak (4-6 tahun), Kelas Pratama (7-9 tahun) dan Kelas Madya (10-12 tahun). Ketika sekolah Minggu berkembang dan setiap kelas makin banyak jumlah anggotanya, maka kelas-kelas tersebut sebaiknya dibagi menurut umur dan jumlah maksimal dalam kelas. Akan lebih baik jika jumlah anak tidak melebihi 15 orang dalam satu kelas. Jadi Sekolah Minggu didorong untuk mengadakan banyak kelas anak-anak dengan tempat dan gurunya sendiri-sendiri.
Bayi, umur 0-3 tahun, harus selalu ikut ibunya! Jangan mereka disuruh duduk dengan kakaknya atau dibiarkan berjalan ke sana ke sini. Taraf pengertian mereka tidak sama dengan anak-anak yang berumur 4 dan 5 tahun. Kalau ada di kelas yang sama mereka akan menyebabkan anak-anak yang lebih besar tidak bisa belajar. Seorang wanita, yang pandai mengasuh anak-anak, dapat diminta untuk menjaga semua anak umur 0-3 tahun dalam sebuah kelas bayi selama jam Sekolah Minggu. Memang ada hal-hal yang bisa diajarkan kepada anak batita (anak di bawah usia tiga tahun) tetapi harus sesuai dengan taraf pengertian umur mereka. Jadi adakan sebuah kelas khusus untuk anak umur 2-3 tahun.
2. MEMBAGI KELAS-KELAS
Bilakah sebuah kelas harus dibagi menjadi dua kelas terpisah? Kelas-kelas Sekolah Minggu idealnya memiliki 8 sampai 15 anak saja. Namun demkian, jika misalnya ada 16 anak, tidak berarti anda harus menyuruh yang seorang pulang! Setiap kelas kadang-kadang juga akan kedatangan anak-anak baru (tamu) setiap minggunya. Jika yang hadir secara rutin mencapai sekitar 20 orang, kelas itu sebaiknya dibagi dalam dua kelompok, masing-masing dengan seorang guru dan tempat pertemuan yang berbeda.
Kelas yang memiliki jumlah anak yang terlalu banyak ada kerugiannya. Seorang guru mempunyai kewajiban tertentu yang hampir tidak mungkin dilaksanakan jika kelas itu beranggotakan lebih dari 30 orang. Kebutuhan-kebutuhan berikut ini perlu diingat sebagai kewajiban yang harus dipenuhi guru:
a. Kebutuhan Rohani
Seorang guru harus memenuhi kebutuhan rohani setiap anak dalam kelasnya. Untuk mengetahui kebutuhan itu, seorang guru harus mengenal murid-muridnya. Simaklah pertanyaan-pertanyaan ini:
• Dapatkah saudara memanggil tiap-tiap murid menurut namanya?
• Tahukah saudara dimana mereka tinggal?
• Pernahkah saudara mengunjungi mereka?
• Sudahkah mereka dilahirkan kembali?
• Sudahkah mereka dipenuhi Roh Kudus?
• Siapakah nama sahabat-sahabat mereka?
• Pernahkah mereka bersaksi tentang Kristus dan memenangkan jiwa bagi-Nya?
• Apa yang sebenarnya saudara ketahui tentang masing-masing murid?
• Jika saudara tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupannya di luar gedung gereja, bagaimana saudara dapat memenuhi kebutuhan emosi dan rohaninya?
Dan jika saudara mempunyai kelas yang beranggotakan lebih dari 15-20 anak, saudara tidak akan bisa mengenal tiap-tiap anak secara pribadi.
b. Perkunjungan
Kelas harus dibagi jika menjadi lebih besar, sehingga saudara bisa mengetahui siapa anak baru, dan siapa yang tidak hadir. Orang-orang tersebut harus dihubungi atau dikunjungi oleh guru. Jika kelas itu terlalu besar, sukarlah mengadakan perkunjungan yang diperlukan.
c. Pengajaran yang Efektif
Memang sulit untuk tetap menawan perhatian kelas dan memberi pelajaran yang memenuhi kebutuhan masing-masing murid, jika kelas itu terlalu besar. Jika jumlahnya besar, tempat duduk seringkali kurang mencukupi. Murid-murid tidak akan belajar dengan baik jika mereka terlalu berdesak-desakan. Untuk mengajar dengan efektif, bagilah kelas-kelas yang terlalu besar menjadi kelas yang lebih kecil.
3. MEMPERSIAPKAN PEMBAGIAN KELAS
Pengurus/pemimpin Sekolah Minggu bertanggung jawab untuk memikirkan dan merencanakan pembagian kelas-kelas di Sekolah Minggu, termasuk kemungkinan pembentukan kelas-kelas baru sebagai akibat dari perkembangan pelayanan yang berhasil. Ada tiga hal yang diperlukan dalam perencanaan ini:
a. Guru-guru yang Memenuhi Persyaratan
Pengurus/pemimpin Sekolah Minggu bertanggung jawab untuk mengadakan pendidikan atau training bagi guru-guru SM, supaya tersedia guru-guru yang memenuhi syarat, yang mampu mengajar di kelas-kelas secara bertanggungjawab. Lebih-lebih jika SM merencanakan untuk memperluas dan mengembangkan pelayanannya, maka dibutuhkan guru-guru baru yang sudah lebih dahulu dilatih untuk mengajar dan memimpin kelas-kelas baru.
b. Tambahan Ruangan Kelas
Salah satu masalah dalam pembagian kelas adalah sulitnya menyediakan tempat untuk pembentukan kelas-kelas baru yang dibutuhkan. Jika tidak ada tempat dalam gedung yang sedang dipakai, maka seluruh anggota gereja dapat bekerja sama untuk membangun ruangan-ruangan Sekolah Minggu atau menemukan tempat-tempat baru sebagai suatu antisipasi terhadap pertumbuhan pelayanan SM. Dengan limpah Allah akan memberkati gereja yang memiliki pandangan untuk ingin selalu bertumbuh.
Gedung sekolah yang dekat dengan gereja atau rumah jemaat yang berdekatan dengan gereja boleh juga menjadi alternatif tempat baru. Lakukan pendekatan yang baik dengan jemaat tsb. dan bicarakan kebutuhan untuk satu ruangan yang dapat dipakai tsb. untuk satu kelas SM. Yakinkan bahwa ruangan yang akan dipakai tsb. akan dipelihara dengan baik dan ditinggalkan dalam keadaan bersih dan rapi setelah dipergunakan untuk Sekolah Minggu. Tunjukkan sikap penghargaan dan rasa hormat terhadap pemilik rumah. Apabila di kemudian hari tempat itu tidak diperlukan lagi, jangan lupa menyampaikan terima kasih kepada mereka.
c. Membuat Perencanaan
Buatlah rapat bersama dengan semua guru SM, bahkan dengan pengurus gereja untuk membicarakan dan merencanakan bersama tentang pembagian kelas dan bagaimana mengantisipasi pembentukan kelas-kelas baru. Para guru harus ikut bekerja bersama jika kelas mereka harus dibagi.
Masalah pembagian kelas berhubungan erat dengan seberapa jauh gereja ingin agar Sekolah Minggunya berkembang. Oleh karena itu sebelum mengadakan berbagai acara untuk "memenangkan jiwa baru" (misalnya, mengadakan acara Pekan Anak-anak, KKR, dll.) harus dibuat rencana persiapan dengan matang tentang pembagian kelas- kelas. Karena jika kehadiran jumlah anak-anak yang datang ke Sekolah Minggu meningkat, maka hal ini akan mengubah keadaan kepadatan kelas, sehingga perlu dipikirkan lebih dahulu bagaimana mempersiapkan kelas-kelasnya. Jangan membagi kelas setelah kelas menjadi besar, karena secara psikologis anak-anak baru akan menjadi kecewa kalau ternyata mereka harus berpisah dengan teman- teman yang baru dikenalnya. Oleh karena itu lebih baik menyiapkan kelas kecil untuk menjadi besar daripada membagi kelas besar menjadi kelas kecil.
Pada waktu yang bersamaan perlu dipikirkan apa saja yang diperlukan ketika kita ada pembagian kelas-kelas baru. Ada tiga hal yang perlu dipersiapkan yaitu: kebutuhan untuk adanya guru- guru baru, ruangan kelas baru dan penambahan bahan pelajaran (karena bahan yang ada pasti sudah tidak mencukupi lagi).
4. KAPAN SEBUAH KELAS PERLU DIPECAH MENJADI DUA?
Mengapa perlu membagi kelas besar dan menjadikannya dua kelas? Karena sukar dan hampir tidak mungkin untuk seorang guru mengajar dengan efektif dalam sebuah kelas yang terlalu besar. Kapan waktu yang tepat untuk membagi sebuah kelas? Ketika jumlah yang hadir mulai konstan sekitar 20 orang.
Tujuan guru mengajar di kelas adalah untuk memenuhi kebutuhan pribadi muridnya. Guru mengajar sesuai dengan kemampuan murid agar murid dapat mengerti dan belajar apa yang kita ajarkan. Dalam kelas yang cukup kecil murid akan mendapat perhatian pribadi, maka akan terjadi hal-hal yang menakjubkan. Mereka tidak saja belajar dan mengalami perubahan (alasan untuk mengajar), tetapi mereka juga akan rindu membawa teman-teman mereka untuk juga menikmati apa yang mereka sendiri telah nikmati. Demikianlah jumlah murid di kelas akan bertambah secara alami!
Jika kemudian kelas saudara bertambah secara konstan dan mencapai jumlah yang terlalu besar, maka sudah saatnya anda membaginya menjadi dua kelas. Dengan perhatian yang cukup dan pengajaran yang baik, ke dua kelas tersebut akan terus bertumbuh. Tidak lama kemudian saudara sudah mempunyai dua kelas lagi yang cukup besar untuk dibagi lagi - sehingga menjadi empat kelas! Itulah suatu hal yang mengherankan, sebab biasanya proses membagi adalah membuat sesuatu hal menjadi lebih kecil. Tetapi kelas-kelas yang lebih kecil dengan guru-guru yang menaruh perhatian pada murid-muridnya tidak akan tetap kecil. Karenanya kita dapat mengatakan bahwa membagi dan membuat kelas-kelas baru akan menambah kehadiran Sekolah Minggu. Suatu mujizat telah terjadi! Jadi, marilah kita membagi dan menambah!
Sumber:
• AGLC-Teaching Ministries Accra, Ghana, Pola Dasar Perkembangan Sekolah Minggu, halaman 18 - 23, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang.


3.6 Persiapan Pelajaran untuk Sekolah Minggu
Penting sekali bagi para GSM untuk mempersiapkan pelajaran sebaik-baiknya. Untuk lebih memperkaya penemuan guru, gunakanlah beberapa buku yang dapat membantu, misalnya konkordansi Alkitab, peta Alkitab, buku tafsir Alkitab, atau buku-buku pengantar Alkitab terutama tentang latar belakang sejarah atau adat istiadat jaman Alkitab.
1. Siapkan hati Anda dan berdoa.
2. Lalu bacalah buku pedoman pelajaran dengan teliti.
3. Bacalah dengan penuh perhatian seluruh bagian/nats Alkitab yang ditentukan sebagai pelajaran, seakan-akan bagian itu masih baru sama sekali bagi saudara. Jika cerita itu diambil dari salah satu Injil, bandingkanlah dengan cerita yang sama (ayat-ayat paralel) yang diceritakan di Injil-injil lain, untuk mencari keterangan lebih lanjut.
4. Pelajarilah keadaan itu seluruh kata demi kata, dengan mencari arti istilah-istilah yang penting dalam kamus biasa atau kamusAlkitab, lalu bacalah apa yang dikatakan tafsiran atau buku-buku lain mengenai bagian itu.
5. Pelajarilah keadaan tempat dan adat masyarakat yang dipergunakan dalam cerita itu, untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai tempat di mana peristiwa itu terjadi. Misalnya apakah waktunya pagi atau sore, bagaimanakah pakaian penduduknya, bagaimana sifat-sifat tiap-tiap orang di dalam cerita itu, bagaimana suara serta roman mukanya.

"Ciumlah" tanah dan tasik dan gunung-gunung. "Dengarkanlah" pukulan ombak-ombak, suara keledai dan kudanya, dan kicauan burung-burungnya. Lukiskanlah cuaca, pemandangan alam sekitarnya, rumput atau gurun pasir, padang gurun yang berumput atau yang bergunung-gunung, angin yang dingin atau panas, suara anak-anak yang menjerit tinggi, suara anak-anak yang menangis, angin yang menderu, atau melentingnya uang logam. Pendek kata, terjunlah ke dalam cerita itu sendiri, kemudian saudara dapat menyampaikannya kepada anak-anak sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Fakta-fakta sebanyak-banyaknya haruslah dikumpulkan!
6. Tentukan metode (atau penggabungan beberapa metode) yang paling baik dalam penguraian pelajaran ini. Apakah Anda bermaksud untuk menerangkan bahwa Allah menyertai mereka di mana pun mereka berada? Tunjukkan gambar-gambar dari tempat-tempat itu. Misalnya di atas kapal, di dalam rumah, di tempat ibadah, di jalan-jalan dll. Sebaiknya Anda mencatat metode-metode yang akan dipergunakan dalam setiap pelajaran.
7. Buatlah rencana pelajaran Anda sendiri. Bagian ini akan menolong mempersatukan persiapan dan menempatkan tujuan pelajaran di hadapan Anda, dan membantu Anda menyusun bahan-bahan pelajaran yang akan disampaikan dalam satu jam pelajaran itu.
8. Rencanakan untuk partisipasi murid: Pokok-pokok yang termasuk dalam rencana pelajaran ini berbeda-beda sesuai dengan kelompok umur.

Seorang guru kelas kecil (Permulaan) harus mempersiapkan nyanyian-nyanyian, cerita-cerita, permainan-permainan, pertunjukan-pertunjukan dan banyak aktivitas fisik lainnya. Murid-murid kelas besar (Pratama) dapat membuat soal-soal di dalam buku catatan mereka sebagai bagian tetap dari partisipasi murid. Guru yang mengajar Kelas Dewasa harus mempersiapkan beberapa minggu sebelumnya untuk membahas topik-topik yang berhubungan. Renungkanlah dan tulislah pertanyaan-pertanyaan yang memancing pikiran yang dapat digunakan dalam pelajaran.
Lalu rencanakan tugas untuk minggu berikutnya.
Sumber:
• Mavis L. Anderson, Pola Mengajar Sekolah Minggu, halaman 31 - 33, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.
• J. Reginald Hill, Penuntun Sekolah Minggu, halaman 32 - 33, Yayasan Komunikasi Bina Kasih.


3.7 Persiapan Sebelum Waktu Mengajar
Ada tahap-tahap penting dalam pekerjaan kita yang sering kali kita lalaikan. Tahap-tahap ini harus direncanakan sebaik-baiknya, sama seperti jam pelajaran untuk mengajar. Rencana persiapan tidak hanya dipersiapkan di rumah (jauh-jauh hari sebelum hari mengajar), tapi juga ketika hari mengajar sudah tiba, yaitu ketika kita hadir di kelas! Oleh karena itu sebelum pelajaran dimulai, bahkan sebelum saat murid-murid hadir, kita sudah harus mulai melaksanakan persiapan.
WAKTU SEBELUM MENGAJAR
Waktu untuk mengajar di Sekolah Minggu sesungguhnya terlalu singkat untuk dapat mencapai semua tujuan kita, akan tetapi waktu dapat ditambahkan sepuluh atau lima belas menit jikalau Anda merencanakan suatu waktu tambahan sebelum pelajaran dimulai. Anda harus tiba sebelum murid pertama datang dan membuat satu rencana tertentu untuk waktu tambahan itu. Rencana Anda untuk mengisi waktu sebelum mengajar, termasuk pula partisipasi murid untuk mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan tingkat umur mereka.
1. Tingkat Asuhan atau Persiapan:
Menempel gambar-gambar di papan tulis sementara Anda menerangkan, "Siapa yang sedang bersama anak-anak itu? Ia kelihatannya seperti sahabat mereka! Saya gembira bahwa Yesus juga sahabat saya."
2. Tingkat Pratama:
Menulis sebuah ayat Alkitab di papan tulis; melukis sebuah desa Palestina atau sebuah lokasi pengabaran Injil.
3. Tingkat Madya:
Membuat sebuah buku yang berisi guntingan-guntingan artikel ttg. pengabaran Injil, kartu ucapan selamat bagi para orang tua yang sakit, map dari bahan flanel, atau maket sebuah kota-kotaan pada jaman Alkitab.
4. Tingkat Remaja:
Mempersiapkan suatu dewan pengurus untuk menerbitkan sebuah majalah pengabaran Injil, mencari bahan-bahan dari kamus atau konkordansi Alkitab untuk dipakai dalam diskusi kelas, atau merencanakan suatu program kebaktian.
Kegiatan-kegiatan lain yang dapat dilakukan dalam waktu itu mungkin termasuk mempelajari nyanyian-nyanyian baru, membaca buku, membantu guru mengadakan persiapan-persiapan. Pergunakan waktu itu untuk menolong mencapai tujuan-tujuan, tetapi jagalah agar Anda tidak mempergunakan waktu jam pelajaran atau mempergunakan bahan-bahan yang akan digunakan minggu depan dalam pelajaran minggu ini.
DOA
Doa merupakan bagian dari mengajar yang memerlukan pertimbangan dan persiapan dari pihak guru. Anda mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mendidik murid-murid Anda untuk berdoa.
Sementara Anda berdoa di depan kelas, Anda memberikan satu contoh bagaimana caranya berdoa. Apakah doa Anda dapat dimengerti oleh para murid? Dapatkah mereka mengikuti doa-doa Anda? Adakah hal-hal khusus untuk doa pujian, permohonan-permohonan istimewa dan permintaan mendesak untuk dikemukakan dalam doa pada minggu itu? Rencanakanlah lebih dulu supaya anak-anak itu ikut ambil bagian dalam doa di kelas dan masukkanlah dalam rencana Anda cara-cara untuk mendorong menjalani suatu kehidupan yang beribadat setiap hari.
Kalau Sekolah Minggu Anda terbagi-bagi dalam berbagai kelas, waktu doa pembukaan bersama inilah yang penting sekali. Mulailah jam pelajaran dengan doa, kalau dapat oleh seorang murid; kemudian barulah mulai dengan pelajaran. Kelas-kelas dewasa terkadang memerlukan perhatian khusus karena jam pelajaran itu dapat lebih digunakan sebagai pertemuan doa daripada jam pelajaran. Anda harus hadir dalam kebaktian doa gereja dan mendorong murid-murid Anda untuk menghadirinya juga.
ULANGAN
Apakah yang Anda selesaikan minggu lalu? Bagian pelajaran manakah yang cocok dengan pelajaran saat ini? Siapkanlah satu tinjauan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Hindarkanlah cara-cara yang membosankan seperti, "Nah, pelajaran apa yang kita pelajari Minggu yang lalu?" (Apakah Anda sendiri ingat jikalau Anda tidak cukup mempersiapkan diri?)
Anda dapat menulis satu pertanyaan yang merangsang mereka untuk berpikir atau satu kalimat tidak sempurna pada papan tulis. Suatu ulangan, suatu teka-teki, suatu latihan mencari ayat-ayat dapat dijadikan satu dasar untuk mengulang pelajaran. Latihan mencari ayat-ayat Alkitab ini menarik sekali. Setiap murid harus siap memegang Alkitab. Jika mendengar aba-aba mulai, lalu segera membuka Alkitabnya dan mencari ayat yang disebutkan oleh guru. Gambar-gambar dan peta-peta juga merupakan bahan-bahan penolong untuk mengulangi pelajaran. Persiapkan ulangan itu dengan baik.
MENGAKHIRI PELAJARAN
Apa yang terjadi pada waktu lonceng tanda pelajaran berakhir berbunyi? Tentunya sukar menarik lagi perhatian mereka pada waktu itu, karena itu aturlah supaya pelajaran mencapai puncaknya sebelum lonceng berbunyi.
Rencana untuk bagian akhir pelajaran meliputi pengulangan secara singkat dengan menggarisbawahi pelajaran untuk minggu berikutnya, pemberian pekerjaan rumah dan doa penutup. Sebelum bubar, ajaklah seluruh kelas mengikuti kebaktian umum (jikalau Sekolah Minggu disusul dengan kebaktian). Buatlah rencana khusus untuk maksud ini.
Sumber:
• Mavis L. Anderson, Pola Mengajar Sekolah Minggu, halaman 33 - 35, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.


3.8 Kurikulum di Sekolah Minggu
Pertanyaan yang sering diungkapkan oleh orang-orang yang terlibat dalam pendidikan Kristen, termasuk di sini adalah para Guru Sekolah Minggu, adalah: "Seperti apakah kurikulum yang baik itu? Kurikulum yang bagaimana yang sebaiknya dipakai dalam Sekolah Minggu di gereja kita?"
Sebenarnya tidak ada satu jawaban yang persis sama bagi setiap penanya, karena masing-masing gereja dan Sekolah Minggu memiliki keunikan dan tantangannya sendiri. Ada gereja dan orang-orang tertentu yang kurang setuju dengan penggunaan kurikulum. Mereka berpendapat bahwa wewenang tertinggi seharusnya ada pada Alkitab itu sendiri dan bukan pada "pandangan" si Penulis kurikulum. Bisa dimengerti bahwa ada kekuatiran yang timbul, dimana para guru akhirnya akan lebih "bersandar" dan "mengandalkan" materi kurikulum yang siap pakai daripada menggalinya sendiri dari Alkitab.
Sebenarnya, kurikulum dibuat untuk menolong para guru. Pekerjaan menyusun sebuah kurikulum bukanlah pekerjaan yang mudah. Ini membutuhkan kerjasama tim ahli, baik dari bidang teologia maupun pendidikan. Para pekerja awam, termasuk Guru Sekolah Minggu, jelas akan menemui banyak kesulitan bila dituntut untuk membuat kurikulum pengajarannya sendiri.
Mengingat bahwa wewenang tertinggi tetap ada pada Alkitab itu sendiri, maka tiap-tiap orang Kristen secara pribadi bertangung jawab untuk menyelidiki Alkitab dan melihat kalau-kalau apa yang disampaikan dalam materi kurikulum yang digunakan ternyata tidak sesuai dengan ajaran Firman Tuhan.
A. Arti Kurikulum
Menurut Dr. D. Campbell Wyckoff, dalam bukunya Theory and Design of Christian Education Curriculum:
Kurikulum adalah alat komunikasi yang direncanakan dengan sangat hati-hati, yang digunakan oleh gereja dalam bidang pengajarannya agar iman dan hidup Kristen dapat dikenal, diterima dan hidup.
Disebutkan di atas bahwa "Kurikulum direncanakan dengan sangat hati-hati" maksudnya bahwa Penyusun Kurikulum akan menghabiskan waktu dan tenaganya untuk berfikir, merancang dan merencanakan segala sesuatu yang perlu agar kurikulum tersusun dengan baik.
"Alat komunikasi" mengandung maksud bahwa kurikulum melibatkan dialog antar satu orang dengan yang lainnya.
"Digunakan oleh gereja" ini menunjuk gereja secara menyeluruh, semua anggotanya, gereja sebagai tubuh Kristus yang hidup.
"Dalam bidang pengajarannya" meliputi semua kegiatan dan program yang mengutamakan pengajaran dan pengasuhan sebagai bagian penting dalam usaha memperlengkapi setiap orang menjadi pelayan Allah dan murid Yesus Kristus.
"Agar iman dan hidup kekristenan dapat dikenal, diterima dan hidup" menggambarkan isi dan tujuan pengajaran gereja. Ini bukan sekedar mempelajari beberapa informasi mengenai Tuhan Yesus Kristus, tidak juga sekedar menyatakan apa yang dipercayai seseorang. Namun lebih dari pada itu, hal ini melibatkan praktek dan hidup seseorang sebagai ungkapan pengetahuan dan kepercayaannya.
Pandangan mengenai kurikulum ini sama cocoknya bagi gereja besar maupun kecil.
Dalam konteks Sekolah Minggu, kurikulum adalah susunan bahan Alkitab yang mencakup materi/isi Alkitab, media mengajar, aktivitas belajar, tujuan pembelajaran bagi kegiatan belajar mengajar di Sekolah Minggu.
B. Manfaat Kurikulum
Menggunakan atau tidak menggunakan kurikulum, toh Firman Tuhan tetap diajarkan di Sekolah Minggu. Benar! Tapi, ada manfaat yang lebih bila Sekolah Minggu menggunakan kurikulum, antara lain:
1. Kurikulum memungkinkan adanya pendekatan khusus yang cocok / sesuai dengan ciri-ciri perkembangan usia anak.
Kurikulum yang baik menyediakan materi pelajaran secara bertahap menurut keperluan, minat, kemampuan dan perkembangan anak. Beberapa cerita atau pelajaran Alkitab akan terlalu sukar dimengerti oleh anak-anak yang masih kecil. Penggunaan kurikulum dapat menolong guru merangkaikan bagian-bagian Alkitab yang akan diajarkannya sekaligus memberikan panduan mengenai cara pendekatan yang sesuai untuk tiap-tiap kelompok usia anak.
Adanya kurikulum juga memungkinkan terjadinya perencanaan pelajaran yang menyeluruh, yang disusun secara teratur untuk tiap-tiap kelompok umur dalam satu masa periode tertentu.
2. Di dalam kurikulum biasanya termuat berbagai ide dan teknik belajar-mengajar, alat peraga, dan perlengkapan mengajar lainnya.
Para pekerja awam atau Guru Sekolah Minggu, sepandai-pandainya dia mengajar, tentulah kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya terbatas juga. Sementara dunia pendidikan terus maju dengan hadirnya berbagai teknik dan cara pengajaran yang baru, berbagai alat peraga dan perlengkapan mengajar yang canggih, serta munculnya ide-ide baru dalam konsep pendidikan itu sendiri, jelas para pekerja awam tidak sanggup mengikuti semua perkembangan itu dengan baik.
Tetapi, para Penyusun Kurikulum justru mampu memberi masukan yang berharga untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan guru.
3. Kurikulum menolong guru mencapai sasaran yang jelas dalam mengajar, menyediakan pelajaran yang seimbang dan sistematis.
Saat seorang guru Sekolah Minggu mulai mengajar, kemungkinan ia dapat menggunakan beberapa persedian cerita Alkitab yang ia sukai. Namun ada saatnya persediaan cerita yang dia miliki akan habis.
Mungkin untuk mengatasi hal tersebut dia akan memulai dari permulaan Alkitab, namun dengan berjalannya waktu dia akan menemui kesulitan juga, karena mengajar menurut urutan Alkitab tidaklah mudah. Selain itu, "main comot" kisah ini itu dari Alkitab tidak akan membawa arah yang jelas dalam pengajaran Firman Tuhan.
Untuk itulah kurikulum yang berisi susunan materi / isi Alkitab yang seimbang dan sistematis diperlukan untuk memudahkan tugas guru itu sendiri dalam menyampaikan Firman Tuhan pada anak-anak.
Nilai penting sebuah kurikulum dapat diibaratkan sebagai menu makanan yang disusun oleh seorang ibu rumah tangga yang baik. Jika makanan yang disajikan selalu sama, tentu akan membosankan seisi rumah. Karena secara rohani anak membutuhkan "makanan yang bergizi" dan bervariasi, sesuai dengan tingkat umur dan pemahaman serta pola pikir yang telah mereka capai, kehadiran kurikulum memungkinkan penyusunan menu makan yang sehat dan seimbang tersebut. Melaluinya, 'nafsu makan' anak dipelihara dan mereka dapat bertumbuh secara rohani. Inilah tujuan sebuah kurikulum.
Sumber:
• Lawrence O. Richards, Mengajarkan Alkitab Secara Kreatif, BabMemilih dan Menggunakan Kurikulum (Bag.II no.12), halaman 192 - 195, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.
• Donald L. Griggs & Judy McKay Walter, Christian Education in The Small Church, halaman 75 - 77, Judson Press Valley Forge, 1988.


3.9 Kekuatan Sebuah Kurikulum
Seorang ahli Pendidikan Agama Kristen pernah berkata: "Bahan kurikulum yang sempurna belum terbit." Artinya, tidak pernah ada kurikulum yang sempurna.
Kurikulum direncanakan untuk menolong, bukan untuk dijadikan wewenang tertinggi. Alkitablah yang harus dipandang sebagai wewenang tertinggi, bukan buku pedoman.
Meskipun demikian, perlu dipahami beberapa ciri khas penting yang merupakan kekuatan sebuah kurikulum:
1. Kurikulum harus - Pandangan yang benar mengenai Alkitab
2. Kurikulum harus - Meliputi sebanyak mungkin isi Alkitab
3. Kurikulum harus - Sedekat mungkin dengan pengertian/umur anak
4. Kurikulum harus - Memberi kesukaan belajar dgn variasi metode
1. Pandangan yang benar mengenai Alkitab
Pandangan benar mengenai Alkitab ialah, bahwa seluruh isi Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru diinspirasikan oleh Roh Allah sendiri. "Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah." (2 Petrus 1:20-21)
Firman Tuhan dalam Alkitab diberi untuk mengajar dan membawa manusia pada keselamatan di dalam Tuhan Yesus, sebagaimana yang dijelaskan Rasul kepada Timotius: "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:15-16)
2. Meliputi sebanyak mungkin isi Alkitab
Alkitab adalah Firman Tuhan yang merupakan sumber dari segala sumber pengajaran Kristen. Memang ada bagian-bagian dari Firman Tuhan yang tidak dapat diceritakan begitu saja, sehingga khususnya untuk anak, terlebih dahulu diajarkan kitab-kitab sejarah, kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul.
Sebagai contoh, kurikulum Suara Sekolah Minggu (SSM), disusun dari sekitar 500 cerita Alkitab. Dalam SSM ada beberapa perikop yang telah dipelajari di kelas Anak Kecil, dipelajari kembali pada kelas lain, tetapi dengan metode dan alat peraga yang berbeda. Misalnya, cerita tentang Penciptaan. Cerita diajarkan kepada Anak Kecil, Tengah dan Besar. Juga cerita yang berhubungan dengan Tahun Gereja, seperti Natal, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus ke surga dan Pentakosta, pasti disajikan tiap tahun dengan alat peraga dan penerapan yang berbeda.
Hal ini dapat dipertanggungjawabkan karena pengertian rohani seorang anak terus bertumbuh. Cerita tentang orang Samaria yang baik hati yang didengar pada umur empat tahun dapat dimengerti jauh lebih dalam bila didengar pada umur sebelas tahun. Kecuali tema-tema tertentu yang diajarkan beberapa kali, kebanyakan bahan Alkitab diajarkan pada satu tingkat umur saja, sehingga kurikulum sungguh-sungguh meliputi sebanyak dari isi Alkitab.
Dalam perencanaan kurikulum Suara Sekolah Minggu, anak-anak biasanya dikelompokkan sebagai berikut:
Anak Batita - anak masuk ketika berumur 3 tahun
Anak Kecil
• Tahun I anak masuk ketika berumur 4 tahun
• Tahun II anak masuk ketika berumur 5 tahun
Anak Tengah
• Tahun I anak masuk ketika berumur 6 tahun
• Tahun II anak masuk ketika berumur 7 tahun
• Tahun III anak masuk ketika berumur 8 tahun
Anak Besar
• Tahun I anak masuk ketika berumur 9 tahun
• Tahun II anak masuk ketika berumur 10 tahun
• Tahun III anak masuk ketika berumur 11 tahun
Tunas Remaja
• Tahun I anak masuk ketika berumur 12 tahun
• Tahun II anak masuk ketika berumur 13 tahun
3. Sedekat mungkin dengan pengertian/umur anak
Meskipun Alkitab dikarang menurut pengertian orang dewasa, kebanyakan dari isinya dapat diajarkan kepada anak-anak sebagai "susu yang murni". Artinya, bahan dapat disederhanakan dan disajikan dalam bentuk cerita sesuai dengan pengertian dan tingkat perkembangan anak.
Bahan pelajaran Alkitab untuk Anak Batita dan Anak Kecil disusun dengan pengertian, bahwa mereka sama sekali belum sadar akan perkembangan sejarah. Mereka tidak tahu bahwa Abraham hidup sebelum Zakheus; bahwa peristiwa Perjanjian Lama mendahului peristiwa yang diceritakan dalam Perjanjian Baru. Karena itu, kurikulum untuk mereka sebaiknya diisi dengan cerita-cerita yang disajikan di bawah satu tema bulanan yang berpusat pada pengalaman mereka, seperti hidup dalam keluarga, penciptaan dan pemeliharaan Allah. Cerita-cerita di bawah tema itu dapat diambil dari Perjanjian Lama atau dari Perjanjian Baru, selama mendukung pokok yang dipilih sebagai tema.
Bahan pelajaran Alkitab untuk Anak Tengah disusun dengan pengertian bahwa perikop Alkitab untuk umur itu boleh lebih panjang dan lebih lengkap. Cerita Alkitab sewaktu-waktu masih berfokus kepada tema bulanan, umpamanya: "Memberi dengan sukacita". Empat cerita untuk tema itu dipilih dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi juga ada cerita seri, misalnya, enam cerita mengenai Daniel, empat cerita tentang Filipus. Pada umur ini anak-anak mulai mengerti hubungan dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.
Bahan pelajaran untuk Anak Besar disusun dengan pertimbangan bahwa peristiwa Alkitab dilihat secara keseluruhan dari segi sejarah, baik sejarah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam kurikulum SSM, Anak Besar selama beberapa minggu menyelidiki tentang "Pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan perjalanan mereka di padang belantara". Mereka menyelidiki secara teratur mengenai masa hakim-hakim, raja-raja dan kerajaan Israel yang terpecah menjadi dua. Kemudian selama lima minggu mereka belajar tentang pembangunan tembok Yerusalem di bawah pimpinan Nehemia. Pada minggu-minggu selanjutnya mereka "berjalan" bersama rasul Paulus yang memberikan Injil sampai ke ujung bumi. Pada umur ini juga, anak mengagumi tokoh-tokoh dan meneladaninya, karena itu diajarkan tentang pahlawan-pahlawan iman.
Setelah selesai dengan kurikulum Anak Besar, bahan pelajaran selanjutnya disiapkan untuk Tunas Remaja. Anak-anak yang kini berada pada ambang masa remaja dapat diajar jauh lebih luas. Metode bercerita sudah jarang digunakan. Mereka menyelidiki Alkitab sendiri, dipimpin oleh guru yang berfungsi sebagai pendamping. Sewaktu-waktu mereka diajar di luar ruangan untuk menyelidiki pokok tertentu secara nyata.
Langkah-langkah seperti inilah yang dibutuhkan untuk mengadakan "kurikulum yang dekat dengan pengertian anak."
4. Memberi kesukaan belajar melalui variasi metode
Kurikulum yang memberi kesukaan belajar kepada anak, mengusulkan berbagai metode dalam menyampaikan dan menerapkan Firman Tuhan. Anak-anak dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif.
Variasi menggunakan alat peraga sebagai media mengajar juga diperhatikan, sehingga tidak hanya satu jenis alat peraga yang dipakai secara terus menerus (misalnya gambar atau gambar flanel).
Sumber:
• Ruth Lautfer & Anni Dyck, Pedoman Pelayanan Anak 2, halaman 202 - 205, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.

3.10 Tahun Ajaran Baru di Sekolah Minggu
Tahun ajaran baru di Sekolah Minggu dimulai pada bulan Juli atau Agustus. Hal ini mempunyai arti penting bagi para guru Sekolah Minggu. Mengapa demikian? Karena pada bulan inilah guru Sekolah Minggu seringkali memulai kelasnya dengan anak-anak baru.
Bulan yang penuh semangat ini dirasakan bersama baik oleh guru maupun anak-anak Sekolah Minggu. Anak-anak biasanya senang karena naik kelas, dan berharap akan mendapatkan suasana baru, pengalaman baru, guru baru, mungkin juga hadirnya teman baru. Yang sudah dapat dipastikan, tahun ajaran baru selalu merupakan saat yang tepat untuk bertekad "melakukan yang lebih baik". Hal ini berlaku baik untuk anak-anak maupun guru Sekolah Minggu.
Pada sebagian Sekolah Minggu, tahun ajaran baru merupakan momen yang tepat untuk melakukan kenaikan kelas di Sekolah Minggu, penetapan ulang para pelayan/GSM di kelas-kelas yang tersedia, penggunaan bahan ajaran yang baru, baik membuat sendiri maupun mengganti Buku Pedoman yang dipakai sebelumnya. Tahun ajaran baru juga merupakan awal yang baik bagi Sekolah Minggu untuk membuka kelas atau cabang Sekolah Minggu yang baru. Singkatnya, tahun ajaran baru bermanfaat untuk melakukan pembaharuan dalam pelayanan di Sekolah Minggu.
A. Kenaikan Kelas Di Sekolah Minggu
Kenaikan kelas merupakan hari yang penting. Mulai hari itu anak-anak Sekolah Minggu akan pindah ke kelas yang lebih tinggi dengan guru baru dan akan mendapat bahan pengajaran baru. Bagi anak, naik kelas merupakan suatu kebanggaan dan sukacita.
Namun, masalah bisa terjadi apabila ada anak Sekolah Minggu yang tidak naik kelas (di sekolah umum) tapi menghendaki tetap naik kelas di Sekolah Minggu. Sebelum hal ini terjadi, pembimbing dan guru Sekolah Minggu sebaiknya telah menetapkan kebijakan bersama untuk menghadapi kasus di atas.
Demikian pula bila terjadi sebaliknya, dimana kasus ini lebih sering terjadi di kelompok anak yang lebih kecil, yaitu "menolak" untuk naik kelas. Meskipun hal ini wajar terjadi pada anak kecil yang merasa tidak aman di lingkungan yang baru (kelas baru dan guru baru yang tidak dikenalnya), sebaiknya guru Sekolah Minggu dapat memberikan perhatian dan pendekatan pribadi sejauh yang diperlukan tanpa adanya unsur paksaan. Agar guru Sekolah Minggu dapat mengetahui siapa yang sudah waktunya pindah kelas, terutama bagi Sekolah Minggu yang pembagian kelasnya tidak berdasarkan kelas seperti di sekolah umum, maka masing-masing guru harus memiliki catatan pribadi mengenai murid-muridnya. Catatan tersebut berisi tanggal lahir, tingkat kelasnya di sekolah umum, dan data-data pribadi lainnya.
Pembagian jenis kelas di Sekolah Minggu antara lain:
1. Kelas Batita/Playgroup/Asuhan : 2-3 tahun
2. Kelas Balita/Kanak-kanak/Indria : 4-5 tahun
3. Kelas Kecil/Pratama/Kelas 1-3 SD : 6-8 tahun
4. Kelas Tengah/Madya/Kelas 4-6 SD : 9-11 tahun
5. Kelas Besar/Tunas Remaja/Kelas 1-3 SMP: 12-14 tahun
6. Kelas Remaja/kelas 1-3 SMA : 15-17 tahun
Misalnya, anak kelas Batita yang sudah berumur 4 tahun (mulai masuk sekolah TK kecil/TK-A), dia dapat naik ke kelas Balita. Anak kelas Balita yang sudah memasuki kelas 1 SD (biasanya pada usia 6 tahun), maka dia naik ke kelas Pratama. Apabila anak sudah naik ke kelas 4 SD (biasanya pada usia 9 tahun), maka dia naik dari kelas Pratama ke kelas Madya. Sedangkan anak yang telah lulus SD (sekitar usia 12 tahun), maka dia naik ke kelas Tunas Remaja atau kelas sejenis sesuai dengan pengelompokan yang ada di gereja.
Memasuki kelas baru terkadang juga dapat membuat anak merasa takut, segan, dan bimbang. Hal tersebut wajar terjadi karena anak-anak itu dihadapkan dengan suasana baru, kelas baru, guru baru, mungkin juga hadirnya teman baru, cara pengajaran baru, dan sebagainya. Oleh sebab itu agar kecanggungan, rasa segan dan kebimbangan mereka lenyap, guru Sekolah Minggu harus bisa menjadikan momen kenaikan kelas sebagai hari yang istimewa dan menyenangkan.
B. Penetapan Pekerja
Penetapan pekerja, yaitu penetapan kelas baru bagi guru Sekolah Minggu baik yang lama maupun yang baru, dapat dilaksanakan bersamaan dengan pergantian tahun ajaran baru/kenaikan kelas ini.
Sebagian Sekolah Minggu menggunakan sistem rotasi bagi para pekerjanya. Guru Sekolah Minggu secara berkala (1-2 tahun sekali, misalnya) akan dipindahkan ke kelas yang berbeda dan akan menjumpai rekan satu pelayanan yang berbeda pula. Hal ini dilakukan untuk melatih guru supaya berpengalaman dalam mengajar anak dari berbagai kelompok usia dan mampu bekerjasama dengan rekan-rekan sepelayanannya.
Sebagian Sekolah Minggu yang lain lebih menyukai sistem penetapan kelas berdasarkan minat guru Sekolah Minggu yang bersangkutan. Pada akhirnya memang bisa terbentuk guru yang berpengalaman pada masing- masing kelas, tetapi hal ini bisa menyebabkan kejenuhan pada beberapa guru Sekolah Minggu. Tapi bisa juga sebaliknya karena guru mendapat kebebasan untuk memilih kelas mana yang ingin dilayaninya.
Bagi para pekerja/guru yang baru, juga tersedia berbagai cara penempatan kelas. Mulai dari sistem "magang" atau menjadi asisten guru yang telah berpengalaman mengajar, lalu dirotasi beberapa kali hingga yang bersangkutan menemukan kelas mana yang ingin dilayaninya, atau menggunakan sistem penempatan langsung di sebuah kelas, lalu dievaluasi apakah guru itu sesuai dengan kelas yang dilayani tersebut.
C. Penetapan Bahan Pengajaran
Tahun ajaran baru juga merupakan momen yang tepat untuk menetapkan bahan pengajaran baru. Sekolah Minggu dapat membuat sendiri bahan pengajarannya yang diambil dari berbagai sumber, atau mengganti Buku Pedoman yang selama ini digunakan dan mencoba menerapkan Buku Pedoman lain.
Apa pun bentuknya, penetapan bahan pengajaran merupakan hal penting yang harus disepakati bersama sebelum tahun ajaran baru dimulai. Bahkan, momen ini juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyegaran bagi para guru Sekolah Minggu, misalnya dengan mengadakan training "Teknik Bercerita", seminar "Psikologi Anak", lokakarya "Membuat Alat Peraga", dsb.
Untuk Sekolah Minggu yang merupakan Pos PI dimana jumlah gurunya hanya sedikit dan belum memiliki pembimbing penuh waktu, maka penetapkan bahan pengajaran menjadi tugas guru Sekolah Minggu yang ada di Pos PI tersebut. Guru Sekolah Minggu itu sebaiknya jauh-jauh hari telah mengumpulkan bahan dari berbagai sumber dan mulai menyusun sendiri materi-materi pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Kesulitan yang sering dihadapi adalah berkumpulnya anak-anak dengan rentang usia yang cukup jauh (mulai usia balita hingga SD kelas 6) hanya dalam sebuah kelas saja sehingga kenaikan kelas tidak bisa diwujudkan dalam konteks ini. Namun, tidak ada salahnya bila guru Sekolah Minggu mengadakan acara khusus bersama dengan anak-anak didiknya dalam menyambut tahun ajaran baru.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, halaman 58 - 59, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.


3.11 Mengumpulkan Bahan Pelajaran
Gereja dewasa ini memerlukan guru-guru yang terlatih, yang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada persiapan, seluruh hatinya kepada penyajiannya, serta seluruh hidupnya pada pelajaran. Seorang guru yang terlatih mengetahui bahwa dia memerlukan persiapan. Sikap tenang di depan kelas tidak bisa dipertahankan tanpa menguasai bahan pelajaran dan pengetahuan cadangan tentang kebenaran Alkitab. Persiapan yang matang menghendaki rencana tertentu, sedang rencana tertentu meliputi pilihan bahan yang cocok.
Sumber Bahan
Seorang guru yang cakap memakai bahan dari berbagai sumber untuk meningkatkan mutu pelajarannya.
A. Alkitab
Alkitab adalah sumber bahan yang utama bagi guru, dan merupakan dasar utama bagi pengajarannya. Karena Alkitab adalah Firman Allah yang diilhami, maka ia diakui sebagai buku pegangan dalam gereja. Setiap guru harus mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh. Guru akan belajar, menafsirkan, merencanakan dan menerapkannya sampai dia menguasai inti berita yang disampaikannya itu serta meresapkan Firman itu di dalam hidupnya.
Alkitab sendiri merupakan tafsirannya yang terbaik. Saling membandingkan nas-nas Alkitab akan memberi pengertian tentang bagian-bagian yang sukar. Ada juga banyak bahan tambahan yang berharga, yang menolong guru untuk menguasai Alkitab yang adalah Firman Allah.
1. Keterangan
Ada Alkitab yang berisi catatan-catatan yang berharga mengenai ilmu bumi, sejarah, dan arkeologi. Bahan bantuan yang lebih lengkap dapat dibeli dalam buku-buku yang terpisah.
2. Penafsiran
Ada Alkitab yang mempunyai catatan serta tafsiran mengenai berbagai bagian Alkitab. Dalam Alkitab seperti itu ayat-ayatnya disertai tafsiran. Keterangan demikian itu sangat berharga bagi guru yang tidak mempunyai pendidikan khusus.
3. Penyelidikan
Guru yang bijaksana akan menolong muridnya mengadakan penyelidikan secara mandiri. Tapi Hal ini tidak mungkin dilakukan kalau guru sendiri tidak memperkembangkan kemampuan dan tekniknya dalam penyelidikan. Sebuah Alkitab yang mempunyai petunjuk ayat-ayat dapat menolong guru maupun murid untuk mencari ayat-ayat yang serupa dan lain keterangan yang melukiskan kebenaran yang sedang diselidiki.
B. Kamus Alkitab
Kamus Alkitab memberikan makna dan pengertian tentang banyak kejadian, orang, tempat serta kata-kata yang dipakai di dalam Alkitab.
C. Konkordansi Alkitab
Sebuah konkordasi yang lengkap mencantumkan semua penunjukan mengenai kata-kata dalam Alkitab dan mungkin juga memberi arti serta keterangan yang berkaitan. Dalam bahasa Inggris konkordansi karangan Strong, Cruden, dan Young dipakai secara luas. Dalam bahasa Indonesia ada konkordansi karya Dr. D.F. Walker untuk Alkitab terjemahan baru dan konkordasi karya Howard M. Gering.
D. Tafsiran Alkitab
Setelah penyelidikan yang saksama dan penuh doa tentang ayat-ayat Alkitab, guru mencari tafsiran bagian-bagian yang sulit di dalam buku tafsiran Alkitab. Buku-buku tafsiran yang baru dan bisa dipercaya telah ditulis oleh sarjana-sarjana Alkitab yang terkenal, yang memahami perkembangan dewasa ini dalam literatur dan arkeologi alkitabiah. Buku-buku ini harus ada dalam tiap perpustakaan gereja. Namun demikian, buku tafsiran jangan diterima sebagai jawaban yang menentukan. Ada penafsir-penafsir yang berbeda pendapatnya. Pemakaian beberapa kitab tafsiran yang baik akan memberikan penafsiran dari beberapa segi pandangan.
E. Buku Pedoman Guru
Dalam mempelajari pelajarannya, seorang guru akan membaca Alkitab, mula-mula untuk mengetahui ceritanya; kemudian untuk mengetahui kejadian-kejadiannya, berikutnya untuk orang-orang yang disebutkan di dalam cerita itu, kemudian doktrin dan ajarannya yang praktis; dan akhirnya untuk mengetahui inti cerita itu. Setelah penyelidikan yang dilakukannya sendiri, guru harus mencari keterangan tambahan dari buku pedoman guru dan sumber lain. Dengan mengikuti urutan ini, dia secara pribadi menemukan banyak fakta yang disebutkan di dalam sumber-sumber lain itu dan merasa puas telah meletakkan dasar bagi pengajarannya.
Buku pedoman guru harus melengkapi pengetahuan guru. Buku itu harus dipakai bersama dengan Alkitab, jangan sebagai pengganti Alkitab. Setiap guru yang memakai buku pedoman guru tanpa menelaah ayat-ayat Alkitab terlebih dahulu mungkin tidak akan menyajikan pikiran-pikiran atau pengajaran yang telah ditemukannya sendiri.
Buku-buku lain dapat menjelaskan ayat-ayat yang sukar, memberikan contoh dan lukisan yang cocok, dan memberikan keterangan yang diperlukan tentang tata cara dan kebiasaan kuno. Guru hendaknya memakai buku-buku yang berpusat pada Alkitab serta menghormati Kristus sehingga dia bisa memperoleh pengertian, penafsiran, dan penerapan yang benar dari nats Alkitab.
Buku pedoman guru adalah modal yang berharga karena menyediakan bahan pelajaran Alkitab dan keterangan untuk bisa mengerti hubungan bahan ini dengan kelompok usia yang akan diajar.
1. Bahan Pelajaran Alkitab
Buku pedoman guru dapat merupakan sumber penelaahan Alkitab yang bermanfaat, yang berkaitan secara langsung dengan pelajaran. Meskipun pedoman guru itu harus dipelajari, tidaklah perlu membatasi pengajaran dengan isinya. Bacaan Injili bagi program pendidikan di gereja biasanya berisi bahan keterangan alkitabiah yang baik untuk memberikan kepada guru suatu dasar yang luas untuk mengerti isi pelajaran.
2. Memperhatikan Kelompok Usia
Melayani murid-murid berarti memenuhi kebutuhan mereka yang mendalam. Buku pedoman guru dapat menolong guru mengerti murid-muridnya dan kelompok usianya serta melihat bagaimana pengetahuan Alkitab dapat memenuhi masalah kehidupan masa kini. Seringkali dalam buku pedoman diketengahkan masalah-masalah yang sama dengan masalah yang terdapat dalam suatu kelas tertentu. Karenanya pelajaran dapat disesuaikan dengan suatu kebutuhan yang telah diketahui.
Seorang guru yang sudah siap tidak perlu melihat ke buku pedoman selama jam pelajarannya. Dengan mengajar dari Alkitab, dia mengingatkan murid-muridnya bahwa pengajaran Kristen berasal dari Firman Allah yang diilhami. Sikapnya terhadap Alkitab menyatakan dengan jelas betapa penting Alkitab bagi hidupnya.
F. Sumber-sumber yang Ada Dewasa Ini
Banyak sekali sumber yang dapat memperkaya pelajaran: pengalaman guru dan murid; kejadian-kejadian masa kini yang terdapat dalam majalah, surat kabar, buletin, radio dan televisi.
Guru yang tahu akan kejadian-kejadian yang mutakhir, yang mengerti pokoknya dengan baik, dan yang mengerti murid-muridnya akan mengajar dari kelimpahan hidupnya. Karena guru itu sendiri panjang akal, maka dia akan mendorong sifat ini di dalam murid- muridnya.
Sumber:
• Clarence H. Benson, Teaching Techniques, halaman 54 - 57, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.

3.12 Merencanakan Satu Jam Pelajaran
MEMAHAMI TUJUAN
Untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam tiap jam pelajaran, satu tujuan harus sudah dirumuskan terlebih dahulu dengan seksama. Tujuan itu seperti pusat atau poros dari seluruh jam pelajaran dan ikut menentukan tiap-tiap unsur jam pelajaran itu. Sebelum memahami tujuan pelajaran tersebut, guru harus sudah mempelajari pokok Firman Tuhan yang akan disampaikan, menyelidiki latar belakang cerita dan membaca bahan ceritanya.
Sekarang tibalah waktunya guru memahami tujuan yang diberikan dalam bahan pelajaran. Guru harus bertanya:
• Apakah tujuan itu jelas bagi saya?
• Apakah tujuan itu realistis untuk anak kelas saya?
• Apakah yang harus disesuaikan?
Dalam perencanaan satu jam pelajaran guru secara aktif akan berusaha agar anak mencapai tujuan pelajaran. Karena itu guru sendiri harus meyakini tujuan pelajaran itu terlebih dahulu. Jika penyesuaian tujuan perlu diusahakan, guru mencari pengganti unsur tertentu yang menyebabkan tujuan dirasakan terlalu berat atau terlalu ringan.
GARIS BESAR PEMBAGIAN SATU JAM PELAJARAN
Kerangka satu jam pelajaran dapat terdiri dari tiga bagian, yaitu:
• Pembukaan : dalam Pembukaan guru menjemput anak dimana mereka berada saat tiba di Sekolah Minggu.
• Cerita Alkitab : anak dibawa pada Firman Allah yang merupakan satu cerita penuh dinamika.
• Penerapan/Respons: anak disiapkan untuk bertindak atas dasar Firman Allah dalam kehidupan sehari-hari.
1. Pembukaan
Pembukaan merupakan jembatan dari dunia anak kepada Firman Tuhan. Anak biasanya datang dengan berbagai perasaan. Hati dan perasaan mereka mencerminkan apa yang baru mereka alami. Ada anak yang baru menonton satu program TV yang sangat menarik. Ia sebenarnya ingin meneruskannya, namun disuruh orangtua ke Sekolah Minggu. Dalam hatinya anak itu merasa kesal karena program yang ditontonnya tidak dapat diselesaikan sampai akhir.
Lain anak tiba dengan kusut hati, karena baru bertengkar dengan adiknya, atau dimarahi orangtua atau kakaknya. Ada anak datang dengan sangat gembira karena rindu datang ke Sekolah Minggu. Bagaimana semua dapat dipersatukan dalam waktu yang sangat singkat? Pembukaan perlu menimbulkan rasa ingin tahu serta mengarahkan pikiran anak pada tujuan pelajaran, tanpa melepaskan isi cerita.
Unsur-unsur pembukaan:
• ucapan "Selamat Datang"
• anak diterima dengan penuh perhatian
• menyanyi bersama
• doa pembukaan
• persembahan (bagian ini lebih awal dengan anak dari orang dewasa; uang dalam tangan anak mudah jatuh dan mengganggu acara)
• mengingat hari ulang tahun anak
• penyembahan
• cerita sehari-hari
• percakapan untuk menerangkan satu istilah
• mengulangi satu bagian dari pelajaran minggu yang lalu (menyanyikan nyanyian yang baru diajarkan, ucapkan ayat hafalan bersama, lihat kembali gambar dari cerita dll.)
• menyanyi satu lagu yang mengantarkan mendengar cerita.
Mengingat bahwa pembukaan hanya kira-kira lima belas menit, guru akan memilih unsur pembukaan dengan saksama. Tidak semua unsur yang disebut di atas bisa masuk pada tiap perencanaan pembukaan. Unsur-unsur itu merupakan variasi untuk dipilih darinya.
Biasanya Pedoman Mengajar juga mengusulkan unsur yang berkaitan dengan pelajaran. Namun guru tetap harus memilih nyanyian dan menyusun pembukaan sehingga anak dalam waktu sesingkat mungkin dipersatukan dan dipersiapkan untuk mendengar cerita.
Ada gereja yang mengadakan pembukaan bersama dengan semua kelas, dan anak baru diajar terpisah pada waktu masuk cerita. Keuntungannya adalah pembukaan lebih meriah, penyembahan lebih bersemangat. Kesulitannya adalah cara itu membutuhkan lebih banyak waktu, karena guru harus ciptakan suasana tenang lagi sesudah anak tiba pada kelas masing-masing.
2. Cerita
Satu jam pelajaran ini sangat penting, sama pentingnya dengan khotbah dalam kebaktian. Namun daya konsentrasi anak masih terbatas. Khususnya anak Kelas Kecil tidak berkonsentrasi terlalu lama. Dalam perencanaan satu jam pelajaran bagian cerita dapat dijadwalkan seperti berikut:
• Kelas Batita kurang lebih 5 menit
• Kelas Kecil antara 7-10 menit
• Kelas Tengah antara 10-15 menit
• Kelas Besar antara 20-25 menit
Mengimbangi pendeknya waktu konsentrasi, anak kecil senang mendengar cerita kesukaannya berulang kali, asal disela-selanya ada kesempatan berdiri sebentar, menyanyi dengan gerakan tangan, atau melakukan satu aktivitas lain.
Kemudian cerita dapat diulangi dengan cara tertentu yang sudah disiapkan, umpamanya:
• melihat sebuah gambar bersama
• menonton guru melukiskan cerita di papan tulis
• mengalami cerita melalui guru mengulangi dalam boks pasir
• melihat guru menempel unsur pada gambar berkembang
Cerita Alkitab merupakan "makanan rohani" untuk anak. Firman Tuhan berkuasa mengubah kehidupan mereka. Karena itu penting sekali disampaikan dengan saksama, sehingga anak jangan bosan atau jemu, melainkan sangat suka waktu guru bercerita.
3. Penerapan/Respons
Dalam bagian ini Firman Tuhan akan diperdalam dan anak diantarkan untuk memberi satu jawaban terhadapnya. bagian ini penuh interaksi antara guru dan murid. Anak dibimbing memberi respons melalui berbagai kegiatan, umpamanya:
• mengerjakan gambar dinding
• melukis satu bagian dari cerita
• merobek kertas bentuk orang-orangan dan menempelkannya
• menjawab pertanyaan
• mengulangi cerita dengan memakai wayang/alat peraga
• mengadakan persekutuan doa bersama
• mempelajari nyanyian baru
• menghafal ayat dari Alkitab
• dll.
Semua aktivitas yang diusulkan dalam Pedoman mengajar erat berkaitan dengan cerita. Sebagian dari aktivitas akan menolong sehingga anak bersatu dengan cerita, sebagian akan menggerakkan emosi dan kehendak anak dalam arah tindakan, dan sebagian merupakan tindakan baru, umpamanya: persekutuan doa anak. Di sini anak belajar berdoa dengan kata-kata sendiri. Ini satu respons terhadap Tuhan sendiri. Untuk memungkinkan anak belajar berdoa, tiap doa guru perlu singkat, dengan kata-kata sederhana tetapi penuh hormat dan keyakinan bahwa Tuhan mendengar dan menjawabnya.
Berhasil tidaknya guru dalam bagian ini akan menentukan sikap anak terhadap pelajaran berikut. Jika Firman Tuhan disampaikan menyebabkan satu perubahan terjadi dalam kehidupan anak sehari-hari, anak akan selalu lapar dan haus untuk mendengar cerita berikutnya. Sebaliknya, jika anak merasa bosan, mereka akan datang lagi pada minggu berikutnya dengan perasaan jemu. Lama-kelamaan anak hanya ingin menjadi anak besar sehingga tidak harus mengikuti Sekolah Minggu lagi. Sikap ini sangat merugikan suasana kelas dan kerohanian anak.
4. Penutup Pelajaran
Penutup pelajaran harus singkat dan hanya membutuhkan beberapa menit saja. Isinya:
• pengumuman
• doa berkat
Setelah itu anak dilepaskan di bawah berkat perlindungan Tuhan.
5. Kesimpulan
Kita sebagai guru Sekolah Minggu sebenarnya kaya. Bahan kita, yaitu Firman Tuhan, terdiri dari banyak cerita, sehingga tiap-tiap minggu sesuatu yang baru dapat disajikan. Metode dan media mengajar dapat sedemikian bervariasi sehingga setiap minggu ada sesuatu yang menimbulkan rasa ingin tahu. Melalui pengalaman mengajar, kita mengerti kesanggupan penerimaan anak, sehingga mereka tidak akan dituntut berlebihan dan tidak dibiarkan tanpa tantangan sehingga bosan. Guru yang berpengalaman akan merencanakan jam pelajarannya tiap minggu bahkan akan mencatat tiap unsur di dalamnya, sehingga pelaksanaannya lancar tanpa terbuang di antaranya. Satu jam di antara seratus enam puluh delapan jam seminggu adalah kesempatan Guru Sekolah Minggu untuk menanam kasih Tuhan dan sesama dalam hati anak. Jam itu berharga di hadapan Allah dan berharga bagi guru dan anak!
6. Riset dan Tugas
a. Mengikuti satu jam pelajaran dan catat tiap-tiap unsur (acara) selama guru mengajar dengan mencantumkan pula berapa menit yang dipakai untuk tiap unsur (acara). Buatlah evaluasi!
b. Merencanakan satu jam pelajaran untuk satu kelompok umur tertentu dengan mencantumkan perincian waktu tiap unsur (acara)nya!
c. Membandingkan unsur (acara) satu jam pelajaran kelas kecil dengan unsur (acara) satu jam pelajaran Kelas Besar. Catatlah penemuan Anda!
Sumber:
• Ruth Lautfer, Pedoman Pelayan Anak, halaman 167 - 171, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.

3.13 Inti Kurikulum untuk Anak pada Berbagai Tingkat Usia
Alkitab memang tidak dirancang sebagai bahan bacaan untuk anak, tapi bukan berarti isi Alkitab tidak perlu disampaikan pada anak. Tuhan sendiri yang memerintahkan agar FirmanNya diajarkan turun-temurun pada generasi yang lebih muda (Ulangan 6:6-7).
Dari perkembangan sejarah gereja, pendidikan rohani anak mengalami banyak perubahan dan perkembangan. Berawal dari terbentuknya Sekolah Minggu yang pertama di Inggris (1780), materi pengajaran Alkitab untuk anak pun mulai dipikirkan gereja.
Amerika Serikat, dalam hal ini, mendahului negara-negara lain dalam usaha menciptakan kurikulum untuk Sekolah Minggu bagi seluruh bangsanya.
A. Latar Belakang Sejarah
1. Masa Katekismus (1799-1815)
Pada mulanya gereja mengajarkan materi Katekismus pada anak, bagian demi bagian. Oleh karena Katekismus dirancang untuk orang dewasa, sudah bisa diduga bahwa bahan tersebut tidak memuaskan kebutuhan anak.
2. Masa Hafalan (1815-1840)
Pada masa ini, gereja menekankan "penghafalan ayat Alkitab" sebagai cara mengajarkan Firman Tuhan pada anak. Menurut laporan, pada masa itu, anak berusia 10-12 tahun dapat menghafal sampai 1000 ayat dalam satu triwulan. Tapi, kembali metode ini dianggap kurang mengena, karena anak hanya mampu menghafal tanpa mengerti arti ayat yang dihafalkannya tersebut. Baik guru maupun murid akhirnya sama-sama menjadi bosan.
3. Masa "Babel" (1840-1872)
Kemudian ditemukan cara lain, dimana dalam setiap pertemuan hanya 1 ayat saja yang diberikan sebagai bahan pelajaran. Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya masing-masing gereja mencari jalan dan caranya sendiri dalam memilih bahan pelajaran untuk Sekolah Minggu.
4. Bahan Pelajaran yang Seragam (1872-1900)
Dengan makin berkembangnya dunia pendidikan, mulailah dipikirkan untuk menyusun suatu kurikulum yang SERAGAM, dimana pada hari Minggu yang sama seluruh anggota keluarga (mulai anak kecil hingga kakek dan nenek) menyelidiki bahan Alkitab yang sama. Setelah bertahun- tahun cara ini diterapkan, akhirnya disadari bahwa penyusunan bahan lebih memperhatikan kepentingan orang dewasa dibanding kebutuhan anak.
5. Pelayanan per Kelas (1900-1914)
Kemudian timbul pandangan ekstrim yang bertolak belakang dengan ide bahan pelajaran yang seragam di atas. Materi Sekolah Minggu mulai disusun secara terpisah untuk setiap umur, dan telah mulai memperhatikan aspek perkembangan jiwa anak dari setiap tingkatan umur. Namun karena pembagian kelas terlalu rinci (karena tiap umur memiliki materi berbeda), akhirnya tenaga Guru Sekolah Minggu tidak memadai.
6. Pelayanan per Kelompok (1914-sekarang)
Akhirnya, ditemukan sebuah sistem yang hingga saat ini banyak digunakan oleh Sekolah Minggu, dimana anak diajar per-kelompok berdasarkan penggolongan usia sebagai berikut: - Anak Batita (di bawah 3 tahun) - Anak Indria (usia 4-5 tahun) - Anak Pratama (usia 6-8 tahun) - Anak Madya (usia 9-11 tahun) - Tunas Remaja (usia 12-14 tahun) Dewasa ini, sebagian besar Kurikulum Sekolah Minggu disusun berdasarkan pengelompokan di atas.
B. Inti Kurikulum
Mengajarkan Alkitab pada seorang anak kecil yang belum sekolah misalnya, tentulah berbeda cara pendekatannya dibanding pada anak yang memasuki usia remaja. Bahkan mengajarkan cerita Alkitab yang sama pun membutuhkan teknik serta penekanan yang berbeda pada tiap kelompok usia anak.
Oleh karena itu, penting diketahui oleh setiap Guru Sekolah Minggu bahwa Inti Kurikulum adalah BERBEDA untuk setiap kelompok usia anak.
1. Anak-anak Pra-Sekolah:

Tugas utama dari seorang guru yang mengajar anak-anak pra-sekolah adalah untuk memberikan konsep-konsep dasar dan informasi yang diperlukan oleh anak-anak itu agar mereka dapat merumuskan pandangan yang bersifat alkitabiah mengenai dunia ini.
o Anak-anak Asuhan/batita (2-3 tahun)
Cara terbaik untuk menyampaikan isi Alkitab pada anak batita ialah dengan mengajarkannya di dalam konteks aktivitas dan pengalaman. Informasi alkitabiah juga harus disampaikan sesuai dengan level pemahaman mereka. Misalnya guru akan mengajarkan "Allah yang Maha Tahu dan Maha Hadir", maka kalimatnya bisa disederhanakan menjadi "Yesus selalu melihat kita". Untuk mengajarkan satu kebenaran dalam tiap pertemuan, guru harus memperlengkapi diri dengan berbagai metode yang menarik dan menyenangkan anak. Semua aktivitas harus dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh untuk menyampaikan pesan yang sama, mulai dari pujian, permainan, alat peraga, aktivitas, dsb.
o Anak-anak Kelas Indria/TK (4-5 tahun)
Menurut riset, anak-anak usia TK sedang membina suatu cara untuk memandang kehidupan ini, oleh karena itu kepada mereka harus diberikan kebenaran-kebenaran yang dasar agar mereka mendapat pengertian yang alkitabiah mengenai kehidupan ini dan mengenai dunia mereka. Mengingat anak Indria belum sadar akan perkembangan sejarah (misal: bahwa Abraham hidup sebelum Zakheus), materi-materi Alkitab yang disajikan sebaiknya disusun dalam tema bulanan yang berpusat pada pengalaman mereka, seperti: kehidupan dalam keluarga, penciptaan dan pemeliharaan Allah, dsb.
2. Anak-anak Sekolah:

Ajaran yang diberikan harus dapat menolong anak-anak mengenal kebenaran yang relevan untuk mereka, sehingga mereka dapat memberi respons sesuai dengan kesanggupan dan tahap pengertian mereka sendiri.
o Anak-anak Kelas Pratama (6-8 tahun)
Bahan pelajaran untuk Anak Kelas Pratama disusun dengan pengertian bahwa perikop Alkitab yang ingin disampaikan untuk umur ini boleh lebih panjang dan lebih lengkap. Cerita Alkitab sewaktu-waktu masih terfokus kepada tema bulanan, misalnya "Memberi dengan sukacita", bisa dipilih 2 kisah dari PL dan 2 kisah dari PB. Tetapi boleh juga ada cerita berseri, misalnya "Kehidupan Daniel" atau "Yusuf dan saudara-saudaranya". Pada umur ini anak-anak mulai mengerti hubungan dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.
o Anak-anak Kelas Madya (9-11 tahun)
Bahan pelajaran untuk Anak Kelas Madya disusun dengan pertimbangan bahwa peristiwa Alkitab dilihat secara keseluruhan dari segi sejarah, mulai dari PL hingga PB. Pada umur ini anak juga mengagumi tokoh-tokoh serta meneladaninya, karena itu penting sekali ditekankan mengenai teladan hidup baik tokoh Alkitab maupun tokoh Kristen pada jaman modern.
o Tunas Remaja (12-14 tahun)
Metode bercerita sudah mulai jarang digunakan, anak remaja cenderung lebih menyukai penyelidikan Alkitab sendiri (tentunya dengan metode yang menunjang dan pendampingan yang baik dari Pembimbingnya).
Sumber:
• Ruth Lautfer & Anni Dyck, Pedoman Pelayanan Anak 2, halaman 200 - 206, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.
• Lawrence O. Richards, Mengajarkan Alkitab Secara Kreatif, halaman 205 - 243, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.


IV Bermain & Aktivitas
4.1 Menggambar Bantu Anak Mempelajari Alkitab
Seni dapat Anda gunakan dalam mengajarkan kebenaran Alkitab kepada anak-anak Sekolah Minggu. Seni yang dapat Anda gunakan antara lain seni drama, seni suara, seni gambar, seni patung dan lain sebagainya. Artikel dalam edisi ini menjelaskan kepada Anda bagaimana Anda dapat menggunakan seni gambar untuk membantu anak-anak mempelajari kebenaran Alkitab.
Dalam Sekolah Minggu di gereja Anda, beberapa anak mungkin sudah akrab dan terbiasa dengan seni gambar, hal ini disebabkan karena orangtua mereka telah memperkenalkan krayon, pensil warna dan kapur warna sejak mereka masih sangat kecil. Tetapi ada juga beberapa anak lain yang mungkin tidak mengerti sama sekali tentang seni gambar atau seni menggambar ini. Mereka membutuhkan waktu yang cukup untuk mengerti manfaat dan cara menggunakan alat-alat gambar tersebut.
Dalam mengajarkan seni menggambar pada anak, hasil akhir dari karya mereka bukanlah hal yang terpenting. Yang terpenting adalah proses yang mereka lalui dalam mengenal seni gambar tersebut. Usaha dalam membawa anak-anak mengenal karya seni dan bagaimana mereka memiliki pengalaman dalam seni gambar lebih penting daripada melihat hasil akhir gambaran atau lukisan/gambar mereka. Demikian pula kemampuan, sikap dan pengertian seorang anak dalam memahami seni, lebih penting dari pada harga alat-alat tersebut.
Jika Anda ingin memperkenalkan seni lukis atau seni gambar dalam kelas Sekolah Minggu, Anda dapat menyediakan kertas kosong dan membagikannya kepada para ASM. Selain kertas Anda juga harus menyiapkan alat-alat gambar seperti pensil gambar, pensil warna, krayon, kapur warna, dan sebagainya. Lalu biarkanlah anak-anak mencoba menggambar sendiri menurut keinginannya dan biarkanlah mereka berkreasi dan berkreativitas sendiri untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Kegiatan menggambar dan melukis dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan anak-anak. Kegembiraan anak-anak dapat terlihat dari caranya menggunakan warna yang cerah dalam lukisan/gambarnya. Anak yang pemalu mungkin tidak berani menggunakan banyak warna. Anak yang pemarah kemungkinan melepaskan emosinya dengan coretan-coretan yang tegas.
Saat anak-anak Sekolah Minggu melakukan kegiatan gambar-menggambar, secara tidak langsung mereka belajar konsep dasar mengenai kebenaran Alkitab. Mereka dapat belajar mengenai kemurahhatian, kebaikan, kesabaran, menghormati, dll.
Misalnya dengan alat-alat gambar yang telah disediakan mereka dapat belajar bersabar dengan bagaimana menggunakan alat gambar tersebut secara bergiliran, mereka dapat juga belajar menjadi orang yang murah hati dengan cara saling berbagi, mereka dapat berlaku baik dengan memberikan kesempatan pada temannya memakai alat gambarnya, dan mereka dapat saling membantu. Pada kesempatan ini anak-anak juga dapat belajar bagaimana mereka menghormati dan menghargai karya orang lain.
Saat anak dan guru Sekolah Minggu ataupun pelayan anak menggunakan alat-alat gambar secara bersamaan dalam suasana santai dan kreatif, maka kesempatan bercakap-cakap secara santai dengan anak-anak dapat tercapai. Dengan suasana seperti ini guru Sekolah Minggu dan pelayan anak dapat membantu anak-anak belajar kebenaran Firman Tuhan melalui perbuatan nyata yang mereka lakukan selama proses melukis atau menggambar.
KARAKTERISTIK ANAK
Pada berbagai tempat di mana anak-anak bertumbuh, ekspresi seni mengikuti perkembangan anak. Anak di bawah umur lima tahun banyak bergerak dan melakukan aktivitas. Anak dalam umur ini mulai dapat menggunakan seni untuk menutupi atau mengungkapkan apa yang terjadi. Ini merupakan langkah penting untuk mengembangkan kontrol dan belajar secara tepat untuk menggunakan alat serta bahan dalam seni gambar.
Karya seni bagi anak-anak di atas tiga tahun biasanya berada di bawah pengawasan yang tinggi. Mereka tahu bahwa alat-alat yang digunakan memiliki tujuan khusus dalam hatinya, meskipun tujuannya senantiasa berubah, sedikit demi sedikit anak-anak mampu mengungkapkan dan menunjukkan gagasan khusus. Bagaimanapun juga percobaan atau eksperimen sangat penting bagi anak-anak. Anak-anak mendapatkan kesenangan yang lebih nyata dari cara dia membuat garis, bentuk, pola, dan desain, serta secara periodik menggambar obyek binatang atau orang. Seringkali anak-anak membuat kemajuan dalam karyanya. Apapun yang telah dibuat anak-anak, para guru Sekolah Minggu dan pelayan anak tidak boleh menyalahkannya.
PERAN GURU
Peran guru adalah menangkap usaha anak dalam setiap tingkat perkembangannya. Sekali lagi, sangat penting untuk memperhatikan proses pengalaman seni anak-anak, bukannya pada hasil akhirnya. Janganlah mendesak kesalahan dan menuntut kesempurnaan. Hindari penyelesaian dan penambahan pada karya anak.
Bujuklah anak untuk melakukan sesuatu bagi diri mereka sendiri. Ketika anak berkata, "Gambarkan pohon untukku," berilah saran, "untuk pertama kita lihat apa yang dapat kamu lakukan sendiri." Kemungkinan anak dapat putus asa, sarankan, "Saya rasa ide terbaik bagimu adalah mulai mewarnai rumput dengan warna hijau."
Biasakan selalu menulis nama anak di kertas gambar, sehingga lebih mudah untuk dikenali. Ijinkan anak untuk menulis sendiri namanya di kertas gambar. Tekankan pada anak untuk mempelajari kebenaran alkitab melalui kegiatan seni karena akan membantu anak menikmati pelajaran yang berhubungan dengan pengalamannya. Tidak hanya mengijinkan anak menggambarkan kebenaran Alkitab, tapi juga menambah kegiatan murid dalam memenuhi tujuan yang akan dicapai.
Saat anak dan guru berkarya bersama, ada kesempatan untuk berbicara santai sehingga memudahkan guru mengajarkan kebenaran Alkitab pada mereka. Misalnya: pada saat anak menggunakan kapur berwarna untuk mendesain kontruksi di atas kertas, ajarkan mereka untuk saling berbagi bahan maupun alat yang mereka miliki dan biarkan hal tersebut berlangsung secara alami. Anda dapat menganjurkan Jeni agar berbagi dengan menggambarkan tindakannya. "Jenifer kamu harus membiarkan Ben menggunakan kapur berwarna biru." Ini merupakan salah satu cara yang dapat digunakan. Jangan lupa, harus ada senyuman dalam kata-kata guru pada saat Anda mengajarkan kebenaran Alkitab mengenai saling berbagi ini. Misalnya: "Lupe, Weslei tidak mempunyai cukup tempat bagi kertasnya. Apa yang dapat kamu lakukan baginya?"
Setiap anak menginginkan gurunya bersikap bersahabat dan memahami karyanya. Aktivitas menggambar membantu anak belajar banyak mengenai konsep dasar kebenaran Firman Tuhan mengenai saling berbagi, bergiliran, kebaikan, dan membantu yang lain.
Sumber:
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, halaman 17, Gospel Light, Ventura, 1992.



4.2 Melaksanakan Kegiatan Menggambar
Berikut ini adalah tips bagi para guru Sekolah Minggu yang ingin melaksanakan kegiatan menggambar di Sekolah Minggu untuk mengisi liburan sekolah ASM-nya.
Umumkan waktu penyelenggaraan kegiatan menggambar satu atau dua minggu sebelumnya agar anak-anak bisa menyiapkan diri dengan baik. Siapkan peralatan-peralatan menggambar (pensil-pensil, penghapus, krayon, pensil warna, spidol, kertas gambar ukuran sedang/besar, dll.) sesuai kemampuan Sekolah Minggu.
1. GSM dapat menentukan tema kegiatan menggambar tersebut, misalnya, "Tuhan Pencipta Alam", "Tuhan adalah Gembalaku", "Tuhan adalah Sahabatku", "Tuhan adalah Penolongku", "Tuhan adalah Pahlawanku", dll. Pilihlah tema-tema yang dapat menolong anak mempelajari kebenaran Firman Tuhan, sehingga selain menggambar mereka dapat menghayati hubungan mereka dengan Tuhan.
2. Mintalah ASM untuk membawa alat-alat menggambar yang mereka miliki (pensil, penggaris, pensil warna, dll.). Kertas gambar harus disediakan oleh Sekolah Minggu agar bisa seragam. Jika diperlukan Sekolah Minggu bisa menyediakan beberapa alat menggambar untuk anak-anak yang tidak membawa/memiliki alat gambar.
3. Atur ruangan SM sedemikian rupa (jika memungkinkan dengan sedikit dekorasi) agar ASM dapat menggambar dengan semangat dan penuh inspirasi. Jika halaman SM/gereja luas dan sejuk, sebaiknya kegiatan menggambar dilaksanakan di luar ruangan.
4. Buka kegiatan menggambar dengan ibadah singkat (k.l. 10 menit). Contoh:

- Ucapan selamat datang
- Satu pujian pembukaan
- Doa pembukaan
- Satu pujian singkat
- Pengarahan (tema, waktu, peralatan, dsb.)
5. Selama kegiatan menggambar berlangsung, GSM harus terus memantau, mengarahkan dan membimbing ASM-nya jika diperlukan, tapi jangan menyalahkan pekerjaan mereka. Diskusikan santai tentang gambar yang mereka buat dan jangan terlalu banyak memberi ide. Biarkan anak-anak mengembangkan pikiran dan imajinasi mereka sendiri.
6. Setelah ASM selesai menggambar, kumpulkan mereka dalam satu ruangan. Beri sedikit pelajaran/manfaat yang dapat diambil dari kegiatan menggambar tersebut. Jika ada waktu mintalah satu atau dua anak menceritakan tentang gambarnya. Kemudian tutup dengan doa.
Catatan:
Kegiatan menggambar diikuti oleh seluruh tingkatan kelas. Untuk kelas batita/balita, kegiatan menggambar dapat diganti dengan kegiatan mewarnai. GSM menyediakan gambar dan peralatan untuk mewarnai. Ingat! Selama mewarnai, kelas ini harus selalu dibimbing dan diarahkan oleh minimal satu GSM (tergantung jumlah murid), agar dapat berjalan dengan baik, tertib dan mencapai tujuan yang diharapkan.


4.3 Video Games dan Pendidikan
Berikut ini adalah sebuah artikel yang ditulis tahun 1994 dengan contoh kasus yang terjadi di Amerika Serikat. Jika Anda bandingkan keadaan saat itu dengan keadaan sekarang di Indonesia, maka kita lihat hal ini tidak jauh berbeda, karena jaman "Video Games" sudah betul-betul datang di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengaruhnya terhadap pendidikan, silakan simak artikel ini lebih lanjut.
VIDEO GAMES DAN PENDIDIKAN
Kreativitas manusia dalam memanfaatkan teknologi komunikasi untuk kepentingan hiburan maupun komersial memang luar biasa. Mulai dari pengembangan teknologi di bidang pertelevisian sampai pada penciptaan video games, video watch, dll.
Di kota-kota besar Indonesia terutama di pusat-pusat perbelanjaan, sering kita jumpai video arcade (pergelaran video games) yang menawarkan perbagai macam jenis permainan, dan dipenuhi oleh anak- anak dan remaja. Dengan membayar harga yang relatif murah untuk ditukar dengan koin, mereka betah menghabiskan waktu berjam-jam terlibat dalam kesenangan bermain video games.
Di satu sisi, kehadiran video games memang dapat menumbuhkan apresiasi anak maupun remaja pada teknologi. Pada saat yang sama, permainan ini dapat pula merangsang kreativitas maupun daya reaksi (dengan catatan ia tidak memainkan game yang sama berulang-ulang, sehingga mengenal trick permainan).
Namun, di sisi lain permainan ini dapat menimbulkan ketergantungan, manakala penggemarnya terkena video games addict (kecanduan video games). Seseorang dapat menghabiskan waktu dan uangnya sekaligus untuk menikmati permainan ini. Dampak negatif dari permainan ini akan sangat terasa, manakala pemainnya tidak dapat mengendalikan diri. Pada saat seseorang mulai merasa, bahwa permainan ini bukan sekedar untuk dinikmati dalam waktu senggang sebagai aktivitas rekreasional, maka bencana mulai menghadang.
Di Amerika Serikat, keprihatinan terhadap popularitas permainan ini di kalangan anak-anak dan remaja, menyebabkan para pendidik mulai mendesak pemerintah agar mengambil langkah-langkah preventif. Bahkan bintang yang menjadi idola anak-anak, mendesak pemerintah agar memberikan ratings (penilaian) terhadap materi video games yang dijual secara bebas. Hal ini ditujukan pada materi video games yang mengekspose seks maupun kekerasan.
Di Amerika Serikat saat ini, cukup banyak materi video games yang justru mengagungkan kekerasan, dan mengajar anak-anak untuk menikmati kekerasan lewat keikutsertaan aktif sebagai pengendali permainan.
Dalam video games, nilai yang tinggi justru diperoleh lewat sikap yang agresif dan penggunaan kekerasan secara sistematis. Dengan cara ini, pemain merasa, bahwa kekerasan memperoleh ganjaran (reward) dan kekerasan yang lebih tinggi akan memperoleh imbalan yang tinggi pula.
Melarang peredaran video games tersebut tampaknya cukup sulit, namun memberikan ratings pada labelnya akan membantu orangtua untuk ikut mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya dengan video games. Ketidakpedulian pendidik maupun orangtua akan materi video games yang penuh dengan sadisme, dikhawatirkan akan menghasilkan anak-anak atau remaja yang bersikap menikmati sadisme tanpa sadar.
Di Jakarta misalnya, di pelbagai tempat gelar video, permainan yang mengasyikkan karena sarat kekerasan sangat diminati anak-anak maupun remaja. Judul video games seperti Superman maupun Ninja dan sejenisnya sangat mengobral kekuatan fisik dan pelumpuhan lawan secara berlebihan.
Permainan semacam inilah yang menjadi favorit pengunjung. Sekalipun moral ceritanya tetap mengangkat kemenangan kekerasan atas kebathilan, namun perilaku sadistis yang diterapkan seolah-olah memberi legitimasi atas tindakan apa pun, sejauh demi menegakkan kebenaran. Padahal para pengusaha alat-alat elektronik sudah meramalkan, video games masa depan, akan lebih realistis penampilannya dengan berkembangnya apa yang disebut Virtual Reality Technology.
Di Barat selama ini telah berkembang Compact Disc Games (CDG) yang menampilkan citra aktual wanita yang dapat dikendalikan oleh pemainnya untuk melakukan adegan-adegan seks. Sekalipun CDG tersebut diperuntukkan bagi orang dewasa, siapa yang dapat menjamin, bahwa materi tersebut tidak mungkin jatuh ke tangan anak-anak atau remaja? Remaja dan anak-anak kita yang bermukim di kota-kota besar pada umumnya telah akrab dengan video games.
Kasus yang terjadi di Amerika Serikat dengan video games yang sarat kekerasan bukan mustahil dapat dijumpai di video arcade Indonesia. Sudah saatnya para pendidik dan orangtua mewaspadai materi video games yang dimainkan oleh putra-putri mereka.
4.4 Bermain Sambil Belajar
Buat anak balita, bermain adalah pekerjaannya. Makanya dikatakan, dunia anak adalah dunia bermain. Namun, sambil bermain, sebenarnya anak belajar, yaitu mengembangkan seluruh aspek dalam dirinya.
DEFINISI
Bermain ialah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan, tanpa ada tujuan atau sasaran yang hendak dicapai. Jadi, apa pun kegiatannya, bila dilakukan dengan senang bisa dikatakan bermain. Pun bila sebenarnya bekerja, misal, membantu ibu memotong sayur di dapur, tapi karena dilakukan dengan senang dan atas inisiatif si anak, maka pekerjaan itu baginya dinamakan bermain. Begitu pula bila inisiatif bermain atas ajakan orangtua, tetap dikatakan bermain, asalkan anak senang melakukannya. Sebaliknya, jika anak melakukan perbuatan yang kita anggap bermain, tapi dengan terpaksa atau karena dipaksa, maka tak bisa dikatakan bermain.
Itu sebab, bermain dikatakan sebagai kegiatan inklusif dan inheren, yaitu muncul atas motivasi dari dalam diri dan tak perlu diajarkan lagi. Soalnya, sejak bayi memang ada kebutuhan bermain. Namun begitu, suatu kegiatan baru dikatakan bermain bila dilakukan setelah usia 3 bulan. Sebelum usia 3 bulan, kegiatannya lebih banyak menggambarkan refleksnya. Setelah usia 3 bulan, kegiatannya didasarkan dorongan untuk mencapai kesenangan.
Definisi bermain berlaku sampai tua. Hanya, orang dewasa menyebutnya bukan bermain, melainkan berekreasi. Sementara bermain untuk anak usia sekolah bukan atas dorongan semata, tapi juga disertai rasa ingin menang. Jadi, belum pantas bila anak balita dipacu untuk menang semisal mengikuti lomba-lomba yang menekankan kesempurnaan hasil. Hal ini sama saja dengan merampas hak anak.
MANFAAT BERMAIN
Manfaat bermain amat banyak dan selalu menyangkut tiga ranah yaitu:
1. Fisik-Motorik
Anak akan terlatih motorik kasar-halusnya. Dengan bergerak, ia akan memiliki otot-otot tubuh yang terbentuk secara baik dan lebih sehat.
2. Sosial-Emosional
Anak merasa senang karena ada teman bermainnya. Di tahun-tahun pertama kehidupan, orangtua merupakan teman bermain yang utama bagi anak. Ini membuatnya merasa disayang dan ada kelekatan dengan orangtua, selain belajar komunikasi dua arah.
3. Kognisi
(Berhubungan dengan berpikir/kecerdasan) Anak belajar mengenal atau punya pengalaman mengenai objek- objek tertentu seperti: benda dengan permukaan kasar-halus, rasa asam, manis, dan asin. Ia pun belajar perbendaharaan kata, bahasa, dan berkomunikasi timbal balik. Makin usia bertambah, ia pun tertarik memperhatikan sesuatu, memusatkan perhatian dan mengamati, misal, kala diperlihatkan buku-buku bergambar.
Pada anak-anak yang mengalami gangguan seperti autisme atau hiperaktif, lewat media bermain juga dilatih berkonsentrasi, mengenal warna atau bentuk, dan sebagainya. Anak autis juga dilatih untuk bisa melakukan kontak dengan orang lain; sedangkan anak hiperaktif atau gangguan atensi dilatih untuk memperhatikan dengan lebih sabar dan mau mencoba menyelesaikan tugasnya.
HARUS SEIMBANG
Kita hendaknya tak cuma mengembangkan aspek tertentu. Kalau tidak, misal, hanya aspek kognisinya yang distimulasi sejak dini agar cerdas, bisa-bisa anak jenuh. Berdasarkan studi banding di Amerika Serikat, dilakukan penelitian longitudinal terhadap anak-anak TK antara kelompok yang diberikan program 3 M (membaca, menulis, menghitung) dengan yang tidak, ternyata 10 tahun kemudian kemampuan akademis mereka sama. Bahkan, anak yang dirangsang terlalu dini, akhirnya mengalami gangguan-gangguan emosi, tak mau sekolah, berperilaku menyimpang, atau memberontak.
Seimbangkan juga kegiatan fisik dengan kegiatan di tempat seperti main lego, meronce, atau menggambar. Meski si anak tipe aktif yang tak suka permainan diam di tempat atau sebaliknya, kita tetap harus menyeimbangkannya. Jadi, anak harus punya kesempatan bermain yang melibatkan fisiknya, selain bermain yang perlu ketekunan. Dengan begitu, wawasannya jadi luas. Bila ia hanya bermain secara fisik terus, anak kurang mendapat kesempatan memperoleh berbagai pengetahuan dan kurang terlatih ketekunan serta konsentrasinya.
Sebaliknya, jika hanya bermain di tempat, tapi kurang kegiatan fisik, ia jadi kurang terampil pada kegiatan luar yang akan berdampak pada sosialisasi dengan teman-temannya kelak, juga mempengaruhi kepercayaan dirinya. Jadi, bila ia keasyikan bermain di tempat, dorong ia bermain di luar rumah (outdoor). Ajak ia bermain ayunan, meniti di atas balok, bermain bola, atau melompat. Selain melatih ketrampilan fisiknya, bermain di luar memberinya kesempatan bertemu teman sebayanya. Ia pun bisa bebas mengekspresikan emosinya: bebas berteriak, jingkrak-jingkrak. Dengan demikian, selain fisik motoriknya berkembang, juga emosi-sosialnya.
TAK PERLU MAHAL
Bermain sambil belajar bisa dilakukan melalui aktivitas:
1. Kegiatan fisik.
Maksudnya merangkak, berjalan, berayun, atau ciluk-ba. Dalam merangkak, misal, selain melatih motorik kasarnya, juga mengaktifkan otak kanan dan kirinya. Jadi, saat anak merangkak, kita bisa menemaninya (ikut merangkak) semisal "berlomba" sampai tujuan tertentu. Ketika ia mulai belajar berjalan dengan cara merambat, tirukan dan ajaklah ia "berlomba". Hingga, ia terdorong melatih motorik kasarnya, selain juga mendekatkan hubungan dengan ayah-ibu.
2. Memanfaatkan benda-benda yang ada.
Anak bisa bereksplorasi dengan barang-barang rumah tangga, semacam centong kayu dengan panci sebagai alat musik, belajar memutar atau memasukkan wadah dengan tutupnya, atau bermain dengan cermin, dan lainnya.
3. Menggunakan alat permainan edukatif.
Alat permainan edukatif adalah alat yang sengaja dirancang untuk tujuan tertentu. Syaratnya:
a. Dapat digunakan dalam berbagai cara atau dapat dibuat dalam macam-macam bentuk, dengan macam-macam manfaat dan tujuan. Misal, mainan balok-balok atau meronce, yang bisa disusun sesuai kehendak, apakah diurutkan dari yang besar ke kecil ataukah berdasarkan warna/bentuk tertentu. Selain melatih motorik halus, juga pengenalan warna, bentuk, dan ukuran. Lilin mainan atau playdough juga termasuk mainan edukatif karena bisa mendorong imajinasi anak dan melatih jari- jemarinya, meski sebelumnya kita harus memberi contoh bagaimana menggunakannya. Kalau tidak, anak tak tahu mau diapakan karena permainan ini tak terstruktur.
b. Ditujukan untuk anak usia di atas 1,5 tahun dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan, baik fisik, emosi, sosial, atensi, serta kognisi, entah berupa daya nalar, bahasa, konsep dasar, warna, bentuk, dan lainnya. Anak usia 10 bulan juga sudah bisa dikenalkan dengan puzzle tunggal, dikenalkan pada warna dan binatang.
c. Aman bagi anak, baik dari cat, warna, serta bahan dasarnya yang rapi atau tak tajam. Jadi, perhatikan kalau-kalau catnya mudah terkelupas atau permukaannya runcing.
d. Membuat anak terlibat secara aktif atau melakukan sesuatu. Beda dengan mendengarkan cerita atau menonton TV yang hanya pasif mendengarkan dan melihat di mana anak tak aktif melakukan sesuatu dengan intensif.
e. Sifatnya konstruktif. Jadi, ada sesuatu yang dihasilkan dari apa yang ia buat, entah bermain lego, balok, atau menggambar, misal.
Jika alat permainan edukatif tak bisa terbeli karena keterbatasan ekonomi, kita bisa berkreasi dengan membuatnya dari bahan-bahan yang ada di sekitar rumah. Misal, bagi yang tinggal di dekat pantai bisa menggunakan kumpulan kerang-kerang aneka bentuk dan ukuran yang telah dicuci bersih. Anak bisa diminta menyusun dari ukuran yang besar ke kecil atau dibuat bentuk tertentu, dironce.
Jadi, asalkan orangtua kreatif, sebenarnya mainan tak perlu mahal, tapi bisa dibuat sendiri. Misal, untuk melatih indera pendengaran, isilah botol bekas dari bahan kaleng dengan sesuatu agar berbunyi kala dikocok; untuk mengenalkan warna, bisa diambil berbagai jenis bunga atau buah. Kulit jeruk atau kotak korek api bisa dibuat mobil- mobilan. Pun bila ingin punya puzzle, kita bisa membuatnya dari potongan gambar di majalah yang ditempelkan ke kertas karton lantas dipotong-potong membentuk puzzle. Tentu tinggal menyesuaikan dengan usia anak; untuk usia lebih dini, dibuat puzzle tunggal, misal, gambar gajah utuh atau bunga mawar utuh; untuk tahapan selanjutnya, puzzle bisa lebih rumit lagi.
Sumber:
• Nakita: Mainan dan Permainan, halaman 4 - 5, PT Sarana Kinasih Satya Sejati, Jakarta, 2001.

4.5 10 Prinsip Kegiatan Bermain
Banyak kebutuhan anak-anak yang dapat dipenuhi dalam kegiatan bermain jika kita mengadakan kegiatan bermain berdasarkan pada 10 prinsip berikut ini:
1. Dalam bermain berikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengembangkan kehidupan fisiknya secara normal dan alami.
2. Tegaskan keseimbangan antara permainan yang memerlukan keaktivan dan ketenangan serta bermain di dalam dan di luar ruangan.
3. Gunakan permainan yang bervariasi dengan durasi waktu yang singkat berdasarkan lamanya minat mereka.
4. Berikan kegiatan bermain yang bermanfaat dan ajarkan mereka untuk belajar serta mengambil manfaat dari pengalaman bermain mereka.
5. Pilihlah permainan yang sesuai dengan tingkat umur mereka.
6. Berikan pengawasan yang secukupnya dari orang dewasa dalam semua kegiatan bermain mereka.
7. Berikan contoh yang baik untuk ditiru.
8. Berikan petunjuk yang jelas dalam sebuah permainan, hati-hati; jika perlu peragaan apa yang harus dilakukan.
9. Sediakan kesempatan untuk mengekspresikan imaginasi dan kreativitas mereka.
10. Pilihlah guru-guru yang berjiwa muda dan menyenangkan untuk mendampingi, membimbing, dan menghadapi anak-anak selama kegiatan bermain diadakan.
4.6 Aktivitas yang Cocok untuk Anak Batita (Umur 2-3 Tahun)
Secara fisik, anak berumur antara 2-3 tahun adalah anak yang suka bergerak, berlari, melompat, memanjat dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Namun mereka cepat lelah karena otot-otot belum berkembang dengan sempurna, sehingga mereka belum dapat melakukan pekerjaan tangan yang rumit. Untuk itu sediakan aktivitas dan permainan sederhana yang dapat mereka kerjakan. Beberapa aktivitas yang cocok bagi mereka antara lain:
1. Permainan Balok
Gunakanlah balok-balok kayu/plastik, dan ajaklah anak-anak untuk menyusun balok menurut imajinasinya sendiri. Biarkan mereka membuat bentuk menurut keinginan mereka sendiri, walau mungkin mereka masih membuat bentuk-bentuk yang sederhana seperti rumah, bintang dan sebagainya. Permainan ini selain dapat melatih perkembangangan kekuatan ototnya, juga dapat membantu mereka meningkatkan imajinasi mereka.
2. Puzzle
Puzzle adalah permainan yang menyusun suatu gambar atau benda yang telah dipecah dalam beberapa bagian. Jangan menggunakan puzzle yang terlalu rumit, tapi gunakan yang sederhana yang terdiri sekitar 5-10 potong, sehingga anak-anak dapat menyusun dengan mudah.
3. Menggambar
Sediakan kertas dan crayon dan biarkan anak membuat gambar menurut imajinasi mereka, walau pada umur sekian biasanya mereka masih membuat cakar ayam. Tapi bila ditanya mereka dapat menjawab objek yang sedang digambarnya, seperti ayahnya, anjingnya, ayamnya dsb.
4. Menempel
Gunakan gambar-gambar sederhana yang telah dikenal oleh anak, misal: ikan dan roti (untuk kisah "5 roti dan 2 ikan"), atau meminta anak menempel "mata ikan" pada tempat yang sesuai. Bisa juga diberikan beberapa potong gambar dan minta anak menempelkan sesuai keingan mereka sendiri, misal: gambar seorang gembala, seekor anjing, dan 3 anak domba serta selembar kertas hijau berbentuk padang rumput yang luas. Aktivitas ini bisa juga disertai dengan pelajaran berhitung. Seusai menempel gambar ajaklah anak menghitung jumlah ikan, roti, domba, dsb.
5. Mewarnai
Sediakan kertas dengan gambar di atasnya, pensil warna, spidol atau crayon. Mintalah anak-anak mewarnai gambar tersebut. Walau mereka belum dapat mewarnai dengan sempurna, tapi kegiatan ini dapat melatih kepekaan mereka akan warna.
Demikianlah beberapa aktivitas yang dapat dilakukan oleh anak-anak umur 2-3 tahun. Semoga hal ini dapat membantu anda dalam melayani anak-anak umur batita ini.
Sumber:
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, halaman 23, Gospel Light, Ventura, 1992.
4.7 Aktivitas yang Cocok untuk Anak Pratama (Umur 6-8 Tahun)
Anak-anak Pratama, pada umur 6 tahun mereka sudah mulai belajar membaca, lalu pada umur 7-8 tahun biasanya kemampuan membaca mereka sudah meningkat. Aktivitas untuk anak Pratama ini lebih bervariasi dibanding dengan anak Batita dan Balita. Pada anak umur 6-8 tahun ini, Alkitab sudah dapat dipakai sebagai bahan aktivitas untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami melalui membaca, menyimak, mengingat dan menghafal. Aktivitas yang cocok bagi anak Pratama ini antara lain:
1. Membaca Alkitab
Saat bercerita berikan kesempatan pada anak-anak untuk membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat yang sesuai dengan cerita hari itu. Bantulah mereka mencari nama kitab, pasal, dan ayatnya.
2. Menghafal Ayat
Pada akhir cerita, Guru Sekolah Minggu dapat membagikan secarik kertas yang berisi ayat-ayat Alkitab yang sesuai dengan cerita pada hari itu dan mintalah anak-anak untuk menghafalkannya, lalu pada pertemuan selanjutnya mintalah mereka untuk mengulang ayat hafalan tersebut.
3. Permainan
Banyak permainan dapat digunakan untuk anak-anak Pratama ini, antara lain mencari ayat, teka-teki dan banyak permainan lainnya.
4. Drama
Anak umur 6-8 Tahun sudah dapat dilibatkan dalam permaianan drama pendek dan mereka sudah dapat memerankan sesuatu, misalnya menjadi Zakheus, Lazarus, Martha, dsb.
5. Aktivitas Seni
Aktivitas seni ini antara lain menggambar, menempel, mewarnai, prakarya dan sebagainya. Pakailah tokoh-tokoh dalam Alkitab sebagai obyek supaya mereka semakin dekat dengan Alkitab.
6. Tulis Menulis
Mintalah mereka menuliskan pengalaman mereka sehari-hari atau pengenalan dan hubungan mereka dengan Tuhan, sesama atau alam.
Demikian aktivitas yang dapat dilakukan oleh anak-anak Pratama, semoga Tuhan memberkati.

4.8 Aktivitas Menarik untuk Anak Madya (Umur 9-11 Tahun)
Mengingat usia anak madya (9-11 tahun) adalah kelompok usia terakhir di kelas Sekolah Minggu, maka ini adalah kesempatan terakhir pula bagi Guru Sekolah Minggu untuk menanam dan menguatkan iman mereka sebelum mereka memasuki usia pra-remaja. Berikut ini beberapa aktivitas menarik yang dapat membantu mereka mengenal alat-alat yang berguna untuk mempelajari Alkitab sendiri.
Belajar menggunakan Kamus Alkitab (Bible Dictionary).
Perkenalkan kepada mereka salah satu Kamus Alkitab (usahakan yang dilengkapi dengan gambar atau foto berwarna). Jelaskan apa gunanya dan bagaimana menggunakannya dengan memberikan contoh.
Belajar dengan menggunakan Peta.
Contoh: Mengikuti perjalanan pelayanan Paulus. Gunakan Peta Alkitab untuk menelusuri kota-kota dimana Paulus pernah datangi lalu bandingkan dengan Peta Umum (dimana lokasinya, dulu namanya apa, sekarang dikenal sebagai kota apa, bagaimana kondisi kota tsb. pada jaman itu, dan bagaimana kondisinya saat ini, dsb.).
Belajar dari Buku Sejarah.
Terlebih dulu Guru harus memilih peristiwa apa yang akan dibahas, misalnya: Kehidupan Musa. Ajak anak-anak untuk mempelajari dan mencatat dari Alkitab berbagai fakta sejarah mengenai kehidupan Musa, misalnya: nama negara, kota, tempat (Mesir, Pitom & Ramses, Gosyen), sungai (Nil), peristiwa (membangun kota perbekalan), dsb. Lalu ajak anak membaca sejarah mengenai Mesir pada masa itu (siapa yang memerintah, bagaimana kehidupan raja vs budak, dsb)
Belajar dengan menggunakan Foto/Gambar.
Persiapkan beberapa foto/gambar yang anda miliki, seperti: foto Taman Getsemani, Sungai Yordan, Bukit Golgota, dsb. - semua ini bisa didapatkan di toko buku Kristen atau dengan membawa Kamus Alkitab (Bible Dictionary). Ajak anak memainkan permainan: "Di manakah aku?" dengan memberi pertanyaan yang mengarah supaya anak dapat menebak tempat yang anda maksud. Bila anak dapat menjawab dengan benar, tunjukkan foto tempat yang dimaksud.
Belajar dengan menggunakan Film
Seringkali peristiwa yang tertulis di Alkitab "kurang hidup" atau "kurang menarik" karena bahasa yang digunakan tidak seperti karangan novel atau cerita detektif. Dengan melihat film mengenai peristiwa yang tertulis di Alkitab mungkin bisa menolong memperkaya pemahaman anak akan peristiwa tsb. Mis.: film Kehidupan Tuhan Yesus, Musa, dsb.
Ada juga film-film yang sifatnya pengajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah dan sejarah, misal: menjelaskan apakah hujan api dan belerang yang terjadi di Sodom dan Gomora benar-benar terjadi, bagaimana dengan peristiwa air bah, dsb.
4.9 Aktivitas yang Cocok untuk Pra-Remaja (Umur 12-14 Tahun)
Kegiatan yang cocok untuk Pra-Remaja antara lain:
Penyelidikan Alkitab
Penyelidikan Alkitab ini dilakukan untuk merangsang anak-anak Pra-Remaja untuk mengetahui fakta dan kebenaran yang terdapat dalam Alkitab. Kegiatan ini dapat dilakukan secara kelompok atau mandiri. Metode yang cocok digunakan adalah Studi Alkitab Induktif supaya anak menggali sendiri kebenaran Firman Tuhan.
Penyelidikan Peta
Dalam menceritakan kisah Alkitab ajaklah mereka untuk membuka peta Alkitab agar mengetahui dimana kisah itu terjadi. Ajaklah juga melihat informasi-informasi tambahan lainnya, misalnya melihat latar belakang kota / daerah / kerajaan / bangsa / nama yang sedang dipelajari dengan memakai Kamus Alkitab atau Buku Ensiklopedia.
Diskusi
Diskusi ini dilakukan untuk mendorong mereka melihat kebenaran Alkitab dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagaimana menghadapi masalah-masalah remaja. Berikan judul-judul yang menarik supaya mereka tertarik untukb erdiskusi, misalnya Orang Farisi Jaman Milenium, Katakan "NO" pada Narkoba, dll.
Sharing
Sharing ini dilakukan untuk saling berbagi pengalaman hidup masing-masing, supaya dapat saling menguatkan dan menolong serta mendoakan. Usahakan untuk memisahkan kelompok laki-laki dan wanita, supaya mereka lebih merasa aman.
Kegiatan Di Alam Terbuka (Outdoors)
Jika memungkinkan sekali-kali ajaklah anak untuk pergi melakukan kegiatan di alam terbuka, misalnya berkemah, naik gunung, hiking, bersepeda ke desa dll. Bimbinglah mereka untuk bersahabat dengan alam, supaya menghargai ciptaan Tuhan. Melakukan kegiatan bersama-sama ini akan mengajar mereka untuk saling memperhatikan, mengasihi dan menolong satu dengan yang lain.
Demikian beberapa kegiatan yang cocok untuk Pra-Remaja, selamat mencoba.
4.10 Aktivitas yang Biasa Dilakukan
Anda bingung dalam mempersiapkan fasilitas-fasilitas belajar dan bermain di Sekolah Minggu Anda? Agar tidak terlalu bingung dan agar Anda bisa maksimal dalam menentukan peralatan apa saja yang harus disediakan, sesuaikanlah persediaan peralatan belajar dan bermain tersebut dengan aktivitas yang biasa dilakukan di Sekolah Minggu Anda.
AKTIVITAS YANG BIASA DILAKUKAN


Ada banyak aktivitas yang dari tahun ke tahun sering (biasa) dilakukan di kelas-kelas Sekolah Minggu. Aktivitas-aktivitas tsb. tidak pernah bosan dilakukan karena sangat sederhana dan berguna untuk mendukung pengajaran yang diberikan. Nah, silakan simak beberapa aktivitas berikut ini:
1. Anak-anak membuat aktivits kerajinan tangan (prakarya) yang disesuaikan dengan cerita, supaya anak dapat mengingat cerita hari itu dengan lebih baik. Biasanya disertai juga dengan ayat hafalan untuk pelajaran hari itu.
2. Anak-anak mengisi soal: entah itu berupa teka-teki, kuis, atau pertanyaan dari buku aktivitas; baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Adapun tujuan utamanya adalah untuk mengingatkan anak akan isi cerita/pelajaran hari itu.
3. Anak menggambar, melukis, atau mewarnai gambar tertentu yang berhubungan dengan cerita/pelajaran yang sedang diajarkan saat itu.
4. Anak menempel gambar pada kertas karton untuk menggambarkan suasana pelajaran hari itu.
5. Anak membuat sebuah karangan, tulisan, atau cerita sebagai tanggapan atas pelajaran yang diberikan hari itu.
6. Anak-anak membuat kolase (menyusun gambar dan menceritakannya kembali) sesuai dengan pelajaran yang sedang diberikan.
7. Tanya-jawab lisan antara guru dan anak berkaitan dengan penerapan cerita yang diberikan agar anak menangkap inti berita pelajaran hari itu.
8. Aktivitas kelompok: diskusi kelompok, soal untuk dikerjakan bersama dan sebagainya sebagai cara untuk mendorong anak memikirkan lebih lanjut pelajaran yang diberikan.
4.11 Kreasi Cerdas Tangkas Alkitab
Aktivitas yang dapat dilakukan dalam rangka kegiatan PASKAH adalah mengadakan "Cerdas Tangkas". Kreasi dalam mengadakan kegiatan Cerdas Tangkas dapat Anda lihat dari artikel di bawah ini .... :)
KREASI CERDAS TANGKAS ALKITAB
1. Cerdas Tangkas Umum:
Hal ini diatur seperti dalam kuis televisi. Pilihlah beberapa regu yang terdiri dari empat orang untuk melawan regu-regu yang lain. Pertanyaan diajukan kepda regu demi regu dan masing-masing regu memperoleh angka. Regu yang menang akan melawan regu lain sampai pemenang akhir keluar. Permainan ini dapat digunakan untuk acara yang teratur pada hari Minggu sore sebelum kebaktian malam atau dapat juga digunakan bila ada perayaan khusus seperti PASKAH.
2. Cerdas Tangkas Gelembung Sabun:
Pertanyaan diajukan kepada seorang peserta lomba, kemudian gelembung sabun ditiup ke udara. Orang itu harus memberi jawaban sebelum gelembung itu pecah. Jawaban yang betul diberi angka lima. Peserta boleh beregu, boleh juga perorangan.
3. Cerdas Tangkas Jam:
Untuk mengadakan permainan ini harus ada seorang yang bertugas sebagai penjaga waktu. Setiap pertanyaan harus dijawab selambat- lambatnya dalam 10 detik. Satu regu mulai diberi waktu menjawab lebih dahulu. Sepuluh detik selanjutnya tetap menjadi milik regu pertama itu kalau jawabannya benar. Bila regu pertama gagal, maka regu kedua mengambil alih waktu. Regu yang mampu menjawab lebih banyak pertanyaan, ataupun yang menggunakan waktu lebih sedikit untuk menjawab pertanyaan, itulah yang menang. Dalam permainan ini dua regu atau lebih dapat ikut serta.
4. Cerdas Tangkas Warna:
Masukkanlah sejumlah kelereng ke dalam sebuah mangkuk. Tiap-tiap peserta mengambil sebuah. Para peserta yang mendapat warna putih tidak usah menjawab pertanyaan. Peserta yang memperoleh warna cerah menjawab pertanyaan lebih mudah sedangkan warna tua berarti pertanyaan yang rumit. Regu yang berhasil menjawab pertanyaan- pertanyaan rumit diberi nilai 10, pertanyaan ringan masing-masing nilainya 5.
5. Cerdas Tangkas Bulu:
Pilihlah beberapa regu untuk memainkan cerdas tangkas ini. Masing-masing regu mempunyai seorang jurubicara yang menjawab pertanyaan. Ketika pemimpin bertanya kepada jurubicara tadi, maka teman seregunya meniup sehelai bulu ke udara. Wakil regu itu hanya boleh menjawab pertanyaan selama bulu tersebut melayang di udara tanpa menyentuh benda. Jika bulu itu menyentuh tembok, langit-langit, orang, atau apa saja, maka waktu untuk menjawab habis. Sepanjang bulu masih bebas terbang, si jurubicara berhak menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Jika ia gagal atau kehabisan waktu, tibalah giliran regu lain. Angka yang diberikan besarnya berbeda-beda. Misalnya: jawaban yang benar untuk pertanyaan pertama mendapat 5, yang kedua 10, yang ketiga 15, dan seterusnya.
6. Cerdas Tangkas Kurir:
Bentuklah dua buah kelompok. Masing-masing kelompok memegang Alkitab. Ketika aba-aba diberi, masing-masing kelompok saling memberi pertanyaan kepada kelompok lain melalui seorang kurir (jadi kelompok A membuat pertanyaan yang disampaikan oleh kurirnya kepada kelompok B, demikian juga sebaliknya). Dalam jangka waktu 20 detik kelompok yang ditanyai harus memberi jawaban kepada kelompok yang bertanya. Bila jawabannya salah, maka kelompok yang gagal itu harus menyerahkan satu orang anggotanya kepada kelompok penanya. Demikianlah juga seterusnya. Pada akhir permainan (misalnya setelah empat atau lima menit), maka kelompok yang memperoleh anggota paling banyak, itulah yang menang.
[Red.: Dalam rangka merayakan PASKAH, buatlah pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kematian ataupun kebangkitan Tuhan Yesus.]
Sumber:
• Ronald F. Keeler, Belajar Alkitab Melalui Permainan, halaman 14 - 16, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997.


4.12 Pentingnya Permainan
Sebagian orang kurang setuju apabila permainan digunakan di dalam program SM, sebagian yang lain setuju. Yang tidak setuju mengatakan bahwa permainan itu bersifat duniawi dan karena itu tidak baik dibawa ke dalam gereja. Yang setuju mengatakan bahwa permainan diperlukan untuk menghancurkan kebekuan (ice-breaking). Memang pro-kontra adalah sesuatu yang wajar, "Kepala sama hitam, tetapi pendapat berbeda," demikian orang berkata.
Terlepas dari itu semua, permainan sesungguhnya sangat penting untuk kehidupan dan pendidikan, khususnya untuk manusia dalam fase kanak-kanak. Frederick Wilhelm Froebel (1782-1852) kelahiran Jerman dan Maria Montessori (1870-1952) kelahiran Italia mengembangkan konsep pendidikan dengan unsur permainan (belajar dengan bermain). Konsep ini ternyata berhasil jika dilaksanakan dengan baik.
Bermain merupakan bagian terbesar dalam hidup anak-anak dan merupakan sesuatu yang esensial bagi anak-anak untuk dapat belajar memahami konsep, mengembangkan keterampilan sosial dan fisik, mengatasi situasi, dan juga melakukan proses berbahasa. Melalui bermain, anak-anak belajar. Tanpa kesempatan untuk bermain dan tanpa lingkungan yang menunjang untuk bermain, kemampuan belajar anak-anak terbatas. Program pembelajaran anak-anak yang memberikan kesempatan untuk bermain ternyata meningkatkan dan memperluas kemampuan belajar anak-anak. Ada pula teori yang menyatakan bahwa dengan cara bermain, anak-anak melepaskan kelebihan energinya yang efeknya adalah menghilangkan frustrasi.
Dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, anak-anak membutuhkan perangsangan untuk pengembangan diri secara maksimum. Salah satu perangsangan yang diperlukan adalah kesempatan bergerak. Dalam bermain, anak-anak melakukan pergerakan yang merupakan rangsangan untuk perkembangan otak. Selain itu bergerak dapat mempengaruhi seluruh aspek perkembangan anak dalam hal kognitif, motorik maupun afektif.
Pada tahun-tahun awal kehidupan, seorang anak mengembangkan kemampuan melakukan gerakan motor kasar (tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan). Dengan bertambahnya usia, berkembangnya kematangan otak, dan proses belajar, anak bisa melakukan gerakan motor halus, seperti memegang dengan ibu jari dan telunjuk, mencoret, menggambar, dll. Pada tahap selanjutnya anak dapat mengembangkan gerakan sensori dan motor yang lebih kompleks seperti naik sepeda, memanjat dan berenang.
Seperti telah ditulis di atas, bergerak juga mempengaruhi perkembangan kognitif dan afektif anak-anak. Suplemen harian Kompas (SWARA No.27, 12 Agustus 1999) menyatakan bahwa melalui bermain ada dua aspek yang dapat berkembang: kemampuan berpikir kritis dan kecerdasan emosi. Berpikir kritis dalam diri anak-anak dapat timbul dalam bentuk pertanyaan yang menunjukkan keingintahuannya: "Mengapa begitu, mengapa begini?" Kecerdasan emosi menyangkut kemampuan mengenali emosi diri sendiri, kemampuan mengatur dan mengekspresikan emosi diri dengan tepat, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, kemampuan untuk mengenali emosi orang lain, dan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
Fungsi bermain
Permainan memperluas interaksi sosial dan mengembangkan keterampilan sosial -- yaitu belajar bagaimana berbagi, hidup bersama, mengambil peran, belajar hidup dalam masyarakat secara umum. Permainan meningkatkan perkembangan fisik, koordinasi tubuh dan mengembangkan dan memperhalus keterampilan motor kasar dan halus. Permainan juga membantu anak-anak memahami tubuhnya: fungsinya dan bagaimana menggunakannnya dalam belajar. Anak-anak bisa mengetahui bahwa bermain itu menyegarkan, menyenangkan dan memberikan kepuasan.
Permainan dapat membantu perkembangan kepribadian dan emosi, karena anak-anak mencoba melakukan berbagai peran, mengungkapkan perasaan, menyatakan diri dalam suasana yang tidak mengancam, dan juga memperhatikan peran orang lain. Melalui permainan anak-anak bisa belajar mematuhi aturan, menghargai hak orang lain.
Pada bagian selanjutnya akan disampaikan makna permainan secara lebih terinci, mengikuti sistematika edisi khusus majalah Ayahbunda berjudul Bermain, Dunia Anak.
Bermain dan kemampuan intelektual
Fungsi bermain terhadap kemampuan intelektual dapat dilihat pada beberapa hal berikut ini:
• merangsang perkembangan kognitif
Melalui bermain sensori-motor (indera-pergerakan) anak-anak dapat mengenal permukaan lembut, kasar atau kaku. Permainan fisik akan mengajarkan kepada anak batas kemampuannya sendiri. Permainan juga meningkatkan kemampuan abstraksi (imajinasi dan fantasi) sehingga anak-anak semakin jelas mengenal konsep besar-kecil, atas-bawah, penuh-kosong. Melalui permainan anak-anak dapat menghargai aturan, keteraturan dan logika
• membangun struktur kognitif
Melalui permainan anak-anak akan memperoleh informasi yang lebih banyak, sehingga pengetahuan dan pemahamannya akan lebih kaya dan lebih dalam. Bila informasi baru ini ternyata berbeda dengan yang selama ini diketahuinya, anak dapat mengubah informasi yang lama sehingga ia mendapatkan pemahaman atau pengetahuan yang lebih baru. Jadi melalui bermain, struktur kognitif anak terus diperkaya, diperdalam, dan diperbarui sehingga semakin sempurna.
• membangun kemampuan kognitif
Kemampuan kgonitif mencakup kemampuan mengidentifikasi, mengelompokkan, mengurutkan, mengamati, membedakan, membuat peramalan, menentukan hubungan sebab-akibat, membandingkan, menarik kesimpulan. Permainan akan mengasah kepekaan anak-anak akan keteraturan, urutan dan waktu. Permainan juga meningkatkan kemampuan logis (logika).
• belajar memecahkan masalah
Di dalam permainan, anak-anak akan menemui berbagai masalah, sehingga permainan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengetahui bahwa ada bererapa kemungkinan untuk memecahkan masalah. Anak-anak juga mungkin bertahan lebih lama menghadapi kesulitan agar persoalan yang dihadapinya dapat dipecahkan. Proses pemecahan masalah ini mencakup adanya imajinasi aktif anak-anak. Imajinasi aktif akan mencegah timbulnya kebosanan yang merupakan pencetus kerewelan pada anak-anak.
• mengembangkan rentang konsentrasi
Apabila tidak ada konsentrasi atau rentang perhatian yang memadai, seorang anak tidak mungkin dapat bertahan lama bermain peran (pura-pura menjadi dokter, ayah-anak-ibu, guru, dll.). Ada hubungan yang dekat antara imajinasi dan kemampuan konsentrasi. Imajinasi membantu meningkatkan kemampuan konsentrasi. Anak-anak yang tidak imajinatif memiliki rentang perhatian (konsentrasi) yang pendek dan memiliki kemungkinan besar untuk berperilaku agresif dan mengacau.
Bermain dan perkembangan bahasa
Dapat dikatakan bahwa kegiatan bermain merupakan "laboratorium bahasa" buat anak-anak. Di dalam bermain, anak-anak bercakap-cakap satu dengan yang lain, berargumentasi, menjelaskan, meyakinkan. Jumlah kosakata yang dikuasai anak-anak dapat meningkat, karena mereka dapat menemukan kata-kata baru.
Bermain dan perkembangan sosial
Perkembangan sosial yang terjadi melalui proses bermain adalah sebagai berikut:
• meningkatkan sikap sosial
Ketika bermain anak-anak harus memperhatikan sudut pandang teman bermainnya, dan dengan demikian akan mengurangi sikap egosentrisnya. Dalam permainan itu pula anak-anak dapat belajar bagaimana bersaing dengan jujur, sportif, tahu akan haknya dan peduli akan hak orang lain. Anak-anak juga dapat belajar apa artinya sebuah tim dan semangat tim.
• belajar berkomunikasi
Agar dapat melakukan permainan, seorang anak harus dapat mengerti dan dimengerti oleh teman-temannya. Karena itu melalui permainan anak-anak dapat belajar bagaimana mengungkapkan pendapatnya, mendengarkan pendapat orang lain. Di sini pula anak belajar untuk menghargai pendapat orang lain dan perbedaan pendapat.
• belajar mengorganisasi
Permainan seringkali menghendaki adanya peran yang berbeda dan karena itu dalam permainan ini anak-anak dapat belajar berorganisasi berkaitan dengan penentuan siapa yang akan menjadi apa. Melalui permainan ini anak-anak dapat juga belajar bagaimana menghargai harmoni dan mau melakukan kompromi.
Bermain dan perkembangan emosi
Emosi akan selalu terkait di dalam bermain, entah itu senang, sedih, marah, takut, cemas, oleh karena itu bermain merupakan suatu tempat pelampiasan emosi dan juga relaksasi.
• kestabilan emosi
Adanya tawa, senyum dan ekspresi kegembiraan lain mempunyai pengaruh jauh di luar wilayah bermain itu sendiri. Ada kegembiraan/perasaan senang yang dirasakan bersama ini dapat mengarah ke kestabilan emosi anak-anak.
• rasa kompetensi dan percaya diri
Bermain menyediakan kesempatan kepada anak-anak untuk mengatasi situasi. Kemampuan mengatasi situasi ini membuat anak merasa kompeten dan berhasil. Rasa mampu ini pula yang akan mengembangkan percaya diri anak-anak. Selain itu anak-anak dapat membandingkan kemampuan pribadinya dengan teman-temannya, sehingga dia dapat memandang dirinya lebih wajar (mengembangkan konsep diri yang realistis).
• menyalurkan keinginan
Di dalam bermain, anak-anak dapat menentukan pilihan ingin menjadi apa dia. Bisa saja ia ingin menjadi "ikan", bukan "cacing", bisa juga ia menjadi "komandan" pasukan perangnya, bukan "prajurit" biasa.
• menetralisis emosi negatif
Bermain dapat menjadi "katup" pelepasan emosi negatif anak, misalnya rasa takut, marah, cemas, dan memberi anak-anak kesempatan untuk menguasai pengalaman traumatik.
• mengatasi konflik
Di dalam bermain sangat boleh jadi timbul konflik antara satu anak dengan lainnya dan karena itu anak-anak bisa belajar memilih alternatif untuk menyikapi atau menangani konflik yang ada.
• menyalurkan agresivitas secara aman
Bermain memberi kesempatan anak-anak menyalurkan agresivitasnya secara aman. Dengan menjadi "raksasa" misalnya anak-anak dapat merasa "mempunyai kekuatan" dan dengan demikian anak-anak dapat mengekspresikan emosinya yang intens yang mungkin ada tanpa merugikan siapapun.
Bermain dan perkembangan fisik
Melalui bermain kemampuan motorik anak-anak dapat berkembang dari kasar ke halus.
• mengembangkan kepekaan penginderaan
Dengan bermain anak-anak dapat mengenal berbagai bentuk; merasakan tekstur: halus, kasar, lembut; mengenal bau; suara dan bahkan rasa. Anak-anak bisa juga mengenali kekerasan benda, suhu, warna,dsb.
• mengembangkan keterampilan motorik
Dengan bermain, seorang anak dapat mengembangkan kemampuan motorik seperti berjalan, berlari, melompat, bergoyang, berguling, mengangkat, menjinjing, melempar, menangkap, meluncur, memanjat, berayun, menyeimbangkan diri. Selain itu anak-anak dapat belajar merangkai, menyusun, menumpuk, mewarna, menggambar.
• menyalurkan energi fisik yang terpendam
Bermain dapat menyalurkan energi berlebih yang ada di dalam diri anak-anak, misalnya dengan bermain kejar-kejaran, bergelut, atau yang lain. Energi berlebih yang tidak disalurkan dapat menyebabkan anak-anak tegang, gelisah dan mudah tersinggung.
Bermain dan kreativitas
Di dalam bermain, anak-anak dapat berimajinasi dan imajinasi dapat mengasah daya kreativitas anak-anak. Adanya kesempatan untuk berpikir lepas dari batas-batas dunia nyata, menjadikan anak-anak dapat mengembangkan proses berpikir yang lebih kreatif yang akan sangat berguna untuk kehidupan nyata sehari-hari.
Manfaat bermain dalam Sekolah Minggu
Setelah mengerti manfaat bermain secara umum di atas, marilah kita sekarang mengarahkan perhatian kita kepada manfaat bermain dalam progrm sekolah minggu.
1. Membantu perkembangan individu
Melihat begitu pentingnya permainan untuk kehidupan anak-anak, akankah kita masih terus berdebat tentang "perlu tidaknya" atau "baik tidaknya" memasukkan permainan ke dalam program sekolah minggu. Dengan memasukkan permainan yang tepat ke dalam program sekolah minggu, kita membantu anak-anak untuk untuk hidup atau membantu mereka siap untuk menghadapi hari-hari depannya. Di sinilah sebetulnya ada kesempatan gereja mengambil peran membangun pribadi seorang individu yang mempunyai dampak serius bagi gereja dan juga negara, karena masa kanak-kanak ini mempunyai efek yang paling besar dalam kehidupan selanjutnya sebagai seorang individu manusia. Bila gereja tidak memberi kesempatan anak bermain, maka anak-anak akan bermain di tempat yang mungkin tidak kita inginkan. Atau bila gereja tidak memberi anak-anak kesempatan untuk bermain secara sehat, maka anak-anak akan melakukan permainan yang tidak sehat di tempat lain.
Memang waktu penyelenggaraan sekolah minggu teramat pendek dibandingkan dengan kegiatan yang lain, akan tetapi jika dilaksanakan dengan baik, maka sekolah minggu dapat berperan banyak. Untuk meningkatkan peran sekolah minggu dalam pembentukan seorang pribadi, maka perlu dipikirkan acara lain selain jam pelaksanaan sekolah minggu.
2. Membantu penyampaian firman Tuhan
Adanya program sekolah minggu yang memasukkan juga unsur bermain ternyata membantu proses penyampaian firman Tuhan. Uji coba rekan satu tim kami menunjukkan bahwa setelah adanya permainan, anak-anak dapat tahan lebih lama dalam mendengarkan firman Tuhan. Ada beberapa hal yang membuat acara bermain cukup membantu proses belajar firman Tuhan:
• Anak-anak menjadi senang dan puas
Dengan bermain anak-anak merasa puas, senang dan hatinya menjadi terbuka untuk dapat mendengar firman Tuhan. Jelas, inilah yang diharapkan dalam program sekolah minggu. Betapa pun pentingnya atau indahnya firman Tuhan disampaikan, akan tetapi ia tidak akan banyak memberikan efek apabila hati pendengarnya tertutup.
• Anak-anak melepaskan energi berlebihnya
Anak-anak masih memiliki energi yang besar dan perlu pelepasan. Dalam bermain anak-anak dapat melepaskan kelebihan energinya dan karena hal ini anak-anak bisa tahan cukup lama berkonsentrasi dalam mengikuti firman Tuhan. Energi berlebih yang tidak disalurkan biasanya akan mendorong anak-anak untuk bermain sendiri, berlari-larian atau mengganggu kawan lain saat firman Tuhan disampaikan.
• Anak-anak lebih memahami arti firman Tuhan
Permainan dapat digunakan pula sebagai alat untuk menjelaskan firman Tuhan dan karena itu melalui permainan anak-anak dapat lebih memahami arti firman yang disampaikan oleh guru sekolah minggu.
Sebagai penutup ingin disampaikan: "Ajaklah anak-anak untuk bermain agar mereka lebih siap menghadapi dan menjalani kehidupan di dunia ini, dan mereka siap pula menerima Yesus dan hidup sebagai murid Kristus."
Sumber : Sudi Ariyanto MEBIG INDONESIA



V Cerita
5.1 Cara Bercerita yang Hidup dan Menarik
Tahukah anda bahwa intonasi suara dan gerakan mata anda sangat menentukan apakah cerita anda hidup dan menarik untuk anak-anak? Bagaimana cara mengatur intonasi suara dan gerakan mata:
1. Anda harus mengeluarkan suara yang cukup keras (tidak perlu berteriak) untuk dapat didengar oleh semua anak di kelas.
2. Untuk menyajikan cerita secara dramatis maka anda harus betul-betul menguasai ceritanya sehingga tahu kapan anda harus menekankan kata-kata tertentu atau memperlihatkan mimik muka tertentu. Mis, jika anda sedang bercerita tentang seorang yang sedang berlari ketakutan, anda perlu ikut mempercepat suara anda dengan mimik muka yang tepat untuk menggambarkan kejadian tsb.
3. Cara anda memperbesar atau memperkecil suara adalah sesuai dengan penjiwaan anda terhadap cerita tsb. Jika itu tercapai maka mudah sekali anda menirukan suara-suara tertentu, mis. suara anak kecil atau orang tua, suara orang memerintah atau suara lembut seorang ibu, suara orang ketakutan atau suara orang marah dll.
4. Tujukan gerakan yang sesuai dengan cerita anda. Mis, jika anda bercerita tentang seorang yang sedang berbisik, anda perlu menirukan gaya orang yang sedang berbisik. dsb.
5. Hal yang paling penting dalam bercerita adalah gerakan mata anda. Jangan sekali-sekali membiarkan mata anda menerawang ke angkasa. Tataplah mata anak-anak secara bergantian. Dengan tatapan mata anda ini anda dapat menguasai seluruh kelas.
Ketika anda berbicara atau bercerita kepada anak di depan kelas, ingatlah bahwa suara anda dan mimik muka serta sorotan mata anda sangat menentukan apakah anda akan berhasil menarik perhatian mereka.

5.2 Teknik Bercerita
Bercerita merupakan salah satu teknik menyampaikan Firman Tuhan yang paling sering digunakan oleh guru Sekolah Minggu. Tuhan Yesus pun, semasa hidup-Nya di dunia, menggunakan teknik bercerita dalam mengajarkan kebenaran kepada para pengikut dan pendengar-Nya.
Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih menggunakan teknik bercerita dibanding teknik lainnya seperti drama, diskusi, atau menggunakan peralatan audio visual. Beberapa alasan yang sering dikemukakan adalah:
1. Lebih Praktis dan Fleksibel
Praktis karena dapat dilakukan seorang diri tanpa koordinasi dengan orang lain (seperti drama, misalnya) dan juga fleksibel karena cerita dapat disampaikan hampir di segala tempat maupun situasi, baik di dalam atau di luar kelas, kepada orang dalam jumlah banyak atau sedikit.
2. Lebih Murah (Tanpa atau dengan Alat Peraga)
Bercerita merupakan alat pengajaran yang sangat murah, karena dapat digunakan dengan atau tanpa alat peraga. Guru Sekolah Minggu dapat bebas memilih dan mengembangkan sendiri alat peraga yang bervariasi, baik membawa gambar, peraga, boneka sebagai partner, membuat sketsa selama bercerita, menciptakan gerak-gerik tertentu dan melibatkan anak dalam cerita, dan variasi-variasi yang lain.
3. Pada Umumnya Anak Lebih Menyukai Cerita
Untuk anak yang lebih kecil, bahkan cerita yang sudah dikenal pun akan tetap memiliki daya tarik bila guru dapat mengemasnya dengan variasi cerita yang menarik, yang disertai adegan-adegan pengulangan pada bagian tertentu. Sedangkan bagi anak yang lebih besar, keahlian guru membangkitkan rasa ingin tahu anak terhadap kelanjutan cerita akan memikat perhatian mereka selama proses bercerita disampaikan.
Sayangnya, Teknik Bercerita seringkali dianggap sebagai teknik yang pal ing "mudah", sehingga sebagian guru merasa tidak perlu melakukan persiapan karena mereka tinggal "menceritakan ulang" isi bahan persiapan mengajar yang telah dibaca atau didapatnya dari kelompok persiapan guru. Padahal, dalam menyampaikan cerita, seseorang harus benar-benar memiliki persiapan yang cukup matang untuk mengemas ulang bahan pengajarannya. Hal ini penting untuk dilakukan supaya pada saat cerita disampaikan, tujuan yang ingin dicapai benar-benar sampai pada sasaran.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan Teknik Bercerita antara lain:
1. Pendengar Harus Terlibat
Seorang guru Sekolah Minggu biasanya menyampaikan cerita lengkap dengan berbagai intisari pengajarannya tanpa melibatkan anak-anak yang diajarnya. Padahal, keterlibatan anak secara aktif akan semakin mendorong pemahaman anak akan arti cerita. Dalam beberapa kesempatan pelayanannya, Tuhan Yesus tidak hanya menyampaikan cerita, kotbah atau perumpamaan saja, namun juga membuat para pendengar-Nya memberikan respons/tanggapan. Dan dari berbagai tanggapan tersebut, Tuhan Yesus mengemasnya sedemikian rupa untuk melanjutkan apa yang ingin disampaikan-Nya pada orang banyak. (Luk 20:9-19, Luk 17:1-6, Luk 14:12-14 dilanjutkan dengan ayat Luk 14:15-24)
2. Cerita Dapat Dimengerti dan Memiliki Makna Bagi Pendengarnya
Dalam menyampaikan cerita, guru juga harus jeli melihat kebutuhan rohani anak yang dilayaninya, keadaan dan situasi dimana anak tersebut tinggal, serta pengetahuan anak tentang dunianya. Cerita di Alkitab mengenai "perumpamaan bendahara yang tidak jujur", misalnya, akan kurang mengena bila disampaikan pada anak balita, tapi kisah "Tuhan Yesus memberkati anak-anak" akan jauh lebih mengena dan kontekstual bagi kehidupan mereka. Tuhan Yesus sendiri dalam menyampaikan perumpamaan, misalnya, menggunakan tempat dan situasi yang sudah akrab dengan para pendengarnya, seperti: seorang penabur dengan tanah garapannya, seorang ayah dan anaknya, seorang tuan dan hamba, para pekerja di kebun anggur, dan sebagainya.
3. Guru Benar-Benar Memahami Cerita yang akan Disampaikan
Seorang pembawa cerita yang baik dapat membawa anak-anak serasa masuk ke dalam tempat dan suasana cerita yang sesungguhnya dan dapat membuat karakter dalam cerita menjadi lebih hidup. Hal ini bisa terjadi apabila guru benar-benar memahami cerita yang akan disampaikan. Hal-hal yang perlu dipahami dengan benar antara lain:
• Tempat Kejadian
Dalam menggambarkan tempat kejadian, gunakanlah alat peraga dan kalimat yang jelas untuk memudahkan anak-anak menggambarkan dan memahami tempat terjadinya peristiwa tersebut.
• Kejadian/Peristiwa
Dalam bercerita pada anak-anak kecil, sebaiknya anda menyampaikan alur kejadian secara urut, dari awal, pertengahan hingga akhir. Cerita yang menggunakan alur flashback tidak akan banyak membantu anak-anak dalam memahami dan mengerti cerita yang disampaikan. Jika suatu cerita merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya, maka, sebelum bercerita, berilah pertanyaan pada anak-anak untuk mengingatkan cerita sebelumnya. Usahakan anda menceritakan terjadinya peristiwa secara kronologis.
• Karakter
Dalam bercerita, jelaskan karakternya, tokoh atau pelaku yang terdapat dalam cerita tersebut, siapa namanya, bagaimana kepribadiaannya, bagaimana bentuk wajahnya, penakut, pemalu atau pemberani. Bagaimana bentuk badannya, tinggi, kurus, pendek, gemuk. Apa status sosialnya, raja, penduduk, pendatang, pedagang atau pemungut cukai. Apa motivasi yang dimiliki tokoh tersebut. Apa keistimewaannya. Dan kembangkanlah karakternya dengan jelas.
Ada sebagian orang yang disebut "berbakat" atau "berkharisma" sehingga dengan mudah orang-orang ini memikat perhatian para pendengarnya. Namun sebagai pelayan Tuhan, janganlah kita berkecil hati bahkan terkecoh oleh penampilan luar seseorang. Ingatlah bahwa dalam menyampaikan Firman Tuhan, tugas kita sebagai guru Sekolah Minggu adalah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan, selanjutnya Roh Kudus yang akan bekerja untuk memberikan buah-buah pertobatan.
Sumber:
• Dr. Robert J. Choun & Dr. Michael S. Lawson, The Complete Handbook for Children Ministry: How to Reach and Teach Next Generation, halaman 308 - 309, Thomas Nelson Publishers, Nashville, 1993.


5.3 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Bercerita
"Ceritanya menarik sekali!"
"Wah ... ceritanya benar-benar membosankan"
"Ehmm ... apa ya ceritanya tadi?"
"Ceritanya bagus sih ... tapi, maksudnya apa saya tidak tahu"
"Yaah .. kalau itu sih saya sudah tahu ceritanya ..."
Berbagai komentar anak di atas tentulah sudah tidak asing bagi para guru Sekolah Minggu. Cerita, di satu sisi, dapat memikat perhatian anak, tapi sebaliknya, cerita juga dapat menjauhkan perhatian anak dari guru yang bercerita. Oleh karena itu seorang guru harus benar-benar mempersiapkan diri dengan baik sebelum memberanikan diri bercerita di depan anak-anak. Sedikitnya ada 3 hal penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu:
A. Orang Yang Bercerita
1. Penampilan
Meskipun bukan yang utama, penampilan tetap harus dijaga. Guru harus tampak rapi, bersih, mengenakan baju yang pantas dan membuatnya merasa nyaman serta mudah bergerak, bersikap wajar dan rileks.
2. Gerakan Tubuh
Gerakan tubuh harus dijaga supaya tidak mengalihkan perhatian anak dari fokus cerita. Beberapa orang memiliki kecenderungan melakukan gerakan-gerakan yang "mengganggu" tanpa disadarinya, seperti: memasukkan tangan ke dalam saku celana, menggaruk-garuk kepala, pandangan selalu ke atas, dsb. Guru sebaiknya memang bergerak selama menyampaikan cerita, asal tidak berlebihan sehingga malah membingungkan anak karena harus menoleh dan memutar kepalanya.
3. Ekspresi
Idealnya pandangan mata mengarah pada mata murid, asal jangan menatap dengan terlalu tajam atau melihat pada murid-murid tertentu saja. Dalam bercerita, gunakanlah ekspresi muka (takut, marah, benci, senang). Ubahlah tekanan suara (berat, ringan), kecepatan suara (cepat, lambat), dan volume suara (keras, kecil), serta bentuk suara (gagap, serak). Perhatikan setiap jeda kalimat.
4. Pilihan Kata
Pilihan kata harus tepat, dan di sinilah letak pentingnya persiapan yang matang. Dalam bercerita kepada anak pilihlah kata-kata dan pakailah bahasa yang sederhana menurut tingkatan pemahaman mereka. Hindari istilah yang sulit, kecuali istilah tersebut memang merupakan bagian penting dalam cerita, misalnya: akan menjelaskan mengenai sinagoge.
Arahkan setiap komentar dan pertanyaan agar tujuan pengajaran dapat disampaikan serta hindarilah cerita yang panjang lebar. Buatlah agar cerita yang disampaikan seringkas mungkin, untuk menjaga konsentrasi dan perhatian anak-anak, selain itu setelah cerita berakhir masih ada waktu untuk diskusi.
B. Keseluruhan Cerita
1. Pendahuluan
Bagian ini sangat menentukan keberhasilan seluruh cerita anda, karena merupakan momen penting untuk mengikat perhatian anak. Pendahuluan harus dibuat semenarik mungkin sehingga menimbulkan rasa ingin tahu anak. Kalimat pendahuluan dengan menanyakan, "Siapa yang masih ingat cerita minggu lalu?" sepertinya bukan ide yang baik.
2. Perubahan
Meskipun telah dipersiapkan dengan matang, tidak menutup kemungkinan akan terjadi perubahan saat anda menyampaikan cerita, misalnya, ada anak yang memotong cerita anda dengan pertanyaan, ada anak yang menangis, ada anak yang berkelahi, dsb. Di sini anda dituntut untuk "menyelamatkan situasi" dengan berbagai cara, termasuk dengan menggunakan situasi yang sedang berkembang sebagai bahan cerita.
3. Fokus
Hindarilah menyisipkan ajaran moral lain di tengah-tengah cerita, selain akan mengaburkan cerita utama, hadirnya "pesan sponsor" tersebut akan membuat cerita utama kehilangan daya tariknya.
4. Penutup
Cerita harus diakhiri dengan situasi yang membuat anak menahan napas serta menanti-nantikannya. Begitu sampai pada klimaks, segeralah akhiri, karena bila terlau pamnjang lebar, anak-anak biasanya akan merasa jenuh dan letih. Berikan kesan yang mendalam pada anak saat anda menyampaikan penutup karena inilah bagian penting yang perlu anda tekankan pada mereka.
C. Pengaturan Tempat Dan Suasana
Cerita dapat disampaikan dengan duduk mengelilingi meja, di atas lantai/tikar, atau berkerumun di dekat api unggun. Yang penting pastikan bahwa anak-anak merasa nyaman sebelum cerita dimulai dan bahwa setiap anak memiliki pandangan yang jelas (tidak terhalang) pada guru yang akan menyampaikan cerita.
Pendengar anak-anak cenderung untuk mendekat pada orang yang bercerita selama cerita berlangsung, khususnya jika ada alat bantu yang menarik, seperti: orang-orangan, boneka maupun wayang. Jadi, buatlah aturan tertentu sebelum cerita disampaikan.
Hubungan yang akrab dapat dibangun antara guru dan anak-anak dengan kontak mata dan interaksi. Untuk memelihara hubungan ini usahakan kelas terdiri dari sekelompok kecil anak, dan anak yang memiliki fisik paling kecil dapat duduk di bagian depan.
Bila cerita harus disampaikan dalam kelompok besar, maka posisikan guru-guru yang lain untuk duduk di tengah anak-anak, supaya dapat menjaga dan memberikan contoh pada anak bagaimana sikap mendengarkan yang baik.
Jika anda memikirkan kemungkinan terjadinya pengalihan perhatian anak, misalnya oleh anak-anak lain yang berkeliaran di lokasi cerita, rencanakan agar setiap anak membawa sesuatu sepanjang anda bercerita. Misalnya untuk cerita "domba yang hilang", anda dapat memberikan masing-masing anak stiker bergambar domba untuk direkatkan di tengah cerita. Gunakan gerakan tangan, nyanyian atau tanda yang sama sebagai tanda dimulainya cerita atau sebagai usaha menarik kembali perhatian anak pada anda.
Pada akhirnya, selain berbagai usaha di atas, banyak berlatih juga turut membantu "keberhasilan" anda bercerita. Latihan bercerita di depan cermin akan sangat membantu, terutama bagi para guru yang baru memasuki dunia pelayanan anak. Anda juga dapat merekam suara (audio) atau penampilan anda (audio visual) untuk kemudian didengarkan dan atau dilihat kembali guna melihat kekurangan serta melakukan perbaikan.
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, halaman 92 - 94, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.
• Dr. Robert J. Choun & Dr. Michael S. Lawson, The Complete Handbook for Children Ministry: How to Reach and Teach Next Generation, halaman 308 - 309, Thomas Nelson Publishers, Nashville, 1993.


5.4 Membuka Cerita yang Kreatif
Seorang pembawa cerita yang baik dapat membawa anak-anak serasa masuk ke dalam tempat dan suasana cerita yang sesungguhnya dan dapat membuat karakter dalam cerita menjadi lebih hidup.
Ketrampilan guru menggunakan berbagai macam dan jenis suara, menjadi penting karenanya. Ketrampilan membuka cerita dengan menggunakan suara-suara memiliki daya tarik tersendiri, karena biasanya, dengan segera anak akan memusatkan perhatian pada asal suara tersebut muncul, siapa lagi kalau bukan pada si guru yang akan memulai ceritanya.
Beberapa ide untuk membuka cerita antara lain:
• Cerita / Ilustrasi Singkat
Sebelum cerita utama disampaikan, berikan cerita/ilustrasi singkat sebagai pengantar cerita. Ilustrasi haruslah dipilih yang singkat dan sesuai dengan tujuan cerita. Misalnya cerita: "Tuhan Yesus mati di salib." Tujuan cerita: "Betapa setianya Tuhan menebus dosa kita." Cerita ilustrasi singkat yang dipakai: "Kisah induk ayam yang rela mati terbakar untuk melindungi anak- anaknya." Untuk memikat anak, tirukan suara induk ayam yang sedang memanggil anak- anaknya, atau suara ayam yang sedang ribut karena terjadi kebakaran.
• Kalimat Puitis / Pepatah
Sebagai "penarik" perhatian anak, sebelum bercerita berikan semacam slogan, pepatah atau kalimat yang puitis. Misalnya, kita dapat memulai cerita dengan berteriak keras dan tegas! "MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA ATAU MATI! DARAHKU KUPERSEMBAHKAN AGAR ENGKAU ... MERDEKA!" Lalu dengan suara lembut jelaskanlah pada anak- anak Sekolah Minggu, "Adik-adik, para pejuang pada waktu itu bertekad, Indonesia harus merdeka. Kalau perlu. kemerdekaan itu harus ditebus dengan darah! Walau harus mati mereka rela agar kita semua bisa merdeka ... Begitu juga Tuhan Yesus ..." (langsung masuk ke cerita utama tentang Tuhan Yesus yang rela mati untuk menebus dosa kita).
• Mendramatisasi Awal Cerita
Teknik ini langsung menuju inti cerita (tidak bertele-tele). Misalnya cerita tentang penyaliban Tuhan Yesus. Cerita ini dapat dimulai dengan kekasaran dan penghinaan para prajurit kepada Yesus sebelum menyalibkan Yesus. Tirukan sikap para prajurit tersebut. (Dengan suara keras, lantang, sikap congkak dan bengis) "Maju! Ayo maju! Hayoo jalan! Katanya Mesias, kok loyo... cepaatt! (tarr bunyi cambuk bergema keras) Ayo jalan..!" (dilanjutkan dengan cerita sesungguhnya)
• Tokoh Tersembunyi
Pada variasi ini guru menjadi tokoh Alkitab yang menjadi saksi mata kisah dalam Alkitab. Misalnya: (Guru memulai sambil berekspresi sedih & terisak- isak) "Tidak! Ia tidak boleh mati! Tidak! Tidaakkk! Oh.. Tuhan kenapa Engkau mati ... hu ... hu ... hu ... Dulu aku begitu sombong mau mati demi Engkau, tapi nyatanya aku takut Tuhan ... huu ... hu ... hu ... Tahukah kalian apa yang terjadi dengan Guruku? ... Baik ... akan aku ceritakan ..." (Masuk ke cerita dengan teknik seolah- olah pencerita adalah saksi mata kejadian itu.) Di akhir cerita tanyakan pada anak-anak "Siapakah Pencerita itu?" Jawaban yang benar adalah Petrus.
• Cerita di Dalam Cerita
Kreasi ini adalah dengan "membungkus" cerita dalam "cerita tambahan" agar "sajian" cerita menjadi lebih menarik. Misalnya: Glegar ... darr ... darr suara kilat menyambar-nyambar "Malam itu Kiki sedang tidur sendirian di kamarnya. Mendengar suara kilat dan guntur bersahutan, Kiki jadi ketakutan, ia segera berdoa: "Tuhan tolonglah aku!". Kemudian dengan penuh penyerahan kepada Yesus, Kiki memejamkan matanya. Tanpa disadarinya ia bermimpi seperti benar-benar terjadi ... bahkan Kiki sampai berteriak "Jangan! ... jangan kau seret Yesusku sekejam itu. Tolonglah bapak prajurit ... tolong! Hentikan! Lihat darah-Nya sangat banyak! Pak, ampunilah Dia!" Tetapi rupanya prajurit itu tidak mempedulikan Dia dan ... (masuk ke cerita utama, setelah cerita berakhir) "Jangan ... jangan!!!" (berteriaklah keras!) "Ki... Kiki ... kenapa engkau berteriak-teriak terus," kata Papa Kiki yang membangunkan Kiki. Kiki terkejut rupanya ia sedang bermimpi ... "Papa, tadi Kiki bermimpi seolah-olah Kiki melihat sendiri penyaliban Tuhan Yesus di bukit Golgota ..."
• Suara Bunyi-bunyian
Teknik ini sangat mudah dan disukai anak-anak. Pada kreasi ini guru menirukan bunyi-bunyian, baik suara binatang, angin, maupun suara yang lain. Ada banyak bunyi yang dapat ditirukan dalam suatu cerita, misalnya: - Suara cambuk prajurit: tar ... tar ... tar - Suara sepatu prajurit: tok ... tok ... tok - Suara orang banyak berbisik-bisik: sstt.. ssstt.. - Suara Yesus terjatuh : .. brakk .. aaahhh - Teriakan prajurit : .. Ayo .. jalan! - Desah nafas pemikul salib: ohh ..ohh ..ohh - Teriakan orang ketakutan: gelap! ..ggllaaappp! Mulailah cerita dengan memberikan bunyi-bunyian suara semacam di atas. Dan diteruskan langsung pada alur cerita yang diinginkan.
Demikian beberapa ide membuka cerita yang kreatif, kiranya hal ini dapat menolong anda dalam bercerita kepada anak- anak.
Sumber:
• Paulus Lie, Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif, halaman 36 - 39, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997.


5.5 Prinsip untuk Bercerita secara Efektif
Banyak guru (terutama guru baru) yang takut untuk bercerita di depan kelas, karena selain ia harus bisa membuat ceritanya menarik, guru juga harus bisa mempesona anak sehingga mereka mau mendengarkan cerita hingga selesai. Bercerita sebenarnya adalah suatu ketrampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh semua orang. Kalau guru mengerti dan menguasai prinsip-prinsip bercerita yang efektif, maka bercerita di depan kelas seharusnya tidak akan menjadi sesuatu yang menakutkan lagi.
Berikut ini adalah beberapa prinsip sederhana untuk dapat bercerita dengan baik:
1. Milikilah keyakinan bahwa cerita anda patut didengarkan
Tanyakan pada diri anda:
o Mengapa cerita ini penting untuk didengarkan?
o Hal apa yang sangat menarik dalam cerita ini?
o Bagian mana dari cerita ini yang dapat menarik perhatian?
o Hal apa yang dapat membuat anak-anak tertarik dan berminat ketika mendengarkan cerita anda?
Ajukan pertanyaan itu pada diri anda sendiri untuk meyakinkan diri anda bahwa cerita tersebut punya nilai bagi kelas anda. Jika anda merasa percaya bahwa cerita yang akan anda sampaikan itu bernilai dan menarik untuk didengarkan, maka kemampuan anda dalam bercerita tidak lagi menjadi hal yang utama untuk diperhatikan.
2. Siapkan cerita dan berlatihlah bercerita
Empat langkah untuk mempersiapkan anda dalam bercerita:
o Identifikasi cerita. Anda perlu mengetahui dengan jelas tujuan cerita anda.
o Membuat garis besar cerita. Anda mengidentifikasi peristiwa-peristiwa utama dalam cerita anda.
o Review fakta-fakta dalam cerita. Dengan demikian setiap poin dalam garis besar dapat mengingatkan anda pada detail-detail cerita yang terjadi di dalamnya.
o Berlatihlah bercerita dengan suara keras sesuai dengan garis besar cerita yang telah anda buat. Anda dapat berlatih di depan anggota keluarga, di depan cermin, atau dengan merekamnya.
3. Tangkaplah perhatian anak-anak dari sejak dari awal
Permulaan yang bagus sangat penting sebab lebih mudah menangkap perhatian para pendengar pada awal cerita daripada menarik perhatiannya setelah perhatian mereka mengembara ke mana-mana. Bagi anak-anak, cara terbaik untuk memulai cerita adalah dengan menanyakan pengalaman-pengalaman menarik yang mereka alami, yang dapat dihubungkan dengan beberapa aspek dalam cerita, misalnya:
o Pertanyaan tentang sesuatu yang pernah dilihat dan dikerjakan anak-anak. Anda juga dapat mensharingkan pengalaman anda sendiri kepada mereka.
o Berikan ilustrasi yang jelas untuk memulai cerita, dapat berupa kejadian yang anda alami atau dari sesuatu yang pernah anda baca.
o Libatkan anak-anak dalam aktivitas yang anda persiapkan untuk mendukung cerita anda, seperti permainan, menggambar, mendengarkan lagu, dsb.
4. Identifikasi tingkat pengenalan/pemahaman anak terhadap cerita
GSM menghadapi tantangan saat menceritakan cerita Alkitab kepada anak-anak. Di satu sisi, ada anak-anak yang sama sekali belum mengetahui cerita tersebut. Di sisi yang lain, ada anak-anak yang sudah sering mendengar cerita itu dan kemungkinan besar mereka akan menunjukkan kebosanan saat mendengar cerita itu lagi. Pertama-tama sebelum menceritakan narasinya, jelaskan terlebih dulu bagian-bagian yang kemungkinan besar tidak mudah dipahami oleh anak-anak yang belum pernah mendengar cerita itu. Kedua, tunjukkan bahwa anda tahu ada beberapa anak yang sudah pernah mendengar cerita tsb. tapi jelaskan nilai pentingnya cerita itu sehingga perlu diceritakan lagi.
5. Fokuskan cerita anda
GSM harus benar-benar mengetahui tujuan cerita yang disampaikan. Cerita-cerita dalam Alkitab bertujuan untuk membuat orang memikirkan tentang pelajaran yang diberikan, lalu bagaimana cara meresponnya/menerapkannya.
Setelah itu, GSM menjelaskan tujuan itu kepada anak-anak. Supaya tidak bertele-tele bercerita, jadikan tujuan itu sebagai fokus cerita. Jika tujuan utamanya lebih dari satu, pilih salah satu saja dan ceritakan dengan jelas. Satu tujuan utama yang diceritakan dengan jelas lebih baik daripada menceritakan banyak poin tetapi tidak ada yang akan diingat.
6. Tentukan plot cerita
Setiap cerita memiliki 5 unsur penting:
o Setting (Lokasi cerita).
Setting biasanya menjadi unsur yang tidak terlalu dianggap penting. Namun, dalam cerita-cerita Alkitab, setting menolong anak-anak untuk menyadari bahwa cerita itu terjadi di dunia nyata.
o Karakter (Tokoh utama dalam cerita).
Bila tokoh utamanya punya nama atau pekerjaan yang tidak dikenal anak-anak, jelaskan hal itu terlebih dulu sebelum bercerita. Ceritakan secara rinci tentang tokoh utama itu sehingga anak-anak mengetahui peristiwa apa yang dialaminya.
o Problem (Peristiwa yang dialami tokoh utama).
Buat anak-anak tertarik untuk mengetahui apa yang dialami tokoh utamanya.
o Aksi (Respon dari tokoh utama).
Jika anak-anak tertarik dengan apa yang dialami tokoh utamanya maka mereka akan secara otomatis ingin mengetahui apa yang akan dilakukan tokoh utama dalam situasi yang telah diceritakan tadi.
o Hasil dari aksi yang dilakukan tokoh utama.
Untuk anak-anak kelas kecil, cerita dapat disampaikan dengan plot yang berurutan. Untuk kelas besar, GSM dapat membuat variasi dari kelima unsur tersebut.
7. Libatkan anak-anak
Untuk anak-anak yang sudah bisa menggunakan Alkitab, berikan kesempatan kepada anak-anak untuk membuka Alkitab mereka baik sebelum, selama ataupun sesudah bercerita. Bantulah anak-anak untuk:
o Mencari alamat ayat dari cerita tersebut.
Hal ini membuat anak-anak menyadari bahwa cerita itu benar-benar dari Alkitab (bukan imajinasi GSM) dan membangun percaya diri untuk mempelajari Alkitab.
o Membaca apa yang dikatakan Alkitab.
Selain membaca ayat, anak-anak dapat diminta untuk menemukan informasi yang ada dalam ayat tersebut, seperti nama orang, jawaban pertanyaan, pernyataan, dsb.
o Memahami apa yang dibaca.
GSM dapat memandu anak-anak untuk memahami ayat yang dibacanya. Caranya yaitu dengan mengajukan pertanyaan: "Adakah cara lain untuk mengatakan ayat itu?" atau "Bagaimana caramu menjelaskan ayat ini kepada seorang temanmu?"
Nah ... selamat mempraktekkan!
Sumber:
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, halaman 149 - 151, Gospel Light, Ventura, 1992.


5.6 Trik Membuat Anak-Anak Tenang Selama Cerita
Gangguan utama saat guru melaksanakan tugas bercerita adalah adanya beberapa anak tertentu yang "gelisah" atau memang "nakal" sehingga menganggu cerita. Apalagi jika cerita (disampaikan dengan) kurang menarik. Namun, beberapa trik untuk mengatasi hal itu dapat dilakukan, seperti:

1. Simulasi Kunci Mulut

Sebelum cerita diberikan, buatlah suatu acara "penguncian mulut" secara menarik. Mintalah supaya anak-anak mengikuti gerakan guru. Pertama, gerakan "mengunci mulut" (dengan tanpa suara). Kemudian diteruskan dengan gerakan "memasukkan kunci tersebut ke dalam saku".

2. Ikrar Bersama

Sebelum cerita, ajaklah anak-anak untuk mengucapkan suatu ikrar yang berisi kesediaan untuk mendengar Firman Tuhan dengan tenang. Tentu saja, pilih ikrar yang singkat dan mudah dihafal. Misalnya, diambil dari satu ayat atau dari satu baris teks lagu, misal: "Saya siap dan sedia mendengarkan Firman Tuhan dengan tenang." Jika anak-anak berisik mintalah mengulang lagi ikrar yang sudah dihafal di awal cerita.

3. Lomba Pendengar Setia

Bagilah anak-anak dalam kelompok. Jadikan anak yang paling nakal/ cerewet sebagai ketua kelompok. Tugas ketua kelompok adalah menjaga agar kelompoknya tenang selama guru bercerita. Lombakan! Kelompok mana yang paling tenang selama cerita diberikan.

4. Kuis Cobalah Tebak

Buatlah kuis di awal acara cerita. Jawaban dari kuis tersebut akan ditanyakan pada akhir cerita. Anak-anak harus mendengarkan dengan tekun untuk mengetahui "jawaban" dari kuis tersebut. Buatlah kuis yang agak sulit sehingga anak-anak perlu serius mendengarkan cerita dari guru.

5. Mendekati Anak yang Gelisah

Mungkin sewaktu guru bercerita ada anak tertentu yang gelisah dan biasanya mulai menganggu temannya. Guru dapat mendekati dia dengan tetap bercerita, namun kali ini tataplah mata anak tersebut. Seolah-olah guru sedang bercerita hanya kepada anak tersebut (beberapa saat). Biasanya ia akan tenang karena sadar ia diperhatikan gurunya dengan sangat istimewa. Bila anak lain gelisah lakukan lagi cara yang sama. Tentu saja guru harus mengatur agar guru tidak mendekati anak tersebut secara tidak sadar.

Sumber:
• Paulus Lie, Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif, halaman 32 - 34, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997.

VI Musik & Lagu
6.1 Tips Memimpin Pujian
Pujian di kelas Sekolah Minggu dapat membawa pengaruh yang besar bagi seluruh jalannya acara, terutama untuk mempersiapkan hati anak dalam menerima Firman Tuhan. Apabila suasana puji-pujian monoton dan terlihat lesu, maka anak maupun guru akan sulit untuk membangun ibadah yang penuh sukacita dan semangat.
Oleh sebab itu, meskipun anda telah berkali-kali menjalankan tugas sebagai pemimpin pujian, tidak ada salahnya anda memperhatikan tips memimpin pujian berikut ini.
1. Pemimpin pujian harus menguasai, baik syair maupun nada lagu-lagu yang akan dinyanyikan, dan memiliki kreativitas dalam menyanyikan lagu tersebut, misalnya dengan gerakan, bertepuk tangan, kanon, bersahutan, dan sebagainya (Lihat Serba Serbi).
2. Apabila ada lagu baru yang hendak diperkenalkan atau diajarkan, jangan dilakukan pada awal pertemuan, tapi setelah anak-anak terbangun semangatnya dalam memuji Tuhan. Untuk itu pemimpin sebaiknya telah mempersiapkan diri dengan baik, kalau perlu koordinasikan dengan guru lain yang membantu mengiringi dengan musik. Untuk memudahkan dalam mengajarkan lagu baru, gunakan OHP, papan tulis, atau lembaran kertas. Nyanyikan lagu baru tersebut secara berulang-ulang agar anak memahami melodinya. Lalu nyanyikan lagu tersebut dengan perlahan-lahan dan mintalah anak untuk mengikutinya. Lakukan secara berulang-ulang sampai anak benar-benar dapat mengikutinya.
3. Jelaskan secara ringkas arti atau inti isi dari lagu yang memuat kata-kata abstrak, kiasan, atau perumpamaan yang belum dipahami anak. Misalnya lagu: "Yesus Pokok dan Kita Carang-Nya", jelaskan apa yang dimaksud dengan "carang" dan mengapa Yesus disebut sebagai "pokok".
4. Posisi dan sikap dalam menyanyi harus benar, yaitu: duduk atau berdiri tegak, dan jangan biarkan anak menyanyi dengan berteriak karena hal tersebut dapat merusak fungsi pita suaranya.
5. Sebaiknya anda jangan memberi terlalu banyak komentar saat memimpin pujian, kalau anda harus memberikan komentar, sampaikan dengan singkat dan jelas.
6. Anda harus peka dengan situasi selama pujian, bila anak kelihatan kurang bersemangat, lesu dan tidak bergairah dengan lagu yang telah disiapkan, anda dapat segera melakukan perubahan, misalnya: mengajak anak melakukan gerakan dari lagu yang dinyanyikan, atau memberikan humor ringan yang segar, atau bisa juga "berolah-raga" dulu, dll.
7. Anda perlu mengetahui patokan umum jangkauan nada pada anak sesuai dengan kelompok usianya, yaitu:
Kelas Indria (di bawah 4 tahun) : D1 - A1
Kelas TK (5-6 tahun) : D1 - B1
Kelas Pratama (7-8 tahun) : D1 - D2
Kelas Madya (9-10 tahun) : C1 - E2
Tunas Remaja (11-14 tahun) : B1 - F2
Remaja : C1 - E2
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, halaman 104 - 105, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.



6.2 Bagaimana Menggunakan Musik dan Pujian Menjadi Alat Bantu Mengajar?
Secara alami seorang anak akan mudah terpesona oleh musik. Dalam pelayanan Sekolah Minggu, pujian dan musik dapat menjadi alat bantu yang mampu mengajarkan kebenaran Alkitab kepada anak-anak, baik dalam ibadah rutin pada hari Minggu maupun dalam kegiatan khusus. Musik adalah alat komunikator yang ampuh. Dengan bantuan melodi dan irama yang harmonis, namun sederhana dan mudah, maka syair atau lirik lagu yang mengandung kebenaran Firman Tuhan dapat diajarkan dan ditanamkan ke dalam hati dan pikiran anak-anak.
Menyanyi merupakan alat bantu mengajar yang efektif dan merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak, sehingga proses belajar mengajar dapat terjadi dengan lebih baik. Anak menjadi lebih cepat menerima serta memahami materi pengajaran, dan peluang anak untuk tetap mengingat menjadi lebih besar dibanding apabila hanya menerima kata-kata saja tanpa bantuan melodi dan irama musik. Sebagai alat bantu mengajar, musik dan pujian dapat berguna untuk:
1. Menghafal Ayat Alkitab
Ciptakanlah sebuah lagu atau pilihlah lagu yang sudah dikenal, lalu nyanyikanlah perkataan ayat hafalan dengan lagu tersebut. Waktu murid-murid menyanyikan ayat itu, maka tanpa banyak usaha mereka segera akan menghafal Firman Allah tersebut. Kata-kata sebuah ayat dapat juga diucapkan dengan irama rap atau diiringi tepuk tangan serta berbagai gerakan lainnya.
Anak-anak juga dapat diajak untuk membandingkan kata-kata dalam lagu pujian dengan ayat Alkitab untuk membantu mereka memahami serta menghafalkan ayat tsb.
2. Memperkenalkan dan Menguatkan Tema Pelajaran
Sebuah nyanyian yang dipilih dengan seksama dapat dipakai untuk memperkenalkan atau menguatkan tema pelajaran. Pilihlah nyanyian sesuai dengan tema, lalu ajarkan nyanyian itu sebelum menyampaikan pelajaran. Bahaslah nyanyian itu sebagai pengantar pelajaran. Pada akhir jam pelajaran, ulanglah nyanyian itu supaya pesannya tetap bergema dalam pikiran anak-anak saat mereka berjalan pulang.
Musik dan pujian juga dapat menjadi alat yang luar biasa dalam menolong anak untuk mengingat, memahami, dan menerapkan kebenaran Alkitab yang diajarkan olah guru Sekolah Minggu. Tujuan utama pelayanan di Sekolah Minggu adalah mengajarkan kebenaran Firman Allah kepada anak-anak, sehingga mereka mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan supaya anak-anak mau memelihara hubungan yang indah dengan-Nya sepanjang hidupnya. Musik dan pujian, melalui syair dan kata-katanya dapat menolong guru dalam menerangkan Firman Allah kepada anak-anak, agar tercapai tujuan utama pelayanan di Sekolah Minggu itu.
3. Dikombinasikan dengan Aktivitas Lain
Musik dan pujian juga dapat dikombinasikan dengan permainan atau kegiatan lain. Contoh: musik dan pujian dalam permainan, "Permainan Topi". Mintalah peserta yang berjumlah sekitar 10 anak untuk berbaris secara berdampingan di depan kelas. Mintalah anak yang berdiri di ujung paling kanan untuk memakai topi. Lalu saat musik dan pujian dinyanyikan, dia harus melepaskan topinya dan memakaikan topi tersebut pada anak nomor dua. Selanjutnya anak nomor dua harus melepaskan topi dari kepalanya dan memakaikan topi pada teman sebelahnya, sehingga topi berjalan dari anak pertama sampai anak kesepuluh, lalu berbalik arah dari anak kesepuluh menuju anak pertama. Ketika musik dan pujian tiba-tiba berhenti, anak yang kebetulan memakai topi harus siap memberikan jawaban pada pertanyaan yang diberikan. Kalau jawabannya benar, dia boleh terus bermain, namun kalau jawabannya salah, maka ia dikeluarkan dari permainan. Pemenangnya adalah anak yang dapat bertahan ikut dalam permainan.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, halaman 347 - 351, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, halaman 127, Gospel Light, Ventura, 1992.


6.3 Anak Dapat Memuji dan Menyembah Tuhan
Memuji dan menyembah Tuhan bersama dengan anak adalah kehendak Tuhan. Pada masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru anak memuji Tuhan. Firman Allah memberi kesaksian, bahwa dalam mulut bayi dan anak-anak, Allah telah menaruh puji-pujian. Pujian itu diteruskan oleh anak-anak di Bait Allah. Orang Farisi menjadi jengkel, karena mereka berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud!" (Lihat: Matius 21:15)
"Lalu mereka berkata kepada-Nya: "Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji- pujian?"" (Matius 21:16)
MEMUJI KARENA KASIH
Kasih kepada Allah adalah dasar pujian dan penyembahan yang benar. Kita diciptakan untuk mengasihi Allah. Hukum yang terutama dan yang pertama berbunyi:
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Lukas 10:27)
Memuji dan menyembah Allah senantiasa melibatkan seluruh eksistensi anak. Hati yang menyembah Allah harus tulus ikhlas; Jiwa/emosi yang menyembah Allah harus dalam kebenaran; Kekuatan/tubuh yang menyembah Allah harus penuh gairah; Akal budi/intelek yang menyembah Allah harus di dalam terang dan pimpinan Allah. Seluruh olah gerak dan pola pikir manusia seharusnya merupakan ibadah kepada Allah. (Lihat: Roma 12:1-2)
MEMUJI DAN MENYEMBAH TUHAN DI SEKOLAH MINGGU
Seluruh eksistensi manusia merupakan suatu persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Meskipun demikian, kehadiran Allah di SM/tempat pertemuan ibadah memberikan suatu suasana khusus. Dalam suasana khusus seperti ini, anak dapat dibawa untuk memuji dan menyembah Allah.
Dalam keseluruhan penyelenggaraan suatu kebaktian, anak dibawa untuk memuji dan menyembah Allah. Untuk itu guru/pemimpin dapat membimbing dan mengarahkan anak sejak awal hingga akhir kebaktian untuk menikmati hadirat Allah. Hadirat Allah dapat dirasakan dalam ibadah yang penuh sukacita, tertib/terpimpin, dengan nyanyian syukur dan puji-pujian. (Lihat: Mazmur 100:1-5)
AKIBAT ANAK MEMUJI TUHAN
Hati anak disiapkan pada saat nyanyian dan pujian pertama dinaikkan, hal-hal yang masih mengganggu dan memberatkan hati anak mulai hilang/dilupakan. Hati setiap anak disatukan di hadirat Tuhan dan mulai siap dan terbuka untuk Firman-Nya
Anak mengerti bahwa sesungguhnya hanya Allah yang patut disembah. Pusat pujian dan penyembahan mereka adalah Allah yang hidup, bukan manusia atau patung-patung dan berhala-berhala yang mati. (Lihat: Ulangan 5:6-10)
Anak dilatih untuk menghormati ibadah dan kehadiran Allah dalam suatu kebaktian/SM. Anak dibawa untuk mengekspresikan kasih mereka kepada Allah dengan kata-kata doa/nyanyian.
Ada nyanyian yang menunjang pokok cerita. Dengan menyanyikan lagu tersebut anak-anak lebih mendalami pesan Firman Tuhan yang baru mereka dengar. Kadang-kadang sebuah nyanyian menjadi suatu doa untuk meresponi Firman Tuhan yang diberitakan. Contohnya lagu: "Mari Masuk"; "Terimakasih Tuhan"; dll.
Dengan pujian dan penyembahan anak dikuatkan dalam menghadapi pengaruh lingkungan yang penuh dengan kata kotor/makian, keluhan, olokan, ejekan, fitnah, lagu duniawi yang porno dan penuh pemberontakan, bahkan pemujaan terhadap tokoh khayalan, seperti Batman, Superboy, Spiderman, Robocop dll.
Nyanyian yang dipelajari di SM dapat dinyanyikan anak secara spontan, baik di jalan, di rumah maupun di tempat bermain. Itu menjadi kesaksian bagi orangtua, saudara-saudara, teman, dan siapa saja yang mendengarnya. Anak pun akan benar-benar merasakan suasana rohani dan berkat rohani, sehingga semakin mencintai Tuhan dan senang berbakti.
CARA MENGAJAR NYANYIAN BARU
Untuk mengajar nyanyian tidak dibutuhkan suara yang bagus, melainkan ketrampilan dan ketepatan dalam mengajar. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam mengajar nyanyian:
1. Menguasai lagu dan syair.
Seorang guru perlu menguasai lagu dengan irama yang tepat, juga kata-kata dan artinya. Bila lagu itu sudah menjadi kesukaan bagi guru, maka ia tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam mengajarkannya kepada anak.
2. Menyanyi di depan kelas.
Sebaiknya guru mulai mengajarkan nyanyian baru dengan menyanyikannya untuk anak. Hal menyanyi di depan kelas tidaklah mudah. Namun dengan keyakinan dan penguasaan lagu yang benar, guru tidak usah malu dan dapat dengan rileks menyanyikannya.
3. Jelaskan kata-kata yang sulit.
Anak dengan sendirinya akan meniru dan ikut menyanyi dengan guru, walupun belum mengerti kata-kata atau isi nyanyian itu. Mungkin anak tidak bertanya, namun guru yang bijaksana akan mengambil sedikit waktu sesudah nyanyian dinyanyikan satu atau dua kali untuk menerangkan kata-kata yang sulit dan pesan dari nyanyian itu. Misalnya kata "anak dalam malaf" dalam lagu "Malam Kudus".
4. Diulang-ulang hingga mahir.
Prinsip mengulang-ulang sangat baik dalam mengajarkan nyanyian. Karena dengan demikian anak dapat menghafal/menguasai lagu itu dengan baik. Untuk itu guru menyanyikan terlebih dahulu secara lengkap, supaya anak mendapat gambaran yang menyeluruh. Kemudian guru menyanyikan baris demi baris dan ditiru/diikuti oleh anak- anak. Selanjutnya guru menyanyi bersama anak dengan suara lebih keras dan pada pengulangan berikutnya suara guru lebih pelan. Akhirnya, biarkan anak menyanyi sendiri dan guru mendengarkan saja.
5. Kesalahan diperbaiki.
Kadang-kadang dalam satu bagian lagu, not-notnya agak sulit, sehingga dinyanyikan dengan tidak tepat. Bagian yang sulit itu bisa diulangi dengan lebih lambat sampai dapat dinyanyikan dengan tepat. Jangan biarkan anak pulang dengan membawa nyanyian baru yang salah. Koreksi dan perbaikan senantiasa perlu, sehingga lagu yang dipelajari dapat dinyanyikan sebagaimana seharusnya. Hal ini membutuhkan kesabaran.
6. Menyanyi dengan gerakan.
Di kalangan anak-anak prinsip meniru dapat diterapkan dan sangat disenangi. Menyanyi dengan gerakan akan lebih menghidupkan makna lagu itu bagi anak, hal ini sesuai dengan perkembangan fisik dan emosi mereka.
7. Menguasai irama/ketukan.
Ada lagu yang berirama mars, walts, dll., atau lebih dikenal dengan ketukan 2/2, 3/4, 4/4, 6/4, 6/8. Bila guru kurang paham dengan irama-irama tertentu, dapat bertanya kepada orang yang lebih mahir.
8. Suara.
Jangan mengijinkan anak menyanyi dengan suara terlalu nyaring atau dipaksakan. Tolonglah anak untuk dapat menghayati isi nyanyian dan menyanyi dengan menjiwainya.
9. Teks ditulis.
Mengajar nyanyian lebih mudah jikalau teks lagunya ditulis. Teks lagu dapat ditulis pada papan tulis/white board, kertas manila, kertas sampul, lembaran OHP, dll.
10. Teks ditulis dan dihias dengan simbol/gambar.
Ada lagu yang mempunyai kata-kata yang bisa dilukis dalam bentuk simbol atau gambar, sehingga memberi kesan yang lebih dalam daripada jika hanya ditulis dengan huruf saja.
11. Variasi dalam pilihan.
Seorang guru SM harus memilih nyanyian-nyanyian yang hendak dinyanyikan dalam sepanjang kebaktian. Pada permulaan kebaktian biasanya guru memilih lagu yang semangat dan segar. Kemudian lagu yang lebih "slow" untuk mengantar anak dalam suasana penyembahan yang penuh hikmat dan siap untuk mendengar ceritera. Sesudah ceritera disampaikan, dipilih nyanyian untuk memperdalam ceritera atau nyanyian yang memberi kesimpulan untuk berespons.
12. Selektif dalam memilih nyanyian.
Ada banyak nyanyian yang bagus, baik dan dapat dipertanggung- jawabkan secara teologis serta edukatif. Namun ada juga lagu yang tidak mempunyai dasar teologis dan tidak mendidik. Misalnya lagu dengan teks:
"Hei, hei, hei lihat saya, saya pakai mahkota. Mahkota dari sorga, karena rajin ke gereja."
Nyanyian ini selain berisi pujian kepada diri sendiri, juga tidak benar secara teologis. Mahkota dijanjikan bukan kepada orang yang rajin ke gereja (SM), melainkan kepada mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus dan setia sampai mati.
KESIMPULAN
Menyanyi dan menyembah Tuhan bersama anak berarti memuliakan Tuhan. Mengajarkan nyanyian kepada anak dan mengembangkan ketrampilan mereka dalam memuji Tuhan adalah suatu tugas yang mulia, dan menambah kesukaan dalam proses belajar mengajar di SM. Karena nyanyian pujian adalah milik Tuhan, maka bagi Dialah pujian untuk selama-lamanya. Amin!
Sumber:
• Ruth Lautfer & Anni Dyck, Pedoman Pelayanan Anak 2, halaman 95 - 102, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.

6.4 Membuat Acara Pujian Menjadi Menarik
Redaksi:
Ketrampilan anak dalam memuji Tuhan diawali dengan ketertarikan mereka akan lagu-lagu pujian. Jika mereka tidak tertarik dengan lagu-lagi pujian, kemungkinan mereka juga tidak dapat mengembangkan ketrampilan mereka dalam hal memuji Tuhan secara maksimal.
Salah satu cara agar anak tertarik dengan lagu-lagu pujian adalah dengan menciptakan acara pujian menjadi acara yang menyenangkan dan penuh sukacita. Seorang guru SM jangan hanya puas jika anak-anak bernyanyi dengan suara yang keras dan bertepuk tangan dengan penuh semangat. Kita harus waspada, mungkin mereka berbuat itu hanya untuk memberikan kesan baik kepada Anda, bukan karena mereka suka dengan lagu-lagu yang dibawakan. Jika setiap minggu Anda secara monoton hanya meminta anak-anak bernyanyi dengan suara keras, tepuk tangan yang keras, dan dengan gerakan yang itu-itu saja, bisa jadi acara pujian akan menjadi acara yang paling membosankan bagi mereka.
Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membuat suasana pujian menjadi menarik tetapi tetap penuh dengan pengajaran Kristen. Berikut ini kami ambilkan ide dari Paulus Lie, dalam bukunya "Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif".
MEMBUAT ACARA PUJIAN MENJADI MENARIK
1. Kreasi permainan sederhana.
Kreasi ini dilakukan dengan membuat suatu permainan dalam suatu pujian. Melalui permainan ini, selain suasana pujian berubah menjadi menarik, anak-anak juga akan lebih memahami makna dari teks atau syair lagu yang dinyanyikan.
Contoh: Permainan Gembala Mencari Domba yang Hilang
Minta seorang anak berperan sebagai seorang gembala. Tutup matanya dengan sapu tangan. Pilih satu anak lagi untuk berperan sebagai domba yang hilang tanpa sepengetahuan gembala tadi. Si domba yang hilang tetap duduk di antara anak-anak lain. Setelah itu buka penutup mata si gembala.
Sekarang saatnya si gembala harus mencari di manakah (siapakah) domba yang hilang tersebut. Sistem pencariannya adalah sbb.:
Satu lagu sembarang dinyanyikan bersama (misalnya lagu "Dengar Dia Panggil Nama Saya"). Lagu tersebut harus dinyanyikan semua anak dengan ketentuan:
o Apabila gembala makin mendekati domba yang hilang anak-anak harus semakin bernyanyi dengan volume suara dan tepuk tangan yang keras. Jadi semakin dekat harus semakin keras. Sebaliknya, volume suara dan tepuk tangan haruslah semakin pelan jika gembala semakin jauh dari domba.
o Pada saat anak bersuara dengan volume yang paling maksimal, saat itulah gembala berada sangat dekat dengan domba yang hilang dan dapat segera menebak siapakah domba yang hilang itu. Beri kesempatan kepada gembala untuk menebak tiga kali.

Kreasi ini akan membuat anak-anak bernyanyi dengan penuh sukacita. Jangan lupa, kita perlu menekankan makna perumpamaan domba yang hilang dan kesetiaan Sang Gembala Agung, Yesus Kristus, yang terus mencari domba-domba yang hilang.
2. Kreasi gerak.
Lagu dinyanyikan sambil melakukan gerakan yang sesuai dengan isi teks lagunya. Misalnya lagu "King Kong Badannya Besar".
3. Kreasi tepuk tangan.
Cepat-lambatnya, keras-lembutnya tepuk tangan dapat diatur dan divariasi sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suasana pujian yang menarik. Anda dapat menggunakan kreasi "Gembala Mencari Domba yang Hilang" (yang sudah dijelaskan sebelumnya).
4. Kreasi olah vokal.
Keras-lembutnya lagu dapat diatur sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suasana yang menarik dan penuh sukacita. Contohnya: kreasi "Gembala Mencari Domba yang Hilang".
5. Kreasi lagu untuk ayat hafalan.
Agar suasana saat menghafalkan ayat menjadi menarik, salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mengemasnya dalam satu kreasi lagu.
Contoh: Aku Anak Raja
Lagu: Aku anak Raja, Engkau anak Raja, kita semua anak Raja. (2x)
Halleluya, puji Tuhan (3x), halleluya.
Halleluya, puji Tuhan (3x), halleluya.
Buatlah sebuah mahkota. Nyanyikan lagu di atas sambil mengedarkan mahkota tersebut dari anak satu ke anak lainnya (setiap anak memakaikan mahkota tsb. kepada teman di sampingnya). Pada akhir lagu, siapa yang mendapatkan mahkota harus maju dan membaca keras-keras ayat hafalan yang sudah ditentukan minggu lalu. Kreasi ini bermanfaat bagi anak-anak, sekaligus memacu mereka untuk lebih giat menghafalkan ayat.
6. Kreasi penyajian dengan alat bantu.
Alat bantu yang dapat digunakan antara lain:
o Sistem karaoke dengan kaset karaoke (anak-anak tinggal menyanyi mengikuti iringan kaset).
o Alat peraga untuk menuliskan syair dari lagu tersebut.
o Boneka tangan.
Kreasi yang sudah dibahas di atas dapat Anda kembangkan sendiri. Lagu-lagu yang digunakan pun dapat Anda ganti dengan lagu yang lain. Tidak harus menggunakan lagu yang sudah dijadikan contoh di atas.
Selamat berkreasi!
Sumber:
• Paulus Lie, Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif, halaman 2 - 5 dan 13, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997.

6.5 Musik dan Pujian di Sekolah Minggu
Musik dan pujian yang mengarah kepada Tuhan dapat membawa perubahan dalam diri seseorang. Musik dan pujian tsb. jika tepat dibawakan juga akan sanggup memenuhi hati yang mendengar dengan kedamaian, kegembiraan, semangat, dan sukacita yang melimpah. Demikian pula musik dan pujian yang benar dapat membuat suasana Sekolah Minggu menjadi lebih hidup untuk siap menghadap hadirat Tuhan.
Dalam situasi dan kondisi yang terbatas, dimana penggunaan alat musik tidak memungkinkan, pujian masih tetap memegang peran yang sangat penting dalam susunan acara kebaktian anak. Pujian bukan sekedar "acara pembukaan" melainkan salah satu bagian penting dalam susunan / liturgi sebuah kebaktian karena pujian adalah untuk mempersiapkan jemaat memuliakan Tuhan. Tapi hal yang lebih penting dari semuanya adalah bahwa pujian ditujukan kepada Tuhan dan Tuhan berkenan atas pujian dari manusia. Ulasan di bawah ini akan memaparkan arti penting Musik dan Pujian di Sekolah Minggu.
A. Latar Belakang Alkitab
Apa kata Firman Tuhan mengenai musik dan pujian? Firman Tuhan mengungkapkan banyak hal mengenai musik dan pujian. Tuhan sendirilah yang menaruh pujian pada setiap mulut manusia, ciptaan-Nya yang tertinggi. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam Mazmur 40:4, yang berbunyi, "Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku, untuk memuji Allah kita." Tuhan juga menaruh pujian dalam mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu (lihat Matius 21:17 dan Mazmur 8:3). Tuhan juga menaruh pujian pada semua ciptaan-Nya, baik itu malaikat, matahari, bulan, bintang, air, api, hujan, binatang, buah-buahan dan sebagainya (lihat Mazmur 148). Tuhan berkenan pada pujian dan nyanyian setiap umat-Nya, bahkan Dia bersemayam di atas puji-pujian umat-Nya (lihat Mazmur 22:4).
Puji-pujian dalam Alkitab dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan menyanyi, mengangkat tangan, bertepuk tangan, bersorak-sorai, menari, maupun dengan memainkan alat musik.
Mari kita perhatikan beberapa ayat berikut ini:
• Menyanyi
"Nyanyikanlah mazmur bagi Tuhan, hai orang-orang yang dikasihi-Nya." (Mazmur 30:5)
• Mengangkat Tangan
"Angkatlah tanganmu ke tempat Kudus dan pujilah Tuhan.(Mazmur 134:2)
• Bertepuk Tangan
"Hai segala bangsa, bertepuk tanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai." (Mazmur 47:2)
• Bersorak-sorak
"Biarkanlah bersorak-sorai dan bersukacita orang-orang yang ingin melihat Aku dibenarkan." (Mazmur 35:27)
• Menari
"Biarkanlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi." (Mazmur 149:3).
• Memainkan Alat Musik
"Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan permainan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!" (Mazmur 150:3-5)
Masih ada banyak ayat lain yang mengungkapkan betapa Tuhan berkenan pada puji-pujian setiap umat-Nya. Banyak tokoh yang dicatat dalam Alkitab dikisahkan senang memuji-muji Tuhan, seperti: Miryam, Daud, Salomo, Habakuk, Debora, Barak, Nehemia, Yesaya, Ezra dan sebagainya.
B. Tujuan Musik dan Pujian di Sekolah Minggu
Musik dan pujian di Sekolah Minggu tidak hanya sekedar membuat suasana Sekolah Minggu lebih semarak. Namun lebih dari itu, musik dan pujian memiliki tujuan khusus yang lebih dalam dan penting.
Adapun tujuan musik dan pujian di Sekolah Minggu adalah:
• Mengajak Anak Memuji dan Menyembah Tuhan
Tuhan mau segala yang bernafas memuji Dia (lihat Mazmur 148 dan Mazmur 150), setiap mulut mengakui Dia adalah Tuhan (lihat Roma 10:9), dan setiap lutut bertekuk menyembah Tuhan (lihat Yesaya 45:23 dan Roma 14:11).
• Membantu Mengajarkan Kebenaran Alkitab pada Anak-anak
Bagi anak-anak, pujian/lagu/nyanyian lebih mudah diingat daripada sebuah ayat hafalan yang panjang, sebuah perikop dalam Alkitab, atau sebuah konsep kebenaran Alkitab. Sehingga seringkali kebenaran Alkitab dapat lebih efektif bila disampaikan melalui nyanyian. Misalnya lagu: "Demikian Allah Mengasihi Dunia" (Yohanes 3:16), "Orang Pandai dan Orang Bodoh" (Matius 7:24-27), dan "Yesus Sayang Padaku", "Alkitab Mengajarku", dst. (Untuk mengajarkan bahwa Tuhan mengasihi kita).
• Membangun Suasana Ibadah yang Hidup dan Terarah, Khususnya Penyembahan Kepada Tuhan
Hadirnya musik dan pujian dapat membawa perubahan suasana hati anak-anak yang mengikutinya. Lagu yang riang gembira mengenai alam ciptaan Tuhan akan membawa anak menyadari kuasa dan pemeliharaan Tuhan atas seisi dunia, lagu yang lembut mengenai Kasih Tuhan akan membawa anak menyadari pengorbanan Kristus bagi jiwa mereka, dsb.
• Membina Persekutuan yang Penuh Kasih
Ibadah memiliki dua aspek penting, pertama, persekutuan dengan Tuhan (hubungan vertikal), kedua persekutuan dengan sesama orang percaya (hubungan horisontal). Dengan musik dan pujian, anak-anak dapat dikondisikan untuk saling berinteraksi, baik dengan sesama anak-anak SM maupun dengan guru SM. Misalnya: menyanyikan lagu sambil berjabat tangan, melakukan gerakan secara berpasangan, menyanyi bersahutan, dsb.
C. Fungsi Musik dan Pujian di Sekolah Minggu
Hadirnya musik dan pujian di kelas Sekolah Minggu membawa beragam manfaat praktis bagi guru SM dalam menyusun acara ibadah yang baik, antara lain:
• Sebagai Waktu Persiapan
Sebelum anak-anak masuk ke dalam kelas atau sewaktu anak masih sibuk dengan berbagai urusannya sendiri, musik dan lagu pujian bisa digunakan sebagai "tanda" bahwa kelas akan segera dimulai. Jadi, setiap mendengar lagu pembukaan tersebut anak-anak dapat dipersiapkan hati, jiwa, dan pikirannya untuk mengikuti acara kebaktian. Demikian pula musik dan pujian dapat membantu memusatkan perhatian anak-anak untuk mendengarkan Firman-Nya.
• Alat Bantu Mengajar
Musik dan pujian dapat membantu anak-anak memahami kebenaran Alkitab yang diajarkan guru SM. Sebaliknya, melalui lagu pujian yang dinyanyikan, guru juga dapat membahas kebenaran Alkitab yang terdapat dalam syair lagunya.
• Sebagai Penyembahan
Musik dan pujian yang lembut dapat mempersiapkan suasana hati, jiwa, pikiran dan perasaan anak untuk masuk hadirat Allah, untuk menyembah dan memuliakan Allah. Musik dan pujian juga dapat membawa anak pada suasana khidmat, sehingga anak dapat menaruh segala rasa hormat, pujian dan syukur kepada Allah.
• Sebagai Ungkapan Perasaan
Musik dan pujian dapat membantu seseorang dalam mengungkapkan perasaan terdalamnya pada Tuhan, betapa dia mengasihi Allah, berterima kasih, bersyukur akan kasih Allah, menyesali dosanya, dan memohon ampun pada Allah.
• Sebagai Pemersatu
Musik dan pujian dapat berfungsi sebagai alat pemersatu diantara anak-anak Sekolah Minggu dan guru Sekolah Minggu, sehingga tercipta suasana persekutuan, persahabatan dan persaudaraan yang indah di dalam Tuhan. Dan setiap anak merasa bahwa mereka adalah satu keluarga.
Dengan demikan, tentunya guru Sekolah Minggu perlu melakukan persiapan khusus untuk memilih dan menentukan lagu yang cocok serta merancangnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Lagu disesuaikan dengan tema kebaktian agar sejalan dengan Firman Tuhan yang disampaikan hari itu, sehingga seluruh rangkaian acara kebaktian Sekolah Minggu dapat berlangsung dengan baik dan terarah. Mengenai perencanaan, persiapan dan pemilihan lagu menurut fungsinya akan kita bahas secara lebih mendalam pada edisi berikut.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, halaman 50 - 54, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.
• Makalah Pembinaan Guru Sekolah Minggu, halaman 14 - 15, GBI Keluarga Allah, Solo.
• Ruth Lautfer & Anni Dyck, Pedoman Pelayanan Anak 2, halaman 96 - 100, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, halaman 47, Gospel Light, Ventura, 1992.


6.6 Tips Memimpin Pujian
Pujian di kelas Sekolah Minggu dapat membawa pengaruh yang besar bagi seluruh jalannya acara, terutama untuk mempersiapkan hati anak dalam menerima Firman Tuhan. Apabila suasana puji-pujian monoton dan terlihat lesu, maka anak maupun guru akan sulit untuk membangun ibadah yang penuh sukacita dan semangat.
Oleh sebab itu, meskipun anda telah berkali-kali menjalankan tugas sebagai pemimpin pujian, tidak ada salahnya anda memperhatikan tips memimpin pujian berikut ini.
1. Pemimpin pujian harus menguasai, baik syair maupun nada lagu-lagu yang akan dinyanyikan, dan memiliki kreativitas dalam menyanyikan lagu tersebut, misalnya dengan gerakan, bertepuk tangan, kanon, bersahutan, dan sebagainya (Lihat Serba Serbi).
2. Apabila ada lagu baru yang hendak diperkenalkan atau diajarkan, jangan dilakukan pada awal pertemuan, tapi setelah anak-anak terbangun semangatnya dalam memuji Tuhan. Untuk itu pemimpin sebaiknya telah mempersiapkan diri dengan baik, kalau perlu koordinasikan dengan guru lain yang membantu mengiringi dengan musik. Untuk memudahkan dalam mengajarkan lagu baru, gunakan OHP, papan tulis, atau lembaran kertas. Nyanyikan lagu baru tersebut secara berulang-ulang agar anak memahami melodinya. Lalu nyanyikan lagu tersebut dengan perlahan-lahan dan mintalah anak untuk mengikutinya. Lakukan secara berulang-ulang sampai anak benar-benar dapat mengikutinya.
3. Jelaskan secara ringkas arti atau inti isi dari lagu yang memuat kata-kata abstrak, kiasan, atau perumpamaan yang belum dipahami anak. Misalnya lagu: "Yesus Pokok dan Kita Carang-Nya", jelaskan apa yang dimaksud dengan "carang" dan mengapa Yesus disebut sebagai "pokok".
4. Posisi dan sikap dalam menyanyi harus benar, yaitu: duduk atau berdiri tegak, dan jangan biarkan anak menyanyi dengan berteriak karena hal tersebut dapat merusak fungsi pita suaranya.
5. Sebaiknya anda jangan memberi terlalu banyak komentar saat memimpin pujian, kalau anda harus memberikan komentar, sampaikan dengan singkat dan jelas.
6. Anda harus peka dengan situasi selama pujian, bila anak kelihatan kurang bersemangat, lesu dan tidak bergairah dengan lagu yang telah disiapkan, anda dapat segera melakukan perubahan, misalnya: mengajak anak melakukan gerakan dari lagu yang dinyanyikan, atau memberikan humor ringan yang segar, atau bisa juga "berolah-raga" dulu, dll.
7. Anda perlu mengetahui patokan umum jangkauan nada pada anak sesuai dengan kelompok usianya, yaitu:
Kelas Indria (di bawah 4 tahun) : D1 - A1
Kelas TK (5-6 tahun) : D1 - B1
Kelas Pratama (7-8 tahun) : D1 - D2
Kelas Madya (9-10 tahun) : C1 - E2
Tunas Remaja (11-14 tahun) : B1 - F2
Remaja : C1 - E2
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, halaman 104 - 105, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.



6.7 Musik dalam Sekolah Minggu
Pada jaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, banyak perintah yang Tuhan berikan lewat kata-kata berirama dan lagu-lagu. Bahkan, 150 Mazmur sebenarnya dimaksudkan untuk dinyanyikan. Sejak dulu sampai sekarang, musik terus digunakan untuk mengungkapkan ekspresi, berkomunikasi, memberikan perintah, atau penyembahan. Di bawah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika GSM ingin menggunakan musik dalam pelayanan:
1. Lirik harus memiliki arti dan makna yang sesuai dengan umur ASM dan tingkatan kelas Sekolah Minggu. Lebih baik menyanyikan lagu yang liriknya memiliki arti harafiah daripada kata-kata yang berupa simbol-simbol (kata-kata figuratif). Evaluasilah lirik lagu-lagu itu agar sesuai dengan taraf pengertian anak-anak.
2. Gerakan menyanyi harus berfokus pada isi lagu. Anak-anak membutuhkan dan menyukai kegiatan yang menggerakan otot-otot tubuh. Nyanyian yang memakai gerakan sangat disukai anak-anak, tapi jangan sampai fokus nyanyian justru pada gerakannya saja. Gerakan harus berhubungan dengan lirik/kata-kata dalam lagu yang dinyanyikan karena makna dari kata-katalah yang menjadi inti nyanyian.
3. Lagu harus berorientasi mendidik. Ajarkan satu konsep kebenaran Alkitab secara baik dengan mengarahkan semua aktivitas dan sumber-sumber yang ada pada konsep yang diajarkan tsb..
4. Lirik lagu harus memiliki doktrin yang Alkitabiah. Jangan gunakan lagu yang kedengarannya enak di telinga tanpa lebih dahulu mengevaluasi liriknya. Akan sulit sekali untuk mengubah pengajaran yang salah pada lagu/musik yang sudah terlanjur disukai. [Juga berhati-hatilah dengan lagu-lagu yang mengimplikasikan bahwa binatang memiliki sifat rohani).
5. Melodi yang digunakan haruslah tidak rumit/sederhana. Carilah lagu yang menarik dan sesuai untuk masing-masing tingkatan kelas atau umur ASM.
Satu hal yang harus diingat, tujuan kegiatan musik dalam kelas Sekolah Minggu adalah untuk mengajar kebenaran Alkitab, bukan untuk mengembangkan kualitas suara atau cara menyanyi yang profesional. ASM yang masih kecil-kecil menikmati kegiatan menyanyi walaupun sering kali mereka tidak dapat menyanyikan tone dan rhytm-nya dengan benar/tepat. (Tapi hal itu bisa mereka pelajari sejalan dengan bertambahnya usia mereka). Koor anak-anak dapat menjadi program yang sangat berguna, tapi perlu diingat bahwa program ini tidak boleh dipakai untuk menggantikan program Sekolah Minggu itu sendiri.

Sumber:
• Dr. Robert J. Choun & Dr. Michael S. Lawson, The Complete Handbook for Children Ministry: How to Reach and Teach Next Generation, halaman 220 - 221, Thomas Nelson Publishers, Nashville, 1993.


VII Mengajar
7.1 Metode Mengajar Yesus
Dalam mengajar, Yesus menggunakan beberapa metode dan tidak terikat pada satu metode saja. Dia beralih dengan sangat lembut dari yang dikenal ke yang tidak dikenal; dari yang sederhana ke hal-hal yang rumit; dari hal-hal yang konkret ke hal-hal yang abstrak. Suatu kebebasan yang sesungguhnya, muncul dalam kemampuan metodologisnya dan dengan objektivitas yang cukup jelas. Dia bukanlah seorang penghibur melainkan seorang pendidik. Dia menginginkan lebih dari perhatian yang besar; Dia menjanjikan untuk mengubah hidup.
Tak seorang pun bisa menuduh Yesus memotong filosofi pendidikan. Dia memahami bahwa semua pembelajaran melibatkan suatu proses. Dia tidak hanya tahu apa yang akan diajarkan-Nya, tetapi Ia juga mengerti apa yang diajarkan-Nya. Belajar lebih dari sekedar mendengarkan; mengajar lebih dari sekedar mengatakan. Bagaimanakah Yesus bisa menjadi begitu efektif tanpa menggunakan bel atau pun jadwal, sebuah ruang kelas yang bagus, dan sebuah OHP atau layar?
Berikut ini beberapa kunci keefektivitasan-Nya. Ajaran Yesus memiliki sifat bisa dibedakan dan dipindahkan/disalurkan.
AJARAN YESUS ITU KREATIF
Tidak ada pola pengajaran yang sama dengan pola pengajaran Yesus. Sangat sulit untuk menemukan bahwa Yesus menggunakan hal yang sama dalam cara yang sama. Seseorang membaca Kitab Suci dengan harapan untuk menemukan apa yang selanjutnya akan dilakukan dan dikatakan oleh Yesus. Kita melihat kekreativitasan-Nya seperti berikut ini:
1. Dia menggunakan pertanyaan-pertanyaan.
Cara ini merupakan inti dari metode pengajaran-Nya. Empat Injil menuliskan lebih dari seratus pertanyaan berbeda yang digunakan. Beberapa dari pertanyaan-Nya dilontarkan secara langsung dan dengan sederhana memberikan informasi yang penting, beberapa penjelasan dari ketidakpastian yang dipikirkan oleh pendengar- Nya, dan ekspresi yang muncul atas iman mereka. Misalnya, "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" (Matius 9:28)
Robert Stein, dalam bukunya yang berjudul "The Method and Message of Jesus Teaching", mengatakan bahwa:
"Dia menggunakan pertanyaan dalam berbagai variasi dan dalam berbagai situasi. Salah satu cara yang digunakan Yesus dalam menggunakan pertanyaan adalah dengan menggambarkan jawaban yang benar bagi pendengar-Nya. Dengan menggambarkan jawaban yang benar kepada murid-murid-Nya, maka jawaban tersebut akan lebih menyakinkan dan selalu mereka ingat daripada hanya diucapkan oleh Yesus. Inti dari keseluruhan penginjilan-Nya terpusat pada peristiwa di Kaisarea, Filipi dimana Yesus menanyai murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi." Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!" Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia. Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam- imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang." (Markus 8:27-32)
Seringkali, pertanyaan yang dilontarkan-Nya secara langsung mengharuskan pendengar-Nya membandingkan, memeriksa, mengingat, dan mengevaluasi. Pertanyaan-pertanyaan hipotesa memberikan suasana solusi bagi pendengar-Nya. Seperti yang tertera pada Matius 21:31, "Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" atau seperti yang terdapat di Lukas 10:36, "Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
Yesus dikenal mahir dalam menangani pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada-Nya, bahkan ketika mereka ingin menjebak-Nya. Di dalam Markus 12:13-34, Yesus mendiskusikan tiga hal:
a. Pajak kepada Kaisar
b. Pernikahan pada Kebangkitan hidup
c. Hukum yang Terutama
Setiap pertanyaan sangatlah berbeda dan pendengar-Nya sangat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan, sehingga mereka tidak lagi memiliki pertanyaan yang akan ditanyakan pada waktu itu.
2. Dia menggunakan perumpamaan.
Yesus adalah ahli dalam bercerita. Ajaran-Nya menggugah pikiran; bukan melumpuhkan pikiran. Perumpamaan adalah bentuk yang paling terkenal dari ciri-ciri ajaran-Nya yang secara kreatif melibatkan orang-orang dalam proses belajar. Markus mencatat bahwa Yesus, "Mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka." (Markus 4:2)
Archibald Hunter mengklaim bahwa 35 persen dari ajaran Yesus dalam keempat kitab Injil berbentuk perumpamaan. (Richard A. Batey, ed. New Testament Issues. New York: Harper and Row, 1970, p.71.)
Ada sebuah pertanyaan yang berupa kritik, "Mengapa Yesus sangat sering menggunakan perumpamaan?" Kembali, Robert Stein memiliki ayat yang tepat dalam "Perumpamaan Yesus" yang diringkas-Nya menjadi tiga alasan:
a. Untuk menyembunyikan ajaran-ajaran-Nya dari orang-orang di luar-Nya (Markus 4:10-12; Matius 11:25-27).
b. Untuk mengilustrasikan dan menyatakan pesan-pesan-Nya kepada murid-murid-Nya (Markus 4:34).
c. Untuk menenangkan pendengar-Nya (Markus 12:1-11; Lukas 15:1-2).
Yesus menggunakan berbagai metode yang kreatif seperti:
o Pernyataan yang benar-benar ditekankan (Markus 5:29-30).
o Peribahasa (Markus 6:4)
o Paradok (Markus 12:41-44)
o Ironi (Matius 16:2-3)
o Hiperbola (Matius 23:23-24)
o Teka-teki (Matius 11:12)
o Kiasan (Lukas 13:34)
o Permainan kata (Matius 16:18)
o Sindiran (Yohanes 2:19)
o Metafora (Lukas 13:32)
AJARAN YESUS ADALAH UNIK
Setiap ajaran digunakan dan dipilih untuk menyesuaikan dengan situasi dan kebutuhan dari pendengar-Nya. Setiap pertemuan sangatlah berbeda karena Dia tahu apa yang ada dalam diri setiap orang secara umum dan secara individu (Yohanes 2:24-25). Ketiga percakapan selanjutnya (Nikodemus, wanita Samaria, dan perwira di Kapernaum), menunjukkan kemampuan-Nya untuk membuat persetujuan secara cekatan dan unik dengan tiga pribadi yang berbeda. Tujuannya adalah sama- untuk membawa mereka ke dalam iman. Metodologi yang digunakan adalah berbeda.
Dia mengajarkan kebenaran "semampu mereka untuk memahami" (Markus 4:33). Seperti yang ditulis oleh LeBar:
"Belajar adalah proses, biasanya bertahap, tetapi kadang-kadang ditandai dengan peristiwa-peristiwa besar yang menunjukkan peningkatan yang pesat."
Yesus tidak berusaha untuk menyimpan pendekatan-pendekatan pendidikan. "Camkanlah ini karena suatu hari nanti engkau akan memerlukannya." Dia tidak berada di bawah tekanan untuk mengajarkan berbagai hal yang ingin diketahui oleh murid-murid-Nya meskipun Dia adalah kebenaran itu sendiri (Yohanes 14:6). Kita tidak pernah melihat-Nya menjejalkan ajaran-ajaran agama kepada orang lain. Dia tidak pernah menyuruh orang lain untuk mengingat dan mengulangi jawaban-jawaban-Nya. Dia percaya sepenuhnya bahwa Roh Kudus akan menuntun mereka ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13).
Juruselamat selalu mulai dari di mana orang berada -- dengan pertanyaan-pertanyaan, kebutuhan, kepedihan, dan kepentingan mereka. Dia tahu bagaimana mendengarkan orang lain dan mengunci komentar mereka. Dia menjadi satu dengan mereka; Dia dapat beradaptasi dengan berita-berita yang ada; Dia dapat mengikuti mereka tanpa mereka sadari.
Kristus tidak pernah melepaskan budaya-Nya. Bahasa yang digunakan- Nya selalu disesuaikan dengan pengalaman orang lain -- pekerjaan, masalah-masalah sosial, adat istiadat, kehidupan keluarga, sifat, dan konsep agama mereka.
Perhatikan, Yesus mengunakan elemen-elemen yang mengejutkan dengan wanita Samaria (meminta minum, Yohanes 4:7-9); yang dipegang seorang anak (Matius 18:2); mata uang (Markus 12:15); dan jala (Lukas 5:4).
AJARAN YESUS ADALAH MENGIKAT
Orang tidak akan berpikir jika tidak diminta untuk melakukannya. Kapasitas penyelesaian masalah adalah dengan menggunakan Injil. Yesus tidak hanya menyelesaikan masalah untuk orang lain tetapi juga dengan orang lain; mereka selalu dilibatkan dalam proses ini.
Dia mengikat orang lain dengan memberikan suatu perkara, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan, dengan menggunakan pengulangan, dengan bercerita, atau hanya dengan diam saja.
Agar dapat menggunakan metodologinya secara fleksibel, seseorang tidak hanya harus tahu apa yang dipelajarinya secara keseluruhan, dia juga harus memiliki tujuan yang ingin dicapainya ketika membimbing murid-muridnya. Tuhan kita mendorong secara informal tetapi bukan tanpa tujuan.
Lukas 10:25-37 (perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati), merupakan sebuah kasus klasik dari Guru terbesar yang melibatkan seorang pengacara untuk mengetahui kebenaran dari dirinya sendiri. Yesus bukannya menjawab pertanyaannya tetapi Ia justru bertanya tentang jawaban yang diberikan kepada-Nya.
AJARAN YESUS ITU MEMBANGUN
Tujuan Allah kita adalah untuk membawa orang lain dari tempat asal mereka ke tempat mereka yang seharusnya. Percakapan Yesus dengan wanita Samaria itu adalah suatu pelajaran tentang keahlian Yesus yang tak tertandingi (Yohanes 4).
Yesus menghancurkan semua rintangan yang ada -- budaya, ras, jenis kelamin, dan agama -- dan mengubah dia (wanita Samaria) menjadi seorang penginjil di lingkungannya. Itulah perubahan.
Tetapi, bagaimana perubahan yang radikal ini bisa terjadi? Becky Pippert secara tajam mengamati:
"Wanita Samaria itu telah memiliki lima suami dan saat itu, ia tinggal dengan suami keenamnya. Para murid memandangnya dan merasa, "Wanita itu? Menjadi orang Kristen? Tidak bisa, mengapa hanya melihat gaya hidupnya saja!" Tetapi Yesus melihatnya dan membuat kesimpulan yang sebaliknya. Apa yang dilihat Yesus dalam ketakutannya untuk berharap kepada pria, bukan hanya sekedar rasa kehilangan. Bukanlah kebutuhan manusiawinya untuk mendapatkan kelembutan yang menyentuh-Nya tetapi bagaimana ia mencari untuk mendapatkan yang ia perlukan. Bahkan, Yesus melihat bahwa kebutuhannya menandakan kehausannya akan Tuhan. Dia ingin mengatakan kepada murid-murid, "Lihatlah apa yang ia perbuat untuk Tuhan. Lihatlah betapa kerasnya ia berusaha untuk mendapatkan hal yang benar pada semua tempat yang salah." (Pippert, p. 119)
Ini adalah hasil dari melihat orang lain dengan pandangan mata secara radikal (Yohanes 4:34-35).
Dia menantang orang Farisi, "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan" (Matius 9:13). Yesus tidak pernah memaksakan keputusan- keputusan tetapi Ia mendorong orang lain untuk membuat keputusan. Dengan sabar, Ia mulai memperlajari pengalaman murid-murid-Nya dan mereka yang bergaul dengan-Nya.
Melalui Allah, kita belajar bahwa pengajaran yang baik itu meliputi menolong murid untuk bertanggung jawab atas pemikiran dan hidupnya. Dia selamanya akan mendorong dan memampukan orang lain untuk membuat keputusan terbaik yang mungkin bisa dilakukan.
Membimbing orang lain dalam nama Yesus adalah suatu hak yang besar dan suatu tanggung jawab yang harus diemban; menyesatkan seseorang adalah hal yang dibenci-Nya (Matius 18:6). Jadi, sudah siapkah Anda untuk mengajar seperti Yesus?
Sumber:
• Kenneth O. Gangel and Howard G. Hendricks, The Christian Educator's Handbook On Teaching, Artikel Following The Master Teacher: The Method, halaman 24 - 28, Scripture Press Publications, USA, 1988.



7.2 Siap Mengajar
Mungkin, banyak guru SM yang menganggap bahwa tidak mungkin kita dapat mengajar seperti Sang Guru Agung, Yesus, sebab dia begitu sempurna dalam kehidupannya. Pikiran seperti itu harus dihilangkan. Sebagai seorang pengikut Kristus, kita pasti bisa meneladani kesempurnaan-Nya, khususnya bagi seorang guru Kristen dalam hal mengajar.
Satu hal yang harus diingat, bahwa pengajaran yang berhasil selain penyerahan diri sepenuhnya kepada Dia, yakni juga dengan mendisiplin diri dalam hal belajar dan persiapan pribadi. Berikut ini, kita akan melihat persiapan dasar apa saja yang harus dilakukan oleh seorang guru SM.
1. Pengetahuan Alkitab
Karena Alkitab merupakan buku pegangan yang terpenting dalam mengajar Sekolah Minggu, guru harus paham mengenai isinya. Dia harus mengusahakan dirinya untuk mempelajari Alkitab dengan sungguh- sunguh dan sistematis. Misalnya, untuk mengerti pelayanan Yesus, bukan saja pokok-pokok yang utama dari pengajaran-Nya harus diketahui, tetapi juga keadaan sosial, pokitik, ekonomi, dan rohani yang mejadi latar belakang seluruh pelayanan Yesus di bumi. Bagaimanakah hal ini dapat mempengaruhi tindak-tanduk-Nya? Atau bagaimanakah kehidupan pada zaman Yesaya, Yeremia, atau Yehezkiel? Pada saat apa dalam sejarah bangsa Yahudi, mereka bernubuat? Penelaahan Alkitab sedemikian itu tidak dilakukan sebagai ibadah pribadi, itu merupakan satu usaha sistematis untuk memahami arti Alkitab dan menguasai isinya. Ketika seseorang melakukan hal ini, pengajarannya menjadi makin berkuasa dan Alkitab menjadi lebih nyata dalam pikiran murid- murid.
2. Teologi
Kadang-kadang, orang memikirkan teologi sebagai satu pelajaran yang rumit. pelajaran ini tampak kepada mereka sebagai satu campuran teori dan pikiran-pikiran yang abstrak dan kabur. Sebenarnya, setiap orang memiliki teologi, yakni sesuatu yang dipercayainya mengenai kebenaran Kristen. Kepercayaannya mungkin tidak tersusun secara rapi dan dia mungkin tidak dapat menyatakannya dengan jelas; walaupun demikian, dia yakin bahwa semua yang dipercayainya itu benar. Dalam hal mengajar, kapan pun seorang guru berbicara tentang Allah, tentang Yesus, Alkitab, kasih, dan iman, sesungguhnya dia sedang mengajarkan teologi. Betapa pentingnya bahwa pengajarannya itu sesuai dengan pengajaran-pengajaran Alkitab dan selaras dengan apa yang dipercayai gerejanya.
3. Sifat-sifat Kelompok Usia
Pengajaran itu efektif bila dilakukan dengan mengingat minat, keperluan, dan sifat murid. Telah dikatakan, "Dalam hal mengajar di Sekolah Minggu banyak anggota kelas yang tertinggal, sementara guru maju dalam suatu perjalanan rohani, karena guru tidak memulainya pada tingkat pengertian si murid." Para guru yang mengajar anak-anak harus mempertimbangkan tingkat perkembangan murid-muridnya agar tidak mengajarkan konsep-konsep agama yang tidak mungkin dipahaminya. Para guru, yang adalah orang dewasa harus memastikan bahwa mereka memberi pengajaran yang perlu bagi pendewasaan kelas itu.
4. Teknik Mengajar
Penggunaan teknik-teknik mengajar dengan bijaksana akan menjadikan pengetahuan Alkitab lebih berarti dan tetap. Hukum dasar dalam hal belajar adalah bahwa pengajaran itu lebih berhasil bila para murid melibatkan diri dan saling mempengaruhi. Jadi, seorang guru harus mengetahui teknik-teknik manakah yang akan menerbitkan tanggapan terbaik atas suatu kebenaran pelajaran yang diberikan. Dia juga harus mengetahui batas-batas dari bermacam-macam teknik itu, cara untuk menyesuaikannya dengan kesanggupan kelompok usia itu, dan bagaimana waktu serta ruangan yang tersedia mempengaruhi pemilihan suatu metode mengajar. Misalnya, seorang guru tidak menceritakan sebuah cerita dengan cara yang sama dalam kelas kanak-kanak dan kelas Tunas Remaja; juga ia tidak akan memisah-misahkan kelas itu dalam beberapa kelompok diskusi jika hanya ada lima atau enam murid yang hadir dalam kelas itu.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, Artikel Guru Sekolah Minggu, halaman 218, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.



7.3 Bagaimana Mengajar Anak Berdoa?
Bagaimana mengajarkan doa pada mereka? Cara terbaik mengajar anak berdoa adalah dengan memberikan teladan dari kehidupan doa anda sendiri. Mereka bisa melihat dan mendengar anda berdoa. Untuk itu biarkanlah anak-anak mendengarkan doa anda. Berdoalah dengan bebas mengalir dari dalam hati dan undanglah anak-anak untuk ikut bergabung berdoa dengan anda. Ada baiknya juga jika anda kadang-kadang mengajak anak-anak untuk mengikuti doa anda. Berikan dasar-dasar Firman Tuhan dalam doa-doa anda. Dari pengalaman saat menyelidiki Firman Tuhan bersama-sama, anak-anak akan dapat mengembangkan doanya.
Dari teladan anda, anak akan belajar bahwa:
1. Allah ada dan Allah mendengarkan doa.
2. Allah adalah Allah yang Mahakuasa dan sanggup menjawab doa
3. Allah lebih tertarik kepada kesungguhan daripada kata-kata yang indah-indah dan panjang-panjang.
4. Doa dan Firman adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
5. Berdoa bersama-sama dengan bersuara adalah doa yang mempersatukan hati dan berkenan kepada Tuhan.
6. Memprioritaskan Tuhan dalam kehidupan kita adalah dasar dari doa yang dijawab oleh Tuhan.
7. Roh Kudus akan menolong kita berdoa untuk kebutuhan yang tidak terungkapkan, yaitu untuk kepentingan orang lain dalam kasih Yesus.

7.4 Mulailah dengan Mendengar Pendapat Anak

Dalam masa tumbuh kembang anak, ada hal yang sangat ditunggu bagi orangtua yakni mendengar bayinya bersuara, tetapi ketika anak kemudian tumbuh dan berkembang serta sudah lancar berbicara, kadang orangtua mengabaikan apa pendapat anak atau apa yang diinginkan anak. Mendengar pendapat anak dan menyejajarkannya dengan pendapat orang dewasa, hingga kini belum banyak dilakukan orang dewasa dan tentu saja menjadi pekerjaan rumah (PR) besar buat kita.

BATASAN USIA ANAK

Hingga saat ini masih terjadi perbedaan kategori batasan usia anak. Padahal, batasan usia anak akan sangat menentukan siapa yang berhak untuk diberi perlindungan. Dalam produk perundangan negara kita, batasan usia anak sangat bervariasi. Sebagai contoh batasan usia anak/orang dalam hal politik (menggunakan hak pilih pada saat Pemilu) akan berbeda dengan batasan usia perkawinan, yang juga berbeda dengan batasan usia anak dalam ketenagakerjaan. Perbedaan batasan usia tersebut tentu saja sangat membingungkan dan kurang memberi ketegasan terhadap batasan usia anak secara umum.

Sebenarnya batasan usia anak telah secara jelas diakui internasional yakni dengan acuan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Children atau CRC), yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 36 tahun 1990. Disebutkan dalam CRC bahwa anak adalah setiap yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang (UU) yang berlaku, ketentuan usia dewasa anak bisa dicapai lebih awal. Dengan demikian apabila suatu negara menetapkan batas usia anak berbeda dalam setiap undang-undang yang ditetapkan dalam wilayah negaranya maka tidak bertentangan dengan CRC.

MAMPU BERPENDAPAT

Terkait dengan hak berpendapat meskipun sederhana tetapi masih jarang dilakukan, karena adanya anggapan bahwa anak dipandang belum memberikan aspirasi mengenai dirinya karena kesulitan bahasa dan komunikasi secara verbal. Jika kita lebih cermati sebenarnya anak mempunyai bahasa tersendiri untuk mengungkapkan pendapatnya seperti bahasa tubuh, bahasa gambar, atau bahasa-bahasa lain yang kadang kurang kita (sebagai orang dewasa) pahami.

Satu konsorsium di sebuah kota di Jawa Tengah mengadakan forum diskusi bagi anak yang diselenggarakan dalam rangka Hari Anak Nasional. Dalam kegiatan tersebut terkumpul kurang lebih 70 anak yang diberikan kebebasan untuk beraspirasi dengan menggambar, bercerita mengenai hal-hal yang paling disayangi, dan paling dibenci. Hasilnya sangat menakjubkan, ternyata anak mampu beraspirasi mengenai pengalaman hidupnya, mengenai keinginannya yang sederhana dan mengenai kondisi lingkungan di sekitarnya.

Dengan cara tersebut kita menjadi seperti anak-anak dan menyadari bahwa lingkungan di sekitar anak sangat berpengaruh pada pertumbuhannya dan bahwa anak sangat rentan menjadi korban kekerasan. Beberapa bentuk kekerasan yang muncul pada anak misalnya yang harus hidup di jalan sebagai anak jalanan, anak yang harus bekerja, menjadi korban kekerasan seksual dan terbelenggu karena tanggung jawab keluarga yang dibebankan kepada mereka.

Dari kenyataan itu tidak ada alasan tidak, bahwa kita harus mendengar pendapat anak dan memberi kesempatan anak untuk beraspirasi. Menjadikan anak sebagai subyek bukan obyek, adalah catatan penting yang harus kita lakukan. Dengan menganggap anak sebagai subyek, kita akan mampu mendengar pendapat anak yang disejajarkan dengan pendapat orang dewasa.

Didengarnya suara anak dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk kebijakan pemerintah adalah hal yang menarik untuk dikaji. Secara langsung atau tak langsung setiap kebijakan yang diambil pemerintah juga berimbas pada anak. Misalnya kebijakan tata kota. Jika tata ruang kota tidak mempunyai perspektif pada anak, maka akan semakin sempitlah ruang bermain anak.

Pola pembangunan yang mengabaikan kepentingan anak, salah satunya dengan tidak menyediakan "public space" (ruang publik) yang mudah diakses oleh anak-anak. Kepentingan penyediaan "public space" sebenarnya sebagai media untuk anak. Dengan demikian anak dididik untuk belajar berinteraksi dengan orang lain dan kenal terhadap lingkungannya. Jika kemudian tempat-tempat bermain anak tidak ada, akan sangat berpengaruh terhadap masa tumbuh kembang anak.

Jika kita menjelajahi wilayah di kota kita masing-masing, sering kita bertemu banyak anak yang terpaksa bermain layang-layang di jalan yang tentu akan membahayakan jiwa mereka. Kemudian sempat juga kita temui segerombolan anak yang bermain bola di lahan- lahan parkir. Sebenarnya ada tempat-tempat publik/bermain lainnya, seperti play station, taman hiburan, kebun binatang, dan lain-lain. Namun itu semua sarat dengan kepentingan bisnis daripada kepentingan pendidikan bagi anak-anak. Dan mesti diingat pula bahwa ruang-ruang itu ternyata hanya bisa diakses oleh anak yang cukup mampu secara ekonomi.

Kenyataan itu seharusnya membuka kesadaran bagi pengambil kebijakan di pemerintah kota, bahwa setiap pembuatan keputusan haruslah mempunyai perspektif yang jelas untuk anak. Terlebih lagi untuk kebijakan yang terkait dengan masalah anak haruslah mengikutsertakan anak. Sejauh ini dinilai bahwa pembangunan kota kurang bersahabat dengan anak, seperti pengaturan transportasi bagi kepentingan anak- anak. Seharusnya Pemerintah Kota mampu menyediakan bus-bus sekolah yang dikhususkan beroperasi pada jam-jam sekolah sehingga anak-anak tidak perlu berdesak-desakan atau bergelantungan di pintu bus umum yang dipastikan berbahaya untuk mereka. Atau, Pemerintah Kota perlu membangun tempat-tempat yang "accesible" untuk anak-anak "disabled" (anak- anak penyandang cacat) sehingga mereka mampu mengakses tempat- tempat tertentu, terutama tempat-tempat umum seperti tempat bermain.

Hak berpendapat anak merupakan satu-satunya hak dari sepuluh hak anak yang telah diakui secara internasional dalam CRC, sembilan hak anak yang lain adalah hak mendapat informasi, hak bermain, hak berkumpul, hak mendapat pendidikan, hak beristirahat, hak memiliki identitas, hak dilindungi keluarga, hak untuk sehat, dan hak terpenuhi kebutuhan dasarnya.

TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH

Dalam CRC yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia, sebenarnya merupakan tanggung jawab pemerintah untuk memberikan hak berpendapat bagi anak. Dalam CRC, hak berpendapat anak tertuang dalam Pasal 12 ayat 1, disebutkan, "Negara-negara peserta akan menjamin anak-anak yang mampu membentuk pandangannya sendiri bahwa mereka mempunyai hak untuk menyatakan pandangan-pandangan secara bebas dalam semua hal yang mempengaruhi anak dipertimbangkan sesuai dengan usia dan kematangan anak."

Dengan mempertimbangkan masa tumbuh anak tentu hak berpendapat tidak hanya dimaknai pada saat anak berbicara secara verbal, karena hak berpendapat ini mencakup kebebasan yang terlepas dari pembatasan untuk meminta, menerima, dan memberi informasi serta gagasan dalam segala jenis, baik lisan, tulisan, atau cetakan, dalam bentuk seni ataupun media yang lain.

Sifat hak asasi anak yang universal memberikan arti bahwa hak ini dilekatkan pada anak tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, warna kulit, kelamin, bahasa, pandangan, politik dan lain-lain, asal-usul bangsa, harta kekayaan, cacat, kelahiran, atau status lain dari anak atau orangtua.

Mendengar suara anak dan mengikutsertakan anak dalam rencana kebijakan kota terutama yang terkait dengan anak tentu menjadi bagian dari kewajiban pemerintah untuk turut menghargai hak asasi anak. Untuk mendengar suara anak, pemerintah bisa memfasilitasi terbentuknya forum-forum anak. Karena, dalam penyelenggaraan forum anak, banyak hal yang bisa digali dari anak seperti apa yang terjadi pada anak termasuk kekerasan yang menimpanya dan apa yang menjadi keinginan anak.

Sebagaimana terungkap dalam CRC Pasal 12 ayat 2, mendengar pendapat anak dapat dilakukan baik secara langsung ataupun tak langsung melalui perwakilan atau suatu badan yang tepat. Jadi, memulai dengan mendengar pendapat anak kita termasuk anak sebagai generasi penerus akan semakin dididik untuk menghargai perbedaan dalam berpendapat dan menjadi pilar untuk membangun negara Indonesia yang lebih demokratis.

Sumber:
• Solo Pos tanggal/tahun Selasa, 23 Juli 2002 oleh Haryani Saptaningtyas, Ketua Divisi Penelitian Social Analysis and Research Institute (SARI), halaman 4.




7.5 Mengajar Sekolah Minggu adalah Menyenangkan
Mengajar Sekolah Minggu seharusnya menyenangkan; itulah yang dimaksudkan Allah. "Tidak begitu dalam situasi saya!" terdengar tanggapan dari orang-orang yang berpendapat bahwa mengajar Sekolah Minggu menjemukan.
Para mahasiswa dalam sebuah kelas pendidikan Kristen diberi waktu 5 menit untuk menyempurnakan pernyataan berikut, "Saya rasa mengajar Sekolah Minggu merupakan sesuatu yang menyenangkan karena ...."
Seorang anggota kelas itu menulis, "Saya belum pernah mengalami bahwa hal mengajar Sekolah Minggu merupakan sesuatu yang menyenangkan. Saya belum pernah hadir dalam suatu kelas Sekolah Minggu yang diajar oleh seorang guru yang berpendapat bahwa mengajar adalah menyenangkan. Akan tetapi saya berpendapat bahwa mengajar Sekolah Minggu seharusnya sesuatu yang menyenangkan."
Bagaimana kita dapat menjadikannya demikian?
Mengajar atau Belajar
Kesukaan yang sejati dalam hal mempelajari Alkitab harus dipelihara dalam kelas-kelas kita. Ini terlaksana dengan baik bila para guru menyadari bahwa mengajar Sekolah Minggu bukan sekedar mengembangkan pengetahuan seorang murid tentang Alkitab. Pengetahuan Alkitab, yang dalam sekali pun, bukanlah tujuan satu-satunya dari pengajaran kita. Pengetahuan semacam itu hanya merupakan sarana bagi pelajar untuk mendapatkan kebenaran Alkitab. Melalui kebenaran itu Allah dapat mengubah sikap, keadaan, dan cara hidupnya.
Itulah saat kesadaran, saat penemuan, ketika Alkitab menjadi kebenaran bagi kehidupan; satu saat dalam kehidupan pelajar bila dia mengizinkan Alkitab mengadakan perubahan dalam apa yang diucapkan dan yang dilakukannya. Suatu penemuan pribadi selalu menjadikan hal belajar itu menyenangkan bagi pelajar maupun guru.
Mengajar Sekolah Minggu adalah pengalaman yang menggembirakan; ketika kehidupan seorang murid berubah karena sesuatu yang dipelajarinya dari Alkitab. Kesenangan itu terbit bila kehidupan seorang diubahkan, pada waktu dia menerapkan Injil dalam kehidupannya melalui usaha-usaha Saudara.
Sebagaimana semua pelajaran, demikian pula pelajaran Kristen membangun di atas pengalaman-pengalaman yang lampau. Pelajaran diberikan secara bertahap, bersifat dinamis, berurutan, dan sering kali tanpa henti-hentinya. "Saat kebenaran" mendatangi pelajar oleh karena usaha-usahanya sendiri yang lalu dan pengaruh banyak guru yang setia pada masa yang lampau.
Dengarkan percakapan antar anggota keluarga di rumah kami:
"Din, apa yang kau pelajari di sekolah tadi?" merupakan pertanyaan pertama yang sering saya ajukan kepada anak saya yang berumur 11 tahun sepulangnya dari sekolah.
"Tidak banyak," itulah jawabannya yang biasa.
"Bagaimana kau dapat naik ke kelas enam jika sering kali kau tidak belajar banyak?"
"Ah, tidakkah Ayah mengerti? Saya belajar sedikit setiap hari, lalu tiba-tiba semuanya merupakan pengetahuan yang sungguh banyak."
Anak saya benar. Semuanya itu merupakan sesuatu yang sungguh berarti. Sebaliknya guru Kristen juga menikmati kesukaan dalam hal memberitakan Injil kepada para pelajar dengan keyakinan teguh bahwa pada akhirnya hal itu akan memberikan pengaruh yang berfaedah dalam kehidupan masing-masing pelajar.
Metode-metode yang Kreatif
Dewasa ini, sebagaimana setiap periode dalam sejarah manusia, bukanlah waktu untuk metode-metode yang usang dan pendekatan- pendekatan yang tidak menarik. Meskipun berita kita itu suci, tak berubah, dan diberikan oleh Allah kepada kita, namun metode-metode kita dengan tetap harus dinilai oleh patokan ini: Apakah metode ini pernah menghasilkan suatu perubahan dalam seseorang?
Pada keyakinan-keyakinan kita mengenai kuasa Injil haruslah ditambahkan metode-metode yang meyakinkan dan menarik untuk mengajarkan Alkitab. Pekerjaan kita yakni membuat berita pengajaran kita itu segar, mendorong, merangsang dan mengubahkan kehidupan; itulah yang membuat pengajaran Alkitab itu menyenangkan.
Tetapi Bagaimana Kita Memperbaiki Metode-metode Mengajar Kita?
Metode-metode mengajar yang bermakna selalu mulai dengan tujuan pelajaran, kerinduan guru untuk membagi-bagikan kebenaran Alkitab, dan kegiatan-kegiatan belajar yang bermakna untuk pelajar.
Kelas-kelas Sekolah Minggu, sebagaimana orang-orang yang ada di dalamnya, adalah unik. Dengan demikian pendekatan-pendekatan mengajar kita akan berubah sesuai dengan umur kelas itu. Juga dalam kelas yang sama kita dapat menggunakan bermacam-macam pendekatan. Berusahalah memakai bermacam-macam pendekatan dalam pengajaran, tetapi pastikanlah bahwa pengajaran yang diberikan dalam kelas Saudara berhasil mengubah kehidupan pelajar. Jadi, jika tidak ada seseorang yang belajar sesuatu, maka tidak terjadi pengajaran Kristen. Para guru mengetahui bahwa kebenaran Alkitab berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam diri anggota-anggota kelas. Tetapi metode-metode kita harus cukup efektif untuk menawan perhatian mereka, dan berita kita dianggap sedemikian penting karena berhubungan dengan keperluan anggota-anggota kelas sehingga akan disambut oleh mereka dan akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri mereka sehingga murid-murid itu ingin menjadi seperti Kristus.
Cara Yesus
Pengajaran Alkitab abad ke-20 yang efektif bukanlah satu jiplakan dari tehnik-tehnik mengajar yang dipakai Yesus. Andaikata Yesus melaksanakan pelayanan-Nya di dunia dewasa ini, barangkali Dia akan menggunakan setiap metode mengajar yang mungkin: alat peraga modern (proyektor, film, dan sebagainya); kelompok diskusi, drama, panel diskusi, dan bermacam-macam pendekatan mengajar-belajar lainnya.
Cara mengajar-Nya bukan sekedar suatu tehnik mengajar melainkan penyataan kasih. Cara Yesus adalah lebih daripada satu daftar kegiatan untuk diterima atau ditolak. Akan tetapi, sesungguhnya Dia memanggil kita kepada satu jalan kehidupan, satu kehidupan yang tidak takut untuk mengatakan kepada pelajar, "Mari, ikutlah menikmati penemuan-penemuan yang saya temukan mengenai anugerah Allah." Kehidupan itu ternyata dalam kegiatan-kegiatan yang bermakna untuk orang-orang lain -- mengasihi, membagi, dan melayani.
Kita harus belajar mengasihi seseorang dalam kenyataan, bukan hanya dalam kata-kata yang muluk. Dan hal itu menuntut usaha dari kita. Kita harus belajar mengasihi Ali dan Rusmi yang ada di sekeliling kita, yang kaya dan yang miskin, yang berpendidikan dan yang kurang berpendidikan, yang penurut dan yang nakal, yang menerima pelajaran kita dan yang acuh tak acuh.
Karena manusialah Kristus telah datang ke dalam dunia. Kecakapan dan kemauan kita untuk berhubungan dengan orang lain membuat perbedaan di antara pengajaran yang rutin dan pengajaran yang membawa orang kepada keselamatan. Mengajar Sekolah Minggu adalah sesuatu yang menyenangkan karena kita bekerja dengan manusia.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, halaman 170 - 172, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.


7.6 Bagaimana Mengajar Anak Berdoa?
Bagaimana mengajarkan doa pada mereka? Cara terbaik mengajar anak berdoa adalah dengan memberikan teladan dari kehidupan doa anda sendiri. Mereka bisa melihat dan mendengar anda berdoa. Untuk itu biarkanlah anak-anak mendengarkan doa anda. Berdoalah dengan bebas mengalir dari dalam hati dan undanglah anak-anak untuk ikut bergabung berdoa dengan anda. Ada baiknya juga jika anda kadang-kadang mengajak anak-anak untuk mengikuti doa anda. Berikan dasar-dasar Firman Tuhan dalam doa-doa anda. Dari pengalaman saat menyelidiki Firman Tuhan bersama-sama, anak-anak akan dapat mengembangkan doanya.
Dari teladan anda, anak akan belajar bahwa:
1. Allah ada dan Allah mendengarkan doa.
2. Allah adalah Allah yang Mahakuasa dan sanggup menjawab doa
3. Allah lebih tertarik kepada kesungguhan daripada kata-kata yang indah-indah dan panjang-panjang.
4. Doa dan Firman adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
5. Berdoa bersama-sama dengan bersuara adalah doa yang mempersatukan hati dan berkenan kepada Tuhan.
6. Memprioritaskan Tuhan dalam kehidupan kita adalah dasar dari doa yang dijawab oleh Tuhan.
7. Roh Kudus akan menolong kita berdoa untuk kebutuhan yang tidak terungkapkan, yaitu untuk kepentingan orang lain dalam kasih Yesus.

7.7 Cara Menyampaikan Pelajaran
[Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa menjadi topik pembahasan atau bahan diskusi ketika guru-guru SM sedang berkumpul untuk melakukan persiapan. Point-point yang dibahas dalam sajian berikut ini dapat menolong guru untuk semakin meningkatkan kemantapan penampilannya dalam mengajar dan juga kemantapan kesiapan seluruh kelasnya.]
1. Mintalah beberapa guru untuk menyampaikan adegan-adegan lucu yang menggambarkan persoalan-persoalan yang lazim tentang cara menyampaikan pelajaran. Misalnya saja mereka mendemonstrasikan seorang guru yang mengajar dengan pakaian yang kotor dan tidak rapi, seorang laki-laki dengan dasi yang terlalu menyolok atau seorang wanita dengan rambut yang kusut dan tidak teratur rapi, atau seorang guru yang menggunakan gerakan tangan dengan berlebih-lebihan atau nada suara yang serak dan kecepatan bicara yang tidak menarik.

Kemungkinan lain ialah menggambarkan seorang guru yang menggunakan kata-kata yang belum dikenal oleh anak-anak atau memakai tata bahasa dan pengucapan yang salah. Mereka juga dapat melukiskan apa yang terjadi apabila seorang guru tidak mempersiapkan bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan: misalnya alat peraga, kapur tulis, penghapus, persediaan pekerjaan tangan dan lain-lain.
2. Sesudah penyajian adegan itu mintalah para guru menyebutkan kesalahan dan kekurangan dalam penyampaian pelajaran yang baru saja diperagakan. Tulislah komentar mereka itu di papan tulis.

Pada saat ini Saudara dapat melakukan salah satu hal yang berikut ini. Saudara dapat melanjutkan pembahasan dengan para guru mengenai cara-cara mengatasi persoalan itu. Hal ini dapat dilakukan bersama-sama dengan seluruh staf atau dengan membagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Atau Saudara dapat meminta salah satu guru yang cakap untuk membicarakan pokok itu dengan singkat, dengan memakai bahan di bawah ini ditambah dengan pendapat-pendapat lain yang mungkin telah diperolehnya. Berilah waktu kepada para guru untuk menilai penyampaian pelajarannya masing-masing.
3. Perhatikan kerapihan Saudara. Sikap tenang dan rasa percaya pada diri sendiri adalah perlu untuk penyampaian yang efektif dan kerapihan Saudara itu erat hubungannya dengan unsur-unsur itu.

Tanpa disengaja kelas Saudara mengukur dan menilai Saudara. Saudara harus pastikan bahwa pakaian Saudara bersih dan rapi. Namun demikian, janganlah berpakaian untuk menarik perhatian saja. Saudara sudah harus ada di kelas atau ruangan Saudara sebelum murid-murid Saudara tiba.
4. Sikap tubuh dan hal berdiri atau duduk waktu mengajar dapat mempengaruhi penyampaian pelajaran. Bila mengajar anak-anak kecil mungkin lebih baik untuk duduk bersama-sama dengan mereka di tikar atau duduk di kursi atau bangku yang rendah. Yang penting ialah supaya para murid tidak usah memandang ke atas, ketika guru mengajar atau menunjukkan alat peraga, misalnya gambar-gambar, dan lain-lain. Apabila Saudara mengajar anak-anak muda dan orang dewasa, Saudara boleh duduk atau berdiri. Apabila mungkin, usahakan supaya kelas itu membentuk satu lingkaran atau duduk mengelilingi meja. Apabila Saudara berdiri, berdirilah tegak.
5. Pakailah sedikit gerakan tangan. Mintalah guru lain menilik untuk melihat apakah gerakan Saudara itu kaku atau berlebih-lebihan. Keefektifan Saudara akan meningkat, apabila Saudara memandang murid sementara mengajar. Mintalah seseorang menilik untuk melihat apakah Saudara mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk seperti: melihat ke lantai atau ke langit-langit; melihat ke luar jendela; hanya melihat atau menatap satu atau dua anggota kelas saja.
6. Perhatikan sikap Saudara. Sikap guru menjadi sikap seluruh kelas itu. Penyampaian pelajaran itu akan lebih diterima oleh anak- anak, jikalau Saudara dapat membuat mereka tenang. Tunjukkan kepada mereka bahwa Saudara adalah manusia dan dapat didekati. Jangan gugup, tetapi tenanglah. Usahakan supaya murid-murid merasa tidak tegang.
7. Bergembiralah. Kelas bukanlah tempat untuk menunjuk-nunjukkan kedukaan atau mengungkapkan "kejengkelan". Bangkitkanlah suasana yang hangat dan akrab. Terbukalah terhadap pandangan-pandangan yang berbeda. Jangan berdebat. Mungkin Saudara menang, tetapi akan kehilangan anggota kelas. Jadilah pendengar yang baik. Dengarkanlah arti-arti yang tersembunyi di balik kata-kata mereka. Pusatkanlah perhatian pada apa yang diucapkan anak-anak itu, agar balasan Saudara sesuai dengan bicara mereka.
8. Perhatikan kata-kata Saudara. Sadarlah selalu akan nada dan kekuatan suara Saudara. Usahakan untuk berbicara dengan nada suara yang biasa. Berbicaralah cukup keras sehingga semua dapat mendengar dengan enak. Ubah-ubahkanlah kecepatan berbicara Saudara, dan kadang-kadang berhentilah bicara seperti dalam drama. Bersikaplah yang wajar. Berbicaralah kepada kelas seperti Saudara berbicara dalam percakapan biasa dengan gembira dan penuh semangat, dengan sungguh-sungguh dan dengan perasaan.

Seorang pendidik Kristen, Ray Rozell, berkata, "Salah satu penghalang besar untuk pengajaran yang efektif terletak pada pemilihan kata-kata yang tidak lazim bagi anak-anak atau yang memberi arti lain bagi sebagian anak." Komunikasi akan terjadi hanya apabila kata-katanya dapat dimengerti. Ini berarti Saudara dapat meminta murid-murid melihatnya dalam kamus umum atau kamus Alkitab. Usahakan untuk menghilangkan "istilah gerejani" dalam pembicaraan Saudara. Tidak diharuskan berbicara seperti ahli bahasa, akan tetapi Saudara harus terus-menerus meningkatkan tata bahasa dan pengucapan Saudara. Kesalahan-kesalahan ini seringkali menyebabkan murid-murid tidak memperhatikan apa yang Saudara katakan, melainkan cara Saudara mengatakannya. Cobalah berbicara dengan terang dan jelas.
9. Perhatikan keadaan ruang kelas. Anak-anak sangat terpengaruh oleh keadaan sekitarnya. Suatu ruang kelas yang rapi dan teratur akan membuat murid-murid berkelakuan baik. Periksalah ruangan Saudara, apakah bersih dan rapi. Berusaha agar murid-murid Saudara bisa duduk dengan enak di kelas.

Saudara sudah harus mengatur ruang kelas sebelum anak-anak tiba atau mintalah kepada anak-anak yang datang lebih pagi untuk menolong mengaturnya. Semua anak harus bisa melihat papan tulis, papan flanel atau apa yang ada di depan kelas. Jagalah agar tidak terjadi gangguan yang tidak perlu. Saudara harus yakin bahwa semua bahan. Alat dan keperluan untuk mengajar telah disusun sebelumnya dan sudah siap untuk dipakai. Periksalah semua keperluan apakah dalam keadaan baik. Ingat, RUANG KELAS JUGA IKUT MENGAJAR!
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, halaman 249 - 250, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.

7.8 Mengajar Anak Belajar

Pelayanan kepada anak-anak akan semakin berkembang jika kita memahami dan merencanakan pengalaman-pengalaman yang dibutuhkan dalam tahap-tahap dasar proses belajar anak di bawah ini.

1. Mendengarkan (Listening)

Pelajaran dasar yang penting dalam proses belajar anak adalah bagaimana anak dapat mendengar atau memberi perhatian. Guru yang ingin mengawali proses belajar pertama-tama harus dapat mencari cara untuk menarik perhatian anak, antara lain dengan memotivasi anak melalui ruangan kelas maupun aktivitas-aktivitas sehingga anak tertarik dengan materi yang harus dipelajarinya. Misalnya saja, sebuah poster sederhana dengan beberapa pertanyaan di dalamnya dapat digunakan bersama dengan suatu permainan yang membuat anak menemukan definisi kosa kata kunci yang dimaksudkan. Poster dan permainan tersebut merupakan kombinasi efektif yang dapat digunakan untuk memperoleh perhatian anak dan memotivasi anak di awal proses belajarnya. Pada umumnya anak-anak akan memperhatikan sesuatu yang spesifik yang mereka rasa perlu untuk dengarkan, misalnya: "Ada tiga hal yang harus kalian lakukan dalam permainan ini. Dengarkan baik-baik supaya kalian tidak lupa!"

2. Meneliti (Exploring)

Meneliti, tahap kedua dalam proses belajar, meliputi penelitian yang serius terhadap suatu masalah atau subyek. Anak-anak perlu dilibatkan dalam penelitian tentang sesuatu yang belum pernah mereka ketahui atau mereka alami. Dengan demikian anak tidak lagi menjadi pendengar pasif atau penonton tetapi menjadi pelaku yang aktif berpartisipasi dalam penelitian. Alkitab maupun alat- alat bantu belajar lainnya dapat digunakan dalam penelitian. Selain itu, dalam penelitian anak-anak dapat mengajukan pertanyaan, mendefinisikan masalah atau memberikan usulan tentang pendekatan-pendekatan yang mungkin dapat digunakan untuk menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.

3. Menemukan (Discovering)

Dari mendengarkan dan penelitian yang dilakukannya, anak sekarang mampu menemukan sendiri apa yang dikatakan dalam Alkitab dan dengan bimbingan Roh Kudus, anak merasakan pengaruh yang ditimbulkan oleh Alkitab dalam dirinya sendiri.

Menemukan kebenaran sejati Tuhan melalui firman-Nya adalah suatu hal yang menarik. Namun, seringkali satu-satunya orang yang menemukan kebenaran tersebut adalah guru itu sendiri. Meskipun guru akan dengan senang hati membagikan kebenaran tersebut dengan murid-muridnya, tidak ada salahnya jika sukacita yang diperoleh saat menemukan kebenaran sejati Tuhan tersebut juga dapat dirasakan oleh anak-anak di bawah bimbingan gurunya yang terampil. Keterbatasan waktu mungkin akan mengurangi jumlah pengungkapan kebenaran yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri, tetapi seharusnya hal ini tidak dijadikan alasan untuk guru mengungkapkan kebenaran Firman Tuhan seorang diri tanpa melibatkan anak-anak. Tujuan dari penemuan ini adalah agar anak belajar dan menerapkan kebenaran Alkitab, bukan untuk menutupi kebenaran tersebut.

4. Mencocokan (Appropriating)

Setelah anak menemukan arti suatu ayat dalam Alkitab, anak perlu merenungkan kebenaran yang ada dalam ayat tersebut. Anak perlu menghubungkan arti-arti dan nilai-nilai yang telah diungkapkannya dengan pengalaman pribadinya. Pengetahuan Alkitab yang tidak diujikan dalam kehidupan pribadi berarti tidak memenuhi tujuan yang dimaksudkan oleh Allah yang membuatnya.

Berikan anak-anak bimbingan untuk mencocokkan atau membuat kebenaran Alkitab menjadi miliknya. Angkat suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan dengan menggunakan kebenaran Alkitab. Misalnya saja,
"Josh sangat menyukai bola basket. Ia sedang menyelesaikan ining terakhir ketika ia menyadari bahwa ia telah melanggar jam makan malam. Josh tahu orangtuanya di rumah pasti sudah menunggunya tetapi ia merasa sayang untuk meninggalkan permainannya. Apa yang seharusnya Josh lakukan untuk menyelesaikan pergumulan hatinya? Apa yang dikatakan Alkitab tentang masalah seperti yang dialami Josh ini?"
Mengajak anak mencocokkan kebenaran Alkitab dengan suatu pelajaran akan memudahkan anak untuk mengenali arti yang sesungguhnya yang dapat ia terapkan dalam perasaannya maupun dalam perilakunya. Melalui tahap mencocokkan ini, anak dapat mengetahui apa yang diharapkan Tuhan darinya jika menghadapi suatu keadaan atau situasi yang hampir sama dengan kebenaran tersebut.

5. Mempertanggung jawabkan (Assuming Responsibility)

Tahap ini adalah puncak dari proses belajar, tempat di mana tahap-tahap sebelumnya -- mendengar, meneliti, menemukan, dan mencocokan -- mencapai titik kulminasi/klimaks. Di sini, kebenaran Tuhan yang sebenarnya mengubah dan membentuk pola pikir anak serta sikap dan perilakunya. Pada tahap inilah usaha kita mengkomunikasikan kebenaran Tuhan kepada anak-anak menghasilkan perubahan hidup pada anak-anak tersebut. Anak-anak harus kita bimbing untuk melakukan hal-hal tertentu sesuai dengan apa yang telah mereka alami (dari tahap-tahap proses belajar yang telah mereka pelajari). Ujian yang sesungguhnya terjadi ketika anak dengan kemauannya sendiri menggunakan apa yang telah ia pelajari tersebut untuk menghadapi situasi baru yang ia alami. Anak juga dapat mempraktekkan apa yang telah ia pelajari tersebut saat ia sedang melakukan aktivitas bersama dengan teman-temannya yang lain (bersikap baik, ramah, mau berbagi, memaafkan, dsb.). Guru dapat juga menggunakan rencana proyek pelayanan atau kesempatan- kesempatan lain agar anak dapat menerapkan kebenaran Alkitab dalam tindakan nyata. Pada kesempatan lain, anak dapat diberikan kesempatan untuk merencanakan tindakan tertentu yang harus dilakukan untuk minggu yang akan datang.

Proses belajar dan pemahaman manusia dapat diringkas dalam langkah- langkah belajar seperti di atas. Mendengarkan, meneliti, menemukan, mencocokkan, dan mempertanggungjawabkan bukan sekedar aktivitas di mana anak ikut terlibat, tetapi juga merupakan satu kesatuan dengan pendidikan Kristen/tujuan dan sasaran pendidikan. Melalui bimbingan Roh Kudus dari guru yang perhatian, aspek rohani dalam kepribadian anak dapat tumbuh dan berkembang.

Sumber:
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, halaman 123 - 124, Gospel Light, Ventura, 1992.


7.9 Meningkatkan Motivasi Anak untuk Belajar

1. Dengan memperlihatkan semenjak dini kepadanya bahwa guru maupun orangtua mau menghargai karya-karya orang lain, gemar belajar, dan senang membaca buku. Biasanya anak mencontoh perilaku guru dan orangtua yang seperti itu.
2. Dengan membacakan cerita yang menarik sesuai tingkat perkembangan anak. Pelan-pelan anak akan terdorong untuk bisa dan mau membaca sendiri, untuk memuaskan rasa ingin tahunya terhadap berbagai hal.
3. Dengan memberikan permainan yang edukatif sejak dini, untuk merangsang perkembangan penalaran, sikap, keterampilan motorik, dan kreativitas.
4. Dengan memberi pujian yang wajar terhadap setiap hasil karya anak. Pemberian pujian (apalagi penghargaan). Ini umumnya meningkatkan motivasinya untuk berkarya, atau berusaha lebih bagus lagi.
Sumber:
• Kumpulan Artikel Intisari Psikologi Anak, halaman 148, PT Gramedia, Jakarta.


7.10 Bagaimana Memiliki Prinsip Mengajar yang Alkitabiah
Buku psikologi pendidikan yang paling lengkap yang pernah ditulis adalah Alkitab. Memang Alkitab tidak dimaksudkan oleh Tuhan untuk menjadi textbook bagi para guru atau psikolog, namun melalui Firman- Nya, Allah telah mengungkapkan beratus-ratus prinsip yang sangat berguna untuk diaplikasikan dalam proses belajar mengajar. Berikut ini beberapa tips agar kita memiliki prinsip mengajar yang alkitabiah:
BAGAIMANA MEMILIKI PRINSIP MENGAJAR YANG ALKITABIAH
1. Pengajar haruslah seorang murid Firman Tuhan dan mencintai Firman Allah (Mazmur 119).
2. Pengajar harus mengusahakan keterbukaan dan kesiapan anak didik untuk menerima pesan kebenaran (Ibrani 4:12; 2Timotius 3:16-17).
3. Dalam proses belajar mengajar, beberapa cara mempelajari Alkitab yang cukup sistematis harus diperkenalkan kepada anak didik (Kisah Para Rasul 17:11).
4. Pengajar hanya bisa mengajarkan mengenai kehidupan sebagaimana kehidupan yang telah dijalaninya (1Korintus 3:16).
5. Keteladanan adalah dasar untuk mengkomunikasikan tentang kehidupan dan hubungannya dengan Alkitab (1Tesalonika 2:1-12;Ibrani 13:7).
6. Pengajaran harus dibangun atas dasar doa (Kolose 4:2-4).
7. Pengajar harus bisa merasakan diri sebagai "murid" seperti para peserta didiknya, dan terus berusaha merasakan kebutuhan mereka (Matius 9:36; Yohanes 10:3,27).
8. Pengajar harus hafal nama peserta didik satu-persatu agar bisa lebih mengenal dan memiliki hubungan dengan mereka (Yohanes 10:3,27).
9. Pengajar harus terbuka (transparan) dan siap menerima kritikan (2Korintus 4:7-18; 5:11-13).
10. Pengajaran adalah menyeluruh (holistik) dalam pendekatannya -- meliputi pikiran, perasaan, dan intuisi (jiwa) (Kolose 1:28; Ulangan 6:5).
Sumber:
• Michael J. Anthony Et Al., Foundations of Ministry, Artikel Principles of Teaching, halaman 100, Sp Publications Inc., Illinois, 1992.

7.11 Dasar-dasar Mengajar Anak Mengenal Yesus Kristus
Kenyataan bahwa seorang anak dapat menjadi bingung mengenai berita keselamatan yang mengherankan dalam Yesus Kristus, cenderung membuat seorang guru takut untuk melayani anak-anak. Nampaknya pekerjaan itu berbahaya, namun anak-anak dapat memahami arti kematian Kristus bagi mereka secara peribadi. Mereka tidak perlu bingung. Anak-anak dapat menerima Kristus sebagai Juruselamat bahkan dalam usia muda, dan selanjutnya tumbuh di dalam Dia sehingga menjadi orang-orang Kristen yang matang. Sering bukan berita keselamatan itu sendiri yang membingungkan anak kecil itu. Melainkan caranya berita itu disampaikan -- yaitu diutarakan dengan kata-kata, simbolisme dan pengalaman-pengalaman yang berada di luar pengalaman dan pengertian anak tsb. Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang melayani anak-anak untuk menolong mereka mengerti berita keselamatan itu?
Tidak ada rumusannya -- tidak ada kumpulan pertanyaan untuk diajukan, tidak ada ayat tertentu untuk digunakan, tidak ada tata cara yang harus diikuti oleh anak itu. Hanya beberapa pokok dasar yang harus disadari oleh guru agar supaya ia dapat berhasil menjangkau anak-anak untuk Kristus. Inilah beberapa diantaranya:
1. Guru harus mengetahui dengan jelas apa yang perlu diketahui oleh anak agar ia dapat mengerti arti kematian Kristus. Penjelasannya harus sederhana, namun lengkap. Pernyataan-pernyataan berikut ini dapat dipakai sebagai pedoman:
Allah mengasihi engkau.
Engkau telah berbuat dosa.
Kristus mati untuk menebus engkau dari dosa.
Engkau harus mengaku kepadaNya bahwa engkau adalah seorang berdosa dan memohon agar Ia mengampunimu.
Maka engkau menjadi anggota keluarga Allah dan memiliki hidup kekal.
2. Guru harus mengetahui ayat-ayat Kitab Suci yang akan menolong anak itu untuk mengerti sendiri apa yang diajarkan Alkitab. Ayat-ayat ini dapat dijadikan penuntun:
Yohanes 3:16
Yohanes 3:36
Roma 3:23
Roma 5:6
3. Guru harus mengulangi kebenaran-kebenaran berita keselamatan ini berulang-ulang kepada nak-anak, dengan kadang-kadang memberi tekanan pada satu segi, dan kadang-kadang pada segi lainnya dari kebernaran besar tentang kasih Allah itu. Hal ini berarti bahwa guru perlu menyediakan banyak waktu untuk menerangkannya kepada anak-anak, dan bukannya berusaha memasukkan semua kebenaran ke dalam satu cerita lalu mendesak anak itu mengambil keputusan untuk menerima Kristus.
4. Guru harus berhati-hati menjelaskan istilah-istilah yang ia pakai. Terlalu sering guru menganggap bahwa anak memahami istilah yang ia pakai. Anak itu sendiri mungkin menggunakan istilah itu, tanpa mengetahui artinya. Kita harus menolong anak tersebut untuk mengerti arti dari istilah-istilah seperti dosa, diselamatkan, pengampunan, hidup kekal dan percaya. Kadang-kadang penjelasan istilah-istilah ini dapat dijalin langsung di dalam pelajaran atau cerita Alkitab. Kadang-kadang pertanyaan-pertanyaan dapat diajukan untuk mengethui sampai di mana pengertian anak-anak.
5. Guru harus mengandalkan Roh Kudus. Jika Roh Kudus yang menginsafkannya, maka anak itu dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menerima Kristus. Jika keputusan anak itu diambil karena ia diinsafkan oleh manusia dan bukan oleh Roh Kudus, maka keputusan itu tidak akan sunguh-sungguh. Tentu saja keputusan semacam ini - yang hanya karena desakan -- barangkali merugikan kehidupan anak itu, karena kemudian ia bertanya-tanya bagaimana sebenarnya hubungannya dengan Tuhan. Ia mungkin tidak akan mengakui kebingungannya karena ia tahu orang lain menganggapnya seorang Kristen: tetapi ia hidup dalam keresahan dan ketidakpuasan.
6. Guru harus menerangkan berita keselamatan itu secara sederhana. Berita itu tidak boleh tersembunyi di dalam sekumpulan simbolisme. Apabila sebuah kata dipakai sebagai pengganti kata yang lain, seperti misalnya "jerat" dipakai untuk "dosa", maka berita sebenarnya dari Firman Allah itu tersembunyi. Guru harus menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini untuk membantu dalam pemilihan cerita atau pelajaran untuk anak-anak:
Apakah kata-kata itu mengandung arti sebenarnya?
Apakah cerita ini bebas dari ide-ide khayalan?
Berapa banyak dari cerita itu yang benar-benar kebenaran Firman Allah?
7. Guru harus menggunakan Alkitab untuk menyampaikan berita keselamatan itu kepada anak-anak. Yang membawa kebenaran tentang dosa dan keselamatan adalah Alkitab dan bukan cerita rekaan. Ada banyak, yang dinamakan cerita-cerita keselamatan, yang berisi ayat Kitas Suci di sana sini. Namun cerita-cerita ini tidak seefektif Firman Allah sendiri dalam mengajar anak-anak. Benar, bahwa anak-anak mungkin menanggapi cerita-cerita ini dengan menerima Kristus sebagai Juruselamatnya, tetapi juga benar bahwa banyak anak kemudian mempertanyakan tanggapan yang sudah mereka buat itu.
8. Cerita Alkitab lebih tepat dan lebih mudah dijelaskan daripada cerita-cerita khayalan, simbolis atau rekaan, yang begitu sering digunakan. Misalnya, jauh lebih mudah untuk menolong seorang anak mengerti tentang kebingungan Nikodemus mendengar perkataan Yesus, kamu harus "dilahirkan kembali" (Yohanes 3:3) daripada membantu dia mengerti bagaimana sepotong arang hitam melambangkan dosa.
9. Guru harus membiarkan anak-anak mengajukan pertanyaan. Di dalam sebuah kelas pratama, anak-anak telah mendengar cerita Nuh dan bahteranya dalam sebuah pelajaran. Pelajaran berikut adalah tentang Yunus dan Ikan yang besar. Waktu memulai pelajaran berikutnya lagi, guru berkomentar bahwa Allah telah bertindak keras terhadap orang- orang dalam dua pelajaran terakhir. Lalu guru bertanya, "Mengapa Allah menghukum orang-orang itu?" Anak-anak menjawab, "Karena dosa." Kemudian guru dan anak-anak membahas pertanyaan-pertanyaan seperti:
Apa itu dosa?
Dosa macam apa yang dilakukan anak-anak pratama?
Apa yang dapat kita lakukan tentang dosa kita?
Apa yang dibuat Allah tentang dosa kita?

Anak-anak mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti:
Mengapa orang-orang berbuat dosa?
Mengapa Allah tidak membunuh Iblis?
Bagaimana Allah dapat mengampuni dosa-dosa kita?
Apa yang harus kita katakan ketika kita berdoa?
Bagaimana saya dapat menjadi orang Kristen?
Apabila anak-anak diperkenankan bertanya, maka mereka menolong guru untuk mengetahui sampai dimana pengertian mereka tentang Alkitab. Juga mereka sering kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memberikan kesempatan luas untuk menerangkan tentang keselamatan. Dengan demikian berita itu tidak dipaksakan. Berita itu berkembang dengan sendirinya dari suatu pembicaraan dengan anak-anak. Setelah pembicaraan khusus seperti di atas, empat orang anak datang menemui guru dan bertanya tentang cara menjadi orang Kristen. Masing-masing datang secara pribadi. Seorang datang beberapa jam setelah pembicaraan itu selesai. Tidak ada paksaan. Guru dan anak-anak hanya berbicara tentang apa yang Allah firmankan mengenai dosa dan keselamatan, dan Roh Kudus bekerja melalui FirmanNya sendiri. Sebagai hasilnya, beberapa anak menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka.
10. Guru harus mengajar tentang kesucian Allah maupun keberdosaan manusia. Memang benar bahwa kita semua berdosa. Akan tetapi kalau hanya hal ini saja yang ditekankan, seorang anak mungkin menjalani hidupnya dengan rasa puas bahwa Allah mengampuni dosanya, tanpa menyadari bahwa Allah menharapkan agar dia hidup sesuai dengan ajaran Alkitab hari demi hari. Anak itu perlu diajar bahwa Allah itu suci dan bahwa Allah mengharapkan kepatuhan. Anak memerlukan petunjuk mengenai apa yang Allah harapkan, agar supaya ibadahnya dan kehidupannya dapat berjalan selaras.
Sumber:
• Marjorie Soderholm, Menerangkan Keselamatan kepada Anak-anak, halaman 11 - 15, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1972.

7.12 Membimbing Para Pelajar dalam Beribadah di Sekolah Minggu
Mengajak anak-anak untuk datang dan beribadah ke SM ternyata memerlukan campur tangan dan keterlibatan yang dalam dari guru-guru SM. Mereka tidak akan pernah mengerti mengapa mereka harus datang ke SM jika guru SM tidak pernah membimbing mereka mengenai hal tersebut. Bagaimana cara kita membimbing mereka? Sebelumnya, para guru harus mengetahui terlebih dahulu mengenai arti pentingnya ibadah SM itu sendiri. Setelah itu, barulah kita tularkan hal itu kepada anak-anak SM kita.
APAKAH IBADAH ITU?
Apa yang Saudara lakukan pada waktu Saudara beribadah? Apa yang dapat terjadi dengan Saudara ketika beribadah? Bagaimana Saudara mengetahui bahwa Saudara menjalankan ibadah?
Gagasan dasar tentang ibadah terkandung dalam arti kata itu sendiri. Ibadah berarti perbuatan, dan sebagainya untuk menyatakan bakti kepada Tuhan. Dan bakti ialah perbuatan yang menyatakan hormat, tunduk, kasih, setia, dan sebagainya. Wahyu 4:11 mengatakan, "Ya Tuhan, dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian, dan hormat dan kuasa; ..." Ibadah mencakup juga pengucapan syukur atas apa yang dilakukan Allah, kebaikan dan berkat-Nya; dan ibadah meliputi pujian karena sifat-sifat-Nya. Ibadah juga diuraikan sebagai:
• pertemuan pribadi dengan Allah,
• puncak pengalaman rohaniah,
• pengungkapan jiwa.
Beribadah kepada Allah menolong kita menggenapi rencana-Nya bagi kita. Kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya dan menikmati persekutuan dengan-Nya untuk selama-lamanya.
Ingat dan catatlah definisi ibadah ini di dalam catatan pribadi Anda:
• Ingin mengenal Allah lebih baik
• Menyadari kekudusan dan kebesaran-Nya
• Meminta Dia untuk membimbing kita
• Berdoa dan memuji Dia dengan sepenuh hati kita
• Mencari kehendak-Nya
• Menghormati nama-Nya
• Mentaati perintah-Nya
Ibadah adalah suatu pengalaman yang rapuh. Dengan mudah dapat rusak oleh gangguan. Masalah kedisiplinan dapat menghalangi semangat ibadah, demikian juga lingkungan yang kurang baik dan kurang cocok.
Ibadah lebih sering timbul karena melihat teladan orang daripada karena mendengar ajarannya. Karenanya, tingkah laku pemimpin sangat penting. Pemimpin yang tidak mempunyai persiapan dan kurangnya organisasi dapat menghalangi ibadah.
Ibadah yang tidak terjalin bersama pengajaran dapat menjadi tidak berarti juga. Kita melakukan kekeliruan yang menyedihkan bila menuangkan pengetahuan ke dalam benak si anak dan tidak memberikan sesuatu yang menarik hatinya.
KAPAN, DI MANA, DAN MENGAPA HARUS BERIBADAH
Kebaktian pagi atau petang hari tidak pernah dimaksudkan untuk mengajar anak-anak dan para remaja mengenai bagaimana beribadah atau mengikutsertakan mereka dalam pengalaman ibadah yang agak lama. Acara pembukaan Sekolah Minggu seringkali tidak memberikan kesempatan untuk ibadah yang berarti kepada anak-anak.
Kebaktian anak-anak menyediakan kesempatan yang baik untuk mendidik anak-anak beribadah. Akan tetapi, tidak semua anak menghadiri kebaktian tersebut. Ada keluarga yang tidak tinggal untuk ibadah pagi. Banyak gereja yang tidak mengadakan kebaktian anak-anak.
Pemecahan yang terbaik adalah menyediakan waktu untuk ibadah sebagai bagian dari jam pelajaran Sekolah Minggu. Dengan cara ini, ibadah dapat disesuaikan dengan keperluan dan kesanggupan tingkat umur anak. Seringkali, kebaktian ini sajalah yang dihadiri oleh kebanyakan pelajar itu. Itulah kesempatan mereka satu-satunya untuk mendapatkan pengalaman ibadah. Di Sekolah Minggu, pengalaman ibadah dapat didasarkan pada pelajaran yang diberikan. Seringkali, ada baiknya untuk menutup jam pelajaran Sekolah Minggu dengan memberi kesempatan beribadah. Dengan cara ini, maka kebaktian itu dapat berlandaskan kebenaran utama seperti pelajarannya sehingga "pengetahuan otak" dapat dijadikan "pengetahuan hati" dengan menanamkannya di dalam perasaan dan kehendak. Misalnya, pada saat pelajaran, kita mengajarkan rencana keselamatan sehingga seluruh kelas mengerti apa yang telah dilakukan Allah bagi mereka dan apa yang harus mereka kerjakan. Dalam kebaktian ibadah, mereka ditantang untuk membuat keputusan menerima keselamatan ini.
Tujuan untuk melibatkan para pelajar dalam ibadah di Sekolah Minggu ialah:
1. Mendidik mereka untuk beribadah.
Sedikit sekali anak-anak yang pernah diajar untuk beribadah. Ada yang telah mempelajari sikap badan ketika beribadah tanpa mengerti kuasa dan tujuan ibadah. Aktivitas ibadah menyediakan pendidikan ini. Di sini kita dapat membangun landasan bagi keikutsertaan yang lebih berarti dalam kebaktian ibadah yang lain.
2. Melibatkan para pelajar dalam perencanaan dan penyajian.
Ibadah bukan suatu cabang olahraga yang bisa ditonton. Apabila para pelajar diikutsertakan dalam ibadah, barulah mereka bisa menghargainya dengan sepenuhnya.
3. Menjadikan ibadah suatu pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat.
Para pelajar memerlukan pengalaman ibadah yang disesuaikan menurut kebutuhan, minat, dan kesanggupan tingkat usia mereka.
4. Menyediakan ajaran Alkitabiah tambahan.
Kebenaran-kebenaran yang diajarkan dalam kelas dapat ditekankan kembali dalam pengalaman ibadah. Ajaran Alkitab di Sekolah Minggu disesuaikan dengan tingkat usia pelajar, mengapa tidak membuat demikian juga dengan aktivitas ibadah kita? Dalam kebaktian ibadah yang disesuaikan dengan kebutuhan dan minat tingkat usia, maka pikiran para pelajar dapat diangkat sampai ke segi pandangan Allah, hati mereka dirayu untuk membalas kasih-Nya yang besar, dan kemauan mereka ditantang membuat keputusan untuk menerima Dia.
BAGAIMANA BERIBADAH
Setiap tingkatan umur memberikan kesempatan yang unik yang memimpin kepada ibadah.
1. Pra Sekolah
Kelas Bayi dan Kelas Kanak-kanak sangat peka terhadap suasana rohaniah. Mereka dapat dipimpin ke arah ibadah melalui perasaan kagum dan takjub. Manfaatkanlah pengalaman ibadah yang timbul dengan spontan. Rancangkanlah saat-saat ibadah yang singkat dan sering selama jam Sekolah Minggu atau jam kebaktian anak-anak.
2. Pratama dan Madya
Pikatlah hati anak-anak pratama melalui rasa terpesonanya dengan Allah, surga, dan kegemarannya akan hal-hal yang luar biasa. Anak-anak madya dapat dipikat melalui pendiriannya yang tinggi dan kegemarannya akan perbuatan kepahlawanan. Tolonglah mereka untuk mengerti bahwa Allah itu kudus, tetapi juga penuh kasih.
3. Remaja
Para remaja bergumul dengan masalah gambaran tentang dirinya sendiri dan soal penerimaan di kalangannya. Dalam ibadah, mereka dapat belajar bahwa Allah menerima mereka sebagaimana mereka adanya dan menghargai kasih dan ibadah mereka. Kaum muda yang lebih tua terlibat dalam membuat keputusan hidup yang penting. Mereka dapat dipimpin untuk menemukan kehendak Allah melalui pengalaman ibadah secara berkelompok atau secara perorangan.
UNSUR-UNSUR IBADAH
Ada empat unsur dasar yang terlibat dalam ibadah, yaitu nyanyian, doa, nas Alkitab, dan penatalayanan. Unsur-unsur ini perlu digabungkan di dalam suatu pengalaman ibadah yang memenuhi tiga patokan ini:
• program yang dipersatukan,
• program yang beraneka ragam,
• program yang disesuaikan dengan tingkat usia.
Langkah-langkah yang tercakup dalam membangun suatu kebaktian ibadah adalah:
1. Susunlah program itu di sekeliling suatu tema pokok.
2. Pilihlah satu tujuan yang menuntun ke klimaks perasaan dan keputusan.
3. Rencanakan untuk memenuhi keperluan dan minat khusus dari para peserta.
4. Pilihlah bahan yang disesuaikan dengan tiap tingkat umur.
5. Jalinlah pengajaran dan tanggapan kepada kebenaran.
6. Ciptakan suasana pengharapan.
7. Pakailah bahan yang sudah lazim dengan cara-cara yang beraneka ragam.
8. Pakailah sedikit-dikitnya satu unsur baru di dalam setiap kebaktian ibadah.
9. Rencanakan bersama dengan para pelajar, rencanakan untuk mengikutsertakan mereka.
10. Usahakan program itu agar luwes dan informal, tetapi teratur.
11. Bergantunglah kepada Roh Tuhan, mintalah pimpinan-Nya.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, halaman 390 - 292, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.

7.13 Mengelola Kelas Batita (Umur 2-3 Tahun)
Melayani anak usia Batita dapat menjadi tantangan tersendiri bagi Guru Sekolah Minggu. Berbeda dari kelompok umur lainnya, anak usia Batita belum bisa diatur sedemikian rupa untuk duduk tertib mengikuti ibadah, dan biasanya masih memerlukan pendampingan orang tua. Mengingat usianya yang masih sangat muda, anak Batita juga belum bisa dituntut untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
Oleh karena itu, Guru Sekolah Minggu harus mendesain kelas, bahan pengajaran, aktivitas, serta suasana kelas sedemikian rupa supaya tujuan dapat tercapai tanpa mengesampingkan kebutuhan dan keterbatasan anak pada usia tsb.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian Guru Sekolah Minggu dalam mengelola Kelas Batita antara lain:
1. Ruang Kelas dan Kelengkapannya

Pastikan ruang kelas cukup luas untuk menampung anak beserta dengan orang tua/pengantarnya. Pikirkan juga bagaimana pengaturan tempat duduk, biasanya yang lebih disukai adalah duduk di bawah dengan beralaskan tikar atau karpet. Baik pula bila disediakan tempat sampah, sapu, lap, dan tissue - untuk mengatasi bila ada makanan yang jatuh, air minum tumpah, anak mengompol, dsb. Pastikan bahwa semua benda atau peralatan di dalam ruang kelas "aman" untuk anak.
2. Guru yang Mengajar

Guru yang mengajar Kelas Batita tidak mungkin hanya seorang diri saja, jadi dibutuhkan beberapa orang guru yang bertugas mengawasi dan menjaga anak-anak selain guru yang bertugas memimpin pujian dan menyampaikan Firman Tuhan. Beberapa kriteria guru Kelas Batita, yaitu: sabar dan telaten, sayang kepada anak kecil, dan bersuara cukup keras serta jelas. Guru yang bertugas di Kelas Batita juga harus mengenakan pakaian yang membuatnya dapat bergerak bebas (melompat, berlari, mengangkat tangan, kaki, dsb).
3. Aktivitas untuk Anak

Anak usia Batita tidak dapat duduk menunggu dengan tenang, karena itu sediakan beberapa permainan untuk mengisi waktu bagi anak yang datang lebih awal dan pastikan ada guru yang mendampingi sehingga tidak terjadi perebutan permainan oleh anak. Seusai Firman Tuhan, biasanya juga diberikan aktivitas agar anak dapat mengingat dan mengulang kembali pesan Firman Tuhan yang telah disampaikan. Ada baiknya setiap anak diberi sebuah buku aktivitas (sebuah buku gambar kosong atau buku khusus yang telah disiapkan "isi"nya untuk 1 tahun pelajaran) yang harus dibawanya setiap kali ke Sekolah Minggu.
4. Saat Memimpin Pujian

Pilihlah lagu-lagu yang sesuai dengan usia batita, yaitu yang menggunakan kata-kata sederhana, seperti "Si Semut", "Kingkong", Kambing Embek-embek" dsb. Usahakan menyanyikan lagu dengan berbagai gerakan, selain hal tsb dapat memenuhi kebutuhan fisik anak untuk selalu bergerak, anak juga dapat lebih mudah mengingat syair lagu tsb. Guru yang memimpin harus menguasai lagu dengan baik, bersuara cukup keras, dan dapat menyanyi dengan benar. Bila memungkinkan sebaiknya ada guru yang dapat memainkan alat musik untuk membantu mengiringi anak-anak menyanyi.
5. Saat Menyampaikan Firman Tuhan

Anak usia Batita tidak dapat konsentrasi cukup lama untuk memperhatikan suatu hal, karena itu teknik penyampaikan Firman Tuhan haruslah bervariasi dan menarik agar anak tidak bosan. Teknik bercerita bisa saja digunakan, tapi untuk anak di bawah tiga tahun sebenarnya masih terlalu sulit untuk membayangkan cerita lisan tanpa dibantu alat peraga. Usahakan menyampaikan Firman Tuhan dengan merangsang penggunaan sebanyak mungkin panca indera anak, bahkan bila memungkinkan dengan melibatkan anak dalam cerita. Misalnya: saat menyampaikan kisah "Perjamuan di Kana" ajaklah anak mencicipi air putih dan air anggur (menggunakan sirup anggur), saat menyampaikan kisah "Tembok Yerikho" dengan melibatkan anak sebagai orang Israel yang berjalan mengelilingi tembok dan ada yang meniup terompet, saat menyampaikan kisah "Daud dan Goliat" dengan bermain peran/drama.
6. Mengenai Orangtua/Pengantar Anak

Salah satu keunikan mengajar di Kelas Batita adalah kehadiran orang dewasa, sehingga Guru Sekolah Minggu perlu juga memikirkan bagaimana dapat melayani mereka, khususnya yang belum mengenal Tuhan. Kerjasama yang baik antara Guru dan para orang tua/ pengantar dapat membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Misalnya: melibatkan orang tua/pengantar saat menyampaikan Firman Tuhan, atau dengan menerbitkan buletin Panduan Bahan Pengajaran Sekolah Minggu untuk diberikan pada orang tua/pengantar yang dilengkapi dengan berbagai petunjuk praktis bagaimana menindaklanjuti Firman Tuhan yang telah disampaikan di Sekolah Minggu dalam kehidupan sehari-hari anak.
7.14 Guru Anak Balita/Indria (Umur 4-5 Tahun)
Bagaimanakah anak menilai anda sebagai seorang guru Sekolah Minggu? Anda dilihat sebagai seorang guru yang galak, selalu menyuruh anak-anak duduk diam dan mendengarkan? Atau sebagai seorang yang selalu melarang mereka melakukan hal-hal yang mereka senangi? Atau sebaliknya, anak-anak menilai anda sebagai seorang guru yang gembira, bersahabat dan pandai bercanda?
Mungkin anak Balita tidak peduli berapa rajin anda ke gereja. Mereka juga tidak mampu menilai kesetiaan serta komitmen anda sebagaimana orang dewasa menilai. Tetapi, bukan berarti mereka tidak pernah menilai anda? Apakah anda ingin tahu bagaimana anak menilai anda?
1. Sikap anda terhadap Allah.
Mereka menilai anda dari cara anda berbicara tentang Allah. Mereka juga memperhatikan wajah anda dan menangkap perasaan anda ketika anda bercerita tentang Allah. Walaupun mereka tidak selalu mengerti semua perkataan anda, namun mereka melihatnya dari sikap anda. Jika mereka melihat hal ini sebagai hal yang positif, maka anda akan menjadi teladan baginya dalam hal mengasihi Tuhan.
2. Sikap anda terhadap anak.
Hal ini dilihat mereka sebagai hal yang penting. Cara guru berkata-kata dan bersikap terhadap mereka sangat mereka perhatikan. Guru yang menaruh perhatian kepada mereka sebagai individu dan mau memperlakukan mereka sebagai pribadi yang berharga akan dilihat sebagai sikap kasih yang tulus. Dan mereka akan cepat merasa dekat dengan guru-guru yang demikian.
3. Sikap anda terhadap orang dewasa lain.
Anak-anak diam-diam memperhatikan cara anda berhubungan dengan guru-guru Sekolah Minggu lainnya. Secara khusus mereka juga melihat bagaimana anda berbicara dengan orang tua mereka. Jika anda bersikap baik dan orang tuanya menerima anda dengan baik, maka telah anda dinilai positif dan anak akan menghormati anda.
4. Sikap anda terhadap hidup.
Seorang guru yang murah senyum dan selalu tampak gembira paling disukai anak balita, karena anak menilainya sebagai seorang yang bersahabat dan mudah diajak berteman. Hal ini mungkin sejalan dengan dunia dan hidup mereka yang masih sederhana, penuh harapan, permainan dan kegembiraan.
Sumber:
• Doris Blattner, Bagaimana Mengajar Anak Indria, halaman 9 - 11, Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 1986.


7.15 Bagaimana Mengajar Anak Pratama (Umur 6-8 Tahun)?

Anak-anak pada umur 6-8 tahun (masa Pratama) sangat senang belajar melalui pengalaman-pengalaman mereka secara nyata daripada melalui kata-kata. Untuk itu sangat penting bagi kita untuk mengajar mereka dengan menggunakan alat peraga seperti gambar-gambar, drama, slide dan sebagainya. Seorang anak akan belajar lebih banyak melalui alat peraga daripada hanya melalui kata-kata saja.
Anak-anak pada umur 6-8 tahun sangat senang sekali akan cerita, sehingga ini merupakan kesempatan yang baik untuk menceritakan kisah-kisah Alkitab kepada mereka, di mana Alkitab memiliki banyak kisah menarik untuk disampaikan pada mereka. Hanya saja anda harus jelas memberi pemahaman kepada mereka bahwa kisah yang ada dalam Alkitab benar-benar terjadi. Oleh karena itu jangan mencampur-adukkan dengan cerita khayalan supaya anak-anak tidak bingung. Apabila ada cerita yang tidak seperti biasanya, seorang anak dengan cerdik akan bertanya, "Benarkah ini dari Alkitab?" Demikian pula saat menceritakan kisah Alkitab jangan dulu menggunakan kata-kata simbolis, seperti "Terang Dunia", "Batu Penjuru" dsb. karena pada umur ini mereka belum bisa memahaminya.
Anak-anak Pratama sudah siap menerima semua dasar-dasar kebenaran dari Alkitab. Untuk itu berikan kebenaran Alkitab sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak dan hubungkan dengan kehidupan mereka sendiri secara nyata. Ketika mereka merasa bersalah, kesepian atau frustasi, mereka perlu memahami dan merasakan bantuan Tuhan pada diri mereka. Demikian pula saat mereka gembira dan senang hubungkan segala kegembiraan dan kebaikan di dunia ini dengan Tuhan.
Pada umur sekian mereka belum dapat memahami Tuhan Allah dalam bentuk Roh. Namun mereka dapat merasakan keberadaan Tuhan melalui kasih, kebaikan, kehangatan, perhatian, dan perlindungan Guru Sekolah Minggu pada mereka. Namun demikian mereka sudah siap menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya. Mereka juga mulai memahami bahwa mereka memiliki tanggung jawab pribadi terhadap Tuhan. Mereka dapat merasa aman dalam Kasih dan pengampunan Tuhan.
Bagaimana kita mengajar mereka? Supaya mereka dapat menggunakan kemampuan terbaiknya untuk belajar, kita dapat menggunakan teknik bercerita karena pada umur sekian mereka menyukai cerita. Kita juga dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan dalam usaha mengetahui seberapa dalam pemahaman mereka akan cerita dan penerapan mereka dalam kehidupan secara nyata. Kita dapat juga meminta mereka untuk mengekspresikan diri mereka melalui kegiatan drama, tugas-tugas, seni, dan tulis-menulis. Kita juga dapat meminta mereka dalam permainan kelompok karena pada umur ini mereka sudah mulai bekerjasama dengan orang lain.
Ingatlah bahwa anak-anak memasuki pengalaman belajar sebagai pribadi secara utuh. Dan buatlah beberapa aktivitas yang menggunakan kemampuan mereka untuk melihat, mendengarkan, merasakan, mencium dan beberapa aktivitas lain melibatkan gerak seluruh tubuh, berfikir secara kreatif dan pengendalian otot-otot kecil. Dan buatlah variasi kegiatan yang dapat melibatkan seluruh indera perasanya dan dapat melatih otot-otot mereka.
Sumber:
• Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck, Childhood Education in the Church, Artikel Understanding First and Second Grades (Primaries) oleh Elisabeth McDaniel, halaman 130 - 132, Moody Press, Chicago, 1986.


7.16 Bagaimana Menghadapi Anak Tunas Remaja?
Jika ada anak-anak Tunas Remaja yang membandel dan mencoba untuk merongrong wibawa Anda sebagai guru Sekolah Minggu, apa yang harus anda lakukan? Ikutilah contoh kasus di bawah ini:
1. Seorang anak laki-laki pada Kelas Tunas Remaja sedang duduk sambil menaikkan kakinya di atas kursi di depannya. Guru meminta dia untuk menurunkan kakinya. Mungkin anak tersebut tidak mendengarnya karena dia tidak melakukan perintah gurunya. Tetapi murid-murid lain mendengar perintah itu dan melihat kepada anak laki-laki tersebut. Guru berkata lagi, "Turunkan kakimu ke lantai!" Tetapi kaki anak laki-laki ini tetap di atas kursi. Guru melanjutkan pelajarannya, dan anak laki-laki ini merasa menang. Guru ini melanjutkan mengajar kelas ini sampai bulan berikutnya, lalu dia meletakkan jabatannya dan merasa bahwa ia tidak berhasil mengajar.
2. Kemudian Pendeta menggantikan tugasnya sampai ada guru baru yang mengajar kelas Tunas Remaja ini. Ia belum mengetahui peristiwa yang menyebabkan guru tersebut berhenti, sehingga ia memasuki kelas tanpa prasangka apapun. Anak-laki-laki inipun tidak tahu hal ini sehingga ketika Pendeta masuk dia menyimpulkan, "Mereka telah mengirimkan Pendeta untuk menundukkan saya. Baik akan saya tunjukkan kepadanya." Ia mengajak anak laki-laki lain untuk mengikuti perlawanannya. Banyak kaki dinaikkan di atas kursi, tetapi Pendeta ini tidak menghiraukan tindakan ini. Minggu berikutnya dia menceritakan percakapannya dengan seorang dokter yang menegaskan bahwa sikap duduk yang jelek akan mempengaruhi bentuk tubuh dan menyebabkan banyak kelemahan tubuh. Lalu ia menceritakan tentang beberapa orang yang sempurna sikap duduknya. Karena cerita Pendeta ini, maka turunlah semua kaki dari atas kursi.
Bagaimana keinginan untuk bebas pada anak-anak Tunas Remaja ini dapat dibimbing ke arah yang baik? Tunjukkan pada mereka bahwa ada semacam kebebasan yang benar dan baik, yang hanya dapat dijalankan oleh orang dewasa. Kebebasan yang sungguh dan tidak bergantung pada orang lain, yaitu kebebasan yang berhubungan dengan prinsip dan pendirian. Berusahalah supaya mereka menyadari bahwa taat pada segala peraturan yang sah merupakan sifat baik yang dapat dibanggakan. Ajarlah mereka menggunakan akalnya, karena mereka bisa mengerti alasan-alasan yang masuk akal. Ia senang apabila alasan-alasan demikian diberikan kepadanya.
Tunjukkanlah keteladanan Yesus pada saat Yesus berumur 12 tahun. Saat itu Yesus dan orangtuanya pergi menghadiri perayaan Paskah di Yerusalem, dan Yesus tertinggal di Bait Allah. Di Bait Allah ini Dia berdiskusi dengan para alim ulama. Dan pada saat orangtuanya datang, Tuhan Yesus tetap taat dan mau pulang bersama orangtuanya serta tinggal dalam asuhan mereka. Sebagaimana yang tertulis dalam Lukas 2:51, "Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret, dan Ia tetap dalam asuhan mereka."
Sumber:
• Myer Pearlman, Penyelidikan Anak, halaman 70 - 72, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.

7.17 Penggunaan Metode Mengajar yang Berbeda
Metode mengajar adalah teknik guru dalam menyalurkan informasi kepada ASM. Karena minat, taraf intelegensi dan daya perhatian dari setiap kelas berbeda, maka GSM harus dapat menggunakan metode mengajar yang berbeda dengan bijaksana. Kali ini akan diperkenalkan tujuh macam metode mengajar, untuk menolong GSM mengajar dengan suasana yang lebih menyegarkan dan efektif.

1. Metode Tanya Jawab (Question & Answer)

Adapun bentuk tanya jawab dapat dibagi ke dalam empat jenis:
1. Pertanyaan yang bersifat mencari informasi (Informational questions).
2. Pertanyaan tertutup (Close-ended questions), yaitu pertanyaan yang tidak perlu dipertimbangkan apakah harus dijawab dengan jawaban yang penjang lebar atau yang singkat. Hanya perlu dijawab dengan betul atau salah.
3. Pertanyaan yang menuntut pemikiran (Three dimensional questions), yaitu pertanyaan yang bukan hanya menuntut fakta, melainkan selangkah lebih maju untuk menunjuk sebab, arti, dan perasaan.
4. Pertanyaan terbuka (Open-ended questions), dimana murid sendiri mengalami hal tersebut, dan menjawab pertanyaan sesuai dengan kebenaran yang diterima mereka secara pribadi.
Adapun prinsip-prinsip dalam mengajukan pertanyaan adalah sebagai berikut:
• Pertanyaan harus jelas, singkat, dan sesuai dengan tingkat penerimaan murid.
• Jangan terlalu banyak mengajukan pertanyaan betul salah.
• Terlebih dahulu ajukan pertanyaan kepada semua murid. Baru kemudian sebutkan nama salah seorang murid untuk menjawab, tetapi jangan memanggil secara berurutan.
• Tentu saja boleh memberi kebebasan kepada murid untuk menjawab pertanyaan, tetapi perhatikanlah jangan sampai sebagian orang terus-menerus menjawab pertanyaan. Sebaiknya berikan kesempatan pada setiap murid untuk berpartisipasi.
• Setelah bertanya, berikan waktu yang cukup untuk berpikir. Guru jangan terburu-buru memberikan jawaban.
• Jikalau jawaban murid salah, jangan ditegur atau ditertawakan. Sedapat mungkin pujilah kelebihannya dan perbaiki kesalahannya dengan cara yang bijaksana.
• Jikalau murid tidak dapat menjawab pertanyaan yang telah diajukan, jangan menunggu terlalu lama. Undang murid lain untuk menjawab.
• Jangan menambahkan pertanyaan lain dalam pertanyaan yang kita ajukan.
• Dapat menjelaskan pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lain.
• Pertanyaan harus dipersiapkan terlebih dahulu. Untuk memberikan pertanyaan yang baik, perlu menyediakan waktu untuk mempersiapkannya.
2. Metode Diskusi (Discussion)

Guru mengajukan pertanyaan yang bersifat merangsang, yang dapat membangkitkan minat murid untuk berpartisipasi dalam diskusi yang positif. Bentukya antara lain:
1. Studi Kasus (Case Study)
Studi kasus dapat diutarakan dengan bentuk yang berbeda-beda. Uraikan secara terinci keadaan yang terdapat dalam sebuah kasus, agar murid dapat mencari cara penyelesaian yang mungkin dapat dipakai. Contoh-contoh bentuk studi kasus yang berbeda seperti berikut: utarakan sebuah cerita yang belum selesai; mengutip laporan surat kabar, mengajukan suatu masalah kejiwaan; utarakan dengan gambar untuk merangsang murid berdiskusi; atau memakai riwayat hidup para tokoh, laporan sejarah, catatan statistik, dan sebagainya.
2. Debat (Debate)
Dua orang atau dua kelompok murid memperdebatkan satu masalah dari segi pro dan kontranya. Dari proses perdebatan itu, murid dapat memahami pandangan-pandangan yang timbul dari konsep- konsep yang berbeda. Mereka yang ikut serta dalam perdebatan haruslah mempunyai pengenalan yang cukup dan persiapan yang mantap tentang soal yang didiskusikan.
3. Metode-metode diskusi lainnya yang terdapat dalam buku ini adalah:
- Penyelesaian/pemecahan masalah (Problem Solving)
- Pengumpulan gagasan secara mendadak (Brainstorming)
- Kelompok berbincang-bincang (Buzz Group/Two by Two)
3. Metode Drama

Bentuknya antara lain:
1. Peragaan Gambar (Picture Posing)
Metode ini cocok untuk anak-anak yang usianya agak kecil. Urutannya adalah sebagai berikut:
- Pilihlah sebuah gambar yang berkaitan dengan isi pelajaran.
- Mendiskusikan inti pelajaran tersebut.
- Menirukan sikap dari tokoh yang terdapat dalam gambar.
- Menghafal ayat Alkitab atau mengajukan pertanyaan.
2. Monolog
Mintalah seorang murid untuk mempersiapkan dengan baik dan memerankan diri sebagai salah seorang tokoh Alkitab/tokoh cerita. Lalu dengan memakai kata ganti orang pertama mengisahkan riwayat hidup, perasaan atau pun konsep terhadap pengalaman tertentu dan lain-lain.
3. Metode-metode drama lainnya yang terdapat dalam buku ini adalah:
- Pantomim (Pantomime)
- Drama (Formal Dramatization)
- Peragaan peran (Role Playing)
4. Metode Ceramah (Lecture)

Melalui ceramah GSM menyampaikan satu pokok pelajaran kepada murid secara teratur dan sistematis dalam bentuk pidato. Hal-hal penting yang harus diperhatikan antara lain ialah:
1. Sasaran dari pokok pelajaran harus jelas.
2. Kumpulkan bahan-bahan yang cukup.
3. Berusahalah untuk menggunakan istilah-istilah yang sederhana.
4. Jangan memakai suara yang datar (monoton), perhatikan kecepatan tinggi dan rendahnya nada suara kita.
5. Ingatlah bahwa isi ceramah harus teratur dan sistematis supaya pendengarnya mudah mengerti dan mengingatnya.
6. Jangan menggunakan pembagian yang terlalu banyak.
7. Ulangilah bagian depan untuk membawa mereka masuk ke bagian berikutnya. Jangan sampai masing-masing bagian terlepas dari konteksnya.
5. Metode Kelompok Pendengar (Listening Teams)

Guru membacakan sebuah laporan atau naskah dengan membagi murid menjadi dua atau beberapa kelompok. Mintalah setiap kelompok menyimak butir-butir penting yang telah ditentukan (misalnya kelompok pertama memperhatikan hal yang positif, sedangkan kelompok dua memperhatikan hal yang negatif). Kemudian setiap kelompok harus kembali memberikan laporan kepada guru dan teman- teman sekelasnya. Setelah itu baru mengadakan diskusi

6. Metode Simposium (Symposium)

Simposium adalah serangkaian ceramah pendek yang disampaikan oleh sekelompok kecil orang kepada seluruh murid. Boleh mengundang para ahli sebagai pembicara, atau meminta murid untuk mempersiapkan terlebih dahulu bagan-bagan yang berbeda. Kemudian mereka masing-masing menyampaikan segi-segi dan konsep-konsep di bawah pimpinan seorang pemimpin.

7. Metode Peninjauan ke Lapangan (Field Survey)

Maksudnya adalah mengadakan survey, mencari informasi bersama- sama dengan teman-teman sekelas secara terpimpin dan terarah, untuk memperoleh bahan dan pengalaman yang orisinal. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Mengatur dan menghubungi terlebih dahulu, mempersiapkan transportasi dan penanggung jawabnya.
2. Berilah petunjuk kepada murid mengenai hal-hal dan bagian- bagian penting yang perlu diteliti.
3. Membuat laporan tentang hal-hal yang telah didengar, dilihat dan dipelajari mereka, sewaktu mengadakan penelitian di lapangan.
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, halaman 95 - 102, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.

7.18 Tujuan Mengajar
Kamus mendefisinikan tujuan sebagai berikut, "Aktivitas yang diarahkan dengan teratur menuju pencapaian sesuatu tujuan". Dalam pengajaran SM, tujuan pelajaran itu merupakan suatu pernyataan tentang apa yang diharapkan oleh guru agar terjadi sebagai akibat dari mengajarkan ajaran tersebut. Tujuan dapat dinyatakan sebagai suatu pernyataan yang langsung, misalnya, "Menolong setiap pelajar agar menemukan dalam hal-hal apa ia membatasi Kristus, dan menolong masing-masing untuk mulai percaya Tuhan dalam hal-hal tersebut". Atau tujuannya dapat dinyatakan dalam bentuk sebuah pertanyaan yang mungkin diajukan pada pelajar sehubungan dengan pelajarannya, misalnya, "Dalam hal-hal apakah saya membatasi Kristus? Bagaimanakah saya bisa mulai percaya Tuhan dalam hal-hal tersebut?"
JENIS-JENIS TUJUAN MENGAJAR
Tujuan Pertama:
Tujuan utama pengajaran SM ialah agar murid-murid kita bertumbuh menjadi dewasa dalam Kristus.
Tujuan Triwulan dan Unit:
Pentinglah bahwa setiap guru menyusun suatu tujuan untuk seluruh rangkaian pelajaran dalam satu triwulan. Hal ini akan menolongnya untuk melihat bagaimana setiap pelajaran merupakan bagian dari suatu keseluruhan. Kemudian, tujuan triwulan itu dapat dibagi dalam beberapa tujuan unit yang meliputi dua atau lebih pelajaran yang berpadanan.
Tujuan Pelajaran:
Tiap-tiap tujuan pelajaran merupakan langkah-langkah langsung yang diambil untuk mencapai tujuan unit dan tujuan triwulan.
Para pendidik sering kali berbicara tentang tiga macam tujuan pelajaran:
1. tujuan pengetahuan,
2. tujuan sikap, dan
3. tujuan tingkah laku.
Suatu tujuan pelajaran yang baik harus mencakup ketiganya, meskipun salah satu dapat diberi tekanan khusus. Jika tujuan keseluruhan kita adalah bertumbuh menuju kedewasaan dalam Kristus, maka mengajar dengan tujuan pengetahuan saja tidak akan mencapainya, demikian juga halnya bila tujuan kita hanya berpusatkan sikap atau inspirasi belaka. Bila hendak mengajar untuk mengakibatkan pertumbuhan, maka kita harus mengajar agar mendapat tanggapan kelakuan. Mengetahui dan merasa adalah bagian dari tanggapan melakukan. Tanggapan itu biasanya didahului suatu perubahan dalam pengetahuan dan sikap. Yang perlu ditekankan di SM ialah mengajar untuk mengakibatkan perubahan dalam kelakuan dan tindak tanduk.
PERLUNYA TUJUAN PELAJARAAN
Sifat belajar sendiri menyebabkan tujuan pengajaran sangat diperlukan. Biasanya belajar bukan suatu aktivitas yang dilakukan untuk sekedar belajar saja. Belajar merupakan ikhtiar untuk mencapai suatu tujuan yang tertentu. Misalnya, seorang remaja yang belajar mengemudikan sepeda motor. Dia tidak mempelajari pedoman "Peraturan Lalu Lintas" hanya supaya dia dapat mengatakan telah menguasai isinya. Dia tidak menempuh ujian pengemudi supaya dia dapat mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia telah lulus ujian. Dia melakukan itu agar dapat memperoleh SIM-nya dan mulai mengemudikan sepeda motor di jalan raya. Belajar mengemudi hanyalah suatu cara menuju ke suatu tujuan.
Demikian pun pendidikan Kristen merupakan ikhtiar untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan akhirnya ialah kedewasaan di dalam Kristus. Tiap pelajaran merupakan selangkah menuju jurusan tersebut; suatu perubahan, suatu tanggapan yang membawa si pelajar lebih dekat kepada kesesuaian dengan Kistus.
Jika memang demikian halnya, maka sebelum guru dapat membuat rencana agar murid-murid memahami pelajarannya, dia harus tahu betul-betul apakah tujuan yang hendak dicapainya. Guru harus memutuskan kemana tujuannya sebelum dia membuat rencana bagaimana dia dapat sampai di sana. Makin jelas tujuannya makin mudahlah membuat rencana untuk mencapainya.
Kita dapat melihat lebih jelas betapa perlunya tujuan apabila kita menilik beberapa akibat yang timbul karena adanya tujuan pelajaran. Tanpa tujuan mungkin seorang guru akan mencoba menguraikan terlalu banyak bahan. Ajaran yang tidak bertujuan cenderung akan melantur. Ajaran yang tidak bertujuan sering kali tidak berkaitan dengan kebutuhan hidup si pelajar. Apabila guru tidak memusatkan usahanya untuk mendapat tanggapan, biasanya ajaran yang tidak bertujuan itu tak akan mengakibatkan banyak perubahan.
MAKSUD DAN TUJUAN PELAJARAN
1. Memberi arah kepada proses mengajar/belajar dengan memusatkan perhatian kepada tanggapan yang diinginkan.
2. Memberi pedoman untuk urutan aktivitas kelas dan menjamin kelangsungan dan ketertiban sementara menuju ke tujuannya.
3. Membantu sebagai penuntun ketika memilih cara-cara mengajar dan bahannya. Beberapa bagian pelajaran dapat ditiadakan, sedangkan beberapa bagian diuraikan dengan lengkap. Semua keputusan itu dibuat berdasarkan tujuan pelajaran itu.
4. Berguna sebagai dasar evaluasi. Apakah cara-cara yang kita pakai ini menolong kita mencapai sasaran kita? Apakah kita memakai bahan yang tepat? Apakah kita melihat perubahan dalam diri anak didik kita? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab dengan pertolongan tujuan itu. Juga tercapainya tujuan-tujuan yang dinyatakan itu mendatangkan perasaan puas baik bagi guru maupun murid.
Sebagai kesimpulan kita dapat mengatakan bahwa tujuan pelajaran merupakan faktor pengontrol yang utama dalam proses mengajar dan belajar.
SIFAT-SIFAT TUJUAN PELAJARAN YANG BAIK
Tujuan pelajaran yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Harus cukup ringkas sehingga dapat dituliskan. Belumlah cukup bila mempunyai tujuan di dalam pikiran Saudara saja. Saudara harus dapat menuliskannya dengan singkat dan jelas. Dengan demikian barulah tujuan itu dapat menuntun pengembangan pelajaran Saudara.
2. Harus cukup khusus agar dapat dicapai. Kebanyakan tujuan pelajaran terlalu umum dan luas. Tujuan pelajaran itu hendaknya menyarankan bidang-bidang tertentu dalam kehidupan pelajar di mana prinsip Alkitabiah dapat dipraktikkan. Tanggapan yang dikehendaki haruslah cukup luwes sehingga dapat dicapai oleh si pelajar.
3. Harus cukup luwes sehingga dapat diterapkan secara pribadi. Memang mungkin untuk menjadikan sebuah tujuan pelajaran terlalu khusus. Tidak ada seorang guru pun yang mengetahui semua bidang kebutuhan dalam kehidupan muridnya. Karena itu tujuan pelajaran haruslah cukup luwes sehingga Roh Kudus diberi kesempatan untuk memimpin setiap pelajar kepada tanggapan unik yang dikehendaki- Nya bagi pelajar itu.
MEMILIH TUJUAN MENGAJAR
Memilih tujuan pelajaran sering kali merupakan bagian yang tersukar namun yang terpenting ketika merencanakan pelajaran. Dua faktor harus dipertimbangkan bila memilih tujuan pelajaran:
1. Tujuan itu harus timbul dari arti yang terkandung dalam nats Alkitab. Memberi tafsiran yang sebenarnya tidak dimaksud oleh nats Alkitab itu sama sekali tidak dapat dibenarkan. Tujuannya harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang baik dalam penafsiran dan penelaahan Alkitab.
2. Tujuannya harus berhubungan dengan kebutuhan anggota kelas. Tentunya ini berarti bahwa guru harus mengetahui kebutuhan para pelajar.
Setelah guru mengerti di mana prinsip-prinsip Alkitab menyentuh kebutuhan hidup para pelajar, maka ia sudah dapat menyusun tujuan pelajarannya.
Biasanya buku-buku kurikulum memberikan tujuan untuk setiap pelajaran. Tetapi tidak ada seorang penulis pun yang dapat menyusun tujuan pelajaran yang akan memenuhi kebutuhan setiap kelompok yang memakai bahannya. Biasanya guru merumuskan kembali tujuan itu agar sesuai dengan kebutuhan khusus dari murid-muridnya.
Bagilah semua staf menurut tingkat-tingkat usia yang diajarinya. Suruh masing-masing kelompok melatih untuk merumuskan tujuan pelajaran untuk minggu depan. Kemudian, para guru memberikan penilaian terhadap hasil masing-masing perumusan berdasarkan sifat- sifat tujuan pelajaran yang baik yang diuraikan dalam rapat ini. Tujuan pelajaran yang disetujui oleh tiap kelompok tertentu mungkin akan berbeda dengan hasil perumusan masing-masing guru. Hal ini disebabkan karena tiap-tiap kelas mempunyai kebutuhan yang berbeda- beda.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, halaman 362 - 364, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.

7.19 Mengajar dengan Kata
Dalam proses belajar mengajar, mengulang pelajaran dengan menggunakan kata-kata sendiri akan memperkuat hasil belajar. Jika seorang anak kurang mengerti pelajarannya sehingga tidak mampu mengatakannya dengan kata-katanya sendiri, maka diragukan apakah dia mengerti dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru SM agar kata-kata yang disampaikannya dalam mengajar dapat dimengerti dan menjadi berkat bagi setiap murid.
MENGAJAR DENGAN KATA
MENGEMBANGKAN PEMAKAIAN KATA-KATA
Beberapa hal dapat menolong kita memakai kata-kata dengan sebaik- baiknya:
1. Murid-murid harus mengerti kata-kata itu.
Kata-kata yang melampaui pengertian mereka tidak akan mempunyai arti. Kata-kata baru harus diterangkan dengan seksama.
2. Kata-kata itu harus menarik.
Hanya dengan cara demikian kata-kata yang diucapkan itu akan membangkitkan dan memikat perhatian.
3. Nada suara guru.
Efek nada suara pada pendengaran dan hal belajar mungkin lebih besar daripada yang kita sadari. Berusahalah selalu untuk memakai suara yang menyenangkan dan mengubah nada suara sesuai dengan jalan cerita.
4. Kurangi suara atau bunyi lain.
Suara dari luar atau hal bicara atau pergerakan dalam ruangan akan mengurangi pengaruh kata-kata guru. Murid tidak mendapat manfaat dari apa yang tidak mereka dengar.
MENOLONG MURID MENGATAKAN PELAJARANNYA
1. Pengucapan Pelajaran
Mengucapkan sebuah ayat hafalan membantu untuk mengingatnya. Namun demikian, pengucapan pelajaran bukan saja terdiri dari menyebut ayat atau bagian pelajaran di luar kepala kata demi kata. Memberikan arti suatu bagian sesuai dengan pengertian murid itu juga termasuk pengucapan pelajaran. Dia dapat memperoleh keterangan dari pekerjaan rumah atau dari penjelasan di kelas.
2. Pertanyaan
Menjawab pertanyaan-pertanyaan, terutama pertanyaan "pikiran," menolong murid untuk mengatakan apa yang telah dipelajari atau apa artinya bagi dirinya. Ketika Yesus menanyakan, "Menurut kamu siapakah Aku ini?" hal itu membuat murid-murid-Nya berpikir. Dan dari pertanyaan itu kita mendapat jawaban Petrus yang indah, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup."
3. Penugasan
Berilah tugas untuk Minggu berikutnya. Jangan lupa untuk menanyakan tugas tersebut, sehingga para murid dapat melaporkan apa yang telah mereka pelajari. Misalnya, "Minggu yang akan datang kita akan belajar tentang Yesus, Gembala yang baik. Tugasmu adalah membawa keterangan mengenai domba, baik dewasa ini maupun pada masa Alkitab."
4. Kesaksian
Kesaksian singkat akan memberikan kesempatan kepada murid untuk menyatakan dengan kata-katanya sendiri apa yang telah dilakukan Allah dalam kehidupannya.
5. Pembahasan
Pembahasan akan terjadi apabila sekelompok orang dengan pikiran terbuka bertukar ide, pengetahuan, dan pendapat. Pembahasan akan dibimbing oleh guru dan diarahkan kepada keputusan atau kesimpulan tertentu. Sebuah pembahasan yang baik akan meliputi lebih dari 2 aatau 3 orang dan tidak boleh berakhir dengan perdebatan antara dua belah pihak. Guru tidak boleh membiarkan pembahasan itu menyimpang dari pokok pembicaraannya; ia akan mengawasi lama waktunya; dan meringkaskan kesimpulan yang dicapai. Pembahasan yang direncanakan dan diarahkan dengan baik akan memberi kesempatan yang baik bagi murid-murid untuk mengutarakan pendapat mereka.
Sumber:
• AGLC-Teaching Ministries Accra, Ghana, Pola Dasar Perkembangan Sekolah Minggu, Artikel Mendengar! Melihat! Mengatakan! Melakukan!, halaman 41 dan 44 - 45, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang.

7.20 Tugas Guru Sekolah Minggu dalam Mengajar

Meskipun sebagian besar guru Sekolah Minggu tahu bahwa mengajar adalah bagian tugas yang paling utama dari seorang guru, namun banyak guru yang tidak memberikan perhatian dan waktu yang cukup, serta pemikiran yang serius dalam mengajar. Mengapa? Hal ini disebabkan karena sebagian guru masih belum tahu jelas apa artinya mengajar, juga karena sebagian guru mempunyai anggapan yang keliru tentang mengajar. Contoh: ada guru-guru Sekolah Minggu yang merasa bahwa ia telah mengajar dengan baik karena ia dapat membuat anak-anak di kelasnya senang dan tidak bosan diajar olehnya. Ada juga guru Sekolah Minggu yang mengira bahwa dengan memberikan banyak pengetahuan Alkitab kepada anak ia telah mengajar dengan baik. Oleh karena itu pembahasan berikut ini akan menolong guru Sekolah Minggu untuk mengerti dengan lebih baik apa artinya MENGAJAR.
A. Apa Arti "Mengajar"?
Seluruh konsep mengajar dalam Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) melibatkan tiga aspek paling penting bagi anak didiknya:
1. Mendengar ajaran-ajaran/nasehat-nasehat yang diberikan oleh orang tua/orang yang lebih bijaksana. Dalam konteks bangsa Yahudi ajaran-ajaran itu berasal dari Firman Allah yang mereka dengar turun menurun dari nenek moyang mereka. Sedangkan fokus ajaran/nasehat itu adalah untuk pembentukan karakter yang saleh (godly life) dan takut akan Allah (Ulangan 31:12-13).
2. Merenungkan supaya apa yang didengar di atas, diproses di dalam hati anak untuk menjadi pengalaman hidup yang transformasional, yang membawa kepada perubahan hidup (Roma 12:2).
3. Hidup dalam komunitas orang percaya (Efesus 3:15-18), sehingga pengajaran berlangsung dalam konteks hubungan pribadi antara:
=> Tuhan dan guru - guru dan anak - anak dan Tuhan <=

Gereja adalah komunitas orang percaya dimana orang dewasa dan anak-anak, sebagai saudara-saudara seiman, bersama-sama hidup dan bertumbuh. Oleh karena itu gereja yang sehat akan menjadi tempat yang kondusif bagi keberhasilan guru Sekolah Minggu dalam mengajar.
Pengajaran yang diberikan oleh guru untuk diterima oleh anak didik, dan tujuan yang ingin dicapai dalam mengajar menjadi faktor yang sangat membedakan antara guru Sekolah Minggu dan guru umum biasa. Oleh karena itu tugas guru Sekolah Minggu lebih dari sekedar mengajarkan pengetahuan Alkitab atau mengajarkan bagaimana hidup yang bermoral. Guru Sekolah Minggu mengajarkan suatu kehidupan yang guru sendiri telah teladani dari Tuhan Yesus Kristus, karena proses pengajaran terjadi dalam konteks hubungan pribadi dengan Allah, dan dari sana mengalir kuasa yang mentransformasi kehidupan anak didik untuk menjadi hidup yang terus menerus diperbarui menjadi semakin seperti Kristus.
B. Apa yang Perlu Diajarkan?
Melihat bahwa apa yang diajarkan dapat memberi dampak kepada transformasi hidup anak-anak Sekolah Minggu, maka sangat penting kita membahas apa yang guru harus ajarkan kepada anak-anak Sekolah Minggu?
Mengajar anak sangat berbeda dengan mengajar orang dewasa. Pada orang dewasa, pada umumnya telah terbentuk cara berpikir dan pandangan/prinsip-prinsip hidup yang sudah mapan (permanen) dan hal itu sering kali sulit untuk diubah. Tetapi mengajar anak adalah seperti mengisi botol yang masih kosong, masih banyak hal yang dapat diisi dalam pikiran anak, dan belum terbentuk pola pikir dan pandangan-pandangan tertentu secara permanen. Oleh karena itu guru Sekolah Minggu mempunyai banyak kesempatan emas untuk membangun suatu dasar yang kuat dan benar bagi kehidupan rohani anak-anak Sekolah Minggu melalui apa yang diajarkannya.
1. Alkitab adalah sumber utama dalam mengajar.

Memberikan pengajaran yang sesuai dengan Alkitab sangat penting supaya anak belajar mengenal Allah dengan benar. Guru harus belajar untuk senantiasa setia pada Alkitab, biasakan untuk menjadikan Alkitab sebagai buku sumber yang paling utama dalam mengajar. Pokok-pokok kebenaran yang diajarkan guru Sekolah Minggu harus didukung oleh kebenaran dari ayat-ayat Firman Tuhan.
2. Pokok-pokok Penting yang harus diajarkan.

Berikut ini adalah beberapa materi dasar yang guru perlu pelajari sehingga dapat menjadi pedoman penting dalam mengatur pokok-pokok materi yang perlu diajarkan kepada anak-anak Sekolah Minggu:
a. Mengajarkan anak tentang gambaran yang benar mengenai Allah. Pokok-pokok penting yang tercakup di dalamnya:
 Sifat-sifat Allah
 Karya Allah
 Firman Allah/Alkitab
 Hukum-hukum Allah
 Rencana/Kehendak Allah
b. Mengajarkan anak tentang gambaran yang benar mengenai Manusia. Pokok-pokok penting yang tercakup di dalamnya:
 Penciptaan Manusia
 Kejatuhan Manusia dalam Dosa
 Hukuman Allah atas Manusia Berdosa
 Rencana Keselamatan Allah untuk Manusia
 Manusia sebagai Ciptaan Baru yang lahir dari Allah
c. Mengajarkan anak tentang gambaran yang benar mengenai Alam.
 Penciptaan Alam Semesta
 Pemeliharaan Allah atas Alam
 Kutukan Allah atas Alam setelah Kejatuhan Manusia dalam dosa
Inilah beberapa pokok penting yang perlu diingat oleh guru Sekolah Minggu dalam melaksanakan tugas mengajar. Sebagai kesimpulan marilah kita simak ayat Firman Tuhan berikut ini:
"Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak, dan orang asing yang diam di dalam tempatmu, supaya mereka mendengarnya dan belajar takut akan Tuhan, Allahmu, dan mereka melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini, dan supaya anak-anak mereka, yang tidak mengetahuinya, dapat mendengarnya dan belajar takut akan Tuhan, Allahmu." (Ulangan 31:12-13)

7.21 Bagaimana Cara Anak Belajar
Jika Saudara memasuki ruang pengemudi sebuah pesawat terbang dengan maksud terbang ke tempat yang jauh, maka akan berguna bagi Saudara bila mengetahui tentang cara terbangnya sebuah pesawat udara dan cara memakainya alat-alat pengemudi tersebut. Tanpa pengetahuan ini tipislah harapan Saudara akan mencapai tempat tujuan itu dengan selamat. Hal ini juga berlaku dalam pelayanan Saudara sebagai guru Sekolah Minggu. Untuk menjadi guru yang efektif, pengertian tentang cara belajarnya para pelajar adalah penting. Sebab kita harus mengajar sesuai dengan cara belajar para pelajar itu.

Mari kita lihat seperti apa sebenarnya cara belajar anak melalui ulasan-ulasan berikut ini.

1. Anak belajar secara kontinyu (terus-menerus).

Anak senantiasa belajar. Tak pernah mereka berhenti belajar. Bahkan mereka mungkin mempelajari beberapa hal sekaligus, padahal kita tidak pernah bermaksud mengajarkan hal tersebut kepada mereka. Kalau pengajaran kita tidak menantang mereka, boleh jadi mereka "belajar" bahwa Sekolah Minggu sangat membosankan dan tidak menarik. Jika penelitian Alkitab tidak membangkitkan minat, boleh jadi mereka "belajar" bahwa Alkitab adalah buku kuno yang menjemukan dan tidak ada hubungannya dengan masa sekarang. Jika mereka secara pribadi tidak terlibat dalam bagian doa dan penyembahan, boleh jadi mereka "belajar" bahwa saat doa adalah waktu yang baik untuk mengganggu teman yang duduk di sampingnya karena guru sedang menutup mata.

Kita sekali-kali tidak akan sengaja mengajarkan hal-hal ini. Namun demikian anak-anak mungkin akan mempelajarinya. Dengan mengetahui bahwa para murid kita belajar secara kontinyu, mungkin akan menolong kita untuk lebih berhati-hati mengenai apa yang kita ajarkan secara tidak langsung melalui suasana kelas.

2. Anak belajar melalui panca inderanya.

Mereka belajar:
a. 1 persen dari apa yang mereka baca.
b. 20 persen dari apa yang mereka dengar.
c. 30 persen dari apa yang mereka lihat.
d. 50 persen dari apa yang mereka lihat dan dengar.
e. 70 persen dari apa yang mereka katakan sementara mereka melihat.
f. 80 persen dari apa yang mereka katakan sementara mereka melakukannya.

Anak hanya mempunyai satu cara belajar, yakni melalui panca inderanya. Panca indera itu merupakan pintu masuk ke dalam kesadarannya. Fakta ini menunjukkan pentingnya penggunaan bermacam-macam bahan bantuan untuk mengajar.

3. Anak belajar melalui kegiatan.

Inilah prinsip yang terpenting tentang cara belajar para murid. Belajar bukanlah pengalaman yang pasif. Hal belajar bukanlah sesuatu yang sekedar terjadi pada anak itu, melainkan adalah sesuatu yang dilakukan oleh anak itu. Anak dapat mengingat paling banyak dari sesuatu yang dipelajarinya dengan cara mengatakan dan melakukan.

Anak dapat terlibat dalam proses belajar melalui beberapa cara. Ia bisa belajar secara langsung dalam kegiatan-kegiatan, misalnya mengerjakan proyek-proyek, pekerjaan tangan, diskusi dan drama. Atau melalui lukisan-lukisan cerita ia bisa terlibat, secara tidak langsung karena menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Perasaannya dapat dibangkitkan, khayalannya digiatkan, emosinya digerakkan.

4. Anak akan belajar sebaik-baiknya bila ia mempunyai dorongan atau alasan untuk belajar.

Anak akan paling cepat belajar bila hal itu dijadikan sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan. Dalam proses belajar ada dua macam dorongan. Yang pertama adalah dorongan dari luar, secara lahir. Beberapa contoh dari dorongan sejenis ini ialah ganjaran, hadiah, penghargaan, dan pujian. Dalam mengajar di Sekolah Minggu ada tempat bagi dorongan sejenis ini, tetapi jangan sampai merupakan dorongan satu-satunya.

Dorongan yang kedua adalah dari dalam, secara batin. Keinginan, hasrat, dorongan hati pribadi adalah contoh-contoh dorongan sejenis ini. Dalam hal terlibat kebutuhan dan kepentingan yang dirasakannya. Dorongan inilah yang bekerja bila anak itu dipimpin untuk memahami bagaimana kebutuhannya dipenuhi melalui penerapan prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupannya. Sungguh penting bagi kaum remaja dan orang dewasa menginsafi bahwa ajaran Alkitab dapat dipraktekkan bagi keperluan hidup mereka.

5. Anak akan belajar paling baik bila mereka sudah siap untuk belajar.

Ini berarti bahwa sebelum pengajar menarik perhatian anak dan membangkitkan rasa ingin tahu mereka, mereka harus disiapkan untuk menerima kebenaran Alkitab. Juga, para murid siap untuk belajar bila mereka dapat melihat hubungan bagian-bagian pelajaran itu dengan keseluruhan pengajaran tersebut. Mungkin sebelumnya pengajar harus memberi uraian pendahuluan tentang seri pelajaran yang baru dan menghubungkan pelajaran-pelajaran yang dahulu dengan keseluruhannya melalui ulangan secara berkala. Suatu prinsip belajar lainnya yang terpaut di sini adalah bahwa para murid belajar hal-hal yang belum diketahuinya berdasarkan hal-hal yang sudah diketahuinya. Ini berarti pengajar harus mengetahui taraf pengertian murid-muridnya dalam hal-hal rohani. Kita harus mengetahui apa yang sudah diketahui para murid kita.

6. Anak belajar dengan jalan meniru.

Fakta ini sekali menunjukkan pentingnya kehidupan pengajar. Kita mengajar, baik dengan perbuatan dan sikap maupun dengan perkataan atau gagasan. Segala sesuatu mengenai diri kita mengajarkan sesuatu. Dalam arti yang sesungguhnya, kita ini adalah "surat ... yang dapat dibaca oleh semua orang."

Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, halaman 243 - 244, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.



7.22 Mengenalkan Yesus Kepada Anak
Ketentuan dasar dalam menolong anak untuk mengenal Yesus adalah menempatkan penekanan utama pada kemanusiaan-Nya. Jika kita memperkenalkan Yesus pertama-tama dari sisi keilahian-Nya, tugas belajar anak menjadi jauh lebih rumit. Yesus sendiri mengenali masalah ini saat Dia mengajar murid-murid dan para pengikut-Nya yang lain. Dia memanggil mereka untuk mengikuti Dia, untuk mengamati dan belajar dari Dia. Barulah secara bertahap mereka dapat melihat-Nya sebagai Anak Allah. Dan kemudian, muncullah pengakuan Petrus sebagai hasil pewahyuan khusus dari Allah (lihat Matius 16:16-17).
Dengan cara yang sama, sangatlah baik untuk membiarkan anak tertarik secara wajar pada pribadi Yesus. Dengan cara ini anak dibukakan jalan untuk lebih dekat kepada Allah. Yesus akan lebih berarti bagi anak pada saat anak-anak menjadi semakin bertambah dewasa.
MENGHUBUNGKAN KEHIDUPAN YESUS DENGAN PENGALAMAN ANAK
1. Masa Bayi dan Kanak-Kanak.
Masa bayi dan kanak-kanak Yesus merupakan daya tarik khusus bagi anak-anak. Meskipun Alkitab hanya sedikit menceritakan kedua masa ini, tetapi jelas dinyatakan bahwa Yesus kecil, "Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." (Lukas 2:52). Anak-anak amat tertarik pada proses pertumbuhan, khususnya yang menyangkut diri mereka. Pertumbuhan mereka dari bayi ke kanak-kanak, membantu mereka menyamakan dirinya dengan Yesus. Juga cerita-cerita tentang bagaimana Yesus bertumbuh menolong meredakan beberapa ketidakpastian tentang apakah Dia itu bayi atau laki-laki dewasa. Banyak anak yang melihat-Nya hanya pada dua tahap kehidupan. Mereka juga perlu melihat Dia sebagai anak laki-laki yang bertumbuh besar.
Untuk membuat masa kanak-kanak Yesus lebih berarti bagi anak, kaitkanlah cerita itu dengan beberapa peristiwa yang dialami sendiri oleh anak. Berilah komentar tentang bagaimana Yesus membantu keluarga-Nya. Mengetahui bahwa Yesus pergi ke sekolah dan ke Bait Allah sungguh menarik bagi anak karena ia dapat membandingkannya dengan pengalaman-pengalamannya sendiri.
2. Yesus Tukang Kayu.
Sisi lain kehidupan Yesus yang amat menarik bagi anak-anak adalah pekerjaan-Nya sebagai tukang kayu. Kebanyakan anak berusia empat atau lima tahun mampu memakai palu kecil dan gergaji mini untuk membuat sesuatu yang cukup mengagumkan. Beri mereka beberapa potong kayu lunak, paku, dan sebuah tempat untuk bekerja. Tentu saja, beberapa petunjuk pendahuluan dan sedikit bimbingan diperlukan demi keamanan mereka. Situasi ini memungkinkan untuk berdiskusi informal tentang apa saja yang mungkin dibuat Yesus di bengkel kayu Yusuf. Aktivitas ini juga membuka kesempatan untuk berbicara tentang tenaga yang kuat dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang dari kayu. Percakapan semacam ini menolong anak melihat Yesus sebagai manusia yang selain cakap, juga memiliki tubuh yang kuat.
3. Yesus Sang Guru yang Teladan.
Anak-anak juga tertarik untuk mengetahui bahwa Yesus mengajar orang banyak tentang Allah. Guru merupakan tokoh penting dalam kehidupan anak kecil. Sebutan "guru" membantu membuka pengertian anak-anak tentang Yesus. Bantulah mereka mengetahui cara-cara spesifik yang digunakan Yesus untuk menolong orang lain, baik lewat ucapan-ucapan-Nya maupun lewat perbuatan-perbuatan-Nya. Penting juga menjelaskan bagaimana Dia berhati-hati untuk tidak melakukan hal-hal yang menyenangkan diri-Nya saja. Hubungkan teladan Yesus yang positif dengan pengalaman-pengalaman anak itu sendiri. Misalnya, "Josh, kamu sungguh baik mau meminjamkan sepeda roda tigamu pada Tiffani. Saya kira Yesus dulu juga melakukan hal itu." Tolonglah anak-anak untuk sadar bahwa orang dewasa juga berusaha untuk meneladani Yesus. "Saya akan senang sekali menolongmu untuk memperbaiki truk itu, Bryan. Yesus selalu menolong orang lain, dan saya juga ingin seperti Dia."
Namun, jika teladan Yesus dipakai sebagai usaha untuk memotivasi si anak agar berperilaku lebih baik, maka usaha ini dapat menghasilkan nada seperti, "Mengapa kamu tidak bisa serapi saudara perempuanmu?" Ungkapan semacam ini amat merusak citra diri anak! Dalam diri anak akan terbangun kemarahan terhadap pengharapan yang tampak tidak mampu dicapainya. Dengan demikian, alangkah bijaksana untuk menghindari pernyataan-pernyataan seperti "Yesus tidak menyukainya" atau "Tidak inginkah kamu menjadi seperti Yesus?" Pendekatan semacam ini akan memperoleh respon seperti yang dialami seorang ibu saat ia meminta anaknya yang berusia tiga tahun menolong membereskan mainannya dengan memberi motivasi "karena kita mengasihi Yesus." Gadis kecil itu berpikir sejenak, kemudian berkata, "Mami mengasihi Yesus. Mami saja yang mengambili mainan ini."
4. Yesus dan Mujizat.
Membicarakan perbuatan-perbuatan Yesus akan secara wajar menuntun anak pada mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. Anak tidak mengalami kesulitan menerima realitas mujizat. Kesulitannya hanya jika ia bermaksud menerapkannya pada pengalamannya sendiri. Arahkan pembicaraan sehingga anak mengerti bahwa Yesus melakukan perkara-perkara ajaib untuk menolong orang-orang karena Dia mengasihi mereka. Hal yang penting untuk diketahui anak bukanlah semata-mata perbuatan mujizat, tetapi tujuan dari mujizat itu. "Yesus begitu mengasihi orang-orang itu sehingga Dia tidak ingin mereka sakit. Dia membuat mereka sembuh karena Dia mengasihi mereka."
Jika anak bertanya, "Tetapi bagaimana Dia melakukannya?" yang paling baik beri jawaban sederhana: "Yesus itu Anak Allah. Saya tidak tahu bagaimana Yesus membangkitkan orang mati, tetapi yang saya tahu adalah Yesus selalu memakai kuasa-Nya untuk menyatakan kasih-Nya yang besar." Tak ada anak yang mengalami keruntuhan iman dengan mendengar orang dewasa berkata, "Ini adalah salah satu hal tentang Yesus dan Allah yang belum dapat saya pahami. Alah begitu besar, ada hal-hal tentang Dia yang tidak dapat dijelaskan. Tetapi kita tahu secara pasti bahwa Yesus mengasihi kita." Arahkan selalu pada apa yang dapat kita ketahui secara pasti, bukannya berputar-putar pada hal-hal yang tidak dapat kita jelaskan.
Sumber:
• Wes Haystead, Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God), halaman 122 - 125, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1996.


7.23 Mengajar cerita Alkitab
Mengajar cerita Alkitab merupakan suatu usaha untuk menyampaikan berita sukacita Tuhan kepada anak-anak. Oleh karena kemampuan pemahaman dan kemampuan konsentrasi anak-anak tidaklah setinggi orang dewasa, maka pengajar harus dapat menyampaikan cerita dengan cara yang menarik. Diperlukan kreativitas yang lebih besar dalam pelayanan anak-anak daripada pelayanan orang dewasa.
Secara garis besar, ada dua tahapan utama dalam mengajar cerita Alkitab yaitu persiapan dan penyampaian. Keberhasilan pengajaran sangat bergantung kepada penguasaan pengajar terhadap materi cerita yang disampaikan, dan juga pada persiapan yang matang.
Persiapan
Banyak orang yang mungkin menganggap remeh masalah persiapan, padahal untuk dapat menyampaikan cerita Alkitab dengan efektif, persiapan adalah langkah yang mutlak diperlukan. Ada sebuah slogan 5 P yang menunjukkan pentingnya yaitu:
proper preparation prevent poor performance
yang berarti persiapan yang memadai menghindarkan penampilan yang buruk.
Tiga jenis persiapan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Persiapan dasar: meliputi analisis acara/program dan analisis calon pendengar.
2. Persiapan materi: meliputi perumusan tujuan, penyusunan outline/struktur presentasi, pengumpulan bahan dan penyusunan cerita
3. Persiapan alat bantu: meliputi pemilihan alat bantu, pembuatan alat bantu dan latihan menggunakannya.
Persiapan Dasar
Tahap persiapan dasar yang meliputi analisis acara dan analisis calon pendengar, seringkali dilupakan ketika seseorang sedang mempersiapkan cerita. Penyusunan cerita memang harus dipersiapkan dengan cermat akan tetapi setiap pengajar perlu mengetahui latar belakang acara di mana ia akan menyampaikan cerita dan juga kepada siapa cerita itu akan disampaikan. Tahapan selanjutnya akan sangat bergantung kepada hasil analisis tahap ini. Misalnya, menyampaikan cerita kepada anak SM di kelas kecil atau batita tentu akan berbeda dengan di kelas besar.
Analisis Acara
Beberapa pertanyaan berikut ini dapat membantu menyelesaikan analisis ini.
• Mengapa cerita disampaikan?
Seorang pengajar harus mengetahui mengapa ia harus menyampaikan cerita itu. dalam kata lain, hasil apa yang diharapkan dari cerita.
• Bagaimana cerita akan disampaikan ?
Hal berikutnya yang perlu diketahui adalah bagaimana cerita itu harus disampaikan. Apakah berbentuk penyampaian cerita biasa, panggung boneka, atau kombinasi bentuk yang lain. Ini perlu diketahui karena berpengaruh pada penentuan alat bantu yang akan digunakan.
• Kapan dan berapa lama ?
Jadwal dan alokasi waktu yang disediakan sangat menentukan kuantitas dan kualitas materi yang akan disampaikan serta persiapan alat bantunya. Menyampaikan cerita 10 menit pasti akan berbeda dengan cerita dengan durasi 30 menit atau 1 jam.
• Di mana diselenggarakannya ?
Tempat penyelenggaraan perlu diketahui. Berbicara di ruang kelas yang berukuran sedang berbeda dengan di gedung gereja yang besar dan tentu juga berbeda dengan di lapangan terbuka.
Analisis Calon Pendengar
Langkah ini merupakan langkah yang paling dominan dalam persiapan dasar karena merekalah yang harus menjadi pusat perhatian di dalam menyiapkan dan menyampaikan bahan. Cara yang paling mudah adalah dengan menanyakannya ke orang atau gereja yang meminta kita menyampaikan cerita.
Beberapa pertanyaan yang dapat membantu dalam analisis ini adalah sebagai berikut.
• Siapakah pendengarnya ?
Satu aturan yang mendasar di bidang marketing dan komunikasi adalah "Kenalilah peserta".
• Berapa jumlahnya ?
Berbicara dihadapan 10 orang pendengar tentu sangat berbeda dengan berbicara di hadapan 100 orang.
Persiapan Materi
Persiapan materi dilakukan setelah pengajar melakukan persiapan dasar. Seperti halnya pada persiapan dasar, persiapan materi juga dibagi menjadi beberapa langkah: perumusan tujuan, penyusunan outline/struktur, pengumpulan bahan dan penyusunan cerita
Perumusan Tujuan
Tujuan biasanya sudah ditetapkan oleh pihak orang atau gereja yang meminta atau seperti yang tertulis dalam buku panduan.
Penyusunan Struktur
Pada umumnya struktur cerita dibagi menjadi tiga bagian sebagai berikut.
1. Pendahuluan/permulaan cerita
2. Inti Pembicaraan/isi cerita
3. Kesimpulan/penutup cerita
Porsi terbesar dari struktur umum diatas adalah bagian inti pembicaraan sehingga, sebaiknya, bagian ini juga ‘dipecah’ lagi menjadi struktur-struktur yang lebih rinci. Berikut ini akan dibahas masing-masing bagian dari struktur umum di atas.
• Pendahuluan/permulaan cerita
Pendahuluan digunakan untuk mengantar pendengar ke dalam inti cerita. Bagian ini cukup penting karena mempengaruhi sikap pendengar, apakah ia akan serius mendengar cerita selanjutnya atau tidak. Pendahuluan yang baik dan menarik akan membuat pendengar menunggu-nunggu apa yang akan disampaikan oleh guru. Waktu untuk pendahuluan jangan panjang, gunakan kurang lebih 10 % dari total waktu.
• Inti Pembicaraan/isi cerita
Porsi inti pembicaraan merupakan yang terbesar, biasanya mencapai 80 % dari seluruh alokasi waktu. Jika waktu yang tersedia panjang, struktur bagian ini dibagi lagi menjadi beberapa bagian atau sub struktur yang lebih kecil.
• Kesimpulan/penutup cerita
Bagian kesimpulan/penutup cerita sebaiknya tidak dilewatkan karena kontribusinya yang cukup penting. Bagian ini dapat digunakan untuk menekankan apa yang ingin dicapai melalui cerita itu, atau pelajaran apa yang diperoleh dari cerita ini.
Pengumpulan/Penyelidikan Materi
Setelah struktur tersusun guru atau pengajar harus melakukan pengumpulan bahan atau penyelidikan yang akan digunakan untuk menyusun nantinya. Penyelidikan ini akan menjadi kisi-kisi atau tulang untuk dijadikan cerita pada tahap berikutnya. Kumpulkan pula perlengkapan yang diperlukan seperti Alkitab, buku panduan (kurikulum), konkordansi, alat tulis, dan lainnya.
Ada beberapa hal yang terkait dengan penyiapan bahan ini:
• Menyediakan waktu persiapan
Setiap pengajar perlu menyisihkan waktu untuk menyelidiki materi yang akan disampaikan. Kapan dan berapa lama persiapan harus dilakukan tentunya bergantung kepada kondisi tiap orang. Sediakan waktu yang cukup untuk persiapan agar tujuan cerita dapat tercapai.
• Membaca
Berdoalah agar Tuhan membukakan pengertian-pengertian baru dari perikop Alkitab/bahan yang kita baca. Bandingkan dengan cerita paralel jika ada (Misal cerita orang lumpuh dapat dibaca pada Matius 9:14, Lukas 5:17, Markus 2:18). Untuk mendapatkan pengertian yang lebih lengkap, baca juga bagian teks sebelum dan sesudahnya, karena biasanya suatu perikop dalam Alkitab mempunyai kaitan dengan bagian sesudah atau sebelumnya.
• Perhatikan tokoh
Berikan perhatikan kepada tokoh-tokoh yang terkait dalam cerita: jenis kelamin, rupa, bentuk badan, kedudukan, watak, hubungan dengan orang lain, persoalan yang dihadapi. Hal ini akan lebih memberikan kesan daripada sekedar menyebutkan nama si A atau si B.
• Perhatikan lokasi/tempat
Lokasi/tempat terjadi peristiwa perlu disampaikan dengan jelas, apakah itu kota besar atau desa yang kecil, padang gurun, jalan yang sunyi, bukit atau rumah. Hal ini perlu disampaikan untuk agar nuansa cerita dapat detangkap oleh pendengar.
• Perhatikan waktu
Seperti halnya lokasi, waktu terjadinya atau yang berkaitan dengan cerita itu perlu disampaikan dengan jelas, misalnya siang, malam, atau pagi-pagi benar. Tempat dan waktu yang disampaikan dengan jelas akan membantu pendengar atau anak-anak memahami situasi, keadaaan serta kesulitan yang berkaitan dengan peristiwa atau yang dihadapi oleh tokoh di dalam cerita itu.
• Perhatikan peristiwa
Untuk membantu anak-anak memahami cerita, guru juga perlu dengan jelas menyampaikan peristiwa yang berkaitan dengan cerita itu, misalnya apakah ketika paskah, atau hari raya lain.
• Tentukan pemeran utama
Penentuan pemeran utama berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai atau berita yang ingin disampaikan melalui cerita. Penentuan ini juga akan mempengaruhi jalannya cerita.
• Perhatikan kata-kata sulit
Kata-kata yang sulit perlu diperhatikan berkaitan dengan tingkat pemahaman anak-anak. Gunakan sebisa mungkin kata-kata yang sederhana. Bila tidak ada padanan kata-kata sulit itu, berikan arti kata itu sehingga anak-anak dapat mengerti.
Penyusunan cerita atau penulisan naskah
Setelah terkumpul bahan/materi cerita telah siap, maka sekarang waktunya untuk menyusun cerita. Tentunya cerita yang disusun akan mengikuti struktur yang telah dipilih pada tahap sebelum ini yaitu pendahuluan atau permulaan cerita, isi cerita dan kesimpulan atau penutup.
• Pendahuluan
Bagian ini bisa diisi dengan menceritakan apa yang akan disampaikan, menanyakan atau mengulang sebentar cerita yang lalu, dan awal cerita yang baru. Permulaan harus pendek, dibuat menarik dan bervariasi/tidak selalu sama tiap minggu. Beberapa contoh permulaan cerita adalah penyampaian persoalan/kesulitan (misalnya Zakheus yang pendek mengalami kesulitan di antara orang banyak), penjelasan istilah baru (arti pemungut cukai, orang Farisi, paskah, dll), peragaan alat/benda (misalnya bunga).
Isi cerita
Isi cerita perlu dibuat atau ditulis dengan alur yang jelas dan sederhana untuk mempermudah pemahaman anak-anak terhadap kisah yang disampaikan. Dalam penyusunan ini perlu diperhatikan juga rentang konsentrasi yang dimiliki oleh anak-anak.
Rentang konsentrasi pada anak-anak tidak sepanjang yang dimiliki oleh orang dewasa dan karena itu perlu ada "sela" setelah cerita berlangsung 5-10 menit. Sela ini diharapkan dapat mengembalikan konsentrasi anak-anak.
Beberapa hal yang terbukti cukup efektif untuk meningkatkan perhatian pendengar dan dapat dilakukan pada saat sela tersebut adalah.
• Mengajukan pertanyaan kepada pendengar.
• Menceritakan humor yang berkaitan dengan topik pembicaraan.
• Mengganti pemakaian alat bantu.
Kesimpulan/penutup
Setelah menyampaikan banyak hal penting pada inti cerita, sebaiknya tidak menutup cerita hanya dengan misalnya "ceritanya sampai di sini. Sampai ketemu lagi."
Kesimpulan harus mencakup setidaknya dua hal penting berikut:
1. Rangkuman dari inti pembicaraan
Contoh: "jadi adik-adik, tadi kita telah mendengarkan kisah tentang ….."
2. Rangsangan untuk melakukan tindakan sebagaimana tujuan cerita.
Contoh: "Adik-adik, perempuan itu pulang dengan sukacita. Dosanya telah diampuni dan ia memulai hidup yang baru. Siapa dia antara adik-adik yang mau diampuni dosanya oleh Yesus? Siapa yang mau hidup benar di hadapan Tuhan? Mari kita berdoa ….."
Persiapan Alat Bantu
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyampaian informasi yang paling efektif adalah melalui media audio-visual (pendengaran dan penglihatan). Oleh karena itu penggunaan alat bantu pada saat menyampaikan cerita sangat bermanfaat.
Persiapan alat bantu baru dapat dilakukan setelah persiapan dasar dan persiapan materi selesai. Tiga langkah terkait dengan persiapan ini adalah pemilihan, pembuatan dan latihan penggunaan alat bantu.
Pemilihan jenis alat bantu sangat ditentukan oleh persiapan dasar sedang materi yang akan ditampilkan melalui alat bantu ini mengacu pada persiapan materi.
Pembuatan alat bantu membutuhkan keahlian, waktu dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu pemilihannya harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Penggunaan alat bantu yang telah tersedia dengan atau tanpa modifikasi, dapat menghemat waktu dan biaya.
Setelah alat bantu tersedia maka guru atau pengajar perlu melakukan latihan menggunakan alat bantu ini.
Penyampaian Cerita
Tahap yang sangat penting ini memang sangat ditentukan oleh bakat seseorang dalam berbicara di depan banyak orang. Ada orang yang memang secara alami sangat memikat perhatian orang lain dalam berbicara dan untuk orang semacam ini menyampaikan cerita bukan hal yang susah. Orang yang tidak mempunyai bakat alam semacam itu bukan berarti tidak dapat menyampaikan cerita dengan baik. Melalui belajar dan berlatih, orang yang tidak memiliki bakat alam seperti itu dapat juga menyampaikan cerita dengan baik.
Beberapa usaha yang perlu dipelajari oleh setiap pembicara adalah cara mengatasi kegugupan, penampilan menarik, gaya bicara, bahasa tubuh dan cara menanggapi pertanyaan, dan ini akan dibahas nanti lebih jauh.
Tentunya seorang guru yang akan menyampaikan cerita harus memeriksa semua bahan yang akan dibawanya seperti daftar acara, Alktab, alat peraga/alat bantu.
Pengendalian Kegugupan
Kegugupan adalah sesuatu yang manusiawi dan semua orang mengalaminya. Hal ini harus dapat diatasi, bila tidak ia akan mengganggu penyampaian cerita. Biasanya kegugupan akan dapat dieliminasi bila semua persiapan telah dilakukan dengan baik. Pengajar telah "mengenali" calon pendengar dan lokasi/ruang; telah menyusun alur pembicaraan dengan didukung alat bantu yang sesuai dan telah melakukan beberapa kali latihan.
Beberapa cara berikut ini dapat diterapkan untuk mengurangi atau menyembunyikan rasa gugup.
• Mengatur pernapasan
• Menerapkan teknik relaksasi
• Menggunakan media visualisasi
Penampilan
Pengertian penampilan meliputi banyak hal, tidak hanya menyangkut masalah busana saja akan tetapi juga kebersihan, kerapian, ekspresi suasana hati dan sikap. Dalam hal busana seorang pengajar harus mengenakan pakaian yang sopan dan yang fungsional. Riasan wajah tidak perlu mencolok seperti hendak menghadiri pesta. Demikian juga masalah perhiasan, tidak perlulah menggunakan semua perhiasan yang dimiliki, sehingga pengajar menjadi boneka pajangan. Seorang guru yang berpenampilan "apik" akan lebih diperhatikan daripada yang rambutnya tidak rapi dan bermuka masam.
Gaya Bicara
Meskipun telah disampaikan di atas yaitu bahwa media visual mempunyai nilai efektivitas lebih baik daripada media audio, suara guru atau pembicara merupakan alat yang sangat penting. Seberapapun baiknya alat bantu yang digunakan, tetap membutuhkan penjelasan dari pembicara.
Beberapa aspek gaya bicara yang perlu diperhatikan adalah:
• Audibilitas
Suara harus dapat didengar oleh anak-anak yang duduknya paling jauh dari pengajar. Suara yang cukup keras akan menghindarkan anak-anak dari usaha melakukan kegiatan sendiri atau mengganggu kawan yang lain.
• Nada
Nada suara guru dapat menarik perhatian dan keingintahuan anak-anak. Nada suara yang datar tidak akan menarik perhatian pendengar baik dewasa dan anak-anak. Adalah lebih baik jika guru dapat menggunakan variasi nada suara sesuai dengan suasanan atau kejadian yang sedang diceritakan misalnya beribisik, marah, berseru, sedih, menyesal, membentak, dsb. Tapi perlu diingat, suara harus tetap terdengar oleh anak-anak.
• Kecepatan
Kecepatan suara juga akan mempengaruhi pemahaman anak-anak akan cerita yang sedang disampaikan. Cerita yang disampaikan dengan kecepatan tinggi (temponya tinggi) akan susah difahami, sedangkan tempo yang lambat akan membosankan dan menghabiskan waktu.
Bahasa Tubuh
Komunikasi melibatkan tidak hanya bahasa verbal (yang terucap), tetapi juga yang nonverbal (yang tak terucap) yang sering disebut sebagai bahasa tubuh. Bahasa tubuh adalah istilah dalam bidang psikologi yang menunjuk kepada gerakan atau tindakan yang merefleksikan emosi hingga dapat terlihat dari luar. Sebagai contoh, orang yang sedang marah tidak perlu mengatakan "saya marah" agar orang lain mengetahui bahwa ia marah. Sebaliknya bila sedang gembira, ia tidak perlu mengatakan "saya gembira". Bahasa tubuh ini adakalanya sesuai dengan apa yang diucapkan, akan tetapi ada kalanya bahasa tubuh bertentangan dengan apa yang diucapkan.
Karena bahasa tubuh memiliki andil yang cukup besar dalam penyampaian dan penerimaan suatu berita atau pesan, maka guru sebaiknya belajar menggunakan bahasa tubuh dengan efektif.
Beberapa hal yang terkait dengan bahasa tubuh adalah sebagai berikut:
• Senyum
Senyuman akan membuat suasana hangat dan menyenangkan. Tetapi akan juga terlihat mana senyum yang keluar karena memang sedang bersukacita, atau terpaksa.
• Mimik
Mimik atau rona wajah akan ikut pula mempengaruhi suasana kelas. Rona muka wajah guru akan mempengaruhi suasana hati anak-anak juga. Wajah yang cemberut pasti akan mengurangi antusiasme anak-anak dalam mendengarkan cerita. Selain itu guru yang berpengalaman dapat menggunakan ekspresi wajah untuk menarik perhatian anak-anak, misalnya wajah kesakitan, wajah ketakutan, menggigil, dsb.
• Kontak mata
Kontak mata merupakan satu hal yang penting dalam berkomunikasi. Kontak mata ini merupakan salah satu bentuk perhatian. Kita tentu tidak akan senang bila orang yang sedang berbicara dengan kita tidak pernah atau sangat jarang menatap mata kita. Selain itu, kontak mata juga dapat membantu guru menguasai suasana kelas.
• Gerakan tangan
Gunakan gerakan tangan untuk menunjang cerita. Usahakan untuk tidak menggunakan gerakan yang tidak perlu. Berhati-hati dengan gerakan tangan yang mempunyai konotasi negatif.
• Posisi berdiri / duduk
Pilih posisi berdiri/duduk yang tepat agar semua anak masih dapat melihat. Perlu dihindari sikap yang tidak baik dalam duduk atau berdiri (baik dan buruk bergantung pada budaya). Di Indonesia, adalah tidak sopan untuk duduk di meja atau meletakkan kaki di atas kursi, akan tetapi hal ini masih bisa dilakukan jika dimaksudkan sebagai contoh atau adegan.
• Kebiasaan bawah sadar
Setiap orang memiliki kebiasan yang kurang disadari ketika sedang berbicara. Di antara kebiasaan ini adalah memasukkan tangan ke kantong, bertolak pinggang, memegang-megang benda tertentu. Kebiasaan semacam ini bila terlalu sering muncul akan dapat mengganggu. Diperlukan latihan untuk mengurangi kebiasaan bawah sadar ini.
Penyampaian cerita firman Tuhan perlu dilakukan dengan sebaik-baiknya agar berita yang ingin disampaikan dapat diterima oleh anak-anak. Perlu disadari bahwa penyampaian cerita firman ini tidaklah sekedar bercerita seperti cerita pengantar tidur semata.
Sumber : Sudi Ariyanto MEBIG INDONESIA
7.24 Bagaimana Mengajar Alkitab: Untuk Pemula
Pendahuluan
Kalau kemampuan mempelajari Firman Allah, memahaminya, dan memberi respon atas kebenarannya merupakan satu sukacita besar bagi Anda dalam hidup ini, maka kemampuan dan kesempatan untuk menyampaikan kebenaran yang Anda peroleh dengan jerih payah haruslah juga menyertai sukacita Anda tersebut. Kalau kita telah mengalami kuasa transformasi dari Roh Kudus lewat pemahaman dan penerapan firman Tuhan, maka kita akan selalu memiliki keinginan yang meluap-luap untuk membagikannya kepada orang lain. Dalam Kolose 3:16, rasul Paulus mengatakan bahwa seharusnya keinginan ini menjadi ciri-ciri kita saat berada bersama sesama orang Kristen. Ia berkata,
Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Tujuan pelajaran ini adalah untuk membantu Anda menyampaikan kebenaran Allah dalam Alkitab dengan lebih mantap dan dalam sukacita. Pelajaran ini merupakan lanjutan pelajaran sebelumnya tentang bagaimana belajar Alkitab. Jadi dari memahami kebenaran Alkitab kita melangkah pada menyampaikan kebenaran Alkitab.
Akan tetapi dalam memahami teori dan proses penyampaian kebenaran menuntut waktu dan kerja keras. Oleh sebab itu, pelajaran ini dirancang hanya sebagai dasar-dasar saja. Pelajaran ini dirancang untuk para pemula. Kita tidak akan membahas terlalu dalam tentang teori komunikasi (yang memang menjadi semakin sulit akhir-akhir ini), melainkan kita hanya akan melihat satu model sederhana yang dengan keahlian dan pemahaman yang memadai bisa diterapkan untuk semua teks dalam Alkitab. Jadi, meski selalu ada yang harus dipelajari lebih lanjut, pelajaran kita kali ini akan mengantar Anda pada satu situasi dimana Anda bisa dengan kreatif dan benar menyampaikan firman Tuhan kepada orang lain dalam Pelajaran Alkitab (PA) di rumah, atau dalam penginjilan, atau dalam kelas Sekolah Minggu, atau dalam kebaktian di gereja. Semoga Tuhan memberkati Anda dengan berlimpah saat Anda mempelajari firmanNya dan bersiap-siap untuk mengajarkannya kepada orang lain. Bawalah pendengar Anda ke tempat dimana Anda pernah berada sebelumnya—itulah yang penting!
I. Satu Ringkasan tentang Proses PEMAHAMAN dan PENGAJARAN untuk Bahan Pelajaran Alkitab
A. Memahami Satu Teks (Meliputi semua langkah yang telah kita pelajari pada pelajaran sebelumnya: “Bagaimana Belajar Alkitab”)
1) Pilihah Teks Anda
2) Pelajari Teks Anda Dengan Menggunakan Pengamatan dan Tanya/Jawab
3) Ringkas Teks Anda dalam bentuk Subjek/Pelengkap
4) Buat Garisbesar tentang Teks Anda
B. Mengajarkan Satu Teks
5) Kembangkan Subjek/Pelengkap
6) Kembangkan Pelajaran Berdasarkan Garisbesar
7) Buat Kesimpulan dan Pendahuluan
II. Satu Ringkasan Tambahan untuk Proses PENGAJARAN untuk Bahan Pelajaran Alkitab
A. Pertama, Cari “Pokok pikiran”
1. Pilih Satu Teks dan Pelajari (Lihat “Bagaimana Belajar Alkitab: Untuk Pemula”)
2. Kemukakan Subjek/Pelengkap dengan Jelas dan Singkat
a. Sesuai dengan Kenyataan Teks Anda
b. Sesuai dengan Kenyataan Pendengar Anda (yaitu Ide Homeletik Anda)
B. Kedua, Kembangkan Ide Homeletik1 Anda sesuai Garisbesar dan Tujuan PA Anda
1. Tanyakan pada Diri Anda Tiga Pertanyaan untuk Menjawab Satu Pertanyaan Utama
a. Satu Pertanyaan Utama: Apa Tujuan PA Saya? Apa yang Ingin Saya Capai dalam PA Saya?
b. Tiga Pertanyaan Tambahan: Apa yang Perlu Saya Jelaskan, Pertahankan, dan/atau Terapkan dari Ide Homeletik Saya Supaya Tujuan Khotbah Saya Bisa Dipahami?
2. Buatlah Garisbesar dalam Bentuk Kebenaran-Kebenaran Universal
C. Buatlah Kesimpulan dan Pendahuluan yang Sesuai dengan PA Anda
1. Satu Kesimpulan Seharusnya…
a. Menyimpulkan “Pokok pikiran” dalam PA
b. Memotivasi Orang untuk Memberi Respon
i. Lewat Membayangkan Situasi yang Terkait dengan PA Anda
ii. Lewat Cerita yang Mengilustrasikan Kebenaran PA Anda
iii. Lewat Tantangan untuk satu Penerapan dalam PA Anda
2. Satu Pendahuluan Seharusnya…
a. Menarik Perhatian Pendengar Anda
b. Membangkitkan Kebutuhan akan PA Anda
c. Memberi Orientasi tentang “Pokok pikiran” PA Anda
III. Prinsip-Prinsip Untuk Menggunakan Bahan-Bahan PA yang Bersifat Ekspositoris, Naratif, dan Puitis
Contoh-contoh yang akan kita gunakan diambil dari tiga genre2 utama dalam Alkitab: (1) teks yang bersifat ekspositoris, (2) yang bersifat naratif, dan (3) yang bersifat puitis. Kita perlu membahas sedikit tentang ini agar Anda bisa menggunakan dan mengajar bahan-bahan dari genre yang berbeda ini.
A. Bahan PA Ekspositoris
Surat-surat para rasul adalah surat-surat yang bersifat ekspositoris yang dikirim kepada jemaat-jemaat yang berbeda guna memperdalam pemahaman mereka tentang Tuhan, Kristus dan karyaNya, Roh Kudus, dan hidup yang bermartabat bagi Tuhan. Surat-surat ini sengaja tidak dalam bentuk cerita, meskipun sering berisi referensi cerita dari Perjanjian Lama (misalnya Roma 4; 2 Kor 3). Surat-surat ini adalah tulisan-tulisan berisi pengajaran ekspositoris yang maknanya biasanya bersifat langsung dan jelas jika dibandingkan dengan tulisan yang bersifat naratif. Lebih mudah bagi kita untuk membuat garisbesar dan pikiran-utama dalam surat-surat ini. Catatan: kadang-kadang bahan ekspositoris berada dalam konteks naratif, sepertiYohanes 1:1-18 juga seperti kebanyakan ceramah pengajaran Kristus dalam kitab-kitab injil. Dalam hal ini bahan-bahan tersebut harus dikaitkan dengan narasi secara keseluruhan, meski harus dikerjakan sebagai bahan ekspositoris. Juga, perlu diperhatikan bahwa ada beberapa bentuk puisi dalam sejumlah surat ekspositoris dalam Perjanjian Baru.
Sebagai contoh: Dalam Pelajaran, “Bagaimana Belajar Alkitab: Untuk Pemula”, kita membahas Efesus 2:1-10 secara rinci. Misalnya kita mengamati kata-kata kunci, dsb. dan menggunakan metode tanya/jawab untuk bahan ini. Setelah itu kita membuat ringkasan dari pesan bahan ini dengan mengembangkan subjek/pelengkap. Apakah Anda memperhatikan adanya perbedaan saat menggunakan bahan yang diambil dari Yohanes 9:1-41? Dalam Efesus 2:1-10 maknanya ada dipermukaan dan jelas. Ini tidak berarti bahwa beberapa bagiannya tidak sukar untuk dipahami, akan tetapi pada umumnya maksud dan makna bahan tersebut biasanya lebih jelas dibanding dengan teks-teks yang bersifat naratif dimana Anda tidak pernah secara ekplisit diberitahu oleh penulisnya apa arti narasi itu. Ini juga berarti akan lebih mudah dalam hal tertentu untuk mengajar bahan yang bersofat ekspositoris, karena kebenaran yang termuat di dalamnya tidak terlalu membutuhkan banyak interpretasi untuk pendengar kita sekarang. Biasanya makna kata-kata dalam bahan ekspositoris tidak bersifat kiasan. Sedangkan bentuk naratif perlu diinterpretasi bagi pendengar pada masa sekarang karena orang-orang dalam cerita Alkitab berada dalam kenyataan yang berbeda dengan kenyataan yang kita alami sekarang dan karena makna dari satu cerita jarang diungkapkan kepada kita. Mari kita melihat satu contoh singkat satu bahan naratif.
B. Bahan PA Naratif
Bahan naratif (atau cerita) bersifat tidak langsung dalam penyampaian pesannya, yang lebih banyak menuntut panca indra, dibandingkan intelektual secara langsung seperti untuk memahami tulisan-tulisan ekspositoris. Narasi mengundang Anda masuk ke dunia dan para tokohnya dan mengundang Anda untuk mengalami apa yang mereka alami. Narasi dibentuk oleh unsur-unsur seperti seting, tokoh cerita, dan alur cerita (yang biasanya berisi sejumlah konflik, ujian, perjalanan, kehendak, dsb.) dan biasanya tidak terang-terangan menyatakan kepada Anda apa arti ceritanya (misalnya cerita Orang Samaria yang Baik Hati). Jika kita menggunakan narasi sebagai bahan PA, kita harus bisa mengungkapkan kepada pendengar dunia dimana cerita itu terjadi dengan melukiskan suasana (seting) pada saat cerita itu terjadi sedemikian rupa sehingga para pendengar merasa berada di dunia lain, yaitu di dunia dimana cerita itu terjadi. Jadi diperlukan imajinasi yang banyak dan kreatif, misalnya untuk bisa seolah-olah mencium bau angin pantai, mendengar anak-anak menangis, melihat orang lumpuh melompat dalam kegirangan, seperti yang terjadi dalam cerita. Ini akan membantu pendengar Anda untuk menghayati kehidupan dan perjuangan/kemenangan para tokoh cerita dalam bahan PA Anda.
Struktur bahan PA bersifat naratif dibentuk oleh alur cerita tidak seperti struktur pada surat-surat para rasul yang dibentuk dalam paragraf. Jadi dalam Yohanes 9, kita harus membahas beberapa paragraf karena paragraf-paragraf itu membentuk alur cerita keseluruhan tentang orang buta yang dipulihkan. Dan cerita ini merupakan bagian cerita yang lebih luas tentang pelayanan Yesus yang ditulis Yohanes untuk pembacanya. Kesembuhan orang buta itu mendemonstrasikan kuasa Kristus dalam mengatasi persoalan besar; oleh sebab itu Ia layak dipercaya. Reaksi para pemimpin agama memang sesuai dengan kenyataan bahwa akan selalu ada yang menolak kebenaran untuk menyelamatkan posisi dan status hidup mereka.
Pendeknya: kalau mengajar dengan bahan cerita Alkitab, bantulah pendengar Anda untuk bisa menghayati tokoh-tokoh dalam cerita, khususnya yang memberi contoh baik. Bantu mereka untuk merasakan seolah-olah mereka berada dalam cerita saat setiap peristiwa terjadi. Jadi, reaksi pendengar penting dalam PA dengan bahan naratif.
C. Bahan PA Puitis
Ada banyak sekali bahan PA bersifat puitis dalam Alkitab, diantaranya adalah Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, sejumlah besar kitab para nabi, dan juga seperti yang disebutkan sebelumnya beberapa bagian dalam surat-surat para rasul. Dari mazmur kita mengetahui bahwa puisi Alkitab memuat gambaran-gambaran seperti tentang: (1) gembala; (2) padang; (3) batu karang, (4) burung-burung; (5) air bah; (6) pedang; (7) kegelapan; (8) terang; (9) kubur yang terbuka; (10) bintang-bintang, (11) madu; (12) empedu; dsb. Dengan menggunakan metafora dan gambaran, kita akan menyadari bahwa penulis menuntut kepekaan panca indra dari pembaca. Oleh sebab itu, dalam membaca dan mengajarkan mazmur perlu kepekaan terhadap gambaran dengan menggunakan panca indra, perasaan, dan imajinasi. Sebenarnya strukrtur kebanyakan puisi didasarkan pada susunan gambaran. Anda bisa membuat garisbesar sejumlah puisi berdasarkan perkembangan pikiran dan gambaran yang ada dalam puisi-puisi tersebut.
Dalam pelajaran kita sebelumnya tetntang bagaimana belajar Alkitab, ada dua pertanyaan yang harus kita tanyakan untuk memahami satu istilah kunci. Dua pertanyaan itu adalah: (1) Referensi? Istilah ini mengacu pada apa? dan (2) Kesan? Apa kesannya? Positif/Negatif, emosional, dsb. Pertanyaan yang terakhir sangatlah penting kalau mempelajari dan mengajar tentang bahan PA puitis. Misalanya saat Daud mengatakan dirinya adalah “ulat” dan bukan manusia, Anda seharusnya mencari tahu arti dibalik kata atau istilah ini (Mazmur 22:7). Apa kesan tentang Gunung Batu yang dipakai sebagai referensi untuk Tuhan dalam Mazmur 78:35? Dalam Yesaya 40:31—ayat yang cukup dikenal—apa gambaran dan perasaan yang ditimbulkan dalam pikiran pembaca tentang “rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya? Anda bisa mencari bantuan informasi dari komentari tentang budaya yang berkaitan dengan gambaran ini. Anda harus tekun dan sabar dalam merenungkan gambaran-gambaran puisi karena didalamnya terdapat penjelasan yang kuat dan motivasi menarik.
IV. Mempersiapkan PA dari Bahan Ekspositoris—Yohanes 1:1-18
A. Ambil Bahan dari: Yohanes 1:1-18
B. Pelajari Teks dengan Menggunakan Penelitan dan Tanya/Jawab
Kita telah melakukan ini pada pelajaran sebelumnya. Lihat kembali hasilnya jika Anda merasa perlu. Pelajari kata-kata kuncinya, strukturnya (tatabahasa dan gaya bahasanya), suasananya, juga tentang jenis tulisannya. Di atas diberikan sedikit petunjuk bagaimana memahami tiga bentuk tulisan yang berbeda, yaitu yang bersifat ekspositoris, naratif, dan puitis.
C. Buat Subjek/Pelengkap:
Subjek/pelengkap untuk Yohanes 1:1-18 bisa seperti: (Subjek:) Alasan Firman Tuhan yang kekal menjadi manusia (Pelengkap:) adalah supaya Ia bisa menyatakan siapa Allah kepada semua manusia dan agar mereka bisa percaya kepadaNya dan menjadi anak-anak Allah.
D. Kembangkan Garisbesar Teks (Eksegetis3)
Garisbesarnya kira-kira:
I. Ke-Allah-an Firman (ayat 1:1-5)
A. Firman itu Tuhan (ayat 1:1-2)
B. Firman itu Pencipta (ayat 1:3)
C. Firman itu Adalah Hidup dan Terang bagi Manusia (ayat 1:4-5)
II. Persiapan Pelayanan Firman di Dunia (ayat 1:6-9)
A. Yohanes Diutus Allah (ayat 1:6)
B. Yohanes Memberi Kesaksian tentang Terang Supaya Semua Orang Menjadi Percaya (1:7)
C. Yohanes Sendiri Bukan Terang itu, Melainkan Hanya Saksi (1:8)
D. Terang yang Sesungguhnya Menerangi Setiap Orang di Dunia (1:9)
III. Respon terhadap Firman (1:10-13)
A. Dunia Tidak MengenalNya (1:10)
B. KepunyaanNya Tidak MenerimaNya (1:11)
C. Semua yang Menerima (Percaya) Dia Menjadi Anak-anak Allah (1:12)
D. Anak-anak Allah bukan Berasal dari Manusia, Tetapi dari Allah (1:13)
IV. Kemanusiaan dan Penyataan Firman Merupakan Era Baru dalam Kasih Karunia (1:14-18)
A. Firman yang Datang dari Bapa menjadi Manusia (1:14)
B. Kesakisan tentang Kekekalan Kristus (1:15)
C. Kita Telah Diberkati dari Kepenuhan Kasih Karunia Kristus (1:16)
D. Perbandingan Yesus dengan Hukum Taurat (1:17)
E. Yesus Allah yang Tunggal Menyatakan DiriNya (1:18)
E. Kembangkan Subjek/Pelengkap
Dalam mengembangkan subjek/pelengkap kita perlu bertanya tiga pertanyaan dibawah satu pertanyaan utama. Pertanyaan utama: Apa tujuan PA saya? Apa yang ingin saya capai dalam PA ini? Tujuan yang saya pilih seharusnya sesuai dengan tujuan asli yang terdapat pada teks. Jelas bahwa Yohanes menulis teks ini (1:1-18) adalah supaya orang memiliki iman yang murni dan teguh kepada Yesus. Jadi, tujuannya berkaitan dengan keselamatan manusia dan dengan pertumbuhan kehidupan Kristen.
Seandainya pendengar kita adalah orang dewasa dalam Sekolah Minggu dimana mereka sudah sering mendapat pengajaran Alkitab. Kira-kira ada 50 orang pendengar dan mereka memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Namun, Anda menyadari kebanyakan diantara mereka (dan juga dalam budaya mereka secara umum) tidak teguh saat doktrin Kristen yang mereka pegang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam budaya yang secara moral makin merosot dan penuh tantangan. Singkatnya, pandangan hidup mereka memprihatinkan.
Sebelumnya kita mengatakan bahwa subjek/pelengkap dalam Yohanes 1:1-18 bisa seperti: Alasan Firman Tuhan yang kekal menjadi manusia adalah supaya Ia bisa menyatakan siapa Allah kepada semua manusia dan agar mereka bisa percaya kepadaNya [yaitu Firman] dan menjadi anak-anak Allah. Jadi subjek teks ini berkaitan dengan penyataan dan kenyataan bahwa Allah membuat diriNya dikenal dalam Kristus. Akan tetapi pemahaman secara mendalam tentang Allah sepertinya tidak masuk kehati dan pikiran kebanyakan orang di gereja, apalagi bagi orang yang belum percaya. Oleh sebab itu, dalam PA kita, kita akan menjelajahi pernyataan teologis Yohanes yang teguh dan kita akan mengaitkannya dengan sistem kepercayaan dan kebenaran-kebenaran umum yang terdapat dalam kebudayaan tempat kita hidup. Kita ingin mendalami kebenaran dalam Yohanes yang dikaitkan dengan kebutuhan pendengar kita supaya bisa dengan lebih serius tentang penyataan Allah dalam diri Kristus. Tujuannya adalah agar orang tertarik untuk menjalani hidup yang baru, meski PA lebih diarahkan untuk perubahan pikiran sebagai langkah pertama untuk menjalani hidup yang diubahkan.
F. Kembangkan PA Berdasarkan Garisbesar
Sekarang kita telah mengetahui tujuan PA kita: “Mendorong orang untuk mengevaluasi pandangan hidup mereka dengan cara merefleksikan secara serius tentang pengalaman ke-Kristenan mereka dikaitkan dengan hakekat keberdosaan mereka (kita) yang mengganggu dan dengan penyataan Allah yang sempurna dan mendalam dalam Kristus.”
Sekarang kita perlu mengembangkan ide ini lewat garisbesar dengan menanyakan tiga pertanyaan dasar: (1) Apa yang perlu saya jesalakan? (2) Apa yang perlu saya bela atau pertahankan? (3) Bagaimana saya bisa menerapkan teks berdasarkan garisbesar?
Jadi kita perlu mengembangkan garisbesar yang telah kita buat. Kita akan mengembangkannya dalam bentuk garisbesar PA dengan menyatukan bagian-bagiannya (ada tiga bagian sesuai garisbesarnya) supaya bisa terbentuk pokok pikiran. Kita akan menambahkan perincian teks yang sesuai dan ilustrasi.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, ada tiga bagian untuk PA dengan menggunakan teks ini. Masing-masing bagian ini bisa menjadi “pokok pikiran”. Ingat Anda mengajar Alkitab kepada manusia; Anda tidak hanya semata-mata mengajar tentang Alkitab. Dalam diskusi kita sebelumnya tentang Yohanes 1:1-18 kita perlu memperhatikan apa yang ingin disampaikan Yohanes. Sekarang tugas Anda adalah menyampaikan pesan tersebut kepada orang lain (yakni menyatakan pentingnya pesan Yohanes kepada mereka). Tugas Anda adalah membawa teks abad pertama ke dalam abad keduapuluh. Jadi ayo kita cermati kembali garisbesar kita. Kita tidak akan membuat keseluruhan garisbesarnya, Anda sendirilah yang harus melengkapinya.
I. Pendahuluan
A. Mulailah dengan satu Ilustrasi
1. Bersahabat dan Menarik/Tidak Usang: Bangkitkan keinginan untuk mendengarkan apa yang akan Anda sampaikan.
2. Berisi Unsur-unsur Pokok pikiran PA:
B. Diikuti Transisi untuk Masuk pada Pokok pikiran PA
Anda tidak perlu menyampaikan keseluruhan pokok pikiran secara terang-terangan, tetapi paling tidak Anda perlu memberi orintasi kepada pendengar Anda tentang subjek yang akan Anda sampaikan. Anda bisa mengembangkan pelengkap saat melakukan ini.
II. Pandangan Hidup Anda dan Yesus Kristus (1:1-5)
A. Perincian Teks
1. Firman (Kristus) Adalah Allah (1:1-2)
a. Jelaskan ke-Allah-an Kristus
b. Pencarian akan Allah telah Selesai (sementara manusia masih sedang mencari)
2. Firman (Kristus) Adalah Pencipta (1:3)
a. Apa artinya satu Pribadi Pencipta
b. Kalau kita percaya pada dunia yang tidak diciptakan satu Pribadi, melainkan oleh evolusi alam. Kita akan dipengaruhi dalam hal …
3. Firman (Kristus) Adalah Hidup dan Terang bagi Manusia (1:4-5)
a. Telusuri arti hidup
b. Apa pemahaman kita tentang hidup yang sebenarnya?
4. Penerapan: Biasanya pandangan hidup memberi jawaban atas paling kurang empat pertanyaan: (1) Siapa Allah itu? (2) Siapa manusia itu? (3) Apa persoalan manusia? (4) Apa solusinya? Apa pandangan hidup Allah? Apa pandangan hidup kita?
B. Ilustrasi: Kembangkan beberapa aspek pandangan hidup abad ke-20: (1) kekafiran; (2) gagalnya modernisme dan kekerasan hidup; (3) kesepian dan ketakutan; (4) dsb.
C. Kalimat Transisi: Jadi yang Anda percaya dalam dunia dan dalam hidup Anda? Mengapa kita memiliki persoalan yang kita hadapi? Apakah ada harapan? Mungkin ini tergantung pada bagaimana Anda menilai dan memahami manusia dan atas alasan mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan
III. Persoalan Keberdosaan manusia yang Menggangu dan Kasih Karunia Allah yang tidak Terkalahkan (1:6-13)
A. Kita seperti Lot yang tidak Patuh (bagian teks ini bersifat naratif jadi sampaikan dalam bentuk cerita)
1. Rincian Teks (ingat untuk menjelaskan, membela dan menerapkan ide-ide penting)
a. Jelaskan: Terang yang Menerangi Semua Manusia (1:6-9)
b. Kenyataan tentang Penolakan akan Kristus yang meluas (1:10-11)
2. Ilustrasi:
3. Kalimat Transisi: Hati manusia adalah tempat yang gelap, tempat yang rapuh dan berbahaya, namun Tuhan ada di tempat yang gelap …
B. Tapi Kasih Karunia Allah itu Tidak Terkalahkan
1. Perincian Teks
a. Mereka yang Menerima (Percaya) Menjadi Anak-anak Allah (1:12)
b. Anak-anak bukan berasal dari Manusia, Melainkan dari Allah (1:13)
2. Ilustrasi:
3. Transisi:
IV. Periksa kembali Pemahaman kita tentang Allah yang Ada (1:14-18)
A. Perincian Teks (Pilih yang mana yang akan Anda kembangkan untuk tujuan PA Anda)
1. Firman yang Berasal dari Bapa Menjadi Manusia (1:14)
2. Kesaksian Yohanes tentang Kekekalan Kristus (1:15)
3. Kita Diberkati dari Kepenuhan Kasih Karunia Kristus (1:16)
4. Perbandingan Yesus dengan Hukum Taurat (1:17)
5. Yesus, Allah yang Tunggal, Yang Menyatakan Diri (1:18)
B. Ilustrasi
C. Transisi untuk masuk pada Kesimpulan
V. Kesimpulan
A. Ringkaskan Pokok pikiran. Ulangi lagi.
B. Beri ilustrasi dan buatlah Ajakan
V. Mempersiapkan PA dari bahan Narasi—Yohanes 9:1-41
Mempersiapkan PA dari bahan narasi memiliki tantangan tersendiri yang bebeda dari bahan ekspositoris. Kita ingin mengembangkan subjek/pelengkap dari teks, tetapi bahan yang kita miliki tidak menyediakannya. Cerita tidak berbentuk abstrak tetapi konkrit. Makna bahan PA naratif terdapat dalam ceritanya, meski tidak dijelaskan. Cerita biasanya penuh dengan pengalaman panca indera, bukan berisi ide-ide yang dinyatakan secara kognitif. Jadi otak kanan yang lebih banyak bekerja, bukan otak kiri. Kita dituntut bisa membawa pendengar masuk ke dalam cerita supaya mereka bisa menghayati tokoh-tokoh ceritanya, merasakan ketegangan cerita, dan bersimpati pada pemeran utamanya!
Oleh sebab itu, kita perlu mengembangkan subjek/pelengkap ke dalam bentuk pokok pengajaran yang sesuai dengan keprihatinan, pertanyaan, dan persoalan orang-orang di masa sekarang. Setelah itu kita perlu mengembangkan pokok pengajaran ini dengan menggunkan rincian cerita.
Sebelumnya kita mengetahui bahwa subjek/pelengkap untuk Yohanes 9:1-41 adalah: Yesus menyembuhkan orang buta, yang diikuti respons beragam, menunjukkan bahwa siapa yang mengakui kebutaannya akan menemukan terang (Kristus), tetapi siapa yang menyatakan bisa melihat, namun sebenaranya tidak, akan tetap buta.
Garisbesar eksegesis atau tekstual kita sesuai dengan Yohanes4 adalah sebagai berikut:
I. Kesembuhan Orang Buta (9:1-12)
A. Kejadiannya
1. Seorang yang buta sejak lahirnya (9:1)
2. Pertanyaan: “Siapakah yang berbuat dosa?” (9:2)
3. Jawaban: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan” (9:3-5)
B. Mujizat (9:6-7)
1. Cara: Meludah dan tanah dioleskan pada mata (9:6)
2. Perintah dan Hasilnya: “Pergilah, basuhlah…matanya sudah melek” (9:7)
C. Reaksi para tetangga (9:8-12)
1. Perpecahan (9:8-10)
2. Kesaksian orang buta itu (9:11-12)
II. Reaksi Orang Farisi atas Kesembuhan itu (9:13-34)
A. Persoalan: Kesembuhan terjadi pada hari Sabat (9:13-15)
B. Respon orang farisi: Marah dan Menolak untuk Percaya (9:16-34)
1. Mereka Terpecah (9:16)
2. Mereka Menginterogasi Orang itu: Pertama kali (9:17)
3. Mereka mengiterogasi orangtua orang itu (9:18-23)
4. Mereka menginterogasi orang itu: Kedua kali (9:24-34)
III. Reaksi Yesus: Mengenai orang buta dan orang Farisi (9:25-41)
A. Yesus Menemui orang itu: Percayakah engkau…? (9:35-39)
1. Pertanyaan Yesus (9:35)
2. Respons orang itu (9:36-38)
3. Pengumuman dari Yesus: Yang buta dan yang melihat (9:39)
B. Penilaian Yesus tentang orang Farisi: Mereka berdosa! (9:40-41)
1. Pertanyaan orang farisi: Apakah itu berarti bahwa kami juga buta? (9:40)
2. Jawaban Yesus: Tetaplah dosamu (9:41)
Garisbesar ini dikembangkan dari subjek/pelengkap sesuai dengan perkembangan kejadian demi kejadian dalam teks, yakni sesuai perkembangan yang terikat pada teksnya. Karena meskipun kita menggunakan metode yang sama yang dikembangkan dalam membuat garisbesar Yohanes 1:1-18 (meski berbeda karena bersifat ekspositorias) kita membuat garisbesar Yohanes 9:1-14 sedikit berbeda untuk maksud memberi ilustrasi.
Kita akan mengembangkan pokok pikiran berdasarkan tema penting dalam cerita ini—yaitu respon yang salah dan benar terhadap Yesus (Terang) dan akibatnya. Kita akan mengerjakannya secara terpisah dan akan menyimpulkannya dengan “menggugah” pendengar melalui tokoh dalam cerita yang mewakili respon yang benar. Ayat kunci kita adalah 9:39 yang merupakan satu komentar atas arti keseluruhan teksnya. Jadi pengembangan garisbesarnya akan bersifat tematis (bukan pengembangan tekstual) atas pokok pikiran sebagai berikut:
I. Pendahuluan PA: Bagaimana Kita Memberi Respon atas Sesuatu Menentukan Kehidupan Kita
II. Orang Buta Disembuhkan (1:1-7)
A. Perincian teks
1. Buta sejak lahir—mujizat ini tidak bersifat pengobatan, melainkan bersifat penciptaan (Yohanes 1:3)
2. Jelaskan teologi dibalik pertanyaan para murid (lihat komentari)
3. Fokuskan pada jawaban Yesus—terang, cahaya, kegelapan
B. Ilustrasi
C. Transisi: Tidak semua orang memberi respon atas mujizat ini seperti yang kita harapkan. Mari kita melihat beberapa respon yang berbeda …
III. Dua Macam Respon (9:8-41)
A. Beberapa Respons yang salah:
1. Tidak menghiraukan (9:9a):
a. Perincian teks: Ada yang berkata: ‘Benar, dialah ini”…dan nampaknya mereka tidak melakukan apa-apa!
b. Ilustrasi/Peringatan untuk Anda dan pendengar
c. Penerapan: Jangan biarkan sikap tidak acuh mempengaruhi penilaian Anda: Rangkulah Terang itu!
d. Transisi untuk masuk pada respon berikut: “Takut”
2. Takut (9:18-23)
a. Perincian teks: orangtua orang itu dan ketakutan mereka
b. Ilustrasi/Peringatan untuk Anda dan pendengar
c. Penerapan: Jangan biarkan ketakutan menghalangi Anda untuk merangkul Kristus!
d. Transisi untuk masuk pada respon berikut “Menolak Kenyataan”
3. Menolak Kenyataan —Pemimpin agama (9:9b, 13-17, 24-34)
a. Perincian teks: Jelaskan kesombongan mereka: “Kami tahu…”
b. Ilustrasi/Peringatan untuk Anda dan pendengar
c. Penerapan: Jangan biarkan apa yang Anda ketahui menghalangi apa yang harus Anda pelajari! Kadang-kadang sebagai orang percaya kita “terpenjara oleh apa yang kita tahu”, kita harus peka atas hal ini. Kita mungkin tidak berada dalam kegelapan total seperti para pemimpin agama, namun kita biasanya lebih senang berada dibawah naungan dibandingkan berada dibawah terik cahaya siang hari.
d. Transisi untuk masuk pada “Akibat Respons yang salah …”
4. Akibat respon yang salah: Buta selamanya (9:39-41)
a. Perincian teks: Jelaskan keangkuhan mereka: “Kami tahu…”
b. Ilustrasi/Peringatan untuk Anda dan pendengar
c. Penerapan: Jangan biarkan apa yang Anda ketahui menghalangi apa yang seharusnya Anda pelajari!
d. Transisi untuk masuk pada “Respons yang benar”
B. Orang buta dan Respons yang benar (lihat ayat-ayat dalam perincian teks)
1. Iman yang semakin bertumbuh
a. Perincian teks: Perhatikan perkembangan iman orang buta itu (9:12,15 17, 25, 30-33, 38)
b. Ilustrasi/Dorongan untuk datang kepada terang
c. Penerapan
d. Transisi untuk masuk pada “Akibat Respons yang Benar”
2. Akibat Respon yang Benar: Penglihatan Rohani (9:39)
a. Perincian teks: Jelaskan apa artinya terang saat ini (yakni pengenalan akan Allah dan kehidupan bermoral atas dasar kasih karunia; buah Roh—Yohanes 15 dan Galatia 5:22-23).
b. Ilustrasi
c. Penerapan
d. Transisi untuk masuk ke Kesimpulan
IV. Satu Pertanyaan (Kesimpulan)
A. Anda mirip siapa dalam cerita ini? Bagaimana hidup Anda bersama Yesus (ceritakan bagaimana dan mengapa Yesus sering tidak hadir dalam cerita ini. Meskipun demikian Ia adalah tokoh utama cerita ini!)? Simpulkan beberapa respon terhadap “Terang” dalam Yohanes 9:1-41.
B. Mungkin Anda mengenal seseorang yang tidak menolak Yesus di depan banyak orang, dan mereka tidak takut untuk beriman kepadaNya, dan tidak acuh-tak-acuh terhadap Dia. Mungkin masih ada satu respon dalam cerita kita yang belum kita bahas. Saya menamakannya “Pikiran yang Tidak menentu”. Kita bisa melihatnya pada orang-orang awam dalam 9:8 dan pada para pemimpin agama (9:16b). Jelaskan dengan singkat teks tersebut, dan tanyakan kepada pendengar kalau mereka juga seperti itu. Jika demikian, cermati apa pikiran mereka yang tidak menentu, peringatkan mereka dengan lembut tentang bahaya iman yang tidak sungguh-sungguh, dan dorong mereka untuk menerima Kristus yang adalah Terang.
VI. Mempersiapkan PA dari Bahan Puisi—Mazmur 23
Kita mengambil contoh Mazmur 23 karena mazmur ini pendek dan kemungkinan Anda tidak asing dengannya. Kita tidak akan terlalu rinci dalam bagian bahan PA yang bersifat puitis ini, malainkan kita akan melihat bagaimana cara membuat garisbesar puisi ini dan bagaimana kita membuat garisbesar eksegetis berdasarkan pokok pikirannya. Metodenya sama debgan yang kita gunakan dalam Yohanes 1 dan 9, namun kita lebih peka dalam memahami gambar, emosi, dan ide dan dalam membuat garisbesar. Bisa dikatakan bahwa satu puisi bisa dipilah-pilah menjadi bagian-bagian kecil yang terartur yang tidak didasarkan pada alur atau episode seperti dalam cerita, tetapi yang didasarkan pada ide dan gambar yang diberikan.
Setelah melakukan sejumlah pengamatan, dan menanyakan banyak pertanyaan tentang bahan PA kita, kita harus membuat subjek/pelengkap dan garisbesar teks seperti sebagai berikut:
Subjek/Pelengkap: YHWH adalah gembala yang setia dan tuanrumah yang baik bagi pemazmur, dan oleh karena itu, pemazmur bersyukur dan mengungkapkan keyakinannya bahwa ia akan tetap berada dalam rumah YHWH, dalam satu hubungan yang akrab denganNya.
I. YHWH itu bisa andalkan, gembala yang bisa dipercaya yang memelihara, memimpinm dan melindungi pemazmur (ayat 1-4).
A. YHWH memelihara pemazmur (ayat 1)
B. YHWH memimpin dan membimbing pemazmur (ayat 2, 3)
C. YHWH melindungi pemazmur dari segala bahaya (ayat 4)
II. YHWH menyediakan hidangan menyenangkan bagi pemazmur dihadapan lawan-lawannya dan YHWH mengurapi minyak dikepalanya (ayat 5).
A. YHWH menyediakan hidangan luarbiasa bagi pemazmur dihadapan lawan-lawannya (ayat 5a, b)
B. YHWH mengurapi kepala pemazmur dengan minyak (ayat 5c)
C. Piala pemazmur penuh melimpah (ayat 5d)
III. Pemazmur merasa yakin bahwa kebajikan dan kemurahan akan mengikuti hidupnya dan ia akan hidup dalam rumah TUHAN sepanjang masa (ayat 6).
A. Kebajikan dan kemurahan Tuhan akan mengikuti pemazmur (ayat 6a)
B. Pemazmur akan diam di rumah YHWH sepanjang masa (ayat 6b)
Setiap teks memberi jawaban untuk beberapa pertanyaan utama. Misalnya dalam Yohanes 9: Apa akibat respon orang yang percaya dan yang tidak percaya kepada Kristus? Dalam Yohanes 1:1-18 kita bisa mengatakan bahwa pertanyaan utama yang bisa dijawab oleh bagian ini adalah: “Mengapa Yesus menjadi manusia?” Demikian juga ada pertanyaan dibalik Mazmur 23. Kita bisa menanyakannya sebagai berikut: “Mengapa saya bisa percaya kepada Tuhan saat segala sesuatu dalam hidup menjadi tidak pasti?” Jawabannya: Karena Ia adalah gembala yang baik dan setia dan Ia adalah tuanrumah yang baik. Sekarang mari kita mengembangkan ide homeletik ini dalam bentuk garisbesar pelajaran sebagai berikut:
I. Pendahuluan
II. Percaya kepada Tuhan sebagai Gembala yang Baik dan Setia (ayat 1-4)
A. Yang memperhatikan keperluan Kita (ayat 1-3a)
1. Perincian Teks
a. YHWH itu dekat dan pribadi (“ku” dalam ayat 1)
b. Yang diberikanNya adalah sempurna (ayat 2)
c. Yang diberikanNya membaharui dan memuaskan (ayat 3a)
d. Kesimpulan
2. Ilustrasi
3. Transisi untuk masuk pada “Yang Membimbing Kita”
B. Yang Membimbing Kita (ayat 3b-4)
1. Perincian Teks
a. Ia membimbing kita pada jalan yang benar (ayat 3b)
b. Ia membimbing kita demi namaNya (ayat 3c)
2. Ilustrasi
3. Transisi untuk masuk pada “Yang Melindungi Kita”
C. Yang Melindungi Kita (ayat 4)
1. Perincian Teks
2. Ilustrasi
D. Transisi untuk masuk pada “Bersukacita dalam AnugrahNya”
III. Bersukacita dalam AnugrahNya (ayat 5-6)
A. Perincian Teks
1. Karena Ia selalu memberkati (ayat 5)
a. Dengan hidangan dihadapan lawan-lawan (ayat 5a)
b. Dengan mengurapi kepala kita dengan minyak (ayat 5b)
c. Piala penuh melimpah (ayat 5c)
2. Karena Persekutuan denganNya Terus-menerus (ayat 6)
a. Kebaikan dan kasih akan mengikutiku sepanjang hidupku (ayat 6a)
b. Aku akan diam di rumah Tuhan selamanya (6b)
B. Ilustrasi
C. Transisi untuk masuk pada Kesimpulan
IV. Kesimpulan
A. Jadi mengapa kita perlu percaya kepada Tuhan sekarang? Ulangi pokok pikiran.
B. Ilustrsikan dengan contoh tentang orang yang percaya kepada Tuhan
C. Undang pendengar untuk memperdalam iman mereka kepada Tuhan
Ingat saat Anda mempersiapkan PA berdasarkan garisbesar ini, Anda perlu menjawab pertanyaan yang bisa mengembangkan PA Anda: (1) Apa yang perlu saya jelaskan; (2) apa yang perlu dipertahankan, atau (3) apa yang perlu diterapkan. Ingat untuk membawa pendengar ke dalam kehangatan dan kepastian lewat gambaran mengenai seorang gembala dan tuanrumah yang murah hati. Ceritakan bagaimana hidup dan peran seorang gembala dalam hidup orang Palestina, tapi pastikan Anda menceritakannya sesuai dengan perasaan, emosi, dan kebutuhan pendengar Anda. Tunjukkan komentari dan kamus Alkitab untuk pendengar yang ingin mencari informasi lebih banyak. Komentari juga biasanya akan membantu Anda dalam memahami paralelisme dalam puisi, seperti yang terdapat dalam ayat 6. Ingatkan sesering mungkin para pendengar akan pokok pikiran: mengapa mereka perlu percaya kepada Tuhan. Jangan pernah biarkan mereka lepas dari SATU “pokok pikiran.” Setiap kali Anda melihat pendengar Anda berada dalam tatapan kosong, maka itu berarti saatnya Anda mengulangi pokok pikiran Anda, baik saat itu Anda sedang membicarakannya dalam garisbesar Anda ataupun tidak!
________________________________________
1 “Ide homeletik” adalah “pokok khotbah” dan merupakan hasil usaha memindahkan teks dari konteks mula-mula ke dalam bentuk satu khotbah atau PA yang bisa dipahami alam pikir abad duapuluh-satu. Sering ini dinamakan “menjembatani jurang.”
2 “Genre” merupakan bentuk atau jenis satu tulisan yang akan dibahas. Surat-surat para rasul misalnya genre-nya adalah eksposisi, Kejadian, Keluaran, Kisah Para Rasul, dsb. genre-nya narasi, Mazmur dan kitab-kitab para nabi genre-nya adalah puisi, Wahyu genre-nya apokalipsi, dsb. Dengan mengetahui apa genre satu bahan PA akan membantu kita untuk menentukan pertanyaan-pertanyan yang mesti ditanyakan dan apa yang perlu dilakukan untuk bisa menginterpretasi dengan tepat. Ini penting untuk mempelajari Alkitab. Jika satu mahkluk asing dari planet lain dengan serius ingin mengomentari “Saturday Night Live” (satu acara di Amerika), maka kemungkinan mahluk asing itu akan salah memahami tentang politik, agama, dsb. Mengapa? Karena ia tidak memahami genre acara tersebut. Genre “Saturday Night Live” adalah komedi, dan bukan merupakan laporan serius seperti yang ditampilkan CNN setiap pukul 6:00 waktu di Amerika.
3 “Garisbesar eksegetis” adalah satu garisbesar yang dibuat secara cermat sesuai dengan perincian teks seperti yang dipahami pada konteks aslinya untuk pembacanya yang mula-mula. Jadi garisbesar eksegetis menyatakan kebenaran seperti yang dipahami sesuai dengan sejarah saat pesan itu disampaikan. Kita dituntut untuk bisa melangkah dari garisbesar eksegetis ke garisbesar teologis (yaitu garisbesar yang memuat kebenaran-kebenaran universal) ke garisbesar homeletik (yaitu garisbesar untuk pendengar di masa sekarang).
4 Garisbesar disini hanyalah memuat kembali fakta cerita dalam bentuk kerangka cerita. Garisbesar ini menunjukkan alur cerita, tanpa berusaha memuat perincian dan maknanya. Oleh sebab itu kita perlu membuat garisbesar pengajaran. Ini kadang-kadang disebut garisbesar homeletik (atau khotbah). Sebelumnya kita mengetahui ini dikarenakan bahwa Anda akan mengajar Alkitab kepada orang lain. Anda tidak sekedar mengajar isi Alkitab.
Sumber : Bible.org Oleh Greg Herrick, Ph.D. Translated by Berens

VIII Menghadapi
8.1 Menghadapi Anak yang Pemalu
1. Ciptakan rasa aman dan rasa dicintai dalam diri seorang anak yang memiliki sifat pemalu, karena anak pemalu biasanya sering merasa tidak aman dan takut.
2. Jangan memanggilnya dengan sebutan "Pemalu". Anak tersebut mungkin akan menolak julukan yang Anda berikan tersebut dengan melakukan hal-hal yang tidak diharapkan.
3. Hindarilah memaksa anak yang pemalu untuk berbicara dalam suatu kelompok yang besar. Anak yang agak pendiam biasanya akan merasa lebih bebas untuk berbicara dalam kelompok yang kecil dimana setiap anak bisa bebas berpartisipasi. Anak yang seperti ini pada akhirnya akan merasa bebas untuk berbicara dalam kelompok yang besar setelah ia berhasil mendapatkan pengalaman di kelompok yang lebih kecil.
4. Jangan pernah mempermalukan anak ketika mereka sedang memberikan pendapat! Tetapi pujilah keberaniannya dalam memberikan pendapat.
5. Pastikan bahwa anak yang pemalu menerima perhatian dan dorongan Anda secara pribadi. Tentunya hal tersebut bukan hal yang sulit untuk dilakukan.
6. Doronglah anak-anak dalam kelas Anda untuk membantu satu sama lain agar anak-anak termasuk yang pemalu merasa penting dan diterima. Hal ini akan berjalan dengan baik bila guru dapat memberi contoh dan teladan yang baik.
7. Ciptakan suasana dimana anak yang pemalu mempunyai kesempatan untuk berhasil mengekspresikan diri mereka sendiri secara pribadi walaupun dalam dalam kelompok yang kecil.
8. Doronglah anak untuk mengatakan hal-hal yang mereka sukai dan inginkan.
9. Tanyailah secara langsung anak yang pemalu tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa ia jawab dengan tepat. Anak tersebut mungkin hanya dapat menjawab dengan jawaban yang singkat. Tetapi setiap ungkapan keberhasilan akan membangun rasa diterima dan aman.
10. Pastikan bahwa anak yang pemalu menerima perhatian dan dorongan Anda secara pribadi, tanpa membuat menjadi mereka merasa "diawasi".
Sumber:
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, halaman 65 dan 147, Gospel Light, Ventura, 1992.


8.2 Menghadapi Anak Hiperaktif dalam Kelas
Anak hiperaktif secara klinis berbeda dengan anak yang tidak dapat duduk diam dalam waktu yang lama. Anak hiperaktif sering memiliki perasaan seperti orang yang terkurung dalam kamar dengan televisi, radio, stereo sistem, dan dua mesin penyedot debu yang semuanya dinyalakan secara maksimal dalam waktu bersamaan. Anda bisa bayangkan betapa berisiknya? di dalam sebuah kelas sering menjadi "terlalu berisik" bagi anak hiperaktif.
Anak hiperaktif tidak dapat memilah dan memusatkan pikiran pada satu hal pada satu saat. Mereka cenderung terus menerus bergerak baik secara mental maupun fisik. Karena anak hiperaktif tidak dapat duduk diam, tidak dapat mendengarkan, atau bahkan tidak dapat mengerjakan suatu pekerjaan dalam jangka waktu yang lama, maka mereka mengalihkan perhatian dari satu hal ke hal yang lain dan seringkali mengganggu anak-anak lain pada saat yang sama.
1. Anak hiperaktif membutuhkan kasih dan kesabaran khusus dari Anda. Anak-anak ini seringkali memerlukan bimbingan dan perhatian ekstra dari para orang dewasa di sekitarnya. Jadi, sangatlah bijaksana jika ada pembimbing tambahan ketika anak hiperaktif menjadi bagian dari kelas Anda. Carilah orang yang baik dan penyayang yang akan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan khusus anak tersebut.
2. Bantulah anak hiperaktif untuk memilih terutama aktivitas- aktivitas yang tenang sehingga dapat menolong mengumpulkan energi mereka di satu tempat. Anak hiperaktif akan berfungsi paling baik jika ia melakukan aktivitas yang paling minimum gangguannya dan yang bisa memusatkan perhatian mereka.
3. Jangan lupa untuk memperhatikan juga kebutuhan anak-anak lainnya pada saat yang sama. Anda tidak bisa membiarkan seseorang atau beberapa anak mengganggu anak-anak lainnya untuk hal-hal yang tidak perlu atau membuat kekacauan di kelas.
4. Berbicara secara pribadi, dengan sikap yang penuh kasih dan pengertian, kepada orangtua si anak hiperaktif. Dapatkan informasi langsung dari orang-orang terdekat tentang cara-cara paling efektif untuk merawat anak mereka. Orangtua akan sangat menghargai perhatian Anda terhadap keadaan anak tersebut. Karena orangtua mengenal anaknya lebih baik dibandingkan dengan orang lain, maka mereka pasti dapat memberikan saran bagaimana mengadakan pendekatan yang sudah terbukti dapat membantu.
Sumber:
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, Artikel Helping Children with Special Needs: The Hyperactive Child, halaman 65, Gospel Light, Ventura, 1992.


8.3 Mengatasi Anak yang Menganggu di Kelas
Ada seorang guru yang mendapati betapa peraturan kelas berbeda dengan kenyataan yang ada. Dia telah frustasi dengan seorang anak laki-laki yang selalu gelisah dan berkemauan keras yang menolak duduk di bangkunya dan mendengarkan cerita yang dia sampaikan. Dan dia bertanya pada dirinya sendiri, "Apa masalahnya? Bagaimana cara mengatasi hal ini? Apakah saya ingin anak itu duduk di bangku? Ataukah saya ingin dia mendengarkan cerita saya?" Akhirnya guru ini memberikan pilihan kepada anak tersebut untuk duduk di mana saja asalkan dia mau mendengarkan ceritanya dengan tenang dan tidak mengganggu yang lain di sekitarnya. Guru itu terperanjat, ternyata anak itu dengan segera patuh dan mengambil tempat duduk di belakang ruangan di atas lantai dan memberikan perhatian penuh pada ceritanya.
Cerita di atas adalah salah satu contoh bagaimana seorang guru harus cepat tanggap terhadap situasi anak di kelasnya. Berikut ini adalah beberapa saran bagi guru yang menghadapi kesulitan di kelas.
1. Apabila guru mendapati ada anak yang sulit di atur dan selalu gelisah di kelas berikan alternatif untuk duduk di lantai atau mengubah posisi dengan hati-hati asalkan ia tidak menggangu anak-anak di sekitarnya. Ajarkan dia bertanggung jawab untuk pilihannya.
2. Apabila seorang guru menginginkan anak mengerti konsep yang sedang diajarkan, berikan kesempatan dan sarana pada anak untuk menjelaskan kembali apa yang ia tangkap kepada guru atau teman sekelasnya, baik verbal maupun tulisan. Sehingga ia merasa mendapat giliran untuk mengekspresikan diri bukan hanya gurunya saja. Misalnya dengan menjawab pertanyaan atau meminta respon dari mereka di tengah-tengah cerita.
3. Apabila guru mendapati ada anak yang tidak bisa diam (selalu bergerak) sekalipun ia telah duduk di lantai, berikan dia kegiatan lain sementara dia mendengarkan anda bercerita. Misalnya dengan menggerak-gerakkan kakinya atau tanggannya, memainkan gambar tokoh yang sedang diceritakan atau mewarna gambar tokoh yang sedang diceritakan (sebaiknya gambar yang kecil sehingga tidak menyita seluruh waktu dan perhatiannya).
Sumber:
• Cythia Ulrich Tobias, Cara Mereka Belajar, Harvest Publication House, Jakarta, 1996.


8.4 Bagaimana Menolong Anak yang Berkata "Saya Tidak Bisa"?

Mengapa ada anak-anak yang memiliki kebiasaan selalu menjawab "saya tidak bisa", jika guru menyuruhnya melakukan sesuatu, khususnya jika ia disuruh melalukan hal-hal yang baru? Padahal belum tentu ia tidak bisa karena dicoba pun belum. Bagaimana guru dapat membantu anak yang demikian? Salah satu sebab utama adalah karena anak takut melakukan kesalahan. Oleh karena itu ada beberapa hal yang guru bisa ketahui dan lakukan:
1. Guru perlu memberikan rasa aman, bahwa kalau anak melakukan kesalahan (gagal) anak tidak akan kehilangan harga diri atau merasa ditolak dan dihina. Oleh karena itu hindarkan kata-kata yang menyakitkan seperti: "Mengapa begitu saja tidak bisa?", "Anak-anak lain bisa, mengapa kamu tidak bisa?", "Kamu bodoh, kurang berpikir" atau "Ini seharusnya mudah sekali, mengapa kamu tidak bisa?" (dan kalimat-kalimat sejenisnya).
2. Guru perlu memberitahukan bahwa kegagalan adalah bagian dari belajar. Yakinkan bahwa setiap orang pernah berbuat salah, tapi dari situlah kita bisa belajar. Guru bisa menolong dengan berkata: "Coba dulu, kalau salah nanti coba lagi, pasti nanti lama-lama bisa" atau "Ini memang kelihatannya sulit, tapi kalau sudah dicoba kamu akan tahu bahwa sebenarnya kamu bisa."
3. Ketika anak berkata "Saya tidak bisa" sebenarnya anak ingin berkata: "Perhatikan saya, saya ingin bisa melakukannya, tapi anda bantu saya karena saya takut melakukan kesalahan." Oleh karena itu ada kalanya guru perlu mendampingi anak dalam melakukan tugas itu bersama-sama. Guru bisa berkata, "Oke, saya kerjakan bagian ini, kamu bagian itu, nanti kita selesaikan bersama-sama." atau "Saya coba dulu, kamu melihat, sesudah itu kamu ikuti saya, ya!"
4. Kalau anak pernah mengalami kegagalan yang sangat menyakitkan sering kali ia tidak lagi berani mencoba apapun, sehingga untuk menghindarkan diri ia akan berkata: "saya tidak bisa". Untuk itu guru perlu memberi dorongan yang lebih kuat, dan katakan: "Kamu tidak perlu memaksakan diri, lakukan apa yang kamu bisa. Yang kamu tidak bisa kita akan kerjakan bersama-sama", atau "Sekarang saat yang tepat untuk. Tidak ada orang lain yang akan menyalahkan atau mengkritik apa yang kamu lakukan."
Saran-saran di atas secara prinsip bisa diterapkan untuk semua umur, tetapi untuk umur-umur balita, guru perlu memakai kata-kata yang lebih sederhana dengan kalimat yang pendek-pendek.

8.5 Mengatasi Anak Kecil yang Berbohong
Apakah kebohongan pada anak batita (di bawah tiga tahun) merupakan perilaku yang perlu dikuatirkan? Apakah seorang anak batita yang "berbohong" dapat dikatakan telah berdosa? Apakah kebiasaan "berbohong" pada anak batita tertentu merupakan prediksi tentang sikap moral anak di masa yang akan datang?
Sebagai guru Sekolah Minggu, khususnya yang mengajar anak-anak pra-sekolah, kita perlu mencermati dengan lebih jelas mengenai kondisi mental serta penyebab munculnya kebohongan tersebut. Kasus kebohongan pada anak yang masih kecil ini biasanya agak berbeda dari kasus-kasus yang terjadi pada anak yang lebih besar, yang sudah memahami apa itu berbohong.
Sebuah buku pedoman mengenai anak batita Anak di Bawah Tiga Tahun: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan pada salah satu bagiannya membahas khusus perilaku berbohong pada anak batita dan menjelaskan 4 alasan anak berbohong, yaitu:
1. Kebutuhan untuk mempertahankan kebaikan
Menurut pikiran anak batita, menolak mengakui perbuatan salah akan membuat perbuatan ini lenyap dan ia tetap 'bersih'.
2. Keinginan untuk menghindari konsekuensi
Pikiran anak berlanjut: "Jika saya tidak menceritakan pada ayah bahwa saya telah menjatuhkan crayon, mungkin saya tidak usah memungutnya kembali."
3. Ingatan yang masih pendek
Ketika Jonathan menuduh Laura merebut truk darinya, ia mungkin sudah lupa bahwa dialah yang merebutnya terlebih dulu dari Laura.
4. Kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan dengan sepenuhnya
Ketika Kayla mendapat boneka baru, Hillary sama sekali bukan bersikap tidak jujur ketika berkata "Saya juga mendapat boneka baru." Bagaimana pun, mengucapkan khayalannya akan membuat ia merasa lebih baik.
Berhubung "kebohongan" pada anak batita kemungkinan besar disebabkan oleh pengertiannya yang masih berkembang tentang yang benar dan yang salah, tindakan yang jujur dan tidak jujur, dan seringkali "kebohongan" tersebut tidak digunakan untuk maksud jahat atau sudah dipersiapkan sebelumnya, maka jenis "kebohongan" ini tidak selayaknya mendapatkan hukuman.
Namun demikian, adalah tidak tepat juga bila kita membiarkan saja mereka "berbohong" dengan pemikiran toh nantinya mereka akan mengerti sendiri bila sudah besar. Justru di sinilah peran kita sebagai guru Sekolah Minggu untuk membentuk pemahaman yang benar dalam diri anak untuk bersikap dan berlaku jujur sejak dini.
Beberapa tips di bawah ini dapat membantu para guru untuk menanamkan kejujuran pada anak-anak pra-sekolah:
1. Jangan membawa anak ke dalam "pencobaan"
Bila anda dengan jelas melihat anak melakukan suatu perbuatan yang tidak benar, misal mendorong atau memukul temannya, jangan tanyakan "Apakah kamu yang mendorong Ani?" Sebaiknya langsung saja katakan "Saya lihat kamu mendorong Ani. Maukah kamu menceritakan pada saya mengapa kamu melakukan hal itu?"
2. Jangan memaksa anak untuk "mengaku"
Jika anda mendapati anak menyangkali perbuatannya (padahal dengan jelas anda telah melihatnya sendiri) janganlah memaksa dia atau memojokkannya sampai anda mendapatkan pengakuannya. Hal ini justru akan membuat perasaan anak terluka dan hubungan di antara kalian menjadi rusak. Lebih baik anda menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya itu tidak benar (dan jelaskan secara singkat alasannya). Bila perlu berikan 'sanksi' atas tindakannya yang salah tersebut (BUKAN atas "kebohongan"nya) berikanlah dengan tegas dan tetap ramah. Jika dalam kasus tertentu anda tidak mengetahui kejadian sesungguhnya, jangan pernah sekali- kali menuduh anak, (misal: "Ari, pasti ini kamu yang memukul Nona") apalagi memberi hukuman padanya. Untuk hal semacam ini, lebih baik anda bertanya pada anak apa yang baru saja terjadi dan apa pun cerita mereka terimalah dan katakan, "Saya senang bila kamu mau mengatakan yang sebenarnya."
3. Memberikan penghargaan pada anak yang berlaku jujur
Bila ada anak yang jujur mengakui perbuatannya yang kurang baik, misalnya: mengaku telah memukul temannya, katakan padanya "Saya senang kamu mengatakan hal yang sebenarnya/jujur." Tapi, bukan berarti pengakuannya ini akan membuatnya terlepas dari tanggung jawab. Sebaiknya guru tetap memberikan 'sanksi' atas perbuatannya tersebut, misalnya dengan mengajaknya meminta maaf kepada teman yang baru saja dipukulnya.
4. Menyampaikan cerita teladan
Dalam beberapa kesempatan, ceritakan berbagai kisah Alkitab yang menyorot tindakan berbohong dan tunjukkan bahwa Tuhan tidak membenarkan tindakan tersebut. Beberapa cerita teladan di luar Alkitab juga dapat disampaikan pada anak, misalnya: "The Boy Who Cried Wolf" (Anak Laki-Laki yang Teriak Serigala).
5. Menjadi teladan bagi anak
Sebagai guru, kita sendiri harus mampu bersikap dan bertindak jujur. Bahkan "kebohongan putih" pun sebaiknya tidak dilakukan oleh guru Sekolah Minggu. Misalkan anak ingin bermain lift sementara ada banyak orang menunggu giliran untuk menggunakannya.
Lebih baik langsung saja kita katakan "Maaf ya, kita harus bergantian karena ada banyak orang yang juga ingin menggunakan lift." daripada mengatakan "Wah, liftnya rusak!" atau "Awas, di dalam lift ada hantunya." dan macam-macam alasan tidak benar lainnya.
Bersikap dan berlaku jujur merupakan kebiasaan yang harus dipupuk sejak dini. Karena itu, didiklah anak-anak yang Tuhan percayakan kepada anda supaya mereka bertumbuh menjadi anak yang sehat jiwa serta rohaninya.
Selamat melayani.
Sumber:
• Arlene Eisenberg; Heidi E. Murkoff; Sandee E.; Hathway, B.S.N., Anak di Bawah Tiga Tahun: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan, halaman 490 - 493, Penerbit ARCAN.


8.6 Menegur murid
Menghadapi murid yang sulit untuk disiplin, terkadang membuat kita, sebagai guru, ingin selalu menghukumnya. Tetapi seharusnya, Anda tidak larut dalam emosi. Tegurlah mereka terlebih dahulu. Jangan berpikir kalau hanya dengan menegur saja, mereka tidak akan bisa berubah. Berikut ini saran-saran praktis agar teguran Anda dapat menjadi satu alat pendisiplinan yang berarti buat mereka.
MENEGUR MURID
1. Bila semua usaha Anda untuk menangani seseorang atau sekelompok murid gagal, tanganilah mereka secara pribadi. Secara umum, jangan gunakan hukuman yang mempermalukan anak di depan orang banyak. Tegurlah mereka secara pribadi, tetapi jangan sampai Anda menyakiti hati murid dan memengaruhi pandangannya terhadap Kristus dalam kehidupannya. Sebagai seorang Kristiani, kita tidak pernah punya hak untuk menyakiti, bahkan saat kita harus menangani situasi yang paling sulit sekalipun.
2. Menegur anak tidak berarti menghardiknya dengan kata-kata keras. Menegur bisa juga dengan jalan mendiskusikan masalah secara pribadi dengannya. Saat berdiskusi, pusatkan perhatian Anda pada hal-hal berikut:
a. Berilah penjelasan yang cukup tentang suatu kesalahan yang dilakukan. Kaitkanlah dengan kerugian yang akan menimpa seluruh kelas, bukan hanya mengganggu Anda.
b. Cobalah untuk mendapat kesepakatan tentang perbuatan yang dianggap salah. Pada umumnya, hindarilah pertanyaan seperti, "Mengapa kamu berbuat seperti itu?" Murid Anda jarang mengetahui jawabannya!
c. Yakinkan murid bahwa Anda percaya, ia dapat memenuhi harapan Anda untuk berkelakuan baik di kelas. Dalam hal ini, cobalah untuk memperoleh persetujuan.
d. Setelah murid mengerti, jelaskan kembali tentang kelakuan yang Anda harapkan. Jelaskan sespesifik mungkin. Sekali lagi, mintalah murid agar berkomitmen untuk berkelakuan baik dan tidak merugikan kelas.
e. Ingatkan murid bahwa pilihan akan kelakuannya juga merupakan pilihan akan konsekuensi yang ditimbulkan. Arahkanlah murid untuk membuat kesepakatan bahwa ia sendirilah yang memilih hukuman itu.
f. Dalam mengembangkan relasi pribadi murid dengan Tuhan, kadang- kadang ada waktu yang tepat, tetapi kadang-kadang juga tidak. Berserahlah sepenuhnya kepada pimpinan Roh Kudus saat Anda membimbing seorang anak untuk bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi. Pada saat yang sama, jangan melakukan tindakan yang menyakiti "untuk memaksa" murid. Kebajikan Allahlah yang memimpin seseorang pada pertobatan.
g. Yakinkan murid bahwa Anda merindukan keberadaannya di kelas Anda. Tunjukkanlah bahwa Anda mengasihi dan melihat potensi besar dalam hidupnya saat ia menyerahkan hatinya kepada Allah dan memiliki disiplin pribadi.
h. Berbagilah konsekuensi dari masalah yang berkelanjutan bila Anda rasa perlu.
3. Tindaklanjuti satu atau dua hal yang telah Anda bicarakan secara pribadi dengan murid, minimal yang berusia sekolah dasar. Pertimbangkanlah untuk menyusun suatu kesepakatan mengenai kelakuan yang spesifik. Tuliskanlah kesepakatan itu dengan jelas beserta harapan dan konsekuensi yang disetujui kedua pihak, baik guru maupun murid. Pihak ketiga dapat menjadi saksi. Tentukan pula tanggal atau hari untuk mempelajari kesepakatan itu dan berilah satu salinan kepada murid. Pastikan untuk melaksanakan apa yang ada dalam kesepakatan itu.
4. Sebagian dari kesepakatan setelah Anda menegur melalui pembicaraan empat mata dengan murid dapat digunakan untuk menetapkan tanda teguran akan kelakuan yang tidak baik. Tanda teguran tersebut mungkin berupa ketukan pensil di meja atau batuk pelan yang berarti murid tersebut hampir melakukan sesuatu yang tidak dapat Anda terima. Murid-murid yang lain tidak mengetahui tanda ini. Tanda ini, kadang-kadang, dapat membantu mengajar murid bagaimana memonitor tingkah lakunya sendiri.
5. Berkonsultasilah dengan penyelia atau koordinator Anda mengenai cara-cara yang Anda rasa tidak efektif untuk menegur dan mengoreksi seorang murid. Biasanya terjadi bila Anda telah dengan terpaksa menegur murid di dalam kelas atau setelah mengadakan pembicaraan pribadi dengan murid, namun murid tetap tidak berubah. Atasan Anda dapat membantu memutuskan pendekatan alternatif atau menentukan bilamana orangtua murid perlu dihubungi.
6. Jangan menegur murid dengan jalan menyebarkan kesalahan mereka kepada orang lain. Ini akan merusak reputasi murid, menimbulkan pengingkaran oleh orangtua, dan merusak kesatuan tubuh Kristus.
7. Jangan ragu untuk menghubungi orangtua murid, tetapi perhatikan baik-baik cara pendekatan Anda. Bila Anda kecewa terhadap murid dan menegur murid dengan melontarkan komentar seperti, "Johnny sungguh tidak dapat diatur hari ini," atau "Ia membuatku gila!" Anda akan merusak suatu hubungan baik. Para orangtua harus merasakan bahwa Anda dan mereka tidak bertentangan. Sebaliknya, Anda berdua berada di pihak yang sama. Bila Anda tidak "menyerang", para orangtua pada umumnya tidak bersikap defensif. Katakanlah bahwa Anda sedang mengalami beberapa masalah, dan akan membantu bila Anda dan orangtua murid dapat duduk dan membicarakannya. Pilihlah waktu dan tempat, serta bersiaplah untuk memberi contoh masalah perilaku murid dan apa yang telah Anda lakukan untuk mengoreksi murid. Terbukalah terhadap saran- saran dari orangtua dan terimalah dukungan mereka. Bersamaan dengan itu, Anda meyakinkan mereka bahwa Anda mengasihi dan memperhatikan anak mereka.
8. Anggaplah orangtua sebagai mitra kerja Anda, khususnya dalam memberi laporan peningkatan dan laporan tentang prestasi yang baik. Namun, tidaklah adil bila Anda mengharapkan orangtua untuk mengatasi masalah kedisiplinan di dalam kelas. Itu adalah tugas Anda. Kerapkali orangtua menunjukkan bahwa mereka ingin diberi laporan harian, tetapi guru malah memindahkan "beban" tindak lanjutnya kepada orangtua. Padahal, yang dimaksud orangtua adalah "Kami ingin mendengar bahwa anak kami mengalami kemajuan." Laporan negatif yang terus-menerus diberikan akan merusak hubungan Anda. Dan akhirnya, orangtua justru menjadi kurang yakin dengan kemampuan Anda sebagai guru untuk menangani murid secara positif.
9. Bila murid tetap "bersikeras" untuk berkelakuan tidak baik dan tidak menanggapi teguran dari guru, langkah yang lebih serius haruslah diambil untuk mendiagnosa konflik emosional yang mungkin ada di dalam diri murid, misalnya kurangnya perhatian, masalah dalam hal belajar, atau penyebab utama lainnya. Berikut adalah beberapa saran mengenai hal ini:
a. Adakan pertemuan dengan penyelia Anda, orangtua murid, dan para ahli yang dapat Anda akses untuk mempelajari masalah- masalah yang Anda hadapi.
b. Berikan evaluasi profesional dan rekomendasi kepada anak supaya mendapat perawatan.
c. Berikan konseling profesional bagi anak dan keluarganya.
d. Berikan rekomendasi yang menjelaskan bahwa sekolah Anda bukanlah lingkungan pendidikan yang paling tepat bagi si anak, bahwa ia dapat dicoba dipindahkan ke tempat lain yang dapat memberinya kelas yang lebih baik dan pelayanan yang lebih memadai.
Sumber:
• Sharon R. Berry, Ph.D., 100 Ide Efektif untuk Menerapkan Disiplin pada Anak-anak, Artikel Intervensi Pribadi, halaman 38 - 45, Gloria Graffa, Yogyakarta, 2004.


IX TIPS
9.1 Membuat Anak Betah di Sekolah Minggu
Merasa diterima merupakan kebutuhan setiap orang, termasuk anak- anak Sekolah Minggu, baik anak baru maupun anak lama, karena hal tersebut akan membuatnya merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Bila seorang anak baru telah merasa "diterima", niscaya dia akan menjadi anak yang setia datang ke Sekolah Minggu, bahkan juga akan mengajak jiwa-jiwa baru untuk datang ke SM. Bagaimana membuat mereka merasa diterima?
A. Membuat Anak Baru Merasa Diterima
Guru harus pandai-pandai "membaca" situasi. Ada anak yang sangat pemalu dan peka perasaannya, sehingga saat perkenalan di depan orang banyak (apalagi bila ada teman yang menertawakannya saat acara perkenalan tsb) dapat menimbulkan reaksi yang negatif pada anak tersebut untuk belajar menyukai SM. Sementara itu ada pula anak yang senang dan merasa dihargai bila diminta tampil di depan orang banyak, dan mungkin juga malah merasa senang bila ada teman yang tertawa karena "ulah"nya.
Oleh sebab itu, sekali lagi, guru harus pandai-pandai bersikap dan bijaksana dalam memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan dalam menyambut anak-anak baru supaya mereka mempunyai pengalaman yang menyenangkan. Paulus Lie dalam bukunya yang berjudul: "Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif" memberikan beberapa saran untuk acara perkenalan:
a. Pengalungan Medali
Tentu saja bukan medali sungguhan, guru bisa membuat kalung dari beberapa permen (atau benda-benda hiasan lain) yang dirangkai menjadi satu sehingga menyerupai sebuah medali. Anak yang baru hadir akan menerima pengalungan medali (kalung) dari seorang anak lama, selanjutnya semua anak lama memberikan salam kepada anak baru tersebut.
b. Wawancara Khusus
Guru dapat menjadi semacam "reporter" (seperti seorang wartawan). Dengan bergaya "lucu", guru dapat menanyai anak baru tersebut. Berikan pertanyaan yang unik tanpa menyinggung perasaannya, mis: "Maaf, boleh saya kenal nama anda?" "Oh, jadi anda ini yang bernama: Joko. Pak Joko, kami semua senang bertemu anda di sini." Walau sederhana, wawancara santai ini menarik dan berkesan. Anda bisa meminta data anak itu, dalam bentuk dialog. Namun jangan ada kesan "menginterogasi" anak baru tsb. di depan kelas.
c. Jadikan Dia Tokoh Minggu Itu
Jika dalam suatu ilustrasi cerita diperlukan nama tokoh tertentu, guru boleh menjadikan nama anak baru tersebut sebagai nama tokoh yang akan diceritakan. Intinya, libatkan anak baru dalam acara hari itu, atau dengan sengaja meminta pendapatnya dalam suatu diskusi. Jangan sampai terkesan guru seolah-olah acuh, sebaliknya tunjukkan bahwa ia sangat diperhatikan.
B. Membuat Anak Lama Merasa Betah
Disamping mempersiapkan berbagai kiat menghadapi anak baru, guru juga harus mengatur strategi untuk mempertahankan anak-anak yang telah lama agar setia di SM. Beberapa hal yang dapat dilakukan:
a. Adakan Kunjungan
Pada kunjungan ini, selain guru memiliki kesempatan untuk memperkenalkan diri dengan lebih baik pada anak dan keluarganya, anak juga akan senang karena tahu bahwa gurunya memperhatikan dia. Guru juga dapat membuat program perkunjungan dengan bersama dengan beberapa anak-anak/teman-teman sekelasnya.
b. Libatkan dalam Acara
Anda dapat melibatkan anak dalam kegiatan rutin Sekolah Minggu gereja, misalnya mengedarkan kantung persembahan atau tugas sederhana lainnya, seperti: menghapus papan tulis, membantu menempelkan alat peraga, membantu membereskan kelas seusai kebaktian, menghitung uang persembahan, dsb. Sebelumnya berilah pesan pada anak yang bersangkutan, "Minggu depan Kakak harap kamu datang lagi. Kakak mau minta tolong agar kamu membantu Kakak." Jika seorang anak merasa "dibutuhkan," maka harga dirinya akan terangkat. Dan ia akan "berusaha" sebisanya untuk hadir. Bisa juga anda meminta anak untuk mengundang teman-temannya yang lain. Semain banyak temannya semakin senang ia di SM. Bila perlu siapkan surat undangan SM untuk dibagikan kepada teman- temannya yang lain yang belum memiliki SM.
c. Tunjuk Seorang Penjemput
Guru juga bisa meminta 1-2 anak yang rumahnya berdekatan dengan anak yang perlu mendapat perhatian khusus -- misalnya: anak baru, anak yang baru sembuh dari sakit, anak yang telah lama tidak datang ke Sekolah Minggu -- untuk mengingatkan dan mengajaknya ke SM bersama (dijemput). Dengan demikian si anak yang perlu mendapat perhatian ini dapat tertolong dengan "mempunyai kawan" untuk ke SM. Jika tidak ada anak yang bersedia (atau malu), guru dapat menjadi pelopor penjemputan. Usahakan guru tidak sendirian, melainkan menjemput bersama dengan 1-2 anak SM lainnya.
d. Libatkan Anak dalam Acara Kelompok
Cara termudah dan efektif adalah dengan membuat acara kelompok di kelas. Buatlah supaya setiap anak merasa "diterima" dan "punya kelompok" di SM. Cara ini akan membuat setiap anak kerasan dan rindu terus untuk hadir.
e. Berikan Info Acara Sekolah Minggu
Kebanyakan anak Sekolah Minggu tidak tahu apa-apa tentang SM yang mereka ikuti, akibatnya walaupun acara minggu depan menarik, mereka tidak datang. Karena itu berilah waktu untuk berbincang-bincang dan menjelaskan sedikit kepadanya tentang acara minggu depan di akhir pertemuan atau sesaat sebelum anak pulang. Jika surat undangan SM tersedia (untuk acara khusus), berikan surat undangan tsb. dan minta mereka untuk mengundang teman-temannya.
f. Doakan
Doakanlah setiap anak di kelas anda dengan menyebut namanya. Perhatikan perubahan apa saja yang terjadi ketika anda berdoa bagi mereka.
Sumber:
• Paulus Lie, Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif, halaman 75 - 77, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997.


9.2 Agar Anak Tidak Mudah Bosan di Kelas
Tahukah anda bahwa anak-anak perlu bergerak dan bermain? Akan sangat sulit mengajak anak untuk bisa diam lebih dari 5 menit. Oleh karena itu supaya anak tidak mudah bosan selama mendengarkan cerita anda, selingilah cerita itu dengan berbagai aktivitas badan, misalnya, menirukan suara-suara tertentu, mengangkat tangan, melakukan gerakan tertentu yang sesuai dengan cerita anda, atau bahkan dengan menyanyi lagu yang mendukung cerita anda. Buatlah agar suasana kelas gembira dan penuh tawa, karena hal itu sangat dibutuhkan untuk anak merasa aman dan diterima, dan pasti anak-anak akan menjadi betah di kelas anda.

9.3 Bagaimana Menghidupkan Sekolah Minggu?
Pada umumnya, gereja yang mendirikan Sekolah Minggu. Namun bisa juga terjadi dari Sekolah Minggu didirikan gereja. Bagaimana pun kondisinya, Sekolah Minggu merupakan salah satu alat pekabaran Injil dan pembinaan iman yang sangat strategis dan menentukan proses pertumbuhan serta perkembangan gereja.
Ada dua hal penting yang harus mendapat perhatian khusus bila menginginkan Sekolah Minggu anda HIDUP, dinamis, dan bertumbuh, hal yang pertama adalah VISI dan yang kedua adalah PENGETAHUAN.
1. Visi
"Bila tidak ada wahyu (visi), menjadi liarlah rakyat." (Amsal 29:18)
Anda harus mengetahui dengan jelas maksud dan tujuan Sekolah Minggu didirikan. Sekolah Minggu hadir di gereja bukan berfungsi sebagai "tempat penitipan anak" sementara para orang dewasa mengikuti kebaktian. Sekolah Minggu hadir di gereja sebagai sarana mengajarkan Firman Tuhan pada anak-anak; untuk menuntun anak mengenal jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus dan turut melengkapi anak untuk setiap perbuatan yang baik (2 Tim 3:16-17).
Mendirikan Sekolah Minggu jelas memerlukan sebuah perencanaan yang matang. Hanya panggilan Tuhanlah yang dapat menggerakkan seseorang untuk memulai pekerjaan ini dengan benar dan menghasilkan buah. Datangnya masalah justru menjadi kesempatan untuk makin menempa serta menguatkan keberadaan Sekolah Minggu tersebut. Ujian demi ujian juga akan makin memurnikan anda untuk makin setia dan tekun melayani-Nya.
Berdoa dengan tiada henti adalah salah satu syarat mutlak dalam usaha merintis sebuah pelayanan Sekolah Minggu. Doa dibutuhkan tidak hanya saat Sekolah Minggu menghadapi masalah/hambatan seperti: jumlah murid yang cenderung menurun, guru yang tidak bersemangat, atau kurangnya dana. Segala hal, baik itu permasalahan atau keberhasilan Sekolah Minggu tetap harus dibawa dalam doa kepada Tuhan.
2. Pengetahuan
Banyak pemimpin gereja maupun pekerja Sekolah Minggu mempunyai visi untuk membangun Sekolah Minggu yang besar, tetapi tidak sedikit dari mereka yang kurang memiliki pengetahuan. Akibatnya Sekolah Minggu yang mereka kelola tidak dapat bertumbuh atau berkembang dengan maksimal.
Beberapa pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola Sekolah Minggu sebenarnya dapat diperoleh dari berbagai sumber, misalnya: ceramah/seminar/lokakarya, tulisan dari berbagai buku, majalah, jurnal, melakukan studi banding, dan sebagainya.
Secara singkat, ada beberapa hal penting yang harus diketahui untuk dapat mengelola Sekolah Minggu dengan lebih baik dan terarah:
2.1 Sumber Daya Manusia
Para pelayan di Sekolah Minggu, entah itu pendeta/pembimbing, guru, atau staf administrasi haruslah memiliki visi yang sama, dan masing-masing harus pula mengetahui "peran" apa yang diharapkan dari mereka serta mempunyai kemampuan/ketrampilan bagaimana melakukan peran tersebut.
Pembimbing Sekolah Minggu sedikit banyak harus belajar bagaimana berorganisasi dan membina hubungan dengan berbagai jenis orang. Beberapa tips manajemen praktis seperti perencanaan, pendelegasian tugas, teknik memotivasi orang, dan sebagainya, perlu pula dipelajari guna menunjang pelaksanaan Sekolah Minggu maupun terbinanya hubungan yang sehat di antara para pekerja Sekolah Minggu.
2.2 Program
Merencanakan sebuah program Sekolah Minggu tidaklah mudah. Selain hal tersebut melibatkan kepentingan orang banyak juga membutuhkan wawasan dan pemahaman yang tepat mengenai apa yang sedang dibutuhkan oleh anak yang akan dilayani dalam Sekolah Minggu tersebut. Program Sekolah Minggu untuk anak yang tinggal di kota besar tentunya berbeda dengan Sekolah Minggu yang berada di desa, misalnya.
Sebaiknya dalam menyusun sebuah program Pembimbing Sekolah Minggu tidak melakukannya seorang diri. Dengan melibatkan berbagai orang seperti: para guru Sekolah Minggu, orang tua, anak, melakukan studi banding ke Sekolah Minggu lain, atau mengadakan survey, misalnya, akan diperoleh banyak masukan yang berharga. Sehingga program yang tersusun benar-benar teruji dengan matang dan sesuai dengan kebutuhan anak yang akan dilayani.
2.3 Tempat dan fasilitas
Keterbatasan tempat dan fasilitas yang kurang baik kurang tepat untuk dijadikan alasan tidak berkembangnya sebuah Sekolah Minggu. Justru dengan berbagai kesulitan di atas, anda ditantang untuk makin kreatif! Mengembangkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan ide-ide sangat diperlukan dalam mengelola Sekolah Minggu yang berhasil.
Ingatlah bahwa Tuhan yang memanggil anda dalam pelayanan Sekolah Minggu adalah Tuhan yang Maha Kuasa dan tidak terbatas Kuasa-Nya.
2.4 Perubahan dan Kemajuan
Orang yang sudah puas dengan apa yang diketahuinya dan pola pemikirannya, tanpa ada keinginan untuk meningkatkan kemampuan dirinya atau belajar hal-hal baru, tidak akan mencapai hasil yang optimal. Hal ini berlaku bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk pekerjaan atau pelayanannya.
Tuhan ingin setiap anak-Nya mengalami pertumbuhan (tidak statis), Tuhan juga ingin gereja-Nya, dalam hal ini "Sekolah Minggu-Nya", bertumbuh.
Bagaimana pun sulitnya dan beratnya tantangan pelayanan di Sekolah Minggu yang tengah anda hadapi saat ini, ingatlah bahwa Tuhan sendirilah yang telah memanggil anda (memberikan visi pada anda). Melengkapi diri dengan berbagai pengetahuan adalah salah satu bentuk tanggung jawab kita melayani di Sekolah Minggu.
Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, halaman 213 - 215, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.


9.4 Ketika Anak Berkata: Aku Tidak Mau Pergi ke Sekolah Minggu
"Setiap orang harus pergi Sekolah Minggu, Sekolah Minggu, Sekolah Minggu. Ibu, ayah, dan anak-anak, semuanya harus pergi Sekolah Minggu." Jika Anda membaca kalimat-kalimat lama ini, gambaran apa yang ada di dalam benak Anda? Ayah dan ibu bersama satu atau dua orang anak mereka dengan bahagia melangkah memasuki gereja? Seorang ibu yang berjuang seorang diri menyuruh anaknya untuk pergi ke gereja tepat waktu? Suatu perdebatan yang terus menerus terjadi antara seorang ibu dan anaknya yang memberontak dan setiap minggu selalu mengatakan, "Sekolah Minggu itu M-E-M-B-O-S-A-N-K-A-N?"
Bagaimanapun keadaan Anda, ada saatnya Anda sebagai orangtua atau guru dihadapkan pada keengganan anak untuk datang Sekolah Minggu. Bagi para orangtua, kejadian seperti ini bisa mulai terjadi di awal- awal tahun ketika Anda melepaskan rangkulan anak Anda yang sudah mulai belajar berjalan atau saat Anda mendengarkan rengekan keputusasaan yang biasa Anda dengar ketika Anda tergesa-gesa keluar dari ruang anak-anak di gereja. Kemudian, ketika anak Anda tumbuh, Anda bertanya-tanya bagaimana menanggapi anak Anda ketika mereka secara tidak diduga berkata, "Apakah hari Minggu ini kami boleh di rumah saja?" Para guru Sekolah Minggu pun juga merasakan saat-saat yang mengecewakan dan membuat mereka frustasi ketika mereka merasakan keengganan anak-anak untuk datang Sekolah Minggu.
Lalu, siapakah yang akan hadir di Sekolah Minggu? Semua orang! Berikut ini kami berikan beberapa tuntunan tentang bagaimana menjadikan ini bisa terjadi di keluarga ataupun kelas Anda.
1. Jangan Panik
Ketika pertama kali Anda mendengar teriakan, keluhan, atau pertanyaan seperti di atas. Ingatlah bahwa sentuhan yang lembut adalah pendekatan terbaik yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Seorang guru atau orangtua yang memperlakukan seorang anak yang enggan untuk pergi Sekolah Minggu dengan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan atau dengan kemarahan, akan berisiko seperti yang dikatakan pepatah, "sekepal menjadi segunung". Fakta menunjukkan bahwa respon yang biasa-biasa saja malah akan lebih membantu dalam menyelesaikan masalah. Misalnya, sebagai orangtua Anda bisa menjawab, "Dalam keluarga kita, kita selalu merencanakan untuk Sekolah Minggu. Kamu tahu, ada satu hal yang sangat menarik ketika ikut Sekolah Minggu, yaitu bertemu dengan teman-teman. Siapa saja teman-temanmu di Sekolah Minggu?"
Mengubah suatu keluhan menjadi suatu pernyataan yang positif adalah salah satu cara untuk meningkatkan antusias anak terhadap Sekolah Minggu. Bagi anak yang usianya lebih dewasa, mungkin diperlukan pendekatan-pendekatan yang hangat. "Saya tahu kamu tidak mau datang Sekolah Minggu saat ini. Tetapi menurut saya, Sekolah Minggu merupakan cara yang tepat untuk tetap belajar tentang Firman Tuhan dan bagaimana Dia menghendaki kita untuk hidup. Jadi kita akan tetap ber-Sekolah Minggu."
2. Ambil Tindakan
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan bersama-sama oleh orangtua dan guru untuk menimbulkan antusiasme anak terhadap Sekolah Minggu. Orangtua bisa mengambil tindakan yang pertama, khususnya jika anak tidak bersekolah di sekolah yang sama dengan teman- teman Sekolah Minggunya, atau anak Anda adalah anak baru di Sekolah Minggu tersebut. Rencanakan untuk menyediakan waktu khusus agar bisa lebih mengenal anak-anak Anda. Dengan demikian, anak-anak akan merasa lebih nyaman di kelas. Undanglah anak lain atau keluarganya untuk makan malam atau pesta kebun. Bahkan akan sangat menolong pula untuk mengajak guru murid Anda mampir sebentar ke rumah Anda. Buatlah anak Anda menyadari bahwa Anda juga tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi di kelasnya. Periksalah PR yang telah diselesaikan oleh anak Anda. Sediakanlah waktu untuk bisa bercakap-cakap dengan mereka dan menghafal ayat- ayat Alkitab bersama. Sebelum Sekolah Minggu dimulai, berdoalah bersama-sama agar Tuhan menolong setiap orang dalam keluarga Anda untuk bisa menikmati dalam belajar dan memuji Tuhan di gereja.
Mungkin, terkadang orangtua akan mendapati anak mereka tidak menikmati Sekolah Minggu karena faktor-faktor yang tidak bisa diubah. Anak Anda mungkin adalah satu-satunya anak perempuan di kelas yang semuanya anak laki-laki atau mungkin karena acara di kelasnya yang tidak bervariasi. Dalam keadaan seperti ini, yang pertama kali harus Anda lakukan adalah mengetahui perasaan tidak senang yang dirasakan oleh anak Anda. Dengarkan apa yang dipikirkannya tentang Sekolah Minggu. Kemudian Anda bisa menyarankan beberapa ide kepada anak Anda. Bisa juga Anda membantunya dengan menjadi sukarelawan (buatlah kegiatan-kegiatan khusus, mengingat sesuatu, menyapa, dll.) di kelas. Atau Anda dan anak Anda memutuskan untuk membuat pesta di rumah dan mengundang teman-teman sekelasnya. Doronglah anak Anda untuk mengundang seorang teman untuk mengikuti Sekolah Minggu dengannya. Sementara itu, berikan pengertian kepada anak Anda bahwa kelas itu mungkin bukan kelompok yang paling "menyenangkan" yang pernah ia ikuti. Sangatlah penting untuk memfokuskan pada hal-hal yang positif daripada faktor-faktor negatif. Seorang guru yang memperhatikan keenganan seorang anak untuk datang Sekolah Minggu bisa membicarakannya dengan anak tersebut atau dengan orangtua mereka untuk menemukan minat atau kemampuan khusus dari anak tersebut.
Merencanakan untuk mengadakan suatu kegiatan belajar dimana anak bisa menggunakan kemampuan mereka, akan membesarkan minat dan kecakapan yang dimiliki oleh anak tersebut. Mengadakan kelas di luar gereja (rumah Anda atau taman) akan menguatkan persahabatan di antara anak-anak, dan akan menolong untuk mengatasi perilakunya yang tidak memperhatikan.
3. Jadilah Contoh
Mungkin tidak akan mengejutkan Anda bahwa perilaku dan tindakan orang dewasa dalam kehidupan anak akan memberikan pengaruh terbesar kepada perilaku anak terhadap Sekolah Minggu. Keputusan-keputusan Anda sebagai orangtua adalah tanda-tanda bagi anak Anda bahwa Sekolah Minggu itu penting. Pola kehadiran dan pernyataan-pernyataan yang konsisten mengenai Sekolah Minggu akan lebih mempengaruhi partisipasi anak Anda daripada hal-hal lainnya. Guru yang menunjukkan betapa mengasyikannya Sekolah Minggu itu dan menunjukkan perilaku yang mengasihi terhadap setiap anak akan mendapatkan respon yang positif di kelas mereka. Baik orangtua maupun guru, keduanya bisa mengalirkan antusiasme anak untuk ber-Sekolah Minggu dalam kehidupan anak.
Sumber:
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, Artikel I Don´t Wanna Go to Sunday School, halaman 155 - 156, Gospel Light, Ventura, 1992.


9.5 Bagaimanakah Menciptakan Keakraban Guru dan Anak?
Untuk anak-anak dapat belajar kebenaran Alkitab dengan baik, maka diperlukan situasi dan kondisi yang kondusif untuk belajar. Salah satu kondisi yang kondusif tsb. adalah dengan menciptakan suasana yang nyaman dan akrab, baik antara guru dengan anak, ataupun antara anak yang satu dengan anak yang lain. Bagaimana cara guru menciptakan suasana keakraban antara guru dan anak di Sekolah Minggu?
1. Membuka diri untuk dikenal.
Apabila anda adalah guru baru, maka sejak pertama kali masuk di kelas itu anda perlu memperkenalkan diri (atau diperkenalkan oleh guru lama) kepada kelas. Berikan senyum yang ramah dan suara yang cukup keras agar semua anak bisa mendengarnya. Berikan kesempatan kepada anak-anak untuk bertanya tentang diri anda. Jawablah pertanyaan mereka dengan santai. Jika ada pertanyaan yang mungkin anda anggap kurang sopan, janganlah ditanggapi dengan serius, tetapi alihkan dengan membetulkan pertanyaannya, dan anggaplah sebagai ketidaksengajaan dan tetaplah ramah.
2. Menghafal nama anak.
Setelah anda tidak menjadi guru baru lagi, usahakan anda untuk selalu menyapa anak-anak terlebih dahulu dengan memanggil namanya. Untuk itu anda harus hafal nama anak-anak didik anda. Dan carilah kesempatan untuk bisa berbicara secara pribadi kepada mereka dan ingatlah baik-baik apa yang anda bicarakan dengan mereka (kalau perlu dicatat) supaya anda ada bahan/topik pembicaraan apabila bertemu dengan mereka lagi. Kesempatan berbicara dengan mereka harus diciptakan (tidak datang dengan sendirinya), misalnya anda perlu datang lebih awal, dan pulang lebih lambat.
3. Pelajarilah kemampuan membuat humor (rasa humor).
Guru yang paling diakrabi oleh anak biasanya adalah guru-guru yang memiliki rasa humor yang tinggi. Dunia anak-anak adalah dunia yang ceria dan penuh tawa. Oleh karena itu jika bergaul dengan anda melenyapkan keceriaan mereka, maka mereka tidak akan bergaul dengan anda lagi.
4. Jangan mahal memberi pujian yang tulus.
Anak belum mempunyai banyak pengalaman, dalam melakukan kegiatan apa saja anak membutuhkan konfirmasi dari orang dewasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah baik. Untuk itu ia senang mencari pujian untuk membangun kepercayaan dirinya. Oleh karena itu tidak heran guru yang pelit dengan pujian tidak disukai anak. Guru perlu membuka mata dan telinga lebar-lebar agar anda bisa menemukan pujian yang tulus untuk diberikan kepada anak-anak didik anda.
Demikian hal-hal yang dapat anda lakukan untuk membangun keakraban anda dengan anak-anak di sekolah minggu anda. Selamat mempraktekkan!








9.6 Bagaimana Mengajarkan Kebenaran Alkitab kepada Anak?
Membimbing anak di awal-awal usia mereka adalah tugas yang mengagumkan. Pentingnya membantu anak-anak mempelajari dasar-dasar kebenaran Alkitab adalah hal yang tak bisa terlalu dipaksakan. Bersyukurlah, karena Tuhan tidak menyerahkan tugas ini untuk kita laksanakan dengan kekuatan kita sendiri. Ia menawarkan kepada kita tuntunan dari Roh Kudus dan janji bahwa Dia sendirilah yang akan membimbing kita: "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit- bangkit --, maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5)
Dengan keyakinan seperti ini, bagaimana kita dapat mengajarkan anak- anak tentang kasih Allah? Metode dan tehnik apa saja yang dapat kita gunakan sehingga dapat mengkomunikasikan kebenaran Alkitab dalam istilah yang dapat dimengerti anak-anak?
1. Fokuskan pada hubungan.
Karena anak-anak belajar lebih banyak tentang Anda daripada apa yang Anda katakan kepada mereka, maka Anda harus memperhatikan anak-anak sebelum menyampaikan isi pelajaran dan mengungkapkan kepedulian Anda kepada anak-anak sebelum mengkomunikasikan pikiran Anda. Anda baru akan didengarkan anak-anak setelah Anda mencintai anak-anak.
2.Berikan anak-anak pengalaman-pengalaman baru.
Karena kemampuan berpikir anak-anak tergantung dari apa yang telah mereka lakukan, maka Anda dapat memberikan kesempatan yang luas bagi anak-anak untuk menyentuh, merasa, mencium, melihat dan mendengar. Anda harus lebih banyak membimbing anak-anak bermain dengan berbagai materi karena mereka belum dapat bermain-main dengan ide-ide. Jika orang-orang dewasa menganggap bermain-main adalah hal yang sepele, sesuatu yang dapat kita lakukan setelah kita menyelesaikan pekerjaan, anak-anak tidak mengenal pemisahan seperti yang dilakukan oleh orang dewasa tersebut. Bagi mereka, bermain dan bekerja adalah dua hal yang sama - dan melalui bermain pulalah anak-anak dapat belajar dengan efektif.
3. Perhatikan "waktu mengajar yang tepat".
Pada saat anak-anak asyik bermain, di saat itulah timbul rasa ingin tahu, bahagia, dan frustasi dalam diri anak. Pada saat- saat seperti itulah rasa ketertarikan anak-anak sedang dalam puncaknya sehingga mereka sangat mudah menerima ide-ide baru, atau merasa aman dengan kebenaran-kebenaran yang biasa mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Saat anak melukis atau menyusun balok-balok kayu atau menidurkan boneka di ranjangnya, guru dapat mencari saat yang tepat dimana anak dapat diajak bertukar pikiran.
4. Tambahkan percakapan dekriptif.
Saat waktu mengajar yang tepat tiba, guru yang perhatian siap dengan komentar-komentar yang menghubungkan aktivitas anak dengan firman-firman dalam Bible atau peristiwa-peristiwa yang sesuai. Ayat Alkitab yang diucapkan saat anak sedang asyik menyusun puzzle dapat dimengerti dan diingat dengan lebih baik daripada saat anak sedang duduk dengan tenang di atas kursi. Akan lebih efektif lagi jika Anda membawa Alkitab saat menemani anak bermain daripada mendekatkan anak kepada Alkitab.
5. Berikan pertanyaan yang berhubungan dengan aktivitas yang sedang dilakukan anak-anak.
Seringkali pertanyaan akan lebih merangsang anak untuk berpikir daripada hanya sekedar memberikan komentar. Pertanyaan (kecuali pertanyaan yang dapat dijawab dengan jawaban "ya" atau "tidak", "Yesus" atau "Tuhan") akan melibatkan anak untuk berdialog dengan pengajar dan mendorongnya untuk berpikir bagaimana aktivitas yang sedang dilakukannya mencerminkan kebenarana Firman Tuhan.
6. Jawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dari anak.
Jika anak berpikir maka ia akan bertanya. Jawaban yang Anda berikan sangat penting dalam membantu pemahaman anak untuk bertumbuh. Kadang-kadang orang dewasa berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan anak (terutama pertanyaan yang mempunyai nilai filosofis tinggi yang disukai oleh anak-anak usia empat sampai lima tahun, yaitu tentang arti kehidupan dan sifat Allah), dengan anggapan anak-anak belum mampu menjawab pertanyaan itu sendiri dengan benar. Hal ini terjadi terutama ketika orang tua mengganti pokok pembicaraan dengan tiba-tiba atau menciptakan cerita tentang burung bangau.
Pada waktu-waktu tertentu, orang tua melihat adanya kesempatan untuk menanamkan kebijaksanaan yang berguna bagi hidup si anak. Sebagai orang yang mempunyai kecenderungan untuk menjelaskan bagaimana membuat jam, ketika yang ingin diketahui oleh orang lain adalah jam berapa saat itu, kadang-kadang hal tersebut menjadi proses belajar yang menyakitkan bagi kita sebagai orang tua karena kita tidak dapat memberi tahu segalanya yang kita tahu tentang subyek yang ditanyakan anak, hanya karena anak-anak memberikan pertanyaan-pertanyaan yang yang sangat sulit untuk dijawab atau dijelaskan.
Seorang anak yang memberikan pertanyaan dengan sebuah kalimat juga membutuhkan satu kalimat jawaban saja. Dan anak-anak berharap bisa memperoleh jawaban yang paling sederhana dan benar yang dapat kita berikan. Setelah jawaban seperti yang diharapkan anak-anak diberikan, tampaknya akan lebih baik lagi jika anak-anak ditanya apakah mereka ingin tahu lebih jauh lagi. Jika anak-anak berharap tahu lebih banyak lagi, tambahkan beberapa informasi lagi sambil memberikan petunjuk-petunjuk yang dapat membuat anak tertarik untuk dapat bertanya lebih banyak lagi.
Jika anak menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab (misalnya mengapa nenek meninggal? Mengapa Tuhan membiarkan hal-hal buruk terjadi? Dimanakan surga berada? Mengapa Yesus menjadi Anak Allah?), jangan khawatir dengan pengetahuan Anda yang terbatas. Bahkan jika anak frustasi dengan pengetahuan Anda yang terbatas tentang keabadian, Anda dapat mengingatkan kembali anak Anda bahwa Tuhan Maha Besar, tak ada seorang pun yang tahu tentang dia atau hal-hal yang Ia lakukan. Andai saja saya tahu semua jawaban yang ditanyakan anak-anak mungkin saya akan sepandai Tuhan sendiri. Bahkan anak yang paling muda yang saya ajar tahu bahwa saya tidak sepandai itu.
Sumber:
• Wesley Haystead, Everything You Want to Know About Teaching Young Children: Birth to 6 years, halaman 16 - 18, Gospel Light Publication, 1989.



9.7 Membuat Suasana Kreatif di dalam Kelas
Richard L. Dresselhaus dalam bukunya Penginjilan di Sekolah Minggu, menuliskan beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang pengajar agar dapat menghasilkan suasana kreatif dalam kelasnya. Hal-hal tersebut antara lain:

1. Memberanikan diri untuk mengadakan perubahan

Mengapa tidak mencoba metode dan pendekatan-pendekatan baru untuk mengajar? Walaupun metode kuliah yang tradisionil mempunyai nilai-nilai yang tidak boleh diabaikan, namun kelas itu mungkin mendapat dorongan baru bila dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dapat bekerja sama mencari kebenaran utama pelajaran itu. Atau mungkin diskusi yang informil akan memberi kesempatan kepada masing-masing anggota kelas untuk memberikan tanggapannya hingga mereka merasa menjadi bagian yang penting dalam kelompok itu.

2. Memakai orang

Mungkin sekali ada anggota-anggota kelas yang memiliki kecakapan atau bakat yang istimewa. Mengapa Saudara tidak meminta mereka sekali-kali menambahkan keterangan-keterangan kepada pelajaran yang sedang disajikan? Seorang ahli hukum mungkin senang membahas penghakiman Yesus dari segi hukum. Seorang petani dapat memberi pengertian yang mendalam tentang perumpamaan-perumpamaan yang dipakai oleh Yesus, yang berkisar pada metode pertanian pada zaman itu. Seorang perawat dapat membantu kelas untuk mengerti petunjuk-petunjuk dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul yang menunjukkan latar belakang Lukas sebagai dokter. Seorang pemuda belasan tahun dapat membuat penyelidikan berdasarkan ilmu jiwa untuk cerita anak yang hilang agar dapat membantu kelas mengerti faktor-faktor apa yang menimbulkan niat untuk melarikan diri dari rumah. Hal "memakai orang" akan menghasilkan keanekaragaman dan daya cipta, bila dipimpin dengan sepatutnya oleh pengajar.

3. Berdoa

Seorang pedagang telah memohon pikiran yang kreatif kepada Tuhan. Bukankah ini doa yang patut bagi seorang pengajar? Roh Kudus tidak terikat pada satu cara kerja. Bila menyelidiki kehidupan Kristus nyatalah bahwa Ia memakai bermacam-macam cara. Yesus mengajar dengan memberi pernyataan, dengan memberi teladan, dengan perumpamaan, dengan mengizinkan orang lain bicara, dengan berdiam diri, dengan memakai kata-kata yang indah. Mungkin dari Yesus dapatlah kita belajar tentang kemungkinan-kemungkinan keanekaragaman dalam pengajaran. Pelajar-pelajar akan menghargai seorang pengajar yang mengubah-ubah cara mengajarnya.

Sumber:
• Richard L. Dresselhaus, Penginjilan di Sekolah Minggu, halaman 94 - 95, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang.


9.8 Menghafalkan Ayat: Menanamkan Firman Tuhan dalam Hati Anak-anak
Perhatikan interaksi berikut ini:
David dan Barry sedang sibuk bermain dengan sekelompok kecil anak- anak kelas satu lainnya. Suatu ketika David bersembunyi di bawah meja. Barry mengambil kesempatan ini untuk memukul gigi David, anak yang lebih besar. David keluar dari bawah meja, menangis dan berteriak kepada gurunya sedangkan Barry berlari ke sudut ruangan, merengek. David menoleh dan mendekati orang yang telah membuatnya menangis, merangkulnya dan yang membuat orang terkejut ia berkata, "Aku memaafkanmu."
Sambil mengompres bibir David yang bengkak dengan air dingin, guru itu bertanya pada David mengapa ia memilih memaafkan Barry daripada membalas memukulnya. "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan," jawabnya. "Itu dikatakan di Alkitabku."
Kejadian ini adalah suatu ilustrasi dari pentingnya mengajarkan ayat hafalan kepada anak-anak. David tidak hanya menghafalkan kata-kata dalam ayat itu saja, tetapi juga memahami maknanya dan menjadikannya sebagai bagian dari perilakunya. Guru David telah mengajarkan dengan jelas sehingga hal itu membuatnya mengerti betapa pentingnya hal tersebut.
Berikut ini beberapa saran yang dapat membangun ketrampilan anak dalam menghafalkan ayat hafalan:
1. Pastikan bahwa hafalan tersebut berhubungan dengan tujuan pelajaran.
Ketika seluruh aktifitas belajar di hari itu berhubungan dengan suatu konsep, konsep itu akan diserap dengan mudah.
2. Gunakan alat peraga.
Gambar dapat membantu siswa untuk memvisualisasikan suatu konsep yang sulit. Biarkan anak menggambar ilustrasi mereka sendiri. Hindari penggunaan simbol-simbol.
3. Terjemahkan ayat tersebut dengan kata-kata yang sederhana.
Kata-kata asing yang tidak berarti apa-apa bagi seorang anak akan sulit dipahami dan mudah dilupakan.
4. Ulangi ayat tersebut dalam jam pelajaran.
Dalam bercerita sering-seringlah menggunakan ayat hafalan yang sudah Anda ajarkan. Tentu saja harus diterapkan sesuai dengan situasinya.
5. Gunakan musik.
Musik dapat digunakan untuk mengajar dan menjelaskan tujuan dalam menghafalkan sebuah ayat. Beberapa buku lagu memasukkan Alkitab dalam musik.
6. Tunjukkan pada anak-anak ayat dalam Alkitab tersebut.
Tandailah ayat tersebut dengan tinta yang tebal atau Alkitab untuk anak-anak dan letakkan di tempat dimana anak-anak dapat dengan mudah membacanya.
7. Gunakan drama.
Drama singkat yang lucu bisa membantu siswa memahami ayat yang mengandung konsep yang masih samar-samar atau umum. Contohnya, "Saling mengasihi" dapat diillustrasikan dengan sebuah drama singkat tentang seorang anak menolong temannya menuntun sepedanya yang rusak ke rumah. Wayang juga dapat digunakan untuk mendramatisasikan ayat-ayat atau untuk membuat ulasan pelajaran menjadi lebih menyenangkan.
Mendengarkan hafalan anak-anak secara pribadi atau individu merupakan suatu praktek yang baik untuk menguji sejauh mana ketrampilan mereka dalam menghafal ayat. Cara tersebut dapat mengurangi ketegangan anak-anak dan memberikan kesempatan kepada kita untuk berdiskusi secara pribadi dengan mereka mengenai ayat yang sudah mereka hafalkan. Anak cerdas yang setiap hari diharuskan membaca Alkitab oleh orangtuanya sanggup menghafalkan beberapa ayat dalam satu minggu. Tapi jangan mengharapkan hal yang sama dari anak yang tidak terlalu lancar membaca atau dari anak yang orangtuanya tidak terlalu memperhatikan kebutuhan rohani mereka.
Ingat, jangan mementingkan kesempurnaan dalam penghafalan ayat, dan jangan menciptakan persaingan tentang siapa yang paling hebat dalam menghafal. Hargailah usaha setiap anak dalam proses menghafalkan ayat tsb. Tekankanlah makna dan pemahaman dari ayat yang sudah mereka hafalkan itu.
Saat ini menghafalkan ayat merupakan ketrampilan rohani yang tampaknya sudah tidak terlalu dipentingkan dalam masa kanak-kanak. Nah, sebagai guru SM tugas dan tanggung jawab kita untuk membawa anak-anak hidup dalam Firman Tuhan dan Firman Tuhan hidup dalam mereka.
Sumber:
• Dr. Robert J. Choun & Dr. Michael S. Lawson, The Complete Handbook for Children Ministry: How to Reach and Teach Next Generation, halaman 81 - 83, Thomas Nelson Publishers, Nashville, 1993.



9.9 Membantu Anak Menghafalkan Ayat Alkitab
Menemukan kebenaran dari Firman Tuhan bisa menjadi suatu pengalaman yang menarik dan mengesankan bagi anak-anak di kelas Anda. Beberapa anak bisa mengingat dengan mudah ketika mereka menikmati kegiatan ini. Beberapa anak mungkin kesulitan dalam mengingat seluruh kata- kata tetapi masih bisa mengerti maksud dari kalimat-kalimat tersebut. Pekalah pada tingkat belajar dan gaya belajar masing- masing anak. Masing-masing anak adalah satu individu yang mempunyai kemampuan yang berbeda untuk mengingat dan mengatakan kembali ayat Alkitab yang harus dihafalkannya.
Berikut ini ada beberapa cara untuk membantu anak mengerti dan mengingat Firman Tuhan:
a. Gunakan ayat-ayat hafalan sesering mungkin dalam percakapan dan diskusi sehari-hari.
b. Berikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman mereka terhadap ayat-ayat khusus Alkitab. Contohnya:
o Bagaimana bunyi ayat hafalan ini dalam kata-katamu sendiri?
o Bagaimana ayat ini bisa menolongmu di sekolah? Di lingkungan sekitarmu? Di keluargamu?
o Menurutmu kata mana dalam ayat hafalan ini yang paling penting? Mengapa?
c. Kadang-kadang sharingkan/saksikan satu ayat hafalan yang telah menolong Anda. Tekankan bahwa ayat hafalan tersebut mempunyai peranan yang penting dalam hidup Anda.
d. Gunakan ayat hafalan yang berbeda untuk didiskusikan dalam setiap kurikulum Anda.
e. Buatlah permainan-permainan, lembar-lembar kerja, kegiatan- kegiatan untuk belajar Alkitab, dan lagu-lagu tentang ayat-ayat hafalan dapat meningkatkan pemahaman anak dan penerapannya dalam kehidupan mereka. Ketika Anda mengajak anak untuk melakukan kegiatan, doronglah mereka untuk mengingat Firman Tuhan dan hargailah dengan bijaksana setiap usaha yang dilakukannya.
f. Lebih baik ajaklah murid-murid Anda untuk bersama-sama mencapai tujuan kelas, daripada mengadakan perlombaan untuk menghafalkan ayat yang sering memojokan murid yang daya ingatnya kurang. Contohnya, terangkan bahwa jika 30 ayat hafalan telah diingat oleh seluruh anak dalam kelas, akan diadakan satu acara khusus. Tekankan bahwa tujuan pertama harus dicapai dalam waktu satu bulan. Tujuan yang kedua memerlukan kerja tambahan. Tekankan tujuan yang dicapai oleh kelas melalui menghafal ayat, kehadiran, membawa Alkitab di kelas, dll. Sediakan alat pengingat tujuan yang bisa dilihat dan terapkan pada anak untuk merekam kemajuan mereka. Contohnya, anak dapat menambahkan susunan kertas yang diikat untuk membuat rantai, mewarnai peta suatu daerah, menambah sebutir kelereng dalam botol, atau menempelkan sebuah stiker dalam peta yang menunjukan setiap point yang telah dihasilkan.
Dari semua yang telah disebutkan diatas, ingatlah bahwa perilaku Anda terhadap Firman Tuhan dan daya ingat Anda akan ayat hafalan itu merupakan pengaruh yang paling besar ketika Anda mendorong mereka untuk "menghafalkan ayat". (Baca: Mazmur 119:11)
Sumber:
• Wes & Sheryl Haystead, Sunday School Smart Pages, halaman 101, Gospel Light, Ventura, 1992.



9.10 Kreasi dalam Menghafalkan Ayat Hafalan
Firman Allah yang disimpan dalam hati dapat menjadi kompas dalam hidup kita, penolong dalam mengalahkan pencobaan Iblis serta memimpin kita mengerti kehendak Allah. Menghafalkan ayat mendatangkan banyak faedah, menguatkan, dan menghibur orang Kristen seumur hidup. Oleh sebab itu Sekolah Minggu harus mementingkan hal menghafal ayat Alkitab supaya sejak kecil bahkan sampai tua firman Allah dapat tersimpan di dalam hati.
Bagaimana kita dapat menjadikan kegiatan menghafal ayat Alkitab sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan dan bukan menjemukan?
Semoga hal-hal berikut ini dapat memberikan sedikit petunjuk bagi guru-guru Sekolah Minggu, untuk menambah minat murid dalam menghafal ayat Alkitab.
1. Bantu murid memahami ayat Alkitab yang dihafalnya.
2. Guru harus mengajar dengan sabar dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengulangi ayat yang sudah dipelajari.
3. Menjelaskan hubungan antara ayat Alkitab yang dihafal dengan kehidupan sehari-hari.
4. Mendorong orang tua untuk bekerja sama membantu anak mengulangi ayat yang sudah dihafalnya.
5. Gunakan bermacam-macam cara, untuk mengundang minat murid dalam menghafal ayat Alkitab, misalnya:
a. Menggantikan kata-kata yang penting dalam ayat Alkitab dengan gambar-gambar, agar murid tertarik dan suka menghafal.
b. Mengajarkan ayat-ayat Alkitab dengan nyanyian yang telah disesuaikan untuk mempermudah murid menghafalnya.
c. Tuliskan ayat Alkitab pada papan tulis, hapus kata demi kata sambil dihafalkan, sampai seluruh ayat tersebut tersimpan di dalam hati mereka.
d. Tuliskan ayat Alkitab pada kartu-kartu dan sisipkan dalam peta bagan yang berkantung sambil menghafal, kata demi kata diangkat dari sisipan kantung tersebut.
e. Tuliskan ayat Alkitab pada beberapa lembar kartu, bagikan lembaran kartu kepada setiap murid. Kemudian kartu-kartu tersebut disusun secara berurutan sampai membentuk ayat Alkitab yang dihafalkan.
f. Kartu-kartu seperti di atas bisa juga dibuat dalam dua macam warna, dilekatkan pada bagian bawah kursi, dan murid dibagi dalam dua kelompok untuk berlomba dalam mencari dan membentuk satu ayat hafalan.
g. Buatlah ayat Alkitab dalam bentuk selipan buku untuk dihafalkan oleh murid sendiri.
h. Menghafal ayat dalam bentuk pementasan, yaitu disertai dengan gerakan.
i. Ayat-ayat Alkitab dibagi menjadi 5 sampai 10 kata, tuliskan masing-masing pada kertas-kertas kecil, lalu lekatkan pada jari-jari tangan guru. Kemudian satu per satu jari dipertunjukkan sambil belajar menghafalnya.
j. Menghafal ayat dalam bentuk permainan, seperti: Buatlah piringan dari kertas lengkap dengan jarumnya, dan di atas piringan kertas tsb. tuliskan perintah sbb.: Menghafal ayat; Di luar kepala; Penerapan ayat; Memerankan makna ayat; dan Hafal dengan kata sendiri. Kemudian putarkan piringan tersebut, perhatikan jarumnya berhenti dan menunjuk pada perintah yang mana.
Jika jarum menunjuk pada ...
... "Menghafal ayat", maka murid harus menghafal ayat.
... "Di luar kepala", maka murid harus menuliskan ayat tsb. pada kertas.
... "Penerapan ayat", maka murid harus menjelaskan penerapan ayat tersebut ke dalam hidup dengan kata-kata mereka sendiri.
... "Memerankan makna ayat", maka murid harus memerankan makna atau penerapan ayat tersebut.
... "Hafal dengan kata sendiri", maka murid pun harus menghafalkan arti ayat tersebut dengan kata-katanya sendiri.
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, halaman 118 - 121, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.


9.11 Hal Penting dalam Menghafal Ayat Alkitab
Satu hal yang sangat penting harus diingat oleh guru Sekolah Minggu bahwa ayat-ayat Alkitab tidak berdiri sendiri. Ada konteks yang menyertainya. Masing-masing ayat tidak boleh diberi arti di luar konteksnya. Oleh karena itu ketika guru mengajar anak untuk mengahafal salah satu ayat sebaiknya guru memberikan penjelasan makna ayat itu dalam konteksnya yang tepat.
Salah satu cara agar guru tidak melepaskan ayat hafalan itu dari konteksnya adalah dengan membacakan seluruh perikop dimana ayat itu berada, lalu menjelaskan makna ayat tsb. Atau jika anda cukup kreatif anda bisa membuat cerita yang memberikan pelajaran seperti yang dimaksudkan oleh ayat tsb. Tapi pastikan bahwa cerita itu memang menggambarkan makna yang tepat untuk ayat yang dihafalkan, karena kalau tidak justru mengaburkan makna ayatnya.
Ada banyak cara yang dapat dipakai guru untuk menolong anak-anak menghafal ayat, misalnya:
1. Dengan menuliskan ayat hafalan dalam kertas yang cukup besar, dengan warna dan tulisan yang menarik hati utnuk anak-anak. Lalu tempelkan di salah satu dinding kelas selama beberapa minggu berturut-turut sehingga anak dapat melihat dan membacanya berulang-ulang.
2. Dengan cara merekam suara anak yang telah menghafalkan ayat hafalan, khususnya untuk meanrik anak yang sulit menghafal karena biasanya anak senang mendengar suaranya sendiri.
3. Dengan menuliskan ayat hafalan dikertas-kertas kecil yang diberi hiasan yang menarik, sehingga anak bisa membawanya kemana saja mereka pergi.
Dan masih ada banyak cara lagi, selamat berkreasi ...


9.12 Bagaimana Mengundang Anak Menerima Kristus?
Sesudah mengikuti pelajaran dan guru memberikan undangan bagi anak untuk menerima Yesus sebagai Juru selamat, dan anak menunjukkan keinginan untuk menjawab undangan tsb. lalu bagaimana? Anjuran-anjuran berikut ini akan membantu guru membimbing anak menerima Kristus:
1. Berbicaralah dengan anak itu sendiri, jika mungkin.
Kalau ia berasal dari sebuah keluarga Kristen, maka latar belakang dan pengertiannya akan berbeda dari seorang anak dari lingkungan bukan Kristen. Bahkan anak-anak dari keluarga yang sama akan mengalami pengalaman yang berbeda. Jadi berbicaralah secara pribadi dengan anak tsb. supaya memberi kesempatan kepada guru untuk mengajukan pertanyaan, atau membiarkan anak mengajukan pertanyaan.
2. Ajukan pertanyaan-pertanyaan kepadanya.
Misalnya: Pernahkah engkau berbicara dengan seseorang sebelumnya mengenai menerima Yesus sebagai Juruselamatmu? Apakah dosa itu? Mengapa Yesus mati? Apa yang perlu engkau lakukan untuk menjadi seorang Kristen? Bagaimana bunyi ayat ini? Apa artinya? Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan itu diajukan sesuai dengan kebutuhan. Beberapa di antara pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak perlu dipakai sama sekali. Penggunaan pertanyaan menolong kelangsungan percakapan antara guru dan anak. Pertanyaan membuat anak memperhatikan apa yang sedang dialami. Selain itu, pertanyaan menolong guru mengetahui apakah si anak memahami kebenaran atau tidak.
3. Luangkan waktu dan jangan tergesa-gesa.
Diperlukan waktu untuk berbicara dengan anak itu, mendengarkan apa yang hendak dikatakannya, mengajukan pertanyaan kepadanya, dan menjawab pertanyaannya. Seorang guru boleh saja meminta seorang anak untuk mengulangi doa yang diucapkannya kata demi kata dan kemudian memberitahu anak tersebut bahwa ia telah menjadi seorang Kristen. Selama beberapa waktu anak tersebut anak berpikir bahwa itulah pengalaman keselamatannya. Akan tetapi maksud utama bukanlah supaya anak itu melakukan tindakan-tindakan tertentu, tetapi untuk menolong dia mengerti arti kematian Kristus baginya, dan untuk menolong dia benar-benar menerima Kristus sebagai Juruselamat.
4. Gunakan Alkitab.
Jika anak itu memiliki sebuah Alkitab, sebaliknya Alkitab itu yang dipakai. Biarkan anak membaca ayat-ayat itu sendiri. Jika anak tidak bisa membaca, guru dapat membacakannya untuk dia. Ayat-ayat harus dibaca dan diterangkan satu demi satu. Kalau Alkitab yang dibawa oleh anak itu adalah miliknya sendiri, maka ayat-ayat dapat digaris-bawahi atau dicatat di halaman depan. Cara lain ialah meletakkan potongan kertas pada halaman di mana ayat-ayat itu terdapat. Hal ini akan menolong anak itu menemukan kembali ayat-ayat tersebut. Gunakan ayat secukupnya saja. Jika terlalu banyak ayat dipakai, anak akan bingung. Ada ayat-ayat yang dapat digunakan antara lain: Kis 16:31; Roma 10:9-10. Guru harus mengetahui ayat- ayat tsb. agar dapat memilih ayat mana yang paling cocok untuk anak itu.
5. Mintalah anak itu berdoa.
Jangan heran jika ia berkata, "Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan." Bicarakan hal itu dengan dia, mungkin dengan menggunakan lagi pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah engkau akan memberitahu Yesus bahwa engkau menyesal akan dosa-dosamu? Apakah engkau ingin memohon agar Dia mengampunimu? Apakah engkau ingin mengatakan kepada-Nya bahwa engkau percaya bahwa kematian-Nya di kayu salib adalah bagimu? Setelah beberapa pertanyaan, anak itu mungkin siap untuk berdoa. kalau tidak, ia boleh mengulangi doa guru, kata demi kata. Jika ia dan gurunya telah membicarakan semuanya, ia akan mengerti dengan lebih baik apa yang sedang diucapkannya. Banyak kali setelah pembicaraan pendek dengan guru, maka anak akan merasa lebih tenang dan akan bisa berdoa sendiri.
6. Berbicara lebih lanjut dengan dia.
Ajukan pertanyaan lain kepadanya: Apa yang baru saja engkau lakukan? Apakah Yesus mengampuni dosa-dosamu? Bagaimana engkau tahu? Jika seseorang bertanya kepadamu apakah engkau seorang Kristen, bagaimana jawabmu? Bagaimana engkau tahu? Sarankan anak itu untuk menggunakan Alkitabnya ketika ia menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, karena penting bagi anak untuk dapat menjawab pada waktu gurunya tidak mendampingi.
7. Ingatlah anak itu.
Apabila seorang anak menerima Kristus sebagai Juruselamatnya, pekerjaan guru belum selesai. Suatu pekerjaan besar baru saja dimulai. Anak tersebut perlu diberi pelajaran. Ia harus dikunjungi. ia perlu belajar dan diberi pelajaran. ia harus dikunjungi. Ia perlu belajar berdoa, membaca Alkitabnya, dan menjalani kehidupan yang berkenan pada Allah. Banyak anak yang menerima Kristus disuruh pergi dengan kata-kata begini "Sekarang engkau adalah seorang Kristen. Engkau harus berdoa dan membaca Alkitabmu setiap hari." Hanya itulah bimbingan lanjutan yang ia peroleh dari orang yang menuntun dia kepad Kristus. Hal itu kurang tepat. Rasul Paulus bahkan tidak memperlakukan orang dewasa dengan begitu enteng. Rasul Paulus menulis kepada mereka; ia berdoa bagi mereka ia mengajar mereka; ia mengutus orang-orang lain mengunjungi mereka; ia sendiri pergi mengunjungi mereka.
Sumber:
• Marjorie Soderholm, Menerangkan Keselamatan kepada Anak-anak, halaman 30 - 33, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1972.

9.13 Mendidik Anak agar Mandiri
MENDIDIK ANAK AGAR MANDIRI
Orangtua mana yang tidak mau melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri. Tampaknya memang itulah salah satu tujuan yang ingin dicapai orangtua dalam mendidik anak-anaknya.
Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil, seperti memakai pakaian sendiri, menalikan sepatu, dan bermacam pekerjaan- pekerjaan kecil sehari-hari lainnya. Kedengarannya mudah, namun dalam praktiknya pembiasaan ini banyak hambatannya. Tidak jarang orangtua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum juga memperlihatkan keberhasilan. Atau, langsung memberi segudang nasihat, lengkap dengan cara pemecahan yang harus dilakukan, ketika anak selesai menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku. Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orangtua. Namun, cara ini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa "lari" kepada orangtua apabila menghadapi persoalan, dengan perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun.
Lalu, upaya apa yang dapat dilakukan orangtua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan? Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri.
1. Beri kesempatan memilih.
Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya, bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya, misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan-keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.
2. Hargailah usahanya.
Hargailah sekecil apa pun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orangtua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya orangtua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung sendok, misalnya. Kesempatan yang Anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.
3. Hindari banyak bertanya.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orangtua, yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari sekolah akan kesal bila diserang dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Belajar apa saja di sekolah?", dan "Mengapa seragamnya kotor? Pasti kamu habis berkelahi lagi di sekolah!" dan seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek, "Halo anak ibu sudah pulang sekolah!" Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orangtua, tanpa harus di dorong-dorong.
4. Jangan langsung menjawab pertanyaan.
Meskipun salah satu tugas orangtua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orangtua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu pemecahan masalah. Misalnya, "Bu, kenapa sih, kita harus mandi dua kali sehari?" Biarkan anak memberi beberapa jawaban sesuai dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikian, anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orangtua, yang akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.
5. Dorong untuk melihat alternatif.
Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah, orangtua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orangtua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintai tolong, untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Dengan demikian, anak tidak akan hanya tergantung pada orangtua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri. Misalnya, ketika si anak datang pada orangtua dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai. Anda dapat memberi jawaban, "Coba ya, nanti kita periksa ke bengkel sepeda."
6. Jangan patahkan semangatnya.
Tak jarang orangtua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan "mustahil" terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, doronglah ia untuk terus melakukannya. Jangan sekali-kali Anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta izin kepada Anda, "Bu, Andi pulang sekolah mau ikut mobil antar- jemput, bolehkan?" Tindakan untuk menjawab, "Wah, kalau Andi mau naik mobil antar-jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di rumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh, ya." Jawaban seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk mandiri. Sebaiknya ibu berkata "Andi mau naik mobil antar-jemput? Wah, kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada Ibu mengapa Andi mau naik mobil antar-jemput." Dengan cara ini, paling tidak anak mengetahui bahwa orangtua sebenarnya mendukung untuk bersikap mandiri. Meskipun akhirnya, dengan alasan-alasan yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat dipenuhi.
Sumber:
• Indobulletin.



9.14 Mendisiplin Anak dengan Cinta
Disiplin berarti menolong anak untuk belajar mematuhi aturan dan tata tertib dalam kehidupan bersama, entah dalam lingkungan keluarga, masyarakat, atau sekolah. Disiplin sebagai sikap sangat penting agar anak tidak berperilaku semau gue, anak juga belajar untuk mengendalikan diri. Oleh sebab itu, disiplin sering dikonotasikan dengan tindakan `ketegasan` atau `hukuman` terhadap pelanggaran yang dilakukan anak. Tak jarang, atas nama kedisiplinan, orangtua atau guru bisa melakukan kekerasan terhadap anak. Bagaimana semestinya mendisiplinkan anak?
Sering terdengar keluhan bahwa anak-anak sekarang sulit didisiplin, cenderung melawan dan berani membantah orangtua atau guru. Tindakan- tindakan kekerasan bukannya mengubah perilaku, malah memperburuk hubungannya dengan anak. Di samping itu, ada pendapat agar orangtua lebih bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap anak. Apakah sikap "lembek" dan permisif semacam ini justru tidak akan memperburuk keadaan, membuat anak-anak semakin brutal, dan tidak tahu sopan santun dan aturan? Di tengah situasi dilematis begini, agar pendisiplinan dapat efektif, kiat-kiat berikut perlu diperhatikan.
1. Anak harus merasa dicintai.

Kebutuhan dasar setiap anak adalah dicintai dan diterima tanpa syarat. Anak benar-benar merasakan bahwa orangtuanya mencintai dirinya melalui tindakan nyata sehari-hari yang terungkap melalui kata-kata ataupun perbuatan. Ketika kebutuhan dasar ini terpenuhi, anak cenderung berpikir positif dan kooperatif dengan orangtua. Dengan merasa dicintai, anak akan menerima tindakan pendisiplinan dan hukuman secara positif. Mereka percaya bahwa apa pun yang dilakukan orangtua adalah demi kebaikan dirinya.
Sebaliknya, jika anak merasa tidak dicintai dan tidak diterima, apa pun yang dilakukan orangtua cenderung dinilai secara negatif. Secara naluriah anak pun bereaksi terhadap tindakan pendisiplinan, bisa berupa perlawanan, protes, atau sikap tak acuh. Pendisiplinan tanpa didasari oleh rasa cinta hanya akan melahirkan kemarahan, kebencian, dan balas dendam dalam diri seorang anak.
2. Tetapkan aturan bersama.

Jika tindakan disiplin menyangkut aturan dan tata tertib, sebaiknya anak sudah mengetahui terlebih dulu risiko yang akan ditanggungnya jika melanggar aturan tersebut. Hukuman yang tiba- tiba, sering dimengerti anak sebagai tindakan yang tidak adil sehingga reaksi pun negatif dan tidak efektif. Misalnya, orangtua menerapkan aturan agar anak makan malam bersama pukul tujuh di rumah, sedangkan bagi yang tidak bisa harus memberitahu sebelumnya, atau setidaknya menelepon. Bagi yang melanggar, hukumannya adalah "tugas mencuci piring pada hari berikutnya".
Jika aturan ini disepakati bersama, masing-masing anggota keluarga akan berusaha memberikan komitmen dengan senang hati, bagi yang terpaksa melanggar pun hukuman bisa dijalankan tanpa diwarnai amarah dan kebencian. Aturan-aturan yang dibuat dalam keluarga dan disepakati bersama akan menjadi media belajar bagi anak untuk menumbuhkan sikap solidaritas dan tanggung jawab. Orangtua pun tidak harus memaksakan otoritasnya karena aturan dengan sendiri sudah berfungsi sebagai alat pendisiplinan.
3. Anak tahu kesalahan. Ketika anak melakukan tindakan negatif, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, apakah anak sengaja atau tanpa unsur kesengajaan. Kedua, apakah anak menyadari kesalahannya atau tanpa penyesalan sedikit pun. Tindakan pendisiplinan mutlak perlu dan paling keras diberikan jika anak sengaja dan tidak menyesali perbuatannya. Jika anak sengaja tetapi menyesali perbuatannya, berarti anak mau belajar dari kesalahan.
Di kemudian hari, pendisiplinan yang terlalu keras justru tidak mendidik karena anak merasa tidak dihargai. Jika anak tidak sengaja, dan menyesali perbuatannya, maka yang paling bijak adalah tindakan memaafkan karena pada prinsipnya anak tidak bersalah. Dalam kasus-kasus seperti ini, orangtua benar-benar harus berlaku bijaksana agar tindakan pendisiplinan memiliki nilai edukatif yang mampu mengubah perilaku anak ke arah yang lebih positif.
4. Bukan amarah dan emosi.

Tak jarang tindakan pendisiplinan didorong oleh rasa marah dan suasana emosional karena harga diri dan kewibawaan orangtua terasa dirongrong, atau frustrasi menghadapi perlawanan anak. Jika hal ini yang terjadi, tindakan pendisiplinan tentu tidak efektif, bahkan bisa menjadi bumerang di kemudian hari. Orangtua terlebih dulu perlu introspeksi, apakah masih dikuasai emosi dan amarah, dan apakah tindakan Anda masih rasional, semata-mata demi kepentingan dan kebaikan anak atau tidak.
Tunjukkan atau katakan bahwa Anda tetap menghormati dan mencintai pribadi anak, Anda hanya tidak menyetujui perbuatannya. Cara ini akan mengurangi resistensi anak dan memotivasi untuk membangun sikap positif. Tidak ada kesan bagi orangtua untuk melakukan pembalasan terhadap kesalahan anak, justru sebaliknya timbulnya kesan dalam diri anak bahwa Anda terpaksa melakukannya. Dengan cara demikian, tindakan pendisiplinan sebagai koreksi atas perbuatan anak.
5. Harga perubahan.

Sering timbul kesan dalam diri anak bahwa orangtua bisanya hanya melihat kekurangan dan kurang bisa menghargai hal yang positif. Ketika anak melakukan tindak negatif, baru orangtua bereaksi, tetapi ketika anak menunjukkan perilaku positif, tak ada penghargaan apa pun. Penggunaan kata "selalu" atau "tidak pernah" membuat anak merasa tak dihargai, misalnya "Kamu selalu malas!" atau "kamu tidak pernah nurut sama orangtua!". Apakah selamanya si anak malas dan tak pernah barang sekali pun menuruti perintah?
Perlakuan orangtua yang "negative thinking" akan menimbulkan reaksi yang negatif pula. Karena itu, hargailah setiap perubahan positif sekecil apa pun karena pada dasarnya setiap orang butuh dihargai dan diakui. Berhentilah membuat daftar kekurangan anak, dan mulai mencatat kelebihan-kelebihannya kendati belum seperti yang Anda harapan. Pujian dan kata-kata pendukung disertai sentuhan fisik tetap merupakan stimulus yang efektif bagi anak.
6. Lihat keunikan pribadi.

Tak ada manusia yang sama persis. Karenanya, setiap pribadi adalah unik, tiada duanya. Kelemahan tindakan pendisiplinan adalah sifatnya yang seragam sehingga tidak memandang keunikan pribadi. Bagi si A cukup diberi peringatan keras perilakunya bisa dikendalikan, namun si B mungkin dengan pukulan pun belum mempan. Bagi seseorang, hukuman tertentu benar-benar menakutkan, namun bagi yang lain hukuman yang sama justru menjadi hiburan. Maka, orangtua harus bijak dalam memilih tindakan pendisiplinan yang tepat untuk masing-masing anak sesuai dengan keunikan pribadinya.
Tindakan pendisiplinan tetap harus dipahami dalam konteks pendidikan -- mengubah perilaku dan membentuk kebiasaan positif pada diri anak. Dengan menghargai keunikan pribadi anak, orangtua sebenarnya sudah menyentuh kebutuhan emosional anak. Misalnya, kepada anak yang memiliki kepekaan perasaan, orangtua cukup berbicara dengan lembut namun tegas. Sebaliknya, kepada anak yang memiliki pembawaan suka membantah dan kritis, orangtua perlu berkata tegas dan memberi alasan yang jelas.
7. Dari sudut anak.

Orangtua tak bisa membuat ukuran penilaiannya sendiri sebagai orang dewasa untuk menghadapi anak yang berperilaku buruk. Anak umur dua tahun yang egois adalah normal karena ia sedang belajar otonomi sehingga tak perlu dimarahi atau dianggap sebagai tidak memiliki rasa sosial. Anak remaja yang cenderung menentang pun bukan berarti sedang melawan orangtua, dalam dirinya sedang berlangsung proses identifikasi diri, ingin diakui sebagai pribadi yang independen.
Karena itu, orangtua mesti melihat secara positif setiap bentuk perlawanan yang dilakukan anak, bukan sebagai ungkapan "Aku berani sama kamu" sehingga perlu dihantam dan dijinakkan, melainkan sebagai dambaan hatinya yang terdalam, "Cintailah aku, terimalah aku, dan hargailah aku!" Dengan demikian, orangtua pun terdorong untuk melakukan tindakan cinta, kendati dalam bentuk pendisiplinan.
Sumber:
• Paul Subiyanto, .


9.15 Mendidik Anak-anak Agar Bertekun
Kalau anak-anak bermain-main, mereka bermain "sampai selesai". Jadi, apakah sebabnya mereka merasa sulit kalau harus bertekun terus dalam melakukan tugas-tugas harian mereka - yaitu yang merupakan kunci bagi kehidupan yang berhasil? Dan bagaimanakah caranya sehingga orangtua dapat menolong mereka untuk memiliki kebiasaan yang positif ini? Bagaimanakah caranya agar Anda dapat menolong anak Anda untuk belajar bertekun terus sampai akhir? Ingatlah akan prinsip- prinsip yang dapat memberi motivasi yang berikut ini:
1. Bagi anak pra sekolah, keseimbangan itu penting. Pada usia ini yang terutama memotivasi anak Anda ialah upah atau hukuman dan ia tidak dapat mengerti bahwa suatu pekerjaan itu harus diselesaikan oleh karena itu merupakan hal yang "benar" yang harus dikerjakan. Jika seorang anak tidak berhasil menyelesaikan apa yang sudah ditugaskan kepadanya, tindakan yang terbaik yang harus Anda lakukan ialah turun tangan dan menolongnya. Teladan yang Anda berikan mengungkapkan bahwa Anda mendukung dia dan bahwa penting sekali untuk dengan tekun menyelesaikan tugas itu. Tindakan demikian ini juga dapat menghindari keputusasaan dan menghilangkan ketegangan yang ditimbulkan oleh omelan-omelan Anda.
2. Bersikap peka terhadap anak Anda itu sangat penting. Jika apa yang Anda harapkan dari anak Anda terlalu rendah maka anak itu tidak mendapat tantangan untuk mengembangkan potensi yang mungkin dicapainya. Jika apa yang Anda harapkan dari anak Anda terlalu tinggi maka ia menjadi takut gagal dan ketakutan semacam ini sangat merusak. Salah satu cara untuk menekankan prinsip yang benar ialah dengan membaca berbagai cerita anak-anak yang populer yang menekankan dan menghargai ketekunan seperti dongeng tentang kelinci yang balap lari dengan kura-kura. Anak-anak yang agak besar dapat disuruh membaca riwayat hidup tokoh terkenal seperti Thomas Alva Edison yang karena ketekunannya berhasil menjadi penemu bola lampu listrik atau Madame Curie yang karena ketekunannya berhasil menemukan radium.
3. Pada masa anak duduk di Sekolah Dasar, motivasi anak Anda lebih ditentukan dengan sikap saling mendukung dan saling memberi pujian. Selama masa ini tingkatkanlah dukungan dan apa yang Anda harapkan. Perkenalkan kepadanya motto-motto seperti "Kalau pada mulanya engkau tidak berhasil, cobalah sekali lagi, dan sekali lagi" dan semangat fabel kura-kura dan kelinci: "Walau lambat jika tekun, maka perlombaan pun akan dimenangkan." Tanamkan pikiran ini dengan suatu percakapan tentang prinsip Alkitab mengenai kerajinan - perhatikanlah Kolose 3:23; 2Tesalonika 3:11-13; Pengkhotbah 10:18; 11:6; dan Amsal 10:4; 12:24; 13:4 dan 22:29.
4. Limpahkanlah pujian dan berilah hadiah untuk usaha-usaha yang luar biasa. Ingatkan anak Anda tentang kejadian-kejadian saat ia berhasil menyelesaikan sesuatu dan menuai kepuasan dari apa yang berhasil dicapainya. Jika anak Anda tidak berhasil untuk menyelesaikan suatu tugas, tunjukkanlah dengan jelas kekecewaan Anda, dukungan Anda, dan kasih Anda kepadanya. Sekali lagi, menolong anak Anda pada waktu anak Anda benar-benar merasa frustrasi atau pada saat ia ingin meninggalkan pekerjaannya itu merupakan cara yang paling baik untuk menunjukkan bahwa Anda mendukungnya dan dengan demikian Anda dapat memberikan teladan mengenai disiplin yang diperlukannya. Secara konsisten memberikan teladan tentang bagaimana Anda sendiri menepati komitmen Anda merupakan sesuatu yang paling penting.
5. Dalam masa remaja, motivasi anak-anak Anda dalam melaksanakan tugas harus mulai mencerminkan suatu rasa penghargaan yang lebih matang dan berdasarkan kesadaran terhadap kebutuhan akan adanya ketertiban dalam hidup. Tuntutlah anak Anda agar tetap konsisten dengan tugas-tugas sehari-harinya, pekerjaan rumah, pemeliharaan benda-benda kepunyaannya, dan dalam menepati janjinya. Jika seorang remaja gagal, biarkanlah ia menanggung akibat atau konsekuensi dan tindakannya. Namun demikian tetaplah berikan rasa pengertian, kasih, dan dukungan Anda kepadanya.
Tentu saja memang ada juga batasnya dalam soal mendisiplin agar bertekun terus sampai akhir ini. Cepat atau lambat, kita semua pada suatu saat harus juga menyerah dan menghentikan apa yang sedang kita lakukan karena kita mendapati bahwa hal itu berada di luar batas kemampuan kita, terlalu banyak menuntut, atau mungkin karena tidak menyenangkan sama sekali. Jadi, bagaimanakah caranya supaya seorang anak dapat meninggalkan atau menghentikan apa yang sedang dikerjakannya tanpa menjadi orang yang cepat menyerah? Di bawah ini terdapat beberapa prinsip yang harus dipertimbangkan dalam menyusun jawabannya.
1. Apakah ada saat yang wajar untuk menghentikan apa yang sedang dikerjakannya itu? Dapatkah anak Anda bertahan sampai saat itu? Lebih baik bertahan terus sedapat-dapatnya atau bertahan sampai secara wajar hal itu memang harus dihentikan daripada meninggalkan pekerjaan itu pada waktu sedang mengalami stres yang paling berat, yaitu apabila berbagai kesulitan menyebabkan apa yang menjadi sasaran terakhir menjadi kabur.
2. Sebenarnya pada mulanya siapa yang mempunyai gagasan untuk melakukan kegiatan itu? Jika hal itu memang bukan pilihan anak Anda sendiri, maka izin untuk menghentikan pekerjaan itu harus diberikan dengan lebih mudah. Jika pada mulanya memang anak Anda yang memintanya, maka Anda harus bersikap lebih keras.
3. Apakah komitmen itu dilakukan sambil lalu saja? Tolonglah anak Anda untuk menyadari sepenuhnya apa artinya dengan setia melaksanakan komitmen atau keputusan itu. Hal ini akan menyebabkan anak itu tidak mudah untuk dengan begitu saja menyerah bila kesukaran atau keletihan mulai timbul.
4. Dalam hal ini apakah ada keadaan yang merupakan pengecualian? Keadaan dapat mengubah haluan utamanya. Bila anak Anda ingin menyerah dan meninggalkan hal itu, ajukanlah banyak pertanyaan yang sifatnya tidak mengecam dan perhatikanlah apakah ada indikasi terselubung tentang faktor-faktor negatif yang menyebabkannya patah semangat.
5. Ajukanlah pertanyaan berikut terhadap diri Anda sendiri: "Apakah akan disebut juga meninggalkan pekerjaan atau menyerah jika yang mengambil langkah itu adalah seorang dewasa?"
6. Apa yang akan terjadi jika anak itu tidak diperkenankan meninggalkan pekerjaan itu atau menyerah? Anak-anak perlu diizinkan untuk mundur, jika mereka ternyata memang telah membuat pilihan yang salah, seperti juga halnya orang dewasa. Bila kita tidak mengizinkannya, mereka akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, seperti "lupa" untuk menanggulangi beban yang menumpuk. Lebih baik dan lebih terhormat menolong anak-anak untuk bertingkah laku dengan penuh tanggung jawab selama masih terikat janji kemudian membuat suatu langkah untuk memutuskan dengan jelas dan jujur: "Saya tidak menyukainya" atau "Saya angkat tangan".
Anak Anda dapat didisiplin untuk bertekun sampai akhir. Karakter ini sangat penting baginya untuk kelak dapat berhasil sebagai orang dewasa - itu sebabnya Anda pun patut mempunyai ketekunan untuk terus mengembangkan sifat ini.
Sumber:
• Paul Lewis, 40 Cara Mengarahkan Anak, halaman 135 - 139, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.


9.16 Mendisiplin Murid dengan Kasih
Dalam sebuah kelas sangat dibutuhkan sebuah ketegasan untuk mendisiplin murid. Seorang guru yang tidak tegas dapat diabaikan oleh murid-muridnya. Tegas di sini bukan berarti kasar, keras, mengomel, dan lain-lain. Ketegasan yang dimaksud adalah ketegasan yang berlandaskan kasih agar pendisiplinan yang kita berikan bukannya menjadi trauma bagi dia, tetapi menjadi satu pelajaran berharga dalam kehidupannya. Berikut ini beberapa saran pendisiplinan dengan kasih yang dapat diterapkan seorang guru, jika terdapat beberapa orang anak yang "sulit diatur" dalam kelasnya.
1. Berjalanlah di belakang murid yang sedang bercakap-cakap. Letakkan tangan di bahunya, dan bimbing murid tersebut untuk duduk di kursi yang lain. Ini merupakan cara yang paling efektif tanpa harus menghentikan pelajaran.
2. Cobalah untuk diam. Berhentilah berbicara secara tiba-tiba di tengah pelajaran, dan tunggulah sampai murid ikut diam. Murid-murid akan merasakan mengapa Anda tiba-tiba diam. Kemudian, lanjutkanlah perkataan Anda tanpa berkomentar. Bila cara ini saja tidak cukup, lihatlah jam tangan Anda dan hitunglah berapa lama waktu yang dihabiskan oleh murid yang membuat masalah itu. Murid tersebut harus "membayar utang waktu" kepada Anda, yaitu harus tinggal di kelas selama waktu yang telah Anda hitung, sementara murid-murid yang lain ke luar kelas untuk aktivitas ketrampilan, istirahat, atau makan dan minum.
3. Berusahalah untuk melakukan kontak mata. Gelengan kepala yang pelan, sedikit mengernyit, gerakan pelan jari telunjuk, semua merupakan petunjuk nonverbal bahwa ada kelakuan murid yang mengganggu.
4. Pusatkan perhatian pada murid yang berkelakuan baik dan berilah pujian. Hal ini juga akan mengingatkan murid-murid yang lain, bahwa mereka tidak akan mendapat perhatian guru jika berperilaku negatif.
5. Berusahalah untuk bertanya kepada murid. Tanyakanlah kepada murid yang berkelakuan tidak baik apakah ada yang bisa dibantu. Ini akan memberi Anda kesempatan untuk mendekatinya, memperbaiki kesalahan pada buku-bukunya, dan mendorongnya untuk melakukan hal yang positif.
6. Berusahalah untuk menurunkan volume suara Anda. Jangan pernah meninggikannya supaya murid-murid melakukan usaha ekstra untuk dapat mendengar Anda, dan tidak bercakap-cakap atau membuat kegaduhan.
7. Sadarilah bila seorang murid terus-menerus berkelakuan buruk. Bila seorang murid terus-menerus berkelakuan buruk, acapkali itu merupakan tanda bahwa anak itu memiliki kebutuhan yang mendalam, biasanya kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang. Dengan memenuhi kebutuhan emosional utama murid tersebut (kasih, pengakuan, rasa dimiliki, hara diri, tujuan, kontribusi positif), Anda akan mengurangi keinginannya untuk mengganggu kelas.
Sumber:
• Sharon R. Berry, Ph.D., 100 Ide Efektif untuk Menerapkan Disiplin pada Anak-anak, Artikel Teknik Intervensi yang Spesifik, halaman 33 - 38, Gloria Graffa, Yogyakarta, 2004.


X Fasilitas
10.1 Mengusahakan Perpustakaan
Perpustakaan gereja seharusnya berisi berbagai sumber bahan pengajaran yang dapat melengkapi GSM dalam membuat bahan persiapan mengajar, dalam mengajar dan dalam menumbuhkan pengetahuan dan memperkaya kehidupan rohaninya. Perpustakaan ini dapat berisi buku, buletin, naskah, artikel, kaset, video kaset, dan sebagainya.
Pada setiap tahun, Sekolah Minggu harus mengajukan anggaran belanja untuk pengadaan sumber bahan pengajaran. Apabila terdapat kesulitan dalam masalah keuangan, buatlah daftar sumber bahan atau buku yang dibutuhkan dengan mencantumkan harganya. Daftar buku beserta harganya ini dapat diedarkan kepada anggota jemaat (dengan seijin gereja) dan meminta mereka agar terlibat dalam pendanaan bahan pengajaran Sekolah Minggu ini.
Untuk memaksimalkan penggunaan, GSM (terutama yang baru) sebaiknya diberi orientasi tentang cara menggunakan berbagai macam bahan dan cara mempelajari sumber bahan perpustakaan tsb. Akan lebih efektif lagi jika guru senior dapat memberikan petunjuk dan penjelasan tentang tema dari masing-masing buku, artikel, khusus dari buletin, atau kaset, atau dari video kaset dsb. yang tersedia di perpustakaan.
Agar GSM semakin bersemangat dalam menggunakan bahan-bahan yang tersedia di perpustakaan tsb. sediakanlah kesempatan dimana GSM dapat saling membagikan apa yang mereka baca dan pelajari dalam forum khusus, misalnya dengan membentuk "Book Club". Dengan demikian GSM terpacu untuk belajar karena ia tidak belajar untuk diri sendiri, tapi juga untuk dibagikan bagi rekan-rekan yang lain. Mengusahakan perpustakaan sebagai sumber pengajaran GSM adalah sangat menguntungkan dan memperkaya GSM.
Sumber:
• Super Sunday School Source Book, Artikel Developing a Learning Resource Center oleh Dr. Dennis E. Williams, halaman 10, David C. Cook Publishing Co., Westin, Illinois.


10.2 Pentingnya Literatur Kristen (dalam Pelayanan Anak)
Kesukaan anak Madya (9-11 tahun) pada buku-buku merupakan kesempatan yang sangat baik untuk membina kerohanian mereka. Inilah saat yang tepat untuk menanamkan kegemaran dan kebiasaan membaca pada anak, khususnya membaca Alkitab dan buku-buku rohani yang baik.
Akan sangat bermanfaat apabila Sekolah Minggu menyediakan berbagai buku, majalah dan komik rohani yang dapat dibaca atau dipinjam oleh anak-anak Sekolah Minggu. Akan lebih baik lagi, bila Sekolah Minggu menerbitkan sendiri majalah atau buletin Sekolah Minggu, supaya dapat menjadi alternatif bacaan yang menarik bagi anak-anak, asal dikemas dan dikelola dengan baik. Demikian pula berbagai buku aktivitas, bahan saat teduh, maupun traktat untuk anak-anak usia Madya.
Mengingat kemampuan berpikir kritis anak-anak usia 9-11 tahun, Guru Sekolah Minggu harus mempersiapkan diri dengan baik, khususnya dalam memberikan wawasan dan penjelasan mengenai kebenaran Firman Tuhan. Ini merupakan saat yang tepat untuk menanamkan dasar pemahaman yang benar terhadap Alkitab sebagai Firman Tuhan. Paling tidak, Guru Sekolah Minggu sendiri harus mengetahui bagaimana proses penulisan dan penyalinan Alkitab, mengapa Alkitab ditulis, siapa saja yang menjadi penulis Alkitab, bagaimana Alkitab diterjemahkan hingga sampai ke tangan kita, dsb.
Selain itu, Guru juga dapat mengajak Anak memanfaatkan Alkitab dan buku-buku penunjang lainnya (konkordansi, kamus Alkitab, peta, dsb.) sebagai bahan untuk belajar Firman Tuhan. Mereka pada dasarnya suka meneliti dan menggali sebuah kebenaran, meski tetap membutuhkan pendampingan dari orang dewasa. Bila Guru dapat mengarahkan dengan baik serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, anak akan tumbuh dengan kecintaan akan Firman Tuhan dan mereka akan belajar secara aktif.
Buku-buku rohani (fiksi, kesaksian, biografi, tokoh-tokoh Kristen, dsb.) dan buku bacaan sekuler yang baik (tokoh dunia, pengetahuan, sejarah, dsb.) juga sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian seorang anak. Apa yang dibaca oleh anak-anak ini akan meresap ke dalam dirinya. Oleh karena itu penting sekali Guru mengarahkan dan menyarankan bacaan-bacaan yang baik. Hal ini tentunya tidak bisa terjadi bila Guru sendiri tidak gemar membaca.
Di bawah ini ada kesaksian dari beberapa orang Kristen mengenai pentingnya literatur/bahan bacaan yang baik pada masa kanak-kanak:
1. Dulu saya sangat menyukai kertas-kertas bacaan yang saya peroleh dari Sekolah Minggu dan kertas-kertas bacaan tersebut benar-benar berpengaruh di dalam hidup saya. Saya ingin menjadi seperti orang-orang yang saya baca kisahnya pada kertas-kertas tersebut.
2. Saya senang membaca majalah Sekolah Minggu dan buku-buku Kristen walaupun saya tidak sepenuhnya mengerti tentang rencana keselamatan yang disediakan Allah bagi manusia. Saya tidak bisa ingat kapan persisnya saya mulai membaca literatur-literatur itu, tetapi saya ingat benar bahwa cerita-cerita tsb. membuat saya lebih sadar tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak-anak.
3. Perpustakaan gereja kami memiliki beberapa rak panjang yang berisi buku-buku Kristen. Selama musim panas, saya kadang-kadang membaca sampai sepuluh buku setiap minggunya. Ada buku-buku pengabaran Injil bagi anak-anak, sejumlah literatur remaja yang bersifat sekuler namun baik, dan sejumlah besar serial cerita-cerita Kristen bagi anak-anak. Buku-buku tsb. membantu membentuk sebagian besar dari standar hidup saya.
4. Literatur Kristen banyak mempengaruhi hidup saya. Saya telah membaca banyak sekali buku fiksi Kristen dan biografi Kristen, dan kesan yang saya peroleh dari bacaan-bacaan itu memainkan peranan penting di dalam hidup saya.
5. Literatur mempunyai pengaruh yang besar pada diri saya, karena saya membaca apa saja - baik atau buruk. Saya tahu benar bahwa literatur anak-anak mempengaruhi saya sampai suatu taraf tertentu, terutama cerita-cerita anak yang mengisahkan tentang anak-anak yang memutuskan untuk melakukan kehendak Tuhan.
Demikian beberapa kesaksian mengenai pentingnya buku rohani dan buku bacaan yang baik bagi anak-anak, kiranya hal ini dapat mendorong Guru Sekolah Minggu untuk menyediakan buku bacaan yang berkualitas pada anak-anak Sekolah Minggu.
Sumber:
• Myer Pearlman, Penyelidikan Anak, halaman 46 - 48, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.
• Margareth Bailey Jacobsen, Ketika Anak Anda Bertumbuh, halaman 184 - 212, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.


10.3 Pentingnya Literatur Kristen bagi Anak
Sebuah pepatah lama mengatakan, "Pena lebih tajam dari pada pedang!" Apakah pepatah tsb. terdengar agak berlebihan? Tidak, karena kita tahu dari sejarah bahwa hasil karya literatur (tulisan/traktat/buku) dalam banyak hal telah memberikan pengaruh (baik dalam hal negatif atau positif) terhadap gerakan-gerakan yang terjadi dalam sejarah. Misalnya, berhasilnya gerakan komunis di masa lalu adalah karena propaganda yang disebarkan melalui tulisan. Hitler telah mempengaruhi bangsa Jerman dengan tulisan-tulisan yang menyesatkan sehingga menyebabkan 6 juta orang Yahudi mati. Tapi di lain pihak, karya literatur juga telah memberikan pengaruh yang positif misalnya: terjadinya Reformasi Gereja atau kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, dll.
Mengapa literatur dapat memberikan pengaruhi yang besar seperti itu? Karena literatur memiliki kekuatan yang sanggup mempengaruhi akal pikiran manusia secara luar biasa. Melalui karya literatur manusia dapat melihat wawasan dunia dengan sangat luas. Tulisan memiliki kuasa untuk membangkitkan daya imaginasi yang kuat dan memberikan kesan yang sangat mendalam. Kekuatan lain dari literatur adalah dapat dibaca berulang-ulang. Kalau tulisan-tulisan hasil pemikiran manusia saja dapat melakukan hal yang hebat apalagi literatur yang diinspirasikan oleh Allah, yaitu Alkitab!
Dasar-dasar Alkitabiah pentingnya Literatur Kristen bagi Anak
Literatur Kristen pertama yang kita harus sebutkan adalah Alkitab. Alkitab adalah Firman Allah yang hidup dan yang berkuasa menghidupkan manusia. "Firman Allah hidup dan kuat," (Ibrani 4:12). "beritakanlah seluruh firman hidup itu..." (Kis 5:20). Alkitab juga berkata bahwa, oleh karena Firmanlah kita memiliki iman, "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Allah." (Roma 10:17). Alkitab adalah sarana untuk mendidik kita dalam segala kebenaran, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Tim 3:16).
Lebih jelas lagi dalam Kitab Ulangan 6:7-9, Allah memerintahkan kepada umat Israel untuk mengajarkan Firman Tuhan, secara khusus disebutkan kepada anak-anak: "mengajarkan berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." Menggunakan sarana literatur untuk mengajarkan Firman Tuhan adalah sangat ideal karena kita dapat menggunakannya/membacanya berulang-ulang tanpa kuatir melupakan bagian-bagiannya. Selain itu kita bisa membawanya kemanapun kita pergi dan membacanya kapan saja.
Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak juga membutuhkan berita keselamatan dan pertumbuhan rohani. Oleh karena itu literatur Kristen juga akan menolong anak-anak untuk mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam Dia. Yang membedakan antara literatur Kristen untuk orang dewasa dan untuk anak adalah metode penyampaiannya. Dengan tanpa mengurangi maknanya, kebenaran Firman Tuhan untuk anak-anak disampaikan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu melalui gambar-gambar dan cerita-cerita menarik sesuai dengan tingkat perkembangan kemampuan anak.
Bagaimana dengan buku-buku/karya tulisan Kristen lain (selain Alkitab)? Karya literatur dari orang-orang beriman yang telah diubahkan oleh Firman Allah, yang berisi kesaksian dan pikiran Kristen, adalah tulisan yang telah diterangi oleh Roh Kudus dan dipakai oleh Allah untuk melaksanakan rencanaNya. Selain untuk menyampaikan kesaksian akan kebenaran Allah, literatur Kristen ditujukan untuk membantu pertumbuhan hidup rohani orang Kristen dan mendewasakan imannya, serta mengembangkan wawasan Kristen secara lebih luas. Dalam hal yang terakhir ini, literatur Kristen memegang peranan yang sangat penting karena akan membuka wawasan Kristen yang luas. Hal ini akan menolong orang Kristen untuk dapat menjadi "garam" dan "terang" di manapun mereka ditempatkan Tuhan, sesuai dengan situasi dan talenta yang mereka miliki. Hal ini berlaku bagi anak-anak, karena dengan terbukanya wawasan Kristen anak, maka akan membuka kesempatan bagi mereka untuk mengintegrasikan hidup sehari-hari mereka dengan kebenaran Alkitab.
Ada cukup banyak penulis-penulis Kristen yang terpanggil untuk menulis buku-buku cerita dan bacaan anak yang sangat berguna untuk mengajar anak tentang kebenaran Firman Tuhan. Namun menulis bahan bacaan untuk anak tidaklah selalu mudah. Pada satu sisi penulis harus dapat menjiwai pikiran anak sehingga dapat berbicara kepada jiwa mereka dengan bahasa yang dapat dimengerti anak. Tapi pada sisi yang lain penulis harus benar-benar mengerti pengajaran Firman Tuhan sehingga ia tidak memberikan penafsiran yang salah dalam tulisannya. Oleh karena itu sekalipun kelihatannya sederhana, orang tua dan pembimbing anak harus cukup berhati-hati dalam memilihkan buku cerita dan bacaan Kristen untuk anak. [Lihat pada Tips Mengajar]
Macam-macam Literatur Kristen untuk Anak
Ada berbagai jenis literatur untuk anak. Abad 21 mungkin termasuk abad istimewa untuk anak, karena abad ini adalah abad di dimana informasi bisa didapatkan dengan seluas-luasnya, khususnya dengan kemajuan teknologi internet. Anak bisa mendapatkan kesempatan sebesar- besarnya untuk mengeksplorasi sumber-sumber informasi dengan sangat cepat; baik lewat internet maupun TV, Video atau mas media lain. Oleh karena itu anak-anak perlu bimbingan orang tua atau orang dewasa lain (guru) agar tidak terjerumus pada hal-hal yang menyesatkan dan dosa.
Berikut ini beberapa kategori buku dan jenis literatur lain yang sering kita jumpai di toko-toko buku Kristen:
1. Alkitab untuk anak yang dilengkapi dengan gambar-gambar.
2. Cerita bergambar mengenai kisah-kisah dalam Alkitab.
3. Cerita rohani mengenai kehidupan seorang anak Kristen.
4. Cerita binatang (fabel) yang mengandung nilai Kristiani,
5. Renungan harian untuk anak-anak.
6. Majalah Sekolah Minggu untuk anak-anak.
7. Cerita misi untuk anak.
8. Bahan doa untuk anak.
9. Buku lagu-lagu rohani.
10. Buku-buku permainan untuk mengenal Alkitab lebih baik.
11. Buku-buku permainan umum untuk anak.
12. Buku-buku prakarya/kegiatan untuk anak.
13. VCD lagu-lagu rohani untuk anak.
14. VCD Film Kristen untuk anak.
15. Game Komputer Alkitab untuk anak.
Memperkenalkan Buku Cerita kepada Anak
Untuk anak kecil (belum bisa membaca sendiri), mengenalkan buku dapat dilakukan dengan cara membacakan buku-buku cerita yang baik pada anak-anak, baik kisah-kisah dalam Alkitab maupun cerita lain yang mengandung kebenaran iman Kristen dan kebajikan. Cerita-cerita yang dibantu dengan beberapa gambar-gambar akan memudahkan anak-anak memahami cerita yang disampaikan dan lebih menarik. Tapi cerita-cerita yang terlalu banyak gambar (seperti komik) justru akan membatasi daya imajinasi anak.
Sebelum anda membacakan cerita untuk anak, guru seharusnya sudah membaca cerita tsb. lebih dulu. Akan lebih baik lagi bila guru cukup hafal dengan jalan ceritanya supaya ketika ia bercerita nada suaranya tidak terdengar seperti membaca, tapi bisa memberikan intonasi suara dan gerakan-gerakan yang sesuai. Posisi membaca sebaiknya berhadapan dengan anak-anak, dan buku dihadapkan ke anak-anak, supaya anak-anak dapat melihat isi maupun gambar yang terdapat dalam buku tersebut. Oleh karena itu disarankan orang tua/guru untuk cukup hafal ceritanya sehingga tidak perlu melihat terus kepada buku.
Bacalah cerita dengan suara yang cukup jelas didengar anak-anak. Selingi cerita dengan pertanyaan-pertanyaan untuk memastikan bahwa anak telah mengikuti cerita dengan baik. Pada setiap akhir cerita diskusikan bersama anak-anak pelajaran apa yang mereka dapatkan dari cerita tsb. Semakin menarik cara membaca guru, semakin terangsang anak untuk mendengarkan. Demikian juga, semakin tertarik mendengarkan cerita-cerita tsb. semakin cepat anak terdorong untuk belajar membaca sendiri.
Untuk anak yang telah bisa membaca sendiri, memperkenalkan buku cerita bisa dilakukan memperlihatkan buku tsb. kepada mereka dengan menceritakan hal yang menarik dari buku tsb. Lalu ajaklah mereka untuk membaca sendiri buku-buku tsb. Ketika mereka mulai membaca buku, guru kadang masih diperlukan mendampingi mereka membaca. Tujuannya adalah untuk menolong mereka mengerti/mempelajari isinya secara maksimal. Selain itu kehadiran guru akan membuat anak disiplin membaca sampai akhir. Setelah membaca, sangat baik jika guru bisa berdiskusi bersama tentang isi cerita buku tsb. dan juga untuk menanyakan pelajaran apa yang mereka dapatkan dari cerita tsb. Talu tantang mereka bagaimana mereka mengaplikasikan pelajaran tsb. dalam kehidupan sehari-hari.


10.4 Ruang Kelas sebagai Fasilitas Belajar dan Bermain di Sekolah Minggu
Ruang kelas yang baik adalah ruang kelas yang dapat mendukung usaha para guru SM dalam mengajar dan menanamkan Firman Tuhan kepada anak- anak SM. Untuk mencapai tujuan itu, selain ruang kelas harus aman, ruang kelas juga harus diciptakan sedemikian rupa sehingga nyaman untuk menjadi tempat belajar dan bermain. Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Perabotan Furniture

Lihatlah tempat duduk di Sekolah Minggu Anda, apakah sudah sesuai dengan ukuran anak-anak atau belum. Tempat duduk yang tepat bagi anak-anak adalah apabila anak-anak dapat duduk dengan posisi nyaman, dengan kaki menyentuh lantai. Apabila tempat duduk terlalu tinggi maka setelah 10 menit duduk, anak-anak akan gelisah dan segera mencoba menggerakkan badan dan memindahkan kakinya. Demikian pula mejanya. Jika dalam kelas anak-anak menggunakan meja dengan ukuran tinggi/besar yang sebenarnya untuk orang dewasa, maka kegiatan belajar ataupun bermain yang memerlukan meja tidak akan efektif, karena dengan meja yang terlalu tinggi atau terlalu besar, jangkauan kegiatan belajar dan bermain anak-anak akan sangat terbatas. Untuk itu pastikan perabotan (meja, bangku, kursi, rak buku, peralatan permainan, dll.) di ruang kelas Sekolah Minggu Anda sesuai dengan ukuran anak-anak.

Apabila di tempat Anda hanya tersedia tempat duduk (kursi atau bangku) dan meja ukuran dewasa, maka cara mengatasinya Anda dapat menggunakan tikar saat mengajar atau bermain sehingga anak-anak dapat duduk dan bermain di atas tikar dengan nyaman.

2. Penerangan

Penerangan ruang kelas yang kurang terang akan dapat menyebabkan kelelahan pada mata dan menyebabkan sakit kepala, sehingga mempengaruhi semangat anak-anak dan guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar di Sekolah Minggu. Penerangan yang baik dapat diperoleh jika tersedia jendela dan ventilasi yang cukup. Namun demikian, perlu juga diperhatikan agar penataan tempat duduk tidak membuat penerangan dari luar menyilaukan penglihatan anak-anak. Karena sinar yang terlalu kuat juga akan mengganggu penglihatan.

3. Lantai, Dinding, dan Langit-langit

Ada baiknya jika lantai ruangan menggunakan karpet. Karena selain dapat meredamkan suara, karpet juga dapat menyediakan lantai yang hangat untuk diduduki anak-anak dengan nyaman ketika melakukan kegiatan bermain di lantai. Juga agar dapat mendukung sistim akustik ruangan, dinding, dan langit-langit sebaiknya menggunakan bahan yang dapat meredamkan suara. Sehingga kegiatan yang dilakukan oleh kelas SM yang satu tidak mengganggu kelas yang lain.

4. Warna Cat

Bagaimana dengan warna cat di ruang kelas? Warna gelap dan warna yang kuat kurang cocok bagi ruang kelas SM. Anda dapat memilih warna pastel dan warna cerah untuk ruang kelas di SM Anda, karena hal ini dapat menambah semarak dan semangat anak-anak dalam belajar maupun bermain. Demikian pula kombinasikan warna-warna secara harmonis akan sangat membantu meriangkan suasana ketika anak-anak bermain.

5. Gambar dan Poster

Gambar-gambar dan poster-poster sebaiknya dipasang sesuai dengan arah pandang anak-anak. Untuk memperbaharui suasana di SM Anda, kurang lebih sebulan sekali, rubahlah posisi gambar-gambar dan poster-poster yang menempel di dinding. Bisa juga Anda mengganti dengan gambar-gambar dan poster-poster yang lain atau kadangkala biarkan dinding ruangan kelas kosong untuk membuat suasana yang berbeda supaya anak-anak tidak jenuh dengan suasana yang itu-itu saja.

6. Ukuran Ruang Kelas

Sebaiknya ruang kelas cukup luas, sehingga anak-anak memiliki ruang gerak yang cukup untuk melakukan aktivitas bermain. Anak bisa melakukan aktivitas bermain di tempat duduk, namun bisa juga di lantai dengan nyaman. Apabila Anda berasal dari gereja kecil dimana hanya memiliki satu ruangan yang sempit untuk SM, beberapa hal berikut ini dapat Anda lakukan:
1. Apabila jumlah anak terlalu banyak sehingga ruang kelas tidak cukup, maka sebaiknya Anda membagi anak-anak dalam dua kelas. Bila hanya ada satu ruangan maka Anda dapat membagi menjadi kelas pagi dan sore (atau dengan jam yang berbeda).
2. Anda juga dapat menyingkirkan perabotan yang tidak digunakan, seperti meja besar, bangku cadangan, lemari dan sebagainya. Karena ruang kelas seringkali menjadi seperti gudang, maka pindahkan perabot-perabot yang bisa dipindahkan dan yang tidak digunakan.
3. Buatlah rak-rak yang menempel di dinding, dengan jarak 125 cm dari atas lantai untuk mengganti rak-rak penyimpanan yang ada di lantai. Dengan demikian lantai menjadi lebih luas.
4. Letakkan benda-benda yang tidak digunakan diluar jangkauan anak-anak. Tapi sediakan rak-rak rendah bagi alat-alat yang akan digunakan anak-anak pada saat belajar dan bermain. Hal ini akan menolong anak untuk dapat mengambil dan mengembalikan barang-barang mainan sendiri tanpa bantuan guru.
5. Jika perlu, sediakan ruang penyimpanan bagi guru di luar ruang kelas, sehingga ruang kelas hanya diperuntukkan bagi kegiatan anak-anak saja.
6. Media dan Alat-alat

Media, alat peraga, buku panduan, alat permainan seperti peralatan memasak, boneka, alat-alat pertukangan, dan alat-alat musik dan peralatan lainnya sebaiknya disimpan dengan rapi menurut kelompok fungsinya, di tempat yang sudah disediakan (rak/lemari) agar dapat dicari dengan mudah pada saat akan digunakan dan hanya dikeluarkan bila akan digunakan.

Namun apabila alat permainan dan media yang Anda miliki terbatas, jangan kuatir karena anak-anak memiliki imajinasi yang tinggi. Dengan imajinasi tersebut mereka masih dapat bermain dan melakukan aktivitas dengan materi, media, dan alat-alat yang tersedia. Kegembiraan mereka tidak akan berkurang dan mereka masih bisa memperoleh pengalaman yang sangat berarti.


10.5 Alat Peraga sebagai Fasilitas dalam Sekolah Minggu
Alat peraga merupakan fasilitas penting dalam Sekolah Minggu karena bermanfaat untuk meningkatkan perhatian anak. Dengan alat peraga, anak diajak secara aktif memperhatikan apa yang diajarkan guru. Satu hal yang harus diingat, walaupun fasilitas alat peraga yang dimiliki Sekolah Minggu Anda minim, tetapi bila penggunaan alat peraga diikuti dengan metode anak aktif, maka efektifitas pengajaran akan semakin baik. Jadi dalam melengkapi alat peraga Sekolah Minggu Anda, imbangi pula dengan kreasi-kreasi yang meningkatkan keaktifan murid- murid SM Anda.

Alat peraga atau alat bantu mengajar adalah alat-alat atau perlengkapan yang digunakan oleh seorang guru dalam mengajar. Alat peraga sering dipakai saat guru bercerita, oleh karena itu usahakan untuk selalu mengadakan dan memperbarui alat-alat peraga dalam Sekolah Minggu Anda. Alat peraga bukan hanya dipakai untuk bercerita, tetapi dapat pula dipakai untuk memimpin pujian, memimpin doa, dan kegiatan Sekolah Minggu lainnya. Artinya, seorang guru dapat (bahkan perlu) menggunakannya dalam memimpin bagian demi bagian kegiatan dalam Sekolah Minggu.

Jadi alat peraga penting sebagai salah satu fasilitas wajib dalam Sekolah Minggu karena:
1. Dengan alat peraga, pelajaran akan disajikan lebih menarik.
2. Mengarahkan perhatian anak (anak perlu alat bantu untuk berkonsentrasi dalam mendengarkan pengajaran).
3. Membantu pengertian (menjelaskan cerita), karena pengertian anak akan sesuatu hal bisa berbeda dengan apa yang guru maksudkan. Sementara tidak semua guru dapat menceritakan dengan baik detail- detail ceritanya. Jadi Alat peraga adalah alat untuk menjelaskan yang sangat efektif, misalnya:
1. Untuk menjelaskan usia, ciri khas, karekter atau sifat dari seorang tokoh. Dengan alat peraga, gambar lebih jelas daripada dijelaskan dengan kata-kata saja. Sehingga anak dapat menghayati karakter tokoh yang diceritakan.
2. Untuk menjelaskan situasi sebuah tempat, misal keadaan sebuah kota, bangunan, dan sebagainya, dengan gambar akan lebih jelas daripada diceritakan secara lisan saja.
3. Untuk menjelaskan alur cerita.
4. Untuk menjelaskan letak sebuah tempat, setting waktunya, budaya, dan situasi kondisi sebuah tempat pada waktu tertentu dalam situasi tertentu. Misal: menceritakan situasi kota Yerusalem pada zaman Yesus jauh lebih mudah dengan gambar daripada dengan kata-kata.
5. Untuk menggambarkan hubungan keluarga (bila menceritakan silsilah).
6. Untuk menjembatani budaya yang berbeda dengan keadaan hidup anak-anak pada masa kini dengan setting cerita yang diceritakan oleh guru.
4. Alat peraga adalah alat bantu bagi anak untuk mengingat pelajaran. Alat peraga dapat menimbulkan kesan di hati sehingga anak-anak tidak mudah melupakannya. Sejalan dengan ingatan anak akan alat peraga itu, ia juga diingatkan dengan pelajaran yang disampaikan guru.
5. Semakin kecil anak, ia semakin perlu visualisasi/konkret (perlu lebih banyak alat peraga) yang dapat disentuh, dilihat, dirasakan, dan didengarnya.
Alat-alat peraga yang wajib tersedia sebagai fasilitas Sekolah Minggu diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Gambar-gambar dan poster sering muncul dalam setiap cerita yang kita sampaikan. Misalnya gambar pemandangan, rumah, Yesus, murid- murid Yesus, orang -- wanita, pria, dan anak-anak --, binatang, dll.
2. Papan planel (minimal satu buah) dan flash card -- jangan lupa untuk memperbarui flash card Anda.
3. Papan tulis lengkap dengan kapur dan penghapusnya. Sediakan kapur berwarna juga sebagai variasi dalam gambar atau tulisan Anda agar lebih menarik.
4. Peta lokasi, peta kota, dan peta dunia yang ukurannya disesuaikan dengan banyaknya jumlah anak. Semakin banyak jumlah anak, usahakan juga untuk membuat peta dengan ukuran yang lebih besar.
5. Audio visual, bisa berupa film, video/VCD, sound slide, overhead projector (OHP), tape/kaset, dll.
HAMBATAN UTAMA PENGGUNAAN ALAT PERAGA
1. Guru malas menyediakan alat peraga (biasanya dengan alasan: saya tidak punya waktu/dana, gereja belum memiliki perlengkapannya, dll.)
2. Guru beralasan "saya tidak bisa/tidak berpengalaman/saya tidak pandai membuat alat peraga", dan sebagainya.
3. Alasan guru "Begini saja 'kan cukup ... mau apa lagi?" (hal ini biasanya diucapkan guru yang merasa pandai berbicara).
4. Keterbatasan dana.
Mengingat sangat pentingnya alat peraga dalam kelas Sekolah Minggu, hal berikut dapat dilakukan, yaitu:
1. Komisi Anak/Komisi Sekolah Minggu membuat tim kreatif, agar guru- guru merasa tidak sendiri dalam mempersiapkan alat peraga. Alat peraga dipersiapkan bersama-sama sehingga dapat disimpan sebagai koleksi Sekolah Minggu.
2. Membuat alat peraga yang murah namun menarik, misal:
a. Kostum dapat dibuat dari koran/barang bekas.
b. Memanfaatkan barang bekas, misal: gambar dari koran/majalah, muppet dari kertas bekas.

10.6 Suasana Kelas dan Pekabaran Injil
Walaupun bentuk fisik dari ruangan kelas kita sudah bagus dan sesuai dengan yang kita harapkan, jangan lupa bahwa kadang "suasana kelas" dapat memberi pengaruh yang negatif. Suasana kelas seperti apa yang harus kita ciptakan agar terjadi suasana yang menyenangkan dalam setiap ruang Sekolah Minggu kita? Simak tips berikut ini!
SUASANA KELAS DAN PEKABARAN INJIL


Sarana-sarana dalam pekabaran Injil bukan saja berupa sarana fisik, tetapi juga berupa sarana rohani untuk mendukung penyampaian Injil tersebut. Dalam proses pekabaran Injil, timbul suatu pertanyaan: Dalam hal apakah suasana kelas berhubungan dengan pekabaran Injil? Adakah hubungan antara suasana kelas yang patut dan keputusan yang sungguh untuk menerima Kristus? Adakah pelajar-pelajar yang menolak Kristus disebabkan karena suasana kelasnya membingungkan dan tidak wajar? Faktor-faktor apakah yang dapat membantu orang-orang tidak beriman untuk menerima Kristus sebagai Juruselamat?

1. Kasih

Suasana yang penuh kasih dapat menarik orang yang belum selamat untuk datang kepada Kristus. Dalam dunia yang penuh dengan kebencian dan yang penuh dengan orang yang tawar hati dan kesepian, akan ada tanggapan yang positif bila orang-orang yang belum selamat merasakan kasih yang sejati dari orang-orang Kristen. Dan kasih itu harus yang sejati dari orang-orang Kristen. Dan kasih itu harus mengalir secara alamiah dari seorang kepada sesamanya. Orang-orang yang belum selamat tidak akan menanggapi kasih yang menjangkau ke bawah yakni yang seolah- olah menyatakan bahwa seseorang lebih baik dari orang lain. Tetapi bila kasih itu mengalir secara alamiah, bahwa setiap orang memerlukan anugerah Allah, maka orang yang tidak percaya itu akan diyakinkan tentang dosanya. Kelas yang memancarkan kasih semacam ini akan sangat disukai oleh orang-orang yang memerlukan Kristus.

2. Keramahan

Apakah suasana kelas Saudara penuh dengan keramahan? Kebanyakan orang sedang mencari semacam kasih yang menekankan keramahan dan penerimaan secara persahabatan. Karena tidak seorangpun dari kita yang dapat hidup sendiri, tetapi malah sangat bergantung pada hubungan baik dengan orang-orang di sekeliling kita, maka gereja harus menyediakan suasana yang menyebabkan orang merasa bahwa mereka termasuk dalam lingkungan persahabatan itu. Kadang-kadang mengadakan pertemuan ramah-tamah, saat-saat persekutuan sebelum jam pelajaran, dan kunjungan-kunjungan pribadi akan banyak membantu dalam hal menyatakan keramahan. Kesaksian orang-orang yang baru menerima Kristus seringkali menyatakan bahwa keterbukaan dan keramahan suatu kelas Sekolah Minggu telah dipakai oleh Roh Kudus untuk berbicara dalam hati mereka tentang keselamatan.

3. Hubungan yang cocok (relevan)

Adalah penting sekali bahwa apa yang terjadi dalam kelas tidak hanya bertalian dengan kehidupan, melainkan merupakan kehidupan itu sendiri. Sungguh menggembirakan bila pelajar-pelajar mengatakan: "Sekarang saya melihat cara untuk memecahkan persoalan saya -- pemecahan itu terdapat dalam Firman Allah!" Alkitab bukanlah buku yang hanya menceritakan tentang kehidupan -- Alkitab adalah kehidupan itu sendiri. Injil bukan hanya suatu cerita tentang kehidupan -- Injil adalah kehidupan itu sendiri. Yesus menjumpai kita pada keadaan apapun, dan kemudian ia memimpin kita untuk menjadi lebih seperti Dia. Pembicaraan Yesus baik dengan perempuan Samaria di dekat sumur atau dengan Nikodemus atau dengan penghulu muda yang kaya selalu terjadi pada saat yang genting dalam hidup mereka. Ia menjumpai mereka pada saat mereka membutuhkan pertolongan. Ia langsung membicarakan hal-hal yang memang tepat dengan kebutuhan mereka.

4. Kesempatan

Suasana kelas hendaknya memberikan kebebasan kepada orang yang belum selamat untuk menyatakan tanggapannya. Jika suasana kelas ditetapkan menurut rencana pengajar sampai hal yang sekecil- kecilnya tanpa memperhatikan reaksi tiap pelajar, maka mungkin orang yang ingin menerima Kristus akan merasa tidak ada kesempatan untuk membuat keputusan yang terang dan pasti. Sebaliknya suasana kelas yang tidak ditetapkan seteliti- telitinya, akan lebih memperhatikan perhatian pribadi dan menyarankan kepada orang yang mencari keselamatan itu bahwa keperluannya dianggap penting oleh kelas.


10.7 Konsep Dasar Administrasi yang Baik
Sekalipun berbeda dengan administrasi perusahaan, namun prinsip dasar penyelenggaraan administrasi Sekolah Minggu sebenarnya tidak jauh berbeda. Administrasi adalah proses penyelenggaraan kegiatan untuk mewujudkan rencana/keputusan yang telah dibuat agar menjadi kenyataan, dengan cara mengatur kerja dan mengarahkan orang-orang yang melaksanakannya. Namun, di samping persamaannya, ada juga perbedaan mendasar antara administrasi perusahaan dan administrasi Sekolah Minggu (gereja) yang perlu disadari. Usaha administrasi Sekolah Minggu tidak diarahkan untuk tujuan mencari keuntungan materi, tetapi untuk tujuan yang rohani. Penyelenggaraannya dilakukan tidak dengan prinsip duniawi tapi dengan prinsip kasih; namun demikian tidak berarti administrasi Sekolah Minggu dilaksanakan dengan cara seadanya yang tidak profesional.
Pengertian yang salah tentang pelayanan dapat mengakibatkan hasil pelayanan yang asal-asalan. Pelayanan yang benar harus menuntut standard yang profesional, karena apa yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, dan untuk suatu hasil yang bersifat kekal. Jika untuk usaha duniawi yang fana saja manusia mau melakukannya dengan baik, lebih- lebih lagi untuk hal yang rohani, untuk Tuhan. Kita harus melakukannya dengan lebih baik lagi.
A. Komponen dalam Administrasi
Komponen-komponen umum yang termasuk dalam administrasi yang efektif adalah:
1. Planning / Rencana / Program Kerja
Bagian penting dalam penyelenggaraan administrasi adalah harus ada program kerja yang dibuat sesuai dengan keputusan rapat tentang apa yang akan menjadi tujuan untuk dikerjakan (untuk jangka waktu tertentu).
2. Organisasi
Perlu ada pengaturan otoritas dan tugas sehingga pekerjaan bisa dilaksanakan dengan tepat oleh orang yang tepat dengan cara yang bertanggungjawab.
3. Pendelegasian
Pembagian tugas harus dilakukan mengingat bahwa setiap orang mempunyai keahlian/ketrampilan yang berbeda dengan orang lain.
4. Personel / Staf
Harus ada cukup orang untuk melakukan tugas-tugas yang sudah direncanakan, oleh karena itu perlu ada pertanggungjawaban dari masing-masing orang yang terlibat didalamnya
5. Koordinasi
Tugas-tugas yang tidak dikoordinasi dengan baik akan menyebabkan pekerjaan yang tumpang tindih sehingga menghasilkan kerja yang tidak efektif dan efisien.
6. Pelaporan
Pertanggungjawaban dari setiap bagian perlu dilakukan agar dapat diketahui hasil yang dicapai dan kegagalan-kegagalan yang terjadi sehingga dapat diusahakan perbaikan-perbaikan yang perlu diadakan di masa yang akan datang.
7. Budget
Memprediksi jumlah keuangan yang dibutuhkan, dan yang mampu didapatkan, dan yang mampu dipertanggungjawabkan adalah sangat penting untuk menentukan seberapa jauh program kerja dapat dilaksanakan supaya tidak macet di tengah jalan.
B. Prinsip-prinsip Administrasi
Sekalipun administrasi penting untuk menjadi sarana kesuksesan penyelenggaraan Sekolah Minggu, namun perlu diingat bahwa administrasi bukanlah segala-galanya. Sekolah Minggu yang menjadikan administrasi sebagai tujuan utama akan menjadikan Sekolah Minggunya perlahan-lahan kehilangan kegairahan dan akhirnya akan mati. Oleh karena itu kita harus ingat bahwa kerapian sistem administrasi tidak sama dengan kedewasaan rohani. Banyak Sekolah Minggu yang administrasinya rapi tapi tidak ada semangat; kehidupan rohani di dalamnya mati. Tapi sebaliknya ada Sekolah Minggu yang administrasinya kacau tapi semangatnya menyala-nyala. Sekolah Minggu seperti ini akan membuang banyak tenaga karena tidak efisien, sehingga lama-lama pelaksananya akan mati kecapaian sebelum tugas selesai dijalankan. Nah, anda sebagai guru Sekolah Minggu yang bijaksana harus bisa memberi keseimbangan antara keduanya.
Berikut ini adalah bahan yang kami terjemahkan dari buku Administering Christian Education yang berisi beberapa prinsip administrasi gereja yang perlu diingat agar berjalan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Hal ini tentu saja juga berlaku bagi administrasi Sekolah Minggu.
1. Orang lebih penting daripada organisasi.
Prinsip ini bukan hanya mengikuti prinsip "demokrasi" yang diambil dari budaya barat, tetapi prinsip ini sebenarnya adalah prinsip yang diberikan oleh Alkitab sendiri [jauh sebelum budaya barat terbentuk]. Individu manusia lebih penting bagi Allah daripada organisasi (gereja). Kita percaya bahwa gereja Yesus Kristus saat ini dapat menjadi Gereja dalam pengertian yang sesungguhnya jika gereja mengangkat kepentingan individu- individu yang ada di dalamnya di atas organisasi gereja itu sendiri. Dengan kata lain, kita tidak boleh mengorbankan kepentingan individu hanya untuk mengutamakan efisisensi organisasi gereja.
2. Setiap orang dalam Tubuh Kristus memiliki fungsi atau tugas pelayanan untuk dijalankannya.
Dalam 1 Korintus 12, Rasul Paulus dengan jelas menyatakan bahwa seluruh anggota tubuh Kristus saling tergantung dan merupakan individu yang penting dengan fungsinya masing-masing. Tanggung jawab administrator dengan demikian adalah menemukan tempat- tempat yang tepat untuk setiap jemaat dapat melayani sehingga dapat meningkatkan keefektifan dan misi Allah.
3. Tujuan utama pemimpin di gereja adalah melayani dan bukan dilayani.
Kristus telah memberikan teladan bagi siapapun yang ingin belajar kepemimpinan di gereja. Yesus berfirman bahwa, "barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat 20:27). Yesus tidak hanya mengajarkan prinsip ini tetapi juga memberikan teladan lewat kehidupanNya dan pelayananNya. Paulus mengungkapkan bahwa dirinya adalah pelayan Yesus Kristus (Rom 1:1) dan sebagai pelayan umat gereja Korintus (2 Kor 4:5). Pemimpin Kristen dengan demikian harus mengembangkan citra bukan sebagai diktator melainkan sebagai pelayan.
4. Pemimpin harus rela mengemban tanggung jawab untuk memimpin dan mengarahkan jalannya program.
Meskipun nampaknya sangat bertentangan, pemimpin harus mempunyai sikap sebagai seorang yang melayani tetapi pada saat yang sama ia juga sebagai seorang yang mau mengemban tanggung jawab untuk memimpin dan mengarahkan aktivitas para personil yang ditunjuknya. Demikian juga Kristus selain melayani, Ia juga memberikan perintah dan mengirim murid-murid-Nya untuk mengadakan penginjilan ke seluruh penjuru dunia. Mengatur dan memimpin menjadi hal yang penting dalam membimbing, mengarahkan dan menolong orang lain dalam pelayanannya bagi Kristus. Ini adalah tugas pemimpin dalam memimpin suatu program yang dikerjakan dengan cara yang mendidik, bukan dengan metode diktator maupun menguasai.
5. Mendefinisikan organisasi dengan jelas adalah penting.
Rasul Paulus mengungkapkan bahwa dalam gereja, ada pelayan-pelayan Tuhan yang ditunjuk untuk menjalankan tugas-tugas khusus di gereja. Uskup dan diakon, demikian pula dengan rasul, penginjil, dan nabi, dipersiapkan untuk pelayanan-pelayanan khusus. Semua tugas pelayanan yang mereka emban harus dijalankan dengan sopan dan teratur (1 Kor 14:40). Alkitab memang tidak memberikan kepada kita pengaturan organisasi gereja yang lengkap. Namun demikian yang jelas kita harus mengikuti peraturan-peraturan umum yang menjadi bagian integral gereja seperti yang diberikan dalam kitab-kita Perjanjian Baru. Sedangkan yang lain yang menjadi pelengkap dapat diatur sesuai dengan kebutuhan yang ada.
6. Setiap posisi dalam pelayanan di gereja adalah penting.
Karena terpaksa, kita menyebut beberapa posisi dalam organisasi gereja sebagai "lebih tinggi" dan "lebih rendah". Hal ini bukan berarti mengatakan bahwa di mata Tuhan suatu pelayanan atau posisi tertentu lebih penting dari pada yang lain. Seperti yang diungkapkan Rasul Paulus: "... anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus" (1 Kor 12:22-23). Selain itu gereja juga membuat perbedaan dalam pemberian tugas. Misalnya saja, Jetro, ayah mertua Musa mengungkapkan akan adanya perkara-perkara kecil dan perkara-perkara besar dimana perkara-perkara besar tersebut akan diadili oleh Musa sendiri (Kel 18:22). Demikian juga para Rasul membedakan antara tugas-tugas penting dan tugas-tugas yang kurang penting (Kej 6:1-4). Dengan demikian, jenis-jenis kerja adminsitrasi memang perlu dibedakan, tetapi yang lebih penting lagi adalah kesetiaan seseorang akan tugasnya.
Sumber:
• Robert K. Bower, Administering Christian Education, halaman 18 - 22, Wm. B. Eerdmans Publishing Company Grand Rapids, Michigan, 1964.
• Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck, Childhood Education in the Church, halaman 236 - 237, Moody Press, Chicago, 1986.


10.8 Buku Catatan di Sekolah Minggu
"Hitunglah jumlah segenap umat .. catatlah nama ... orang demi orang." Bilangan 1:2-3
Allah merasa bahwa bilangan, nama, dan catatan sangat penting. Dalam Alkitab Dia memberi kita sebuah buku lengkap yang disebut "Bilangan", yang merupakan catatan mengenai umat-Nya. Ayat Alkitab yang disebutkan di atas tadi, jelas menunjukkan bahwa Allah menghendaki kita membuat catatan.
Perusahaan-perusahaan tahu pentingnya pencatatan. Hanya dengan jalan membuat catatan yang tepat dapat dilihat gambaran yang benar tentang kemajuan atau kelemahan.
Catatan apa yang penting untuk suatu Sekolah Minggu yang perlu diorganisasi dengan semestinya? Tiga buku catatan khusus diperlukan, yaitu buku Catatan Seluruh Sekolah Minggu, buku Catatan Kelas, dan buku Pendaftaran. Penelitian yang saksama dalam ketiga catatan ini akan menunjukkan keadaan Sekolah Minggu.
I. Buku Catatan Seluruh Sekolah Minggu
Untuk menunjukkan kemajuan atau kelemahan sebuah Sekolah Minggu, harus dibuat catatan tentang jumlah yang hadir, jumlah uang persembahan, jumlah tamu dan jumlah yang absen. Misalnya: jika tahun lalu pada hari Minggu pertama bulan Mei yang hadir adalah 236 orang, dan pada hari Minggu pertama bulan Mei tahun ini yang hadir hanya 214 orang, maka apa yang ditunjukkan hal itu mengenai sekolah Minggu? Apa yang ditunjukkannya mengenai guru?
Buku Catatan Seluruh Sekolah (Buku Catatan Sekretaris) akan menunjukkan enam hal kepada kita.
1. Kehadiran
Apakah kehadiran meningkat dalam tahun ini hingga melebihi tahun lalu atau lima tahun yang lalu, dapat dilihat dalam buku Catatan Seluruh Sekolah. Setiap tahun harus ada peningkatan 10%. Catatan itu juga menunjukkan jumlah murid dalam setiap kelas. Dengan demikian ditunjukkan apakah kelas itu terlalu besar sehingga perlu diadakan pembagian.
2. Persembahan
Buku catatan ini menunjukkan apakah persembahan tahun ini bertambah banyak dan lebih dari tahun lalu atau lima tahun yang lalu. Sekurang-kurangnya harus ada peningkatan 5% setiap tahunnya.
3. Tamu
Jumlah tamu dalam setiap kelas juga dicatat dalam buku Catatan Seluruh Sekolah. Sedikit-dikitnya harus ada seorang pengunjung untuk setiap 10 anggota setiap Minggunya.
4. Yang Absen
Buku ini juga menunjukkan berapa murid yang absen setiap Minggu. Dengan demikian nota perkunjungan dapat disiapkan dan tugas perkunjungan dibagikan.
5. Kehadiran Pengurus dan Guru
Dalam buku Catatan Sekretaris terdapat catatan kehadiran para guru dan pengurus. Mereka harus hadir minimal 46 kali setiap tahunnya.
6. Keterangan Lainnya
Harus disediakan sebuah buku tulis khusus untuk mencatat semua keterangan yang perlu untuk mengisi Laporan Tahunan: misalnya berapa kali diadakan Rapat Pekerja, berapa peserta dalam Kursus Pendidikan Guru, berapa anak yang diselamatkan, dan lain sebagainya. Benar, buku Catatan Seluruh Sekolah memberi gambaran yang jelas tentang prestasi dan keberhasilan sebuah Sekolah Minggu!
II. Buku Catatan Kelas
Setiap kelas harus memiliki buku catatannya sendiri dimana dicatat nama semua anggota kelas. Untuk itu tersedia buku Catatan Kelas Sederhana dan buku Catatan Kelas 4-6 Pokok. Setiap Minggu hal-hal tertentu harus ditandai untuk masing-masing murid.
Pencatatan memakan waktu. Mungkin bisa diangkat seorang sekretaris kelas, khususnya dalam kelas anak-anak, seorang pembantu untuk menolong mencatatkan. Sekretaris dapat memberi tanda dalam buku catatan, jika anak itu hadir, datang tepat waktu atau membawa Alkitab, dengan hanya melihat sekeliling kelas saja. Dia tidak perlu mengatakan apa-apa, kecuali dengan setengah berbisik menanyakan nama anak-anak baru yang hadir. Dia dapat mengedarkan kantong untuk persembahan. Sekretaris kelas tidak perlu mengambil waktu dari pelajaran untuk melakukan pekerjaannya. Bila buku Catatan Kelas telah selesai dikerjakan (dilakukan hanya dalam sepuluh menit pertama dari jam pelajaran), sekretaris kelas (atau pembantu) harus meletakkan kantong persembahan dan buku tersebut di kelas. Maka Sekretaris Sekolah Minggu dapat mengumpulkannya tanpa mengganggu kelas. Berikut ini ada empat alasan mengapa kita memerlukan buku Catatan Kelas:
1. Untuk mengetahui siapa yang hadir
Buku Catatan Kelas memberitahukan kepada guru siapa yang hadir untuk menerima pelajaran. Kita mengajar murid-murid, sehingga mereka belajar dan hidup mereka diubahkan. Kita mengajar untuk memenuhi kebutuhan mereka yang hadir.
2. Untuk mengetahui siapa yang tidak hadir
Jika seseorang tidak hadir, guru tidak bisa mengajarnya! Anggota "yang tidak hadir" ini harus dikunjungi selama minggu itu dan didorong untuk hadir lagi pada Minggu berikutnya. Kunjungan kepada yang tidak hadir sangat penting, dan dari buku Catatan Kelas guru dapat mengetahui siapa yang harus dikunjungi.
3. Untuk mengenal murid
Buku Catatan Kelas 4-6, memberi beberapa keterangan tambahan mengenai diri murid selain kehadirannya. Apakah masing-masing murid memiliki sebuah Alkitab? Jika seorang murid tidak pernah membawa Alkitab, mungkin dia tidak memilikinya. Apakah ada murid yang selalu datang terlambat? Mengapa? Mungkin mereka mengalami kesulitan di rumah, atau hanya karena lalai saja. Apakah murid- murid itu sudah dilahirkan kembali? Apakah mereka sudah dipenuhi oleh Roh Kudus? Guru wajib menjadi pemimpin rohani bagi murid- muridnya dan membimbing mereka ke dalam perkara-perkara Allah yang lebih dalam.
4. Untuk mengenal para tamu (anak baru)
Nama dan alamat tamu dicatat dalam buku Catatan Kelas, supaya mereka dapat dikunjungi dan diundang untuk menghadiri kelas secara teratur.
Sungguh, buku Catatan Kelas melukiskan secara tepat prestasi dan kelemahan guru maupun murid.

XI Lain-Lain
11.1 Mengadakan Kunjungan yang Berhasil
Kunci bagi berhasilnya perkembangan Sekolah Minggu adalah kunjungan. Setiap Sekolah Minggu harus mencantumkan "kunjungan" dalam programnya. Agar program kunjungan dapat berhasil dengan baik, diperlukan satu rapat khusus yang membahas mengenai hal ini. Rapat tersebut berfaedah sekali dalam mempersiapkan guru-guru SM/pekerja- pekerja Saudara dalam hal ini. Perkenalkan pokok ini dengan membagi- bagikan daftar pertanyaan-pertanyaan berikut kepada para guru SM/pekerja pada waktu mereka tiba di rapat.
1. Pernahkah Saudara mengunjungi seorang calon anggota? Bagaimana hasilnya?
2. Apakah Saudara senang membuat kunjungan? Hal apakah yang Saudara takuti mengenai kunjungan?
3. Maukah Saudara mengunjungi orang-orang baru, jika Saudara merasa bersiap sedia?
4. Apa yang ingin Saudara pelajari tentang hal membuat kunjungan?
Kumpulkan daftar-daftar pertanyaan itu dan bacalah sebagian dari jawaban-jawaban itu tanpa menyebutkan nama orang yang mengerjakannya. Tolonglah para pekerja menyadari bahwa setiap orang merasa segan mengunjungi orang-orang yang belum dikenalnya. Terangkanlah bahwa seringkali para pekerja diminta mengunjungi orang-orang baru, tetapi mereka tidak diberitahu caranya membuat kunjungan itu. Banyak yang sungguh-sungguh ingin mengunjungi, tapi sama sekali tidak mengetahui caranya. Rapat ini dimaksudkan untuk menunjukkan cara mengadakan kunjungan yang efektif. Dua jenis kunjungan akan dibahas, yaitu mengunjungi orang baru dan mengunjungi seorang yang absen dari Sekolah Minggu.

Mengunjungi Orang Baru

Bahan berikut dapat disajikan oleh beberapa orang, dengan seorang ketua menanyakan pertanyaan-pertanyaan sebagai penuntun pembahasan, atau dalam bentuk ceramah. Jika metode ceramah yang digunakan, jangan lupa menyediakan sebuah poster yang memperlihatkan pokok- pokok yang penting. Atau gunakan papan tulis untuk mencatat garis besarnya.

Mempersiapkan Kunjungan

Pertama-tama, kumpulkanlah keterangan mengenai calon anggota itu sebelum Saudara mengunjunginya. Carilah keterangan mengenai keluarganya, mata pencahariannya, kesukaannya, dll. Kedua, perhatikan bagaimana keadaan lahir/fisik Saudara. Berpakaianlah sedemikian agar menyenangkan tuan atau nyonya rumah. Ketiga, rencanakanlah mengadakan kunjungan itu pada saat yang menyenangkan. Jangan datang pada waktu makan atau mendekati waktu tidur. Jika mungkin, adakan perjanjian sebelumnya. Keempat, pilihlah beberapa bacaan yang baik untuk ditinggalkan di rumah itu, misalnya selembar traktat yang cocok, atau bahan-bahan rohani lainnya. Jangan lupa mencantumkan sejelas-jelasnya nama dan alamat gereja agar mereka tahu. Kelima, berdoalah meminta bimbingan. Mohonlah kepada Tuhan untuk mengaruniai Saudara suatu beban bagi orang-orang yang hendak Saudara kunjungi. Mohon kepada Roh Kudus untuk menyediakan jalan bagi kunjungan Saudara.

Mengadakan Kunjungan

Dekatilah rumah itu dengan keyakinan dan senyuman, sekalipun mungkin Saudara tidak merasa demikian. Saudara mempunyai berita yang luar biasa dan penting untuk dibagi-bagikan. Bersiapsedialah untuk bermacam-macam sambutan. Saudara mungkin disambut dengan hangat, atau Saudara mungkin mendapat sambutan dingin. Perkenalkan diri Saudara dan nyatakan maksud kedatangan Saudara.

Jika Saudara tidak dipersilakan masuk, tanggapilah dengan ramah, tanyalah jika dia suka dikunjungi pada waktu yang lebih sesuai baginya, tinggalkan bahan-bahan bacaan, ucapkan terima kasih, dan pergilah.

Jika Saudara dipersilakan masuk, mulailah pembicaraan. Tanyalah mengenai keadaan keluarga mereka. Bersikaplah ramah. Jadilah seorang pendengar yang baik. Mulailah mengutarakan maksud kunjungan Saudara. Berbicaralah mengenai gereja dan Sekolah Minggu dan pelayanan ke rumah itu. Pusatkan perhatian pada bahan yang telah Saudara bawa. Ikutilah pimpinan Roh Kudus. Sekali-kali jangan terlibat dalam perselisihan atau perdebatan.

Usaha Tindak Lanjut dalam Kunjungan

Catatlah hasil-hasil kunjungan itu. Camkanlah perhatian dan sikap- sikap mereka. Tentukan apakah kunjungan lain harus diadakan. Beritahukan hasil-hasil kunjungan Saudara kepada guru-guru dan pekerja lain di gereja. Jika perlu, aturlah untuk menjemput mereka.

Saudara mungkin ingin mengambil waktu untuk menunjukkan beberapa cara di atas kepada guru-guru SM/pekerja-pekerja. Mintalah beberapa orang yang berpengalaman untuk berperan sebagai pengunjung- pengunjung. Perankan beberapa tanggapan dan cara mengatasinya. Jika waktu mengijinkan, bagilah dalam tiga atau empat kelompok dan latihlah hal membuat kunjungan.

Mengunjungi Seorang yang Absen dari Sekolah Minggu

Dalam beberapa hal mengunjungi seorang yang absen berbeda dengan mengunjungi calon anggota. Orang yang absen itu telah mengenal pekerja-pekerja dan program gereja. Pengunjung mungkin sekali dikenal olehnya. Orang yang absen dan keluarganya telah mempunyai pandangannya sendiri mengenai Sekolah Minggu dan guru itu. Maksud kunjungan kepada orang yang absen adalah mendorongnya untuk hadir tetap. Orang yang absen itu perlu mengetahui bahwa gereja tidak melupakan dia, tetapi masih tetap memperhatikan dia.

Beberapa prinsip perlu diingat pada waktu mengunjungi orang-orang yang absen. Pertama-tama, beritahukan kepada orang yang absen itu bahwa ketidakhadirannya diperhatikan dan bahwa kehadirannya itu penting bagi Saudara dan bagi kelas. Kedua, bawalah sesuatu untuknya, misalnya gambar Sekolah Minggu, atau undangan ke pertemuan ramah tamah. Ketiga, cobalah mengetahui sebab-sebab ketidakhadirannya dan sarankan beberapa cara untuk mengatasinya. Hati-hati jangan sampai kelihatan terlalu banyak bertanya. Keempat, akuilah bahwa dalam beberapa keadaan tidak dapat diadakan kunjungan pribadi. Anggota-anggota lain dalam keluarga itu mungkin tidak akan senang bila sering diadakan kunjungan pribadi. Anggota-anggota lain dalam keluarga itu mungkin tidak akan senang bila sering diadakan kunjungan. Orang yang absen itu mungkin tinggal di rumah dengan maksud agar dikunjungi. Dalam hal-hal sedemikian jenis hubungan lain harus dibuat, misalnya hubungan melalui telepon, atau sepucuk surat, atau kartupos

Kunci bagi berhasilnya program kunjungan kepada orang yang absen adalah menetapkan satu sistem tertentu. Setiap guru harus benar- benar mengetahui apa yang diharapkan daripadanya. Harus selalu ada suatu cara bagi pekerja untuk membuat laporan mengenai usaha-usaha tindak lanjut yang dilakukannya. Pertanggungan jawab dan penghargaan adalah penting bila kunjungan tetap diinginkan. Jika Saudara mempunyai satu peraturan tertulis mengenai kunjungan kepada yang absen, dalam rapat ingatkan pekerja-pekerja mengenai hal itu. Jika Saudara tidak mempunyai satu sistem tertentu, mungkin inilah waktu yang baik untuk membahas persoalan itu dan mulai mengaturnya.

Sumber:
• Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, halaman 277 - 278, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.




11.2 Summary Pembesukan Anak (Perkunjungan)
[ Red: Berikut ini adalah rangkuman yang dibuat oleh moderator milis diskusi e-BinaGuru mengenai Pembesukan Anak (Perkunjungan) yang didiskusikan oleh para anggota milis diskusi e-BinaGuru pada bulan April 2001. Semoga menjadi berkat! ]

SUMMARY PEMBESUKAN ANAK (PERKUNJUNGAN)

Diskusi "Pembesukan Anak" berawal dari 2 pertanyaan di bawah ini:
1. Apakah masih relevan untuk diadakan pembesukan Anak-anak SM oleh guru-guru SM ?
2. Apakah keuntungan pembesukan anak-anak SM ?
Meski tidak setiap SM menjalankannya secara rutin, program pembesukan anak tetap dinilai memiliki peran "penting" dalam pelayanan anak di SM.

Dengan melakukan perkunjungan, anak dapat:
1. Lebih mengenal dan dikenal oleh ASM maupun oleh orangtua/ keluarganya, sehingga dapat terjalin komunikasi antara orangtua, anak dan GSM
2. Membantu kesulitan anak dan orangtua. Melalui kunjungan di rumah, ada kemungkinan anak atau orangtua menjadi lebih terbuka dan mau mengungkapkan permasalahan mereka.
3. Mengabarkan injil atau bersaksi kepada orangtua.
4. Bisa lebih dekat dengan anak serta lebih mengerti dan mengenal pribadi anak tersebut ketika mereka berada di tengah-tengah keluarga mereka.
Kendala saat melakukan program pembesukan anak:
1. Padatnya jadwal anak, seperti: kegiatan ko-kurikuler sekolah, les, rekreasi bersama keluarga, dsb.
2. Sulitnya menemui anak. Selain karena jadwal yang cukup padat, seringkali anak (dan orangtuanya) yang berhasil ditemui di rumah sedang dalam kondisi tidak siap menerima tamu, misalnya: sedang beristirahat, sedang tergesa-gesa mempersiapkan sesuatu, sedang berkemas untuk pergi, dsb. Sehingga kehadiran GSM malah menjadi "pengganggu".
Bagi GSM yang sudah biasa melakukan Pembesukan Anak, bagaimanapun sulitnya keadaan, tetap menganggap program tsb sebagai hal yang patut dilakukan mengingat "buah-buah" pelayanan yang akan dihasilkan darinya.

Khusus untuk program Pembesukan Anak pada keluarga non-kristen, berikut ada beberapa tips yang perlu diperhatikan:
1. Tunjukkan perhatian yang tulus. Meski biasanya anak dan orangtua tidak merasa perlu adanya kunjungan tsb, GSM sebaiknya tetap memberikan perhatian dan menunjukkan sikap yang ramah serta terbuka. Biasanya, dengan perhatian yang tulus, orangtua akan bersimpati dan mau mendorong anak untuk datang ke SM.
2. Hindari pembicaraan negatif mengenai diri anak. Selain akan membuat orangtua merasa malu, juga akan "menyakiti" perasaan mereka yang dapat mengakibatkan tertutupnya pintu hati mereka terhadap orang kristen.
3. Tidak ada salahnya GSM meminta ijin terlebih dulu pada anak sebelum mengunjungi rumahnya. Sehingga anak dapat mempersiapkan diri. Bila perlu, GSM dapat mencari informasi mengenai keberadaan keluarga atau lingkungan tempat tinggal si anak yang akan dikunjungi. Perhatikan bila ada hal-hal peka yang mungkin harus dihadapi, misalnya: orangtua anak sedang berada dalam penjara, ayahnya punya istri lebih dari satu, dsb.
4. Sebagai GSM kita harus dapat meyakinkan orangtua dari keluarga non-kristen bahwa kita adalah orang yang dapat dipercaya dalam menjaga anak-anak mereka. Tunjukkan bahwa perhatian serta kasih sayang yang kita berikan pada anak mereka adalah tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Sebenarnya, dasar atau pertimbangan seorang GSM datang mengunjungi murid-muridnya adalah karena didorong oleh CINTA KASIH yang dari Tuhan.

Selamat melayani dan Tuhan memberkati!

Sumber: Milis diskusi e-BinaGuru < subscribe-i-kan-binaguru@xc.org >
Arsip : http://purcell.xc.org/scripts/lyris.pl?visit=i-kan-BinaGuru


11.3 Melakukan Kegiatan Perkunjungan
Agar kunjungan dapat menghasilkan dampak yang positif, guru SM perlu mengetahui etika dalam melakukan kunjungan, seperti yang dijelaskan oleh Pdt. Stephen Tong dalam bukunya Biarkanlah Anak-anak Datang Kepada-Ku (Cara Mengajar Sekolah Minggu) berikut ini:

MELAKUKAN KEGIATAN PERKUNJUNGAN

Kunjungan bukan saja untuk mencari domba yang sesat, tetapi juga dapat membina hubungan erat dengan guru sehingga guru dapat lebih mengenal dan memperhatikan hidup anak didiknya. Kunjungan ialah pekerjaan kerohanian, sebab itu banyak berdoa, supaya Tuhan memberi sikap, motif yang benar, dan kesempatan yang tepat. Perkunjungan yang berdasarkan kasih dapat menyebabkan anak-anak lebih mengenal kita dan mengasihi Tuhan.

Dalam hal perkunjungan harus diperhatikan:
1. Kunjungan bukan untuk menegur, maka tidak boleh menunjukkan sikap yang berwibawa, supaya anak-anak tidak menjadi jemu.
2. Waktu kunjung jangan terlalu lama.
3. Mengunjungi bukan untuk menghakimi.
4. Mengunjungi bukan menggembalakan orangtua, tapi anak.
5. Mengunjungi bukan menarik anak Sekolah Minggu lain ke gereja kita.
6. Mengunjungi bukan berkotbah.
7. Mengunjungi tidak boleh pilih kasih, harus mengunjungi tiap-tiap anak Sekolah Minggu. Jangan hanya anak-anak tertentu.
Kunjungan Istimewa:
1. Pada waktu anak sakit. Anak yang sakit harus banyak dikunjungi, maka kita akan memenangkan hati anak itu (terutama anak nakal). Dari kesakitannya, kita dapat mengembalikan kasihnya kepada kita, sehingga ia mau tunduk/menurut, sebab:
a. Pada waktu sakit anak mudah disadarkan hati nuraninya.
b. Dalam keadaan sakit anak memerlukan belas kasihan dan sangat menghargai perhatian dan kasih orang lain.
c. Pada waktu sakit anak mudah membedakan persahabatan yang benar dan persahabatan yang palsu.
d. Dalam keadaan yang paling lemah, maka anak mudah menurut.
e. Dalam keadaan yang lemah dan susah, anak memiliki pandangan terhadap jiwa dan roh lebih serius.
2. Terhadap anak-anak yang orangtuanya bukan Kristen. Jika orangtuanya melarang anak-anaknya ke Sekolah Minggu, jangan mengunjungi mereka, supaya jangan menimbulkan akibat yang tidak baik. Kita dapat menemuinya untuk menyatakan kasih kita pada kesempatan lain atau jika bertemu di rumah anak yang lain.
3. Dalam rumah tangga yang sedang sibuk atau ada kejadian yang tidak baik jangan campur tangan atau bertamu terlalu lama. Datang pada kesempatan yang lain.
4. Ada kalanya mengirim kartu bergambar kepada anak-anak untuk menanyakan keadaannya. Tetapi harus diperhatikan, jangan terlalu sering dan kartu bergambar jangan terlalu bagus supaya tidak menimbulkan salah pengertian.
Sumber:
• Pdt. Dr. Stephen Tong, Biarkanlah Anak-anak Datang Kepada-Ku: Cara Mengajar Sekolah Minggu, halaman 31 - 32, Gereja Utusan Pantekosta, Surakarta.


11.4 Kelompok Sel Anak
PPR XIV - GPDI Semarang
Karang Pandan, 18 Agustus 1994

Oleh Yulia Oeniyati

LOKAKARYA I -- KELOMPOK SEL ANAK
Pendahuluan
Tujuan lokakarya kelompok kecil anak:
1. Bersama-sama peserta menggumuli visi perkembangan pelayanan anak
2. Membagikan visi dan konsep Kelompok Sel Anak yang sedang diterapkan di gereja-gereja yang sedang bertumbuh
3. Memberi gambaran bagaimana memulai dan menjalankan kelompok sel anak dan teknis pelaksanaannya.
Mengapa Kelompok Kecil / Kelompok Sel
1. Konsep Pelayanan anak di Alkitab
Alkitab mengajarkan supaya anak-anak dididik untuk belajar kebenaran Firman Tuhan dan hidup dalam komunitas orang percaya.
2. Sejarah Perkembangan Gereja
Dengan karya tindakan Allah, gereja tidak pernah menutup mata untuk suatu pelayanan yang mengembangkan manusia seutuhnya.
3. Tuntutan Abad 21
Kebuthan akan citra keluarga yang utuh dalam dunia serba tidak menentu.
Mengapa anak-anak
1. Karena Tuhan mengasihi anak-anak
2. Anak-anak adalah seorang pribadi yang utuh
3. Anak-anak juga dipanggil untuk memberi citra gambaran akan keluarga Allah.
Bagian-bagian penting dalam kelompok Sel
1. Visi Kelompok Sel
2. Kepemimpinan yang terstruktur
3. Konsep Kehidupan kelompok sel
4. Pemahaman Alkitab sebagai pusat
5. Pelatihan yang terarah
6. Menjangkau keluar sebagai buah kehidupan sel
7. Pujian dan penyembahan yang seimbang
8. Pelayanan yang berdasar pada doa.
Yang membuat kelompok sel anak berhasil adalah:
1. Konsep sel tubuh
2. Kristus adalah "DNA" sel.
Tugas
Untuk memulai pelayanan kelompok kecil anak, sangat penting untuk mengetahui keadaan di mana Saudara berada, oleh karena itu secara kelompok atau individu:
1. Berikan gambaran singkat tentang keadaan gereja menurut Saudara secara singkat (misalnya: segi-segi yang menguntungkan untuk mengembangkan kelompok sel anak, dan halangan-halangan yang masih harus dihadapi).
2. Tanyakan pada diri saudara sendiri sampai dimana Saudara mau terlibat dalam mengembangkan pelayanan ini.
LOKAKARYA II -- KELOMPOK SEL ANAK
Memulai Kelompok Sel Anak
1. Memberi ketaatan kepada Kristus
2. Mempunyai ketekatan dan komitmen yang kuat
3. Membentuk kelompok inti
4. Memahami konsep gereja Perjanjian Baru
5. Berjanji melaksanakan tugas-tugas
6. Membuat strategi sederhana
7. Mengembangkan kepemimpinan seorang pelayan.
Struktur Kelompok Sel Anak
1. Tim Inovator
2. Pemimpin Inti
3. Jaringan Pendukung
4. Anggota Sel
Tugas
Apabila Saudara ditunjuk sebagai orang yang diberi wewenang dan tanggung jawab oleh pengurus untuk mengembangkan pelayanan sel di gereja Saudara,
- Apa yang akan saudara lakukan?
- Bagaimana bentuk dan susunan acara yang sesuai dengan anak-anak?
- Bagaimana melatih guru-gurunya
- Struktur kempemimpinan bagaimana yang akan saudara pakai?
- Bagaimana menjangkau anak-anak yang ada di luar negeri?

11.5 Apakah yang Harus Dilakukan dengan Kamar Berantakan?
Bahan mengajar berikut ini dapat membantu Anda untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya menjaga kerapian sebuah ruangan, baik itu kamar tidur, rumah, bahkan juga ruang kelas Sekolah Minggu. Tunjukkan kepada mereka manfaat menjaga ruang kelas Sekolah Minggu agar selalu rapi dan bersih.
APAKAH YANG HARUS DILAKUKAN DENGAN KAMAR YANG BERANTAKAN

Pernahkah kamarmu berantakan?

Hampir semua anak laki-laki dan anak perempuan mempunyai kamar yang berantakan. Tetapi ketika ibu masuk ke kamar Lani hari ini, ia melihat sebuah kamar yang luar biasa berantakannya. Mainan Lani berserakan di mana-mana, baju-bajunya tergeletak begitu saja di atas sebuah kursi, dan tempat tidurnya pun sama sekali tidak dibereskan. Apakah yang akan kamu katakan seandainya kamu adalah ibu Lani?

Renungan Singkat tentang Menjaga Kebersihan:
1. Apakah kamu biasanya bersih atau biasanya berantakan?
2. Apakah kamu suka mempunyai kamar yang bersih? Bagaimanakah caranya agar kamu mempunyai kamar yang bersih? Siapakah yang harus menjaga kamarmu agar tetap bersih?
Ibu Lani tidak mengatakan apa-apa. Ia pergi ke dapur dengan tenang. Lani bertanya-tanya dalam hati mengapa ibu tidak memarahinya setelah melihat kamarnya yang berantakan.

Kemudian Lani menyusul ibu ke dapur. Ketika ia masuk ke dapur, ia sangat terkejut. Lani melihat piring-piring, panci-panci serta wajan berserakan di mana-mana. Beberapa di antaranya ditumpukkan di depan lemari sehingga Lani tidak dapat membukanya untuk mengambil sepotong kue tart.

Lani pergi ke ruang tamu untuk mencari ibunya. Tetapi ketika sampai di sana, ia bahkan lebih terkejut lagi. Buku-buku dilemparkan sembarangan di lantai, demikian juga pakaian ayah dan ibu. Ke ruangan mana pun Lani pergi, ia melihat semuanya berantakan.

"Ibu! Ibu!" kata Lani ketika ia melihat ibunya. "Apa yang terjadi dengan rumah kita?"

"Ada yang tidak beres?" tanya ibu. "Tidak ada yang tidak beres, Lani. Semuanya tampak seperti kamarmu."

Ibu benar. Keadaan rumah kini persis seperti keadaan kamarnya. Lani merasa malu sekali.

Lani segera pergi ke kamarnya. Ketika ibu masuk ke kamarnya beberapa menit kemudian, ia tersenyum. Kamar Lani tampak rapi sebagaimana mestinya. Dan ketika Lani kembali ke ruang tamu, sebagian rumah sudah tampak rapi, sebagaimana yang selalu dilakukan ibu setiap hari.

"Mulai sekarang, mari kita menjaga semua ruangan di rumah ini agar selalu bersih dan rapi," kata Lani.

"Ibu setuju dengan gagasanmu itu," kata ibu.

Renungan Singkat tentang Tuhan Yesus dan Kamu:
1. Keadaan rumah yang bagaimanakah yang kamu inginkan seandainya Tuhan Yesus akan berkunjung ke rumahmu sore ini?
2. Mengapa Tuhan Yesus ingin agar kita selalu rapi dan bersih?
Bacaan Alkitab:

1Korintus 14:40

Kebenaran Alkitab:

Lakukanlah segala sesuatu dengan rapi dan teratur (1Korintus 14:40).

Doa:

Tuhan Yesus, kiranya saya tidak akan pernah mempermalukan Engkau karena saya atau karena kamar saya atau karena hal-hal yang saya kerjakan. Amin.


11.6 Disiplin Sebagai Kebutuhan Anak
B.S. Sidjabat)
Pengantar
Disiplin merupakan salah satu kebutuhan dasar anak, dalam rangka pembentukan dan pengembangan wataknya secara sehat. Tujuannya ialah agar anak dapat secara kreatif dan dinamis mengembangkan hidupnya di kemudian hari. Kalau orangtua mengasihi anaknya maka mereka juga harus mendisiplinnya. Kasih dan disiplin harus berjalan bersama-sama secara seimbang. Dalam perkataan lain, kasih tanpa disiplin mengakibatkan munculnya rasa sentimen dan ketidak pedulian. Sebaliknya, disiplin tanpa kasih merupakan tindakan kejam (tirani).
Banyak orangtua, karena berbagai alasan termasuk kesibukan, tidak mempunyai pemahaman dan pengertian, mengabaikan kebutuhan anak dalam disiplin ini. Akibatnya di kemudian hari anak memberontak, sulit dikendalikan, mencari perhatian secara berlebihan. Orangtua demikian tentu akan mengalami konflik berkesinambungan dengan anaknya, bahkan tidak jarang yang mengalami kekecewaan dan perasaan terluka. Oleh karena itulah bahasan kita mengenai disiplin ini amat perlu, selain menjadi masukan dalam pelayanan juga menjadi alat refleksi bagi diri kita sendiri.
Dasar Teologis Disiplin
Pentingnya disiplin orangtua bagi anaknya bukan saja karena alasan sosiologis dan psikologis, tetapi juga karena pemahaman teologis. Keterangan singkat berikut ini akan menjadi pertimbangan bagi kita.
1. Allah Bapa senantiasa mendisiplin manusia ciptaanNya baik secara individual maupun secara kelompok. Cara Tuhan mendisiplin umatNya sama dengan cara ayah mendisiplin anaknya (Ul 8:5); Mzm 6:2; 38:2-3) Tujuan Allah mendisiplin manusia adalah agar mereka bertaat, hormat dan takut kepadaNya. Karena itu Tuhan memberikan pengajaran, memberikan teguran, menyatakan nasehat, dan jika perlu mengijinkan terjadinya penderitaan seperti sakit penyakit, kerugian, bahkan pembuangan ke tempat atau negeri lain. Sejarah Israel menyatakan umat kerajaan Israel utara terbuang selama 40 tahun ke Asyur dan umat Yehuda ke negeri Babilonia selama 70 tahun.
Dalam Perjanjian Baru, Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa Allah mendisiplin umatNya agar bertaat kepadaNya. Ia menyatakan disiplin sebagai bukti kasihNya (12:5, 6) meskipun pada mulanya mendatangkan dukacita (12:10, 11)
2. Tuhan Yesus Kristus pun menegakkan disiplin bagi murid-muridNya, dengan memberikan contoh seperti dalam segi-segi bagaimana menggunakan waktu, menggunakan uang, hidup berdoa secara tekun. Dia pun menyatakan bahwa kepentingan orang lain mesti didahulukan sebagaimana tampak dalam hal Yesus melayani orang yang datang kepadaNya meskipun seringkali belum sempat (bd. Mrk 3:20-21). Bilamana murid-muridNya degil, seringkali Ia berterus-terang menegur mereka dengan keras (bd. Mrk 8:14-21). Bilamana murid-murid ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, Dia menyatakan sikap mengasihi dan mengalihkan perhatian mereka kepada Tugas lain (bd. Luk 9:51-56)
Yesus pun menyatakan agar murid-muridNya belajar hidup secara tertib dalam arti memelihara kesucian hidup agar senantiasa merasakan kehadiran Allah (bd. Mat 5:8). Bagi Yesus, orang dewasa harus mendisiplin anggota tubuhnya -- tangan, kaki, mata -- agar tidak membawa keburukan bagi orang lain terutama "menyesatkan" anak-anak di bawah asuhan mereka (Mat 18:8-10). Sebab dia sendiri melarang murid-murid mengabaikan atau meremehkan anak-anak kecil (Mat 19:13-15). Tidak jarang pula Yesus menyatakan bahwa Dia tetap mengasihi murid-muridNya sekalipun mereka kurang cepat menangkap ajaran Sang Guru (Yoh 13,15)
3. Alkitab mengajarkan bahwa Roh Kudus datang untuk menyatakan kebenaran Ilahi bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Dia hadir ke dunia untuk membuat orang insyaf akan dosa dan kejahatannya lalu berbalik kepada Sang Kebenaran yang memerdekakan yaitu Yesus Kristus (Yoh 16:6-8, 11-13). Roh Kudus juga datang membuat orang memiliki hikmat hidup dan kekuatan batiniah agar dapat hidup sesuai kehendak ALlah. (Ef 1:16, 17; 3:16-18). Roh Kudus pun datang ke dalam hidup dan persekutuan orang-orang percaya guna memberikan kekuatan di dalam mengatasi kelemahan (Roma 8:2-6) serta buah kehidupan (Gal 5:22-23)
Dalam Kisah Para Rasul tampak sekali bagaimana sikap dan tindakan Roh Kudus dalam menegakkan disiplin. Ingatlah kasus Ananias dan Safira karena ingin "mencari nama dan muka" lalu berdusta kepada rasul Petrus (Kisah Para Rasul 5). Ingat pula kasus Simon tukang sihir di Samaria yang ingin terkenal lalu hendak membeli kuasa Roh Kudus dengan uang (Kisah Para Rasul 8). Rupanya Roh Kudus tidak menginginkan sikap pura-pura terjadi terjadi dalam kehidupan anak-anak Tuhan.
Surat Paulus kepada jemaat di Korintus cukup banyak menyinggung masalah disiplin hidup, agar mereka tertib dalam kehidupan bersama, kehidupan persekutuan, kehidupan memelihara tubuh dan sejenisnya. Dia mengajak jemaat untuk terus sadar bahwa Roh Kudus mendiami mereka sehingga mereka menghindarkan diri dari segala godaan mencemarkan diri (3:16; 6:19-20). Mereka harus menertibkan cara berpikir mereka sendiri agar tetap memelihara suara hati yang jernih di dalam mengambil keputusan dalam hidup bersamaan dengan orang lain (8:1-3). Mereka harus mengendalikan diri dalam ibadah agar tidak menonjolkan diri, mencari kemuliaan diri sendiri sehingga firman Allah tidak diberitakan sebagai mana mestinya (12-14).
Tugas orangtua
Paul Meier (1982) menegaskan bahwa karena pentingnya disiplin bagi anak, Kitab Amsal saja menuliskan beberapa nats mengenai tugas orangtua untuk mendisiplin anaknya (13:24; 19:18; 22:6; 22:15;23:13; 29:15, 17). Ditambahkan pula oleh Meier bahwa ayah harus mendapat tempat sebagai kepala rumah tangga; dan ibu sebagai pendampingnya (bd Kej 2:18). Kalau ayah tidak berperan sebagai kepala dalam rumah tangga, maka anak tidak memiliki idola yang jelas, tidak mempunyai konsep otoritas secara jelas dan benar pula. Akhirnya keadaan demikian dapat menimbulkan gangguan kepribadian pada anak seperti timbulnya pemberontakan terhadap orangtua dan orang lain.
Rasul Paulus juga menyatakan tekanan yang sama dalam surat kirimannya (Ef 6:4; Kol 3:21). Tugas orangtua ialah mendidik anak dalam ajaran dan nasehat Tuhan, sehingga anak terhindar dari "sakit hati" dan "tawar hati". Betapa kecewanya anak dikemudian hari karena orangtua tidak pernah menegakkan ketertiban; tidak membantu anak mengerti mana yang baik dan mana yang buruk; dan tidak menolong mereka mengatasi tantangan dan kejahatan serta bagaimana melakukan kebaikan. Sikap otoriter justru menimbulkan rasa takut dan keinginan balas dendam pada diri anak. Sikap mengekang orangtua justru menimbulkan kepasifan dan tiadanya kreatifitas dan inisiatif pada kehidupan anak di kemudian hari.
Dalam hal apa sajakah orangtua membantu anak hidup tertib, teratur dan memiliki rasa tanggung jawab? Jawabnya, dalam segala aspek kehidupan, antara lain:
a. Pola dan waktu minum dan makan serta istirahat.
b. Buang air (toilet tranning) dan buang sampah.
c. Kehidupan iman, rohani, ibadah, doa pribadi dan bersama.
d. Mengurus diri sendiri --- mandi, berpakaian, memelihara "mainan" atau barang pribadi lainnya.
e. Belajar --- mengerjakan PR, persiapan ujian, dll.
f. Membantu pengurusan kebersihan rumah serta lingkungan.
g. Dalam hal berelasi serta berkomunikasi secara sopan, memberitahukan kepada orangtua rencana-rencana kerja atau kegiatan di sekolah dan diluarnya.
h. Menepati janji atau ucapan, termasuk mengembalikan barang pinjaman dari teman.
Disiplin dengan tegas dan kasih sayang
James Dobson merupakan tokoh pendidikan anak yang terkenal dalam mengemukakan berbagai prinsip efektif bagi orangtua di dalam mendisiplinkan anak. Buku-bukunya yang mengemukakan gagasan disiplin ini ialah "Dare To Disciplin" (Berani Mendisiplin) (1970) dan "Disiplin With Love (1983). Menurut Dobson, tujuan disiplin bagi anak ialah agar mereka dapat belajar bagaimana cara hidup bertanggung jawab. Prinsip Dobson yang dituangkan dalam karyanya "The New Dare to Disciplin" (1992) adalah sebagai berikut:
a. Orangtua harus mengembangkan rasa hormat dalam diri anak terhadap orangtuanya sendiri. Rasa hormat itu harus ditumbuhkan melalui komunikasi yang akrab, lalu dikembangkan dan dipelihara dengan penyediaan waktu dalam menjawab pertanyaan anak. Dengan begitu anak belajar mengenai otoritas secara benar dan tepat.
b. Orangtua harus menghukum anak atas tingkah lakunya yang jelas memberontak atau menentang orangtua; melawan terhadap aturan yang sudah diterangkan dan ditetapkan atau disetujui sebelumnya. Hukuman fisik harus dikenakan bagi anak, pada bagian "pantat" (spanking). Orangtua harus memberitahukan mengapa ia melakukannya; dan jangan dilakukan hukuman jauh setelah anak melupakan pelanggaran yang dibuatnya.
Menurut Dobson, kalau anak sudah berusia sembilan tahun tidak tepat lagi memukulnya dibagian pantat, atau mengenakan hukuman fisik pada bagian tubuh lainnya, tetapi paling-paling menekan bagian tertentu dari bahunya untuk menyadarkan dirinya bahwa ia bersalah.
c. Orangtua harus mengendalikan diri agar tidak menyimpan amarah berkepanjangan. Jangan pula ia menyimpan emosi benci terhadap anak manakala menghukumnya secara fisik. Sebelum melakukan hukuman fisik orangtua harus menghitung dalam hatinya angka satu hingga sepuluh guna meredakan emosinya.
d. Orangtua tidak memberikan sogokan kepada anak, berupa benda, agar ia berlaku tertib. Hal ini dapat menumbuhkan akar materialisme.
Sekalipun demikian Dobson juga mengemukakan bahwa untuk mendisiplin anak, kita dapat memperkuat sikap dan perilaku positif dengan jalan menghargainya. Kalau ada hal positif, yang patut dipuji yang diperbuat anak, ia patut mendapat sanjungan orangtua. Prinsip ini disebut "reiforcement". Hal ini dilakukan dengan memberikan hadiah karena ia berbuat baik. Prinsipnya antara lain adalah sebagai berikut:
a. Hadiah harus sesegera mungkin.
b. Hadiah tidak selalu berupa benda, bisa juga pujian, kata yang membangun (Ef 4:29).
c. Kalau tingkah laku yang diharapkan terbentuk maka perbuatan memberi hadiah dihentikan saja.
Perkara lain yang harus diperhatikan dalam membangun sikap disiplin pada diri anak ialah prinsip kerjasama. Untuk menimbulkan rasa tanggungjawab dalam diri anak, orangtua perlu menyatakan keinginannya kepada anak. Bahwa orangtua meminta pendapat atau meminta tolong kepada anak tidak salah, justru dapat membuat anak merasa berharga. Apalagi kalau anak itu sudah berusia diatas lima tahun (TK atau SD).
Kemudian orangtua dapat mengajak anaknya melakukan apa yang direncanakan bersama-sama. Dengan begitu orangtua memberikan contoh dihadapan anaknya. Selanjutnya, orangtua perlu memberikan tugas bagi anak, agar ia mengerjakannya. Jika ada kesalahan, orangtua memberikan koreksi dan kesempatan kedua. Jika anak berhasil maka anak layak mendapat pujian dan penghargaan. Bisa melalui hadiah material dan bisa pula dengan pujian bahwa anak itu hebat, pintar, dan sejenisnya. Hal ini dapat diterapkan dalam kegiatan belajar, kegiatan ibadah dan doa, kegiatan membersihkan rumah, mencuci piring, pakaian, dll. (Parents & Children, ed. Jay Kesler, 1986; The Enycyclopedia of Parenting, 1982).
Masalah nilai budaya
Salah satu persoalan yang tidak biasa kita pungkiri ialah pengaruh nilai budaya terhadap kehidupan orangtua yang selanjutnya memberi dampak bagi pendisiplinan anaknya. Biasanya pengaruh dan gaya disiplin yang diperoleh orangtua dari keluarga asalnya (family of origin) ikut serta terefleksi dalam pendidikan dan pembinaan anaknya.
1. Boleh saja (permisif). Ada orangtua yang tidak mendisiplin anaknya, sehingga di rumah anak bebas melakukan apa saja, tanpa peraturan dan pedoman atau batasan (boundary) yang jelas. Hal demikian terjadi karena orangtua sibuk, lemah dan kurang pemahaman mengenai pendidikan anak secara baik.
2. Kekuasaan. Ada orangtua yang amat menekankan sikap otoriter terhadap anaknya; banyak larangan; sehingga anak takut dan merasa tidak bebas untuk berkreasi; takut berbuat kesalahan dan mencoba memperbaikinya. Anak yang diancam oleh orangtua namun tidak pernah terlaksana ancaman itu, bisa membuat anak memandang rendah wibawa mereka. Bisa saja anak memandang orangtuanya sebagai "pembohong".
3. Hierarkhis. Ada orangtua yang takut mendisiplin anaknya karena kehadiran nenek atau kakek. Campur tangan kakek atau nenek dalam mendisiplin anak pada dasarnya menghambat anak memiliki konsep yang benar mengenai ayah atau bapak. Anak demikian akan manja, tidak punya pendirian yang baik. Sebaliknya pengaruh kakek atau nenek bagi anak harus diminimalkan oleh kehadiran ayah dan ibu di tengah-tengah rumah tangga.
4. Penumbuhan rasa malu dan takut. Ada orangtua yang terus mengumandangkan istilah "Kamu nggak tahu malu!?" bagi anaknya yang berlaku tidak sopan. Ada pula yang menakut-nakuti anak agar berperilaku baik seperti takut kepada polisi, dokter, dll. Model demikian cukup sering kita temukan ditengah-tengah masyarakat. Disamping membawa hasil baik, hal demikian tentu saja membawa pengaruh negatif. Anak kurang diajak berpikir rasional.
5. Pengaruh pembantu rumah tangga. Di perkotaan sudah banyak orangtua yang karena sibuk maka pembinaan anak ditangani oleh pembantu rumah tangga. Banyak pembantu rumah tangga tidak mempunyai ketrampilan dalam pembinaan dan disiplin anak, disamping mempunyai motif ekonomis saja dalam menunaikan tugasnya. Pada umumnya anak yang diasuh dan dibesarkan oleh pembantu cenderung nakal, tidak tertib kerena pembantu rumah tangga tidak mampu mengendalikan secara kreatif.
Bahan bacaan:
• Drehner, John
o 1992 Tujuh Kebutuhan Anak. Jakarta:BPK
• Dobson, James
o 1992 New Dare To Discipline. Baker.
o 1997 Kendalikan Selagi Mampu (Terj.) Bandung: Kalam Hidup.
• Kesler, Jay
o 1986 Parents & Children. Victor Books.
• Meier, Paul D.
o 1977 Christian Child-Rearing and Personality Development. Baker.


11.7 Bohong Putih: Boleh atau Tidak?
Seringkali kita mendengar pandangan yang mengatakan bahwa "bohong putih" itu tidak apa-apa, toh tujuannya baik. Dalam kenyataan hidup, sulit sekali untuk berlaku jujur apalagi di saat yang sama kita seringkali diperhadapkan dengan suatu dilema. Sehingga "bohong putih" seringkali menjadi salah satu pilihan terpaksa sebagai jalan keluar.
Sebagai contoh, anda sedang mengajak anak anda yang masih berusia 3 tahun berjalan-jalan di taman dan kebetulan ada seorang penjaja es krim yang lewat. Anak anda segera merengek minta dibelikan, tapi anda tidak ingin membelikannya karena anak anda sedang batuk. Mungkin pada akhirnya anda akan tergoda untuk mengatakan pada anak bahwa es krim yang dibawa penjual tersebut sebenarnya sudah habis.
Pada dasarnya "bohong putih" sama saja dengan kebohongan, yaitu mengatakan hal yang tidak benar dengan tujuan mengelabui seseorang. Untuk mengajarkan sikap dan perilaku jujur pada anak, sebagai orang dewasa kita harus terlebih dulu memberi contoh yang baik.
Meskipun anak kecil dapat kita "perdaya" oleh "kebohongan putih" tersebut, pada saatnya mereka akan mengerti juga dan pada saat itu tiba mereka telah belajar dua hal yang tidak menguntungkan dari kita, yaitu:
1. Anak menganggap "bohong" sebagai jalan keluar dari situasi yang sulit
2. Anak mendapati bahwa orang tua (orang dewasa) tidak selalu dapat dipercayai perkataannya
Sumber:
• Arlene Eisenberg; Heidi E. Murkoff; Sandee E.; Hathway, B.S.N., Anak di Bawah Tiga Tahun: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan, halaman 491, Penerbit ARCAN.



11.8 Mendoakan Murid-murid Kita
Sama seperti Kristus yang selalu mendoakan murid-murid-Nya, kita sebagai seorang guru SM pun harus senantiasa mendoakan anak-anak SM kita. Banyak cara yang dapat digunakan untuk memotivasi diri kita berdoa bagi mereka. Tips berikut ini memberikan beberapa saran praktis untuk berdoa bagi murid-murid kita.
MENDOAKAN MURID-MURID KITA
Sudah menjadi kewajiban kita untuk mendoakan murid-murid kita. Charles Stanley menuliskan, "Doa kita adalah penghubung antara Tuhan sebagai sumber dari segalanya dan kebutuhan kita sebagai manusia." Namun, kita tidak selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh murid-murid kita.
Suatu cara yang membantu saya untuk mendoakan murid-murid saya adalah dengan memberikan atau menyediakan kartu-kartu kecil berukuran 3x5 cm dalam sebuah kotak yang diletakkan di dalam kelas. Selama kelas berlangsung, saya sediakan waktu beberapa menit bagi mereka untuk mengisi kartu-kartu itu dengan pokok-pokok doa mereka. Seringkali, pokok-pokok doa yang mereka tulis ini berbeda dengan pokok-pokok doa yang mereka sebutkan sewaktu doa bersama. Saya tetap menjaga kerahasiaan pokok doa mereka.
Seiring dengan berjalannya waktu, anak-anak akan lebih terbuka lagi. Dengan mendoakan pokok-pokok doa mereka, hubungan kami semakin dikuatkan. Seakan-akan, Allah membangun jembatan yang menghubungkan jiwa kami melalui waktu doa ini. Saya bisa melihat dalam mata mereka pada hari Minggu atau pada waktu mereka menceritakan sesuatu, seolah-olah mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka tahu saya mendoakan mereka. Kami saling berbagi sukacita atas jawaban doa kami. Kami tumbuh seperti yang kami pelajari bahwa kadang-kadang Tuhan menjawab "tidak". Semuanya tergantung pada perjalanan rohani kita semua.
Ada cara yang berbeda-beda untuk mulai mendoakan murid-murid Anda. Pertama, jelas Anda harus berkomitmen untuk melakukannya. Kedua, dapatkan cara yang bisa Anda gunakan. Mungkin ide-ide berikut ini bisa Anda gunakan. Jika tidak, berdoalah agar Allah membantu Anda untuk menemukan cara yang bisa Anda gunakan secara pribadi dan bisa Anda jadikan sebagai gaya hidup Anda. Anda bisa memulainya dengan:
1. Menyuruh anak-anak untuk menuliskan pokok-pokok doa mereka dalam kartu-kartu yang Anda sediakan.
2. Anda mencatat hal-hal yang berhubungan dengan permohonan doa mereka pada waktu berdoa. Mungkin Anda bisa mendoakan perubahan perilaku tertentu dari seorang anak pada sebuah kartu doa. Misalnya:
____________________________
| Saya berdoa agar Jonny |
| lebih sabar lagi terhadap |
| teman-teman sebayanya. |
|____________________________|
3. Doakan dengan singkat daftar nama anak-anak di kelas Anda. Anda dapat mendoakan satu anak setiap minggunya dan terus doakan sesuai urutan dalam daftar tersebut. Anda juga bisa setiap hari dalam satu minggu berdoa untuk beberapa anak tertentu.
Sumber:
• Jody Capehart, Becoming a Treasured Teacher: Practical Strategies for Making a Lasting Difference in Young Lives, Artikel Praying for Your Student, halaman 63 - 64, Victor Books, 1992.



11.9 Membentuk Karakter Kristen Pada Anak
Berikut ini adalah definisi karakter menurut "English Dictionary":
a. Karakter adalah suatu kualitas yang dimiliki oleh seseorang yang membedakan dirinya dengan orang lain.
b. Jika seseorang memiliki karakter khusus berarti seseorang itu memiliki kualitas yang khusus dalam dirinya.
c. Anda dapat menggunakan kata karakter untuk menghubungkan kualitas seseorang dengan tempat asalnya.
d. Anda juga dapat menggunakan kata karakter untuk menyebutkan bahwa seseorang termasuk dalam kategori tertentu, misalnya seseorang memiliki karakter aneh, berarti orang tersebut merupakan orang aneh.
e. Karakter seseorang juga bisa berarti kepribadian seseorang, biasanya untuk menunjukkan betapa seseorang itu baik hati dan dapat diandalkan. Apabila seseorang memiliki karakter baik, berarti bahwa orang tersebut baik hati dan dapat diandalkan.
f. Apabila anda mengatakan bahwa seseorang memiliki karakter, itu berarti bahwa orang itu memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah yang dihadapi dengan lebih efektif.
Sementara itu definisi kepribadian (personality) menurut "English Dictionary" adalah seluruh karakter dan sifat alami yang dimiliki oleh seseorang.
Melalui definisi tersebut "Karakter Kristen" berarti: Kualitas/watak yang dimiliki seorang Kristen sehingga dapat membedakan dirinya dengan orang lain. Kualitas/watak yang dimiliki oleh seorang Kristen ini adalah hidup yang mencerminkan dan memancarkan kemuliaan Kristus di dalam dirinya. Membentuk karakter Kristen berarti membentuk seseorang untuk memiliki kualitas/watak Kristus dengan cara menjadi serupa dengan Kristus dan meneladani Kristus dalam hidupnya, serta hidup sesuai dengan kebenaran Alkitab.
Mendidik karakter kekristenan merupakan hal yang sangat penting. Sebelum membentuk karakter anak yang kita didik, kita perlu menganal mereka secara pribadi dan menerima mereka sebagaimana adanya. Hal-hal yang perlu kita ketahui dalam penerimaan adalah:
a. Setiap anak dicipta secara unik dan berbeda dari yang lainnya.
b. Setiap anak memilik kelebihan dan kekurangan yang disebabkan oleh gen/keturunan yang dibawanya.
c. Setiap anak dipengaruhi oleh lingkungannya (keluarga, sekolah, masyarakat).
d. Setiap anak memiliki keunikan pribadi yang membedakan dirinya dengan anak lain.
Namun sebagai pendidik, tidak cukup hanya dengan menerima sebagaimana adanya anak itu. Tetapi kita juga bertanggung untuk mengembangkan mereka dan membentuk karakter Kristen di dalam dirinya. Beberapa prinsip yang perlu kita ketahui dalam mengembangkan anak adalah:
a. Kita harus boleh mengembangkan apa yang ada padanya, tetapi tidak memaksakan apa yang ada padanya.
b. Setiap anak memiliki potensi untuk berkembang dan terus-menerus bertumbuh.
c. Setiap anak memerlukan keyakinan diri untuk berkembang.
d. Peran Tuhan dalam pengembangan. Kuasa Tuhan Yesus memungkinkan seseorang untuk lahir baru, bertumbuh dan berkembang.
Dalam mendidik karakter kekristenan ini guru perlu memiliki kasih, kesucian, kebajikan, keadilan, keberanian, kedisiplinan dan sebagainya.
Bahan ini dirangkum dari:
1. Judul buku : Seni Membentuk Karakter Kristen
Penulis : Dr. Mary Setiawani dan Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : LRII
Halaman : 3-10

2. Judul buku : English Dictionary
Penulis : Collins Cobuild
Penerbit : Harper Collins Pulbishers
Halaman : 263 dan 1231



11.10 Menyambut dan Mempertahankan Anak Baru
PENYAMBUTAN ANAK BARU
Acara ini sangat penting untuk setiap anak yang baru pertama kali hadir di Sekolah Minggu, yaitu mengadakan acara penyambutan khusus, dengan memperhatikan ada sebagian anak yang pemalu dan ada yang peka perasaannya!
Berikut ini adalah beberapa kreasi untuk menyambut anak baru, yaitu:
1. Pengalungan medali.
Tentu saja bukan medali sesungguhnya, guru bisa membuat kalung dari beberapa permen yang diikat menjadi satu, sehingga menyerupai sebuah "medali". Anak yang baru hadir akan menerima pengalungan medali (kalung "permen") dari seorang anak lama, dan semua anak lama memberikan salam pada anak baru.
2. Wawancara khusus.
Guru dapat menjadi semacam "reporter" (seperti seorang wartawan). Dengan gaya "lucu", guru bertanya kepada anak baru tersebut. Berikan pertanyaan yang unik tanpa menyinggung perasaannya, misal: "Maaf, boleh saya mengetahui nama Anda?" "Oh, jadi Anda ini yang bernama: Joko. Pak Joko, kami semua senang bertemu Anda di sini (dan seterusnya)." Walau sederhana, wawancara santai ini menarik dan berkesan. Anda bisa meminta data anak tersebut, dalam bentuk dialog. Jangan ada kesan "menginterogasi" anak baru tersebut di depan kelas.
3. Jadikanlah dia tokoh Minggu itu.
Jika dalam suatu ilustrasi cerita diperlukan nama tokoh tertentu, guru boleh menjadikan nama anak baru itu sebagai nama tokoh tersebut. Artinya, libatkanlah dia dalam pelajaran hari itu, atau dengan sengaja meminta pendapatnya dalam suatu diskusi. Jangan sampai terkesan, guru seolah-olah tidak mengenalnya -- sebaliknya, timbulkan kesan: Anda sangat memperhatikan dia sejak pertama dia datang!
MEMPERTAHANKAN ANAK BARU UNTUK HADIR KEMBALI
Bagian ini sangat sulit karena memerlukan perhatikan khusus dari semua guru kelas. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:
1. Mengunjungi anak baru.
Selain guru berkesempatan memperkenalkan diri dengan lebih baik, anak baru juga akan mempunyai kesan bahwa gurunya sangat perhatian kepadanya, pasti ia akan datang kembali.
2. Libatkan dalam acara Minggu depan.
Beri pesan, Minggu depan kakak harap kamu datang lagi. Kakak mau minta tolong agar kamu membantu, misal mengedarkan kolekte atau tugas sederhana yang lain. Jika seorang anak merasa dibutuhkan, maka harga dirinya akan terangkat. Ia akan berusaha untuk hadir.
Bisa juga meminta supaya ia mengundang teman-temannya yang lain. Beri blangko undangan ke Sekolah Minggu untuk dibagikan kepada teman-temannya.
3. Tunjuk seorang penjemput.
Alangkah baiknya, jika guru bisa meminta satu atau dua orang anak yang rumahnya berdekatan dengan anak baru tersebut untuk mengingatkan dan menjemput anak baru tersebut ke Sekolah Minggu. Anak baru tersebut akan merasa "punya kawan" dan tidak kesepian di kelas.
Jika tidak ada anak yang bersedia (atau malu), guru dapat menjadi "pelopor" penjemputan. Usahakanlah agar guru tidak sendirian ketika menjemput anak baru itu, tetapi mengajak satu atau dua orang anak Sekolah Minggu lainnya. Pilih yang rumahnya terdekat dengan anak baru tersebut, sehingga Minggu berikutnya mereka dapat menjadi "pemerhati" bagi anak baru tersebut.
Artinya, jangan biarkan anak baru tersebut tidak punya kawan.
4. Libatkan dalam Acara Kelompok
Cara termudah dan efektif adalah dengan membuat acara kelompok di kelas. Masukkan anak baru dalam kelompok tersebut. Buatlah supaya ia merasa "diterima dan punya kelompok" di Sekolah Minggu. Hal ini akan membuat dia kerasan dan rindu untuk selalu hadir SM.
5. Undangan dan Info Sekolah Minggu
Jika blangko undangan SM sudah ada, berilah dia blangko tersebut. Mintalah ia mengundang teman-teman lainnya. Jelaskan sedikit mengenai SM, seputar acara dan kegiatannya. Ingat, kebanyakan anak baru "tidak tahu apa-apa" tentang Sekolah Minggu yang mereka ikuti, akibatnya, walaupun acara hari Minggu depan menarik, mereka tidak akan datang lagi. Karena itu, berilah waktu untuk berbincang-bincang dan menjelaskan sedikit kepadanya tentang Sekolah Minggu di akhir pertemuan atau sesaat sebelum ia pulang. Guru boleh juga mengantarnya pulang, hal ini akan lebih berkesan.
6. Berilah Bonus Teks Lagu-lagu
Kebanyakan anak baru belum mengenal lagu-lagu pujian di Sekolah Minggu. Jika ia "malu" karena tidak bisa mengikuti puji-pujian, bisa jadi hari Minggu depan ia tidak akan datang lagi karena merasa "terasing/malu". Maka, sediakanlah beberapa copy teks lagu-lagu yang biasa dinyanyikan agar ia dapat mengikuti dan menikmati acara tersebut dengan baik.
Sumber:
• Paulus Lie, Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif, halaman 75 - 77, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997.


11.11 Pertanyaan yang Diajukan Anak Umur 4-5 Tahun
Pernahkah anda tergagap karena tak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan seorang anak berumur 5 tahun? Seringkali begitu polos dan sederhananya pertanyaan itu sampai orang dewasa menemui kesulitan untuk memberikan jawaban yang sederhana untuk mereka. Di bawah ini adalah cuplikan 9 pertanyaan biasa yang diajukan anak Balita tentang Tuhan dan hal-hal rohani lainnya, serta contoh pedoman jawaban yang dapat diberikan. Kiranya materi ini dapat memperluas wawasan serta membantu kita semua dalam melayani anak-anak Balita.
1. Siapakah yang membuat Allah?
Tidak seorangpun. Allah sudah ada di sana sebelum dunia dibuat dan Ia akan selalu ada selama-lamanya. Allah tidak dibuat tapi Ia adalah Pencipta segala sesuatu, karena Dia membuat kita dan Ia juga membuat segala sesuatu yang ada di dunia ini.
2. Berapa umur Allah?
Allah tidak punya umur. Dia tidak menjadi tua seperti kita dan Dia tidak pernah berubah.
3. Apakah Yesus ada di setiap rumah?
Dia ingin ada di setiap rumah, khususnya dalam rumah hati kita. Tapi Ia hanya mau tinggal jika pemilik rumah itu menginginkan Dia tinggal di sana. Yesus tidak pernah memaksa untuk tinggal di rumah kita. Tapi kalau diundang Ia akan datang. Dan Ia akan tinggal di rumah orang-orang yang mengasihi-Nya.
4. Apakah malaikat itu?
Mereka adalah utusan Allah. Alkitab menceritakan tentang malaikat- malaikat yang Allah utus untuk menyampaikan pesan kepada manusia. Alkitab memberitahu kita bahwa malaikat melindungi orang-orang yang mengasihi Allah. Kitab Ibrani dalam Perjanjian Baru mengatakan bahwa malaikat dikirim untuk melayani orang yang mengasihi Allah.
5. Apakah manusia bisa menjadi malaikat?
Tidak. Malaikat sama sekali berbeda dengan manusia.
6. Apakah malaikat sama seperti peri?
Tidak. Peri hanya ada dalam dunia dongeng - tidak nyata. Tapi malaikat itu nyata.
7. Apakah Ibu percaya pada malaikat penjaga anak-anak?
Allah memakai malaikatNya untuk menjaga dan memelihara, bukan hanya anak-anak tapi juga orang dewasa yang dikasihi Tuhan. Ada orang Kristen yang percaya bahwa setiap orang memiliki masing-masing malaikat penjaga. Kita tidak tahu apakah itu benar, tapi kita bisa meminta Allah untuk mengirim malaikatNya untuk menjaga dan melindungi kita.
8. Mengapa kita berdoa?
Dalam berdoa kita bisa berbicara, bercerita, menyatakan terima kasih, minta maaf, atau minta tolong kepada Tuhan. Seperti dengan ibu kita, kita bisa bercerita apa saja, bukan? Bayangkan kalau kita tidak dapat berbicara dengan ibu kita, nah.. kita akan sedih bukan? Demikian juga berdoa kepada Tuhan Yesus, Ia mengajar kita berdoa, karena Ia senang berbicara dengan kita. Ia juga senang menolong kita dengan mengabulkan doa-doa kita, kalau doa-doa kita berkenan kepadaNya.
9. Mengapa orang mati?
Biasanya orang mati ketika mereka sudah tua dan sudah lama hidup di dunia. Tubuh mereka menua, seperti pakaian tua yang menjadi lapuk. Jadi, memang suatu saat nanti orang akan mati. Jika hal itu terjadi, itu adalah saat baginya untuk meninggalkan tubuh tuanya, dan pergi untuk hidup bersama Yesus di surga.
Sumber:
• Jeremie Hughes, Jika Anak-anak Bertanya, halaman 57 - 89, PT. Inkosindo Perdana, Jakarta.


11.12 Komunikasi yang Efektif
Coba baca pernyataan berikut ini: "Aku mengasihi kamu."
Apakah arti kata-kata itu bagi Anda? Mungkin bagi beberapa orang kata-kata itu mempunyai arti yang tidak begitu penting. Tapi tahukah Anda, betapa pentingnya kalimat ini jika kita ucapkan pada orang yang kita kasihi. Kata-kata dalam kalimat ini adalah kombinasi kata-kata yang sangat sederhana seperti kata-kata lainnya. Tetapi komitmen dan perasaan yang terkandung di dalamnya dapat mengubah kehidupan. Dalam hal ini, mereka bukan hanya sekedar kata-kata. Mereka sudah menjadi suatu komunikasi.
Komunikasi yang memadai itu penting dalam pengajaran Sekolah Minggu yang efektif. Oleh sebab itu kita harus melakukannya sebaik mungkin dengan meluangkan sedikit waktu untuk mempelajari faktor kunci ini.
ELEMEN-ELEMEN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
Seperti yang telah kita lihat, komunikasi tidak hanya sekedar menggabungkan rangkaian kata-kata. Berikut ini beberapa sisi komunikasi efektif yang sudah diidentifikasikan:
1. Perubahan nada suara.
Jika Anda mendengar saya mengatakan, "Aku sayang kamu," dengan sangat keras, seluruh elemen baru akan ditambahkan ke dalamnya. Perubahan nada suara saya, penekanan yang saya berikan pada kata- kata tertentu, dan emosi yang saya rasakan ketika saya mengucapkan kata-kata itu akan menjadi faktor yang saling berhubungan dalam menyampaikan kalimat tersebut. Dan, tergantung pada konteks dimana saya mengucapkan kata-kata tersebut, perubahan nada suara saya dapat memberikan pengaruh pada arti pentingnya pesan dari kata-kata tersebut bagi pendengarnya.
Saya menulis kata-kata ini ketika saya sedang duduk di sebuah hotel di New Orleans. Pagi tadi, saya mengucapkan selamat tinggal kepada istri saya sebelum berangkat ke sini untuk suatu perjalanan bisnis yang singkat. Ketika saya melangkah keluar, saya mengatakan kepada Elaine bahwa saya menyayanginya. Ketika saya mengucapkan kata-kata tersebut, ada suatu kesedihan dan penyesalan dalam nada suara saya. Saya sudah tahu bahwa saya akan merindukannya, dan saya merasa sedih. Saya ingin meyakinkan Elaine bahwa saya menyayanginya meskipun saya tidak ada di sana untuk mengatakan kepadanya. Perubahan nada suara saya mungkin sudah menyampaikan perasaan saya tersebut.
Sekarang anggaplah saya sudah kembali dari perjalanan saya. Ketika kami saling menyapa di bandar udara dan saling berpelukan, saya akan mengatakan lagi, "Aku sayang kamu." Tetapi sekarang perubahan nada suara saya menyiratkan kebahagiaan yang saya rasakan karena bisa berkumpul kembali dengan istri saya.
Dalam mengajar, perubahan nada suara kita juga mempunyai peranan yang penting. Jika kita mengatakan, "Yesus adalah Tuhan," dengan biasa-biasa saja, nada suara yang datar, maka murid kita pun bisa mendengar dan merasakannya. Mereka tidak akan bisa menggabungkan makna yang sesungguhnya dari pesan ini. Kita harus memperhatikan secara terus-menerus bahwa mengajar bukan hanya sekedar menyampaikan apa yang kita katakan, tetapi bagaimana kita menyampaikannya.
2. Gunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh setiap orang.
Kata-kata yang kita gunakan adalah simbol-simbol; kita mengambilnya untuk mewakili benda-benda dan ide-ide. Dalam komunikasi sehari-hari, setiap manusia memiliki persepsi/konotasi tersendiri terhadap setiap kata yang diucapkan atau didengarkan. Kita harus mengakui fakta ini dalam komunikasi kita sehari-hari. Dalam mengajar, seorang guru pun harus memperhatikan fakta tersebut karena kita membawa pengalaman dan interpretasi pribadi kita dalam kata-kata yang kita gunakan, bahkan seringkali kita menggunakan istilah-istilah yang belum tentu dipahami oleh murid- murid kita.
Contohnya ketika saya mengatakan bahwa Tuhan itu seperti seorang ayah. Pernyataan ini benar jika seorang pendidik juga memiliki anggapan yang akurat terhadap peran seorang ayah dan mengetahui bagaimana seorang ayah itu bertindak. Tuhan seperti seorang ayah. Tetapi bagaimana jika saya mengatakan hal itu kepada seorang anak yang ayahnya pulang dalam keadaan mabuk dan sering memukulinya? Tuhan sebenarnya tidak sama dengan ayah seperti itu. Seperti yang Anda lihat, kita tidak bisa menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya kepada pendengar kita karena setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menginterpretasikan kata yang sama. Jadi selain mengakui pentingnya dan dampak dari perubahan nada suara, kita juga harus pintar-pintar memilih kata-kata yang dapat dipahami secara universal dan tidak menimbulkan konotasi yang terlalu besar bagi seseorang.
3. Gunakan bahasa tubuh yang baik.
Kapan pun kita berkomunikasi, kita tidak hanya menyampaikan kata-kata atau suara dari kata-kata atau kalimat tersebut. Bahasa tubuh adalah satu istilah yang telah digunakan untuk mengekspresikan suatu bentuk komunikasi yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Telitilah dua orang yang terlibat dalam suatu komunikasi. Biasanya mereka menggunakan gerakan isyarat, sikap tubuh, dan berbagai teknik fisik lainnya untuk menguatkan dan menginterpretasikan kata-kata mereka. Para guru juga menggunakan bahasa tubuh, meskipun beberapa diantara mereka tidak menyadari hal itu.
Seringkali, dengan memperhatikan cara guru Sekolah Minggu memulai kelasnya, seseorang bisa menilai apakah guru tersebut senang berada di kelasnya. Sikap tubuh dan posisi yang dia gunakan ketika mengajar adalah salah satu bagian dari bahasa tubuhnya. Seorang guru yang duduk dalam satu lingkaran bersama dengan murid-muridnya menandakan suatu keinginan untuk berbagi dan berdiskusi bersama-sama dengan murid-muridnya. Sebaliknya, seorang guru yang berdiri di belakang podium, mengenggam erat- erat ujung podium, mengajar muridnya agar duduk dalam barisan yang rapi, mungkin menyampaikan sesuatu yang semuanya berbeda. Dia mungkin akan dirasa sebagai orang yang ingin memegang kendali.
Sebagai kesimpulannya, cara guru dalam berkomunikasi di dalam kelas akan memberikan pengaruh yang penting bagi hasil pengajaran/ pengalaman belajar seorang murid. Melalui ketrampilan kita dalam mengubah nada suara, pemilihan kata-kata yang tepat, dan bahasa tubuh yang baik, seorang guru yang bijaksana akan memodifikasi dan mengembangkan kata-kata yang mereka gunakan untuk mengajar. (Adakalanya, karena saya mengetahui fakta ini, ketika saya kembali dari perjalanan dan menyapa istri saya di bandara, saya akan mengucapkan kembali, "Aku sayang kamu," menggunakan bahasa tubuh dengan cara memeluk Elaine dan menciumnya!)
Seorang guru yang cakap tidak hanya akan mengandalkan seutuhnya kata-kata yang dia gunakan untuk berkomunikasi dengan pendengarnya. Seperti yang kita tekankan pada bagian yang terakhir, mereka juga harus dapat menggabungkan berbagai teknik untuk menguatkan dan mendukung kata-kata yang diucapkan. Teknik ini lebih memberikan penekanan dalam rasa daripada hanya sekedar mendengarkan. Seorang guru yang berbakat mengakui bahwa Tuhan memberi kita panca indera, dan kelima panca indera ini bisa digunakan dengan sebaik-baiknya.
Sumber:
• Wesley R. Willis, Make Your Teaching Count!, Artikel Words and Beyond, halaman 57 - 60, Victor Books, Illinois, 1986.


11.13 Komunikasi dalam Mengajar
Ikutilah tips mengajar berikut ini. Kami yakin Anda akan memetik buahnya, yaitu Anda akan menjadi seorang guru yang komunikatif.
KOMUNIKASI DALAM MENGAJAR
1. Belajarlah bahasa murid-murid Anda secara terus-menerus dan cermat untuk mengetahui kata-kata apa yang biasa mereka gunakan dan apa makna kata-kata itu bagi mereka.
2. Dapatkan dari anak-anak itu keterangan selengkap mungkin mengenai pengetahuan mereka tentang pokok pelajaran itu. Dengan demikian saudara akan mengetahui gagasan mereka dan cara-cara mereka mengungkapkannya supaya dapat membantu mereka mengoreksi pengetahuan yang sudah ada pada mereka.
3. Sedapat mungkin, bicaralah dengan bahasa yang lazim bagi murid- murid itu. Ingat-ingatlah untuk mengoreksi jika ternyata mereka salah mengerti kata-kata yang Saudara ucapkan.
4. Pakailah kata-kata yang sesedikit mungkin dan hanya yang paling sederhana untuk mengungkapkan maksud Saudara. Kata-kata yang tidak perlu hanya menambah kepusingan anak-anak dan memperbesar kemungkinan salah pengertian.
5. Pakailah kalimat-kalimat pendek yang paling sederhana bentuknya. Kalimat panjang lebih sulit untuk ditangkap maksudnya dan sering membuat murid-murid itu pusing.
6. Jika murid-murid itu ternyata tidak mengerti apa yang Saudara katakan, cobalah ulangi buah pikiran itu dengan kata-kata yang lain. Jika mungkin, secara lebih sederhana lagi.
7. Bantulah mereka mengerti kata-kata itu dengan memakai ilustrasi. Benda-benda alam dan gambar-gambar lebih cocok bagi anak-anak yang masih kecil. Sedapat mungkin, berikan gambaran berdasarkan pengalaman anak-anak itu sendiri.
8. Bila perlu untuk mengajarkan sebuah kata yang baru, berikan terlebih dahulu gagasan yang dimaksud sebelum memakai kata itu. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan memberi gambaran sederhana yang cocok dengan pengalaman anak-anak itu sendiri.
9. Cobalah memperbanyak kata-kata para murid dan pada waktu yang bersamaan menyempurnakan pengertian mereka akan maknanya. Dengan menambah perbendaharaan kata-kata murid, kita menambah pengetahuan serta kemampuannya.
10. Oleh karena menguasai bahasa merupakan salah satu sasaran utama dalam proses pendidikan, janganlah Saudara puas bila murid-murid terlalu lama duduk diam hanya mendengarkan walaupun kelihatannya mereka penuh perhatian terhadap apa yang dikatakan. Anjurkan mereka untuk memberi tanggapan dengan bebas.
11. Sebagaimana selalu harus terjadi pada waktu mengajar anak-anak kecil, di sini pun Saudara harus bertindak lambat-lambat asal selamat. Tiap kata harus dipelajari dengan seksama sebelum Saudara memperkenalkan kata yang baru lagi.
12. Sering-sering ujilah pengertian murid mengenai kata-kata yang digunakannya, untuk memastikan bahwa ia tidak memberikan makna yang keliru pada kata-kata itu dan agar ia melihat arti sebenarnya dengan sejelas-jelasnya.
Sumber:
• John Milton Gregory, Tujuh Hukum Mengajar, halaman 71 - 73, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang.


11.14 Prinsip Hukuman

Pemberian hukuman, sebaiknya cara terakhir yang digunakan dalam mendisiplin anak. Dewasa ini, hampir semua pendidik Barat menentang pemberian hukuman secara fisik sebab tindakan itu hanya menyelesaikan masalah sementara waktu saja dan memberi akibat sampingan yang tidak baik. Tidak semua penggunaan hukuman atau hukuman fisik itu tidak berfaedah. Alkitab mengajarkan, "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya menghajar dia pada waktunya" (Amsal 13:24), dan juga, "Jangan menolak didikan dari anakmu, ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati" (Amsal 23:13-14). Tetapi bukan berarti bahwa orangtua atau guru boleh dengan semena-mena menggunakan haknya untuk memukul anak.
Ada empat alasan mengapa hukuman fisik tidak dapat diterima. PERTAMA, secara tidak sadar memberi pukulan mengajar anak untuk memukul. KEDUA, bila orangtua kehabisan akal, lalu dengan emosi dan kekerasan, ia memukul. KETIGA, dari hasil penyelidikan terhadap seekor tikus. Bila tikus tidak tersesat baru diberi makanan, hasilnya akan lebih baik dibanding bila tikus tersesat, lalu diberi aliran listrik. Jadi disimpulkan bahwa hukuman tidak mendatangkan hasil. KEEMPAT, memukul dapat melukai harga diri seorang anak, mengurangi kepercayaannya terhadap pendidik, bahkan menghindari dan membencinya.
JENIS HUKUMAN FISIK
Ada 3 jenis hukuman fisik:
1. Dipukul
Kalau hukuman fisik tidak dapat dihindari, lakukan dengan kepala dingin dan jangan dalam keadaan marah. Terhadap anak usia 15-18 tahun, masih boleh dikenakan hukuman fisik yang ringan. Pilihlah alat yang digunakan dengan cermat, yang penting bukan dalam suasana marah sehingga memukul dengan keras, menjewer, atau menonjoknya. James C. Dobson menentang memukul anak dengan tangan, karena tangan adalah perantara kasih. Ia juga berpendapat bahwa hukuman fisik hanya sampai batas anak merasa sakit dan berteriak, baru ada hasilnya dan bukan memukulnya dengan kejam. Jangan menunggu bila ingin menggunakan hukuman fisik, apakah perlu atau tidak dan bukan dengan mengatakan, "Nanti, tunggu ayahmu pulang, baru kamu dipukul."
2. Diasingkan
Orang dewasa sering menggunakan pengasingan sebagai hukuman untuk anak. Anak diasingkan dari anak lain, tidak diizinkan bermain supaya dengan tenang, anak dapat mengintrospeksi dirinya sendiri. Tetapi dalam jangka waktu tertentu, datang dan tanyakanlah kepada anak, apakah ia memerlukan bantuan dan menguraikan dengan jelas harapan orangtua atas perilaku mereka. Dalam menerapkan hukuman, perlu diperhatikan jangka waktunya karena bila waktunya terlalu panjang atau terlalu pendek, akan kehilangan fungsi hukumannya. Karena setiap anak itu berbeda sifat, maka penerapan hukuman ini sebaiknya dilakukan dengan fleksibel. Waktu jangan lebih dari 10- 15 menit, tempat harus aman, dan jangan ada barang yang membuat anak senang melewati waktu itu.
3. Didamprat
Ada anak yang sangat peka, yang tidak perlu menggunakan hukuman fisik atau bentuk lain. Hanya dengan perkataan saja, ia sudah berubah. Hukuman dengan cara mendamprat ini termasuk kritikan, ajaran, teguran yang keras, agar anak merasa bersalah dan malu. Bagi anak yang nakal, hukuman ini tidak berguna. Menggunakan hukuman ini juga harus berhati-hati karena omelan yang berlebihan akan melukai harga diri anak itu, membuat jurang antara anak dan orangtua.
USULAN
Cara apa pun yang digunakan harus masuk akal, baru dapat hasil yang baik. Di bawah ini beberapa usulan:
1. Gunakan cara lain dahulu.
Sebelum menggunakan hukuman fisik, gunakanlah terlebih dahulu cara penghukuman yang lain.
2. Peringatkanlah terlebih dahulu.
Pertama kali anak melakukan kesalahan, jangan langsung dihukum, lebih baik mencari waktu untuk menjelaskan peraturan yang ada terlebih dahulu. Jangan menghukum anak dalam keadaan tidak tahu, tetapi setelah diingatkan dan diperingatkan masih berbuat salah, baru dihukum.
3. Dengan kasih sebagai motivasi.
Hukuman tidak mengandung aniaya, hukuman harus dilakukan atas dasar kasih dan perhatian, hukuman harus digunakan dalam keadaan yang sadar dan bukan dalam keadaan emosional dan marah.
4. Pertahankan hubungan yang baik.
Hukuman hanya bisa dilaksanakan saat adanya hubungan yang baik antara anak dan yang menghukum; jika tidak, hasilnya tidak mungkin baik.
5. Memegang waktu.
Hukuman harus segera ditindaklanjuti. Pengalaman membuktikan makin panjang waktunya, semakin kurang hasilnya.
6. Mengendalikan tingkat hukuman.
Tingkat hukuman harus tepat. Jangan terlalu keras atau terlalu ringan. Hukuman fisik yang terlalu ringan tidak akan ada faedahnya, tetapi bila terlalu keras akan meninggalkan bekas di dalam hati anak. Akibatnya, semuanya tidak akan mencapai hasil yang diinginkan.
7. Penjelasan yang gamblang.
Setelah hukuman diberikan, sebaiknya orangtua atau guru memberikan penjelasan mengapa mereka dihukum dan dilarang melakukan sesuatu, sehingga hasilnya akan lebih baik, selain mendidik anak untuk mengatasi masalah.
8. Secara aktif berkomunikasi.
Setelah menghukum anak, harus ada komunikasi yang baik dengan anak. Umumnya, setelah dihukum, seorang anak ingin kembali menjalin hubungan yang baik dengan orangtua atau guru. Jangan mundur, dan sebaiknya manfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan kasih bahwa anak itu sangat berharga di dalam hati Anda, hukuman itu diberikan semata-mata karena kasih.
9. Menghadapi masalahnya, bukan manusianya.
Hukumlah perilaku anak yang salah dan bukan menghukum orangnya. Sewaktu menghukum anak, jangan melihat pribadinya, supaya jangan merusak hubungan kita dengan mereka. Apabila mereka gagal dalam belajar, kita harus membantu pelajaran mereka, bukan menganggap mereka anak yang bodoh. Allah menciptakan satu bagian tubuh yang banyak dagingnya yang dapat terhindar dari luka-luka karena pukulan, yaitu pantat. "Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi" (Amsal 10:13). "Hukuman bagi si pencemooh tersedia dan pukulan bagi punggung orang bebal" (Amsal 19:29). "Cemeti adalah untuk kuda, kekang untuk keledai, dan pentung untuk punggung orang bebal" (Amsal 26:3). Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "punggung".
Sumber:
• Dr. Mary Go Setiawani, Menerobos Dunia Anak, halaman 60 - 63, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000.


11.15 Sekitar Pemberian Hukuman
Hukuman pada hakikatnya adalah suatu "penderitaan" yang sengaja dilakukan guna memberikan suatu asosiasi dengan perbuatan tidak baik, yang dilakukan oleh seorang anak. Jadi, jika penderitaan tersebut tidak dirasakan, anak belum merasa dihukum. Dengan demikian, agar hukuman benar-benar tepat, salah satu syarat yang harus dipenuhi ialah adanya suatu penderitaan yang dirasakan oleh si anak.
Tujuan jangka pendek dari menjatuhkan hukuman itu ialah untuk menghentikan tingkah laku yang salah; sedangkan tujuan jangka panjangnya ialah mengajar dan mendorong anak-anak untuk menghentikan sendiri tingkah laku mereka yang salah itu, dengan mengarahkan dirinya sendiri. Anak-anak ingin dikoreksi, tetapi mereka menghendaki koreksi dalam suatu semangat umum yang bersifat menolong dan mengasuh mereka. Dengan menjalankan suatu aturan, Anda menolong anak-anak untuk memahami batas-batas mereka, dan dengan demikian membangun serta mengembangkan pengendalian diri sendiri.
Bila hukuman itu tidak dikaitkan dengan disiplin, dalam artian jika hukuman tidak dikaitkan dengan peraturan yang Anda buat, maka sifatnya akan berubah menjadi merugikan. Menjatuhkan hukuman pada seorang anak dapat bersifat merugikan, apabila sebenarnya anak tidak bersalah sedikit pun juga. Jika anak memandang orangtuanya semata- mata sebagai orang yang ditakuti, bukan orang yang dapat melindunginya, maka hal ini juga kurang sehat. Hukuman dapat pula membawa akibat yang merugikan bila tidak dilakukan dengan segera.
Bila kita lihat, ada beberapa orangtua yang menganggap bahwa menghukum anak dengan cara memukul merupakan suatu cara yang paling ampuh. Karena pukulan akan memberikan suatu perasaan tidak enak pada anak, sehingga anak cenderung untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Namun bagaimanapun juga, memberikan hukuman fisik sebaiknya dihindarkan, meskipun hanya berupa jeweran atau pukulan kecil. Hukuman-hukuman fisik ini, seberapa pun ringannya, akan memberikan akibat buruk bagi perkembangan anak selanjutnya. Si anak cenderung berkembang sebagai anak yang agresif. Karena mungkin saja, ia akan meniru semua tindakan kekerasan yang pernah Anda lakukan padanya. Terutama bila ia menghadapi suatu hal yang dianggap menghalangi keinginannya, atau bila ia menghadapi anak lain yang lebih muda usianya, dan lebih lemah daripada dirinya.
Sebetulnya, pada kebanyakan anak, pukulan pada jari atau telapak tangannya sudah akan menolong, tetapi tindakan ini lebih tepat dilakukan pada anak-anak yang sudah menjalin hubungan yang serasi dengan orangtuanya. Dengan kata lain, anak-anak yang sudah mampu membina hubungan yang harmonis, dalam arti anak sudah dapat dengan mudahnya diajak berkomunikasi, atau anak yang sudah dapat menerima baik segala perlakuan orangtuanya. Cara ini tepat pula jika diterapkan pada anak-anak yang bersifat "alim" dan mudah menyesuaikan dirinya, sehingga belalakan mata atau kerutan kening ibunya, misalnya, sudah mampu menghapuskan kelakuannya yang buruk.
Tetapi, menurut pengamatan para ahli, menyentik atau memukul telapak tangannya pun sudah dianggap tindakan yang berlebihan. Anak-anak yang demikian tidak begitu sulit diberi pengertian bahwa ayah dan ibu tidak akan memukulnya (walaupun ia telah lebih dulu memukul), karena memang pada dasarnya siapa pun tidak boleh "ringan tangan" terhadap anak.
Anak-anak munafik biasanya dibentuk oleh kebiasaan orangtuanya sendiri dalam mendidik. Misalnya, karena orangtua tersebut punya kebiasaan menghukum anak dengan cara kekerasan, sehingga si anak takut mengakui dan bertanggung jawab terhadap kesalahannya. Sedangkan pukulan-pukulan itu sendiri, kalau terlalu sering ditimpakan pada anak, lama-kelamaan tidak ada manfaatnya sama sekali. Apalagi kalau pukulan itu Anda lakukan pada saat emosi Anda sedang mendidih, maka hasilnya hanya rasa penyesalan saja.
Bagi mereka yang kontra, antara lain mengatakan bahwa memukul lebih banyak menimbulkan efek negatif daripada positif. Seorang anak sering sengaja mengada-ada, bertingkah laku nakal untuk memancing perhatian orangtuanya. Oleh karena itu, agar anak tidak melakukan hal-hal yang memancing hukuman sebagai perhatian, seyogyanyalah kalau orangtua tidak melupakan anak yang baik dan penurut dengan memuji tindakan-tindakan mereka yang menyenangkan. Apabila menerima pukulan "sama" dengan mendapat perhatian, anak akan berlomba-lomba mendapatkan perhatian dari orangtuanya.
Supaya efektif, hukuman harus diberikan langsung setelah anak melakukan kesalahan. Percuma saja menghukum anak satu atau dua hari kemudian, setelah ia melakukan kesalahan karena si anak tidak akan bisa melihat hubungan antara kesalahannya dengan hukuman tersebut. Hukuman badan yang terlalu sering diberikan, juga menyebabkan anak seakan-akan "kebal" terhadap hukuman tersebut. Dalam hal ini, hukuman badan sudah kehilangan fungsi dan artinya sebagai alat untuk menegakkan disiplin.
Hukuman yang berupa tidak mau memperhatikan anak selama beberapa jam, dianggap sebagai jenis hukuman yang bermanfaat dan paling baik. Hukuman itu akan bertambah berat jika disertai dengan kata-kata, "Sekarang ibu tidak sayang lagi padamu," seperti yang amat sering dipakai oleh orangtua sebagai ancaman terhadap anak. Seorang ibu mengatakan, "Saya tahu bahwa kata-kata itu merupakan hukuman yang paling berat bagi anak saya. Tetapi, hukuman tersebut satu-satunya jenis hukuman yang masih membawa hasil. Biasanya, setelah dua tiga menit, ia akan datang menghampiri saya dengan penuh rasa sesal."
Bila orangtua tidak berhati-hati dalam memberikan hukuman fisik, anak bisa menganggap tindakan ini sebagai suatu bentuk penolakan terhadap dirinya. Hal ini akan mengakibatkan anak tidak merasa dekat dengan orangtuanya. Terkadang pula, anak sudah terlalu besar untuk dipukul. Orangtua sering melupakan hal ini, sedangkan anak merasa malu dan sakit hati karena merasa diperlakukan seperti anak kecil. Dalam keadaan semacam ini, harga diri seorang anak tersentuh. Ia akan merasa terhina, karena orangtuanya membuat dirinya menjadi kecil. Bila keadaan ini terjadi berulang kali, maka perkembangan anak tentu akan dipengaruhi.
Ukurlah berat ringannya hukuman sesuai dengan kesalahan anak. Selalu bersikap keras sekali atau selalu bersikap halus membuat anak tidak menyadari kesalahan yang "keterlaluan" dan yang sekali-kali tidak boleh dilakukan.
Dr. Charles Schaefer, berpendapat bahwa suatu hukuman yang logis, haruslah proporsional atau seimbang besar/kerasnya terhadap pelanggaran. Jadi, seorang anak belasan tahun yang menghilangkan suatu barang, umpamanya, sangatlah tidak layak kalau mendapat hukuman kerja tambahan selama satu bulan. Tentu saja, hal ini sudah keterlaluan, yang akan menimbulkan perasaan dan kemauan yang negatif, serta rasa dendam karena ketidakadilan hukuman itu. Usahakanlah untuk memperoleh suatu keseimbangan antara besar kelakuan yang salah itu dengan hukuman. Namun, hukuman-hukuman juga janganlah sedemikian ringannya, sehingga seperti tidak berpengaruh atau tidak terasa oleh anak, dan juga jangan terlalu kuat sehingga merusak.
Dalam hal ini, jelaslah bahwa hukuman-hukuman harus direncanakan sebelumnya. Dalam "saat-saat yang panas" dimana orangtua sedang marah dan emosi, biasanya sangat sukar atau malah tidak mungkin, untuk menentukan hukuman-hukuman yang layak. Jika emosi sedang tinggi, maka ada suatu tendensi untuk mengakibatkan dan menimbulkan "pikiran yang tambah panas dan gelap", bukannya tambah terang, mengenai suatu problema.
Sumber:
• Alex Sobur, Butir-Butir Mutiara Rumah Tangga, halaman 48 - 52, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1987.


11.16 Hadiah untuk Anak
Rentang waktu diskusi : 3 April 2001 - 10 April 2001
Diskusi Hadiah untuk Anak bermula dari sebuah pertanyaan sederhana:
Tepatkah pemberian hadiah untuk anak digunakan sebagai salah satu langkah untuk menarik minat anak datang ke Sekolah Minggu?
Yang dimaksud dengan HADIAH adalah: Segala sesuatu yang diberikan pada ASM untuk memotivasi mereka semakin rajin datang ke SM - jadi, jumlah kehadiran anak akan mempengaruhi kuantitas / kualitas hadiah yang akan diterimanya. ASM yang rajin datang ke SM tentunya akan mendapat hadiah yang lebih banyak / lebih baik dibanding teman- temannya yang kurang rajin.
Dalam perkembangannya, diskusi Hadiah untuk Anak selain menghasilkan berbagai cara / teknik pemberian hadiah, juga menimbulkan Pro dan Kontra mengenai perlu tidaknya hadiah diberikan sebagai upaya menarik anak datang ke Sekolah Minggu.
Hadiah dan Anak
Hadiah rupanya memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang anak. Apa pun dan bagaimana pun bentuknya, hadiah seringkali memang menjadi daya pikat tersendiri bagi anak. Oleh sebab itu, tidak sedikit Guru Sekolah Minggu yang menyediakan hadiah dalam berbagai kesempatan, misalnya:
• Pemberian hadiah yang didasarkan pada jumlah kehadiran anak
• Pemberian hadiah karena lomba dan sejenisnya
• Pemberian hadiah karena prestasi pribadi anak, seperti: menghafal ayat hafalan, mengajak teman baru (meski perlu dipertanyakan apakah menghafal ayat dan mengajak teman baru boleh dikategorikan sebagai prestasi ... ataukah hal yang seharusnya dilakukan oleh anak)
• Pemberian hadiah saat hari khusus, seperti Natal dan Paskah
• Pemberian hadiah karena anak berulang tahun
Sistem Kupon: Pro dan Kontra
Salah satu teknik pemberian hadiah yang sempat menimbulkan Pro dan Kontra adalah: Sistem KUPON. Seorang anak yang berkelakukan seperti yang diharapkan Sekolah Minggu (misalnya: rajin hadir ke SM, dapat menghafal ayat, mengajak teman baru, dsb) akan memperoleh kupon sesuai dengan prestasinya tersebut, dan sebagai upahnya, anak dapat menukarkan kupon yang diperolehnya dengan berbagai jenis barang yang telah disediakan SM.
Sistem KUPON ini, bagi SM yang telah melaksanakannya, dinilai sebagai salah satu cara yang baik dan positif karena selain dapat menarik minat anak datang ke SM juga dinilai mengajarkan rasa tanggung jawab serta melatih kemampuan manajemen dan pengambilan keputusan dalam diri seorang anak.
Dalam kasus ini hadiah diberikan pada anak sebagai upah dari perbuatannya. Namun, ada pula pertimbangan lain dari sebagian GSM yang melihat adanya efek negatif bila hadiah diberikan pada anak sebagai upah atas perbuatan baiknya, termasuk di sini adalah penerapan sistem KUPON tersebut.
Beberapa alasan yang sempat dikemukakan antara lain:
• Dikuatirkan anak termotivasi untuk berlaku baik karena ada hadiah yang ditawarkan. Padahal seharusnya anak harus diberi pengertian dengan benar mengapa mereka seharusnya melakukan hal tsb.
• Pemberian hadiah sebagai upah dan penerapan sistem KUPON dinilai akan semakin mengangkat anak yang sudah baik. Bagaimana dengan mereka yang malas datang ke Sekolah Minggu, atau anak yang bermasalah, bukankah mereka justru harus diperhatikan dengan lebih baik lagi oleh GSM?
• Secara tidak langsung akan terjadi pengkotakan ASM antara yang rajin dan yang malas
• Adanya hadiah sebagai daya tarik, dikuatirkan menimbulkan kompetisi / persaingan antara ASM
• GSM perlu mempertimbangkan faktor di luar anak (misal: ortu tidak Kristen, anak dari keluarga berantakan, dsb), dimana kondisinya secara pribadi memang tidak memungkinkan baginya untuk rajin hadir ke Sekolah Minggu, apalagi aktif berperan dalam berbagai aktivitas. Sistem penilaian berdasarkan prestasi justru akan semakin mematahkan niat dan kerinduannya untuk datang ke SM.
Dasar Pemberian Hadiah
Akhirnya, ada sebuah usulan untuk merenungkan kembali mengapa kita memberi hadiah pada anak. Dasar pemberian hadiah seharusnya adalah karena CINTA (kasih) pada anak, bukan karena perbuatan baik mereka. Sama seperti Yesus juga memberikan hadiah keselamatan berdasarkan anugerah dan bukan perbuatan baik kita.
Dalam konteks ini, hadiah tidak harus berwujud / berupa materi. Ada banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai hadiah, misal: perhatian, meluangkan waktu bersama anak, main bersama / jalan-jalan, dsb.
Kasus: Sekolah Minggu I
TAPI, dalam realitanya, toh tidak sesederhana seperti yang didiskusikan. Permasalahan dan konteks situasi setempat seringkali memaksa kita untuk bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan. Kasus perintisan Sekolah Minggu yang pertama oleh Robert raikes (1780) justru menunjukkan keberhasilan sistem hadiah (dan juga hukuman) pada anak-anak SM. Pada masa itu, Robert Raikes memang menghadapi permasalahan yang rumit, anak-anak SM yang dikumpulkannya berlatar belakang miskin / kumuh, dari keluarga yang tidak peduli, dengan angka kriminalitas tinggi. Sehingga untuk memotivasi mereka datang ke SM, UANG digunakan sebagai daya tarik, dan HADIAH diberikan supaya anak-anak tsb mau memberikan respons akan pengajaran Firman Tuhan, bahkan satu lagi, HUKUMAN pun akan dijatuhkan untuk mendisiplin anak- anak yang tidak tahu aturan tersebut.
Tidak ada yang menyangkal, bahwa Robert Raikes dipakai Tuhan untuk merintis Sekolah Minggu (seperti yang kita kenal sekarang), dan hasil pekerjaannya pada masa itu benar-benar mengagumkan dan menjadi berkat bagi puluhan ribu anak.
Dasar Tindakan Pemberian Hadiah
Ada yang berusaha menengahi Pro dan Kontra pemberian hadiah dengan memberikan sebuah pertanyaan: apa yang menjadi DASAR tindakan pemberikan hadiah tersebut? Jadi, mungkin bagi SM A pemberian hadiah tepat dilakukan sebagai daya tarik bagi anak, tapi bisa jadi bagi SM B sebetulnya tidak bijaksana bila mencoba menerapkan cara yang sama.
Pada akhirnya, yang dituntut dari seorang GSM bukanlah memberi atau tidak memberi hadiah, TAPI bagaimana seorang GSM dapat memberi perhatian dan cinta kasihnya pada ASM, memberi penghargaan pada diri anak asuhnya, meluangkan waktu-tenaga-dana untuk berusaha mewujudkan cinta kasih Kristus pada anak-anak tsb. Kreativitas juga merupakan unsur yang sangat penting, karena hadiah itu sendiri kurang berarti nilainya tanpa saat-saat yang menyenangkan yang dapat dirasakan anak saat mengikuti SM.
Menerima vs Memberi
Bila untuk HADIAH banyak SM melakukan investasi yang besar, dan untuk topik ini para GSM meluangkan banyak tenaga dan waktu untuk berdiskusi, sekarang sudah saatnya kita melangkah maju dengan mulai memikirkan cara BAGAIMANA MEMBERI pada orang lain. Bagaimana mengajarkan anak untuk tidak hanya suka menerima hadiah, tapi membangun kesadaran mereka untuk suka memberi.
"... sebab Ia (Tuhan Yesus) sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima" (Kis 20:35)
Moderator (Meilania).

XII Evaluasi
12.1 Hal yang Perlu Dievaluasi
Jika tujuan dari pengevaluasian adalah untuk menemukan cara-cara untuk meningkatkan kinerja total program pelayanan SM, maka kita perlu mengevaluasi program tersebut secara menyeluruh. Tetapi seringkali hal ini menjadi terlalu besar, jika kita mencoba untuk melakukannya sekaligus. Aspek-aspek yang bervariasi dari program ini harus dievaluasi satu persatu dalam jangka waktu tertentu.
Apa saja aspek-aspek yang perlu dievaluasi dalam pelayanan SM?
1. Tujuan-tujuan
Suatu program pelayanan SM yang efektif dalam gereja lokal akan mempunyai tujuan yang umum, menyeluruh, dan lebih terperinci di tiap-tiap bagian. Tujuan-tujuan ini harus di periksa ulang sekurang-kurangnya sekali setahun (dalam beberapa keadaan tertentu harus lebih sering). Hampir di setiap jemaat, perlu untuk melakukan beberapa perubahan atau mengurai kembali sasaran- sasarannya. Pengevaluasian tujuan perlu dilakukan secara teratur agar tidak ketinggalan zaman atau menjadi tidak terpakai.
2. Program-program
Pisahkan program-program yang perlu dievaluasi secara teratur dari keseluruhan program yang ada. Contohnya, liburan sekolah Alkitab seharusnya di evaluasi sesegera mungkin setelah selesai, ketika informasi dan perilaku masih segar dalam ingatan para peserta. Seorang guru kelas pelatihan harus dievaluasi tidak hanya ketika kelas sudah selesai tetapi juga beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian untuk menentukan keefektifitasannya dalam jangka panjang.
3. Organisasi
Organisasi dalam gereja harus melakukan evaluasi yang teratur. Apakah para pengurus dalam organisasi melakukan fungsinya dengan benar? Dapatkah mereka dibuat agar menjadi lebih efektif? Apakah organisasi meniru suatu aktivitas yang akan menjadi lebih efisien jika dilakukan oleh organisasi lain? Susunan organisasi yang rumit dengan gambaran tugas yang detil akan menjadi tidak berguna tanpa pengevaluasian dan pembaharuan yang teratur.
4. Para Pekerja
Setiap orang yang mengambil bagian dalam pelayanan SM harus selalu di evaluasi, setidaknya secara informal, oleh teman- temannya dan murid-muridnya. Banyak pengevaluasian yang dilakukan secara informal, dan mengakibatkan perbaikan -- yang dilakukan sebagai hasil evaluasi -- menjadi tidak berguna. Evaluasi secara formal sebaiknya dilakukan oleh para pekerja SM dan juga para pemimpinya. Tapi metode formal ini sering ditakuti dan dihindari, sehingga perlu metode yang tepat untuk melakukannya.
5. Fasilitas-fasilitas
Sejak fasilitas fisik yang tersedia memegang peranan yang besar dalam membentuk dan membatasi program pendidikan gereja, maka fasilitas dan peralatan tersebut harus dievaluasi dalam jangka waktu yang teratur. Peralatan dapat diperbaharui atau dirawat secara teratur sedang fasilitas dapat di bentuk dan digunakan secara lebih efisien lagi.
6. Data-data
Seluruh data-data Gereja, khususnya yang berhubungan dengan pekerjaan pendidikan, harus diperiksa secara teratur agar tetap "up to date" dan akurat. Karena itu tujuan dari pengevaluasian adalah membantu agar data-data tersebut tetap berada dalam satu lokasi dan dalam bentuk yang standar.
7. Kurikulum
Dalam pengertiannya yang luas, kurikulum memusatkan seluruh kegiatan dalam gereja sehingga membantu gereja mencapai sasaran pendidikannya. Tentu saja ini menjadi hal pokok dari proses evaluasi yang ada. Kadang orang-orang membatasi penggunaan kurikulum hanya untuk bahan-bahan pelajaran yang dicetak. Bahan- bahan seperti ini harus selalu berada dibawah penelitian yang ketat untuk menjaga kebenaran isinya, kekuatan pengajarannya, kegunaannya bila dihubungkan dengan pekerjaan guru, keterkaitan mereka dengan murid-murid, dan kecocokan mereka dengan tujuan pendidikan gereja.
8. Murid-murid
Pada akhir penelitian, tidak ada yang lebih penting dari apa yang terjadi pada murid-murid dalam program pendidikan itu. Jika sampai tidak ada bukti-bukti yang jelas tentang pertumbuhan orang Kristen, dimana tiap-tiap orang menjadi lebih seperti Kristus dalam perbuatan dan tingkah lakunya, maka program itu telah gagal dalam mencapai sasaran utamanya.
Menguji kesadaran untuk belajar merupakan hal yang lebih sederhana dan harus dilakukan lebih sering daripada kesadaran itu sendiri. Tak dapat disangkal bahwa ujian mempunyai satu konotasi negatif bagi beberapa orang, tetapi dengan pendekatan yang tepat ujian dapat dilakukan secara teratur di sekolah minggu dan lembaga pendidikan formal lainnya yang sejenis. Ujian untuk pertumbuhan iman jauh lebih sulit tetapi harus dilakukan jika bertujuan untuk membantu orang-orang menemukan kebutuhannya.
Cara lain untuk melakukan evaluasi adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan program-program yang dilakukan di SM. Berikut ini adalah contoh pengevaluasian beberapa program yang diambil dari buku Handbook for Children's Ministry:
1. Perekrutan Guru SM.
• Apakah saat ini sudah ada perekrutan yang dilakukan secara rutin?
• Apakah sudah ada deskripsi tugas yang jelas untuk masing-masing guru?
• Apakah dalam perekrutan, para calon guru diberi kesempatan untuk memikirkan/meneguhkan kembali keputusan mereka?
• Apakah dalam setiap program rekruitisasi para calon guru diberi pelatihan, baik itu secara teori maupun praktek?
2. Pelatihan dan Perencanaan
• Apakah pelatihan untuk semua guru yang diadakan dalam SM Anda sudah diberikan secara teratur dan terencana?
• Apakah ada rapat-rapat untuk membicarakan pelatihan dan rencana- rencana dalam SM?
3. Pertumbuhan/Perkembangan Pelayanan SM.
• Sudah adakah rencana untuk membuka cabang pelayanan SM di lokasi dan tempat yang baru?
• Apakah program penginjilan sudah dilakukan secara teratur?
• Apakah SM sudah dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan rohani para anggotanya?
Sumber:
• Introduction to Christian Education, Artikel Evaluating Christian Education, halaman 240 - 243, Standard Publishing Co., Ohio, 1980.
• Dr. Robert J. Choun & Dr. Michael S. Lawson, The Complete Handbook for Children Ministry: How to Reach and Teach Next Generation, Artikel Evaluations, halaman 133 - 134, Thomas Nelson Publishers, Nashville, 1993.



12.2 Mengevaluasi Guru dan Bahan Pelajaran
EVALUASI TERHADAP GURU
Hal ini biasanya enggan dilaksanakan guru karena hasilnya akan memperlihatkan kekuatan dan kelemahannya. Namun guru yang ingin maju dalam profesinya perlu meminta peserta didiknya memberi penilaian. Kita harus ingat bahwa penilaian peserta didik sangat bergantung kepada beberapa faktor di bawah ini:
1. Ketulusan guru untuk dievaluasi para peserta didik. Karena itu setiap guru harus mengembangkan diri dalam segi perumusan alat evaluasi yang tepat dan relevan.
2. Perasaan aman yang dimiliki peserta didik sekalipun ia mengemukakan hal-hal yang subjektif. Misalnya, nilai belajar atau kenyamanan dalam mengikuti ibadah SM terjamin karena hasil evaluasi yang dikemukakannya.
3. Relasi yang dikembangkan guru dengan peserta didiknya selama interaksi belajar mengajar berlangsung.
EVALUASI BAHAN PELAJARAN
Guru perlu merencanakan alat untuk mengukur sejauh mana relevansi atau kegunaan dari bahan pengajarannya bagi peserta didik. Hal itu dapat dilakukan dengan merancang bahan evaluasi tertulis, juga dapat disertai wawancara.
Melalui evaluasi program pengajaran, guru harus mengajak peserta didik untuk melaksanakan dan mengetahui beberapa hal penting di bawah ini:
1. Menilai sejauh mana bahan yang dipelajari membawa manfaat positif. Hal-hal apa yang diperoleh? Bahan-bahan mana yang paling dan kurang menolong?
2. Menilai topik-topik mana yang kurang membawa manfaat selama kegiatan belajar berlangsung.
3. Memberi usulan terhadap topik yang dipandang perlu dibicarakan dalam program berikutnya. Hal ini menjadi masukan bagi guru dalam meningkatkan kualitas pelayanan.
4. Bila perlu guru dapat meminta peserta didiknya membuat rencana pengajaran dari pengajaran yang akan ditempuhnya. Peserta didik remaja sudah bisa didorong untuk mewujudkan perkara ini.
Sumber:
• B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D., Menjadi Guru Profesional Sebuah Perspektif Kristiani, Artikel Evaluasi Belajar, halaman 120 - 121, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.



12.3 Kuisioner untuk Guru SM
Berikut ini adalah contoh kuisioner evaluasi yang ditujukan bagi para guru SM. Silakan Anda simak terlebih dahulu, mungkin saja akan ada ide lain untuk membuat kuisioner yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan Sekolah Minggu Anda.
KUISIONER EVALUASI BAGI GURU
Isilah atau lingkarilah jawaban yang benar!
A. KELAS SAYA
1. Umur atau tingkat kelas yang Anda ajar ___________
2. Sudah berapa tahun Anda mengajar Sekolah Minggu? ___________
3. Sudah berapa tahun Anda mengajar kelas ini? ___________
4. Apakah Anda senang mengajar di kelas ini?
a. Ya
b. Tidak
5. Jika jawaban Anda pada nomor 4 adalah "tidak", kelas lain mana yang Anda lebih sukai? ___________
B. FASILITAS KELAS
1. Ruang kelas saya cukup memadai.
a. Ya
b. Tidak
2. Perlengkapan di kelas saya cukup memadai.
a. Ya
b. Tidak
3. Ruang kelas saya memiliki papan tulis kapur.
a. Ya
b. Tidak
4. Saya membutuhkan perlengkapan tambahan berikut ini:
a. ________
b. ________
c. ________
d. ________
e. dll.
5. Secara berkala saya merubah dekorasi dan susunan ruang kelas.
a. Ya
b. Tidak
C. WAKTU YANG DIMILIKI OLEH GURU
1. Rata-rata waktu yang saya butuhkan untuk persiapan adalah _____
2. Saya merasa waktu yang saya butuhkan untuk persiapan sudah cukup.
a. Ya
b. Tidak
3. Saya sebenarnya membutuhkan waktu lebih banyak untuk persiapan tetapi:
a. Saya harus bekerja.
b. Saya memiliki tanggung jawab di gereja lain.
c. Saya tidak tahu apalagi yang harus saya pelajari.
d. Saya tidak memiliki buku-buku yang perlu untuk dipelajari.
4. Biasanya saya datang 15 menit sebelum Sekolah Minggu dimulai.
a. Ya
b. Tidak
5. Saya sebenarnya ingin datang lebih awal, tetapi:
1. Keluarga saya menghalangi saya.
2. Saya menunggu dijemput.
3. Saya rasa itu tidak penting.
4. Saya kurang merencanakan waktu dengan tepat.
5. Alasan lain: ___________________________
6. Jumlah jam mengajar saya:
. Cukup
a. Kurang
7. Saya biasanya mengikuti kebaktian di gereja pada:
. Pagi hari.
a. Siang hari.
b. Malam hari.
8. Biasanya saya melakukan doa pribadi dan saat teduh:
. Sehari sekali atau lebih.
a. Seminggu sekali.
b. Kurang dari seminggu sekali.
D. HUBUNGAN DENGAN MURID
1. Saya menjalin hubungan dengan murid-murid saya melalui:
a. Telepon
b. Kunjungan ke rumah
c. Surat
d. Hubungan di luar kelas
e. Tidak pernah
2. Saya tidak pernah berhubungan dengan murid-murid saya di luar jam mengajar karena:
a. Saya tidak mempunyai alat transportasi.
b. Saya tidak berani berkunjung.
c. Saya rasa hal itu tidak penting.
d. Saya tidak mempunyai waktu.
e. Saya wakilkan ke orang lain.
f. Alasan lain: _____________________
3. Saya menghubungi murid-murid tetap saya melalui:
a. Telepon
b. Kunjungan ke rumah
c. Surat
d. Hubungan di luar kelas
e. Tidak pernah
4. Pada umumnya diskusi-diskusi pribadi saya dengan murid-murid saya setelah kelas atau selama minggu itu mengenai:
a. Pengajaran tentang Alkitab yang baru saja diajarkan.
b. Hal-hal yang menarik saja.
c. Kehadiran mereka di gereja atau Sekolah Minggu.
d. Perlaku mereka di kelas.
e. Praktek penerapan pelajaran yang baru saja diberikan terutama dalam persahabatan dan pertumbuhan mereka dalam Kristus.
E. METODE PENGAJARAN
1. Saya telah mengunakan metode-metode berikut ini setidaknya sekali dalam tiga bulan terakhir:
a. Pelajaran
b. Diskusi
c. Alat peraga
d. Tanpa alat peraga
e. Karangan kreatif
f. Diskusi panel, debat, forum
g. Belajar Alkitab secara induktif
h. Permainan yang instruktif
i. Berjalan-jalan
j. Bercerita
k. Obyek pelajaran
l. Belajar kelompok
m. Role play murid
n. Penelitian atau percobaan
o. Tanya jawab
p. Mengadakan kuis
2. Saya tidak menggunakan alat-alat peraga karena:
a. Gereja tidak menyediakan.
b. Saya tidak memiliki waktu untuk menyiapkannya.
c. Saya rasa hal itu tidak perlu.
3. Ketika saya menyampaikan pelajaran, saya biasanya:
a. Mengajar dari catatan saya.
b. Hanya mengajar dari Alkitab saja.
c. Mengajar dari ringkasan dan Alkitab saja.
d. Membacakan pelajaran kepada murid-murid.
4. Saya menggunakan buku-buku referensi secara berkala dalam menyiapkan pelajaran.
a. Ya
b. Tidak
5. Saya tidak menggunakan referensi-referensi karena:
a. Saya tidak punya.
b. Saya melihat hal itu tidak dibutuhkan.
c. Gereja tidak memilikinya.
F. MURID-MURID DALAM PELAJARAN
1. Saya mencoba untuk melibatkan murid agar aktif dalam setiap pertemuan di kelas.
a. Ya
b. Tidak
2. Saya telah memberikan tugas yang lebih spesifik kepada murid saya agar melakukan kegiatan-kegiatan yang telah dipelajari yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari setidaknya selama enam minggu terakhir.
a. Ya
b. Tidak
3. Murid-murid saya diberi buku tugas.
a. Ya
b. Tidak
4. Saya tidak memberi mereka buku tugas untuk digunakan di rumah karena:
a. Kami mengerjakannya di kelas.
b. Mereka tidak mau menggunakannya.
c. Saya tidak menyukai hal itu.
d. Buku tugas tidak disediakan oleh gereja.
e. Alasan lain (lebih spesifik): ____________________
G. TRAINING BAGI PELAYAN SM
1. Training mengenai teknik mengajar yang saya ikuti:
a. Satu kursus.
b. Dua kursus atau lebih.
c. Pelatihan Intensif.
d. Tanpa kursus.
2. Saya rasa saya perlu training lagi dalam bidang:
a. Teknik mengajar.
b. Latar belakang Alkitab.
3. Kebutuhan terbesar saya saat ini dalam mengajar adalah:
a. _______________
b. _______________
c. _______________
d. _______________
e. dll.
4. Saya biasanya menghadiri pertemuan rutin para staf.
a. Ya
b. Tidak
5. Saya biasanya menghadiri pertemuan khusus para staf.
a. Ya
b. Tidak
6. Saya tidak menghadiri pertemuan para staf karena:
a. Mereka tidak mengetahui kebutuhan saya.
b. Saya memiliki jadwal yang bertabrakan.
c. Saya tidak memiliki alat transportasi.
d. Kami tidak pernah melakukan pertemuan staf.
H. PENGINJILAN PADA ANAK-ANAK
1. Jumlah murid di kelas saya yang telah memiliki komitmen terhadap Kristus pada tahun ini adalah ________ anak.
2. Sepengetahuan saya semua murid saya telah menerima Kristus sebagai Juruselamat.
a. Ya
b. Tidak
3. a. Saya secara pribadi telah berbicara dengan setiap murid tentang keselamatan.
b. Saya telah memberikan suatu panggilan di kelas saya.
c. Saya tidak tahu bagaimana membawa anak-anak kepada Kristus.
d. Murid-murid saya terlalu muda untuk mengerti keselamatan.
I. PERTUMBUHAN MURID
Pertumbuhan spiritual murid-murid saya dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Lebih sering membaca Alkitab.
b. Lebih sering berdoa.
c. Perubahan perilaku.
d. Lebih berbakti kepada Kristus.
e. Lebih tertarik pada hal-hal spiritual.
f. Lebih sering bersaksi.
g. Tidak bisa menganalisa.
J. DISIPLIN MURID
1. Selama kelas berlangsung, murid-murid saya biasanya:
a. Tenang.
b. Sulit dikendalikan.
c. Tenang, tetapi pasif.
d. Bisa bekerjasama dan aktif.
2. Kadang-kadang saya kesulitan dalam memberikan tugas karena:
a. Murid-murid tidak tertarik pada pelajaran.
b. Saya tidak tahu bagaimana memberikan tugas.
c. Kelas lain sangat mengganggu.
d. Murid-murid tidak mau patuh.
Sumber:
• Harold J. Westing, Evaluate & Grow, Artikel Teacher Evaluation, halaman 111 - 121, SP Publications.



12.4 Kuisioner untuk Murid SM
Berikut ini kuisioner yang dapat Anda berikan kepada murid-murid Anda. Tentunya yang dapat Anda minta untuk mengisinya adalah anak- anak yang sudah duduk dalam kelas besar dan kelas remaja.
KUISIONER UNTUK MURID SM
Lingkarilah nomor-nomor yang tersedia. Nomor-nomor tersebut merupakan nilai evaluasi dari pengalaman selama mengikuti dan terlibat dalam SM. Angka 6 (ENAM) adalah nilai terbaik, dan angka 1 (SATU) adalah nilai yang terlemah/terburuk. Untuk isian yang memilih, pilihlah dengan memberi tanda (v) dan boleh memilih jawaban lebih dari satu. Isilah bagian yang perlu dengan jawaban sejujurnya. Tidak usah mencantumkan nama jadi tidak usah takut untuk memberikan nilai dan isian sejujur mungkin.
Nama Guru: _______________________________________________
Kelas : _______________________________________________
a. Saya merasa bahwa saya mempunyai hubungan pribadi yang kuat dengan guru saya.
Hubungan yang sangat kuat 6 5 4 3 2 1 Hubungan yang lemah
b. Guru saya secara aktif memperhatikan kemajuan perkembangan kehidupan rohani saya.
Sangat memperhatikan 6 5 4 3 2 1 Kurang aktif memperhatikan
c. Saya bebas berdiskusi dengan guru saya tentang keragu-raguan dan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Kekristenan.
Sangat setuju 6 5 4 3 2 1 Sangat tidak setuju
d. Pelajaran-pelajaran yang saya terima setiap minggu sangat berguna bagi saya.
Berguna 6 5 4 3 2 1 Tidak berguna
e. Saya bebas berpartisipasi dalam diskusi kelas.
Setiap minggu 6 5 4 3 2 1 Tidak pernah
f. Saya menerapkan pelajaran dari Alkitab ke dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap pelajaran 6 5 4 3 2 1 Tidak pernah
g. Pengalaman saya dalam Sekolah Minggu memberi saya "makanan" rohani dan menjadikan saya bertumbuh dalam kekristenan.
Setiap minggu 6 5 4 3 2 1 Tidak pernah
h. Saya mengikuti Sekolah Minggu karena:
__ Saya dipaksa untuk datang.
__ Saya senang belajar Alkitab.
__ Saya ingin bertemu dengan teman-teman.
__ Kebiasaan.
__ Alasan lain: _______________________________________
i. Saya akan menjadi murid yang lebih baik lagi jika:
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
j. Hasil pertumbuhan rohani saya, sebagai hasil dari keterlibatan secara langsung di kelas saya adalah:
__ Kurang tertarik untuk belajar.
__ Tidak tertarik untuk belajar.
__ Lebih sering membaca Alkitab.
__ Lebih sering berdoa.
__ Perubahan perilaku.
__ Lebih berbakti kepada Kristus.
__ Lebih tertarik pada hal-hal kerohanian.
__ Lebih sering bersaksi.
k. Teladan yang saya bisa pelajari dari guru saya, yang membantu meningkatkan kerohanian saya adalah:
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
Sumber:
• Harold J. Westing, Evaluate & Grow, Artikel What's Happening to Me? (Student Questionnaire), halaman 121 - 124, SP Publications.


12.5 Evaluasi bagi Para Pekerja
A. Apakah Evaluasi?
Evaluasi adalah puncak dari proses pendidikan. Dalam hal ini evaluasi berarti menaksir, menilai, dan mengukur kemajuan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, lalu menentukan kelebihan-kelebihan dan juga perlunya perbaikan. Sebenarnya, pelayanan kita tidak akan lengkap bila kita tidak menyisihkan waktu untuk mengadakan evaluasi.
Guru-guru, staf pelayan anak dan pemimpin Sekolah Minggu dapat mengevaluasi diri mereka sendiri (mandiri) atau dievaluasi oleh orang lain (misalnya pengawas/pengurus). Namun pengawas/pengurus pun dapat dievaluasi oleh anggota-anggotanya. Evaluasi mandiri mungkin lebih efektif karena mereka dapat mengevaluasi pelayanan mereka sendiri secara resmi dan membuat saran-saran yang perlu bagi perbaikan diri sendiri.
Evaluasi sebaiknya dimulai dengan melihat kebaikan, kekuatan, dan kelebihan, dengan fokus utama pada tugas yang sudah dijalankan, dan bukan pada pribadinya. Setelah melihat kelebihan-kelebihannya, maka selanjutnya dapat ditentukan saran-saran yang diperlukan bagi perbaikan. Apabila evaluasi dimulai dari saran-saran yang diperlukan bagi perbaikan, kemungkinan para pekerja dapat menjadi kecil hati karena merasa kelemahan menjadi lebih menonjol, karena kita tahu bahwa manusia cenderung melihat kelemahan dan kekurangan dengan lebih jelas dibandingkan dengan kelebihan-kelebihannya. Untuk itu mau tidak mau sikap positif harus dimiliki dalam evaluasi. Ingatlah tujuan utama adalah untuk melihat kemajuan dan mengantisipasi pencapaian tujuan yang akan digunakan untuk memperbaiki diri.
B. Proses Evaluasi
Kalau anda seorang pengawas/pengurus SM yang bijaksana, maka anda akan menilai kemajuan dengan menentukan lebih dahulu arah yang akan diambil. Evaluasi membantu kita menemukan kebutuhan yang muncul dan bagaimana mengurutkannya. Evaluasi seharusnya dilakukan secara teratur dan sistematis untuk mendapatkan manfaat yang paling besar. Saat kita menemukan kemajuan dan menganalisa kelebihan-kelebihan kita dan juga perbaikan-perbaikan yang diperlukan, maka selanjutnya kita dapat menyarankan dan melaksanakan saran-saran yang berguna untuk membuat perubahan yang diperlukan.
C. Tahap Evaluasi
Tahap-tahap evaluasi dan tindak lanjut yang positif dan konstruktif:
• Buatlah daftar kelebihan-kelebihan yang anda miliki dan perbaikan-perbaikan yang masih dibutuhkan.
• Tentukan cara spesifik untuk menguatkan setiap kebutuhan perbaikan yang anda temukan.
• Implementasikan ide-ide yang disarankan.
• Evaluasi kemajuan yang ada dan bila perlu berikan rekomendasi / saran-saran baru.
D. Kriteria Evaluasi
Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi baik pengurus atau rekan guru-guru SM yang melakukan pelayanan untuk anak-anak:
1. Apakah pengurus/guru Sekolah Minggu:
o bertumbuh secara rohani?
o mengatur setiap tugasnya dengan baik?
o melakukan persiapan dengan baik?
o memiliki semangat yang besar dalam pelayanan?
2. Apakah pengurus/guru Sekolah Minggu:
o memiliki tujuan yang jelas?
o memberikan arah dan tugas-tugas yang jelas?
o memiliki hubungan yang baik dengan bawahan dan pimpinannya?
o dapat menerima saran-saran dari rekan pelayanan yang lain?
o memberikan pelatihan/training bagi rekan pelayanan lain?
o memberikan teladan yang baik bagi rekan pelayanan lain?
Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan bagi guru Sekolah Minggu yang dapat digunakan untuk mengevaluasi diri sendiri:
1. Apakah saya mengalami pertumbuhan rohani dalam hubungan saya dengan Tuhan selama saya melayani Sekolah Minggu?
2. Apakah saya selalu mempersiapkan bahan-bahan pelajaran dengan baik?
3. Apakah saya memiliki konsep yang jelas tentang tanggungjawab yang saya pegang?
4. Apakah saya mengorganisasi/mengatur pelayanan saya?
5. Apakah saya memiliki visi dan semangat dalam melakukan tugas pelayanan saya?
6. Apakah saya memiliki inisiatif?
7. Apakah saya dapat diandalkan dan tekun dalam pelayanan saya?
8. Apakah saya dapat menjadi seorang pendengar yang baik?
9. Apakah saya mendapatkan manfaat dari pelayanan saya?
10. Apakah saya memiliki hubungan yang baik dengan rekan pelayan yang lain?
11. Apakah kreativitas saya semakin berkembang?
12. Apakah saya mengalami pertumbuhan menyeluruh sebagai seorang pribadi?
13. Apakah saya sungguh-sungguh tertarik dan terbeban terhadap setiap anak di dalam kelas atau kelompok saya?
-- Kiranya bahan ini dapat menolong para guru, staf pelayan anak dan pengurus/pemimpin Sekolah Minggu dalam mengadakan evaluasi terhadap tugas pelayanan anak yang telah Tuhan berikan kepada anda dan Sekolah Minggu di gereja anda. -- Red.
Sumber:
• Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck, Childhood Education in the Church, halaman 258 - 260, Moody Press, Chicago, 1986.



12.6 Menemukan Alasan Mengapa Sekolah Minggu Tidak Melakukan Evaluasi
Sampai sejauh ini tidak banyak Gereja yang melakukan evaluasi terhadap pelayanan Sekolah Minggu, baik evaluasi terhadap operasi pelaksanaan Sekolah Minggunya ataupun terhadap guru-guru Sekolah Minggunya. Ada berbagai macam alasan mengapa gereja segan melakukannya. Berikut ini adalah sebagian besar dari alasan-alasan tersebut:
1. Tuhan hanya menuntut kesetiaan bukan hasilnya
Dalam melakukan pelayanan banyak orang mengira bahwa Tuhan hanya mengharapkan kesetiaan kita saja, yang Tuhan harapkan adalah kita melakukan yang terbaik dan kita tidak perlu memikirkan hasilnya karena Tuhan sendiri yang akan menentukannya. Kedengarannya pernyataan di atas sangat rohani, tapi betulkah demikian? Jika kita tidak perlu memikirkan dan mengecek hasil pelayanan yang kita lakukan bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah benar-benar melakukan yang terbaik bagi Tuhan? Oleh karena itu hati-hatilah dengan pernyataan di atas, jangan-jangan pernyataan bahwa "Allah hanya mengharapkan kesetiaan kita" hanya sekedar topeng untuk menutupi kemalasan atau pun keengganan kita dalam mencapai target yang seharusnya kita capai.
2. Yang penting adalah jumlah anak dan jumlah fasilitas
Hanya sedikit guru Sekolah Minggu yang merasa penting untuk memperhatikan keefektifan mereka dalam mengembangkan rohani anak-anak Sekolah Minggu, karena kebanyakan mereka lebih memperhatikan tentang jumlah anak yang datang dan pengembangan fasilitas-fasilitas yang mereka miliki. Kemajuan dalam dua hal tersebut memang memberikan semangat bagi para guru Sekolah Minggu untuk beberapa waktu, namun apakah hasil-hasil yang dicapai tersebut telah dapat memuaskan Tuhan? Apakah jumlah anak adalah satu-satunya hal yang menjadi tujuan pelayanan Sekolah Minggu kita? Dapatkah kita mengatakan bahwa pengajaran yang kita sampaikan telah mengubah hidup anak-anak Sekolah Minggu? Pertanyaan-pertanyaan tsb. tidak dapat dijawab dengan jumlah anak dan fasilitas yang ada di Sekolah Minggu.
3. Guru Sekolah Minggu adalah pelayan sukarela (volunteer)
Gereja segan meminta guru-guru SM untuk dievaluasi karena mereka tidak dibayar (sukarelawan), dengan demikian gereja merasa tidak pantas untuk meminta pertanggungjawaban atas tugas mereka. Guru-guru SM seharusnya melayani karena panggilan untuk melaksanakan misi dari Tuhan dan bukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Oleh karena itu kepentingan utama adalah untuk memuliakan Tuhan. Jika pelayanan guru tidak dievaluasi bagaimana kita tahu bahwa apa yang dilakukannya telah menghasilkan kemuliaan bagi Tuhan?
4. Hal-hal rohani tidak dapat diukur atau dinilai dengan angka
Karena pelayanan Sekolah Minggu adalah pelayanan rohani maka tidak perlu dievaluasi, karena bukankah hal rohani tidak bisa diukur. Hal ini ada sebagian benarnya, namun demikian ada bagian-bagian yang merupakan kerja manusia yang dapat diukur, misalnya: apakah guru sering terlambat? apakah guru mempersiapkan pelajaran dengan baik? apakah ada komunikasi yang efektif antara guru dan murid? dan sebagainya.
5. Janganlah saling menghakimi
Evaluasi (menilai) sering disalahartikan dengan menghakimi. Menuntut pertanggungjawaban dari seseorang yang melaksanakan tugas bukanlah menghakimi. Dalam pelayanan Tuhan Yesus juga dicatat bahwa murid-murid-Nya memberikan laporan tentang apa yang mereka lakukan di ladang pelayanan kepada Yesus (Lukas 10:17-20).
6. Tugas guru sudah terlalu banyak
Banyaknya energi guru yang dihabiskan guru dalam pelayanan sering kali justru menjadi bukti akan pentingnya evaluasi, karena dengan evaluasi kita bisa mencegah tugas-tugas guru yang kurang efisien. Evaluasi dimaksudkan untuk menolong guru agar bekerja lebih cerdik dan bukan bekerja lebih keras.
Sumber:
• Harold J. Westing, Evaluate & Grow, halaman 9,10,13, SP Publications.
• B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D., Menjadi Guru Profesional Sebuah Perspektif Kristiani, halaman 115, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.



12.7 Bagaimana Mengevaluasi Kurikulum?
Berikut ini adalah beberapa contoh pertanyaan yang dapat dipakai untuk menilai apakah Kurikulum yang dipakai di Sekolah Minggu anda telah memenuhi syarat sebagai Kurikulum yang baik.
A. ISI: Materi apa yang diajarkan dalam kurikulum?
1. Apakah bahan-bahan pelajarannya didasarkan pada Alkitab, sebagai sumber pengajaran pendidikan Kristen di SM anda?
2. Apakah bahan-bahan pelajarannya memberikan lebih banyak fakta-fakta Alkitab dari pada interpretasi atau tafsiran yang kurang tepat?
3. Apakah bahan pelajarannya mengajarkan kebenaran Firman Tuhan secara konsisten?
4. Apakah bahan pelajarannya mengajarkan kebenaran Alkitab secara lengkap, jelas dan apa adanya, termasuk mujizat dan keajaiban yang Tuhan Yesus lakukan?
5. Apakah bahan pelajarannya mengajak murid untuk memiliki hubungan dengan Tuhan semakin dekat dan pribadi?
6. Apakah bahan pelajarannya mengajar murid untuk memiliki komitmen yang jelas dengan Tuhan?
7. Apakah bahan pelajarannya mengajar murid untuk memiliki iman percaya yang kuat kepada-Nya?
B. FALSAFAH: Bagaimana kurikulum didesign?
1. Apakah bahan pelajarannya memiliki tujuan pengajaran yang jelas dan dapat dijalankan/dicapai?
2. Apakah bahan pelajarannya memiliki kunci pengajaran yang jelas sesuai dengan tujuan pengajaran?
3. Apakah bahan pelajarannya memiliki keseimbangan pengajaran yang baik antara iman (pengetahuan) dan perbuatan (aplikasi)?
4. Apakah bahan pelajarannya sesuai dengan tingkat kemampuan murid-murid dan juga interest dan kebutuhannya?
5. Apakah bahan pelajarannya memungkinkan murid untuk mereview pelajaran sebelumnya sehingga murid dapat terus mengingat pelajaran yang telah diberikan?
6. Apakah bahan pelajaran memiliki tingkat kesulitan yang merata dan meningkat sesuai dengan bertambahnya usia anak?
7. Apakah bahan pelajarannya memberikan ruangan bagi guru untuk berkreasi dengan leluasa?
8. Apakah bahan pelajarannya cukup fleksibel sehingga guru dapat menambah dengan materi-materinya sendiri yang sesuai dengan kebutuhan anak didiknya?
C. METODOLOGI: Bagaimana kurikulum menolong menyajikan pelajaran?
1. Apakah bahan pelajarannya menawarkan teknik mengajar yang kreatif?
2. Apakah bahan pelajarannya memakai alat-alat mengajar yang sederhana dan cocok untuk digunakan dalam segala keadaan?
3. Apakah bahan pelajarannya menyediakan alat-alat belajar yang mendorong murid untuk belajar lebih mudah dan menyenangkan?
4. Apakah bahan pelajarannya cukup fleksibel digunakan di berbagai konteks belajar mengajar?
5. Apakah bahan pelajarannya juga menyediakan tambahan materi pelengkap agar guru dapat belajar lebih luas?
6. Apakah bahan pelajarannya dapat digunakan baik oleh guru yang berpengalaman atau yang belum berpengalaman?
7. Apakah bahan pelajarannya mendorong guru untuk bereksperimen dan memberi keleluasaan untuk mengembangkan gaya mengajarnya sendiri?
Sumber:
• Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck, Childhood Education in the Church, halaman 261 - 263, Moody Press, Chicago, 1986.
• Robert E. Clark, Christian Education: Foundations for the Future, halaman 499 - 501, Moody Press, Chicago.


12.8 Beberapa Teknik Evaluasi Belajar
Sebelum membicarakan teknik-teknik evaluasi, berikut ini beberapa prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam merencanakan evaluasi.
1. Objektivitas
Guru harus merencanakan alat evaluasi secara objektif dalam arti benar-benar ingin mengetahui apa yang perlu diketahuinya. Dengan demikian alat evaluasi bentuk soal atau angket harus berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar mencakup: metode, bahan pengajaran, dll. Guru tidak boleh menyusun bahan evaluasi terhadap materi pengajaran yang belum pernah dipelajari oleh peserta didik. Hal demikian bersifat subjektif dan merugikan. Guru juga harus belajar mengesampingkan aspek emosinya (sentimen) dalam relasi dengan peserta didik (kejengkelan atau keakrabannya). Kalau tidak, masalah sentimen ini dapat mempengaruhi proses evaluasi.
2. Kegunaan dan Relevansi
Guru harus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul absah (valid) untuk mengukur kemajuan belajar ataupun program pengajaran. Guru juga harus bersikap adil dalam memberikan jumlah soal atau pertanyaan yang akan dijawab peserta didik, sesuai dengan alokasi waktu. Pengerjaan soal ujian hendaknya tidak melampaui waktu yang dipakai dalam pengajaran.
3. Menyeluruh
Sebaiknya evaluasi yang dilakukan guru jangan bersifat sepihak, dalam arti hanya mengukur kemajuan atau kegagalan peserta didik. Ia juga harus berusaha menilai segi-segi lain yang berkaitan dengan interaksi belajar mengajar. Misalnya saja masalah kehadiran dan keaktifan diskusi dalam semua pertemuan, serta munculnya kreativitas dan kebersamaan dalam kerja kelompok.
BEBERAPA TEKNIK
Kita dapat melaksanakan evaluasi belajar ataupun program melalui berbagai teknik/pendekatan. Tentu saja setiap pendekatan memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri. Di bawah ini beberapa teknik evaluasi yang perlu kita singgung.
1. Evaluasi melalui tugas-tugas (PR).
Tugas yang diberikan dengan baik dan jelas dapat membantu peserta didik untuk menampilkan kemampuan belajarnya termasuk spiritualitas, pengetahuan dan pengertian, keterampilan serta orisinalitasnya. Oleh karena itu, guru juga harus memberitahukan prosedur penilaian terhadap tugas yang diberikannya, antara lain:
• Segi kegunaan tugas harus jelas diketahui oleh peserta didik.
• Kesesuaian dengan beban studi.
• Prosedur penilaian dan kriterianya.
• Prosedur atau teknik kerja.
• Perundingan segi waktu pekerjaan (berapa lama).
• Kesiapan guru dalam memberikan bimbingan.
2. Evaluasi melalui bantuan rekan.
Sering rekan pengajar lainnya dapat memberitahukan dengan baik sisi-sisi kekuatan dan kelemahan kita sendiri dalam banyak segi, seperti kerohanian, watak dan sikap, minat, pengetahuan dan keterampilan. Guru dapat merencanakan "alat" bagi keperluan ini, dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas. Sepatutnyalah guru memandang peserta didiknya (khususnya remaja, pemuda dan orang dewasa) sebagai "rekan sekerja" yang dapat membantu dirinya sendiri dalam meningkatkan wawasan dan keterampilan keguruannya.
3. Evaluasi berdasarkan ujian.
Alat yang sering dipakai dalam kesempatan semacam ini disebut tes. Ada dua jenis utamanya, yakni:
a. Tes objektif meliputi pilihan berganda, benar-salah, isian (menjodohkan). Sangat tepat untuk menilai segi-segi kognitif secara cepat dan menyeluruh. Tetapi jenis tes ini tidak dapat melihat segi kreativitas peserta didik dengan tepat.
b. Tes esai tertutup disajikan dengan cara memberikan soal untuk dikaji atau dipikirkan berdasarkan bahan pengajaran yang diterima murid. Bentuk ujian semacam ini sangat baik dan mungkin tepat untuk menilai kemampuan belajar, kedalaman, dan ketajaman pengertian peserta didik. Namun, untuk menilainya diperlukan lebih banyak waktu.
c. Tes esai terbuka. Yang sangat dipentingkan dalam hal ini adalah kemampuan memahami, aplikasif, analisis, sintesis serta evaluatif peserta didik, dengan menggunakan fakta tertulis (ide, angka-angka, dll.).
4. Evaluasi berdasarkan pengamatan.
Hal ini penting dalam rangka mengukur keterampilan dan sikap yang dituntut berkembang dalam diri peserta didik. Karena itu, guru harus menetapkan segi-segi kualitas yang akan diukur (items) termasuk aspek pengetahuan, penguasaan materi, pengertian, kemampuan menggunakan alat, keterampilan kerja, komunikasi, dll.
5. Evaluasi berdasarkan interview, termasuk ujian lisan komprehensif.
Guru dapat mengukur kemajuan peserta didik dengan cara mengajaknya berbincang-bincang mengenai pokok tertentu. Kemudian guru memberitahu kemajuan dan kelemahan peserta didik berdasarkan hasil wawancara itu. Harus disadari bahwa bentuk semacam ini sering pula mengundang debat emosional dan pembicaraan yang tak tentu arahnya.
Sumber:
• B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D., Menjadi Guru Profesional Sebuah Perspektif Kristiani, Artikel Sekitar Evaluasi Belajar, halaman 117 - 119, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.



Sumber:
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen www.sabda.org/pepak/index.htm
MEBIG Indonesia http://www.geocities.com/sudi_ariyanto/MEBIG_Indonesia.html
STT Jakarta
Bible.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar